Sajaegi Chapter 6

sajaegi1

​​​Title: Sajaegi

Author: Kim Jaemi (@iimwae)

Credit: Gitawa @ Diamond of Paradise

Cast: Park Jimin (Bts)

*Han So Mi / Silla Geongju (Author Chingu)

*Baek Seung Hoon (Aktor)

*Im Jaemi or You

*Park Ri ni (Author Chingu)

Support Cast: Find them when you read it!!

Genre: Teen, Friendship, Romance, Bullying, Memorise and School Life

Length: Chaptered

Disclaimer: Story Request!!No Copas!!No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

#Before

Bell istirahat telah berbunyi, saat ini Jaemi tengah berada di tangga luar menuju atap gedung seorang diri. Jaemi membalikan tubuhnya ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya. Ia menatap tajam lalu berjalan menuruni tangga. Tiba-tiba namja itu menarik tangannya dan mememuluknya. Jaemi meronta-ronta meminta dilepaskan, ia mendorong namja itu dengan kasar. Ketika ia hendak melangkahkan kaki kembali, namja itu menariknya lalu mengunci kedua tangannya di dinding belakangnya kemudian menciumnya dengan paksa.

Sajaegi Chapter 6

—KAU TEMANKU, ANYA KAU SAHABATKU—

“Lepaskan aku!”

“Aku minta maaf.” Seung hoon tanpa jeda terus mencium yeoja yang berusaha melepaskan diri.

“Lepaskan aku!” yeoja itu mendorong-dorongnya dengan tatapan muak.

Akhirnya Seung hoon melepas kunciannnya pada yeoja yang tengah menitihkan air mata. Cepat-cepat yeoja itu menghapus air matanya lalu menatap penuh kebencian kearah Seung hoon. Seung hoon sendiri terlihat frustasi dengan menundukan kepala di pagar tembok pembatas tangga.

“Aku membencimu Seung hoon-a, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu.”

“Maafkan aku!” Seung hoon kembali memeluk yeoja yang sama sekali tak menggerakan tubuhnya. Yeoja yang ingin berteriak sekencang mungkin, yeoja yang saat ini hatinya tengah hancur. “Maafkan aku Jaemi-a! Kau mengabaikan beberapa tahun ini karena tidak ada So mi. Kau hanya menghubungiku ketika ada So mi, apa kau senang jika aku bersamanya?”

“Kalian berdua sahabat…”

“Aku selalu datang ketika kau mengirim pesan menyuruhku pergi ke sekolah, sesibuk apapun aku selalu menyempatkan diri untuk memenuhi permintaanmu. Kau berciuman di depan media masa apa aku marah padamu?”

“Kau ingin balas dendam dengan tidur bersama yeoja lain? Aku bisa menahannya jika itu So mi, aku tidak akan marah padamu meskipun kau berpelukan, berpegangan, bercanda ataupun lebih memperhatikan So mi. Karena aku tahu kau hanya menganggapnya sebagai sahabat, tapi yeoja itu? Kau benar-benar brengsek Baek seung hoon.” Jaemi kembali menitihkan air mata, kali ini disertai dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi. “Bertemu diam-diam di belakang So mi aku bisa menerimanya. Aaah aku ingat sekarang, waktu ulang tahun So mi kenapa yeoja itu bisa berada di kolam renang dengan lipstik belepotan? Kau sudah lama menjalin hubungan dengannya. Aku benar-benar bodoh karena mencintai namja sepertimu, aku tidak pernah melirik namja lain, aku selalu dingin pada mereka karenamu.” Jaemi menghapus air matanya lalu mendorong tubuh Seung hoon dengan kasar, ia melangkah namun Seung hoon kembali menguncinya di dinding dan mencium paksa dirinya. Jaemi mendorong-dorong wajah Seung hoon agar menghentikan tindakan yang semakin membuatnya jijik.

-Bruukk-

Seorang namja datang kemudian memukul wajah Seung hoon dengan sekeras-kerasnya.

#Jimin *Pov*

Ketika istirahat tiba aku melangkahkan kakiku menuju atap gedung, aku ingin menenangkan pikiran yang menggangguku. Aku merindukanmu eomma, aku ingin bertemu denganmu. Aku memejamkan mataku sembari menghembuskan nafas dengan kencang. Setelah hampir beberapa menit aku berdiri di atap gedung aku kembali melangkahkan kaki untuk menuju kelas. Baru beberapa langkah aku menuruni tangga aku mendengar suara yeoja yang meminta untuk dilepaskan. Aku berlari menuruni tangga dan bruukk aku menghantamkan pukulanku pada namja yang tengah mencium paksa seorang yeoja. Yeoja itu terlihat sedang menitihkan air matanya.

“Gwaenchana?” aku menarik tangan yeoja itu untuk mengajaknya ke kamar mandi. Aku menyuruhnya mencuci muka, mata lebamnya mungkin akan membuatnya terlihat bodoh. Baru kali aku melihat yeoja itu menangis, biasanya dia terlihat berani. “Kau baik-baik saja?” dia tak menjawab pertanyaanku, aku tahu dia sedang terluka saat ini. Apa yang terjadi antara Seung hoon dengannya. Aku melihat kearah wajahnya yang berjalan dengan tatapan kosong. Apa dia sangat terluka? Dia menghembuskan nafas, seolah-olah ingin melepas beban yang berada di hatinya. Aku memasuki kelas dengan masih melihat kesedihan yang terpapar di wajah yeoja di sampingku.

“Eooh Jaemi-a, kenapa matamu lebam?” tanya So mi.

“Aku tidak pernah memintamu untuk bertanya.” Jawab Jaemi dingin tanpa melihat kearah So mi. Ada apa ini? Mereka bertengkar? Aku melihat So mi kemudian mengalihkan pandanganku kearah lain, aku tidak ingin dia memergokiku tengah melihatinya. Dia adalah putri Silla, haiis kenapa aku bisa tidak tahu?

#So mi *Pov*

Aku masih melihat kearah Jaemi yang melihat kearah jendela dengan tatapan kosong, matanya lebam. Kenapa dengannya? Yaa Jaemi-a aku merindukanmu. Tak lama kemudian Seung hoon memasuki kelas dengan wajah memar di sudut bibirnya.

“Yaa Seung hoon-a! Kau kenapa?” Seung hoon mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan kelas.

“Mianhe So mi-a!” ucapanya sebelum pergi.

Kenapa dengan persahabatanku? Eomma aku ingin menangis, eomma orang yang sudah kuanggap kakak telah meninggalkanku. Eomma bogosipoyo… aku keluar dari kelas untuk menghirup udara segar. Hatiku benar-benar sakit, yaa Jaemi-a ini baru sehari dan aku tidak bisa menjalaninya. Aku meletakan kepala di atas pagar pembatas balkon. Aku merasakan seseorang menyodorkan sapu tangan di pipiku. Aku mendongakan kepalaku untuk melihat siapa namja itu. Seorang namja berdiri tepat di sampingku, ia menyodorkan sapu tangan dengan wajah datar.

“Itu apa?”

“Sapu tangan, mungkin saja akan berguna.” ucapnya lalu memasuki kelas. Aku masih melihat heran kearah punggungnya yang sudah menghilang dari pandanganku.

Malam ini aku meminta supir pribadiku mengantarku pergi ke agensi Bighit. Yaah… aku berniat membeli ketiga album Bts langsung dari agensinya. Sayangnya semua album sudah habis terjual. Hebat sekali anak-anak Bts, album mereka sudah terjual semua.

“Maafkan saya putri Silla.” ucap lelaki yang entah siapa itu. Aku tidak mempermasalahkannya karena memang itu salahku yang baru mengenal Bts. “Saya Produser sekaligus pemilik perusahaan ini.”

“Tuan Park?” Aaah kenapa aku bisa lupa, orang yang tengah berdiri di depanku adalah ayah dari Park ri ni dan Paek re na. “Maafkan saya yang tak mengenali anda!” aku membungkukan tubuhku padanya.

“Anyeong haseyo pd-nim” aku melihat ketujuh namja bts tengah membungkukan tubuh mereka pada tuan Park.

“Eoo putri Silla!” sapa namja yang entah siapa itu, jujur saja aku hanya mengetahui Jimin dan Tae hyung serta satu namja yang memiliki suara bagus. Semuanya menurutku keren hanya saja aku butuh waktu untuk menghafal nama-nama mereka. “Bisakah aku berfoto denganmu!” apa aku bermimpi? Anak bts meminta berfoto denganku? Aku menelan ludahku sendiri. Sebelumnya aku tak pernah merasa secanggung ini ketika bertemu dengan artis.

“Eoo.” aku mengangguk pelan, semua namja kecuali Tae hyung dan Jimin berebut agar bisa dekat denganku.

“Kenalkan aku Jung kook.” Aaah jadi namja yang memiliki suara merdu itu Jung kook, namja yang tampan.

“Aku Rapmonster, seorang rapper.” Namja itu menunjukan lesung pipitnya, cukup manis.

“Aku J-hope seorang dancer.” Jadi namja yang tadi meminta berfoto denganku bernama J-hope.

“Aku Jin tertua disini, putri Silla aku adalah fansmu.”

“Nee?” aku terkejut mendengar ungkapan namja yang juga tak kalah tampannya itu. Dia mengatakan bahwa dia adalah penggemarku? Apa aku tidak salah dengar?

Setelah kami berfoto aku berpamitan pada tuan Park untuk pulang. Ia menitip salam pada abamamma, ia juga mengatak banyak terimakasih pada keluargaku. Aku sendiri bingung kenapa tuan Park berterimakasih pada abamamma. Ia memberitahuku Bighit bisa melangkah sejauh ini karena bantuan cuma-cuma dari raja Seungji untuk Bighit. Jadi abamamma pemilik saham terbesar di Bighit entertainment. Aku tidak percaya, tapi itulah kenyataannya. Aku pikir abamamma hanya menaruh saham di Tc entainment.

Di pinggir jalan aku mencari-cari mobil keluargaku. Dimana sebenarnya supir itu? Aku tak melihat mobilku terpakir di depan kantor. Aku berjalan ke seberang jalan mungkin saja byun ahjushi berada di sana.

“Eooh.” Aku terkejut dengan apa yang baru saja hendak menimpaku. Aku menstabilkan nafasku yang tengah berada di dekapan seorang namja.

“Hampir saja kau kehilangan nyawamu.” ungkapnya, aku sendiri masih terkejut. Dengan perlahan namja itu melepas dekapannya.

“Nona apa kau gila?” Seorang namja mengeluarkan kepalanya sembari memarahiku. Jelas-jelas tadi aku berjalan ketika lampu merah. Aku melihat lampu hijau, apa penglihatanku mulai terganggu?

“Kau baik-baik saja?” tanya namja yang tadi menolongku, aku baru sadar setiap kali aku dalam bahaya selalu namja di depankulah yang menolongku. Aku menganngguk dengan menelan ludahku. Aku masih tak bisa berkata, tubuhku lemas. Dengan tangan gemetar aku berterimakasih lalu berpamitan padanya.

“Aaah diamana sebenarnya Byun ahjushi?” keluhku ketika namja itu sudah melangkahkan kaki.

Namja itu kembali lagi kearahku, ia menawarkan diri untuk mengantarku. Sesaat aku ragu, namun aku mengiyakan karena aku sendiri sudah lama tidak menaiki bus kota. Dia menyuruhku untuk mengikutinya mengambil mobil di parkiran bawah tanah. Namja yang baik, aku tersenyum sendiri tanpa sepengetahuannya.

Di dalam mobil kami hanya diam, tak ada percakapan yang tercipta. Hanya kesunyian yang sedari tadi menamani kami. Aku sendiri memainkan jari-jariku aku berharap agar cepat sampai di istana. Aku benci suasana seperti ini.

“So mi-a.”

“Nee?” aku terkejut namaku dipanggil olehnya.

“Dimana rumahmu?” Haiis… rupanya aku lupa memberitahu alamat rumahku padanya. Segera aku memberitahu alamat rumahku.

“Sebenarnya tadi di sekolah Jaemi kenapa?” tanyaku yang teringat dengan kejadian tadi pagi.

“Bukankah kau sahabatnya? Tanyakan saja sendiri, aku tidak berkewenangan memberitahumu. Lagian, aku juga tidak tahu.” jawabnya tanpa melihat kearahku. “Kalian sedang bertengkar?”

“Anya…”

Sesampai di depan rumah, segera aku menuruni mobil. Aku mengucapkan terimakasih padanya. “Mencari sahabat itu susah, pertahankan persahabatanmu.” ucapnya yang membuatku bingung, ia menancap gas lalu menghilang di pertigaan dekat rumahku.

Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu Re na dan Bokyung menjauhiku. Mereka tak lagi tersenyum padaku. Kelas terasa sepi karena Jaemi tidak masuk sekolah, aku dengar dia sudah mulai menjadi trainee. Dalam seminggu dia hanya masuk dua kali. Seung hoon juga tidak masuk sekolah. Jimin dan Tae hyung aku tidak tahu kenapa mereka tidak masuk sekolah.

“Sekolah seperti syurga karena tidak ada yeoja itu.” ungkap yeoja di koridor pada temannya.

“Kau benar si Jaemi itu, aku benar-benar muak dengannya.” ungkap yang lain.

“Mworagu?” aku berjalan mendekati dua yeoja itu. “Katakan sekali lagi!”

“Aku muak dengan si iblis Jaemi, wae?” jawabnya dengan berdiri. “Silla geongju, aku dengar kau mendapat ucapan selamat dari Jaemi.” yeoja itu menyilakan tangannya sembari memiringkan bibirnya.

“Anak pemilik sekolah mendapat ucapan selamat, anya dia adalah putri kerajaan.” tambah yang lain dengan berjalan pergi.

“Yaa geumanhe!” aku melangkah kemudian menampar yeoja itu. “Katakan sekali lagi!”

“Yaa Silla geongju kau tidak ada apa-apanya tanpa Jaemi.” Yeoja satunya lagi berjalan kearahku. “Akhirnya aku bisa membalasmu.” Dengan berjalan mendekat.

-Plak-

Aku menamparnya juga, aku menghembuskan nafasku dengan kesal, menatap tajam kearahnya.

“Yaa!” teriak Bokyung. “Apa yang kalian lakukan?” Ia menjambak yeoja yang tadi kutampar, aku tersenyum padanya. “Kau menjelek-jelakan Jaemi lagi dengan mulutmu?” Bokyung menghempaskan yeoja itu dengan kasar. “Gaa!” bentangnya lagi.

Aku tersenyum padanya namun dia tak membalas senyumanku.

“Yaa Bokyung-a!”

“Jangan memanggil namaku, kau si pengkhianat yang melanggar peraturan yang kau buat sendiri.” Ia melangkah pergi meninggalkanku.

Aku berjalan seorang diri di koridor dari dalam kelas aku mendengar anak-anak berbisik membicarakanku yang telah menerima ucapan selamat dari Jaemi.

“CHUKAE HAN SO MI.” teriak seseorang di dalam kelas, aku mempercepat langkah kakiku menuju kelas. Aku ingin menangis, apa semua ini karena aku menyukai Bts?

#Author *Pov*

Setelah Bokyung pergi meninggalkan So mi, ia berjalan menuju kelas.

“Mianhe Han so mi.” ucapnya dalam hati. “Aku tahu Jaemi menyayangimu, aku akan melindungimu disaat dia tidak ada. Aku menyayangimu, aku harap kau dan Jaemi segera berbaikan.” tambahnya.

So mi memasuki kelas setelah dibuat kesal oleh sebagian anak-anak. Ia membuka tasnya yang penuh dengan sampah. Banyak tulisan selamat di dalam kertas-kertas itu.

“Yaa So mi-a! Gwaenchan?” tanya Ri ni sembari membantunya membuang sampah. “Aku dengar Jaemi memungsuhimu.”

“Siapa yang bilang.” ungkap So mi dingin.

“Berhentilah bertingkah bodoh So mi, Jaemi tidak pernah menganggapmu sebagai sahabat.”

“Kau yang berhentilah mempengaruhiku, Jaemi hanya sedang punya banyak masalah…”

“Apa kau tahu apa masalahnya? Dia tidak pernah bercerita semua masalahnya pada kita, dia selalu menyimpannya sendiri.”

So mi mengabaikan Ri ni, ia terus berjalan dengan membawa banyak kertas. Ketika ia membuang sampah ada satu namja yang menghampirinya, namja itu berniat menyatakan cinta padanya.

“Silla geongju…” belum sempat melanjutkan tiba-tiba namja itu mengurungkan niatnya, ia berlari sekencang mungkin sampai-sampai menabrak Bokyung dan Re na.

Re na menatap So mi dengan penuh kesedihan, sedangkan Bokyung berusaha terlihat dingin. Bokyung mengajak Re na untuk segera memasuki kelas.

#Jimin *Pov*

Aku dan keenam temanku tengah di perjalanan menuju pulau nami, ada jumpa fans yang harus kami hadiri disana. Semuanya selain aku tengah bercanda-canda dan tertawa-tawa. Mereka membincangkan putri Silla, seorang gadis cantik yang kemaren berfoto dengan kami. Pantas saja dia terkenal, bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya. Aku terlalu sibuk dengan latihan sampai-sampai aku tak memperdulikan hal-hal selain latihan.

-Drt…drt…drt-

Ponselku berdering, segera aku mengangkat panggilan dari eomma. Eomma menyuruhku untuk pulang setelah aku terbebas dari jadwal. Aku mengatakan aku belum bisa karena memang minggu ini boyband kami masih padat dengan jadwal. Besok malam saja kami akan ke dreamconcert untuk perfome, aku meminta pada eomma agar mendoakan boyband kami.

Keesokan malam aku dan semua member Bts tengah bersiap-siap untuk perfome. Di belakang stage aku melihat kearah penonton, penggemar Bts paling sedikit di antara yang lain. Aku menghembuskan nafasku dengan kencang. Di negara lain penggemar kami sangatlah banyak tapi di negara kami sendiri… Jangan terlalu dipikirkan Jimin-a! Harusnya kau menjadikan semua ini pr untukmu, kenapa dengan Bts?

Jung kook memanggilku untuk pergi ke ruang make up, saat ini T.O.T tengah berada di atas panggung.

“Eoh eoppa, aku baik-baik saja.” Aku mendengar suara seorang yeoja di dalam ruang make up.

Setelah aku memasuki ruangan, aku melihat seorang yeoja dan namja tengah berbincang-bincang.

“Paman bilang baru kemaren kau menjadi trainee hebat sekali sekarang sudah debut.” ungkap chanyeol hyung pada yeoja yang tengah tersenyum padanya.

“Kau lupa? Aku lebih dulu jadi trainee di Tc sebelum kau masuk Sm.” Chanyeol hyung memimting kepala yeoja itu.

“Arro… Kaulah yang membatalkan debut, dasar gadis gila. Coba saja dari dulu kau debut pasti penggemar like a star jauh lebih banyak dari Exo. Ada si Jaemi adik sepupuku yang cantik dan putri Silla yang lebih cantik darimu.” Yeoja itu mendorong chanyeol hyung dengan kesal.  “Kau Jiminkan? Lagu-lagu kalian benar-benar bagus, aku paling suka lagu i need you yang kemaren menang di m-countdown.” tambah chanyeol hyung, aku membungkukan tubuhku padanya sembari mengucapkan terimakasih.

“Aku tidak menyangka sunbae menyukai laguku.”

“Eoppa sebentar lagi aku akan perfome, aku pergi dulu salamkan pada immo dan samchun.” Waah aku tidak menyangka bahwa Jaemi sepupuan dengan Chanyeol hyung.

#Author *Pov*

Debut Jaemi terbilang sukses, di comeback like a star kali ini sudah hampir satu juta keping cd yang terjual. Namanya mulai terkenal di kalangan masyarakat, ia sudah menjadi bintang ternama meskipun terbilang baru. Memang sejak pembatalan debut dulu, ia dan putri Silaa sudah dinanti-nantikan.

“Tolong jangan ikuti saya!” ungkap Jaemi ketika beberapa wartawan mengikutinya yang sedang menaiki bus.

“Hanya satu pertanyaan, kau bukan lagi orang biasa kenapa mau menaiki bus?” Jaemi memejamkan matanya, saat ini ia benar-benar kesal. Namun, ia harus mengontro emosinya.

“Kalau saja ini bukan hukuman aku juga tidak akan mau menaiki bus.” Kata-kata yang hanya terucap dalam hatinya. “Aku hanya ingin meniki bus.”

“Jeongseon, kau ingin pergi kesana.” tambah wartawan laki-laki setelah bus berhenti di jalan tol hendak memasuki provinsi Gwangwon. Semua para wartawan turun sebelum memasuki jalan tol. Siapa yang mau memasuki wilayah terpencil, jauh dari transportasi. Orang-orangnya pun masih minim dengan pengetahuan. Tidak ada televi atau pun alat komunikasi yang disana. Setiap harinya orang-orang Jeongseon sibuk menjadi petani, menurut mereka bekerja adalah yang terpenting demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Awal Jaemi memasuki wilayah tersebut, ia menitihkan air mata. Ia benar-benar tidak mau bekerja di kedai milik keluarganya yang terletak di wilayah terpencil.

Sesampainya di Jeongseon ia menuruni bus, sudah ada yang menayapanya seorang bapak-bapak yang hendak bekerja di sawah. Di tempat ini tidak ada gedung-gedung tinggi, tempatnya masih alami. Sawah-sawah masih terbentang luas. Berjalan kaki menuju rumah yang terbilang jauh dari halte.

-Tin tin-

Bunyi klacson mobil yang baru saja berhenti di sebelah Jaemi. Seorang yeoja turun dari mobil kemudian tersenyum manis.

“Jaemi anyeong.” sapa yeoja itu.

“Wae yeogi e?” Yeoja itu tak menjawab, ia hanya tersenyum. “Yaa Han so mi…!”

“Syuuut… aku tahu kau masih marah padaku.” So mi menarik tangan Jaemi agar segera memasuki mobil. “Kita mau kemana?” tanya So mi sembari menarik gigi kemudian mencap gas.

Jaemi menghembuskan nafas dengan kencang, ia melihat kearah kearah jendela.

“Hentikan mobilnya!”

“Waaah… kau harus berjalan sejauh ini?” tanya So mi yang masih sama tak mendapat respon.

Jaemi keluar dari mobil yang diikuti oleh So mi. Semua warga tengah digencarkan oleh kedatangan putri Silla. Banyak warga yang berebut untuk menjabat tangannya. Siapa yang tidak kenal dengan putri Silla, sepanduk raja Seungji dan kedua anaknya terpasang dengan besar di perbatasan. Tepatnya baru dipasang beberapa bulan yang lalu. Han so mi melihat-lihat sekiling, ia mencari Jaemi yang entah kemana.

“Silla geongju!”

“Nee.” Seorang bapak-bapak menyuruhnya untuk beristirahat di salah satu rumah. Bapak-bapak itu mengatakan bahwa satu minggu dua hari Jaemi tidur di rumahnya.

“Lalu kemana Jaemi?”

“Nona Jaemi sedang bekerja di kedai, yeoja itu benar-benar dingin. Tidak ada yang menyukainya.”

“Aaah… aku rasa anda telah salah paham, sebenarnya dia orang yang baik.” Bapak itu tersenyum sembari menujukan salah satu kamar dalam rumahnya.

#So mi *Pov*

Aku melihat-lihat sekeliling rumah, Jaemi tinggal di rumah ini? Hari sudah petang, namun aku tak melihat tanda-tanda kedatangan Jaemi. Aku bertanya pada Jung ahjushi, bapak-bapak yang tadi dengan sopan menyuruhku istirahat.

“Nona Jaemi akan kembali di malam hari, jadi jangan mengawatirkannya. Lagian aku tidak begitu suka dengannya.” Jung ahjushi tersnyum padaku. Aku memintanya untuk mengantarku ke tempat kerja Jaemi, tapi ia enggan untuk mengantarku hanya memberi petunjuk arah.

Jarum jam menunjukan di angka tujuh malam, aku berjalan seorang diri di jalanan yang sepi. Desa ini memang indah, namun tak ada sinyal. Lalu bagaimana aku menghubungi Jaemi? Apa tempatnya masih jauh? Aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang, aku ingin membalikan tubuhku tapi aku takut. Langkah kaki itu semakin mendekat, aku menghentikan langkahku kemudian mulai berlari.

Bersambung…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s