One-Sided Love (Part 15)

OSL3

Length : Chaptered
Rating : T
Genre : Romance, Drama
Author : yhupuulievya
Cast : Xi Luhan, Kim Jongin, Choi Ahri, Song Hera, and many more
Disclaimers : This Fanfiction is absolutely mine but the cast belong to themselves. Don’t ever plagiarize it.
Note : If you have some questions, feel free to mention me at @yhupuulievyaa

Apakah kau pernah berfikir, mengapa kita sering jatuh cinta pada orang yang salah?
Karena, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita ingin jatuh cinta.
Hati, keinginan dan logika memang sering tak sejalan. Lalu mengapa Tuhan mempertemukanmu dengannya?
Tentu saja, Karena Tuhan mempunyai rencana lain yang tak pernah kau ketahui.
Everything happens for reason, right?

Hallo, maaf atas keterlambatan posting yang super sekali, tadinya aku ga bakal lanjut karena udah keburu end di blog pribadi. Tapi akhirnya aku mutusin buat ngepost sampai end juga disini.

Chapter sebelumnya bisa baca disini : 14 | 13 |12 |11 | 10 | 9 | 8 | 7 | 6 | 5 | 4 | 3 | 2 | 1 |

**

CHAPTER 15
(New Life)

“Kita dimana?” Ahri mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan, mengamati setiap detail yang tertangkap indra penglihatannya. Gadis itu sepertinya menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya, maka selang beberapa waktu ia berjalan ke arah balcony yang langsung menghadap ke lautan luas yang begitu indah.

1555440_675440639145932_870532529_n

“Whoaaa daebak” Ahri begitu mengaggumi panorama yang tersaji didepannya. Kai tersenyum melihat gadis itu kini berubah dan bersikap seperti biasanya, walau ia tahu… Ahri kehilangan ingatannya.

“Apakah ini rumah kita?”Ahri kembali bertanya, mebuat Kai terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab

“Ah.. iya”

“Itu berarti kita menghabiskan hari-hari kita di tempat ini? Ini benar-benar menakjubkan, andai aku mengingat semuannya” Ahri kembali menatap lautan didepan sana, rambutnya tertiup angin yang berhembus cukup kencang, membuat wajah cantik gadis itu tertutupi beberapa helai rambutnya.

Kai berjalan menghampiri Ahri, ekspresinya sulit diartikan. Lalu saat ia berdiri tepat di samping gadis itu, Kai merapihkan rambut Ahri dan menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya tepat kesamping daun telinga gadis itu. Ahri tersenyum mendapati tingkah Kai.

“Apa kau menyukai tempat ini?” Kai kini menanyai pendapat Ahri

“Hn! Aku sangat menyukainya”

Ahri melingkarkan tangan kanannya kelengan Kai, membuat namja itu sedikit terkejut. Setelah itu, ia menyandarkan kepalanya dibahu Kai sebelum menutup mata. Menikmati udara yang berhembus begitu sejuk.

“Aku merasa tenang… dan nyaman”
Gadis itu kembali berucap dan Kai meliriknya sekilas. Andai saja waktu bisa berhenti untuk sesaat. Harapnya.

Kai mengenggam tangan Ahri yang melingkar dilengannya. Pandangannya tertuju ke depan sana. Hari yang indah, hari yang tenang, hari yang damai. Ia menutup mata. Rasanya nyaman berada disini, ia membiarkan dirinya menikmati kehidupan mereka saat ini, mencoba untuk sejenak melupakan lukanya.

Ia tahu semua ini tak akan berlangsung lama, suatu hari nanti Ahri pasti akan kembali mengingat semuannya dan ia belum tahu apa yang akan ia katakan nanti. Entahlah, alur hidup selalu memberikan ketidak pastian, seperti lautan lepas didepan sana. Namun ketika melihat bagaimana sebuah senyuman kembali terlukis di wajah Ahri, Kai rela untuk menghadapi apapun resiko yang akan datang nanti. Lagipula ia tak bisa kembali setelah melakukan segalanya setengah jalan seperti ini.

Mereka sudah terbang ke Jepang, meninggalkan Seoul yang penuh kenangan. Ia juga sudah membeli apartemen ini untuk mereka tinggal. Sebuah Apartemen di kota Fukuyama, sebuah kota yang terletak di ujung timur Hiroshima. Sebuah kawasan yang dipenuhi oleh pegunungan, pulau-pulau kecil, dan daratan disepanjang sungai dekat pantai. Keadaan alam yang terkurung lautan membuat iklim dan udara disini begitu sejuk. Ia sengaja memilih tempat yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang glamour. Karena ia tahu, mereka membutuhkan ketenangan untuk saat ini.

***

Kai menghidangkan bubur yang baru saja ia buat kedalam mangkuk cream yang ia letakan tak jauh dari sana. Asap yang mengepul menandakan bahwa bubur itu masih panas. Ia memang sengaja membuatnya untuk Ahri, gadis itu masih harus meminum obatnya.

~Grepp

Kai sedikit tersentak saat sepasang tangan melingkari perutnya. Setelah beberapa saat ia menyadari bahwa Ahri memeluknya dari belakang.

Kai tersenyum diam-diam.
“Kenapa kau tidak menunggu di ruang makan?”

“Aku bosan Kai, kau lama sekali”

Kai terkekeh mendegar suara Ahri yang lebih terdengar seperti rengekan.
“Nah, sekarang buburnya sudah selesai. Kajja!”

Ahri mengangguk pelan dan mengikuti langkah Kai. Mereka berjalan ke arah ruang makan dan segera duduk disana.

Kai mengamati ekspresi Ahri, sepertinya gadis itu ingin bertanya sesuatu.
“Apa kita hanya tinggal berdua Kai?”

“Hnnn” Kai mengiyakan pertanyaan Ahri, ia sudah menyiapakan berbagai jawaban untuk pertanyaan yang mungkin akan Ahri tanyakan nanti

“Apa orang tuaku benar-benar orang yang sangat sibuk Kai? sampai mereka tak mempunyai waktu sedikitpun untuk menemuiku?”

Kai tersenyum lembut sebelum menyendok bubur didepannya dan meniupnya pelan. Ia menjawab pertanyaan Ahri sebelum menyuapi gadis itu
“Apa kau merasa kesepian ? Kalau begitu aku akan menyewa beberapa maid nanti. Selain membantu pekerjaan rumah, mereka bisa menemanimu kalau kau merasa bosan”

“Ah tidak-tidak.. bukan begitu Kai, maksudku aku.. ingin menemui appa dan eomma”

Kai menatap Ahri lekat
“Baiklah.. aku akan mengantarmu, tapi mungkin mereka masih sibuk Ahri, so.. lain kali?” Kai bertanya lagi

“Tentu saja. Aku mengerti Kai” Ahri kini tersenyum tulus ke arah Kai, membuat laki-laki itu semakin berasalah. Walau bagaimanapun, ketika kau berbohong sekali, pasti akan ada kebohongan lainnya. Apa ia egois karena melakukan semua ini? Tapi ia hanya ingin melihat Ahri hidup bahagia, yahhh… walau untuk sesaat.

Kai kembali menyuapi gadis itu. Setelah selesai, ia menyodorkan beberapa obat yang harus diminumnya.
“Setelah ini, kau harus langsung tidur” Kai bergumam pelan saat Ahri meminum obatnya, lalu meneguk air putih itu dengan pelan.

“Arraseo! Dan aku sudah selesai” Jawab Ahri riang

“Hmm! Kajja!”

999944_10152050706013521_1003114043_n

Kai menuntun gadis itu untuk pergi kekamarnya. Sebuah kamar yang tak jauh dari ruangannya. Kamar ini bercat cream dengan gaya klasik yang modern namun yang paling penting, kamar ini langsung menghadap ke laut dan Ahri menyukainya.

Kai menutup tirai yang sesekali tertiup angin, lalu ia berjalan ke arah Ahri dan menarik selimut tebal berwarna gold sampai menutupi setengah tubuh Ahri
“Jaljayou”

Kai berucap pelan dan mematikan lampu tidur. Ia hendak bergegas untuk pergi ke kamarnya saat Ahri menarik tangannya, membuat ia berhenti dan berpaling menghadap gadis itu.

“Tidak ada Good night kiss?” Tanya Ahri malu-malu, walau ruang ini sudah gelap Kai masih bisa melihat ekspresi tersipunya.
Ia tahu, sesuatu seperti ini pasti akan terjadi karena sebuah kecupan selamat malam adalah hal yang mungkin biasa dilakukan sepasang kekasih dan ia melupakan hal itu.

Kai terdiam sejenak, bukan karena ia tak mau melakukannya hanya saja ia merasa berdosa untuk melakukan itu disaat Ahri kehilangan ingatannya. Ini seperti ia memanfaatkan situasi yang terjadi, tapi Kai bisa apa ? Ahri memintanya dan ia pasti akan merasa aneh maupun terluka jika saja Kai menolak.

Oleh karena itu, beberapa saat kemudian Kai menunduk dan mengecup dahi Ahri pelan. Ia sengaja tak memberikan kecupan selamat malam di bibir. Kai tersenyum lembut, tapi ia menangkap sebuah ekspresi ‘agak kecewa’ dari raut wajah Ahri. Kai tahu.. ia mengerti… dan memahami apa yang diharapkan gadis itu, tapi ia tak bisa berbuat lebih.. ia menghargai Ahri. Sangat menghargainnya…

***

Hari demi hari terus berlalu. Waktu berjalan terasa cepat, mungkin karena mereka menikmati kehidupannya saat ini. Ahri mempercayai segala hal yang Kai katakan tanpa berusaha untuk bertanya lebih lanjut dan semakin hari, entah mengapa Kai malah berharap agar ingatan gadis itu tak pernah kembali. Segala hal yang ia miliki saat ini terasa begitu sempurna, hingga membuatnya merasa takut. Takut untuk kehilangan segalanya dalam sekejap dan ia tak pernah bisa memprediksikan kapan hal ini akan terjadi.

Namun disisi lain, Ahripun merasakan hal yang sama karena ada satu hal yang menganggu pikirannya sampai saat ini. Kai… namja itu tidak benar-benar bersikap layaknya seorang kekasih. Namja itu… jangankan mengecupnya dibibir, mengucapkan “Saranghae” atau kata cinta lainnyapun tak pernah ia lakukan.

Ahri hanya memandang kosong pada layar TV yang sedari tadi ia biarkan menyala. Saat itu pula ia mendengar seseorang bertanya padanya.
“Kau kenapa?” Kai menghampirinya lalu duduk tepat disampingnya. Ahri hanya menggelang pelan, membuat Kai semakin bingung

“Kau tahu… kau bisa mengatakan apapun jika ada sesuatu yang menganggu pikiranmu” Kai berujar lagi

Ahri mengalihkan tatapannya pada manik mata Kai, ia ingin berucap hanya saja tak cukup berani untuk berbicara begitu gamblang, oleh karena itu ia hanya menjawab “tidak apa-apa”

“Kau payah dalam berbohong” Kai terkekeh begitu menggoda Ahri

“Aku tahu ada sesuatu yang ingin kau katakan” lanjutnya

Ahri kembali mengalihkan tatapannya, kini ia berfokus pada layar TV didepannya.
“Apa kau benar-benar mencintaiku?” tanyanya datar

Kai terdiam, setidaknya ia tahu kemana arah pembicaraan Ahri selanjutnnya.
“Aku mencintaimu Ahri”

“Tapi kau tidak pernah mengatakan itu” sanggahnya

“Aku mengatakannya sekarang..”

“Itu karena aku bertanya padamu”

Kai merutuki dirinya sendiri saat ia menangkap ekspresi sedih di raut wajah Ahri. Ia tak seharusnya membuat gadis itu ragu, hanya saja ia terlalu segan selama ini. Ia tak suka jika harus bertindak seolah ia memanfaatkan situasi Ahri, namun membuatnya sedih adalah hal yang Kai benci. Oleh karena itu Ia menarik tangan Ahri, membuat gadis itu kini menghadapnya.

Kai menatap dalam-dalam gadis didepannya sebelum akhirnya ia menyentuh pipi Ahri lalu menutup matanya. Beberapa saat kemudian, Ia mengecup bibir Ahri. Ia meyakinkan hatinya bahwa ini bukanlah sebuah tindakan yang memanfaatkan situasi gadis itu, melainkan sebuah tindakan yang menyalurkan isi hatinya. Ia tulus..

Ahri tersentak kaget, namun setelah beberapa saat ia menutup matanya dan membalas ciuman Kai. Andai saja laki-laki itu tahu bagaimana detak jantungnya berdegup tak karuan saat ini. Kakinya tiba-tiba terasa lemas namun ia merasakan jutaan kupu-kupu melayang, memberikan sensasi yang aneh namun menenangkan. Kai tidak akan pernah tahu bagaimana sentuhannya memberikan efek yang luar biasa pada Ahri.

Gadis itu bahagia.

Mereka bahagia….

***

Ahri membuka pintu kamar Kai secara perlahan, lalu mengendap-ngendap agar tak membangunkan namja itu. Ia merapihkan rambut Kai yang berantakan lalu menatap sosok yang kini tengah terlelap. Ahri tersenyum. Kai terlihat begitu tentram. Ia menunduk dan berbisik ditelinga Kai.

“I… Love… You” lalu terkekeh pelan.

Setelah itu, Ahri kembali menatap sosok namja didepannya dan tersenyum lagi
“Bangun Kai….”

“Ini sudah pukul 10 siang”

Ahri menggoyang-goyangkan tubuh Kai, namja itu tetap saja terlelap
“KAI!!!!”

Ahri mengambil bantal yang namja itu letakan disampingnya lalu memukul Kai dengan itu. Kai tetap saja terlelap membuat Ahri sedikit kesal.

Gadis itu hendak keluar dari kamar ini namun sepasang tangan menariknya, membuat ia terjatuh tepat keatas kasur milik Kai, lalu beberapa detik kemudian ia sudah berbaring disampingnya. Namja itu melingkarkan tangan dipinggangnya, memeluknya erat dari belakang.

“Aku sudah bangun…” Suaranya terdengar berbeda kapanpun namja itu baru bangun tidur, tapi Ahri menyukainya, sangat menyukainya

“Jadi selama ini kau hanya pura-pura, huh?” Ahri berbalik menghadap Kai, lalu memukulnya pelan saat namja itu tertawa

“Menyebalkan sekali!”

“Cepatlah mandi Kai, kau bilang hari ini aku boleh pergi keluar untuk jalan-jalan dan kau akan mengantarku. Cepatlah bersiap”

“10 menit lagi..”
Kai terus memeluk Ahri, lalu mendekatkan diri untuk menghirup aroma shampoo yang terkuar dari rambut gadis itu. Ia menyukainya. Dan saat-saat seperti ini adalah hal yang paling membahagiakan untuknya.

“No just no… aku sudah bersiap dari tadi Kai dan kau malah enak-enakan masih terlelap seperti ini..Nah, aku memberikanmu 15 menit untuk bersiap”

Oh Ahri baru saja menghancurkan momen bahagiannya dan Kai menatap gadis yang kini berjalan keluar kamarnya, namja itu baru menyadari sesuatu.. selama ini ia melarang Ahri untuk pergi kemanapun. Membuat gadis itu merasa bosan karena seharian berdiam diri dirumah. Ia selalu menggunakan alasan bahwa gadis itu belum benar-benar sembuh, namun alasan sebenarnya ialah.. ia tak mau gadis itu dikenal publik. Takut karena mungkin seseorang diluar sana mengenali Ahri lalu membawa gadis itu pergi dari kehidupannya. Kai menutup mata, kekhawatiran kini memenuhi pikirannya.

***

Ahri berjalan dengan semangat, ia melingkarkan lengannya di lengan Kai. Ia bahagaia karena pada akhirnya ia bisa menikmati udara bebas seperti ini dan Tokyo adalah tempat dimana mereka berada sekarang.

Beberapa jam yang lalu mereka berada di Chidorigafuchi, sebuah tempat yang pas untuk jalan-jalan. Sebuah parit dan sungai kecil terbentang cukup panjang disana. Mereka menikmati guguran bunga sakura sambil bergandengan tangan lalu menggunakan perahu untuk menyusuri parit dan menikmati keindahan alamnya.

Baiklah, itu adalah hal yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu dan sekarang mereka berdiri di gerbang Disneyland, Tokyo. Seperti Disneyland di negara lainnya, tempat wisata Tokyo yang satu ini juga menawarkan begitu banyak wahana bermain.

Saat mereka melangkahkan kakinya kedalam, Ahri terdiam. Sekilas bayangan yang tak begitu jelas melintas diotaknya. Kepalanya pusing
“Kau kenapa?” Kai bertanya khawatir begitu melihat Ahri hanya diam saja.

“Apa.. kita pernah ketempat ini sebelumnya?”
Kai terdiam mendapati pertanyaan Ahri, mereka pernah mengunjungi tempat semacam ini, dulu saat mereka berkunjung ke Lotte World, Seoul. Kai menghela nafas, rasa takut menyeruak di dalam hatinya. Tiba-tiba saja ia tak ingin ingatan Ahri kembali pulih.

“Kai?” Ahri kembali bertanya karena namja itu tak kunjung menjawab

“Tidak… kau kenapa?” Itulah kalimat yang akhirnya keluar dari mulut Kai, membuat Ahri menatapnya sekilas lalu menggelang lemah.

“Gwenchana.. kajja”
Ahri kembali mengenggam tangan Kai yang sempat ia lepaskan tadi dan mereka kini kembali berjalan untuk mulai mencoba berbagai wahana yang ada disana.

***

Tak terasa kini malam sudah tiba, warna hitam pekat sedari tadi sudah terlukis di kanvas langit, tapi itu tak membuat keadaan sekitar menjadi gulita mengingat bersamaan dengan menggelapnya hari, lampu-lampu kota mulai menyala terang.

Ahri tetap berjalan disamping Kai, kini mereka menyusuri jalanan di kawasan Ginza. Orang-orang terus berlalu lalang, mengingat banyak turis domestik maupun luar negeri yang berkunjung kepusat perbelanjaan ini. Intinya Ginza memang terkenal dengan produk-produk fashion dari beberapa merk terkenal di dunia.

Ahri kembali melirik namja disampingnya. Kai sedari tadi tampak lebih diam. Ia hanya mengucap sepatah atau dua patah kata. Entah mengapa… dan itu membuat Ahri khawatir kalau-kalau ia melakukan kesalahan yang membuat Kai kesal ataupun semacamnya.

“Kai…”

Namja itu menoleh dan menjawab
“Hmm ?”

“Apa kau baik-baik saja ? maksudku kalau kau sudah lelah.. kita pulang saja, aku tidak…”

“Tidak apa-apa” Kai membentuk senyuman di bibirnya

“Bukankah kau bilang ingin membeli beberapa pakaian dan tas baru? Kajja!”
Bersamaan dengan kalimat terakhirnya Kai meyakinkan gadis itu bahwa ia baik-baik saja dan mereka kembali menyusuri kawasan Ginza yang selalu ramai. Namun sedari tadi banyak hal yang menganggu pikirannya. Salah satunya adalah ia berharap agar tak ada satupun orang yang mengenalinya maupun Ahri di tempat ini. Semoga.

Kai terus berjalan dan tenggelam dengan pikiran-pikirannya. Tanpa sadar saat ia menoleh kesisinya, Ahri tak ada disana. Kai terkesiap.. pandangannya secara otomatis mencari sosok Ahri ditengah kerumanan orang yang berlalu-lalang. Panik… ia benar-benar panik saat ini. Gadis itu tak mengenal Tokyo.. ia kehilangan ingatannya dan Kai sangat khawatir begitu Ahri lepas dari pengawasannya.

“Shit!” Ia bergumam keras.

Kai kembali menyusuri jalanan yang tadi ia lalui, ia harus menemukan Ahri saat ini juga karena pikirannya sudah benar-benar kacau. Ia menengok ke arah kiri kanannya.. terus berusaha untuk menemukan sosok yang dicarinya. Dan saat suara lembut yang ia kenal memanggil namanya, Kai tanpa pikir panjang langsung berlari dan memeluknya erat.. sangat erat sampai ia membuat gadis itu hampir tak bisa bernafas

“Kai….” Ahri melepaskan pelukan namja itu

“KAU KEMANA SAJA? APA KAU TIDAK TAHU BAHWA AKU SANGAT MENGKHAWATIRKANMU? JANGAN PERGI SESUKA HATIMU, AHRI!” Kai tanpa sadar meninggikan suaranya membuat Ahri sedikit tercengang

“Maaf…..” Ahri menjawab dengan pelan

“Aku hanya membeli ini tadi..”

Ahri menunjukan sebuah phone-case couple berlatar Paris
“Aku tidak tahu kenapa tapi aku sangat tertarik saat melihat ini dan saat itu aku berpikir kau juga pasti akan menyukainya..”

Kai menatap Ahri lekat. Tak seharusnya ia membentak gadis itu tadi. Ia menyesal, sangat menyesal…. Oleh karena itu, beberapa saat kemudian ia menarik Ahri kedalama pelukannya.

“Maaf.. aku hanya takut kau meninggalkanku”

Ahri mengernyitkan dahi
“Aku tak akan pernah meninggalkanmu Kai…”

Setelah kata-kata terakhir Ahri, mereka berdua terdiam dalam heningnya masing-masing. Namun itu momen itu berakhir saat Kai kembali berkata.
“Jangan pernah melepaskan genggaman tanganku lagi Ahri…”

***

Pagi tadi hujan turun, membuat udara di Fukuyama lebih sejuk atau mungkin sedikit terasa dingin untuk sebagian orang. Ahri memandang lautan lepas dari kamarnya. Setelah kejadian di Ginza beberapa hari yang lalu, ia merasa sedikit aneh dengan sikap Kai yang bahkan sekarang sedikit berubah. Laki-laki itu sering terlihat melamun atau mungkin memikirkan sesuatu. Itu membuat Ahri bingung.

Deburan ombak yang cukup keras menyadarkan Ahri, ia kembali menatap kedepan sana. Aneh.. Ia tiba-tiba saja merasa asing dengan tempat ini. Walau terasa nyaman, Fukuyama seperti bukan rumahnya, seperti bukan tempat dimana ia seharusnya berada. Ia sama sekali tak mengerti apa yang tengah terjadi, apalagi akhir-akhir ini ia sering memimpikan seorang anak laki-laki yang tak ia kenal.

Ahri menutup matanya. Entah mengapa secara tiba-tiba pula ia ingin keluar dari ruang lingkup hidupnya saat ini. Ia tidak ingin berada di Fukuyama, oleh karena itu saat Kai menghampirinya ia mengatakan sebuah kebohongan

“Aku tidak enak badan Kai..”

Wajah namja itu berubah panik, Ia tahu Kai mulai khawatir
“Apa ada yang sakit ? apa kepalamu pusing ?”

Ahri mengangguk

“Kalau begitu ayo kita pergi ke dokter”
Saat namja itu menarik tangan Ahri, ia menolak…

“Bukankah kau bilang ada sesuatu yang harus kau urus? Aku bisa pergi dengan Bibi Yun”

‘Tapi…”

“Aku tidak apa-apa Kai, percayalah.. aku akan baik-baik saja, lagipula bibi Yun pergi bersamaku”

Butuh beberapa saat sampai Kai mengatakan ‘baiklah’ dan tepat saat itu pula Ahri merasa bersalah telah membohongi Kai.
Gadis itu tidak merasa pusing sama sekali, ia hanya merasa ingin sejenak pergi dan keluar dari rutinitasnya yang setiap hari hanya berdiam diri dirumah. Ia tahu bahwa ia tak benar-benar mengenal berbagai kawasan dan wilayah di Jepang. Tapi ia masih mengingat daerah-daerah di Tokyo yang sempat ia kunjungi beberapa hari yang lalu bersama Kai.

Kau bingung mengapa ia tak meminta Kai saja agar mereka bisa mengunjungi tempat itu lagi ? Tidak, Kai tidak akan mengijinkannya. Setelah kejadian di Ginza terakhir kali, namja itu berubah protektif dan ia yakin kalaupun ia pergi bersama Kai kesana, laki-laki itu tak akan membiarkannya lepas dari pengawasaan. Maaf, batinnya. Tapi Ahri menginginkan sedikit perasaan ‘terbebas’ untuk saat ini.. ya.. saat ini saja.

***

19:00 PM

Kai memasuki rumahnya dengan tergesa, ia ingin melihat Ahri saat itu juga untuk mengecek keadaanya. Bukankah gadis itu tak enak badan tadi?

Namun saat ia melangkahkan kakinya kedalam, rumah itu gelap gulita, seperti tak berpenghuni.
Kai berubah panik, Ia segera berlari setelah menyalakan lampu-lampu disana. Tujuan pertamanya adalah kamar Ahri dan begitu mendapati bahwa ruangan itu kosong, Kai tanpa pikir panjang mendial nomor Ahri.

“The nomor your calling is not active, please…”

Kai mematikannya. Rasa paniknya bertambah dua kali lipat. Sekarang ia menuruni tangga untuk mengecek ruangan lainnya. Ruang tamu, ruang TV, ruang makan, bahkan kamarnya, Ahri tak ada disegala tempat. Gadis itu belum kembali dan itu membuat Kai setengah gila. Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Ahri.

Oleh karena itu ia berpikir untuk mencari Ahri ditempat lain. Walau rasa lelah menggerogoti badanya, ia tak peduli… yang ia inginkan adalah segera menemukan gadis itu dan memastikan bahwa Ahri baik-baik saja. Namun, tepat saat ia membuka pintunya, dua sosok laki-laki berseragam hendak menekan bel rumahnya

“Apakah anda Tuan Kai?”

Kai tak langsung menjawab, tiba-tiba pirasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk hendak terjadi
“Iya..” Kai menjawabnya dalam bahasa Jepang dan setelah kalimat terakhirnya salah satu dari mereka kembali berbicara

“Anda kami tahan atas tuduhan penculikan…”

-to be continue-

6 thoughts on “One-Sided Love (Part 15)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s