[Chapter 1] Bad Blood (ON HOLD)

lazy to edit the cover so sorry 8')

BAD BLOOD

[1 / ? : I Am a Vampire]
by Yoo Jangmi

Genre: Fantasy. Romance | Length: multi-chapter | Rating: PG16 (for safety)

Main Cast
EXO Kai | f(x) Krystal | SHINee Taemin
Supporting Cast
Red Velvet Seulgi | EXO Sehun | Hello Venus Alice | 17 Vernon
others~

All cast (except original character) belongs to God, themselves and their agencies, i only borrow their names for this story. Storyline is purely mine!
Inspired/loosely based on The CW TV Series “The Originals” & “Vampire Diaries” which based on novel series by the same title written by L.J. Smith.

This is just a fiction, i have flaws, forgive me if i did a mistake regarding places names, historical content, etc. I tried to describe it as real as i can but i’ve never been there before 8’)

Note: Have any request for cameo or special appearance cast? Go on tell me^^

“We are one of The Elder generation of vampires, especially in Korea. Our family is not the first, but we’ve been here for centuries. Among humans, witches, werewolves, and other hideous creatures, in a form of young men & women that will never change. We have lived in so many places, countries and eras. Though now we are back to where we were born, Canada. Living in a small town, we are hiding, and running, for we are hunted by a wicked witch. Our very own mother. My brothers nor i have enough power to defeat her, so now, we hide on the plain sight.” — Kim Seulgi (Emily Kim)

PicsArt_1437205750573


Tinggal di sebuah kota kecil atau desa selalu menjadi impian gadis berambut cokelat dan bertubuh ramping bernama Krystal Jung itu. Walaupun cukup jauh dari pusat kota Montréal dan kampus barunya Université de Montréal, Krystal tidak akan pernah membuang kesempatan untuk tinggal di pinggiran. Ia baru saja mendapat beasiswa di UdeM untuk jurusan Psikologi, dan untuk itu ayahnya bahkan membelikannya sebuah VW Combi dengan warna sea green. Model mobilnya tidak menjadi masalah bagi Krystal, setidaknya ia punya kendaraan untuk berpergian dari rumahnya ke Montréal dengan mudah. Ia akan tinggal bersama temannya yang juga mendapat beasiswa di UdeM, nama gadis itu Kwon Sohyun, ia saat ini duduk tepat di sebelah Krystal yang sedang menyetir. Sibuk melihat informasi tentang Quebec.

“Krys, kau yakin tidak mau tinggal di kota saja?” Tanya Sohyun, tangannya masih bergerak membolak-balik halaman buku “Guide of Living in Canada: Quebec” yang hampir setebal buku telepon dengan berat setengah kilo.

“Ya, memangnya kenapa Sso?” Krystal balik bertanya tanpa melepas fokusnya dari jalanan.

Well, tinggal di pinggiran tidak buruk. Tapi kotanya punya banyak pemandangan bagus. Quebec merupakan pemukiman Eropa tertua di Amerika Utara, ini keren Krys. Kau bisa bayangkan bangunan tua, dan cerita-cerita rakyat seperti vampire,” kata Sohyun penuh semangat. Krystal hanya tersenyum dan terus menyetir sambil mendengarkan ocehan Sohyun.

Setelah beberapa jam diisi dengan jalanan, ocehan Sohyun, dan pohon-pohon, akhirnya mereka sampai di Verchères. Tempat itu sangat indah, masih memperlihatkan the old Montréal yang sangat ingin Krystal lihat. Mereka melewati patung perunggu Madelaine de Verchères, lalu melewati beberapa pemukiman sebelum akhirnya sampai di rumah tempat mereka akan tinggal.

Krystal memarkir mobilnya di halaman yang penuh semak berry, tepat di depan rumah tua kecil dengan papan no. 102 terpasang di pintunya. Hanya ada dua atau tiga rumah di sebelah rumah Krystal dan semuanya rumah tua. Bukannya gadis itu menyukai rumah tua, tapi rumah itu yang paling murah yang mereka bisa dapatkan.

“Wow Krys, kau tidak bilang padaku kalau kita akan tinggal di rumah tua gaya horror tahun 80-an.” Sohyun berseru sambil menutup pintu mobil VW Krystal.

“Yeah cuma ini yang bisa kita dapatkan,” kata Krystal, mengangkat bahunya dan menerima tatapan tajam dari Sohyun.

Well setidaknya kita punya tetangga,” gumam Sohyun, pandangan matanya menyapu ke halaman sekitar rumah lalu ke rumah di sebelahnya. Rumah itu terlihat jauh lebih horror daripada rumah yang akan ia tempati bersama Krystal, dan ia berani bersumpah ia baru saja melihat seseorang mengintip dari dalam jendela rumah.

“Ini tidak seburuk itu, ayo Sso we’ve got lots of unpacking!

“Kita punya tetangga,” Kata Seulgi senang, ia tinggal terlalu lama bersama kedua saudara lelakinya, cukup untuk membuatnya merasa muak melihat laki-laki dan merasa sangat semangat melihat perempuan yang bisa ia ajak berteman.

“Kita tidak mempercayai siapa pun Seulgi, jadi jangan sedikitpun berpikir untuk menjadikannya teman.” Kata-kata pedas itu datang dari seorang laki-laki tinggi, berparas tampan, berkulit kecokelatan, dengan ekspresi wajah datar. Laki-laki itu duduk di sebuah sofa sambil memegang sebuah buku berjudul “Joanne of Arc”. Laki-laki itu, saudara kembar Seulgi, Kim Jongin atau Kai.

“Kau yang tidak mempercayai siapa pun, Kai. Ia manusia biasa, tidak ada hubungannya dengan ibu!” Seru Seulgi kesal, prasangka-prasangka buruk Kai yang tidak beralasan kadang membuatnya ingin mencekik laki-laki itu.

Oh Sister, aku sarankan kau turuti kata-kataku kalau kau tidak mau masuk ke dalam peti mati sekarang,” kata Kai dingin, ia mengacuhkan tatapan tajam Seulgi dan kembali ke bukunya.

Seulgi mendengus kesal, ia melempar blood pack yang sedang diminumnya pada Kai lalu pergi mencari kakaknya di halaman belakang, Taemin. Ia terus mengomel tentang bagaimana ia seharusnya tidak bicara pada Kai sama sekali, dan bagaimana ia seharusnya sudah membunuh saudaranya itu 100 tahun yang lalu.

Seulgi lebih suka berbicara pada Taemin, oh sebenarnya semua orang yang kenal mereka jauh lebih menyukai Taemin daripada Kai. Taemin adalah kakak yang baik, selalu mementingkan adik-adiknya dan ia tidak brutal seperti Kai. Ia sopan, dan ia adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan Kai. Kelemahannya hanya satu, ia terlalu berperasaan.

“Boleh aku bicara pada tetangga baru kita?” Tanya Seulgi pada Taemin yang sedang duduk di halaman belakang rumah.

“Tetangga baru? Tentu, kenapa tidak. Apa kau bertanya begini karena Kai mencurigai tetangga baru ini?”

“Ya, seperti yang kau tahu ia curiga pada semua orang bahkan kita,” ujar Seulgi.

“Anggap saja ia seperti itu untuk melindungi kita dari ibu kita tercinta,” kata Taemin, menekankan sedikit pada kata ‘ibu kita tercinta’ dengan maksud sarkasme.

Seulgi tersenyum manis, lalu mengecup pipi kakaknya dan beranjak pergi untuk menemui tetangga barunya. Sebelum pergi ke rumah sebelah, ia dengan cepat mengambil beberapa potong brownies, quiche, dan croissant dari dapur. Tak seorang pun dari mereka bertiga bisa memakan makanan-makanan itu, karena itu ia berpikir membawakannya pada tetangga barunya adalah pilihan tepat sebagai tanda friendly visit.

Gadis berambut pirang itu mengetuk pintu rumah bernomor 102 sebanyak 3 kali, beberapa menit kemudian pintu itu dibuka dari dalam oleh Krystal Jung si tetangga baru. Seulgi langsung tersenyum lebar ketika melihat Krystal.

“Hai!” Sapa Seulgi ceria.

“Hai, kau tetanggaku?” Tanya Krystal.

“Ya, aku tinggal tepat di sebelah rumahmu. Aku lihat kau juga seorang Korean,” kata Seulgi sambil mempelajari raut wajah Krystal, kelihatannya gadis itu sedikit ragu.

“Kau benar, kau juga kan? Kita sama-sama Korean. Aku beruntung sekali, maksudku aku tidak sendirian di Montréal,” ujar Krystal diselingi sedikit tawa kecil.

“Tentu. Welcome to Ville Marie.”

Krystal memiringkan kepalanya dan mengernyit sedikit ketika mendengar Seulgi mengatakan kata Ville Marie, nama itu sudah sangat tua dan tidak digunakan lagi untuk menyebut Montréal.

“Maksudku Montréal. Aku lupa, mereka selalu menyebut kota ini Ville Marie dulu. Umm, bagaimana dengan Verchères? Kau suka lingkungannya?” Seulgi terdengar agak panik setelah menyadari bahwa bisa saja ia secara tidak sengaja memberitahu Krystal bahwa usianya sudah ratusan tahun.

“Ya aku suka, benar-benar klasik. Terutama patung perunggu itu,” kata Krystal sambil tersenyum.

“Madelaine, ia gadis yang sangat cemerlang untuk usia 14 tahun,” ujar Seulgi yang memang pernah bertemu gadis itu secara langsung.

“Kau bicara seolah kau mengenalnya.” Krystal kembali dibuat bingung oleh tetangganya itu.

Seulgi tersenyum canggung pada Krystal lalu menyerahkan piring berisi brownies, quiche dan croissant tadi pada gadis itu. Ia mengatakan bahwa kakaknya sudah menyuruhnya pulang. Krystal tidak menanyakan lebih lanjut dan membiarkan Seulgi pergi, walau jujur saja ia sedikit penasaran mengapa sikap dan cara bicara gadis pirang itu agak aneh.

Krystal menutup pintu rumahnya, membawa sepiring kue itu ke dalam untuk diberikan pada Sohyun yang sedang menata kamar tidur dan pastinya sudah kelaparan. Sohyun memakan kue-kue itu dengan senang hati, quiche-nya merupakan favorit Sohyun. Setelah itu Krystal pergi ke kamarnya sendiri.

Ia membongkar beberapa kardus yang berisi buku-buku kesayangannya. Ia meletakkan buku-buku itu satu persatu di lemari dengan rapi, sambil sesekali melihat sampul depan dan judulnya. Krystal terhenti pada sebuah buku dengan hard cover berwarna merah, berjudul “The Vampires’ Secrets” dicetak dengan warna keemasan. Krystal tidak ingat di mana ia mendapatkan buku itu, ia bahkan sama sekali tidak merasa pernah mempunyai buku itu. Ia memegang buku itu agak lama, mengusap hard cover-nya dan berpikir sejenak. Ia pun memutuskan untuk menyisihkan buku itu, karena ia tertarik untuk membaca sedikit malam ini.

“Baiklah,” gumam Krystal sembari membuka halaman pertama dari buku misteriusnya.

Gadis itu berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya yang berada di dekat jendela, menghadap langsung ke halaman depan rumahnya yang kini gelap hanya diterangi cahaya bulan purnama. Jujur saja cukup menyeramkan. Namun sekarang fokus Krystal berada di bukunya, bukan pada halaman rumahnya. Mulutnya mulai komat kamit membaca 5 baris pertama dari halaman pertama yang ia buka. Sampai di baris ke 7, kegiatan membacanya diganggu oleh angin kencang yang tiba-tiba bertiup dan membuat daun jendela kamarnya terbuka dan saling bertabrakan. Tirai pink-nya berkibar dengan liar.

Krystal menggerutu pelan, ia menangkap ujung tirainya dan berusaha menutup jendela sambil mengutuk angin kencang yang tiba-tiba datang itu. Tapi kemudian ia melihat sesuatu di halaman rumahnya. Lebih tepatnya seseorang. Ada seorang laki-laki tinggi, tidak mengenakan pakaian (selain celana jeans usang) berdiri di halaman rumahnya tengah malam begini. Krystal yakin siapa pun akan mengatakan kalau itu merupakan pemandangan yang tidak biasa. Ia pun menarik napas dalam, lalu turun dari tempat tidurnya. Ia membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah jaket tebal berwarna putih, dikenakannya jaket itu. Setelah itu ia memberanikan dirinya untuk keluar ke halaman, mendatangi pria aneh tadi.

“Hei!” Seru Krystal.

Ada jeda beberapa detik diisi suara angin bertiup kencang dan gemerisik semak berry sebelum pria itu memberikan respon.

“Kalau aku jadi kau, aku akan melangkah mundur dan menjauhi orang yang berdiri di halaman rumahmu pada tengah malam.” Suaranya tak semenyeramkan kesan yang di dapat Krystal saat melihatnya pertama kali.

“Oh baguslah ternyata kau sadar atas kelakuan anehmu,” kata Krystal sarkastik.

Laki-laki itu membalikkan badannya lalu mengangkat sudut bibir kirinya sedikit. Wajahnya tampan, namun sedikit ternodai oleh darah, kedua tangannya juga dikotori darah. Krystal mundur selangkah saat melihat sekilas sorot mata laki-laki itu di bawah sinar bulan.

You should go home, and be afraid luv,” kata laki-laki itu, sedikit memperlihatkan sepasang taring tajamnya ketika ia bicara.

“Aku tidak takut padamu,” tegas Krystal, meskipun tangannya sedikit gemetaran dan keringat dingin mulai mengalir di lehernya.

“Kau tidak takut? Aku Kai, si brengsek yang brutal dan ditakuti semua orang. Atau mungkin lebih tepatnya dibenci,” kata Kai sambil menatap tajam Krystal.

“Tidak, aku tidak takut.”

Melihat sikap Krystal yang menantangnya, Kai memegang kedua bahu gadis itu kuat-kuat, terlalu kuat sampai Krystal merasa tulangnya akan copot dalam beberapa menit. Ia menatap Krystal lekat-lekat dengan sorot mata mengancam atau seolah Krystal adalah makanannya.

“Jauhi keluargaku. Seulgi mungkin menganggapmu teman tapi ia selalu bertindak bodoh, terutama saat memberi kepercayaan pada orang,” kata Kai terlihat geram.

“Aku tak punya urusan apa-apa dengan keluargamu. Dan Seulgi, maksudmu gadis pirang itu kan? Ia baik padaku, tidak ada alasan untuk aku menjauhinya atau tidak menjadikannya teman,” balas Krystal.

“Kau pemberani. Tapi sayangnya mungkin kau tidak akan hidup lama, Krystal Jung.”

Kai mendekatkan kepalanya ke leher Krystal bersiap untuk menanamkan gigi taringnya yang tajam menembus kulit gadis itu, tapi Krystal tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia menendang kaki Kai berkali-kali hingga laki-laki itu melepaskan cengkramannya, setelah itu ia melayangkan tonjokan pada Kai tepat di hidungnya. Melihat Kai yang sedikit lengah, Krystal segera berlari menuju rumahnya. Namun secepat apa pun ia berlari, gerakan Kai jauh lebih cepat darinya. Laki-laki itu menangkapnya lagi dari belakang dengan mudah meskipun gadis itu memberontak.

“Lepaskan aku, bastard!” Krystal berteriak.

“Sudah kubilang kau harus takut padaku Krystal,” kata Kai sambil menahan tubuh Krystal dalam dekapannya.

“Aku tidak punya alasan untuk takut padamu,” ujar Krystal pelan, napasnya tersengal dan dadanya terasa sesak karena Kai menggunakan tenaga penuh untuk menahan tubuh rampingnya.

“Biar kuberitahu padamu, kau punya seribu alasan untuk takut padaku.” Kai setengah berbisik.

Tiupan angin semakin kencang, bulan purnama mulai tertutup awan abu-abu yang tertiup angin, daun-daun yang berserakan di tanah berterbangan mengikuti angin kencang yang meniup mereka. Seolah-olah akan ada badai, rintik-rintik hujan pun mulai turun.

“Aku rasa tidak, Kai.” Krystal bersikeras.

Sikap Krystal yang terus-terusan melawan membuatnya marah namun penasaran, ini pertama kalinya ada orang yang bersikap begitu padanya. Bahkan Seulgi tidak akan berani melawannya sekesal apa pun saudara kembarnya itu pada tingkah lakunya. Tapi Krystal, seorang manusia biasa yang bisa ia bunuh kapan saja berani menentangnya.

Kai mengangkat tubuh Krystal, membawa gadis itu ke teras rumah. Ia meletakkan gadis itu dengan kasar di lantai teras lalu ia duduk dan menahan tubuh Krystal dengan kedua lengan kuatnya. Ia menatap gadis itu dengan intens dan sorot mata penuh ancaman dan kemarahan.

“Alasan pertama, Krystal Jung,” ia berhenti sejenak, lalu menyeringai memperlihatkan kedua taringnya yang dikotori darah.

I am a vampire.

-TBC-

This idea just come up to my mind X’D ugh shot me. Tadinya mau dijadiin oneshot/twoshot tapi terlalu panjang jadi aku potong ke beberapa part (?) aku lagi demam vampir wakakakak yaudahlah 8’) happy reading luv. /sodorin jongin(?)

IMG_20150720_123450

6 thoughts on “[Chapter 1] Bad Blood (ON HOLD)

  1. Thor buruan di post ya chapter selanjutnya udah ditungguin nih dari kemaren :D aku suka ceritanya bikin penasaran.

    Semangat nulisnya ;)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s