Sajaegi Chapter 3

sajaegi1

Title: Sajaegi

Author: Kim Jaemi (@iimwae)

Credit: Gitawa @ Diamond of Paradise

Cast: Park Jimin (Bts)

*Han So Mi / Silla Geongju (Author Chingu)

*Baek Seung Hoon (Aktor)

*Im Jaemi or You

*Park Ri ni (Author Chingu)

Support Cast: Find them when you read it!!

Genre: Teen, Friendship, Romance, Bullying, Memorise and School Life

Length: Chaptered

Disclaimer: Story Request!!No Copas!!No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

#Before

“Heei… terima saja!” So mi menyuruh Jimin agar segera menerima ponsel yang berada di tangan Jaemi dengan tersenyum sinis.  

“Andwe hyung…”

#Flashback

“Neo gwenchana?” tanya seorang namja pada yeoja yang tengah menangis dan basah kuyup. Namja itu membantunya berdiri kemudian membereskan isi dalam tasnya yang berceceran.

“Siapa namja ini?” Jaemi menatap tajam kearah namja yang juga menatap tajam kearahnya. “Neo nuguya?”

“Aku adalah Kang juno anak kelas satu.” Jaemi dan teman-temannya tertawa. “Noonha kau menginjak bedak miliki yeoja ini!”

“Aaah mian… ups aku merusaknya, kalau begitu ambil ini punyaku.” Jaemi mengambil bedak yang berada di dalam tasnya. “Kasihkan pada yeoja anak kelas satu ini!” Juno mengambil kemudian memberikan bedak pada seorang yeoja yang berdiri ketakutan.

“Yaa gaja! Selamat Juno-ya… sampai ketemu besok di sekolah.” Jaemi mengajak kedua temannya Re na dan Bokyung untuk pergi dari sekolah.

“Apa anak itu tidak tahu siapa kita?” ungkap Bokyung.

“Mungkin.” jawab Re na.

“Kita punya permainan baru.” Jaemi tersenyum puas.

Sejak kejadian di lapangan, namja bernama Juno selalu menjadi bullian ketiga yeoja yang tanpa hentinya mengganggunya. Kini ia sadar bahwa ucapan selamat itu adalah ucapan untuk memasuki permainan mereka.

“Hooi Juno-ya!” teriak Bokyung ketika melihat Juno keluar dari dalam kelas. “Tarawa!” tambahnya.

Juno mengikuti Bokyung dengan langkah takut ke atap gedung, sudah ada dua yeoja yang menunggu mereka disana.

“Hei permainanku.” Jaemi dan kedua temannya membuli namja yang saat ini ketakutan. “Jangan menjadi sok pahlawan jika kau tidak tahu seperti apa sekolah ini.” Ia melemparkan telur di kepala namja yang tengah berlutut di hadapannya kemudian berganti dengan menuangkan sekantong tepung.

Sudah banyak murid yang menjadi bullian ketiga yeoja itu termasuk Ri ni yang berusaha untuk membantu murid-murid yang sedang ditindas. Hanya Ri ni satu-satunya murid yang tidak takut dengan mereka bertiga. Meskipun setiap harinya ia dikerjai oleh Jaemi ia tetap melawan. Sampai akhirnya Tae hyunglah yang baru datang dari Amerika membantunya terlepas dari permainan Jaemi.

“Yaa Im jaemi! Geumanhe…” ucap Tae hyung.

“Baiklah…” Jaemi tersenyum kecut padanya. “Selamat Tae hyung-a.”

Namun ada yang aneh saat itu, Tae hyung sama sekali tak pernah mendapat bullian dari Jaemi dan teman-temannya. Jaemi tak pernah mendatangi kelas Tae hyung, ia malah mencari mangsa lain.

#Flashback End

“Diam kau!” perintah So mi dengan menatap tajam kearah namja yang juga menyuruh Jimin untuk tidak menerima ponsel. “Terima saja! Apa susahnya hanya menerima sebuah ponsel?” yeoja itu berjalan mendekat kearah Jaemi kemudian merangkulnya dari belakang. 

“Caaa… terima ini lalu berikan padanya!” Jaemi tersenyum pada Jimin sembari mengulurkan ponsel, dengan ragu-ragu Jimin menerima ponsel itu.

Sajaegi Chapter 3

—PERMAINANKU SEORANG IDOL—

Somi yang masih merangkul Jaemi tersenyum puas. “Kau pergi sekarang!” perintahnya pada Juno, seketika Juno berlari ke kelasnya.

“Yaa Im jaemi hentikan semua permainanmu!” geram Tae hyung, sedangkan Jaemi hanya melirik kearahnya.

Jaemi memberi selamat pada Jimin sembari mengulurkan tangannya, dengan segera pula Jimin menjabat uluran tangan yeoja itu.

“Babbo.” umpat So mi.

“Yaa Han so mi! Kali aku tidak akan diam saja…

“Geure… jangan diam saja, Park ri ni. Memang seperti itukan dirimu?” Jaemi melihat So mi sembari tersenyum senang. “Aku menunggu apa yang akan kau lakukan pada kami, setelah itu aku akan mengucapkan selamat untukmu yang kedua kalinya, oh tidak yang ketiga kalinya.” tambah So mi dengan menatap tajam kearah Ri ni. “Gaja!”

Keempat yeoja dengan satu namja keluar dari kantin, mereka tertawa-tawa sembari saling tunjuk satu sama lain.

“Waah… kau membuatku terkejut.” ungkap Jaemi, So mi menunjuk diri sendiri dengan menyombongkan diri.

#So mi *Pov* 

Sepulang sekolah aku berjalan di koridor dengan beberapa temanku. Aku mengajak Seung hoon untuk pergi main sebelum pulang, tapi aku tahu itu tidak akan mungkin mengingat dia adalah artis yang sudah dinantikan oleh schedulle. Aku tak perlu khawatir dengan para wartawan yang nantinya akan mempergoki kami berduan, toh meraka tahu bahwa aku, Seung hoon dan Jaemi adalah sahabat. Jadi bukan sesuatu yang waw kalau kami berjalan bertiga atau aku berjalan dengan Seung hoon hanya berdua saja.

“Pergilah!” Jaemi tersenyum padaku. “Yaa Seung hoon…!” ungkapnya dingin, belum sempat meneruskan Seung hoon sudah menyela ucapannya.

“Tanpa kau mintapun aku pasti akan pergi dengannya.” tandas Seung hoon tak kalah dinginnya.

“Heei… kapan balokan es dalam hati kalian itu mencair? Sudah bertahun-tahun jadi sahabat masih saja saling dingin satu sama lain.” ucapku dengan merangkul lengan mereka berdua. Aku tahu suana dingin yang tercipta antara mereka berdua hanyalah scenario saja. Dasar orang-orang aneh.

“Ya sudah aku pergi dulu. Re na-ya, Bokyung-a gaja!” Jaemi mengajak Re na dan juga Bokyung untuk pergi.

“Gajima! Ayo kita pergi bersama-sama!”

“Eodi?” tanya Bokyung yang seketika membuatku berpikir.

Aku mengajak semua temanku untuk pergi ke mall, tapi itu bukan ide yang bagus. Seung hoon mengajak kami semua pergi ke taman hiburan, setelah itu pergi ke tamezone. Apa-apaan namja ini? Kenapa mengajak ke tempat seperti itu?

“Bagaimana kalau pergi bermain esketing?” ide bagus Bokyung-a, kali ini aku setuju.

“Sirheo…”

“Tidak ada yang mau menurutimu.” Seung hoon membungkam mulut Jaemi yang hendak menolak ajakan Bokyung. “Kalau tidak mau ya sudah jangan ikut, biar kita berempat saja yang pergi.” tambahnya dengan melepas bungkamannya di mulut yeoja yang terlihat kesal.

Kami semua pergi menuju pusat pembelanjaan yang di dalamnya terdapat tempat esketing. Sesampai kami disana, kami langsung bermain esketing kecuali Jaemi. Ia duduk di pinggir sembari melihat kearah kami. Yeoja yang satu itu memang tidak suka bermain hal-hal seperti esketing, scateboard apalagi sky.

Aku dan Seung hoon bermain-main di tengah-tengah sembari berpegangan tangan, sedangkan Bokyung dan Re na entah meraka berdua kemana.

“Kau ingat waktu kita masih kecil?”

“Apa?”

Saat itu di istana kami berdua bermain peta umpet, itu terjadi ketika kami masih berumur tujuh tahun. Seung hoon mengatakan bahwa selamanya kami akan menjadi sahabat, dan selamanya akan melindungiku. Tak lama setelah itu ibuku meninggal dunia karena melahirkan pangeran Jeoson. Eommamamma bogosipoyo ucapku dalam hati dengan menghirup nafas panjang.

“Aku tidak berniat mengingatkanmu tentang ibumu Silla geongju, tapi aku mengingatkanmu bahwa selamanya aku akan menjadi pelindungmu.” aku tersenyum dengan kupaksakan agar Seung hoon tidak mengetahui bahwa aku tengah bersedih. “Heii… seharusnya aku tidak mengingatkanmu.” dia memang namja yang banyak mengetahui tentang diriku, sekeras apapun aku menyembunyikannya tetap saja namja yang satu ini tahu.

Seung hoon menarik tanganku untuk mendekat kearah Jaemi, ia mengambil sepasang sepatu kemudian memasangkannya di kaki Jaemi.

“Yaa mwo a nenggoya? Lepaskan! Lepaskan kataku!” Seung hoon masih memaksa untuk memasangkan sepatu di kaki Jaemi.

“Yaa Seung hoon-a apa yang akan kau lakukan?” namja ini hanya menjawab untuk menghiburku. “Jaemi tidak bisa bermain esketing.” tanpa mendengarkanku dia menarik tangan Jaemi untuk menuju ke tengah-tengah. Karena kejailan Seung hoon, itulah yang selalu membuat mereka tak pernah akur. Terkadang bercandanya keterlaluan, bahkan terkadang membahayakan. Bergegas aku menuju mereka untuk membantu Jaemi yang berdiri ketakutan di tengah-tengah.

“Yaa Seung hoon-a matilah kau nanti.” ancam Jaemi, aku berniat menolongnya namun Seng hoon mendekapku dari belakang membuatku diam tak berkutik.

“Sahabatmu ini lagi bersedih, setidaknya hiburlah dia.” kau bukan menghiburku malah membuatku khawatir.

Aku melihat Jaemi terjatuh, yang sontak membuat kami bergegas lari kearahnya. Jaemi menghempaskan tangan Seung hoon yang hendak menolongnya. Aku bisa melihat tatapan kemarahan yang mematikan di dirinya. Untung ada Mark eoppa yang kebetulan juga bermain esketing. Oh tidak… Mark eopaa datang bersama seorang yeoja.

“Heii Jaemi, anyeong So mi.” Mark eoppa menyapaku dengan tersenyum kemudian menolong Jaemi.

“Eoppa siapa yeoja itu?” tanya Jaemi.

“Yeojachinguku, oh Seung hoon kau disini juga?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan! Benarkah dia yeojachingumu?” Jaemi bertambah kesal setelah mendengar ungkapan namja tampan di depan kami.

“Ayo ikut denganku!” Mark menarik tangan Jaemi dan meninggalkan yeoja yang tadi datang bersamanya.

Seung hoon mengetip-ngetipkan matanya tak percaya. Aku masih mendengar omelan dan gerutuan Jaemi yang semakin menjauh.

“Sejak kapan yeoja dingin itu bertingkah seperti itu?” Seung hoon masih tak percaya melihat kejadian barusan.

“Kau ini sahabat apa? Mark eoppakan biasnya.”

“Waah… aku bertahun-tahun berteman dengannya tapi tak pernah sekalipun aku tahu sifat aslinya.” ungkapnya yang sukses membuatku tertawa.

“Itu karena kalian sama-sama memiliki bongkahan es di hati kalian.” aku mengejar Jaemi dan Mark eoppa meninggalkan Seung hoon yang masih berdiam diri.

#Jimin *Pov*

Kedua temanku Tae hyung dan juga Ri ni tak hentinya berbicara. Apa yang salah? Aku hanya menerima sebuah ponsel, bukannya menerima kematian. Kenapa mereka berdua memarahiku?

Sesampai di dorm aku tengah latihan koreo untuk lagu yang beberapa bulan lagi akan realise, berjudul joryeo (sick). Koreo dari lagu ini benar-benar sulit dan cepat, aku saja sampai kelelahan dan kewalahan.

“Hyung… bagaimana sekolah barumu?” aku menghentikan latihanku ketika mendengar Jung kook menghampiriku sembari melemparkan handuk untuk mengusap keringatku kemudian berganti melemparkan sebotol minuman. Aku menegok minumanku dengan sekali cegokan. Segar rasanya, seakan-akan tengah berada di kutub utara. “Bagaimana sekolahmu?” Jung kook tersenyum tipis seolah-olah ia tahu bahwa sekolah itu tidak diperuntukan untuk anak-anak Bts.

“Kau sudah tahukan?”

“Tentu, V hyung selalu mengeluh tentang sekolah itu padaku.” Aaah menyebalkan. Kenapa anak itu membiarkanku masuk ke neraka juga? “Jangan manyun saja! Ayo nanti malam kita pergi untuk jalan-jalan!” aku tak menanggapi ajakan Jung kook. Aku berjalan menuju kamar, ketika aku hendak membuka pintu aku mendengar keributan dari ruang tengah. J-hope hyung dan Rapmons hyung yang merebutkan seorang yeoja di televisi, Silla geonju itulah nama yang sepintas kudengar. Seperti nama sekolahku saja, Silla school. Aku tertawa kecil kemudian masuk ke dalam kamar lalu merebahkan diri di atas kasur.

#Flashback

“Aaah… kenapa kau ikut campur dengan mereka?” aku tidak tahu kemana arah pembicaraan Tae hyung. “Kau tidak sendiri kawan kau punya aku, jika ada sesuatu hal yang buruk padamu kau harus memberitahuku.”

“Apa maksudmu?”

“Hyung…” ada seseorang yang tiba-tiba menghalangi langkahku, dia adalah namja yang tadi. “Juisonghabnida.”

“Apa maksud dari semua ini?” aku benar-benar tidak tahu apa-apa dengan keadaan di dekolah ini.

“Ucapan selamat yang dimaksud Jaemi noonha adalah ucapan selamat untuk memasuki neraka.”

#Flashback End

Aku masih memikirkan kejadian tadi siang di sekolah, nekara? Aku tersenyum tipis setelah mengingat-ingatnya. Bagiku neraka adalah ketika aku sedang berlatih keras namun aku gagal. Neraka sudah pernah aku rasakan sebelum aku debut di Bts.

#Jaemi *Pov*

“Eoppa aku lapar, tratktir aku!” pintaku pada Mark eoppa.

“Kau kan anak orang kaya…” belum sempat melanjutkan aku sudah menarik tangannya agar segera mentraktirku.

“Eoppa antarkan aku pulang juga.”

“Jika wartawan tahu kau akan mengancam karierku.”

“Kau berjalan dengan gadis itu tak masalah.”

“Itu karena dia adikku.”

“Jadi dia bukan pacarmu?” dia menganggukan kepala dengan pelan. “Yaa Han so mi aku pulang dengan Mark eoppa.” aku tersenyum manis pada So mi, tapi tidak pada Seung hoon. “Eoppa gaja!”

“Yaa! Haiis anak itu benar-benar menyebalkan. Lihat saja jika kau meminta bantuan padaku, aku tidak akan menolongmu.” gerutu Seung hoon yang sama sekali tak kuhiraukan.

Sesampaiku di luar aku tidak menaiki mobil pribadi Mark eoppa. Aku menghentikan taxi kemudian memasukinya.

“Bukankah kau…”

“Aaah aku tidak ingin membuat kariermu hancur, bukankah itu yang kau katakan tadi padaku?” aku kembali dengan perwatakanku yang dingin dan tak perduli dengan yang lain.

“Aku hanya bercanda tadi, hais anak ini benar-benar…” tiba-tiba sudah banyak wartawan yang mengerumuni kami. Haiis dari mana datangnya para wartawan ini?

“Apa hubungan kalian?”

“Apa kalian sedang berkencan?”

“Bukankah kau Im jaemi yang sempat akan debut bersama tiga anggota lainnya, namun gagal entah karena alasan apa?” Sederet pertanyaan yang keluar dari mulut para wartawan.

“Benarkah kalian sedang berkencan?”

“Apa kalian sedang bertengkar? Kenapa nona Jaemi menaiki taxi?” Haais membuatku pusing.

“Iya kami sedang berkencan, apa kalian puas? Iya kami sedang bertengkar? Apa itu yang kalian inginkan? Kami tidak akan menutup-nutupinya” aku mencium Mark eoppa kemudian memasuki taxi dengan kesal. Siapa tadi yang bertanya aku sempat akan debut tapi gagal. Park hye jong, aku sempat membaca name tagnya. Aku menelpon seseorang untuk menghancurkan karier wartawan bernama Park hye jong.

#So mi *Pov*

Aku dan Seung hoon pulang berdua karena Jaemi meminta Mark eoppa untuk mengantarnya pulang. Bokyung dan Re na juga sudah pulang dengan jemputan mereka masing-masing.

“Yaa So mi-ya! Aku akan mendapatkan satu boneka untukmu.” ungkap Seung hoon. Kini kami tengah berada di taman hiburan. Aku tahu namja yang satu ini memang menyukai taman hiburan, taman bermain dan tamezone. Seung hoon masih berusaha untuk mengambil boneka, sudah berkali-kali dia memasukan koin namun tak satu pun boneka yang ia dapatkan. Akhirnya aku mencoba untuk mendapatkan bonekaku sendiri, dan yaah aku gagal.

“Aaah… apa alat ini berfungsi?” gerutunya dengan menendang permainan itu. “Aku akan coba sekali lagi.”

Seung hoon berhasil mendapatkan boneka kelinci untukku. Kami berjalan-jalan di sepanjang jalanan kota Seoul. Hari sudah semakin petang jarum jam sudah menunjukan di angka tujuh malam. Namja yang saat ini berjalan denganku mengantarkanku untuk pulang. Di depan rumah, ia mengecup keningku kemudian mengucapkan selamat malam dan selamat tinggal.

Aku masuk ke rumah dengan mendekap boneka kelinci. Sesampaiku di rumah abamamma menanyaiku tentang Jaemi. Aku berdiri heran karena aku tak mengerti maksud pembicaraannya. Aku membelalakan kedua mataku tak percaya setelah mendengar berita di televisi.

“Mark eoppa dan Jaemi berciuman di depan umum?” bergegas aku memasuki kamarku dan melempar tasku ke semberang arah. Aku merogoh ponselku di jas kemudian menghubungi yeoja gila itu. Ia tak mengangkat semua panggilanku. Aku memutuskan untuk mandi setelahnya makan malam bersama pangeran Jeoson yang masih duduk di kelas enam dasar serta abamammaku.

“Noonha bogosipoyo.”

“Aku kan sudah ada disini Jeoson-a.” aku mengacak-acak rambut adikku lalu memeluknya. “Aah cam, setelah kau lulus kau akan meneruskan dimana?”

“Mungkin di Silla school, atau Jeoson school.” Aaah… aneh rasanya mendengar nama kami berdua menjadi nama sekolah. Abamammaku ini benar-benar bukan orang yang kreatif.

-Kling-

‘Besok kita akan bermain-main.’ aku mendapat pesan singkat dari Jaemi, ketika aku hendak membalasnya aku mendapat pesan masuk yang mengucapkan selamat dengan huruf kapital. Aku memang sering mendapat ucapan selamat selalu dari nomor yang sama, namun aku bukanlah orang yang memiliki tingkat keingin tahuan yang tinggi. Aku lebih memilih untuk membiarkannya atau mengabaikannya.

#Author *Pov*

Keempat pelajar Silla tengah duduk-duduk di bangku tengah, bangku favorit mereka. Seorang yeoja memasuki kelas kemudian meletakan tas di bangkunya lalu berjalan menuju ketiga yeoja yang tersenyum padanya.

“Kau sudah datang?”

“Eooh… yaa neo bikyo!” ucap Jaemi sinis menyuruh anak laki-laki agar berpindah tempat duduk. Anak laki-laki itu keluar dari kelas dengan tatapan marah, namun tak ada yang bisa ia lakukan selain menghembuskan nafas kekesalan.

Di sisi lain tiga pelajar tengah melewati koridor berniat memasuki kelas. Tepat di pintu kelas langkah mereka terhenti, mereka melihat keempat yeoja yang terduduk di bangku tengah sembari bersenda gurau. Jimin berjalan ke tempat duduknya di belakang melewati keempat yeoja tersebut.

“Anyeong Jimin-ssi!” sapa Jaemi yang srantan membuat teman-temannya juga ikut menyapa. Hanya So mi yang terlihat enggan untuk menyapa namun ia tetap menyapa dengan senyuman yang dipaksakan.

“Haiis dia membuang muka, aku rasa dia menyukaimu Jaemi-a. Geunde apa Seung hoon tidak masuk?” ungkap So mi yang masih terlihat kesal.

“Waah aku rasa dia tidak tahu siapa So miku ini, mungkin saja si brengsek itu takut bertemu denganku.”

“Mungkin hanya anak baru itu satu-satunya yang tidak mau duduk denganku. Hahaha kalian selalu saja bertengkar.”

‘Datanglah ke sekolah, ini perintah atau aku akan marah.’

‘Aku tidak bisa, hari ini kami sedang di karantina. Jangan hubungi aku karena ponsel kami akan disita untuk sehari ini.’

Di bangku ujung depan seorang yeoja berjalan menuju bangku seorang namja yang sedari tadi melihat kearah Jimin yang duduk seorang diri.

“Yaa Jagi-ya!” sapa Ri ni mengagetkan Tae hyung yang masih prihatin terhadap nasib sahabatnya. “Jangan pernah meninggalkan Jimin seorang diri!” tambah Ri ni dengan melihat geram kearah Jaemi dan kawan-kawannya.

“Tentu saja, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti sahabatku.” Ri ni tersenyum lega kemudian kembali ke tempat duduknya.

Teng teng bell pertanda istirahat telah berbunyi Tae hyung dan Ri ni mengajak Jimin ke kantin, namun Jimin menolak mereka dengan alasan malas.

“Yaa Jimin-a gaja!” ajak Ri ni yang membuatnya berpikir.

“Sejak kapan Ri ni baik padaku?” Pikir Jimin.

Ri ni melihat sinis kearah Jaemi yang berjalan menuju bangku So mi. Bokyung dan Re na pun juga mengikuti Jaemi. Bokyung meletakan tangannya di pundak Jaemi yang duduk di bangku belakang samping So mi, sedangkan Re na berada di jalan pembatas meja dekat Jaemi.

“Yaa sudah kalau kau tidak mau, jika ada apa-apa cepat pergunakan ponselmu dan hubungi aku!”

“Apa-apaan kau ini, apa aku terlihat seperti anak kecil?” tandas Jimin kesal.

Keempat yeoja yang berada di sampingnya tersenyum mendengar ungkapannya, bahkan So mi juga mengumpatnya.

“Yaa Jaemi-a! Apa benar berita kemaren? Kau berciuman dengan Mark eoppa di depan umum.” tanya Bokyung yang sontak membuat Jimin memasang indra pendengarannya.

“Aaah itu? Itu hanyalah sandirawa, kalian tahukan di dunia artis hal semacam itu adalah lumrah. Appaku yang memintaku untuk melakukan itu.”

“Kau tahu banyak yang membicarakanmu saat ini, ada yang mengatakan ‘Jaemi sudah menentukan pilihannya pada Mark eoppa.’ Itulah yang aku dengar.”

Jimin melangkah keluar sembari tersenyum puas, entah bayangan apa yang berada di otaknya.

“Kenapa dengannya?” tanya So mi, ketiga temannya hanya mengangkat bahu mereka.

Jaemi berjalan mendekati bangku Jimin, ia mengoleskan lem perekat di bangku tersebut. Semua teman-temannya tertawa, termasuk So mi.

#Jimin *Pov*

Aku benar-benar tidak tahu apa-apa di dunia infoteiment, bahkan aku juga tidak tahu tentang ciuman yang yeoja-yeoja itu maksudkan. Untungnya itu hanya rekaya, aku masih punya kesempatan.

Setelah dari kamar mandi aku kembali ke dalam kelas, ternyata yeoja itu tak beranjak dari tempat duduknya. Aku melihatnya tengah menidurkan kepalanya di atas meja. Aku menduduki tempat dudukku, aku masih melihati yeoja yang tengah menidurkan kepala sembari memejamkan matanya.

“Waah ternyata dia yeoja yang cantik.” aku akui memang ketiga teman yeoja ini memang cantik-cantik. Aku tidak tahu siapa namanya, mungkin Bokyung dia tinggi bak model, rambut berwarna cokelat. Re na kembaran Ri ni, aku juga mengakui bahwa Ri ni seorang yeoja yang cantik. Mereka berdua memiliki wajah yang sama sudah tentu juga kalau Re na cantik. Jaemi si yeoja yang selalu membuang muka padaku, dia tak kalah cantiknya. Tapi jika dilihat-lihat yeoja ini lebih cantik, namun sayang aku terlanjur tidak menyukainya. Yaah… aku memang seorang namja yang pendendam. Aku tidak perduli orang mengataiku apa, tapi aku sangat sensitif jika sudah berhubungan dengan boybandku. Aku dan kawan-kawanku merintis dari nol, datang dari agensi kecil dan mampu bertahan dan bersaing dengan senior-senior kami yang jauh lebih menonjol dibanding kami. Tidak akan aku biarkan seseorang menghina boybandku.

“Apa yang kau lihat?” yeoja itu membuka matanya, aku kepergok olehnya yang sedang melihati wajahnya.

“Yaa Han so mi.” sapa seorang yeoja yang juga tersenyum padaku. “Kau masih tetap ingin disini? Apa kau sakit?” yeoja di sampingku menggelengkan kepalanya. “Kau tahu dimana Bokyung dan Re na?” lagi-lagi dia menggeleng pelan. “Aaah… aku lapar So mi-a, Jimin-ssi bisakah kau menemaniku makan?”

Aku tak percaya, dia mengajakku makan. Aku mengiyakan ajakkannya, namun ada yang aneh saat itu. Aku tak bisa beranjak dari tempat dudukku. Rupanya ada yang menaruh lem di tempat dudukku.

Aku melihat So mi tertawa sembari berdiri yang juga diikuti oleh Jaemi.

“Waeyo?” aku rasa Jaemi tidak tahu bahwa sahabatnya itu sudah mengerjaiku.

“Yaa Im jaemi gaja! Kau bilang laparkan?” Jaemi menggerak-gerakan jarinya kearahku sembari tersenyum. Si So mi itu menarik lengannya sembari berkata. “Senang juga punya permainan seoran idol, untungnya ini Silla. Jika tidak, pasti kita sudah mati.” aku benar-benar ingin membunuh yeoja itu, jika saja di Korea tidak ada undang-undangnya pasti aku sudah menancapkan pisau padanya. Sabar Jimin-a, orang tuamu selalu mengajarkan tentang kesabaran. Seseorang yang sabar pasti akan mendapatkan buah yang sempuran. Setidaknya kata-kata itulah selalu membangkitkan semangatku ketika aku mulai menyerah.

Bersambung…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s