PINK FAIRY : 8 – TRUTH

PINK FAIRY NEW

1st2nd3rd4th5th 6th7th

PINK FAIRY

TRUTH

8th Series

by Risuki-san

SHINee’s Onew & IU | General | Romance, Fantasy

© 2015 Risuki-san

Note :

Jika ada tanda petik satu (‘…’) dan cetak miring artinya itu flashback ya

Misal : ‘Onew tampan sekali’

Artinya itu pembicaraan dimasa lalu

Mengerti?

.

‘Jinki tak pernah memilih selain Jieun’

.

Halaman Sebelumnya

 “AKU BILANG AKU MERINDUKANMU!!”

Lagi, Jieun meneriakkannya tanpa ragu, lebih keras, lebih keras dari suara kereta di dalam stasiun. Ia ingin seluruh dunia tahu, ia merindukannya, ia ingin Jinki agar tidak pergi.

Dan jejak-jejak air yang membasahi jalan, rambut hitam yang terurai ke depan, Jieun menunduk dan tetesan air yang menggenang dan tumpah melalui sudut mata kecilnya.

Nafas yang tercekat saat suara bising sepeda motor milik Jinki kian menjauh lalu hilang dan ingatannya beberapa saat lalu ketika Chef Cho dan Jinki bertemu untuk pertama kali.

‘Dia…adikku’

Jieun tak mampu menahannya, suara nafas yang berat, dada yang sesak dan sakit. Apa ini yang dirasakan manusia saat merasa sedih?

Jinki pergi, lagi.

Akankah ia kembali?

Halaman 8

TRUTH

Deretan semut kecil yang berjalan lambat lalu sebuah jari kecil yang menyela, mengambil seekor semut, memisahkan dari kawanannya. Jieun terus melihatnya, semut dengan corak hitam yang berjalan seperti partikel angin diatas kulit putihnya.

Jieun, kau sudah makan siang?”

Jieun menoleh cepat, menarik segaris senyum yang lebih indah dari pelangi.

Makan siang?

Ia tak tahu apa  masih membutuhkannya.

“Nanti, aku akan makan nanti”

Jieun menjawabnya dan sebuah tumbukan keras pada kepalanya.

Dahi gadis itu mengerut, ini tidak sakit tapi memukul kepala bukanlah sebuah kebiasaan yang baik.

Jonghyun terlalu sering melakukannya!

“Makan atau aku akan memecatmu!”

Jonghyun mengucapkannya dengan nada mengancam.

Jieun mengerti, ia beranjak dari posisi duduk, menegakkan tubuhnya. Ia berlalu pergi, mendengarkan peringatan Jonghyun yang ia tahu sama sekali tidak sah.

Makan atau tidak adalah hak asasi manusia tapi kenapa Jonghyun pun harus mengaturnya?

.

.

.

Indera pengecapnya kehilangan fungsi, otak di dalam kepalanya berhenti bekerja. Sensasi asin ataupun manis semua terasa sama.

Jieun, kau tak berselera makan?”

Sebuah suara mengantar sebait tanya.

Gadis itu diam tanpa kata, ia terlalu bodoh untuk memahami meski sebuah pertanyaan sederhana.

Ia lumpuh.

Jieun tak sanggup menjalani hidup dengan normal tanpa melihatnya.

.

.

.

“Tuan muda?”

“…”

“Tuan muda?”

.

.

.

Kertas berhamburan diatas meja, merupakan fokus utama Jinki hari ini. Tapi ia mengabaikannya.

Jinki tidak cukup pintar untuk memikirkan dua hal sekaligus.

Ia manusia yang tervisualisasi begitu baik.

Tegar seperti terumbu karang, namun rongga yang luas adalah kelemahan terbesarnya. Ia hanya terlihat keras namun rapuh adalah kebenarannya.

.

.

.

Dua pasang mata terus menerus menatap pada satu titik. Akurasi dan presisi nyaris sempurna.

Otaknya bekerja siang dan malam hanya untuk memikirkan satu hal.

Jieun…”

Sebuah suara hasil dari kerja sistem otaknya.

“Ya! Chef!”

Chef Cho sedikit terperanjat, ia terkejut dengan suara Jieun yang cukup keras. Sudut bibirnya menarik selekuk tanda kebahagiaan.

Jieun, aku…”

.

.

.

Kaki-kaki tegap memijak tanah dengan tegas, dentuman tiap bait langkah adalah bukti seberapa besar niat yang ada dihatinya.

Jinki menyerah, ia merindukannya, sangat.

Jieun, aku…”

Langkahnya terhenti pada satu titik, suara yang ia dengar membelokkan niatnya.

Mata sabit Jinki memicing, membidik pada satu titik.

Dia…

Cho Kyuhyun?

.

.

.

Kaki kecil terperangkap pada satu bidang, ia ingin melangkah mundur tapi takdir berkata jangan.

Jieun perlahan mundur dan sebuah tembok adalah jawaban.

“Tu..tuan muda?”

Jinki berhenti.

“Besok datanglah ke apartemenku”

“Ya?”

Gadis itu bertanya-tanya.

Jinki tiba-tiba muncul, melangkah padanya yang sendirian di dapur. Menjebak Jieun diantara tembok dan tubuh kokohnya.

Berkata-kata dengan deretan kalimat yang mudah dimengerti namun tak mudah dipahami maksudnya.

Datang ke apartemen?

Jieun dengan senang hati melakukannya, tapi kenapa? Apa maksudnya?

“Besok jam empat sore, aku menunggumu”

“Aku tak bisa, aku…”

Jieun MUNGKIN memiliki janji lain.

“Aku tak peduli! Aku akan menunggumu!”

“Tapi aku…”

“Jika kau tidak datang, aku akan…”

Gadis itu menunggu, mata kecilnya menatap tepat pada Jinki. Pada mata sabitnya yang berbicara, yang terlihat seperti benar-benar mengancamnya.

“…Aku akan sangat marah, benar-benar marah hingga kau tak bisa meredakanku”

.

.

.

‘Jieun, aku menyukaimu”

‘Chef…’

‘Aku tahu kau tak bisa menjawabnya sekarang, karena itu aku akan memberimu banyak waktu’

‘…’

 ‘Aku akan menunggumu di dapur besok’

‘Tapi besok libur…’

‘Justru karena libur, jika aku menemukanmu disini besok, di tempat ini, jam empat sore, maka artinya kau menjawab iya, kau milikku’

.

.

.

Sangat membingungkan.

Berada pada persimpangan, menentukan dengan cepat langkah selanjutnya.

Jinki adalah satu-satunya dan Jieun tak seharusnya ragu.

Tapi perubahannya, Jinki yang terus berubah-ubah, seperti warna-warni musim.

Jieun hanya menyukai Jinki yang cerah seperti musim panas, Jinki yang tersenyum indah seperti musim semi.

Jinki yang terus melihatnya, mengaturnya ini dan itu, mengomel seperti ibu yang mengkhawatirkan anaknya.

Jinki yang dulu.

.

.

.

Hanya sebidang pintu menjadi penghalang, dua pasang mata tertuju pada satu titik yang sama.

Jieun menatap lama pintu di depannya, tangan kecilnya tak juga beranjak, tak juga menyentuh sebuah tombol untuk menyadarkan Jinki bahwa ia disana, menemuinya, memilihnya.

Jieun…”

Jinki mengetahuinya dari layar interkom, Jieun yang ragu bahkan saat jutaan langkah terpaut dari Kyuhyun yang menunggunya.

TING TONG

Jieun menekannya.

Seperti tombol yang akan membawanya pada masa depan yang masih buram, yang belum tentu bersama Jinki.

Jinki jelas tidak memilihnya, ia akan bertunangan dengan gadis lain. Ia hanya memaksanya datang berkunjung. Hanya itu.

Tapi bagi Jieun, ini adalah pilihan yang tak bisa ia ambil keduanya.

.

.

.

Pilihan Jieun tidak jatuh pada Chef Cho yang secara jelas memilihnya.

.

.

.

Partikel udara menjadi hilang, lenyap meninggalkan dunia dimana Jinki tinggal, dimana Jinki menopang hidupnya dengan cara bernafas.

Tangan besarnya menyentuh kening Jieun pelan.

Jinki melihatnya, Jieun yang menarik paksa senyumnya. Gadis itu tersenyum namun terlihat tak bahagia.

Jieun ragu, Jieun hanya ragu tapi Jinki menerjemahkan hal lain.

“Kau datang untuk meminta maaf?”

“Ya?”

“Aku mendengarmu, mendengar kalian, kau dan Chef Cho

Dahi Jieun mengerut, gadis itu kebingungan. Jadi Jinki tahu? Lalu apa maksudnya? Kenapa memaksanya datang?

“Aku…”

Jieun menggantung kalimatnya, ia tak mengerti bagaimana menanggapi pernyataan Jinki yang merupakan kebenaran.

Sebelumnya Jinki terlihat seperti memaksanya memilih tapi sekarang lain, Jinki mengetahuinya, Jinki bukan hanya seperti tapi memang memaksanya.

Tangan besar Jinki terangkat, tak lagi menyentuh permukaan kulit muka gadis di depannya, kaki-kaki tegap perlahan mendekat, saluran nafasnya menarik kuat udara sekitar, menghirup lebih banyak aroma khas Jieun.

Tangan besarnya meraih sesuatu, tubuh Jieun yang kaku di depannya.

“Aku takut jika kau datang untuk meminta maaf, apa aku benar?”

Jinki mengucapkannya, hanya sebuah bisikan halus. Ia memejam, mengunci rapat kelopak matanya. Merasakan kehadiran Jieun pada genggamannya, memenjarakan gadis itu, selamanya.

 “Aku terus berpikir, bagaimana jika kau tidak datang, bagaimana jika kau memilihnya. Aku takut jika kau berlari meninggalkanku. Bahkan saat kau datang aku masih ketakutan, bagaimana jika kau datang hanya untuk meminta maaf karena lebih memilihnya. Aku terus ketakutan, aku  takut jika kau pergi. Aku takut berhenti bernafas karena tak menemukanmu disekitarku, aku membutuhkanmu, aku bergantung padamu.”

“…”

“Jangan memilihnya, tolong jangan memilihnya”

Jinki terus mengucapkannya, keinginan yang ia pendam lama. Kebutuhan untuknya agar bertahan hidup, hanya Jieun, hanya Jieun yang ia butuhkan.

Jinki membutuhkan udara dan makanan.

Tapi ia tak dapat bertahan menghadapai seleksi alam karena Jinki bernafas dan bertahan hidup jika gadis itu menggenggamnya.

.

.

.

Jieun memilihnya, sejak awal ia hanya memilihnya.

Tapi bagaimana dengan Hyeri?

.

.

.

Mata kecilnya berkaca, sosok Jinki yang melihatnya terlihat buram. Titik-titik air yang melapisi mata menghalangi pandangan.

Jieun, kau menangis?”

Jinki bertanya lalu mengusap halus permukaan kulit mukanya, dapat ia tangkap nafas Jieun yang terdengar berat.

Dengan susah payah Jieun mengucapkannya, pertanyaan yang begitu sulit ia utarakan.

“Tapi Hyeri?”

Jinki terdiam, ia kehilangan kata-kata.

Kaki tegapnya perlahan mundur, mata sabitnya perlahan kosong. Ia menunduk, berpikir keras. Hyeri, bagaimana dengan Hyeri?

.

.

.

‘Tidak bu, aku tak bisa melakukannya!’

‘Lakukan ini karena dia temanmu, Jinki.’

.

.

.

Titik demi titik air perlahan jatuh, turun mengikuti gravitasi yang tak terbantahkan, menjadikan lantai sebagai saksi sebanyak apa kesedihan itu menyelimuti.

Jieun hanya duduk diatas lantai, memeluk lututnya sangat erat.

Ia menangis karena marah. Lagi-lagi Jinki berubah, Jinki mengatakan pada dunia untuk jangan memilih yang lain. Ia mengatakan jika ia membutuhkannya, membutuhkan Jieun.

Tapi saat nama Hyeri disebut, seolah sebuah mantra yang menyadarkannya dari kesalahan.

Hyeri, Jinki melupakan Hyeri dan begitu mengingatnya Jinki akan kembali?

Jieun…”

Sebuah suara menyapanya, diikuti usapan lembut pada tangannya, membongkar paksa pertahanan yang sempat ia buat.

Merasakan tarikan kuat pada tangan kecilnya yang bertahan untuk melingkari lutut.

Jieun ingin menangis, tolong jangan mengganggunya.

Jieun….”

Jinki memaksa gadis itu, melepas tautan tangan Jieun, menggenggam erat tangan kecil gadis itu. Menggantikan lutut Jieun sebagai pelampiasan kesedihan menjadi tubuh tegapnya.

Memaksa gadis itu berada dalam penjaranya, pelukan kuat tanpa ampun.

“Aku memilihmu, sejak awal aku hanya memilihmu.”

“…”

Hyeri bukan siapa-siapa, aku memilihmu, Jieun, aku memilihmu, aku tak pernah memilihnya, tak pernah…”

.

.

.

Jinki tak pernah memilih selain Jieun.

Ia hanya memilihnya, sejak awal hanya Jieun.

Jinki hanya terlihat memilih Hyeri, tapi sesungguhnya tidak.

.

.

.

‘Hidup Hyeri takkan lama, Dokter Kim mengatakan hanya beberapa bulan, kumohon Jinki, kumohon bantu Hyeri kami.’

Suara ibu Hyeri kala itu, memohon pada Jinki dengan titik-titik air yang menggenang pada pelupuk matanya.

‘Hanya sebentar, tolong buat dia bahagia, hanya sebentar Jinki…’

Hyeri sembuh dari kanker darah, lalu penyakit itu kembali hingga membuatnya mungkin tak dapat tertolong.

.

.

.

Sebuah pertunangan palsu untuk tujuan perikemanusiaan.

To be continued…

copyright

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s