Sajaegi Chapter 4

sajaegi1

Title: Sajaegi

Author: Kim Jaemi (@iimwae)

Credit: Gitawa @ Diamond of Paradise

Cast: Park Jimin (Bts)

*Han So Mi / Silla Geongju (Author Chingu)

*Baek Seung Hoon (Aktor)

*Im Jaemi or You

*Park Ri ni (Author Chingu)

Support Cast: Find them when you read it!!

Genre: Teen, Friendship, Romance, Bullying, Memorise and School Life

Length: Chaptered

Disclaimer: Story Request!!No Copas!!No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

Sajaegi Chapter 4

—SEBUAH LAGU YANG INGIN KUDENGARKAN—

#Author *Pov*

Bell tanda usainya pelajaran telah berbunyi, semua murid merapikan barang-barangnya dan segera pulang. So mi dan teman-temannyamasih duduk-duduk di bangku mereka masing-masing.

“Yaa Jimin-a gaja!” ajak Tae hyung.

Ketiga yeoja melirik kearah namja yang duduk di samping So mi sembari tertawa kecil.

“Apa yang terjadi? Ayo cepat! Pd-nim mengatakan bahwa kita harus segera pulang.” Jimin hanya diam tak ingin beranjak dari tempat duduknya, bukannya tak ingin namun tak bisa.

“Kau kenapa?” Ri ni berjalan mendekat kearahnya.

“Gwaenchana, yaa Tae hyung-a kau pulanglah terlebih dahulu, aku akan menyusul.” ucap Jimin tak ingin jika kedua temannya mengetahui bahwa dia tengah dikerjai.

Jaemi berjalan kearah So mi untuk mengajak temannya pulang.

“Aku masih ingin melihat sesuatu.” ungkap So mi.

“Yaa Jimin-a irreona!” Jimin tak mendengar perintah Tae hyung, ia memasang earphone dan mulai mendengarkan lagu. “Apa ada lem di bangkumu?” tambahnya yang kini berjalan mendekat kearah Jimin.

Tae hyung mendorong Jaemi sampai ke loker belakang kemudian mencengkramnya. Jaemi sendiri merintih kesakitan karena Tae hyung mendorongnya dengan terlalu keras.

“Aaak… lepaskan aku!”

“Aku sudah bilang padamu jangan pernah menyentuh sahabatku, aku akan membunuhmu jika itu terjadi.” Jaemi memegang tangan Tae hyung yang berada di lehernya sembari menahan nafas.

“Yaa Tae hyung-a lepaskan dia!” perintah So mi pada Tae hyung, namun Tae hyung malah menunjuknya dan mengatakan untuk tidak ikut campur. Saat ini Tae hyung tengah kalab, ia tidak akan diam saja melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu.

-Kreeek-

Jimin beranjak dari tempat duduknya, ia melepas jas lalu mengikatnya di perutnya. Segera ia menarik tangan Tae hyung agar menjauhi Jaemi.

“Apa yang kau lakukan? Bukan dia yang melakukannya, tapi yeoja itu.” Jimin menunjuk So mi yang sontak membuat So mi terkejut, namun yeoja itu membenarkan ungkapan Jimin.

“Lihatlah So mi bukan dia yang disalahkan tapi kau, kau yang akan disalahkan jika terus berteman dengannya.” Ri ni melihat sendu kearah So mi yang berjalan mendekati Jaemi.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jimin dan So mi bersamaan yang membuat mereka saling pandang satu sama lain.

“Yaa Jimin-a sadarlah, aku sudah memperingatkanmu jangan menyukai yeoja sepertinya.” bentak Tae hyung dengan menarik tangan Jimin.

“Sudah ku bilang bukan dia yang melakukannya tapi yeoja ini.” Jimin menatap tajam kearah So mi.

“So mi tidak mungkin melakukan hal seperti itu, aku tahu dengan jelas seperti apa dia. Kau lihatkan So mi, salah paham yang tercipta berawal dari yeoja ini.”

“Anak ini adalah anak baru sama sepertiku dari mana kalian tahu?”

Dulu Tae hyung, Ri ni, Seung hoon dan So mi adalah teman baik, dari pertama masuk sekolah mereka sudah berteman baik. Mereka sering pergi bersama ke suatu tempat. Kebersamaan waktu mereka berkurang setelah Seung hoon dan Tae hyung menjadi trainee di sebuah agensi. Meskipun begitu mereka masih kontak satu sama lain dan saling memberi semangat. Sudah pasti Tae hyung dan Ri ni tahu bagaimana sifat asli So mi.

“Itu sudah berlalu.” So mi merangkul Jaemi untuk pergi dari dalam kelas diikuti oleh kedua temannya. “Aku akan mengantarmu.” tambah So mi.

Di dalam mobil So mi masih mengawatirkan Jaemi, namun Jaemi memintanya untuk tidak melakukan hal itu.

“Aku rasa anak baru itu menyukaimu.” So mi membisiki Jaemi yang seketika membuat Jaemi melirik kearahnya.

Pikiran So mi masih terganggu dengan ucapan Tae hyung dan juga Ri ni, tapi semua itu hilang seketika bak ditelan angin ketika melihat fotonya dan Jaemi yang bertengger di atas nakas.

“Noonha…!” teriak pangeran Jeoson sembari menaiki kasur kakaknya yang tengah melamun.

“Eoh Jeoson-a.”

“Kau kenapa? Apa kau sedang jatuh cinta?” So mi menjitak kepala adiknya.

“Noonha ayo kita jalan-jalan!”

“Kau gila? Jika abamamma tahu kita bisa mati. Keluar kau dari kamarku!” So mi mendorong-dorong adiknya adar segera keluar dari kamarnya.

#Jimin *Pov*

Apa penilainku salah? Di dalam mobil si Tae hyung tak hentinya memarahiku karena sudah membela Jaemi. Jelas-jelas aku tahu bahwa So mi yang melakukan hal itu, kenapa dua anak ini tak mempercayaiku? Aku tak ingin mendengarkan mereka berdua, aku memejamkan mata dengan menyilakan tangan dan mendengarkan lagu-lagu.

Malam pun tiba, aku dan keenam teman namjaku tengah makan malam di dorm, besok kami akan menghadiri weekly idol. Tae hyung masih melihatku kemudian mengalihkan pandangan setelah aku melihatnya. Ini tak seperti biasanya, biasanya ketika di meja makan Tae hyunglah yang paling berisik menggodaku.

“Ada apa dengan kalian?” tanya Suga hyung sembari menyantap bulgogi.

“Hyung apa ada masalah?” tambah Jung kook, aku mempercepat makanku lalu kembali ke ruang latihan untuk berlatih.

Seusai latihan seorang diri di ruang latihan, aku menidurkan diri di lantai dengan nafas terengah-engah. Mungkin saja saat ini member lainnya sudah terlelap di dunia mimpi mereka masing-masing.

“Eomma bogosipoyo.” ucapku sembari memejamkan mata.

#Flashback

Aku dan eommaku berjalan memasuki rumah besar dengan tersenyum lebar, rumah besar bak istana yang berada di depanku. Halamannya luas seperti lapangan sepak bola. Aku tidak mengira bahwa ayah baruku sekaya ini. Setelah kami masuk, kami disambut oleh banyak pembantu serta pemilik rumah. Sudah ada yang menunggu kami, pria bertubuh tinggi dan juga tampan. Saat itu aku baru memasuki sekolah menengah pertama. Ibuku menikah dengan pengusaha kaya raya di Korea.

Di ruang makan aku tak melihat soudara tiriku, bahkan ia juga tidak memberi salam pada eommaku.

“Sudah aku katakan aku tidak menyukaimu, bagiku kau bukanlah eommaku. Eommaku sudah berada di syurga dan selamanya tidak akan pernah tergantikan.” samar-samar aku membuka mata, aku mendengar keributan dari luar. Ketika aku keluar dari kamar, aku melihat eomma tengah menjatuhkan diri sembari membersihkan pecahan piring dan menangis. Aku menghampirinya kemudian membantunya.

Keesokan hari ketika aku hendak berangkat sekolah aku mendengar ayah tengah bertengkar dengan anaknya di dalam kamar. Aku memang tak pernah bertemu dengan soudara tiriku karena dia tidak menyukaiku.

“Appa, eomma akan tetap berada di hatiku. Apa kau menyuruhku pulang untuh bertemu mereka? Aku benci mereka, aku tidak suka dengan orang asing.” teriak anaknya dengan suara melengking, ayah baruku mencoba untuk menenangkannya. Aku bisa maklum jika dia tidak bisa menerimaku, mungkin saja pernikahan ini sudah membuat hatinya hancur. Segera aku melangkah keluar dari rumah.

“Eomma… haruskah kita pergi dari rumah ini?”

“Kenapa kalian harus pergi? Apa karena anakku? Jangan khawatir sebentar lagi dia akan kembali, jadi tetaplah di rumah ini.” bagaimana aku bisa tenang kalau ada orang lain yang tidak nyaman. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk menjadi trainee di Bighit. Memang ayah pernah mengatakan bahwa sebenarnya anaknya adalah anak yang baik, namun dia akan bertingkah seperti itu pada orang asing.

#Flashback End

Aku menghembuskan nafas dengan kencang, eomma apa kau baik-baik saja di rumah itu? Hidup bersama anak tiri yang sama sekali tidak menyukaimu pasti sangatlah menyusahkan. Tunggu aku eomma, Bts akan segera diakui keberadaannya di Korea. Saat itu tiba aku pasti akan membawamu pergi dari rumah itu.

#So mi *Pov*

Sudah berhari-hari kami mengerjai anak baru di kelasku yang katanya adalah seorang idol, bts itulah nama mereka. Aku tak pernah tahu boyband mereka, apa mereka tidak terkenal. Tapi ketika aku di Amerika sepertinya nama mereka pernah aku dengar, atau memang hanya perasaanku saja. Jaemi mengatakan bahwa saat ini, ia akan ijin beberapa hari karena akan pergi ke pemakaman ibunya di London yang sudah meninggal tujuh tahun yang lalu. Seung hoon sendiri juga tengah sibuk berlatih koreo lagu baru. Hanya tinggal Bokyung dan Re na, kami berjalan menuju kamar mandi.

Di tengah jalan seorang yeoja tak sengaja menabrakku. Ia menumpahkan hot cokelat yang membuatku kepanasan. Bokyung menjambak yeoja itu kemudian menyuruhnya untuk berlutut dan minta maaf padaku. Aku sendiri masih merasa kepanasan. Aku mengajak kedua temanku masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan kemejaku. Menyebalkan sekali, untung saja Jaemi tidak tahu. Aku tidak akan tahu apa yang akan menimpa yeoja itu jika sahabatku sampai tahu. Kali ini aku akan memaafkannya, jika dia melakukan sesuatu lagi meskipun itu tak disengaja aku akan membunuhnya.

“Aaak…” teriakku setelah terjatuh di dalam kamar mandi. Seusai olah raga aku pergi ke kamar mandi seorang diri, aku tidak tahu jika lantainya sangatlah licin.

“Apa ada yang berteriak?” tanya seorang namja dari luar kamar mandi. Aku hendak berdiri namun aku terjatuh dan berteriak kembali, rasanya kakiku terkilir. Seorang namja tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi, kami berdua saling mengetip-ngetipkan mata tak percaya. “Gwaenchana?” tanyanya, tak ada tatapan khawatir hanya keprihatinan yang berada di mata namja itu.

“Eoo gwaenchana.” jawabku dengan memegangi pergelangan kakiku.

“Baiklah, kalau begitu aku akan pergi.”

“Jogiyo.” namja itu membalikan tubuhnya. “Anya detso.”

“Jika ingin meminta bantuan katakan saja!” tiba-tiba dia menggendongku dan membantuku untuk membawa ke ruang kesehatan. Aku masih melihat wajahnya sembari memegangi lehernya, ia hanya melihat lurus kearah jalan yang di lewatinya.

“Gomawo.” ucapku setelah dia meletakanku di atas ranjang.

“Eum…” jawabnya enteng. “Aaah cam, kakimu baik-baik sajakan?” tanyanya yang masih sama tanpa ada rasa khawatir. Aku mengangguk pelan lalu melihatnya pergi dengan mangantongkan tangannya.

Sesampaiku di rumah aku merebahkan diri di atas kasur. Aaah aku baru ingat, Jaemikan pulang dari London hari ini. Aku menghubungi Seung hoon agar dia yang menjemput Jaemi.

“Tolonglah!” pintaku dengan memohon.

“Kenapa tidak kau saja? Dia masih marah padaku masalah aku menjatuhkannya di tempat sketting, kalau aku yang menjemputnya pasti dia akan membunuhku.”

“Tadi aku terjatuh di kamar mandi…”

“Benarkah? Kau tidak apa-apa? Apa kakimu terkilir? Kau sudah ke rumah sakit?”

“Yaa!!! aku hanya memintamu menjemput Jaemi bukannya mengajukan banyak pertanyaan seperti itu.”

“Baiklah…” namja di seberang mengiyakan dengan nada terpaksa.

Ketika istirahat tiba aku berjalan-jalan seorang diri di gedung belakang. Aku mendengar sebuah lagu yang dulu sempat ku dengarkan. Segera aku menghampiri seorang yeoja yang tengah sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan lagu tersebut.

“Yaa!” yeoja itu mematikan lagu dengan segera dan meminta maaf padaku.

“Waeyo? Bolehkan aku meminta lagu itu?”

“Nee! Lagu yang mana?” ucapnya seperti orang terkejut.

“Lagu yang baru saja kau dengarkan.”

Di dalam kamar aku tengah mendengarkan lagu bergenre Hip hop, Jaemi memasuki kamarku kemudian menghentikan langkahnya.

“Wae?” ia mengetip-ngetipkan mata tak percaya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Apa?”

“Lagu itu, kau…”

“Aaah lagu ini bergenre Hip hop kau tahukan aku suka lagu seperti ini.”

“Itu lagu milik anak-anak Bts.”

“Nee?”

Jaemi melangkah pergi dari kamarku dengan tatapan marah. Bahkan ia tak memperdulikanku yang terus memanggilnya. Aku mengejarnya kemudian menarik tangannya, terlihat ia tengah menyilakan kedua tangannya dengan menatap tajam mataku.

“Kau bilang itu lagu siapa?” ia tak menjawab pertanyaanku, hanya tatapan mematikan yang diluncurkan kearahku. “Aku tidak tahu…”

“Lupakan!” Jaemi melangkah keluar, dari dalam aku mendengar suara mobil semakin menjauh. Suaranya pun sudah mulai tak kudengar lagi.

Jadi lagu ini adalah lagu milik Bts! Aah… sebenarnya kenapa dengan yeoja itu? Kenapa dia membenci anak-anak Bts?

“Noonha!” Pangeran Jeoson mengejutkanku. “Bukankah tadi aku mendengar Jaemi noonha, dimana dia?” aku tak menjawab pertanyaannya. “Noonha aku ingin jalan-jalan.” rengeknya.

Suasana hatiku sedang tidak baik hari ini, jadi aku mengiyakan ajakan adikku.

#Jimin *Pov*

Akhir-akhir ini Tae hyung tak lagi mengganggu bahkan berbicara denganku. Di sekolah ia selalu mengabaikanku, apa dia benar-benar marah padaku?

Seperti biasa aku selalu berlatih lebih dari teman-temanku. Ketika teman-temanku sudah terlelap aku menyempatkan untuk berlatih seorang diri. Tiba-tiba kokokan perutku berderu, seakan-akan menyamai alunan musik yang saat ini tengah kuputar. Segara aku berlari ke dapur, tak ada apa-apa disana hanya ada piring bekas yang tadi dipergunakan oleh keenam temanku. Perutku sudah tak mau berkompromi lagi, aku benar-benar kelaparan.

Aku masuk ke dalam kamar membangunkan Jung kook, aku berniat mengajaknya pergi.

“Hyung besok kita akan perfome tapi kita masih diwajibkan untuk pergi ke sekolah, aku harus istirahat.” memang besok kami akan perfome di salah satu acara, tapi meskipun begitu kami yang masih diwajibkan datang ke sekolah. Bagi Jung kook malam ini adalah malam dimana ia akan beristirahat total. Aku memutuskan untuk pergi seorang diri, tak lupa memakai topi serta kaca mata. Walaupun fans Bts tak sebanyak Exo tapi cukuplah untuk membuat lapangan penuh. Jadi, aku harus berantisipasi.

Selelsai membeli makanan di restauran aku segera kembali ke dorm, aku tak bisa berlama-lama di restauran tersebut. Bisa gawat jika Army tahu aku sedang makan disini, jadi aku meminta makananku dibungkus saja. Di perjalanan pulang tak sengaja seorang yeoja menabrakku.

“Juisonghabnida.” ucapnya dengan membungkukan tubuh padaku. Aku menurunkan kacamataku mencoba melihat siapa gadis itu. “Neo.” tambahnya setelah aku membuka kacamataku.

“Eeoo Jimin hyung, kau anak Bts itukan. Hyung aku adalah penggemarmu.” ungkap seorang namja kecil, mungkin dia adalah adik dari yeoja ini. Namja kecil itu meminta untuk berfoto denganku. “Noonha ayo!” ajaknya dengan menarik kakaknya, kami bertiga foto bersama.

“Bagaimana dengan kakimu?”

“Sudah membaik.” jawabnya dingin. “Jeoson-a gaja!” tambahnya dengan menarik tangan adiknya.

Kami berjalan berlawanan arah, baru beberapa langkah aku sudah dikerumuni oleh para yeoja. Aku juga melihat yeoja itu tengah dikerumuni oleh banyak laki-laki dan juga yeoja yang meminta berfoto dengannya. “Sebenarnya siapa yeoja itu?” Pikirku.

Kini kami tengah saling tatap satu sama lain dengan masih menandatangani kertas untuk para fans.

#So mi *Pov*

Saat ini di sekolah aku mendapat hukuman dari guru olahraga karena tadi sewaktu aku berolah raga hanya duduk manis sembari melihat ketiga temanku bermain bola. Jaemi bukannya tak mau membantuku tapi tadi dia terhantam bola, makanya Re na dan Bokyung mengantarnya keruang kesehatan. Hari ini benar-benar melelahkan, aku harus mengumpulkan bola sebegitu banyaknya dalam keranjang seorang diri. Kini bola sudah terkumpul di dalam ranjang, sedangkan aku sendiri mencoba mengangkatnya. Aaah ini benar-benar berat, ketika aku berusaha mengangkat tiba-tiba aku terpleset membuatku terjatuh di pelukan entah siapa itu. Aku membalikan tubuhku kearahnya untuk mengucapkan terima kasih.

“Kenapa kau sering sekali terjatuh?” ungkapnya dengan wajah dingin.

“Aaah… bolanya.” keluhku kesal.

Aku mulai mengumpulkan bola kembali ke dalam ranjang, namja itu membantuku kemudian mengangkatkannya ke dalam gudang.

“Gomawo.” ucapku berusaha dingin lalu pergi ke ruang ganti.

Hanya aku yang berada di ruang ganti perempuan, tak ada seorangpun yang berada disini. Aku mengganti seragamku, aku juga melepas sepatu olahragaku dan memakai sepatu sekolahku. Tiba-tiba aku berteriak sekeras-kerasnya dan segera melepas sepatu yang baru saja ku kenakan. Sebuah paku pinus menancap di telapak kakiku.

“Apa lagi? Kenapa kau selalu berteriak-teriak?” aku tak memperdulikan ocehan namja yang tadi membantuku, saat ini kakiku tengah banyak mengeluarkan darah. “Yaa! Gwaenchana?” tanyanya setelah melihat luka di kakiku. lagi-lagi dia menggendongku untuk menuju ruang kesehatan. Kali ini aku tidak melihati wajahnya melainkan melihat kearah kakiku yang terus mengeluarkan darah.

“Kau kenapa? Apa yang kau lakukan pada temanku?” tanya Jaemi yang sontak mendudukan diri dari atas ranjang sembari memegangi kepalanya.

“Gwaenchana Jaemi-a.” aku tersenyum padanya yang tengah mengawatirkanku. Terlihat dengan jelas di kedua bola matanya.

“Pergi kau!” Jaemi menyuruh Jimin untuk pergi, dia anak Bts. Jujur saja aku menyukai lagu-lagu mereka. Aku masih melihat kearah Jimin yang sedari tadi melihat kearah Jaemi.

“Yaa Jaemi-a dia yang menolongku, maafkan aku perihal kemaren!”

“Lupakan!”

Malam ini aku dan Jaemi tengah berada di dalam kamarku. Dimana Seung hoon? Apa dia lupa bahwa saat ini adalah hari persahabatn kita bertiga? Aku sudah menghubunginya namun tak satupun panggilanku dijawab olehnya.

“Kakimu masih sakitkan? Biar aku saja yang pergi ke apartement Seung hoon. Sebenarnya siapa yang menaruh paku di sepatumu?” aku mengangkat bahu, pertanda bahwa aku tidak tahu.

Aku sendiri juga heran kenapa ada paku pinus di sepatu sekolahku. Aaah… ini benar-benar sakit, aku mengangkat kakiku sempai ke lutut untuk melihat seberapa parah luka di kakiku.

#Jaemi *Pov*

Aku mengemudikan mobilku menuju aparatement Seung hoon, aku menekan kode apartementnya yang memang aku dan So mi ketahui. Aku memasuki apartement lalu menuju kamar namja yang selalu didamba-dambakan oleh sahabatku itu. Aku menghentikan langkah kakiku setelah memasuki kamar.

“Hah.” aku mendengus tak percaya setelah apa yang saat ini kulihat. “Apa yang kalian lakukan? Pakai pakaianmu!” aku melemparkan pakaian wanita yang tergeletak di lantai ke wajah yeoja yang berada di atas ranjang.

“Im jaemi.” ungkap Seung hoon.

“Eoo negayo… Yaa Baek seung hoon, temanku menunggumu di rumahnya tapi apa yang kau lakukan? Temanku terluka disana tapi kau malah berduaan dengan seorang yeoja.”

“Eonni ini tidak seperti apa yang eonni lihat.”

“Diam kau!!! Lihat apa yang akan kulakukan padamu!”

“Eonni aku minta maaf aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan katamu, aku hanya percaya dengan apa yang kulihat dan aku tidak terima dengan pengkhianatanmu Baek seung hoon. Cepat pakai bajumu kataku!” Bentakku pada yeoja yang tengah menitihkan air matanya.

Saat ini aku tengah berada di belakang stage menunggu satu girlband yang akan tampil. Sebuah girlband yang beranggotakan lima yeoja. Aku melihat seorang yeoja yang tak bisa bersuara di atas panggung sembari memegang tenggorokan, bahkan temannya juga meminjami mix padanya.

“I know you’ll be a super star

So don’t you worry where you are and

Sorichyeo neoye ireumeul 

We all know and love

I know you’ll be super star

So don’t you forget where you are and

Sekshihan ni nunbit so-ge

We all fall in love.”

Aku naik ke atas panggung menggantikan seorang yeoja yang tengah memandang kesal kearahku dengan masih memegangi tenggorokan. Aku menari dengan keempat member lainnya. Tentu saja aku bisa dengan koreo dan lagu ini, karena dulunya lagu ini adalah lagu yang akan  kudebutkan dengan ketiga temanku bernama Like a star.

“Aku minta maaf pada kalian semua karena tiba-tiba berada di atas panggung.” aku membungkukan tubuhku pada penonton, kemudian berjalan kearah yeoja itu. “Bang min ah itu namamukan? Aku tidak berniat menghancurkan gbmu karena kedua temanmu tidak bersalah. Justru sebaliknya aku hanya akan menghancukan dirimu seorang.” bisikku tepat di telinganya.

Bersambung…

2 thoughts on “Sajaegi Chapter 4

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s