Tell Him [ Chapter-7]

tell him

Title ||  Tell Him  part-7

Author ||Alana Yuen

Main Cast ||  Park Jiyeon | Lee Joon | Nam Woohyun

Support Cast ||  Lee Minhyuk | Ham Eunjung | Park Sun Young a-ka Hyomin

Genre || Romance 

Length || Chaptered

Rated ||  M

 

Disclaimer || I Own Nothing but the Story

 

 

 

 

Namja tampan berwajah dingin itu menatapku. Lalu perlahan berdiri. Aku terus mengikuti gerakannya yang semakin mendekat padaku. Dia tiba di depanku, melebarkan kedua kakiku yang tengah duduk bersandar pada kursi. Pahaku terbuka begitu saja. Dan tatap matanya mengurung gerakanku. Diambilnya daguku dengan jemarinya, lalu mendekatkan wajahnya hingga aku hampir memejamkan mataku karena mengira dia akan menciumku.

 

Namun ternyata tidak. Woohyun sempat membuat jantungku hampir terlepas dari tempatnya. 

 

“Apa kau masih mengharapkan Joon ?” 

 

.

.

.

 

 

Woohyun tidak pernah melakukan hal yang tidak pantas. Dia memiliki aku dengan caranya sendiri. Walau terkadang aku berharap dia lebih terbuka dan membuatku merasa seperti wanita normal pada umumnya. Aku ingin sentuhannya, ingin cumbuannya, meski terkadang aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa menginginkan hal bodoh dan konyol itu.

 

Apakah jika melakukan semua itu, maka aku memikirkan Joon sebagai fantasyku atau memang Woohyun lah yang merajaiku. Baik di dalam fantasy dan hidupku.

 

Malam ini, sudah terlalu larut, aku mencoba untuk tertidur. Mataku terpejam dengan sangat rapat, mencoba menghalau hawa penat yang membuatku jenuh. Aku memikirkan Joon. Dalam selang wktu yang berjalan itu apakah dia memikirkan aku?

 

“Jiyi!” suara itu. Aku membuka mataku dan melihat bayangan di depan pintu kamar. Woohyun.

 

“Apa kau sudah tidur ?” tanyanya.

 

Aku beranjak mendekati pintu yang tertutup rapat dan terkunci itu.

 

“Belum.” jawabku dari pintu yang masih tertutup.

 

“Temani aku minum.” ujar Woohyun. Sepertinya terdengar sangat mengharapanku. Suaranya dalam dan berat. Ada yang sedang dipikirkannya?

 

Aku membuka pintu dan melihatnya hanya dengan mengenakan kimono tidur berwarna biru tua. Dia mengenakan sliper pemberianku. Sungguh manis. Aku menyukai penampilan santainya. Rambutnya basah. Apakah dia barus selesai mandi.

 

“Aku punya film, dan sepertinya tidak enak jika aku menontonnya sendirian.”  Woohyun berjalan mendaului. Dia mengajakku tapi dia tidak menggandengku atau melakukan apapun itu yang membuatku merasa berguna.

 

“Film apa?” tanyaku. Pasti sebuah film yang romantis. Apa dia mempunyai ide untuk bermesraan denganku malam ini.

 

“Perang.” jawabnya

 

Aku menunduk menyembunyikan rasa geliku. Apakah aku harus tertawa. Di mana letak romantisnya seorang Nam Woohyun. Kenapa mengajakku nonton film di larut malam hanya untuk membuatku merasa tegang.

 

“Apa kau mengantuk?”  tanyanya sambil berjalan.

 

“Tidak.” jawabku.

 

Kami masuk dalam ruangan tertutup yang kedap suara. Mini home teater yang dimilikinya hanya terdiri dari empat buah sofa berukuran besar yang satu sofanya bisa menampung dua orang. Apakah dia akan mengajakku duduk dalam satu sofa yang sama.

 

Tidak.

 

Woohyun duduk dengan santai menumpangkan kakinya sambil membawa remote control. Wajahnya kaku dan lurus memperhatikan layar besar di depannya sambil mengatur tampilan gambar sehingga tidak terlalu besar. Dia mempunyai masalah migrain jika ferlalu melihat bayangan dari layar eletronik. 

 

“Ambilkan minum!” ujarnya memberikan perintah. 

 

Aku berjalan pada mini bar di sudut ruangan.’Kutuangkan brandy ke dalam satu gelas sloki. Woohyun memperhatikan berdiriku yang tepat di depannya. Menutupi pandangannya dari layar lebar. Cahaya dari depan sana membuat gambar tubuhku menerawang di matanya. Dia terdiam dan mendiamkan gelas yang kusodorkan.  Apakah di kesulitan bernafas.

 

Aku menunggunya agak lama sebelum akhirnya dia menerimanya.

 

Aku tercekat seketika itu, tangan Woohyun tidak hanya mengambil gelas itu, namun menarik tubuhku sehingga duduk di atas pangkuannya. Inikah waktunya? batinku was-was.

 

Menanti dengan membalas tatapan dinginnya yang membuatku merinding. Woohyun mendekatkan wajahnya pada wajahku. Tangannya tertumpang di atas paha kananku. Ini terlalu dekat, bahkan debaran jantungnya sepertinya bisa kudengar meski di depan sana  suara dari pengeras suara memekkan telinga. Tangan itu menelusup masuk ke dalam bagain dalam pahaku dan menyingkap kimono satinku dan meraba sambil terus memastikan bahwa aku tidak memberontak dengan aksinya.

 

“Kau menungguku untuk melakukan hal ini?”tanyanya sambil menggda bibirku. 

 

Aku menatap ke dalam matanya dengan penuh harap. Merasakan sapuan lembut tangannya di pahaku . Jujur aku sangat merasa gugup namun tidak sanggup menolak.

 

“Tuan…” bisikku dengan tatapan nervous.

 

Woohyun mengecup pipiku, dan melingkarkan lengan kirinya di pinggangku, meremasnya. 

 

“Apa ini terlalu vulgar? ” tanyanya.

 

Kutelan ludahku, ketika mendengar bisikanya di permukaan kupingku. Rasanya sangat geli, namun menghadirkan sebuah rangsangan aneh. Aku terpejam seketika.

 

“Katakan padaku jika kau tidak menyukai apa yang kulakukan.”

 

Aku menunduk malu dan menggeleng. Menyibakkan rambutku dan merangkulkan lenganku di lehernya.

 

“Katakan padaku, apakah kau milikku?” bisik Woohyun lagi. Jarinya mengangkat daguku dan melekatkan bibirnya di bibirku. Namun hanya sekejap, membuatku seperti manusia kelaparan. Dia tersenyum. 

 

Apakah aku tidak salah melihatnya tersenyum. Tapi bukankah ini yang aku harapkan darinya, sedikit wajah bersahabat tanpa kesan angkuh dan dingin, meski kesan anhkuh itu memperlihatkan sisi keseksian seorang Woohyun.

 

“Katakan padaku!” bisiknya sambil membelai pipiku.

 

Aku tersenyum di hadapan wajahnya, dan bergayut manja.

 

“Aku milikmu, Tuan.” jawabku dengan malu-malu. Aku sungguh merasa malu karena aku begitu tunduk padanya. 

 

“Benarkah?” dia sepertinya ragu. Aku gemetar mendengar keraguannya. 

 

“Apa yang harus aku katakan lagi?” tanyaku 

 

Woohyun menyeringai dingin. Namun tatapan matanya sungguh mengisyaratkan hasrat. Dia berkali-kali membuka bibirnya dan menatap rendah ke arah dadaku. Perlahan jarinya menelusuri leherku, lalu turun dan membuka tali pengikat kimonoku. 

 

Terpampanglah bagian dalam gaun tidurku yang menerawang. Woohyun menatapnya serius. Kemudian mengangkat lagi pandangannya menuju pada keyakinanku atas keinginannya.

 

Kami bermain-main sebentar dengan emosi dalam jarak wajah yang begitu dekat. Aku merasakn desah nafasnya yang diliputi hasrat laki-lakinya. Jemarinya mulai diletakkan di atas perutku, dan menjalar semakin ke atas….

 

“Jiyi….”  bisiknya sebelum melumat bibirku dengan seluruh keinginannya.

 

Tidak bisa kujelaskan bagaimana aku bisa begitu berhasrat dengan semua sentuhan dan pautan bibirnya. Secepat itu aku merubah posisi dudukku hingga menghadapinya, melebarkan belahan pahaku dan merapat di tubuhnya. Dia mulai menanggalkan jubah gaun tidurku, dan meraba pundak dan seluruh tubuhku tanpa menghentikan pautan bibirnya. Dia benar-benar menciumku hingga aku begitu lemas.

 

Aku merintih dan mendesah. Ini sungguh membuatku seperti wanita nakal yang benar-benar sedang melepaskan keinginan.

 

“Berbaliklah!” bisiknya kemudian.

 

Aku mengernyit. Kenapa dia menghendaki aku memunggunginya. Namun aku menurutinya. 

 

Posisiku kini sudah berada dalam pangkuannya lagi, membuka kakiku diantar kakinya, menengadahkan kepalaku di pundaknya, sementara lengannya melingkar di perutku. 

 

Aku menoleh dan kami saling menatap. Kami berlaku seperti layaknya seorang dewasa yang sedang hilang dalam gelombang cinta. Dia kembali menciumku dengan manis, lembut dan sangat penuh dengan perasaan. Aku merasakan tangannya mulai turun dan menyingkap gaun tidurku. Dia memasuki bagian dalam dari titik nikmatku di bawah sana. Sempat aku terkesiap, namun sepertinya Woohyun tidak memberikan komentar panjang. Dia menciumku dan mempermainkan jemarinya di bawah sana. Sementara tangan lainnya berada di dadaku dan meremasnya lembut dengan tekanan-tekanan tak berarti. Membuatku tak berhenti mendesah.

 

Dia menatapku yang semakin berada dalam puncak ecstasy tinggi. Kenapa dia tidak langsung saja melakukannya. 

 

“Tuan…” desahku. 

 

Woohyun tersenyum.

 

“Kau sungguh cantik, Jiyi!” 

 

Dia mengecupku ketika aku mulai merasa tiba pada sebuah puncak. Aku ingin sekali terjun dan menikmatinya. 

 

“Tuan Nam!”  Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba aku merasakan tubuhku tersentak hebat oleh sebuah kenikmatan yang aneh. Yang baru pertama kali ini kurasakan. 

 

Aku bersandar lemas di dadanya. Peluh dan rasa lelahku begitu nikmat. Woohyun menatapku dengan senyuman.

 

“Aku tidak ingin menyetubuhimu sebelum kau menjadi istriku.” ujarnya penuh rasa tanggung jawab.

 

Aku mengangguk dengan tatapan sayu. Memeluk dadanya dan membiarkan debaran jantungku mengguncangkan tubuhnya. 

 

“Apakah nikmat?” tanyanya.  Aku menelusup di dalam dadanya. Enggan menjawabnya. Kenyataannya sungguh nikmat. Aku malu. Tapi Woohyun tersenyum

 

“Kau milikku.” bisiknya.

 

Dia bergerak dan berdiri. Aku memperhatikannya.

 

“Tuan mau ke mana?”

 

“Aku harus ke toilet. Kau tau laki-laki sepertiku juga bisa merasakan sesuatu jika melihat wanita menggelinjang hebat seperti tadi. Apalagi di atas tubuhku.”   jawabnya nakal sambil berlalu. Dia menampakkan satu sisi nakal seorang laki-laki pada umunya. Namun aku lega dengan semua ini, karenaaku menganggap semua ini wajar. 

 

.

.

.

 

Ketika pagi, aku tidak melihat lagi gambaran keramahan itu di wajah Woohyun. Dia sudah kembali menjadi sosok angkuh dan dingin. Duduk berhadapan dengannya di meja makan tanpa bicara. Dia serius mengunyah sarapannya, sementara aku sendiri sibuk dengan beberapa jadwalku hari ini. 

 

Woohyun berdiri.

 

“Sebaiknya kita berangkat.” ajaknya. Aku mengikutinya berdiri, mengambil tasku dan berjalan. Kali ini aku mendahuluinya. Aku masih terus berpikir mengenai hal yang terjadi tadi malam. Semua itu masih menyisakan kesan panas di dalam aliran darahku. 

 

Sesaat ketika berada di pintu keluar, Woohyun menarik lenganku dan menyudutkan aku di dinding. Lalu dengan cepat dia melumat lagi bibirku dengan gairah. Dia terlihat segar dan cerah. Beberapa menit, kami masih terlena dengan permainan lidah dan bibir. 

 

Lalu setelah itu,Woohyun mengakhirinya. 

 

Aku menunduk dan memperhatikan wajahnya yang masih menyisakan hasrat. Kuambil selembar tissue dari dalam tasku, dan mengusap bibirnya yang terkena lipstick ketika kami berciuman. 

 

Dia menyembunyikan senyumnya. Itu terlihat sangat lucu namun seksi dan nakal. Kenapa tiba-tiba aku menyukai kenakalannya yang sagat unik.  Dia berjalan mendahului dengan langkah ringan.

 

 

.

.

.

 

 

“Joon, bisakah kau datang. Aku akan mengembakikan lukisanmu.” Aku sengaja menghubungi Joon. Aku tidak ingin berlama-lama berada dalam dilemma. Woohyun sudah menegaskan jika aku adalah miliknya, dan akan seperti itulah yang akan terjadi, meski aku menyadsri aku masih menyimpan perasaan yang tidak bisa kujelaskan untuk seorang Joon.

 

“Ke kantormu?” tanyanya.

 

“Hm.” jawabku, lalu memutus sambungan.

 

Sekarang tinggal menunggu. Aku tidak akan mengganggu kehidupannya yang sepertinya bahagia. 

 

Minhyuk masuk dan membawakan aku secangkir teh. Spertinya sangat menenangkan menikmati teh di pagi hari.

 

“Tuan Nam mengatakan kalau kalian akan menggunakan tempat ini untuk resepsi pernikahan kalian.”  ujar Minhyuk sambil meletakkan pantatnya di sofa.

 

“Hm.” jawabku sambil menyesap hangatnya teh jasmine yang membuatku rileks.

 

“Lalu bagaimana dengan Joon?” 

 

“Kau jangan membuat masalah, Minhyuk!”  ujarku memperingatkan.

 

“Ya, sepertinya kalian tidak akan mempunyai kesempatan itu.”

 

“Kesempatan apa?” tanyaku.

 

“Kalian menyimpan perasaan cinta. Benar,kan?” tebaknya.

 

“Sangat sulit. Aku saja tidak bisa mendevinisikan semua itu. Kami pernah bertemu sebelumnya. Dulu. Jauh sebelum aku mengenal dnia ini. Itu sebabnya dia melukisku diam-diam.”

 

“Jadi benar, lukisan itu adalah dirimu.”  

 

Aku mengangguk.

 

“Aku akan mengembalikannya.” 

 

“Kapan?”

 

“Sebentar lagi dia datang.”

 

Minhyuk tersenyum. “Kalian harus memanfaatkan kesempatan ini.”

 

“Untuk apa?”  Aku benar-benar merasa seperti sedang ditelanjangi oleh Minhyuk. Assistenku itu sungguh tahu dengan apa yang terjadi diantara aku dan Joon.

 

Kutarik nafasku dalam-dalam. Sementara Minhyuk berjalan pergi tanpa merespon pertanyaanku. Dia sungguh gila. Memangnya apa yang akan kukakukan dengan Joon.

 

Setengah jam kemudian Joon datang ketika aku sedang memeriksa beberapa lukisan baru. Dia berjalan sangat tenang seperti biasanya. Kakinya yang panjang membuat dia terlihat begitu sempurna. Aku terhanyut  begitu saja. Minhyuk tersenyum melihatku.

 

“Pangeranmu sudah tiba.” bisiknya.

 

“Jika dia pangeranku, lalu siapa Tuan Nam bagiku?”  

 

“Dia adalah Rajamu.” Minhyuk berlalu ketika Joon tiba di depanku. Kami saling menatap sebentar.

 

“Aku sangat senang ketika tadi kau meneleponku.”  Aku melirik sesuatu di lehernya. Sebuah redmark yang sangat canyik perembahan dari istrinya, mungkin. Sayang sekali Woohyun tidak meninggalkannya untukku tadi malam.

 

“Selamat pagi menjelang siang, Joon ssi!”  aku berjalan ke arah kantorku.

 

“Kau terlihat sangat cantik sekal pagi ini!”  ujarnya memuji. Aku menunduk begitu saja. Apa maksudnya memujiku cantik.

 

 

Aku mempersilahkan dia duduk, saat aku mengambil sebuah lukisan yang tadi aku bawa dari rumah.  Woohyun tidak mengetahuinya, tapi biarlah. Lukisan ini sungguh akan membuat masalah jika terus kupertahankan. Joon akan terus mendatangiku.

 

Beberapa saat kemudian aku membawanya ke hadapannya. Joon meneliti dan meperhatikannya. Kemudian menatapku.

 

“Apa kau tahu aku sangat rindu melihat lukisan ini. Setiap kali aku menikmati kesan manis di dalamnya, aku selalu ingin kembali ke tempat itu.”

 

“Tempat itu?”  tanyaku berpura-pura tidak tahu. Tapi sepertinya Joon sudah mengetahui kepura-puraanku.

 

Joon tersenyum dengan melempar semua dugaannya mengenai diriku pada lukisan itu lagi.

 

“Aku tidak tahu kenapa semua ini harus terjadi?” ujarnya

 

“Hal apa yang kau sesali?” tanyaku

 

“Bukan sebuah penyesalan, namun kenangan yang tidak akan pernah kulupakan.” jawabnya.

 

“Kau tidak mudah melupakan kenangan?”

 

“Hm.” Joon mengangguk.

 

“Apakah kau sungguh tidak ingin membuka identitas dirimu yang sebenarnya?”  pertanyaan itu mendadak membuatku tersentak. Jantungku berdegub kencang.

 

“Identitas apa yang kau maksud?”

 

Aku berdiam diri sebentar ketika ponselku di atas meja bergetar. Sesuatu telah membuatku begitu panik dan tidak sanggup meraih ponsel itu. Joon meraihnya dan menyerahkannya padaku.

 

Aku memperhatikan tatapannya yang masih memojokkanku dengan semua asumsinya. Aku tergolek di kursiku dan menjawab panggilan dari eommaku. 

 

“Eomma!” sapaku

 

“Jiyi, kembalilah sebentar. Appamu sakit. Dia mengalami penurunan kesadaran. Kemarin dia terlalu lelah dengan perbaikan kolam ikan kita.”

 

“Bagaimana kondisinya? Apakah sudah di bawa ke rumah sakit, Eomma?”  aku tidak tau apakah Joon masih memperhatikanku, namun yang jelas dengan kedua orang tuaku aku tidak mungkin berpura-pura.

 

“Pulangah! Appa berada di ruang ICU. ” 

 

“Aku akan segera pulang, eomma.”  

 

Joon dan aku saling melempar tatapan. Dia mengerasan bibirnya menanggapi rasa cemasku.

 

“Apakah urusan kita sudah selesai?” tanyaku kemudian padanya

 

“Tergantung.”

 

“Joon, aku sungguh tidak mempunyai waktu untuk meladenimu. Ambil lukisanmu dan bawa itu pulang. Aku harap diantara kta sudah tidak ada lagi urusan. Aku merelakan lukisan itu dan aku harap kita tidak bertemu lagi dalam kesalahpahaman.” 

 

Joon menyeringai.

 

“Kesalahpahaman apa maksudmu?”

 

“Aku tidak tahu.” 

 

“Apakah Ayahmu sakit?”  tanyanya.

 

“Ya. Tapi tidak ada hubungannya denganmu.”

 

“Aku bisa mengantarmu pulang. Tidak baik mengendarai kendaraan dalam kondisi cemas.” ujarnya menawarkan. 

 

“Terima kasih, tapi aku baik-baik saja.”  jawabku sambil berlalu meninggalkannya.

 

“Bagaimana keadaan Mir?” 

 

“Aku tidak tahu, aku sudah lama tidak mendapatkan khabar darinya.”  Seketika itu langkahku terhenti di jarak satu meter di dekat pintu. Kututup mulutku dengan kedua tanganku. Keringat dinginku mengalir. Kupejamkan mataku sebentar. Bagaimaa reaksi Joon mengenai jawabanku. 

 

Aku sudah menduga kalau Joon memang akan selalu menanyakan sesuatu yang lambat laun akan aku jawab tanpa sadar. Dan sekarang dia bertanya mengenai Mir. 

 

Bahuku ditepuk tiba-tiba dari belakang.

 

“Jiyi, simpanlah lukisan itu. Aku sengaja melukisnya untukmu.” Ujarnya sambil membuka pintu. Dia berlalu dengan punggung yang sepi, meninggalkanku. Apa yang ada di dalam hatinya.

 

“Joon!”  panggilku. Namun Joon terus melangkah.

 

Aku megejarnya hingga tiba di tempat parkir. Dia membalikkan badannya ketika aku berusaha menarik lengannya. Kami saling menatap lagi untuk kesekian kalinya.

 

Lalu dengan cepat Joon menarik tanganku dan membawa tubuhku masuk ke dalam mobilnya. Dia melangkah ke sisi lain dan memasuki mobilnya dengan wajah kaku. Duduk di belakang setir tanpa menatapku. Apakah dia marah. Mobil ini mundur, dan meninggalkan halaman galery. Ke mana dia akan membawaku.

 

 

 

 

tbc.

 

 

 

a/n

Yup, yang ini tinggal satu chapter lagi. Dalam bulan ini akan kuselesaikan. Maaf sangat lama sekali. Biasa nunggu wangsit. maaf atas adegan yg cukup hot. aq juga ga tau kenapa itu harus ada, sisi angkuh dan dingin seorang woohyun yang sulit ditebak. Semoa bisa dinikmati aja.

 

 

 

 

 

11 thoughts on “Tell Him [ Chapter-7]

  1. y ampunnnn smoga g terjadi apa2 antara joon ma jiyi… dia dah punya wohyun , joon dah punya eunjung… punya anak pula plis…no no no… ok di tunggu next nya lana…

  2. lana plisss jangan buat jiyi teliad spti cwe player. apalgi kata dr skertarisnya itu huhhh dasarrr kompor.
    jiyi dah pny woohyun,,, udahlah. lgipula jg km naruh minat kan k dy. jg bang woohyun ayolah agresif dkit dan tnjukin km bnr2 pgn jiiyi d sisi km

  3. Omooo.. woohyun jiyi hot bngt mei.. kekeke.. joon udh tau y jiyi cm pr2.. aigo kthuan deh.. gmn y next nya galau tp cc maux dy sm woohyun mei biar gmn jiyi udh mulai ngrep sm dia dan jg joon udh pny istri kan skrg.. mei romance jiyi yg lain ada? Kekekek

  4. Astaga aq pkir jiyeo sma woohyun bklan ngelakuin ‘itu’ ternyata enggk,, aq suka deh pemikiran woohyun klu dia gk ingin nyentuh dia sebelun menikah…! Ketauan juga deh indentitas jiyeon,, apa joon mrah setelah tau jiyeon tuh sp, n jiyeon mau dibawah kemana tuh??

  5. ah woohyun keren bisa tahan..pemikiran yg dewasa ya ada kemajuan .terasa betul feel woohyun dan jiyeon disini..sudahlah joon terima nasib aja dari pertama emang sudah kalah buktinya udah naik aja dg eunjung

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s