One-Sided Love (Part 13)

OSL3

Tittle : One-Sided Love
Length : Chaptered
Rating : T
Genre : Romance, Drama
Author : yhupuulievya
Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Choi Ahri, Song Hera, and many more
Disclaimers : This Fanfiction is absolutely mine but the cast belong to themselves. Don’t ever plagiarize it.
Note : If you have some questions, feel free to mention me at @yhupuulievyaa

Apakah kau pernah berfikir, mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang salah?
Karena, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin jatuh cinta.
Hati, keinginan dan logika memang sering tak sejalan. Lalu mengapa Tuhan mempertemukanmu dengannya?
Tentu saja, Karena Tuhan mempunyai rencana lain yang tak pernah kau ketahui.
Everything happens for reason, right?

Hallo, maaf atas keterlambatan posting yang super sekali, tadinya aku ga bakal lanjut karena udah keburu end di blog pribadi. Tapi akhirnya aku mutusin buat ngepost sampai end juga disini.

Chapter sebelumnya bisa baca disini : 12 |11 | 10 | 9 | 8 | 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 |

**

CHAPTER 13
(Destiny)

Musim semi akhirnya datang juga, dari minggu yang lalu Ahri dan Sehun sudah resmi menjadi siswa tingkat tiga dan mereka mulai mengikuti kelas tambahan di malam hari. Waktu memang berjalan dengan cepat, Kepergian Luhan sudah lebih dari sebulan dan rasanya semakin hari gadis itu semakin merindukan tunangannya. Meski Luhan selalu menghubunginya setia hari, tapi Ahri ingin bertemu dan menghabiskan waktu dengannya seperti dulu.

Ahri memasukan buku-buku yang masih berserak diatas mejanya, kelas malam baru saja berakhir dan kali ini ia harus pulang sendiri karena tadi Sehun mengirimnya pesan singkat, mengatakan bahwa ia tidak mangikuti kelas tambahan malam ini.

Ahri menghebuskan nafasnya dengan berat, hari ini sepertinya adalah hari terburuk baginya. Dari tadi pagi, ia masih menunggu kabar dari Luhan namun namja itu belum menghubunginya juga dan iapun juga tidak mendapat kabar apapun dari Sehun selain fakta bahwa namja itu bolos malam ini.

Ahri berjalan menuju gerbang dengan malas, ia tidak merasa takut untuk pulang malam seperti ini hanya saja berjalan sendiri rasanya tidak nyaman, seperti ada kekosongan yang menemani langkahnya

“Tiddd Tiddd”

Ahri berpaling kebelakang begitu mendengar bunyi klakson yang tertangkap indra pendengarannya dan saat itu senyumnya tiba-tiba saja terlukis dengan manis tak kala ia melihat sosok yang begitu ia kenali duduk dimobil.

“Umma Han!” Ahri segera berlari memeluk Nyonya Han yang kini berjalan keluar

“Aigoo, umma sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu sayang?” Nyonya Han lekas membalas pelukan Ahri

“Aku juga merindukanmu dan aku juga baik-baik saja, kapan umma sampai di Seoul?”

“Tadi siang, maaf baru mengabarimu sayang, banyak hal yang harus umma kerjakan. Kajja! Kita pulang..” Nyonya Han tersenyum manis pada Ahri

“Tapi dari mana umma tahu kalau aku mengikuti kelas tambahan?”

“Oh itu.. Sehun yang memberitau” Nyonya Han segera masuk ke mobilnya dan tersenyum misterius

Keadaan di mobil sedikit hening, baik Nyonya Han maupun Ahri memilih untuk diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ah sepertinya Ahri mengingat sesuatu

“Umma…”

“Iya, sayang?” Nyonya Han masih fokus menyetir

“Apakah Umma tidak mengingat sesuatu?” Ahri tampak ragu

“Sesuatu ? Sesuatu seperti apa?”

“Eungg.. misalnya even yang penting atau .. ah lupakan” Ahri hanya tersenyum lemah dan beralih menatap jalanan yang mulai sepi, sepertinya orang-orang yang ia sayangi sama sekali tida mengingat hal yang penting baginya. Disisi lain, Nyonya Han hanya tersenyum dengan misterius.

***

Luhan Manssion
10:00 PM

Ahri dan Nyonya Han segera turun dari mobil mereka begitu sampai, sedari tadi Ahri sepertinya tampak tak semangat, iapun terlihat berjalan dengan malas.
“Ahri, kau masuk duluanya sayang, umma harus pergi sebentar”

“Ah nde, umma”

Ahri berujar pelan dan segera masuk ke dalam. Langkahnya terbilang pelan dan tampak tak bertenaga. Berkali-kali gadis itu menghembuskan nafasnya yang berat

“Tidak ada yang meng..”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba semua lampu ruangan itu padam seketika, membuatnya berubah panik

“Ommo!”

“Umma….” Ahri mencoba berjalan di ruang yang gelap, berusaha menemukan knop pintu agar ia bisa keluar, ayolah.. ia benar-benar benci gelap, keringat sedikit menetes dari keningnya pertanda bahwa ia benar-benar takut kali ini namun beruntungnya, tiba-tiba lampu kembali menyala dan..

“Happy birthday to you.. Happy Birthday to you.. Happy Birthday Choi Ahri.. Happy Birthday to you”

Di depannya berdiri Nyonya Han dengan wajah berbinar serta Sehun yang membawa sebuah bolu ulang tahun yang sangat indah. Ahri hanya diam terpaku, setetes air mata mengalir membasahi pipinya, selama belasan tahun ini.. Ia tak pernah merayakan ulang tahunnya dengan orang lain disampingnya.. ayah dan ibunya akan menitipkan sebuah kado yang super mahal pada pelayan pribadinya, namun mereka tak pernah pulang maupun menyempatkan diri untuk menemaninya, oleh karena itu setiap selesai membuka kado-kado yang ia terima, Ahri biasanya akan memilih untuk tidur.

“Aigoo.. jangan menangis sayang” Nyonya Han menghampiri Ahri dan menghapus air matanya

“Kau harus berbahagia karena ini hari ulang tahunmu” tambah Sehun

“Aku kira kalian tidak pernah mengingatnya” Ahri masih tersedu

“Eyyy.. tentu saja kami mengingatnya. Nah, sekarang tiup lilinya…”
Sehun berjalan kearah Ahri dan gadis itu langsung meniup lilinya

“Yeyyyy!!! sekarang ucapkan permintaanmu Ahri-ya” Nyonya Han masih tersenyum pada Ahri dan gadis itu segera menunduk untuk memanjatkan doa dan beberapa harapan.

“Maaf ya, umma tidak sempat menyiapkan pesta besar-besaran, selain sibuk, Luhan dan yang lainnya tidak ada disini. Jadi umma hanya bisa meminta bantuan Sehun”

Ahri beralih menatap Sehun dan tersenyum lembut
“Pantas dia tidak masuk kelas tambahan” Membuat mereka bertiga tertawa

“Umma dan Sehun-ah..terimakasih sudah mengingat hari ulang tahunku, terimakasih telah bersedia menemaniku dan terimakasih karena..” Ahri kembali menangis membuat Nyonya Han langsung memeluknya

“Hey, seperti yang Sehun katakan tadi, malam ini kau harus berbahagia.. jangan menangis seperti ini, ah sebentar…” Nyonya Han segera melepaskan pelukannya dan pergi sejenak dari sana, namun beberapa menit kemudian ia membawa beberapa kado dengan ukuran yang berbeda

“Nah, sekarang saatnya membuka kado. Luhan dan Kai mengirimkannya langsung dari Paris, sedangkan Chanyeol dan pacarnya menitipkannya pada umma karena kita sempat bertemu beberapa hari yang lalu saat Umma mengunjungi Jepang”

Ahri mengernyitkan dahi

“Song Hera?”

Nyonya Han sontak mengangguk dan Ahri tersenyum akannya. Ia langsung duduk disamping Sehun dan mulai membuka satu persatu kado dari mereka.

“Eh?” Ahri sedikit heran saat membuka kado dari Chanyeol karena tidak ada benda lain dari sana selain kertas bertuliskan

“MWO? Tiket bulan madu?” Ahri sedikit tersentak saat membaca itu

“Ahri-ya.. kau menyukai hadiahku kan? Haha tiket bulan madu untukmu dan Luhan, aku sudah memilihkan tempat yang paling indah untuk kalian. Jadi saat menikah nanti, kalian tidak perlu bingung untuk memikirkan tempat berbulan madu. Nah, Aku dan Hera juga sudah membayar untuk hotel kalian nanti, kamarnya sangat nyaman dan indah, malam pertama kalian pasti akan berlangsung sangat romantis”

Wajah Ahri bersemu merah saat membaca kalimat ‘malam pertama’

“Kenapa wajahmu jadi merah seperti itu?” Sehun tiba-tiba saja bertanya dengan enteng

“a aniyo, wajahku tidak merah, hanya saja Chanyeol memberikan hadiah yang berlebihan”

Sehun yang tampak penasaran segera megambil tiket dan note itu dari Ahri
“Tiket bulan madu ? malam pertama ? Wow ! Chanyeol hyung memang daebak” Sehun tertawa terbahak

“Apanya yang kau tertawakan ? bahkan kami belum menikah sama sekali” Ahri mencoba memasang muka datar

“Kau ingin segera menikah dengannya?”

“eh ? bubukan maksudku..”

Nyonya Han yang melihat itu hanya tersenyum dan berkata
“Sudahlah Sehun berhenti menggodanya, Nah.. saatnya membuka kado yang lain Ahri”

Ahri mengangguk cepat dan segera membuka kado selanjutnya
“Bukankah yang ini dari Kai?”

Pertanyaan Ahri dijawab dengan anggukan sekilas dari Nyonya Han.

Begitu ia membuka kado itu, ia sedikit tersentak, disana terdapat sepasang sepatu yang begitu indah, sepasang sepatu yang pernah ia lihat dulu.. saat berlibur di Busan.

Bagaimana bisa ?

*Flash Back*

Ahri tampak antusias saat memasuki Shinsegae Departement Store, baginya shopping adalah salah satu kegiatan yang paling ia sukai. Ah pada umumnya, perempuan memang menyukai Shopping.

“Whoaaa” Ahri langsung terpesona saat melihat sebuah sepasang sepatu yang sangat indah, belum sempat membelinya, Luhan memanggilnya untuk menanyakan pendapatnya mengenai tuxedo yang harus ia beli. Setelah itu, sebuah dress menarik perhatiannya, membuat Ahri sedikit lupa akan sepasang sepatu tadi.

Ahri melirik dua buah gaun pendek yang tampak simple namun elegan. Keduanya mempunyai desain yang sama, hanya berbeda warna saja. Ia lalu mempertimbangkan untuk membeli salah satunya

“Yang merah atau yang putih?” Ahri bertanya pada Kai yang berdiri tak jauh darinya

“Yang putih sepertinya lebih cocok untukmu” Bagi Kai warna putih sangat pas dengan image Ahri yang polos dan innocent

“Yang merah” Entah darimana Luhan datang, namun namja itu kini berdiri disamping Kai dan memberikan pendapatnya

“Merah melambangkan cinta dan aku harap kau akan memperoleh banyak cinta dimusim ini”

Ahri bersemu merah mendapati Luhan tersenyum padanya. Lalu tanpa pikir panjang diraihnya gaun merah itu, membiarkan gaun yang putih berbaur dengan gaun-gaun lainnya yang tak terpilih.

Melihat tatapan mereka yang sepertinya saling jatuh cinta, Kai memutuskan pergi darisana dengan sebuah kotak yang ada ditangan kananya. Kotak itu berisi sepasang sepatu yang tadi diinginkan Ahri, diam-diam namja itu membelikannya untuk Ahri.

“Maaf , aku ingin membeli sepatu yang tadi ada disini, berwarna perak dan keemasan”
Ahri segera bertanya pada pelayan disana, karena sepatu tadi , kini sudah tidak ada disana lagi.

“Oh, maaf Noona tadi ada seseorang yang sudah membelinya”

Ahri tampak kaget
“Tapi aku benar-benar menginginkannya, apakah kau tidak memiliki persediaan lain?”

“Ah maaf Noona sepatu itu hanya ada beberapa saja di Korea oleh karena itu harganya sangat mahal dan yang tadi adalah persediaan kami yang terakhir”

“Mwo?” raut kecewa tampak jelas menghiasi wajah Ahri

Sebenarnya Kai ingin memberikan septu itu saat mereka sampai di Hotel, namun pengumuman pertunangan Ahri dan Luhan membuat namja itu lupa, suasana hatinya sangat buruk dan pada akhirnya ia hanya menyimpan sepatu itu tanpa ia berikan pada Ahri.

*Flash Back End*

“Apa kabar Ahri ? Maaf karena aku jarang menghubungimu. Ada banyak hal yang harus aku lakukan disini dan itu membuatku tidak punya waktu untuk membeli kado yang lain. Tapi saat kembali nanti aku akan membawakan sesuatu yang lebih baik untukmu.
Bukankah Sepatu ini adalah sepatu yang ingin kau beli saat di Busan ? maaf karena aku baru memberikannya sekarang.
Terakhir, Selamat Ulang Tahun, semoga kau selalu bahagia”

Ahri terdiam sejenak, kata-kata yang diucapkan Kai sedikit janggal, kata-katanya sedikit kaku untuk ukuran seorang Kim Jongin yang dulu hobi menggodanya, kata-katanya terlalu simple walau menyentuh. Ah mungkin, namja itu sudah mulai bisa bersikap dewasa, tapi entah mengapa ia malah merindukan Kai yang dulu, walau sifatnya menganggu namun terasa menyenangkan.

Ahri menatap sepatu yang dulu sangat ia inginkan, entah mengapa tiba-tiba sebuah kalimat terlintas diotaknya

~Sesuatu yang hilang, pada akhirnya pasti akan kembali pada kita, walau dengan cara yang tak terduga~
Ahri tersenyum dalam diam, meski sepatu ini memang tak sempat ia beli dan tak ada hak mengatakan bahwa itu miliknya, namun ia selalu mempunyai perasaan bahwa suatu saat sepatu ini pasti akan jadi miliknya, ah seperti sebuah takdir

~Seseorang yang pada awalnya diciptakan untuk menjadi takdirmu, walau ia tak menjadi cinta pertama atau kekasihmu saat ini, pada akhirnya ia pasti akan kembali padamu, walau dengan cara yang tak terduga pula~

“Kau kenapa?” Sehun bertanya pada Ahri saat melihat perubahan ekspresi gadis itu

“Gwenchana.. aku menyukai sepatu ini”

“Kai benar-benar pintar memilih” Ucap Nyonya Han

“Itu karena dia mempunyai banyak mantan pacar, jadi tidak sulit baginya memilih barang untuk perempuan”
Kata-kata Sehun membuat mereka tertawa, namun Ahri hanya tersenyum lembut, mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya namun menilai ucapan Sehun, faktanya Kai memang namja yang populer dikalangan gadis-gadis.

“Lalu apa hadiahmu?” Ahri tiba-tiba saja bertanya pada Sehun

“Eh? A aku..”

“Kau tidak membawakanku hadiah?”

“ah itu…” Sehun nampak gugup

“Aku baru tau kalau ini hari ulangtahunmu tadi siang”

“Jadi kau benar-benar tidak membawakan kado untukku?” Ulang Ahri

“umm..”

Ahri memasang wajah kesalnya, namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah dan tersenyum
“Aku hanya bercanda Sehun-ah, kau tidak perlu membawakanku hadiah, aku senang kau dan Umma Han ada disini bersamaku”

Sehun tampak berfikir dan akhirnya ia berkata
“Sebenarnya aku membeli sebuah gelang untukmu, hanya saja.. aku tidak tau kalau kau akan menyukainya atau tidak. Aku jarang membelikan sesuatu untuk perempuan” Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal

“Aigoo, lalu kenapa kau tidak memberikannya padaku ? percayalah, aku akan menyimpannya” Ahri tersenyum manis

“Jinjjayo?”

“Hm! Aku janji”

Setelah mendengar kata-kata Ahri,. Akhirnya Sehun mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menyerahkannya pada Ahri
“Boleh kubuka ?”

Kata-kata Ahri hanya dibalas dengan anggukan oleh Sehun, dan tanpa berfikir lagi gadis itu segera membukanya

.
.
.
Hening

“Ah, sudah aku bilang aku tidak pintar untuk me…”

“Aku menyukainya” Sela Ahri

“a apa?” Sehun mengulang pertanyaannya, takut-takut ia salah dengar tadi

“Aku menyukainya”

“Benarkah?” Wajah Sehun berubah lebih cerah

“Ne! Aku menyukai gelang ini, benar-benar indah” jawab Ahri

“Nah, kalau begitu saatnya…” Nyonya Han menggantungkan kalimatnya, membuat Ahri sedikit bingung

“Ini…” Nyonya Han menyerahkan ponsel pada Ahri

“Luhan?” Ahri tampak berharap dan Nyonya Han mengangguk pasti

“Ah gomawo Umma” Ahri segera mengambil ponsel dari Nyonya Han dan pergi sesaat untuk menjawab panggilan Luhan

“Yeobseo?” Ahri segera menjawab dengan nada tak sabar

“Ahri-ya..”

“Saengil Chukae Hamnida, Maaf aku tidak bisa menemanimu disana. Banyak hal yang harus aku kerjakan disini dan itu membuatku benar-benar sibuk, Nah.. aku selalu berdoa agar kau tetap sehat Ahri, semoga apa yang kau harapkan menjadi kenyataan. God Bless You”
Ahri tersenyum senang

“Terimakasih ge.. tapi hari ini kau membuatku sedikit kesal karena kau baru menghubungiku sekarang. Apa ini sebuah kejutan?”
Ahri mendengar Luhan terkekeh diujung sana

“Yup! Tapi kejutan sebenarnya bukanlah ini”

“Lalu?”

“Aku akan memberitahumu jika kau mengatakan bahwa kau mencintaiku”

“Itu bukan hal yang sulit” Sanggup Ahri

“Kalau begitu katakanlah..”

Sepertinya Luhan menuggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Ahri

“Luhan ge, aku ..mencintaimu”

“Aku lebih mencintaimu” balas Luhan

“Aniyo.. aku lebih lebih lebih dan sangat mencintaimu” Protes Ahri, ia mendengar Luhan tertawa diujung sana

“Gege?”

“Hmm?”

“Kau ada dimana?” Ahri sedikit penasaran karena sedari tadi terdengar suara mobil dan motor yang bergantian, selain itu terdengar pula bunyi bising lainnya

“Masih dalam perjalanan”

“Mwo? Kau menelopon sambil menyetir, itu berbahaya”

“Ayolah Ahri.. aku benar-benar merindukan suaramu”

“Salahmu, kau tak menghubungiku dari tadi pagi, kau bisa menghubungiku lagi nanti ge, menyetir sambil menelpon bukanlah hal yang baik”

“Baiklah, aku akan mematikannya setelah memberitau hadiah ulang tahunku untukmu”

“eummmm, baiklah kalau begitu cepat katakan”

“Tak sabaran sekali”

“Aku hanya khawatir pada gege”

“Aku akan baik-baik saja Ahri, sekarang pergilah ke halaman belakang, hadiahku ada disana”
Ahri segera berjalan kesana dan membulatkan mata saat melihat sebuah mobil bewarna pink terparkir dengan elegan

“Gege! Kau benar-benar membelikan ini untukku?”

“Haha, kau menyukainya?”

“Tentu saja, warna pink adalah favoriteku.. tapi..”

“Tapi apa ?”

“Gege tidak harus membelikanku hadiah semahal ini”

“Ahri.. kau tidak perlu sungkan padaku, lagipula kau adalah calon istriku”
Kata-kata Luhan membuat pipi Ahri bersemu merah

“Biar kutebak, kau sedang tersenyum sendiri sekarang. Iyakan?”

“Tidak, kenapa aku harus tersenyum sendiri ? aku tidak gila” Ahri berbohong, namun sedari tadi senyuman selalu menghiasi bibirnya

“Kau berbohong haha”

“Sudahlah, matikan telefonnya dan hubungi aku lagi, saat gege sudah sampai di apartemen” Ahri mulai khawatir lagi

“Kau benar-benar khawatir padaku, hm?”

“Tentu saja”

“Hmmm arraseo, kalau begitu aku mematikannya.. “

“ah tunggu..” Luhan kembali berkata

“Ahri-ya .. cepatlah lulus dan kita akan tinggal bersama di Paris, setelah itu aku akan melamarmu dan kita akan menikah”

Ahri tersenyum pelan dan menjawab
“Hm! Aku akan belajar dengan giat dan menyusulmu ke Paris..”

“Gege…” lanjutnya

“Ne?”

“Aku mencintaimu…”

“Aku juga mencintaimu Ahri”
Setelah itu percakapan mereka harus berakhir karena disana karena Ahri tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Luhan, walau bagaimanapun menelefon saat menyetir bisa menganggu konsentrasinya, walau ia masih ingin berbincang dengan tunangannya tapi ia tak boleh egois, lagipula saat namja itu sampai di apartemennya nanti. Bukankah mereka bisa kembali mengobrol ? seperti malam-malam biasanya.

***

Seminggu kemudian
Seoul Mall
02.00 PM

Ahri tampak berfokus pada gaun-gaun yang tampak indah, sedari tadi ia terus memilih dan memilih, sedikit bingung untuk membeli salah satunya

“Sehun-ah menurutmu mana yang paling bagus?”

Sehun yang berdiri disamping Ahri tampak kebingungan
“Eung.. aku tidak tahu,tapi .. mungkin yang ini” Sehun menunjuk gaun berwarna hitam yang terkesan simple

Ahri sedikit mengerutkan dahi
“Kau yakin?”

“Tentu saja, gaun ini terlihat simple namun terkesan ceria, sepertimu.. Luhan pasti akan menyukainya, lagipula dia tidak terlalu menyukai sesuatu yang terlalu glamour”

Ahri berfikir sejenak dan mengangguk pasti
“Baiklah! Aku akan memilih yang ini”

Ahri tersenyum lembut dan memutuskan untuk membeli gaun itu.

Akhirnya malam ini Ahri mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Luhan. Setelah sebulan lebih ia tidak pulang ke Seoul, akhirnya namja itu memutuskan untuk sejenak rehat dari kesibukannya di Paris dan memutuskan untuk pulang. Luhan memang tidak memutuskan untuk langsung mengunjungi manssionya terlebih dahulu karena dua hari yang lalu saat menghubungi Ahri ia berkata bahwa ia akan menunggu gadis itu di Namsan Tower.

Ahri masih ingat bagaimana suara namja itu yang terdengar kecewa saat berkata “Kenapa kau tidak pernah memberitauku kalau kau ingin mengunjungi Namsan Tower?”, bingung.. Ahri mendadak bingung saat itu namun Luhan kembali menjelaskan bahwa Kai mengatakan Ahri ingin mengunjungi Namsan Tower dan seketika ia ingat bahwa ia pernah berkata demikian saat bercakap dengan Kai di pantai Busan.

Oleh karena itu, malam ini Ahri ingin tampil sebaik mungkin, lagipula bukankah setiap gadis selalu ingin tampil cantik didepan kekasihnya? Apalagi ini adalah malam pertama dimana mereka kembali bertemu. Gadis itu tak mau mengecewakan Luhan walau pada nyatanya ia tau, Luhan selalu menerima ia apa adanya.

“Sehun-ah terimakasih sudah menemaniku dan membantu memilihkan gaun untukku”

Sehun yang mendengar Ahri berbicara padanya hanya mengangguk lalu berkata
“Anytime Ahri, setelah kalian kencan nanti.. kau dan Luhan harus menemuiku, aku ingin bertemu dengnnya, selain itu aku juga ingin menitipkan salam pada Kai”

“Tentu saja, ah mengenai Kai, apa dia sering menghubungimu?”

“Tidak.. di antara mereka bertiga Kai yang paling jarang memberi kabar” Ucap Sehun sedikit kecewa

“Aku kira itu hanya perasaanku saja, tapi ternyata dia juga tidak terlalu sering mengontakmu?”

“Hm! Tapi Luhan bilang, Kai memang selalu sibuk dan mempelajari segala hal dengan serius disana”

“Jinjjayo? “ Tanya Ahri sedikit tak percaya

“Aku juga tak percaya awalnya tapi mengingat ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan ayahnya, Kai sudah pasti melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh”

“Whoaaa aku jadi ingin melihat perubahan sikapnya secara langsung, apakah cara berbicara dan sikapnya akan berubah saat kita bertemu dengannya lagi nanti?” Ahri sedikit penasaran

“Entahlah.. aku juga kadang memikirkan hal itu, tapi rasanya sedikit aneh kalau Kai berubah jadi orang seriusan”

“Itu benar!” Ahri mengangguk setuju atas pernyataan Sehun

“Ah.. membicarakan tentang Kai aku jadi merindukannya, aku juga merindukan Chanyeol hyung” Sehun tampak cemberut dan Ahri yang melihat itu sedikit tersenyum, kadang namja ini bertindak lucu tanpa ia sadari sama sekali

“Hey bisinis keluargaku juga dominan berada di Jepang, setelah libur nanti kita bisa mengunjungi Chanyeol bersama, setelah itu kita pergi ke Paris untuk menemui Luhan dan Kai”

“Setuju!” Ucap Sehun sumringah

“Bukankah liburan musim panas tinggal beberapa bulan lagi?” Lanjut Sehun

“Yup! Dan saat itu,kita bisa berlibur untuk mengunjungi mereka”

“Itu benar” Sehun kembali tersenyum pada Ahri dan setelah itu mereka kembali berbincang sebelum akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.

Nyonya Han sudah kembali sibuk dengan urusan bisnisnya, oleh karena itu dua hari yang lalu Ahri mulai kembali kerumahnya, walau sebenarnya mereka sudah menyerahkan kunci cadangan rumah tersebut pada Ahri, bagaimanapun ia tidak enak jika harus tinggal di rumah mereka saat Luhan maupun Nyonya Han tidak ada disana.

***

Ahri’s manssion

Choi Ahri mematut dirinya didepan cermin, sebuah gaun cantik berwarna kuning yang tadi siang dibelinya, kini melekat dengan pas ditubuh Ahri. Rambutnya yang agak mengembang dibiarkan tergerai begitu saja. Eye shadow berwarna senada dan terkesan minimalis sedari tadi sudah menghiasi manik matanya yang indah, kali ini ia mengoleskan lipgloss transparan yang sedikit terlihat kemerah mudaan.

“Kenapa aku menjadi gugup seperti ini? “ Ahri bertanya sambil memandang siluetnya, entah mengapa jantungnya berdebar kencang saking gugupnya. Mungkin karena malam ini ia akan kembali bertemu lagi dengan Luhan.

“Phew.. tenanglah Ahri” Gadis itu mencoba menghembuskan nafasnya dengan teratur sebelum akhirnya ia mengambil tas selempang yang ialetakan di atas meja riasnya. Ia mulai berjalan namun

~Prakkk

Ahri kembali menengok kebelakang, sepertinya ia tak sengaja menjatuhkan sesuatu dan benar saja ia menjatuhkan sebuah foto Luhan yang berbingkai, membuat kacanya sedikit retak. Ahri terdiam, seketika perasaan khawatir langsung menguasai hatinya.

Luhan.. apakah ada sesuatu yang terjadi pada namja itu ? Ahri semakin panik dan secepat mungkin mencari ponsel yang tadi ia simpan di dalam tas miliknya. Dengan tangan yang bergetar, Ahri bersusah payah mendial nomor Luhan

~Jawablah…

Ekspresi khawatir Ahri, sudah tak bisa disembunyikan lagi saat namja yang di maksud tak juga menjawab panggilannya

~Tuuutttttt

Ahri kembali memanggil nomor Luhan dan namja itu tetap tak mengangkatnya, setetes air mata hampir menetes dari pelupuknya jika saja Luhan tak segera menjawab saat itu juga

“Yeobseo?”

“Luhan.. apakah itu kau?”

“Eh? Tentu saja. Ada apa Ahri? Kau sudah sampai di Namsan Tower?”

Ahri terdiam namun ia merasa sedikit lega dan tenang
“Ah aniyo, aku baru saja akan berangkat”

“Benarkah ? Aku juga belum sampai disana, bagaimana jika kita bertemu di daerah Myundong saja? Jadi kita bisanaik kereta gantung bersama untuk pergi ke Namsan Tower”

“Ne gege, itu lebih baik”

“Tapi kau harus menungguku sebentar, sepertinya aku akan sedikit terlambat. Aku masih terjebak macet Ahri”

“Ah tidak apa-apa ge, aku akan menunggumu disana”

“Hmm, kalau begitu sampai bertemu disana Ahri”
Luhan hendak mengakhiri panggilannya, namun Ahri kembali berkata

“Luhan ge… apa kau baik-baik saja?”

“Huh ?”

“Apa kau baik-baik saja?” Ulang Ahri

“Hmm, kenapa kau khawatir seperti itu? Aku akan baik-baik saja Ahri. Jangan banyak berfikir, kita akan bertemu disana, ne?”

“Hn!”
Ahri mengangguk dan mematikan panggilannya, sebenarnya apa yang terjadi padanya ? ia tiba-tiba khawatir seperti ini saat foto Luhan terjatuh tadi, ayolah ini bukan pertanda buruk kan ? jelas-jelas tadi ia tak sengaja menyenggol figura itu dengan tasnya, lagipula bukankah tadi Luhan menjawab panggilannya? Namja itu baik-baik saja.

***

Myundong
8.00 PM

Ahri kembali melirik jam tanganya, entah untuk keberapa kalinya namun gadis itu lagi-lagi melakukan hal yang sama. Raut wajahnya sedari tadi tampak gelisah.

~Ayolah Ahri…bukankah Luhan sudah bilang kalau ia akan sedikit terlambat ? mungkin namja itu masih terjebak macet

Ahri mengedarkan pandagannya keseluruh arah, mencoba mencari sosok Luhan ditengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang.
Dua puluh menit berlalu, dan Luhan masih belum juga datang. Tidak bisa… Ahri sudah tidak bisa menunggu lagi. Dengan cepat ia kembali mengambil ponselnya untuk menghubungi Luhan

“Yeobseo?” Kali ini Luhan langsung menjawabnya

“Luhan ge, kau masih dimana?”

“Ah, sebentar lagi aku sampai..”

“Aku benar-benar khawatir” Ahri hampir menangis

“Kau kenapa Ahri ? Aku sudah bilang aku baik-baik saja, dengar.. hitung sampai 30 dan aku akan ada didepanmu”

Mendengar itu Ahri sedikit lega, ia tersenyum lemah dan menjawab
“Baiklah, aku akan mulai menghitung dari sekarang, sebainya gege harus segera sampai disini” Setelah itu, Ahri segera menekan tombol end dan mulai menghitung

“Satu…”

“Dua…”

“Tiga…”

“Empat..”

“Lima..”

Ahri terus menghintung dengan suaranya yang pelan, wajahnya kembali menampakan eskpresi khawatir saat namja itu belum menunjukan tanda-tanda kehadirannya

“dua puluh lima..”

“dua puluh enam..”

“dua puluh tujuh..”

“dua puluh delapan..”

“dua…”

Ahri menhentikan hitungannya tepat di angka dua puluh sembilan, karena disebrang sana, ia melihat sosok yang begitu ia rindukan. Yup! Luhan berdiri dengan tenang, ia melambaikan tangannya dan tersenyum pada Ahri. Ahri hampir meneteskan air mata begitu menyadari, ia benar-benar merindukan namja itu.

Tanpa pikir panjang Luhan segera berjalan untuk menyebrang, agar ia bisa menemui Ahri dan segera memeluk gadisnya. Ia tak sabar untuk membisikan tiga kata cinta pada gadis itu..namun baru saja setengah jalan , tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju secepat kilat kearah Luhan, dalam persekian detik mobil itu menghantam tubuh Luhan, membuat namja itu beberapa kali terguling dan terbaring,

~Creshhhh

Darah segar mengalir dikepalanya akibat benturan yang keras, sebuah tabrakan yang entah mengapa terjadi begitu saja sudah tak bisa dihindari. Pengemudi mobil yang sepertinya tengah mabuk berat berusaha kabur setelah turun dari mobilnya, namun orang-orang yang terlanjur melihatnya langsung mengejar ajjushi tersebut.

Ahri terbujur kaku dalam diamnya, tubuhnya tiba-tiba saja mematung, nafasnya tersekat, lidahnya terasa kelu, lututnya terasa lemas dan tanganya sedari tadi terus bergetar. Sebuah cairan bening mengalir begitu saja membasahi pipinya. Ia merasa pusing, matanya berkunang-kunang dan samar-samar ia melihat orang-orang berlarian untuk menyelamatkan namja didepan sana, mereka panik, semua orang disana terlihat panik.

Tiba-tiba saja Ahri merasa asing, apakah ini hanya mimpi buruk saja ? bukankah Luhan bilang, ia akan ada tepat di depannya saat hitungan ke tiga puluh?Bahkan Ahri belum menghitung sampai kesana. Ah benar.. yang harus ia lakukan hanyalah menuntaskan hitungannya dan namja itu akan ada didepannya. Bukan begitu ?

Ahri terdiam sejenak, sepertinya ia sudah tidak bisa berpikir lagi. Terlalu sulit untuk membedakan dunia nyata dan mimpinya. Ia berusaha keras untuk menghembuskan nafasnya dan berkata dengan bibirnya yang terus bergetar

“tiga..puluh”

Ahri kembali terdiam dan mengulang katanya

“tiga.. puluh”

Kenapa Luhannya tidak juga datang menghampirinya ? Kenapa ia tidak melihat namja itu berdiri tepat didepannya? Kenapa ?

“Kau berbohong ge… kau bohong”

Ahri terjatuh dan terduduk dijalanan begitu saja, air mata kali ini benar-benar membanjiri wajahnya. Samar-samar terdengar suara sirine dan tak jauh darisana, mobil ambulan segera datang. Ahri ingin melihat Luhan, tapi seluruh tenaganya telah hilang, bahkan hanya untuk berjalan kedepan sana, ia tidak bisa, ia merasa lemah dan tak berdaya. Apakah ia juga mendadak kehilangan caranya bernafas ? Karena sedari tadi ia benar-benar merasa sesak

“Nona.. gwenchana?”

“Nona”
Seseorang berkata pada Ahri, namun gadis itu hanya menangis, terus menangis dan menangis.

Mari kita lihat, apa yang direncanakan takdir kali ini ?

-to be continue-

One thought on “One-Sided Love (Part 13)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s