One-Sided Love (Part 14)

picanta_psd820775_by_picanta-d7ke1w0

Length : Chaptered
Rating : T
Genre : Romance, Drama
Author : yhupuulievya
Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Choi Ahri, Song Hera, and many more
Disclaimers : This Fanfiction is absolutely mine but the cast belong to themselves. Don’t ever plagiarize it.
Note : If you have some questions, feel free to mention me at @yhupuulievyaa

Apakah kau pernah berfikir, mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang salah?
Karena, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin jatuh cinta.
Hati, keinginan dan logika memang sering tak sejalan. Lalu mengapa Tuhan mempertemukanmu dengannya?
Tentu saja, Karena Tuhan mempunyai rencana lain yang tak pernah kau ketahui.
Everything happens for reason, right?

Hallo, maaf atas keterlambatan posting yang super sekali, tadinya aku ga bakal lanjut karena udah keburu end di blog pribadi. Tapi akhirnya aku mutusin buat ngepost sampai end juga disini.

Chapter sebelumnya bisa baca disini : 13 |12 |11 | 10 | 9 | 8 | 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 |

**

CHAPTER 14
(The one who’s gone)

 

Paris, Springtime

10.00 PM

Disebuah apartemen mewah berdiri seorang namja dengan segelas wine ditangan kanannya, ia beberapa kali meneguk cairan itu sambil mengamati kota Paris dimalam hari. Orang-orang berlalu lalang diluar sana, lampu-lampu kota sedari tadi sudah menyala untuk menghiasi kota yang gemerlap ini.

Namja itu, Kai.. menaruh gelas yang ia genggam di pinggir meja sebelum melepaskan dasi hitam yang ia kenakan dan membuka beberapa kancing kemejanya. Ia merebahkan diri disofa berusaha untuk mengusir rasa lelahnya akibat atifitas yang super padat. Ia menatap langit-langit dengan lekat, dalam situasi seperti ini pikirannya selalu melayang jauh entah kemana.

Asing.. walau indah kota ini terasa asing, ia merindukan Seoul, merindukan masa-masa Sekolahnya, merindukan sahabat-sahabatnya, namun yang paling membuatnya tersiksa adalah Ahri, Ia benar-benar merindukan gadis itu.

Bagaimana kabarnya? apakah ia baik-baik saja? Apakah ia tidak bertindak ceroboh? Apakah ia belajar dengan baik? Sejuta pertanyaan menghampiri otaknya dalam waktu yang bersamaan. Kai berusaha menahan diri sejak beberapa bulan terakhir ini, saat kepindahannya ke Paris, ia memang berusaha menghindari gadis itu, sengaja tak menghubunginya walau sekedar untuk menanyakan kabar. Bukan.. bukan karena ia terlalu sibuk,hanya saja ia tahu, jika ia menghubungi Ahri dan mendengar suara gadis itu, ia berani bertaruh .. ia pasti akan langsung terbang ke Seoul saat itu juga. Ini konyol memang, namun sedari dulu gadis itu selalu memberikan efek yang luar biasa padanya dan  kadang hal itu membuat Kai merasa bersalah, karena dalam pikirannya sempat terbesit keinginan untuk merebut gadis itu dari Luhan.

Kai memejamkan mata. Hari demi hari, ia malah semakin jatuh cinta pada gadis itu, jarak diantara mereka bukan membuatnya melupakan Ahri, namun malah membuat rasa rindunya semakin menggebu. Sial.. jika sudah begini ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, pertahanannya runtuh dan tanpa pikir panjang ia mengeluarkan handphonenya untuk segera menghubungi Ahri. Hendak ditekannya tombol dial, namun satu panggilan masuk menghentikan aktifitasnya.

Sehun

Uname sahabatnya tertera dengan jelas dilayar ponselnya, tak biasanya namja itu menelepon malam-malam

“Yeobseo?” Kai segera melontarkan sapaannya begitu ia menekan tombol jawab, dan dari sebrang sana terdengar suara Sehun yang terkesan panik, sangat panik.

“Luhan……”

Deg…

Begitu nama sahabatnya keluar dari mulut Sehun, entah kenapa malah firasat buruklah yang melintas dipikiran Kai.

“Kecelakaan”

Seolah mengamini dugaannya barusan, apa yang ia khawatirkan ternyat benar-benar terjadi dan lebih parah lagi, kalimat Sehun selanjutnya, sontak membuatnya berkeringat dingin

“Dan kondisinya kritis, dokter bilang kesempatannya untuk..”

Tututut.. panggilan itu segera di putus oleh Kai, tanpa pikir panjang ia segera menghambur ke kamar dan bersiap untuk terbang ke Seoul malam ini juga.

***

Rumah Sakit, Seoul

10.30 AM

Hari sudah siang saat Kai menapaki jalanan yang dihiasi guguran bunga cherry blossom. Perjalanan Paris-Seoul  yang memakan waktu sekitar 12 jam, membuatnya datang lebih terlambat dari yang lainnya. Hari ini matahari menghilang entah kemana, seolah benar-benar memahami perasaannya.

Pikiran Kai mendadak kosong saat dilihatnya kerumunan orang-orang dengan beberapa karangan bunga ditangannya. Beberapa orang mengenakan pakaian formal sebar hitam-hitam. Tak jauh dari sana Ahri menangis tersedu dengan Chanyeol dan Sehun yang berdiri tak jauh darinya.

Sehun menyadari kehadiran Kai saat namja itu menoleh kearahnya. Namja itu menggelang tanpa semangat dengan sorot mata yang lemah dan Kai paham betul apa maksud dari semua ini, maka beberapa detik kemudian tenggorokan Kai seakan tersekat dan langkahnya seolah tertahan. Tidak.. ia tidak ingin berada disini, Paris jauh lebih baik, walau kota itu terasa asing setidaknya ia tak harus berhadapan dengan kenyataan yang bahkan sampai saat ini terasa seperti mimpi buruk. Ini mimpi kan ? atau ini hanya gurauan semata? Tidak mungkin sahabatnya pergi secepat ini, bahkan mereka belum sempat bertemu untuk terakhir kalinya. Ka iingin lari dan menghindar dari semua hal yang tak pernah ia harapkan ini, sungguh… tapi saat melihat betapa rapuhnya gadis didepan sana, ia sadar..setidaknya ia harus kuat untuk Ahri, agar ia mampu menjadi sandaran untuk gadis itu saat ini.

“Ahri..”

Suara rendahnya membuat Ahri memalingkan wajahnya, Kai terkesiap, iya yakin kalau gadis itu pasti menangis semalaman karena matanya yang bengkak terlihat begitu jelas. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya gadis itu menghambur dan memeluk Kai dengan erat, terlalu erat seolah ia menyalurkan rasa sakitnya disana. Kai mengusap rambut Ahri pelan, tak tahu kata apa yang paling tepat untuk ia ucapkan saat ini. Oleh karena itu mereka sama-sama diam, saling mengerti akan luka yang sama-sama mereka rasakan sekarang.

***

Ahri’s mansion

09:00 PM

Kai duduk disamping Ahri sambil sesekali menatap gadis itu. Selama belasan jam ini mereka hanya duduk tanpa melakukan apapun. Pemakaman Luhan dilaksanakan tiga hari yang lalu dan sejak saat itu Ahri berubah seperti ini, diam dan melamun.

Kai menghela nafas, sorot matanya dengan jelas memancarkan kekhawatiran yang amat kapanpun pandangannya beralih menatap Ahri. Gadis itu terlihat sangat terpuruk dan Kai membenci dirinya karena ia tak bisa mengurangi kesedihan gadis itu walau sesaat.

“Kai…”

Entah apa yang membuat Ahri membuka suara, namun sedikitnya itu membuat Kai mengurangi kadar kecemasannya.

“Hmm?”

“Apa kau merindukannya?”

Kai mengerjapkan matanya dan menjawab

“Sangat..Kau?”

Ahri menoleh dan mengangguk

“Aku juga..”

“Saat ulang tahunku dia bilang bahwa setelah lulus nanti, dia akan menjemputku dan kita akan tinggal  bersama di Paris, tapi kenapa dia malah meninggalkanku seperti ini, Kai?”

Kaihanya bisa terdiam, ia sama sekali tak punya jawaban untuk pertanyaan Ahri saat ini

“Bahkan aku akan lulus beberapa bulan lagi dan dia…” Ahri menghentikan kalimatnya

“Rasanya takdir benar-benar mempermainkanku” imbuhnya

Ahri yang semula duduk sambil tertunduk dan memeluk lututnya, kini ia mengambil MP3 yang tergeletak didepannya lalu memutar sebuah lagu dan memasangkan satu headset ditelinga kanannya dan memasangkan sebelahnya lagi ditelinga Kai, berbagi sebuah lagu

“Aku selalu ingat bahwa Luhan ge benar-benar menyukai lagu ini”

Kai mengangguk pelan dan Ahri menyandarkan kepalanya di bahu namja itu. Ia menutup matanya dan mulai terlelap setelah beberapa hari ini tak tidur sama sekali. Kai terdiam sesaat lalu mengusap rambut Ahri, pelan.

***

Seorang gadis sedikit melangkahkan kaki kanannya yang gemetar sedari tadi dan menahan nafas untuk sesaat. Angin sore berhembus begitu tenang dan menerbangkan dedaunan yang mulai terlihat berwarna coklat keemasan.

Ah, musim gugur rupanya. Ia menghirup udara kota Seoul yang sudah begitu familiar. Oh.. sepertinya ia akan merindukan ini, gedung-gedung pencakar langit, kota Seoul yang gemerlap, udara yang dihirupnya, teman-teman sekolahnya dan orang-orang lainnya yang begitu ia cintai. Sayangnnya, rasa rindunya pada seseorang membuat semua hal itu seolah tak berarti. Tak berarti sehingga bisa ia lepaskan begitu saja.

Gadis itu melihat kebawah dan tersenyum kecut. Bagaimana bisa dalam situasi seperti ini ia masih membiarkan rasa takut menyeruak, pikirnya. Tapi berdiri disini, rasanya seperti berdiri diantara kehidupan dan kematian. Ah, bukankah itu memang kenyataanya?

Ia tertegun sejenak. Ini mungkin keputusan terbodoh yang pernah diambilnya, namun mempertahankan kehidupannya saat ini juga bukan sebuah ide yang bagus. Jika harus jujur, Orangtua yang selama ini ia banggakanpun selalu terasa seperti orang asing. Pekerjaan adalah prioritas utama mereka dan mungkin ia sama sekali tak termasuk dalam list hal-hal penting dalam kehidupan mereka. Namun itu tak benar-benar membuatnya frustasi, karena disisi lain, seseorang selalu ada disana untuknya, itu mengapa saat orang itu tak ada lagi, iapun kehilangan alasan untuk hidup

Entahlah, apakah ia benar-benar ingin mengakhiri semuanya? yang ia tahu, saat melompat nanti, mungkin kakinya akan lumpuh, badannya akan remuk seketika dan tangannya akan patah. Namun, semua rasa sakitnya juga akan lenyap saat itu juga. Cukup adil.

Orang-orang terlahir didunia ini atas kehendak Tuhan dan terlepas dari bagaimana akhir dari riwayat mereka… tetap saja, mereka akan kembali kepada-Nya.

Gadis itu terdiam sesaat lalu menutup mata. Siklus kehidupan selalu seperti itu. Ia membiarkan angin malam yang berhembus sekali lagi menerpa wajahnya, ya … untuk terakhir kalinya

“Goodbye Seoul”

***

Kai’s mansion

05 PM

Kai merebahkan tubuhnya disofa saat ponsel yang berada dalam genggamannya berdering.

Umma Han

Saat nama itu terpampang dilayar ponselnya, Kai sedikit mengerutkan dahinya.

“Yeobseo?”

“Oh Kai.. apa kau sedang bersama Ahri?” Tanya Nyonya Han tanpa basa-basi dan Kai terdiam sejenak

“Umma berencana untuk menemaninya beberapa hari kedepan tapi Ahri tidak ada dirumah. Apa dia disana?”

Keringat dingin mulai membasahi dahi Kai, namun ia memilih untuk tetap menahan rasa paniknya yang mulai timbul

“ Tapi..” Ia menelan ludah

“Tadi pagi Ahri bilang ia akan pergi kesana dan tinggal bersama Umma Han setidaknya untuk seminggu ini. Apa dia belum sampai?” Kai balik bertanya

“Tadi pagi?” Suara Nyonya Han tampak mulai bergetar

“Seharusnya dia sudah ada disini sejak berjam-jam yang lalu tapi Umma tidak melihatnya sampai sekarang”

~Deg

Kai sudah tidak bisa bertahan lagi, kekhawatiran sudah benar-benar memenuhi dirinya

“Umma, aku akan meneleponmu lagi nanti, aku harus menemukan Ahri terlebih dahulu”

***

Ahri terus menatap ke bawah sana, gaun merah marunnya melambai-lambai tertiup angin musim gugur. Suasana sekolah sudah benar-benar sepi, atau mungkin karena sekarang ia berada di sebuah atap sekolah yang sudah lama tak terpakai. Semburat senja menghiasi kanvas langit, Matahari sudah mulai meredup dan dedaunan yang gugur hanyalah satu-satunya teman disana. Benar-benar hari yang sepi. Ahri melepaskan pegangannya pada tiang pembatas dan sepatu yang ia kenakan terlepas begitu saja sehingga langsung terjatuh kelantai dasar. Ia menutup mata dan untuk terakhir kalinya ia berkata

“Goodbye Seoul”

Tepat saat ia hendak benar-benar melepaskan pegangannya pada tiang pembatas, saat itu pula suara yang begitu familiar tertangkap indra pendengarannya

“AHRI!”

Teriakan Kai membuatnya membuka mata dan melihat kebelakang, namja itu sepertinya habis berlari mengingat nafasnya terdengar begitu memburu.

“Jangan lakukan itu, kemarilah” Kai berusaha mendekat dan mengulurkan tangannya namun Ahri segera menghentikannya

“Jangan mendekat Kai..” Bersamaan dengan itu, Kai menghentikan langkahnya, ia tahu, tidak akan mudah untuk membuat Ahri mengurungkan niatnya begitu saja dan ia harus berfikir cepat untuk menemukan jawaban yang paling tepat.

“Dengar Ahri…” Kai mulai membuka suaranya lagi

“Aku tahu kau sedih, aku juga merasakan apa yang kaurasakan. Semua orang merasa kehilangan Ahri.. tapi hal ini tidak akan membuatnya kembali. Kau tahu? Dia pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini”

“Kau tidak mengerti Kai…” Ahri mulai meneteskan air matanya

“Hidupku tidak akan sama lagi tanpa Luhan. Kau…”

“Apa kau pikir hidupku juga akan sama dan baik-baik saja jika kau melompat nanti ? Aku tahu apa yang kau maksud Ahri karena aku tahu benar bahwa aku akan hancur jika kau melakukan itu. Sekarang siapa yang egois? Kau ingin mengakhiri semuannya? Lalu bagaimana denganku ? Umma Han ? Chanyeol dan Sehun ? Apa kau tidak pernah memikirkan kami ? Kita semua merasa kehilangan Ahri, meski aku maupun Umma Han memberikan kesan yang berbeda untukmu tapi kami peduli padamu. Luhan tak ada lagi, tapi aku masih ada disini. Apa kau tak yakin padaku? Apa kau tak mau bersandar padaku?”

Kai terus mengamati ekspresi Ahri, tetap siaga bila nanti ia tak berhasil meyakinkan gadis itu.

“Dengar.. semua ini memang berat Ahri, tidak hanya untukmu tapi untukku juga, untuk semua orang.. kehilangan seseorang adalah hal yang berat untuk dilalui dan kita tidak bisa hidup seperti sebelumnya karena semua butuh proses, segala hal didunia ini butuh waktu Ahri dan kita akan baik-baik saja nanti. Percayalah.. semua orang disini peduli padamu”

“Aku mohon, hentikan semua ini. Berikan aku kesempatan dan kau bisa mengandalkanku dalam segala hal… demi Tuhan Ahri, kau tak sendiri!”

Kai melangkahkan kakinya perlahan,gadis itu tak  bergeming, mungkin masih memikirkan segala hal yang ia ucapkan tadi. Tapi ia melihat ada harapan barudalam sorot matanya.

“Berikan tanganmu padaku dan kita akan pulang. Aku berjanji, kau akan baik-baik saja. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu senndiri. Catat itu”

Kai mengulurkan tangannya lagi. Ahri menatapnya lekat, segala hal yang namja itu katakan adalah kebenaran. Ekspresi wajahnya berkata demikian, oleh karena itu Ahri mulai mengulurkan tangannya perlahan, menyambut uluran tangan Kai dengan ragu dan dalam sekali tarikan,untuk sepersekian detik gadis itu sudah ada dalam pelukannya.

“Good girl” Kai berbisik ditelingannya dan mengusap rambut Ahri pelan, beberapa detik kemudian namja itu mengeratkan pelukkannya, seolah ia tak ingin membiarkan gadis itu pergi lagi.

Ahri hanya menatap kosong kedepan, kakinya masih gemetar karena hal yang hampir ia lakukan tadi. Kemudian ia tersadar beberapa saat kemudian, saat Kai melepaskan pelukannya

“Kau tidak akan melakukannya lagi, kan? Berjanjilah Ahri”

Suara namja itu begitu lembut, tapi Ahri menangkap sebuah ekspresi yang berbeda darinya, tatapan namja itu membuatnya sadarakan suatu hal yang membuatnya bertanya setelah itu

“Kenapa kau peduli padaku, Kai?” ucapnya

“Tentu saja.. karena kita sahabat Ahri..dan sahabat bisa saling mengandalkan”

Ahri menggelang lemah, tidak.. jika namja itu menganggapnya sahabat, tak seharusnya ia memberikan tatapan seperti itu. Tatapan seorang sahabat adalah tatapan yang selalu Sehun dan Chanyeol berikan untukknya dan tatapan Kai adalah tatapan yang selalu terpancar dari mata Luhan. Entah apa yang sedang terjadi, tapi Ahri bisa dengan mudah membaca perasaan Kai lewat sorot matanya, dengan kembali mengingat perlakuan namja itu akhir-akhir ini rasanya sikap Kai terlalu protektif untuk ukuran seorang sahabat. Ya Tuhan.. kenapa ia baru menyadarinya sekarang?

Kai terdiam, mencoba untuk mengartikan segala gelagat Ahri yang tiba-tiba berubah dan sekarang ia menyadarinya. Kai tersenyum lemah, senyuman frustasi karena ia tak bisa lagi mengelak.

“Apa semuanya terbaca begitu jelas? Perasaannku?”

Ahri mengerutkan dahi

“Sejak kapan?”

Kai tak langsung menjawab

“Saat aku pertama kali melihatmu disuatu pesta di New York. Sekitar enam tahun yang lalu dan sejak saat itu, selama aku mengenalmu aku mencintaimu” Kai mengatakan semuannya tapi nada suaranya terdengar rapuh.

Ahri terdiam. Semua hala ini terasa begitu salah. Tak seharusnya segala hal tiba-tiba berubah seperti ini. Mereka berdua berdiri dalam diam, Sinar matahari yang terbenam masuk menyelinap melalui jendela kaca gedung sekolah, kemudian hari menjadi gelap.

Ahri menggelang

“Tidak.. seharusnya kau tidak mengatakan itu”

Raut wajah Kai berubah, ekpresi terluka muncul beberapa detik lalu ditutupinya dengan cepat. Kai melangkah maju untuk menyentuh Ahri, namun gadis itu menghindar, membuat tangannya menggapai udara kosong.

Gadis itu berlari, menuruni tangga sambil melompati dua tangga sekaligus dan tak menghiraukan Kai yang memanggil-manggil namanya, mencoba mengejarnya.

Ahri terus berlari, entah mengapa ia tak bisa berpikir dengan benar untuk saat ini. Suasana hatinya dari beberapa hari yang lalu sudah terlampau kacau. Warna-warna di sekitar berubah kabur saat air matanya kembali berlinang. Ia melintasi jalan raya dan saat itu pula bunyi klakson yang keras memekakan telinganya, setelah itu sesuatu yang keras menghantam tubuhnya. Semuanya menjadi hitam dan gelap.

***

Rumah Sakit, Seoul

11:PM

Kai menatap dingding-dingding yang dicat putih, koridor Rumah Sakit memang tampak lebih sepi malam ini, tapi setidaknya tak ada kegaduhan yang akan memperburuk suasana hatinya.

Ia menunggu Ahri, tetap menunggu gadi situ dengan setumpuk perasaan bersalahnnya. Karenannya, gadis itu mendapat kecelakaan tadi dan ia tak akan memaafkan dirinya seumur hidup jika sesuatu yang lebih buruk terjadi kelak.

Kai mengalihkan tatapannya kearah lain, ia sama sekali belum memberitahu siapapun akan hal ini. Namja itu belum menemukan penjelasan yang tepat untuk ia katakan pada orang-orang nanti. Mengatakan bahwa Ahri mencoba bunuh diri tadi sore adalah hal yang tak akan pernah ia lakukan, biarlah semua itu menjadi hal yang hanya ia ketahui. Oleh karena itu, ia berbohong pada Nyonya Han.. mengatakan bahwa Ahri tengah bersamannya dan semuannya baik-baik saja. Saat ia ingin menemui Ahri, Kai mengatakan bahwa gadis itu ingin beristirahat untuk saat ini, ya.. dia merasa bersalah untuk berbohong seperti itu pada Nyonya Han tapi hal ini terlalu rumit untuk dijelaskan. Ia akan mengurusnya nanti.

Kai menghembuskan nafas dan mengacak rambutnya frustasi. Jika saja ia tak mengatakan perasaannya secara gamblang, mungkin ceritanya akan berbeda, Ahri pasti tak akan mengalami kecelakaan seperti ini, tapi ia tak punya jalan untuk kembali maupun berbohong, gadis itu terlanjur mengetahui perasaanya.

Berbicara tentang perasaan, ia ingat betul bahwa dulu ia hanya bisa memandang Ahri diam-diam, mencuri pandang saat gadis itu ada disampingnya, menemani gadis itu saat ia merasa kesepian, meminjamkan bahunya saat ia menangis, menjadi sandarannya saat ia kecewa akan Luhan yang lebih mementingkan Hera.

Memori dan kenangan-kenangandi masa lalu kini kembali terekam dalam pikiran Kai. Ia ingat bahwa ia selalu mendengarkan cerita-cerita Ahri dengan setia, walau kebanyakan cerita itu mengenai dirinya yang amat mencintai Luhan. Masih banyak lagi ? tentu saja .. hal lainnya yang ia lakukan adalah datang disaat Ahri membutuhkannya, menemaninya jalan-jalan,menuruti segala keinginannya, menyelamatkannya dari bahaya, menolongnya saat ia terkena alergi, membelikannya sepatu secara diam-diam, namun yang paling sulit adalah melepaskan dan melihatnya bahagia dengan orang lain. Walau banyak hal yang ia korbankan, pada akhirnya gadis itu tetaplah milik sahabatnya.

Itu benar-benar lucu, bagaimana takdir bisa memainkan hidup seseorang dengan mudah. Saat pertama kali ia melihat gadis itu di pesta dansa di New York, ia jatuh cinta dan beberapa saat kemudian,ia merasa bahagia saat mengetahui bahwa gadis yang hendak dijodohkan padanya adalah gadis yang sama. Namun malam itu, karena ia lebih menghargai persahabatannya denganLuhan, ia absen dari pertemuan yang sangat ia harapkan itu, membuatnya kehilangan kesempatan untuk bersama Ahri. Dan kau tahu apa yang paling lucu ? Dua tahun kemudian Tuhan membiarkan mereka kembali bertemu hanya untuk mengetahui bahwa gadis itu berstatus sebagai tunangan Luhan dan saat ia hampir merelakan semuannya.. takdir kembali mengubah alur kehidupan mereka dengan membawa Luhan bersamannya, meninggalkan gadis itu dalam keterpurukan.

Ia kadang tak mengerti dengan rencana Tuhan, yang ia tahu.. ia harap Luhan masih ada disini agar gadis itu bisa menjadi ‘Ahri’ yang seharusnya, ia rela.. sangat rela untuk melihat gadis itu bahagia dengan sahabatnya, Karena ia tahu, meski kini ia ada disamping Ahri, hatinya telah ia berikan pada Luhan sejak beberapa tahun yang lalu. Itu benar.. dari awal Kai sudah terlambat, ia tak pernah punya kesempatan.

“Tuan Kai?”

Suara seseorang membuayarkan lamunan Kai, dengan sigap ia langsung menghampiri suster yang berdiri tak jauh darinya. Siap tak siap, ia harus berusaha untuk tetap tegar walau ia tak tahu, kabar baik atau burukkah yang hendak ia dengar?

“Nona Ahri sudah sadarkan diri, kau bisa berbicara padanya untuk beberapa saat karena setelah itu ia harus kembali beristirahat”

Kai mengangguk pelan, setidaknya kini ia bisa bernafas lega

“Tapi….”

Kai kembali menatap suster yang berdiri didepannya, menuggu kata-kata selanjutnya

“Ia kehilangan ingatannya”

***

Kai berjalan menghampiri Ahri dengan langkahnya yang  pelan.Tak tahu apakah ia harus bersyukur karena Ahri masih hidup atau merutuki kenyataan bahwa gadis itu kehilangan ingatannya? Entahlah… perasaannya saat ini terasa begitu komplex. Segala hal terjadi dalam waktu yang bersamaan dan membuatnya begitu tak karuan.

“Hai…” Kai menghampiri Ahri, lalu duduk disamping gadis itu

“Merasa lebih baik?” Kai terus berbicara walau ia tau apa yang terjadi.

Ahri diam untuk sesaat, kemudian matanya menelusuri dan mengamati Kai, berusaha mengingat sesuatu walau pada akhirnya nihil. Tak ada yang ia ingat.

Belum juga menjawab pertanyaan namja itu, Ahri mengedarkan pandangannya kesegala arah,menunggu kehadiran orang lain jika memang ada namun sedari tadi, yang ada disini hanyalah ia dan namja yang duduk disampingnya. Setelah itu Ahri kembali menatap Kai, raut wajahnya terlihat bingung untuk sesaat, namun senyuman lembut terpatri dibibirnya. Membuat Kai bingung.

“Apa kau kekasihku?”

Kalimat pertama yang Ahri lontarkan, sontak membuat Kai membeku dalam sekejap

***

 Kai mengeluarkan ponselnya dan segera mendial nomor Chanyeol. Untuk sesaat ia mungkin terkesan ragu, namun sejak beberapa waktu yang lalu ia sudah memutuskan untuk melakukan hal yang mungkin terlalu mengambil resiko.

Ia sudah lelah melihat Ahri yang lebih terlihat seperti mayat hidup, ia terluka saat melihat gadis itu begitu terpuruk dan sekarang saat ingatan gadis itu hilang, bukankah itu adalah waktu yang tepat untuk menghapus kesedihannya ? Kai bisa memberikannya kehidupan baru. Mereka bisa pergi dari Seoul lalu memulai hidup di Negara lain denga nidentitas dan lembaran baru. Ingatan Ahri bisa kembali kapanpun, tapi untuk sesaat, ia ingin menghapus semua penderitaannya dan ia memerlukan bantuan Chanyeol. Seperti yang ia duga sebelumnya, sahabatnya tanpa pikir panjang langsung menolak permintaannya.

“Kau gila, Kai? Itu terlalu beresiko! Kau tidak mungkin membawanya begitu saja dan aku tak akan membiarkanmu mengacaukan kehidupanmu lagi. Bukankah kau bilang, ayahmu ingin kau serius dengan kuliahmu di Paris? Dan itu adalah kesempatan terakhir yang ia berikan padamu. Jangan menyianyiakannya dan bawa Ahri kembali lalu beritahu keluargannya”

“Kau tidak mengerti Yeol.. Aku akan tetap membawanya bersamaku”

“Tsh…” Suara frustasi Chanyeol terdengar di ujung telepon sana.

“Lalu apa yang akan kau katakan pada keluargannya nanti? Pada Umma Han?”

“ oleh karena itu, aku memerlukan bantuanmu Yeol”

“Katakan bahwa Ahri pergi ke Paris bersamaku untuk melihat apartemen Luhan atau …..”

“Bantu aku Yeol…” Ulangnnya

“Katakan bahwa Ahri akan tinggal disana beberapa waktu untuk menenangkan pikirannya”

“Lalu?” tanya Chanyeol

“Carikan aku tempat di Jepang, urusan ayah dan keluarga Ahri.. aku akan mengurusnya nanti. Kau hanya perlu melakukan apa yang aku minta tanpa memberitahu siapapun”

Hening

Chanyeol tak langsung menjawab

“Kau tau kan bahwa kebohonganmu tidak akan selamanya tertutupi? Ingatan Ahri bisa pulih kapanpun dan..”

“Aku tahu Yeol.. aku sudah memikirkan itu semua. Kehidupanku, kehidupannya, dan segala resiko.. aku sudah memikirkannya. Aku hanya ingin mengembalikan Ahri yang dulu. Melihatnya hancur seperti itu benar-benar membuat hatiku sakit. Apa kau tak mengerti Yeol?”

‘Baiklah’ adalah kalimat yang diucapkan Yeol setelah itu dan Kai tahu, pada akhirnya anak itu memang selalu bisa diandalkan. Ia tersenyum pelan. Kai memang tak akan pernah bisa memprediksi apa yang akan terjadi di kemudian hari, tapi ia sudah mengambil keputusan dengan segala resikonnya dan ia tak akan mengubahnya. Apapun akan ia lakukan untuk Ahri. Itu mungkin terdengar konyol, tapi siapapun pasti bersedia bertindak bodoh untuk orang yang dicintainya. Kai tidak gila, ia hanya terlalu mencintai seseorang

 -to be continue-

2 thoughts on “One-Sided Love (Part 14)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s