RAINY BLUE 2

RAINY BLUE

RAINY BLUE

Twoshoots

By Risuki-san

SHINee’s Onew & IU | PG17 | Romance, Married Life, Hurt/Comfort

© 2015 Risuki-san

.

‘Being wet in the cold rain, I remembered a sad story’

.

Halaman 2

Tokyo, 2016, July 18th at 07.00 PM

Pagi yang sama.

Jieun dan keinginannya untuk memuntahkan sesuatu.

Mata kecilnya terpejam rapat. Setitik air lolos, jatuh dan tunduk pada hukum gravitasi. Tangan kecilnya merapat, menggenggam erat dan kuat pada bagian perut.

“Nona, anda baik-baik saja?”

Suara paruh baya menyadarkan gadis itu, Jieun memilih untuk beranjak, memaksa tubuhnya berdiri tegak. Melangkah mendekati ranjangnya yang nyaman.

Jieun masih saja terpejam, mata kecilnya terlalu enggan untuk menampakan diri. Butir demi butir air berkembang menjadi sangat banyak, lalu tumpah.

Jieun menangis, lagi, segera setelah ‘Morning Sickness’ yang membuatnya tidak nyaman.

Selalu seperti itu.

“Nona, aku akan membuat teh hangat”

Bibi Park, seseorang yang ia kenal sejak lama. Seseorang yang merawatnya layaknya seorang ibu. Seseorang yang menjaga rumah peninggalan ayah Jieun di Jepang.

Suara tangis menyedihkan mengisi udara, Jieun memeluk erat bantal kesayangannya. Gadis itu tak ingin berhenti, karena air mata yang terurai akan membuatnya merasa sedikit lebih baik.

“Aku merindukannya”

Mengucapkannya, setiap hari.

.

.

.

Gadis itu pergi dan Jinki merasa ada yang janggal. Ini tidak benar.

.

.

.

Ia menelanjangi tiap sudut ruangan, membidik tiap sudut. Tak ada satu pun yang terlewat. Ada yang salah, tapi apa, Jinki tak dapat menemukannya.

“Ini aneh”

Dahinya mengerut, Jinki berpikir sebentar. Sudut matanya melihat sesuatu yang membuatnya teringat tentang satu hal.

“Jam tangan?”

Milik Jieun.

Tergeletak sembarang di atas meja, Jinki meraihnya, menatapnya lama.

Memutuskan untuk berangkat tanpa menyentuh sarapannya, selembar roti dan selai coklat yang disiapkan Jieun sebelum pergi ke Jepang.

‘Aku suka jam tangannya, terima kasih’

Mendudukkan diri di atas jok mobil, membuka kembali telapaknya, menemukan benda yang mengingatkannya pada seseorang. Sudut bibirnya membentuk selekuk sabit.

Hatinya menghangat.

.

.

.

Gadis itu terpejam, mata kecilnya terperangkap diantara kelopak. Mata kecil yang seolah bicara, seolah tersenyum.

Partikel angin bertumbukan satu sama lain, menabrak permukaan kulit Jieun. Gadis itu menggigil karena cuaca musim dingin yang tidak bersahabat.

Tapi ia terlalu bahagia untuk sekedar mengeluh.

Melangkah menyusuri jalan sendirian, bibirnya mengukir senyum segera setelah membuka mata dan menemukan seseorang.

 “BIBI PARK! BIBI PARK!”

Gadis itu berteriak nyaring, mengalahkan bisingnya suasana kelas siswa taman kanak-kanak. Jieun melangkah sedikit cepat dengan tangan yang menyentuh perutnya, melindunginya dari guncangan.

“BIBI PARK! DOKTER BILANG MEREKA KEMBAR!”

.

.

.

Jinki menemukannya tapi terasa sangat biasa. Jantungnya berdebar normal, ia tersenyum karena menemukan seseorang yang ia rindukan.

Merindukan teman, merindukan kekasih, bagaimana cara membedakannya?

.

.

.

Oppa, kupikir aku benar-benar kehilanganmu”

Jinki hanya terdiam, mata sabitnya menangkap mimik muka Hyeri yang tak dapat berbohong. Gadis itu kecewa hingga memutuskan untuk menyerah.

Ia bahkan mengalah meski ia adalah korban.

Namun ia kembali, kini Jinki kembali.

Hyeri gadis yang baik, sangat normal jika Jinki terjerat pada paras manisnya yang memancar hebat luar dan dalam.

.

.

.

Jieun tersenyum saat menyentuh perutnya, Jieun tersenyum saat merajut pakaian untuk bayinya.

Jieun tersenyum saat otaknya berhenti mengingat seseorang.

.

.

.

“Nona, anda semakin mahir merajut”

Jieun tersenyum penuh bangga mendengarnya, sangat menyenangkan seperti memenangkan olimpiade kelas dunia.

Tangan kecilnya bergerak teratur, membuat simpul yang kemudian terbentuk sempurna menjadi pakaian bayi. Sangat hangat, sangat sesuai dengan musim hujan yang akan manusia temui dalam waktu dekat.

Gadis itu melukis senyum lalu menghapusnya.

.

.

.

Jieun, maaf, ayah baru saja menghubungiku”

.

.

.

Sinar hangat matahari menemuinya, menyambut jejak pertama Jieun di Korea. Menarik nafas perlahan, tangan kecilnya mengelus dada.

Jieun sangat gugup menunggu sebuah pintu terbuka.

“Eoh?…Kau…sudah datang? Masuklah…”

Jieun melangkah pelan, memori otaknya kembali menganga. Rongga dadanya kembali kosong menyaksikan sebuah kaset di putar di kepalanya.

“Aku seharusnya menjemputmu di bandara, maaf”

Jieun menoleh cepat, menatap Jinki yang terlihat bersungguh-sungguh.

.

.

.

Darah dalam tubuhnya mengalir, sangat cepat. Ia berdebar menyaksikannya, Jieun berubah. Langkahnya yang melambat karena menahan beban pada perutnya, Jinki menghangat, sesuatu di dalam dirinya berbisik…

‘Aku ingin melindunginya’

.

.

.

Redup bulan bersinar samar, mata sabit Jinki menangkapnya, sangat lama. Bertemu ayahnya setelah sekian lama –mungkin beberapa bulan- tak membuatnya menjadi sangat berisik.

Jinki tak pernah banyak bicara, ia hanya tersenyum mendengar Jieun dan ayahnya berkisah banyak hal.

“Ayah, bagaimana rasanya tinggal di Amerika? Apa menyenangkan?”

Jieun, bagaimana rasanya tinggal jauh dari keluarga?”

Jieun terdiam, ia sangat mengerti bagaimana perasaan macam itu.

“Rasanya menyenangkan, karena tinggal jauh dengan bocah setan itu, hei! Jinki! Kemari! Apa yang kau lakukan saat ayahmu pulang?! Dasar tidak berbakti!”

Jieun menanggapinya dengan segaris lekuk manis, ia tersenyum karena tingkah ayah Jinki yang berteriak lalu melempar sebuah bantal tepat pada paras anak lelakinya.

Jinki dan ayahnya tak pernah akur.

.

.

.

Garis penengah adalah seseorang yang adil, mengaitkan dua manusia asing menjadi satu bentuk yang belum benar-benar utuh.

Butuh waktu atau kehilangan salah satu bagian untuk membuat bagian yang lain menyadari, bahwa ia tidak utuh jika sendirian, bahwa ia tidak utuh tanpanya.

.

.

.

Berkas cahaya membias saat menumbuk melewati selembar kaca, tak mampu menembus namun hanya berbelok karena hukum alam harus berlaku.

Mata sabit yang terlihat renta menatap hampa untuk sekejap, mengingat ibu Jinki menyihir lelaki paruh baya yang gemar menghukum anaknya dengan seni bela diri judo itu menjadi diam.

Ayah Jinki melembut dan menghangat oleh satu wanita.

Jieun selalu mengingatkanku pada ibu Jinki, kalian sangat mirip”

“Benarkah? Apa ibu Jinki Oppa cantik sepertiku?”

Lelaki paruh baya itu tersenyum renyah, tercermin jelas betapa ayah Jinki bahagia. Berbicara dengan menantu kesayangannya selalu menyenangkan.

Jinki, jaga tiga malaikatku dengan baik! Mengerti!

.

.

.

Garis penengah itu kian memudar, waktunya berakhir. Dua manusia asing terpisah, lagi.

.

.

.

Partikel udara bergerak acak, saling menumbuk sesamanya namun juga yang lain. Jieun mengeratkan selimutnya. Kaki-kaki kecilnya mengetuk tanah dengan lembut, ia menunggu, seperti dulu.

Gadis itu beranjak segera setelah mendengar bunyi mesin mobil Jinki. Melangkah pelan dengan penuh hati-hati, menahan perutnya yang tidak lagi rata, menapaki lantai secara pelan meski sesungguhnya ia tak sabar ingin menemui Jinki.

Oppa, sudah selesai? Kau ingin mandi? Aku akan menyiapkan air panas”

Ayah Jinki baru saja kembali ke Amerika, Jieun menunggu di rumah selagi Jinki mengantar ayahnya ke bandara.

Gadis itu hampir saja melangkah, namun genggaman hangat pada telapaknya berkata tidak.

“Aku bisa melakukannya sendiri, tidurlah, kau lelah, selamat malam”

Jieun terdiam mendengarnya, Jinki menghangat, hati gadis itu pun merasakan radiasinya. Hati Jieun turut menghangat.

Kaki-kaki kecilnya berjalan pelan, mengejar Jinki yang terlihat tidak baik-baik saja hari ini. Tangan kecilnya menarik Jinki, menatapnya lama.

Ada yang salah.

Oppa, kau pucat”

.

.

.

Ayah Jinki bukanlah satu-satunya penghubung, semua menjadi mungkin jika takdir mengatakan mereka harus bersama.

.

.

.

Sinar hangat pagi itu menyapa, matahari dan sinarnya yang terang, tidak lebih terang dari mekarnya senyum Jieun.

Seharusnya ia pulang ke Jepang hari ini, seharusnya tumpukan kertas untuk keperluan ke luar negeri yang ia genggam.

Tapi tidak.

Hanya satu kantung penuh bahan untuk membuat bubur.

Jinki sakit dan Jieun tak bisa meninggalkannya.

.

.

.

Mata kecilnya kembali berkaca, gerak spontan anggota geraknya bekerja, Jieun berhenti melangkah segera setelah menemukan sepatu asing di dalam rumah.

Jinki, kau sakit kenapa tak memberitahuku? Aku bisa merawatmu”

“Aku baik-baik saja, sungguh, kau bisa pulang”

“Kau masih demam, Jinki!

“Aku sudah sembuh, sungguh”

“Kau masih demam! Ya Tuhan, aku mengkhawatirkanmu, Jinki!”

Tungkai kakinya perlahan mundur, lantai basah adalah saksi bisu atas kesedihannya. Dengan sangat hati-hati melangkah keluar.

Ia harus pergi, tanpa satu orang pun disana yang tahu.

.

.

.

Rainy blue…

I know it’s over though.

Rainy Blue…

Why am I still chasing?

Like I’m trying to erase the phantom of you.

.

.

.

Titik air dari sudut terbiaskan oleh jutaan titik yang lain. Suara tangis maupun basah yang terbentuk tersembunyi oleh hujan.

Namun mata kecil yang memerah dan sembab menjadi bukti paling kuat yang tak terbantahkan.

Jieun menunggu di taman, di bawah hujan.

Tak memiliki tempat berteduh.

Jieun tak pernah memiliki tempat berteduh, tempat berlindung, tempat untuknya pulang selain ayah dan ibunya yang telah pergi.

Menangis sendirian, memeluk perutnya, menghalangi dua malaikat kecilnya mendengar.

Tangis kesedihan, mohon hujan biaskanlah.

.

.

.

Dia pergi, tanpa  ucapan ‘selamat tinggal’, tanpa kesempatan untuk menahannya.

.

.

.

Burung bernyanyi mengusir senyap, pagi menjelang dengan gerimis tipis. Pria paruh baya melangkah cepat setelah menutup pintu mobil.

Tangan rentanya mengusik sebuah tombol, menekan berkali-kali hingga berisik di dalam rumah benar-benar menghancurkan dunia mimpi seseorang di dalamnya.

“IYA! AKU KELUAR!”

Jinki berteriak, bibir apelnya merajut sumpah serapah untuk orang yang Jinki sendiri belum tahu itu siapa.

“KENAPA BERTAMU SEPAGI DAN SEBERISIK INI?!”

Jieun belum sepenuhnya genap, mata sabitnya masih begitu sukar terbuka, ia berteriak tanpa mengetahui sedang berhadapan dengan siapa?

“AAAAAAAAAAAAAAAA”

Berteriak karena sebuah serangan mendadak.

“BOCAH TENGIK! MAU SAMPAI KAPAN KAU MAU TIDUR?!”

Ayah Jinki dengan jurus judo andalan, mengunci anak lelakinya yang selalu saja malas. Kaki tegapnya melangkah masuk, mata sabit yang renta itu berkeliling.

 “Dimana Jieun? Tiba-tiba ayah merindukannya”

Jinki terdiam, tubuhnya kaku, dengan kalimat apa ia harus menjawab?

Jinki? Dimana Jieun?”

.

.

.

Kebenaran adalah sesuatu yang terungkap di akhir cerita, inikah waktunya?

.

.

.

BRAKK

Sebuah meja kaca terhempas kuat, menumbuk lantai dengan tidak manusiawi. Ayah Jinki mengerahkan seluruhnya untuk meluapkan marah.

Setidaknya bukan tubuh Jinki yang menjadi korban.

“Kenapa?!”

Jinki mencoba menenangkan ayahnya yang dapat mendapat serangan jantung saat ini juga.

“KENAPA?! KENAPA BUKAN KAU YANG MENGALAH?! KENAPA HARUS JIEUN?!”

Kenapa Jieun harus pergi di saat nyawa lain di dalam tubuh kecilnya adalah tanggungjawab bersama?

“Ayah, aku…”

“AYAH HANYA INGIN KAU MENDAPATKAN YANG TERBAIK!”

Jinki tak dapat diam melihatnya, ayah Jinki yang membenturkan kepalanya pada tembok. Sudut mata kecil disana berair.

“Aku tahu anakku tak mencintainya, tapi aku terus memaksa, ini salahku Tuhan, ini salahku!”

Jinki menahan gerakan ayahnya, mengunci tubuh renta yang selalu ia sayangi meski tak pernah berani mengucapkannya.

Jutaan maaf ia rapalkan, pakaian basah sang ayah menjadi saksi, betapa penyesalan itu begitu dalam ia pendam.

.

.

.

‘Pada awalnya kami juga dijodohkan seperti kalian, aku sempat membencinya tapi kemudian aku salah. Sepuluh tahun untuk membencinya tapi seluruh sisa hidupku untuk merindukannya.’

.

.

.

Dua pasang kaki menapak cepat, memijak tanah sekeras dentumam meriam. Mereka berlari mencari sebuah rumah.

Rumah milik Jieun.

Mendarat cepat ke Jepang, melupakan pertemuan penting dengan seluruh pemegang saham.

“Nona, duduklah disini, bibi akan memanggil taksi”

Jinki terhenti melihatnya, paras manisnya masih sama. Mata sabitnya memperhatikan satu titik, perut Jieun yang semakin besar. Dalam hati ia bertanya-tanya, kapan malaikat kecilnya melihat dunia? Mungkinkah sebentar lagi?

Jinki bahkan tak tahu berapa usia kandungan gadis itu.

Jieun?”

“A..yah?”

Gadis itu sedikit terperanjat, kulit putihnya semakin pucat.

Jinki hanya terdiam, ia tak memiliki cukup keberanian untuk mendekat.

JIEUN! JIEUN!”

Dunianya runtuh, sesuatu di dalam dadanya terkoyak. Jinki berkeringat dingin menyentuh tubuh Jieun yang lunglai karena pingsan.

.

.

.

Jieun adalah gadis yang baik, mohon biarkan ia bahagia. Hyeri adalah gadis yang baik, mohon biarkan ia bahagia, dengan yang lain.

.

.

.

Matahari pagi itu mengusiknya, radiasi hangat tepat menyapa kulit putihnya. Mata sabitnya membuka, menyambut dunia baru yang ia harapkan lebih baik.

Jinki hampir beranjak hingga sedikit pergerakan menariknya kembali.

Jieun, kau sudah bangun?”

Jinki mengucapkannya, memastikan kesadaran gadis itu. Selekuk sabit ia ukir segera setelah Jieun membuka kelopaknya.

Lebih indah dari kelopak bunga musim semi.

Oppa…”

.

.

.

Dunia baru dengan tiga malaikat, Jinki ingin mengawalinya. Namun sulit karena Jieun berkata tidak.

.

.

.

Katakan padanya banyak permintaan, ayah Jinki akan memenuhinya. Kecuali ini.

“Ayah, biarkan kami bercerai, kumohon”

Lelaki paruh baya itu terdiam, jika sebelumnya ayah Jinki hanya akan berkata ‘TIDAK!’ dengan lantang, tanpa sedikitpun keraguan.

Namun sekarang berbeda.

Jieun, jangan seperti ini, ayah akan mengurus Hyeri

“Tidak, bukan itu…”

“Kau tak perlu berkorban sejauh ini, kau tahu Jinki sek-“

“Aku tak ingin bersamanya!…maaf…”

Jieun sedikit berteriak lalu menyadari kesalahannya. Ia menunduk, tak ingin satu orang pun melihat tangisnya.

Tak ada hujan yang membantunya saat ini.

“Dia membuatku menanggung ini sendirian, aku kebingungan saat mereka bertanya dimana ayahnya, aku cemburu saat membeli pakaian bayi tapi aku sendirian, aku cemburu saat pergi ke rumah sakit tapi aku sendirian tapi orang lain tidak. Semua orang mencemoohku karena mengira aku gadis nakal. Mereka bertanya-tanya siapa orang tuaku, mereka mencemooh ayah dan ibuku. Aku mulai membencinya, aku mulai membencinya…”

Jinki menunduk dalam mendengarnya, Jieun bersuara serak mengutarakan bahwa ia tidak baik-baik saja.

Ia tak pernah baik-baik saja.

Jepang adalah rumah yang gadis itu tinggali sejak kecil, tapi hidup jauh dari keluarga bahkan dengan status ‘calon ibu’. Bagaimana ia akan baik-baik saja?

.

.

.

Kalimat yang sama, suara ayah Jinki yang terus berdengung di telinganya. Hatinya berdentum hebat, Jinki tak mampu menahannya.

‘Pada awalnya kami juga dijodohkan seperti kalian, aku sempat membencinya tapi kemudian aku salah. Sepuluh tahun untuk membencinya tapi seluruh sisa hidupku untuk merindukannya.’

Ini terlalu menyakitkan, Jinki terlalu menyakitinya.

Ia melakukan kesalahan besar, ia ragu apakah masih pantas untuk mendapatkan maaf.

.

.

.

Jinki memanjaatkan doa, semoga Jieun selalu bahagia.

.

.

.

“Pasien didiagnosis demam berdarah, lusa adalah puncak kritisnya, kapan prediksi pasien melahirkan?”

Dokter Shin mengakhirinya dengan sebait tanya.

Jinki terdiam, ia tidak bodoh karena diam tak mampu menjawab.

“Besok, dokter, kenapa?”

Takdir menarik Bibi Park, membantu Jinki dan ayahnya yang kebingungan menjawab pertanyaan sederhana yang sesungguhnya wajar jika calon ayah harus tahu.

“Semoga prediksi itu tidak meleset, saat demam berdarah, sebisa mungkin harus menghindari luka. Trombositnya menurun drastis, sangat rawan terjadi perdarahan. Untuk saat ini, kita tak bisa melakukan operasi, jalan normal adalah yang terbaik dan lusa adalah waktu yang paling buruk untuk jalan normal sekalipun.”

Dua manusia perlahan mundur. Kenyataan kenapa selalu saja tidak menyenangkan?

Jinki menggeleng pelan, ia berbalik namun menemukan seseorang. Seseorang yang seharusnya tak pernah mendengar ini.

Kaki tegapnya mendekat, meraih betapa rapuh tubuh gadis di depannya. Seperti serpihan kertas yang terbakar, Jieun dapat hancur meski hanya karena angin.

Setetes bening air jatuh, membasahi pakaian Jinki. Menyalurkan kesedihan dengan menangis. Jieun marah, ia kecewa, kenapa seperti ini?

Apakah ini hukuman karena memisahkan Jinki dan kekasihnya?

Jieun menebusnya, ia telah menebusnya. Harus sebanyak apa ia menderita hingga hukuman ini dapat berakhir?

“Kami ingin hidup, kami ingin hidup, Oppa, kami ingin hidup…”

Jieun mengucapkannya, berulang kali.

.

.

.

‘Kedua bayi sangat mungkin selamat tapi tidak dengan ibunya, kesempatannya sangat kecil’

.

.

.

California, 2020, July 18th at 07.00 AM

Terlalu berisik saat sang surya baru saja menghangatkan bumi. Jinki dan dua anak dengan usia sebaya.

Seragam khas taman kanak-kanak dan tempat air minum yang menggantung nyaman pada leher.

Chase, jangan menggantung tempat minum dileher, nanti kamu jadi pendek!”

“Ayah! Jangan menggangguku!”

Anak berusia empat tahun itu memerah, ia marah karena sang ayah mengkudeta tempat minum kesayangannya.

Jinki terkejut menyaksikannya, mata sabitnya melotot.

“Anak ini benar-benar”

Kemudian Jinki berlalu mengambil selembar dasi, sekuat tenaga mengaitkan simpul, membentuk sebuah dasi.

Sangat lama.

“AYAH! TELULNYA HANGUS!”

Suara lain menginterupsi fokus Jinki, buyar! Semuanya hancur!

Jinki frustasi oleh dua anak kembarnya yang selalu merepotkan saat pagi.

Dapur berantakan, semua perut disana kosong namun berteriak minta diisi, dasi seragam Chase belum terbentuk, telur kesukaan Lily habis dimakan penggorengan.

MENJADI ORANG TUA SANGATLAH SULIT!

Kemudian Jinki mengingatnya, ia juga seorang anak!

Lelaki itu berlari ke halaman samping rumahnya. Menemukan pria paruh baya dengan pakaian khas pantai, kacamata dan selembar koran.

“AYAH! TAK BISAKAH MEMBANTUKU SEBENTAR?”

Ayah Jinki menoleh sebentar.

“Aku sudah membesarkanmu, kenapa aku masih harus membesarkan anakmu?”

Yang benar saja.

TING TONG!

OH, AYOLAH! KENAPA BERTAMU SEPAGI INI!

Jinki melangkah cepat setelah sebelumnya memberikan komando pada jagoan kecilnya.

Chase, pergi ke rumah kakek, minta pakaikan dasi ini, cepat sebelum musuh menyerang!”

.

.

.

Hyeri, kau menyelamatkanku, terima kasih”

Gadis itu tersenyum kecil, hanya menatap Jinki yang terlihat aneh hari ini.

Oppa, aku tak tahu jika celemek akan membuatmu setampan ini”

Jieun sedikit terkejut, ia baru meyadarinya.

Memakai celemek saat memasak bahkan disaat menggoreng telur saja ia tak mampu.

“Oh iya, selamat ulang tahun Lily! Eh, tapi dimana Chase?”

Semua orang terperanjat, mereka baru mengingatnya.

Jinki terlalu sibuk mengurus dua anak kembarnya hingga tak dapat mengingat hari sepenting ini. Hari dimana Jieun berjuang, bertaruh nyawa, memberikannya hadiah paling istimewa, empat tahun lalu.

.

.

Lukisan alam memandangnya dari atas, bintang malam mungkin saja dapat jatuh menimpanya.

Atap rumah tembus pandang kesukaannya.

“Ayah, aku melindukan ibu”

Jinki tersenyum mendengarnya. Lily adalah gadis perempuan yang tegar. Ia hanya diam saat saudara kembarnya menangis karena tak menemukan ibunya.

Lily terlihat baik-baik saja namun jauh di dalam, gadis kecil itu pun tetaplah gadis kecil. Ia mencari ibunya saat tak menemukannya dimanapun.

.

.

.

Jinki membencinya sejak awal namun terjebak mencintainya hingga akhir.

.

.

.

Ayunan yang berbeda, selimut yang berbeda, manusia yang berbeda. Jinki menunggu di bawah langit malam.

Oppa, kenapa disini?”

Jinki sedikit terperanjat, ia berlari kecil meninggalkan singgasananya.

Jieun, akhirnya kau pulang!”

Memeluk gadis itu begitu kuat, memejam menghirup aroma Jieun.

“Bibi Park, tolong bawa ini ke dalam, terima kasih”

Jieun berucap dengan susah payah karena seseorang menguncinya. Berada di Jepang untuk beberapa hari karena sebuah urusan lalu terjebak disana lebih lama karena fenomena alam.

Bandara internasional ditutup karena suatu hal.

Oppa, kau berhenti memberikan telur pada Lily, ‘kan? Apa Chase menangis? Aku tak tenang karena Chase pasti sangat mengganggumu, mereka baik-baik saja kan?”

“Aku! Aku yang tidak baik-baik saja!”

Jinki berteriak marah, Jieun hanya memikiran anaknya. Lalu bagaimana dengan Jinki yang hampir mati karena merindu!

.

.

.

Partikel angin menabrak satu sama lain, mengusik helaian rambut Jieun yang terurai. Menyentuh lembut telapak kulit Jinki.

Memeluknya tanpa ampun.

Jieun, sebenarnya…tadi aku memberi Lily telur…”

Jinki sebenarnya ragu untuk berkata-kata.

“Apa?!”

“Tapi aku segera memberinya obat antialergi, dia takkan gatal-gatal, tenanglah”

Oppa, mana bisa kau memberinya obat seperti memberinya permen! Itu obat!”

“Dia terus merengek, aku sangat frustasi!”

“Memang benar! orang tua terbaik adalah ibu!”

Jieun marah besar, Lily gadis kesayangannya tak boleh makan telur. Berikan saja daging, kenapa begitu sulit!

“APA MAKSUDNYA IBU ADALAH ORANG TUA TERBAIK?! KAU LUPA JIKA AKU YANG MEMBESARKAN MANUSIA TAMPAN SEPERTI JINKI?!”

Ayah Jinki tiba-tiba muncul dan marah.

Apa ini?

Sebuah bumerang.

End.

copyright

4 thoughts on “RAINY BLUE 2

  1. kok jieun enggak mati sih.–.
    ih kok endinya sama jieun sihh
    kok gak sama hyeri sihhh
    kak author kece sekali bisa mengubek ubek hati ini yah makasih banyak;;

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s