(Chapter 9) Love & Revenge

wpid-love-revenge.jpeg

wpid-love-revenge.jpeg

Poster by flamintskle @ Poster Channel

Title : Love & Revenge (Chapter 9)

Author : Chunniesthttp://fandreamstory.wordpress.com/

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

* Lee Sungjong (INFINITE)

Tidak terasa Love & Revenge sudah sampai Chapter 9. Gomawo readersdeul yamg setia membaca ff ini dan juga gomawo untuk komentar-komentar yang memberi semangat author. Namun dengan terpaksa author harus memgatakan jika ff ini akan segera tamat hiickks….hiickkss….

Tapi jangan sedih, author gak akan berhenti sampai di sini. Karena author sudah membuat Drama terbaru nih. Tolong dibaca juga ya…..

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

9

ENTRUST

Minhee membuka pintu kerja ayahnya. Buku-buku terjajar rapi di rak-rak yang mengelilingi dinding. Minhee berjalan memasuki ruangan itu. Matanya beredar meneliti ruang kerja yang jarang dikunjunginya. Gadis itu menghampiri meja kerja ayahnya. Minhee menyentuh kursi hitam besar yang selalu ayahnya duduki. Diapun duduk dan merasakan nyamannya kursi itu. Peristiwa masa lalupun terngiang dalam pikiran Minhee.

~~~FLASHBACK~~~

Jungwoo yang sedang duduk di meja kerjanya meletakkan selembar foto di atas meja. Minhee yang berdiri di samping meja mengambil foto itu.

“Bukankah ini Kim Myungsoo dari perusahaan Kim?” Tanya Minhee melihat foto Myungsoo yang terlihat sedang berjalan. Laki-laki itu tampak mengenakan Sweater coklat dengan jaket biru tuanya.

“Ne.”

“Mengapa Appa menunjukkan foto ini padaku?” Jungwoo mengalihkan pekerjaannya dan menatap putrinya.

“Karena dia akan menjadi tunanganmu.”

Seketika wajah Minhee terlihat kaget.

“Tu-tunangan?”

Dengan eskpresi dingin Jungwoo menganggukan kepalanya.

“Ne. Minggu depan akan diselenggarakan pesta untuk pertunanganmu dengannya.”

“Tapi Appa aku tidak mau. Aku bahkan tidak terlalu mengenalnya bagaimana bisa kami bertunangan?”

Seketika Jungwoo menoleh pada putrinya. Tampak jelas wajahnya menunjukkan ketidaksukaan pada protes Minhee.

“Ingin atau tidak pesta itu akan tetap berlangsung.”

BRRAKK….

Penuh emosi Minhee menggebrak meja dengan penuh emosi.

“Tidak seharusnya Appa seenaknya memutuskan kehidupanku seperti ini.” Marah Minhee.

Jungwoo berdiri dan nenghampiri putrinya. Minhee melayangkan tatapan kesalnya pada ayahnya. Sedangkan wajah sang ayah tak menunjukkan ekspresi sedikitpun.

“Appa tidak seenaknya memutuskan hal ini. Perusahaan Kim memiliki banyak koneksi dengan perusahaan besar lainnya. Taeyang Group akan menjadi perusahaan yang lebih besar jika kalian menikah. Itulah impian appa.” Ucap Jungwoo sebelum akhirnya berjalan keluar meninggalkan Minhee yang tak memprotes kembali.

 

~~~FLASHBACK END~~~

Itu adalah permintaan terakhir yang Minhee dengar sebelum ayahnya meninggal karena sakit jantung yang dideritanya. Minhee melihat foto dirinya saat masih kecil bersama ayahnya yang tampak lebih muda.

“Aku akan mewujudkan impian appa.” Minhee tersenyum pada foto itu sebelum akhirnya berdiri dan keluar meninggalkan ruangan itu.

Derap langkah kaki Minhee terdengar menuruni tangga. Dia bisa melihat Woohyun dan Jiyeon berdiri mengetahui kehadirannya.

“Apa anda sudah memutuskannya hwajangnim?” Tanya Woohyun saat Minhee sampai dihadapan mereka.

“Ne.”

Jiyeon dan Woohyun terlihat penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan Minhee. Gadis itu menatap Woohyun dan Jiyeon bergantian.

“Aku akan tetap menikah dengan Myungsoo.”

MWO?” Kaget Jiyeon dan Woohyun bersamaan.

“Anda yakin hwajangnim?” Tanya Jiyeon kaget.

“Bukankah anda mencurigai Kim hwajangnim hendak merebut Taeyang Group. Bagaimana bisa hwajangnim dengan mudah memutuskan hal ini?” Protes Woohyun.

“Apa kau gila? Bagaimana dengan Sunggyu? Bukankah kalian baru saja berpacaran? Kenapa kau justru akan menikah dengan Myungsoo?”

Minhee menoleh mendengar omelan Sungjong yamg tiba-tiba muncul.

“Ini sudah menjadi keputusanku.” Ucap Minhee menatap adiknya.

Tatapannyapun beralih pada Jiyeon.

“Jadi kau, Jiyeon-ssi, berpura-puralah menjadi diriku sebelum tubuh kita bisa kembali.”

“Katakan ‘Tolong’ jika kau ingin meminta orang lain melakukan apa yang kau inginkan.”

Minhee menghela nafas mendengar nasihat Sungjong.

“Baiklah. Jadi Jiyeon-ssi. Tolong menjadi diriku sebelum tubuh kita bisa kembali seperti semula.” Ucap Minhee dengan nada lembut sebelum berlalu pergi.

Ucapan itu bagaikan sihir yang membekukan hati Jiyeon. Berpura-pura menjadi pengantin yang tidak diperuntukkan untuknta sangatlah sulit apalagi Jiyeon memiliki perasaan pada Myungsoo. Sungjong menatap Jiyeon iba.

“Maafkan noona Jiyeon-ssi. Dia sama menderitanya dengan dirimu. Tapi dia tak bisa membatalkannya.” Sungjong tahu ucapannya tidak bisa di dengar oleh Jiyeon tapi malaikat itu tetap ingin mengatakannya.

*   *   *   *   *

“Kau memiliki tugas penting untuk memenangkan hati para dewan direksi.” Ucap Geunhyung yang duduk di hadapan Sunggyu.

“Apa itu harabeoji?”

“Menarik perhatian Park hwajangnim agar bisa menanamkan saham dalam perusahaan kita.”

Sunggyu tampak terkejut mendengar nama Presiden direktur yang sangat dikenal orang-orang.

“Maksud harabeoji Park Yoochun dari Perusahaan Micky?”

“Ne.” Geunhyung mengangguk.

“Tapi harabeoji,bukankah dia adalah hwajangnim yang terkenal sangat sulit bekerjasama dengan perusahaan dalam negeri? Dia lebih percaya dengan perusahaan luar negeri.”

“Aku tahu. Karena itu sulitnya pekerjaan yang dapat kau lakukan akan mendapat nilai plus dari dewan direksi. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya Sunggyu-ah. Jadi maukah kau melakukannya?”

Sunggyu terdiam memikirkan tawaran itu. Misi itu memang sangat sulit tapi kakeknya benar jika Sunggyu berhasil menjalankan tugas itu, para dewan direksi pasti akan mempertimbangkan dirinya.

“Ne harabeoji. Aku akan melakukannya.”

Geunhyung tersenyum dan mengangguk puas.

“Baguslah. Oh ya dua minggu lagi akan ada pesta pernikahan di keluarga Kim. Jadi kosongkan jadwalmu ne?”

“Pesta pernikahan? Memang siapa yang akan menikah?” Kaget Sunggyu.

“Myungsoo dan Minhee. Karena kau masih dalam keluarga Kim. Kau harus datang. Kau mengerti?”

Sunggyu terdiam mendengar berita pernikahan itu. Bahkan setelah semalam dirinya mengantarkan Minhee, dia tidak tahu jika gadis itu akan segera menikah.

“Sunggyu-ya.” Panggil Geunhyung menyadarkan Sunggyu.

“Ne harabeoji.”

“Kau tidak apa-apa?”

Ani harabeoji. Aku akan kembali keruanganku.”

“Satu hal lagi Sunggyu-ah.”

Sunggyu kembali duduk.

“Nde harabeoji?”

“Park hwajangnim saat ini sedang mengurus perusaan barunya di Macau, jadi kau bisa mencarinya di sana.”

“Ne. Aku akan ke sana. Gamsahamnida harabeoji.”

Sunggyu membungkuk sebelum akhirnya keluar dari ruangan kakeknya. Pikiran Sunggyu masih terfokus pada pernikahan Minhee dan Myungsoo. Diapun berpikir jika inilah alasan Minhee terlambat. Setelah turun lantai menggunakan lift, Sunggyu pun berjalan menuju ruangannya. Langkahnya terhenti saat melihat Minhee sudah duduk di mejanya. Merasakan kehadiran Sunggyu, Minheepun berdiri dan menyunggingkan senyuman yamg dipaksakannya.

“Kau sudah datang?” Tanya Sunggyu menghampirinya.

“Ne baru saja. Mianhae, aku terlambat.”

Gwaenchana.”

“Hhmmm… Oppa apa kau sudah mendengarnya?” Tanya Minhee ragu-ragu.

Sunggyu tahu apa yang dimaksud gadis itu. Diapun menganggukkan kepalanya.

“Ne. Harabeoji yang memberitahuku.”

Minhee menundukkan kepala mendengar Sunggyu sudah mendengar berita pernikahannya dengan Myungsoo dua minggu lagi.

Mianhae Oppa. Aku tak bisa menolaknya.” Sedih Minhee.

“Tidak masalah.”

Minhee mendongak menatap laki-laki di hadapannya. Sunggyu sedikit membungkuk sejajar dengan wajah Minhee. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.

“Aku tahu kau pasti memiliki alasan mengapa tak bisa menolaknya. Tapi aku tidak akan menyerah Minhee-ah.”

“Tidak akan menyerah?”

Sunggyu menganggukkan kepalanya mantap.

“Ne. Selama kau masih menyukaiku aku akan terus mempertahankan perasaan itu dan tak akan semudah itu menyerahkanmu pada orang lain.”

Ada perasaan senang memyelimuti hati Minhee. Awalnya gadis itu berpikir jika Sunggyu akan menyerah setelah mengetahui dirinya akan menikah dengan Myungsoo yang merupakan saudaranya. Tapi ternyata laki-laki yang disukainya itu tidak melakukannya. Bibir Minhee melengkung tersenyum senang.

“Waktunya bekerja. Oh ya siapkan dua tiket ke Macau besok ne?”

“Macau? Oppa akan pergi kesana?”

“Bukan hanya aku. Tapi kau juga.”

“Aku juga? Tapi untuk apa kita kesana.”

“Ada tugas yang menanti kita di sana.”

Minhee menganggukkan kepalanya.

“Baiklah aku akan memesankannya.”

Minhee berbalik dan langsung menelpon memesan tiket pesawat untuk besok. Sunggyu masih berdiri di tempatnya seraya mengamati Minhee yang sedang menelpon. Mata Sunggyu tak bisa teralihkan dari Minhee. Hingga Minhee meletakkan gagang telponnya dan kembali memandang Sunggyu yang masih tidak bergerak.

“Oppa kenapa masih diam di situ?” Tanya Minhee menyadarkan Sunggyu.

“Tidak. Tidak apa-apa. Aku akan kembali bekerja.”

Minhee mengangguk dan Sunggyupun berjalan memasuki ruangannya. Tatapan Sunggyu tertuju pada bola kristal yang tergeletak di atas meja Minhee. Tampak senyuman senang terluhat di wajah Sunggyu.

*   *   *   *   *

Jiyeon menatap tubuhnya yang di balut gaun pengantin putih berpotongan pendek hingga menampakkan paha Jiyeon yang begitu mulus. Manik-manik bunga tertata rapi membentuk tali di bahunya. Meskipun itu bukanlah tubuh Jiyeon yang sebenarnya tapi gadis itu tetap kagum dengan bayangan di cermin.

“Anda terlihat cantik nona Tae.” Puji pelayan yang membantu Jiteon mengenakan gaun pengantinnya.

Gamsahamnida.”

“Berbaliklah nona aku akan membuka tirai agar tuan Kim bisa melihatnya.”

“Ne.”

Jiyeon berbalik dan wanita yang membantunya itu langsung membuka tirai. Myungsoo yang sedang membaca majalah langsung mendongak melihat Jiyeon. Matanya membulat melihat pakaian pengantin itu begitu minim di tubuh Jiyeon.

“Bagaimana tuan Kim?” Tanya sang pelayan.

Tanpa pikir panjang Myungsoo menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Aku tidak suka. Gaun itu terlalu banyak memperlihatkan tubuhnya. Ganti yang lain.” Jawab Myungsoo tidak puas.

“Baik tuan Kim.”

Pelayan itu menutup tirai itu dan segera mengganti pakaian pengantin yang lain. Myungsoo membolak-balik majalah yang ada ditangannya. Melihat model-model yang memeragakan baju pengantin dalam majalah itu membuat laki-laki itu tidak sabar ingin melihat tunangannya. Myungsoo tersenyum sendiri membayangkan tunangannya dengan pakaian pengantin yang diinginkannya. Hatinya terus berdebar-debar menantikan Jiyeon.

“Pakaian pengantin yang kedua sudah siap tuan Kim.” Seru sang pelayan seraya membuka tirai kembali.

wpid-83qd1joa51gq0003.jpeg

Mata Myungsoo terpaku dan diapun bangkit berdiri tak memperdulikan majalah yang dipegangnya terjatuh ke lantai. Sosok gadis di hadapannya sudah menyita seluruh perhatiannya. Gaun pengantin putih tulang yang turun mengembang kebawah melingkupi tubuh Jiyeon membuat gadis itu tampak begitu anggun. Potongan gaun yang melebar di kedua ujung bahunya menampakkan bahu Jiyeon yang cantik. Meskipun Jiyeon masih belum dirias dan rambutnya hanya digelung asal tapi penampilan Jiyeon mampu membuat Myungsoo terpesona.

“Bagaimana tuan Kim?” Tang sang pelayan.

Bukannya menjawab Myungsoo justru menghampiri Jiyeon yang terlihat gugup. Gadis itu mendongak saat Myungsoo berhenti di depannya.

“Kau….”

Jiyeon menunggu Myungsoo meneruskan ucapannya.

“Kau sangat mempesona Minhee-ah.”

Hati Jiyeon terasa seperti dipukul saat mendengar pujian itu. Meskipun itu merupakan pilujian tapi pujian itu tidak ditujukan padanya mekainkan kepada Minhee. Namun gadis itu berusaha menutupi perasaan sedihnya dengan memaksakan senyumannya.

Gomawo Oppa.”

Mengetahui kesedihan yang berusaha Jiyeon sembunyikan, Myungsoopun mengulurkan tangan menangkup wajah Jiyeon.

“Mengapa kau terlihat sedih? Apa kau tidak menyukai gaun ini?”

Jiyeon menggeleng.

Aniyo Oppa. Aku tidak bersedih. Gaun ini begitu cantik, mana mungkin aku tidak menyukainya?”

“Apa kau yakin?”

Jiyeon menganggukan kepalanya meyakinkan Myungsoo.

“Ne Oppa. Aku menginginkan gaun ini.”

“Aku akan mengambil gaun ini.” Ucap Myungsoo pada sang pelayan.

“Baik tuan. Kami akan menyimpannya untuk anda.”

Myungsoo melangkah mundur masih menatap Jiyeon. Sang pelayanpun menutup tirai memutuskan kontak mata Myungsoo dan Jiyeon. Entah mengapa Myungsoo merasa yakin jika tunangannya tidak sebahagia dirinya. Laki-laki itu meyakinkan diri untuk menanyakannya nanti pada gadis itu.

*   *   *   *   *

“Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau memutuskan menikah dengan Myungsoo padahal kau menyukai Sunggyu? Bagaimana dengan perasaanmu? Lalu bagaimana dengan perasaan Sunggyu? Apa kau tak memikirkannya?” Tanya Sungjong bagaikan kereta yang panjang.

Minhee yang sedang duduk di meja kerjanya hanya bisa menghela nafas mendengar adiknya yang tak henti-hentinya mengomel semenjak Minhee memutuskan untuk tidak membatalkan pernikahannya dengan Myungsoo.

“Sungjong-ah, mengapa kau jadi terdengar seperti polisi yang sedang mengintrogasi penjahat eoh?”

“Aku bukan polisi tapi dongsaeng-mu. Tentu saja aku ingin tahu mengapa kau melakukan ini.”

Minhee menghela nafas mendengar ucapan Sungjong.

“Baiklah Dongsaengie. Aku akan menjawab pertanyaanmu. Aku melakukannya karena itu adalah permintaan terakhir appa.”

“Kau melakukannya hanya karena itu permintaan appa? Apa kau gila HUH? Kau mengorbankan perasaanmu hanya untuk permintaan appa?”

TTUUKKK….

Minheepun menjitak kepala Sungjong.

“Aku ini noona-mu berani sekali mengataiku gila?”

“Tapi itu memang kenyataannya jika melihat kondisimu saat ini.”

“Aku bukannya gila tapi hanya itu yang bisa kulakukan.”

“Hanya itu yang bisa kau lakukan? Kau bisa pergi bersama Sunggyu meninggalkan kota ini.”

Minhee menatap adiknya.

“Pergi bersama Sunggyu dan membiarkan perusahaan Taeyang hancur? Aku tidak bisa melakukannya semudah itu Sungjong-ah. Banyak karyawan yang menggantungkan hidup mereka di perusahaan Taeyang. Bagaimana bisa aku menghancurkan hidup mereka hanya untuk kebahagianku sendiri? Bulankah itu sangat egois? Kau ingin aku berubah bukan? Karena itu aku melakukan hal ini.”

Sungjong terdiam, dia tak menyangka kakaknya sudah berubah. Kakaknya tak lagi menjadi mementingkan dirinya sendiri seperti dulu.

“Tapi kau tidak mencintai Myungsoo. Lalu bagaimana dengan Sunggyu?”

Wajah Minhee tampak sedih mendengar pertanyaan Sungjong.

“Mungkin aku akan seperti eomma.”

MWO? Apa kau tidak lihat bagaimana akhir cerita eomma?”

“Ne. Aku tahu. Tapi hanya itu yang bisa kulakukan.”

“Noona….” Sungjong tampak terharu melihat kakaknya.

“Sudahlah. Ini sudah menjadi keputusanku. Dan aku tak bisa menariknya lagi. Aku harus kembali bekerja.”

Minheepun kembali sibuk dengan komputernya sedangkan Sungjong masih melihat kakaknya itu dengan tatapan simpati.

*   *   *   *   *

Jiyeon menatap sungai Han dari balik jendela sebuah caffe Dengan sinar matahari yang memantul di atas pemukaan sungai membuatnya terlihat berkilauan bagaikan berlian. Myungsoo yang duduk dihadapan Jiyeon terus menatap gadis yang tengah melamun itu. Bahkan Myungsoo yakin capucino milik Jiyeon sudah dingin karena tidak dipedulikan gadis itu.

“Minhee-ah.” Panggil Myungsoo namun Jiyeon tak meresponnya.

Myungsoo mengulurkan tangan menyentuh tangan gadis itu seraya kembali memanggilnya. Kali Jiyeonpun tersadar dan langsung memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.

“Ada apa Oppa?” Tanya Jiyeon.

Myungsoo meremas lembut tangan Jiyeon.

“Minhee-ah, apa kau tidak bahagia dengan pernikahan ini? Dari tadi kuperhatikan kau selalu melamun. Apakah tebakanku benar?”

Jiyeon terkejut mendengar Myungsoo memgetahui perasaan yang sebenarnya. Gadis itu segera menggeleng.

Aniyo Oppa. Tentu saja aku bahagia dengan pernikahan ini.”

“Lalu mengapa kau terlihat bersedih?”

“Aku tidak bersedih. Aku hanya kelelahan saja.”

“Benarkah? Apa kau ingin aku mengantarmu pulang.”

“Tidak Oppa. Aku masih ingin melihat pemandangan sungai Han yang indah.”

Myungsoo mengikuti arah pandang Jiyeon di sungai. Gadis itu benar, sungai itu terlihat indah dengan riakan-riakan yang seakan menari diatas permukaan.

“Oppa.”

“Hmm?” Myungsoo menoleh mendengar panggilan Jiyeon.

“Jika saja kau akan menikah dengan orang lain bukan denganku, apakah kau akan bahagia?”

Myungsoo terkejut mendengar pertanyaan Jiyeon namun dengan mantap laki-laki itu menggeleng.

“Tidak. Jika aku tidak menikah denganmu, aku tidak akan bahagia.”

Meskipun Jiyeon sudah menebak jawaban Myungsoo seperti itu tapi tetap saja hati Jiyeon terasa sakit.

Waeyo?”

“Karena aku hanya mencintaimu.” Ucap Myungsoo dengan senyuman lebar.

Jiyeon memaksakan senyuman di wajahnya meskipun dibawah meja kedua tangannya terkepal menahan sakit di hatinya yang sudah menjalar keseluruh tubuhnya.

*   *   *   *   *

Sunggyu duduk di kursi kerjanya mengabaikan dokumen-dokumen yang ada di depannya. Berita pernikahan Minhee dan Myungsoo masih terngiang di kepalanya. Laki-laki itu membuka laci kerjanya dan mengambil selembar foto. Dalam foto itu terlihat dua orang anak laki-laki mengenakan saling merangkul dan tersenyum senang. Sunggyu tersenyum mengingat wisatanya bersama kakek dan Myungsoo.

“Aku senang kau ingin berteman denganku Myungsoo-ah, meskipun semua keluargamu membenciku.” Gumam Sunggyu.

Laki-laki itu ingat saat pertama kalinya dirinya dibawa kakeknya masuk dalam keluarga Kim. Tatapan penuh kebencian terlihat jelas di seluruh anggota keluarga Kim kecuali seorang anak laki-laki yang berdiri di samping ibunya. Anak laki-laki itu menyunggingkan senyuman pada Sunggyu. Setelah merasakan perlakuan seluruh keluarga Kim padanya, Sunggyu sangat membenci mereka. Hanya kakeknya yang selalu membela dirinya. Dan juga Myungsoo yang tak menyerah ingin menjadi temannya.

“Maafkan aku Myungsoo karena aku tak bisa melepaskan Minhee untukmu. Mianhae.” Ucap Sunggyu memandang foto itu.

Telpon berdering tepat setelah Sunggyu mengembalikan foto itu ke tempatnya semula.

“Ne Minhee-ah?” Tanya Sunggyu mengangkat telpon itu.

Iseonim, detektif Shim ingin berbicara dengan anda.”

“Ne. Sambungkanlah.”

“Ne Iseonim.”

Tak lama kemudian Sunggyu bisa mendengar suara Changmin, teman lamanya.

“Apa kau sudah menemukan data-datanya hyung?” Tanya Sunggyu.

“Ne. Aku memang sudah menemukamnya. Apa kau tidak tahu bagaimana sulitnya mencari data yang sudah disimpan bertahun-tahun yang lalu?” Gerutu Changmin.

Mianhae hyung. Tapi aku sangat membutuhkannya.”

“Tapi Sunggyu-ah. Meskipun data-data yang terkait dengan kebakaran ibumu sudah ditemukan tapi belum tentu kita bisa mendapatkan bukti yang baru karena TKPnya pun sudah dimusnahkan.”

“Tidak apa-apa. Tidak masalah hanya dengan data-data itu karena aku ingin melihatnya jika saja ada hal yang janggal. Karena kau sangat pintar dalam hal seperti ini bisakah kau membantuku hyung. Aku mohon hyung.” Pinta Sunggyu.

“Baiklah. Datanglah kerumahku. Aku membawa data-data itu kerunah.”

“Baiklah aku akan segera kesana hyung.”

Sunggyu meletakkan gagang telpon itu ketempatnya. Lalu diapun berdiri dan mengambil jas abu-abunya kemudian berjalan keluar.

“Minhee-ah, aku harus pergi menemui detektif Shim.”

“Apakah ada masalah Oppa?”

“Aku belum bisa menjawabnya sekarang tapi aku akan menceritakan padamu besok. Mianhae aku tidak bisa mengantarmu pulang.”

“Tidak apa-apa Oppa. Lagipula aku harus menemui Jiyeon untuk memberitahu dia jika aku akan pergi besok.”

“Baiklah. Hati-hati di jalan ne”

wpid-udk-pnr2lugsxujkmodpktv2gb4xiuhitrlepjldhgvomahr4zgxf-pu6tloxo25eiuvze5pzqeacxpjk5a_bmtkzgvngk6n-a9gtbmx-ueaba4gsg2ohv6sdaa5io3refiyhoow468-h314-nc.png.png

Minhee mengangguk. Sunggyu mencium kening Minhee sebelum akhirnya pergi meninggalkan gadis itu. Kedua pipi Minhee memanas dan diapun menggigit bibir bawahnya agar tidak berteriak kegirangan.

“YA! Kau mau kemana?”

Minhee menoleh saat mendengar suara Sungjong. Gadis itu terlihat bingung saat melihat Sungjong berbicara sendiri.

“YA!! Sungjong-ah… Apa kau gila berbicara sendiri?” Tanya Minhee membuat Sungjong menoleh.

“Aku tidak berbicara sendiri.”

Dahi Minhee berkerut mendengar jawaban adiknya. Gadis itu jadi ketakutan jika Sungjong membicarakan hantu padanya.

“La-lalu kau berbicara dengan siapa?”

“Aku berbicara dengan iblis bernama Dongwoo.”

“Iblis? Tapi mengapa aku tidak melihatnya?”

“Karena dia sengaja tidak menampakan diri di hadapanmu.”

Minheepun hanya bisa ber-o ria mendengar penjelasan adiknya.

“Memang ada apa dengan iblis bernama Dongwoo itu?”

“Dia mengikuti Sungyu.”

MWO? Untuk apa dia mengikuti Sunggyu Oppa?”

“Aku tidak tahu. Tapi dia memang selalu mengiktuinya. Karena itu saat di pemakaman eomma-nya aku mengatakan jika Sunggyu di liputi aura hitam. Dongwoolah penyebabnya.”

“Jadi yang memukul para penagih hutang itu juga ulah Dongwoo?”

“Yap!! Benar sekali.”

“Tapi tidak akan terjadi apa-apa kan dengan Sunggyu Oppa? Iblis itu tidak akan menyakiti Sunggu oppa kan?” Cemas Minhee mendengar ada iblis yang mengikuti kekasihnya.

Sungjong tersenyum penuh arti mendengar kakaknya mencemaskan Sunggyu.

“Tenang saja noona. Meskipun Dongwoo adalah iblis tapi dia tidak akan melukai manusia. Karena itu sudah peraturannya.”

“Syukurlah.” Minhee menghela nafas lega.

“Aku akan mengikutinya.”

Minhee mengangguk lalu melihat kepergian adiknya.

*   *   *   *   *

Myungsoo meletakkan tasnya di atas sofa lalu menghempaskan tubuhnya di samping tasnya. Pikirannya melayang mengingat ekspresi tunangannya yang selalu melamun dan seakan tak memiliki semangat hidup. Meskipun gadisnya mengatakkan ‘tidak apa-apa’ tapi laki-laki itu yakin tunangannya itu menyembunyikan sesuatu.

“Apa yang sedang kaupkirkan?”

Myungsoo menoleh dan terkejut mendapati ibunya tengah menata meja makan. Myungsoo segera berdiri dan menghampiri ibunya.

“Eomma? Mengapa eomma kemari?” Tanya Myungsoo terkejut karena ibunya jarang sekali mengunjungi rumahnya.

“Tentu saja memasakan makanan untukmu.”

Mata Myungsoo berbinar melihat banyak makanan yang tertata rapi di meja. Kedua tangan Myungsoo memeluk bahu ibunya.

Gomawo eomma.”

Heesun tersenyum mendengar ucapan terimakasih Myungsoo yang manja.

“Ne. Ayo kita makan.”

Ibu dan anak itu duduk berhadapan dan mulai menyantap makanan.

“Apa ada masalah dengan baju pengantinnya?” Tanya Heesun melihat putranya tampak tidak seceria biasanya.

Aniyo eomma. Aku dan Minhee sudah memilih gaun pengantin yang cocok untuknya.”

“Lalu mengapa kau tampak murung?”

Myungsoo terkejut dan menatap ibunya.

“Apakah terlihat jelas eomma?”

Heesun menganggukkan kepalanya membuat Myungsoo harus menghela nafas.

“Sepertinya Minhee tidak bahagia dengan pernikahan ini eomma.”

“Tidak bahagia? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu Myungsoo-ah?”

“Sejak pernikahan diumumkan, aku melihat Minhee lebih sering melamun eomma.”

“Melamun?”

“Ne.”

Heesun tersenyum membuat Myungsoo bingung.

“Mengapa eomma tersenyum? Apa ada yang lucu?”

“Aniyo Myungsoo-ah. Minhee bukannya tidak bahagia, tapi dia terkena syndrom pranikah.”

Syndrom pranikah? Apa itu eomma?”

“Setiap gadis manapun akan mengalami hal ini. Mereka akan merasa gugup, takut dan bahagia sekaligus menjelang pernikahan mereka.”

“Untuk apa takut eomma?” Bingung myungsoo

“Mereka takut jika tidak bisa menjadi istri yang baik.”

Myungsoo mengangguk-anggukkan kepala mengerti penjelasan eommanya. Heesun menggenggam tangan putranya dan menatapnya penuh kasih.

“Myungsoo-ah….”

Nde?”

“Jika kau sudah menikah nanti, jagalah istrimu dengan baik dan juga sesibuk apapun dirimu jangan pernah menyakiti perasaannya, kau mengerti?”

“Ne eomma. Tapi mengapa eomma berkata seperti ini? Apakah appa menyakiti perasaan eomma?”

Heesun terkejut dan langsung menarik tangannya.

“Mengapa kau bertanya seperti itu? Tentu saja tidak. Eomma mengambil minuman dulu.”

Heesun berdiri dan berjalan menuju dapur. Wanita itu tidak sadar jika putranya mengikutinya dari belakang.

“Jadi benar appa sudah menyakiti eomma?” Tanya Myungsoo kembali.

Heesun yang membelakangi putranya langsung menggeleng.

Aniyo Myungsoo-ah.”

Myungsoo menghampiri ibunya dan membalikkan tubuhnya.

“Katakan padaku eomma. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa eomma bohongi. Aku mohon.”

Heesun terlihat bimbang melihat putranya yang menatapnya memohon.

“Baiklah. Eomma akan menceritakannya.” Bagi Heesun mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan pada Myungsoo jika kedua orangtuanya tidak saling bahagia.

*   *   *   *   *

Minhee memasuki rumahnya mencari sosok Jiyeon. Dia berjalan tak memperdulikan para pelayan yang menatapnya aneh karena merasa orang asing yang sangat mengenal rumah itu. Minhee menaiki tangga dengan santainya. Setelah melewati tangga Minhee berjalan menuju kamarnya di ujung lorong.

“Aku tidak tahu apakah aku sanggup menghadapi pernikahan yang bukan pernikahanku Oppa.”

Minhee mendengar suara Jiyeon dari sela pintu yang terbuka. Gadis itupun mendekati pintu itu.

“Kau bisa membatalkannya Jiyeon-ah.”

Minhee terkejut mendengar suara Woohyun. Diapun mengintip dari sela pintu. Benar saja, Minhee melihat Woohyun dan Jiyeon tengah duduk di kursi dan mengobrol.

“Tidak Oppa. Aku tidak bisa. Tae hwajangnim mengatakan untuk menerima pernikahan itu, aku tidak mungkin menolaknya.”

“Tapi kau menyukai Myungsoo. Bagaimana bisa kau menjalankan pernikahan yang bukan pernikahanmu? Bagaimana dengan perasaanmu?”

Minhee terkejut mendengar Jiyeon menyukai Myungsoo. Tangan Minhee memegang gagang pintu dan membukanya. Seketika Jiyeon dan Woohyun berdiri melihat Minhee.

Hwajangnim.” Sapa Woohyun membungkuk.

“Tinggalkan aku dan Jiyeon, Nam biseonim.” Perintah Minhee.

Woohyun tampak ragu saat melihat wajah Minhee yang dingin. Namun laki-laki itu dengan patuh meninggalkan kamar itu. Setelah Woohyun pergi, Minhee menghampiri Jiyeon dan duduk disampingnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku hwajangnim?” Tanya Jiyeon.

“Apa kau menyukai Myungsoo?”

Jiyeon terkejut mendengar pertanyaan Minhee. Diapun langsung menggeleng.

Aniyo hwajangnim.

“Jangan membohongiku Jiyeon-ah. Aku mendengar pembicaraanmu dengan Nam biseonim.”

Jiyeon hanya bisa menunduk menunggu kemarahan Minhee padanya.

Mianhae.”

Jiyeon mendongak mendengar permintaan maaf Minhee.

“Untuk apa kau meminta maaf hwajangnim?”

“Karena aku tak bisa membatalkan pernikahan ini.”

Jiyeon tersenyum. Untuk pertama kalinya Jiyeon melihat Minhee meminta maaf. Tangan Jiyeon terulur menggenggam tangan Minhee.

“Tidak apa-apa hwajangnim. Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan pada Hwajangnim.”

“Apa yang ingin kautanyakan?”

“Apakah hwajangnim menyukai Myungsoo Oppa?”

“Memgapa kau bertanya seperti itu?”

“Kupikir hawajangnim tidak membatalkan pernikahan ini karena menyukai Myungsoo Oppa.”

“Myungsoo namja yang baik dan selalu memperhatikanku. Tapi aku tidak memiliki perasaan apapun padanya.”

“Mengapa?”

“Karena ada orang lain yang aku sukai.”

Jiyeon menatap Minhee penuh arti.

“Apakah Sunggyu Oppa orangnya?”

Minhee terlihat terkejut mendengar tebakan Jiyeon yang tepat.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Tentu saja mana mungkin aku tidak tahu gelagat Oppaku.”

Jiyeon tertawa geli melihat Minhee tersipu malu. Baru kali ini Jiyeon melihat Minhee seperti itu. Jiyeon merasa gadis di hadapannya sudah berubah.

“Tapi meskipun begitu. Aku tetap tak bisa membatalkan pernikahan itu. Maafkan aku.”

Jiyeon menggenggam tangan Minhee.

“Ini bukan kesalahanmu hwajangnim.”

“Tapi aku akan mencari cara lain Jiyeon-ah.”

Jiyeonpun mengangguk menyetujui ide Minhee.

*   *   *   *   *

Sunggyu melihat sebuah kardus yang tergeletak diatas meja. Tangan laki-laki itu terulur membuka kotak kardus itu. Dia mengambil selembar koran yang berisi berita tentang kebakaran yang menewaskan ibunya.

“Aku sudah menelitinya dan tak ada yang mencurigakan dengan insiden itu.” Ucap Changmin yang duduk dihadapannya.

“Tapi aku yakin itu bukanlah kecelakaan hyung. Aku yakin insiden itu sudah direncanakan.”

Changmin menghela nafas.

“Baiklah. Lihat-lihat saja dulu, mungkin kau akan menemukan petunjuk. Aku akan membuatkan teh untuk kita.”

Changmin meninggalkan Sunggyu bersama bukti-bukti kematian ibunya. Sunggyu mengeluarkan kantong plastik dengan barang-barang bukti yang ditemukan di sekitar tempat kejadian. Sunggyu mengenali barang-barang itu adalah milik ibunya.

Dongwoo yang berdiri di depan Sunggyu mengetahui petunujuk yang ada dalam kardus itu. Dengan sengaja Dongwoo menjatuhkan kardus membuat semua benda berserakan di lantai termasuk foto-foto yang diambil di tempat kejadian kebakaran.

“Bagaimana bisa kotak ini jatuh sendiri?” Heran Sunggyu kemudian membereskan barang-barang itu.

Mata Sunggyu tertuju pada sebuah foto yang tergeletak tak jauh dari kardus itu. Dongwoo tersenyum melihat Sunggyu mengambil foto itu.

“Apa kau sudah menemukan petunjuk?” Tanya Changmin kembali dengan membawa dua cangkir teh.

“Ne hyung.”

“Benarkah apa petunjuknya?” Changmin meletakkan kedua cangkir teh itu di meja lalu mendekati Sunggyu penasaran.

Sunggyu meletakkan foto yang menarik untuknya. Dia menunjukkan sosok yang dikenalnya dalam foto itu.

“Aku mengenal orang ini. Dia adalah Taecyeon, Ok Taecyeon.”

“Ok Taecyeon?” Changmin merasa asing dengan nama itu.

“Ne. Dia adalah kaki tangan harabeoji. Tapi untuk apa dia berada di sini?”

“Mungkin harabeoji-mu yang menyuruhnya.”

Sunggyu menatap Changmin.

“Entahlah. Tapi orang yang aku curigai dalam kasus ini adalah paman Sungsoo, bukan harabeoji. Hyung bisakah kau membantuku?”

“Tentu saja Sunggyu-ah.”

“Tolong selidiki laki-laki ini hyung. Aku merasa dia ada hubungannya dengan kebakaran ini.”

“Baiklah. Aku akan menghubungimu setelah mendapatkan info tentangnya.”

“Ne. Hyung bisa menelponku. Karena aku besok akan pergi ke Macau. Gomawo hyung.”

“Ne.”

Sunggyu menatap Taecyeon dalam foto itu dan berharap misteri kematian ibunya dapat terkuak.

*   *   *   *   *

Taecyeon berdiri seraya menundukkan kepala. Suasana sangat hening mengingat saat ini sudah jam pulang.

“Jadi Abeoji mengirim Sunggyu untuk membuat Park Yoochun menanamkan saham di perisahaan ini?” Tanya Sungsoo yang duduk dihadapan Taecyeon.

Taecyeonpun menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Sungsoo.

“Ne tuan Sungsoo.”

Sungsoo tersenyum sinis.

“Mereka sangat bodoh. Yoochun tidak akan mau menanamkan saham di perusahaan ini. Itu merupakan usaha yang sia-sia.”

Taecyeon terdiam membiarkan Sungsoo berpikir. Karena tugasnya hanyalah sebagai mata-mata.

“Tetap awasi dia Taecyeon-ah. Kirim seseorang untuk mengikuti dia pergi ke Macau.”

“Ne Tuan Sungsoo.”

“Kau boleh pergi.”

“Permisi Tuan Sungsoo.”

Taecyeon membungkuk sebelum akhirnya keluar dari ruangan Sungsoo. Laki-laki itu duduk di kursinya dan tersenyum senang.

“Kau pasti akan kalah Sunggyu. Kau tidak akan bisa merebut posisi putraku.” Ucap Sungsoo.

*   *   *   *   *

“Macau?” Kaget Jikyeong setelah mendengar putrinya akan pergi ke Macau.

“Ne eomma.”

“Berapa hari?”

“Entahlah, Sunggyu Oppa belum mengatakannya.”

Jikyeong menatap Minhee dengan tatapan curiga.

“Kenapa eomma menatapku seperti itu?” Tanya Minhee.

“Kalian akan tinggal dimana? Apa kalian akan tidur satu kamar? Jangan-jangan kalian akan melakukan itu.”

Dahi Minhee berkerut.

“Melakukan itu? Apa maksud eomma?” Bingung Minhee.

Jikyung mendekati Minhee dan membisikkan sesuatu di telinga putrinya. Mata Minhee melebar dan wajahnya seketika memerah.

Aniyo. Mana mungkin kami melakukan hal itu. Aku yakin Sunggyu Oppa tidak akan melakukan kesempatan dalam kesempitan eomma.” Ucap Minhee gugup.

“Aiiggoo… Jiyeon-ah, Sunggyu itu namja yang normal Jiyeon-ah. Dan kau akan berdua saja dengan Sunggyu di sana. Ditambah kalian sudah berpacaran jadi….”

“Itu tidak akan terjadi Eomma. Aku harus bersiap-siap.” Potong Minhee langsung meninggalkan ibunya.

Sesampai di kamar, Minhee masih terngiang dengan ucapan Jikyeong. Minheepun jadi membayangkan sesuatu.

Minhee menatap ranjang besar di hadapannya. Dengan susah payah gadis itu menelan ludahnya karena hanya melihat satu ranjang di kamar itu. Terdengar suara pintu tertutup membuat Minhee menoleh. Dia melihat Sunggyu menghampirinya dengan senyuman menggoda.

“A-apa hanya ada satu ranjang untuk kita Oppa?” Tanya Minhee.

“Ne. Bukankah enak jika kita tidur berdua Minhee-ah?” Tanya Sunggyu menatap Minhee penuh nafsu.

Belum sempat Minhee menolak ucapan Sunggyu, laki-laki itu mendorong lembut bahu Minhee membuat tubuh gadis itu terhempas diranjang.

“Oppa, apa yang kau lakukan?” Tanya Minhee saat Sunggyu menindih tubuhnya.

“Tentu saja menikmati yang biasanya sepasang kekasih lakukan.”

Sunggyu menundukkan kepalanya hendak mencium Minhee.

Minhee menggelengkan kepalanya keras menghapuskan bayangan itu. Gadis itu merinding membayangkannya.

“Tidak… Sunggyu Oppa tidak mungkin melakukan hal itu.”

Sebuah deringan telpon mengagetkan Minhee. Gadis itu mengambil ponselnya dan melihat nama Sunggyu di layar ponselnya. Minheepun teringat bayangannya tadi dan langsung menggelengkan kepalanya.

Nde Oppa?” Sapa Minhee mengangkat telpon itu.

“Apa kau sudah bersiap-siap untuk pergi besok?”

“Aku sedang mau bersiap-siap. Bagaimana denganmu Oppa?”

“Aku baru saja pulang.”

“Hhmmm….”

Sebenarnya Minhee ingin menanyakan sesuatu namun gadis itu tampak ragu.

“Ala kau ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Sunggyu.

“Hhmm… Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan Oppa.”

“Tanyakanlah.”

“Besok saat di Macau apakah….” Minhee tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.

“Apa yang ingin kau tanyakan Minhee-ah?”

“Aku… Aku ingin bertanya apakah kita akan tidur satu kamar?” Suara Minhee semakin mengecil.

Mengerti apa yang gadis itu takutkan, Sunggyu justru tertawa.

“YA!! Oppa jawab pertanyaanku. Jangan tertawa.” Keasl Minhee.

“Tentu saja kita tidur di kamar yang berbeda.”

Minhee menghela nafas lega mendengar jawaban Sunggyu.

“Tapi ada kemungkinan jika aku menyerangmu.”

MWO?”

Sunggyu semakin tertawa mendengar Minhee yang terkejut.

Aniyo. Aku hanya bercanda. Kau tenang saja bukankah sudah kukatakan aku tidak akan menyerangmu?”

Minhee tersenyum lega mendengarnya. Seperti dugaannya, Sunggyu tak akan melakukannya.

“Minhee-ah.” Terdengar suara Sunggyu berubah serius.

Nde Oppa?”

Hening tak terdengar suara Sunggyu.

“Oppa?” Panggil Mimhee.

“Aahh… Ne?”

“Apa kau igin mengatakan sesuatu?” bingung Minhee.

Aniyo. Aku akan bersiap-siap, sampai jumpa besok.”

“Tunggu Oppa.” Cegah Minhee sebelum Sunggyu menutup telpon itu

“Ada apa Minhee-ah?”

Minhee teringat pembicaraannya dengan Sungjong mengenai iblis yang mengikuti Sunggyu.

“Oppa, apakah tadi kau merasakan ada hal yang ganjil?”

“Hal yang ganjil? Apa maksudmu Mimhee-ah?”

“Hal yang ganjil Oppa seperti merinding atau merasa hal yang aneh.”

“Hal yang aneh?” Sunggyu mengingat-ingat kejadian-kejadian yang dilaluinya tadi.

“Ada.”

Minhee terkejut mendengar jawaban Sunggyu.

“Apa Oppa?”

“Tadi saat aku berada dirumah detektif Shim, tiba-tiba sebuah kardus jatuh tanpa ada angin.”

“Itu ulah Dongwoo. Tidak apa-apa. Dia tidak aan menyakiti kekasihmu.”

Minhee menoleh mendengar ucapan Sungjong.

“Apakah hanya itu?” Tanya Minhee pada Sunggyu.

“Ne. Memang ada apa Minhee-ah?”

“Jangan memberitahunya. Kau hanya akan membuatnya takut.” Ucap Sungjong sebelum Minhee memberitahu tentang Dongwoo.

“Ani Oppa tidak apa-apa. Sampai jumpa besok.” Minhee segera mematikan telpkn itu sebelum Sunggyu bertanya lebih lanjut.

Gadis itu menatap adiknya yang sedang tiduran di kasurnya.

“Apa kau yakin Dongwoo tidak akan berbuat hal jahat dengan Sunggyu Oppa?”

Sungjong berguling tengkurap dan menatap kakaknya.

“Kau tenang saja. Dongwoo berkata dia hanya ingin membantu Sunggyu mengungkapkan kejahatan seseorang.”

“Kejahatan siapa?”

“Rahasia aku tidak bisa memberitahumu.”

Minheepun berdecak kesal.

“Aaiishhh…. Lebiha baik aku pergi.”

Minhee berdiri dan berjalan keluar kamar.”

“Kau mau kemana Jiyeon-ah?” Tanya Jikyeong melihat Minhee hendak membuka pintu.

“Aku ingin membeli beberapa kebutuhanku untuk besok eomma.”

“Baiklah. Jangan terlalu lama. Sudah larut malam.”

“Ne eomma.” Minheepun pergi meninggalkan rumah Jiyeon.

*   *   *   *   *

wpid-mzt-zhafo7upfsdtr-j8peufgogc4nir9zwfbfhlzkqp9cdqioghhe7fgh3vwunchacqckw3mcgjer99elf9fzoch3dr2-db-asjrllcheue1webdgw472-h311-nc.jpeg.jpeg

Myungsoo berjalan dengan lunglai tanpa tujuan. Laki-laki tampan itu masih ingat bagaimana pembicaraannya dengan ibunya.

~~~FLASHBACK~~~

“Jadi ada yeoja lain yang appa cintai?” Tanya Myungsoo setelah mendengar cerita ibunya.

“Ne.” Heesun mengangguk lemah.

Myungsoo yang duulduk di samping ibumya langsung meraih tangan wanita yang sudah melahirkannya.

“Katakan padaku eomma, siapa yeoja itu.”

Heesun menggelengkan kepalanya.

“Aku rasa kau tidak ingin mendengarnya.”

“Mengapa eomma berkata seperti itu? Beritahu aku eomma siapa yeoja itu.”

Yeoja itu… Yeoja itu adalah orang yang penting bagi orang yang kau suka.”

“Maksud eomma?” Tanya Myungsoo yang masih belum mengerti.

Yeoja itu bernama Tae Minjung.”

“Tae Minjung?”

Meskipun nama itu asing di telinga Myungsoo tapi nama marga yang dibsebut ibunya sangatlah akrab ditelinganya. Nama marga yang sama dengan tunangannya,Tae Minhee.

“Apakah dia adalah eomma Minhee?”

Heesun mengangguk lemah.

“Jadi karena itu appa menginginkanku menikah dengan Minhee?”

Heesun kembali mengangguk.

“Appamu ingin memancing Minjung keluar dengan merebut perusahaan Taeyang.”

Mata Myungsoo menunjukkan kekecewaan yang besar terhadap ayahnya. Selama ini laki-laki itu selalu menuruti ucapan ayahnya namun dia tak menyangka dirinya hanyalah dipergunakan sebagai alat untuk keinginan ayahnya sendiri. Kedua tangan Myungsoo terkepal menahan emosinya. Myungsoopun berdiri dan berjalan meninggalkan ibunya.

“Myungsoo-ah kau mau ke mana?” Tanya Heesun melihat putranya berjalan keluar apartement.

Namun Myungsoo tak menjawab, dia terus berjalan tak menghiraukan panggilan ibunya.

~~~FLASHBACK END~~~

Myungsoo tak menyangka orang yang selama ini dikaguminya ternyata tidak sebaik yang di lihatnya. Laki-laki itu tak menyangka ayahnya akan memanfaatkannya tanpa memperdulikan perasaannya. Kedua tangan Myungsoo terkepal mengingat cerita ibunya. Perasaan kagum Myungsoo berubah menjadi kebencian pada ayahnya.

“Kim hwajangnim?”

Myungsoo mendongak dan melihat Jiyeon yang tak lain tak bukan adalah Minhee.

“Jiyeon-ssi?”

“Apa yang hwajangnim lakukan di sini?”

“Aku… Aku hanya berjalan-jalan saja mencari udara segar. Lalu apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku sedang membeli beberapa barang di supermarket itu.”

Minhee menunjuk supermarket yang tak jauh dari mereka. Gadis itu menabgkap aura kesedihan dari wajah Myungsoo.

“Apa anda baik-baik saja hwajangnim? Anda terlihat sedih.”

Myungsoo terdiam tak menjawab pertanyaan Minhee.

“Jika anda tidak mau menceritakannya tidak apa-apa hwajangnim. Aku akan pulang terlebih dulu.”

Minhee hendak pergi namun Myungsoo menahan tangan gadis itu.

“Bisakah kau menemaniku sebentar?” Pinta Myungsoo.

Minhee menyunggingkan senyumannya.

“Tentu saja hwajangnim.

*   *   *   *   *

Heesun menggeser menutup pintu rumah keluarga Kim. Semua lampu sudah di matikan, wanita itu yakin semua anggota keluarga Kim sudah terlelap. Kaki Heesun melangkah masuk dan tiba-tiba lampu diatasnya menyala. Tatapan wanita itu tertuju pada suaninya yang duduk tak jauh darinya.

“Darimana kau sampai larut begini Heesun-ah?” Tanya Sungsoo dingin.

“Aku dari apartement Myungsoo untuk memasakan makanan untuknya.”

Terdengar tawa sinis Sungsoo membuat Heesun merinding ketakutan.

“Memasak? Kau tak pernah memasak selama 4 jam Heesun-ah. Apa yang kau lakukan Heesun-ah.”

“A-aku tak melakukan apapun Oppa. Myungsoo merasa gugup menghadapi pernikahannya jadi aku menemaninya.”

Sungsoo berdiri dan menghampiri istrinya yang berjalan mundur ketakutan. Tangan Sungsoo terulur dan mendorong leher Heesun hingga menatap dinding.

“O-Oppa….” Heesun berusaha melepaskan tangan Sungsoo yang mencekik lehernya.

“Aku tahu kau sudah mengetahui rencanaku, Heesun-ah. Tapi aku tidak akan membiarkanmu membocorkannya pada Myungsoo. Kau tahu bukan apa yang akan terjadi jika kau menentangku?”

“N-Ne O-Oppa.”

Sungsoo melepaskan tangannya membuat Heesun bisa menghirup nafas. Langkah kaki Sungsoo terdengar menjauh. Kaki Heesunpun melemah membuat tubuh wanita itu terjatuh di lantai. Isakan tangis yang tertahanpun terdengar.

“Tidak bisakah kau mencintaiku Oppa?” Tanya Heesun di sela tangisnya.

*   *   *   *   *

Minhee menatap laki-laki dihadapannya. Biasanya Minhee akan melihat Myungsoo yang tersenyum dan penuh semangat bertemu dengannya. Tapi saat ini gadis itu tak melihat semangat itu dalam diri tunangannya. Sudah satu jam Myungsoo berdiam diri dan melamun. Entah apa yang ada dalam pikiran Myungsoo tapi gadis itu yakin ada yang tak beres yang membuat Myungsoo bersedih seperti ini.

Hwajangnim?” Panggil Minhee namun Myungsoo masih terdiam.

Hwajangnim.” Panggil Minhee kembali membuat Myungsoo tersadar dari lamunannya.

Myungsoo menoleh dan memaksakan senyumnya.

“Kau tak perlu memanggilku seperti itu karena kita tidak sedang berada di kantor.”

“Baiklah kalau begitu aku akan memanggilmu Myungsoo-ssi.”

Myungsoo terdiam seraya menatap Minhee kaget.

“Kenapa kau menatapku seperti itu Myungsoo-ssi?”

Myungsoo kembali tersenyum namun kali ini senyuman laki-laki itu lebih lembut tidak secanggung tadi.

“Aku suka panggilan itu. Entah mengapa aku merindukan panggilan itu.”

DEEGGHH….

Minhee tahu siapa yang Myungsoo rindukan. Karena gadis itu tahu tak ada gadis yang memanggil laki-laki itu dengan panggilan ‘Myungsoo-ssi’ selain dirinya. Minhee meminum kopinya menyembunyikan kegugupannya.

“Jiyeon-ssi.”

Nde?”

“Apa kau sudah memiliki kekasih?”

Tubuh Minhee mematung mendengar pertanyaan itu dilontarkan oleh tunangannya sendiri.

“Mengapa kau menanyakan hal itu Myungsoo-ssi?”

“Karena aku ingin minta pendapatmu Jiyeon-ssi.”

“Pendapat apa Myungsoo-ssi?”

“Jika kau harus memilih salah satu, siapa yang akan kau pilih? Eomma-mu atau kekasihmu?”

Itu adalah pertanyaan yang sulit bagi Minhee. Jika pertanyaan itu dilontarkan sebelum Minhee berubah, gadis itu akan nenjawab tidak memilih keduanya. Tetapi setelah merasakan bagaimana jatuh cinta dan juga bisa bertemu dengan ibunya pemikiran Minheepun berubah.

“Itu pertanyaan yang sangat sulit Myungsoo-ssi. Seorang ibu dan seorang kekasih memiliki kekuatan yang berbeda dalam hatiku. Ibu yang sudah melahirkan kita selaku melakukan apapun untuk kita, dia tak pernah lelah memberikan kasih sayang dan selalu mendukung kita. Kekasih memiliki tempat tersendiri dalam hati kita. Dia memberikan warna dalam kehidupan kita. Karena akan sulit memutuskan diantara mereka.”

Myungsoo terdiam karena ucapan Minhee memang benar. Hal itu membuat Myungsoo bertambah bingung.

“Tapi….”

Myungsoo mendongak mendengar ucapan Minhee belum berakhir.

“Tapi apa?”

“Tapi jika memang aku harus memilih diantara keduanya.”

Minhee menatap Myungsoo dalam.

“Aku akan memilih eomma.”

“Mengapa kau memilih eomma?” Tanya Myungsoo.

“Karena pengorbanan seoranga eomma lebih besar dari seorang kekasih. Seorang eomma akan mempertaruhkan nyawa mereka untuk melahirkan kita. Karena itu aku memilih eomma.”

Myungsoo tersenyum tak menyangka sangat menyenangkan berbicara dengan Minhee.

Gomawo Jiyeon-ah.”

“Ne.”

“Sangat menyenangkan bisa mengobrol denganmu. Lain kali bisakah kita mengobrol lagi?”

Minhee menyunggingkan senyuman senang.

“Tentu saja.”

“Tapi Sunggyu hyung tidak akan marah bukan?”

Seketika kedua pipi Minhee merona merah mendengar pertanyaan Myungsoo.

“Aniyo.”

Terdengar ponsel Myungsoo berdering diapun melihat nama ‘Eomma’ di layar ponselnya.

“Ne eomma?”

“Myu-Myungsoo-ah.” Dahi Myungsoo berkerut mendengar suara eomma yang bergetar.

“Eomma… ada apa eomma?”

Minhee mendongak melihat Myungsoo terlihat panik.

Sepertinya sesuatu yang buruk terjadi dalam keluarga Kim. Pikir Minhee.

“Ne eomma aku akan segera pulang.”

Myungsoo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu menatap Minhee.

“Aku harus pergi Jiyeon-ssi. Gomawo sudah menemaniku.”

“Ne Myungsoo-ssi.”

“Sampai jumpa lagi.”

“Hati-hati ne?”

Myungsoo mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan Minhee. Gadis itu hendak mengambil tasnya dan tempak terkejut melihat Sungjong menatapnya penuh kekaguman.

“Ada apa menatapku seperti itu.”

Kedua tangan Sungjong terulur memperlihatkan kedua jempolnya yang teracung.

“Noona Daebak….. Kata-kata yang noona ucapkan benar-benar indah sehingga membuatku terharu.” Ucap Sungjong beracting menangis.

“Benarkah?”

Sungjong mengangguk penuh semangat.

“Ne. Apa kau tidak penasaran dengan masalah yang Myungsoo hadapi?”

“Tentu saja penasara. Tapi percuma saja aku bertanya padamu karena kau tidak akan memberitahuku.”

“Kau benar. YA!! Kau mau kemana?” Tanya melihat Minhee pergi.

“Tentu saja pulang.” Jawab Minhee tak memperdulikan orang yang menatapnya aneh.

~~~TBC~~~

9 thoughts on “(Chapter 9) Love & Revenge

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s