Like Petrichor Chapter 3

11219560_995263270505683_2746744773496623344_o

Judul: Like Petrichor (Chapter 3)

Author: Kim Jaemi (@iimwae)

Cast: Bts&Exo

*Kim Tae Hyung ooc (Bts)

*Jeon Jung Kook ooc (Bts)

* Im Jaemi or You

* Min Wang Zi (Author chingu)

Support Cast: Finded when you read it!!

Genre: Teen, Friendship, Romance, and School Life

Length: Chaptered

Disclaimer: No Copas!!No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

#Before

#Tae hyung *Pov*

     Malam ini aku dan banyak teman namjaku termasuk Jung kook pergi untuk menemui orang-orang yang berani mengganggu salah satu dari sahabatku.

     “Hoii… ahjushi?” ungkap ketua dari kelompok kami, dia bernama Kim nam joon yang juga menjadi pekerja bartender. “Masih ingat denganku?”

     “Aaah… kau anak ingusan dari Incheon yang dulu babak belur oleh kami.” Ledek namja bermata sipit.

Like Petrichor Chapter 3

— BISAKAH AKU MENGENAL NAMJA ITU? —

“Tapi sayangnya sekarang aku bertambah dewasa ahjushi, aku sudah cukup kuat untuk mematahkan tulang-tulangmu yang sudah rapuh.” Nam joon hyung segera menghajar laki-laki tua yang dulunya pernah mempermainkan hidupnya. “Kau ingat ahjushi, inilah yang dulu pernah kau lakukan padaku?” Dia menginjak kepala lelaki yang saat ini berada di lantai. “Dulu aku bekerja padamu, aku hanya meminta gajiku tapi kalau malah menghajarku dan menginjak kepalaku seperti sampah. Kau ingat itu ahjushi?”

“Bunuh dia?” perintah ahjushi yang seketika banyak namja yang keluar dari gudang. Aku melihat seorang namja hendak menusuk Nam joon hyung, segera aku berlari dan memegang ujung pisau yang tajam. Membuatku sedikit merintih kesakitan, banyak darah yang keluar dari telepak tanganku. Dengan tatapan sinis aku menendang perut namja yang akan melukai hyungku. Perkelahian sengit di mulai, semua teman-temanku mengahajar habis-habisan para ahjushi-ahjushi tua ini.

“Jangan pernah berani mengganggu teman-temanku, kalau tidak kau akan berurusan denganku. Arrra?” Ancam Nam joon hyung pada ahjushi-ahjushi yang sedang terbaring sembari memegangi tubuh mereka.

Aku dan semua teman-temanku keluar dari gedung tempat kami berkelahi, kami menuju rumah besar milik salah satu dari kami.

“Aaah… eotheoke? Jaemi akan mengomel jika tahu kita berkelahi lagi.” Ungkap Jung kook. Aaah… dia benar, yeoja itu pasti mengoceh melihat wajahku babak belur. “Yaa tae hyung-a lihatlah kau meiliki banyak luka di wajahmu, apa kau punya masalah? Kenapa kau tak bisa menghindar dari pukulan-pukulan ahjushi itu?” Tambahnya.

Memang yang paling banyak memiliki luka memar diantara teman-temanku adalah aku, biasanya aku bisa menghindar namun kali ini aku sedikit tidak enak badan. Di tambah lagi luka di telapak tanganku akibat tadi aku menahan pisau tajam. Aku tidak tahu besok harus bagaimana, pasti si Wang zi akan menanyaiku dan si cerewet Jaemi akan mengomeliku.

“Siapa jaemi itu? Kenapa kalian takut sekali dengannya?” Tanya kai dengan memegang dan meniup-niup luka di jari-jarinya.

Kim kai adalah sahabat terbaikku dari kecil, sejak kecil kami sudah bersahabat. Orang tua kami juga partner kerja, tak akan aku biarkan siapun mengganggu dan menyakitinya. Si sekiya ini adalah namja yang nappeun, setiap kali yeoja yang mendekatinya akan berakhir dengan air mata. Si brengsek satu ini hanya mendekati yeoja-yeoja untuk menemani malamnya, benar-benar namja yang brengsek. Dia anak Chaebol di Korea selatan, apapun yang dimintanya selalu dituruti. Dulunya dia punya adik laki-laki yang meninggal karena kecelakaan.

Hwang Zi Tao dia satu kelas dengan si brengsek Kai, aku dengar dia anak Chaebol China yang merantau ke Korea. Dia punya tatapan yang killer, pertama kali aku mengenalnya aku kira dia tidak menyukaiku karena tatapannya itu. Dia tidak suka bermain yeoja, aku dengar juga dia tipikal namja yang setia.

Nam joon hyung, si pekerja bartender di salah satu bar elit di Cheongdamdong. Dia adalah anak angkatan atas yang tidak lulus-lulus dari sekolah. Saat ini dia masih duduk di kelas tiga sma, seharusnya dia sudah lulus tiga tahun yang lalu. Namun namja ini terlampau malas, dia lebih senang bekerja daripada sekolah.

Masih banyak lagi teman-temanku dari sekolah lain ada Sehun namjachingu dari teman dekatku Wang zi, Chanyeol dan juga satu lagi si manis Suga.

#Jaemi *Pov*

“Dimana kedua teman namja kalian?” Tanya guru wali kelas yang baru memasuki ruangan.

“Aaah… mereka berdua.” Sejenak aku berfikir. “Tae hyung sedang sakit seonsaengnim, sedangkan Jung kook dia pergi ke rumah neneknya di desa.”

“Benarkah itu?”

“Saya sahabat mereka seonsaengnim…”

“Baiklah-baiklah… Jika mereka ketahuan bolos sekolah atau berkelahi lagi…”

“Aku pastikan itu tidak akan terjadi.” Selaku kesal. “Dimana mereka berdua?” Tanyaku pada sahabatku yang tengah asyik mendengarkan lagu. “Yaa Min wang zi?” Aku memukul pundak sahabatku yang duduk di depanku.

“Mwoya… molla.” Jawabnya yang kemudian memasang earphonenya kembali.

@Atap Rumah

          Aku melihat Tae hyung terduduk di depan kamarku, aku juga melihat banyak luka memar di wajahnya.

“Kau berkelahi lagi?” Segera aku menjatuhkan tasku setelah mengambil kunci kamar, aku juga membawanya masuk ke dalam kamarku. “Kenapa kau berkelahi lagi?”

“Berisik.” Hiiis… anak ini membuatku kesal saja, aku melemparkannya ke atas ranjangku yang membuatnya merintih kesakitan.

“Mwoya… ige mwoya?” Aku mlihat luka sayatan di tangan kirinya.

Seperti perawat yang merawat pasiennya, kini aku mengobati luka memar di wajah namja yang menyandarkan diri di ranjangku sembari memejamkan matanya. Aku juga membalut luka di telapak tangannya.

“Tidurlah disini kau akan dimarahi appamu jika pulang!?” aku tak mendengar respon darinya. “Yaa namja!?”

“Yaa yeoja!?” jawabnya yang masih memejamkan matanya dengan tersenyum manis. Hiiis kesalku yang hendak memukul kepalanya.

Aku membuat dua mie ramen untuk makan malamku dengannya, aaah merepotkan saja. Aku menyuruhnya makan, dia malah berisik dan mengatakan apa hanya mie ramen saja yang bisa kumasak.

“Sudah untung aku memberimu makan.” Namja ini selalu membuatku kesal. “Apa golden magnae juga ikut berkelahi?”

Aku melihat namja di depanku menganggukan kepalanya sembari menyantap mie ramen buatanku. Dia mengatakan bahwa yang paling parah dalam perkelahian itu adalah dirinya. Kenapa namja pendiam ini jadi cerewet? Aaah… ucapannya juga sudah mulai tak jelas.

“Yaa Tae hyung-a! Aku sudah mengantuk, aku tidur dulu ya? Jika kau mau tidur pakai kasur lipat dalam lemari.” Aku memang berusaha untuk menghindari namja yang satu ini, saat ini otaknya sedang tidak waras.

“Yaa Jaemi-a kau belum menjawab pertanyaanku?”

“Apa pertanyaan itu yang selalu kau tanyakan pada semua yeoja-yeoja?” Segera aku menarik selimut dan menyembunyikan diri di dalamnya. “Kau lebih menakutkan dari namja-namja yang pernah dekat denganku Tae hyung-a.”

“Yaa…”

“Bicara sekali lagi aku akan membunuhmu?” anacamku.

#Tae hyung *Pov*

Aku tertawa melihat yeoja yang saat ini menyembunyikan diri di bawah selimut. Aku hanya bertanya kapan terakhir kali dia berciuman, kenapa dengannya yang malah marah. Mungkin saja yeoja itu tak pernah berciuman, aku tau yeoja seperti apa dia itu. Yeoja suci yang tidak akan melakukan you know what i mean sebelum menikah. Saat ini aku tengah berada di teras melihat kearah langit, aku tidak bisa melihat bintang kerana cuaca hari ini mendung.

“Jungseyo?” aku mengangkat panggilan telepon dari Kai.

“Kau tidur dimana malam ini, kau tidak pulang ke rumahkan?”

     “Kau bertanya seolah-olah kau ini pacarku, aku tidur bersama yeoja saat ini.”

“Heol… sahabatku ini sudah bertobat, bahkan kau juga trouma dengan malam pertamamu.

Yaa neo iptapkero?

“Kau dimana?”

“Sudah kubilang aku dengan seorang yeoja saat ini.”

“Yaa Tae hyung-a apa kau tidak ingin tidur?” Aku mendengar seorang yeoja berteriak.

“Kau mendengarnyakan? Sudahlah aku mau tidur dulu.” Aku tertawa karena aku bisa mengerjai teman namjaku ini, Mungkin saja saat ini dia sedang berfikir keras untuk hal ini.

#Author *Pov*

Selang beberapa hari kemudian Jaemi berhasil membuat laki-laki yang medekatinya menyatakan cinta padanya. Yaah… sekali lagi ia berhasil menaklukan hati namja-namja seperti Chunji, tidak butuh waktu lama baginya untuk membuat namja incarannya menyatakan cinta. Jaemi bercerita pada sahabat-sahabatnya dan membuat Wang zi yang turut mendengarkannya menjadi kesal. Meskipun Wang zi kesal padanya, mereka tidak akan bertengkar perkara namja.

Sore ini sepulang sekolah Jaemi memiliki janji dengan pacar barunya, Jung kook dan Wang zi pun juga terlihat punya janji dengan yeoja dan namja incaran mereka, hanya Tae hyung yang terlihat tidak punya janji. Mereka duduk di tangga pinggir lapangan menunggu seseorang yang ditunggu datang kecuali Tae hyung.

“Aku mendapat pesan, dia sudah ada di depan, aku duluan teman-teman.” Jaemi berjalan menuju gerbang sekolah, tepat di depan gerbang ia bertemu Sehun, ia menyapa dan menanyakan kabar pada namjachingu dari sahabatnya itu.

‘Kau punya janji dengan Sehun?’ pesan singkat dari Jaemi untuk Wang zi sahabatnya.

‘Anya, memangnya kenapa?’ balas Wang zi penasaran.

‘Aku bersamanya sekarang, batalkan janjimu dengan namja lain jika kau tidak ingin berakhir disini.’

“Jaemi-a!? Cepatlah kesini?” dari kejauhan Chunjii memanggilnya. Jaemi pergi meninggalkan Sehun, sebelumnya Sehun bertanya siapa laki-laki yang memanggilnya, tapi ia tidak menjawab dan malah meninggalkan namja itu.

Disisi lain Wang zi bingung, apa yang harus ia lakukan. “Yaa yeoja! Santai saja tirulah sedikit trik Jaemi?” ungkap Jung kook yang asyik memainkan iphonnya.

“Bagaimana jika Sehun tau aku selingkuh?” ucap Wang zi panik. “Bagaimana kalau mereka datang bersamaan? Aaah eottokke eottokke?” tambahnya dengan mondar mandir dan menggigit jarinya.

“Kau pergi saja dulu dengan Sehun, biar aku yang mengurus anak kelas tiga itu.” kata Tae hyung membuat hati Wang zi tenang.

“Kau memang teman terbaikku Tae hyung-a.” sembari mencium pipi Tae hyung kemudian berlari menuju Sehun.

“Yaa! Berani sekali kau…” Tae hyung mengelap-elap pipinya dengan tangannya.

#Jaemi *Pov*

@Rumah Atap

Aku tengah terduduk di teras depan ruangan kecilku, melihat bintang dari kejahuan. Terdengar suara langkah kaki melewati tangga mendekat ke rumah atapku. Aku mengintip dari atas, ternyata langkah kaki dari ketiga sahabatku, Aku kembali duduk sembari memandangi bintang. Teman-temanku datang dengan membawa bir kaleng dan makanan ringan.

“Ya nappeun!? Aku tak melihat mobilmu, dimana mobilmu?” teriak Wang zi dari bawah, mungkin saat ini ia tengah menaiki tangga.

“Ooh itu, ketika aku kembali ke Seoul uri appa mengantarku.” jawabku sesampainya mereka di atas. Aku melihat ketiga sahabatku dengan sepintas kemudian melihat kearah langit menikmati indahnya bintang disana.

Jung kook dan Tae hyung duduk di sampingku, mereka membuka bir kemudian meminumnya, kami berempat minum-minum dengan bercanda. Di tengah candaan kami aku mendengar ponselku bergetar.

“Aaah… mengganggu saja.” aku membanting pelan ponselku.

Berkali-kali ponselku bergetar, tapi aku tetap tak menghiraukannya. Wang zi sempat mengintip nama penelpon yang sedari tadi membuat ponselku berisik. Ia bertanya kenapa aku tidak mengangkat panggilan telepon dari Chunji eoppa.

-Flashback-

Aku dan Chunji eoppa berjalan di pusat pembelanjaan ternama di Seoul. Aku melihatnya mengeluarkan credit card dan dengan sengaja mengambil uang di depanku. Hahaha aku berfikir untuk mengerjai namja sombong ini. Aku berjalan dan mencari sepatu sport kesukaanku, aku menyuruhnya untuk membayar semua sepatu yang aku beli. Aku juga mengatakan bahwa aku lapar, aku mengajaknya ke tempat makan yang termahal di Seoul. Ketika aku sedang asyik makan, tiba-tiba dia memegang tanganku membuatku menghentikan aktifitasku.

“Sayang, apa kau mencintaiku?” sebenarnya aku ingin muntah mendengar perkataan Chunji eoppa, tapi aku menahannya. Aku hanya menjawab “Eoo” kemudian melanjutkan makananku kembali. “Apa nanti malam kau mau pergi berdua denganku ke apartemenku yang berada di Cheongdamdong?” Mendengar Chunji eoppa mengatakan hal itu membuatku mendongakan kepala.

“Kenapa kita tidak pergi ke restoran saja eoppa?” Tanyaku menawarkan.

“Aku ingin bermalam denganmu.” Akhirnya kata-kata yang aku tunggu-tunggu terucap, benar-benar laki-laki yang mudah ditebak. Aku menaikan satu alisku, pertanda aku sedang berfikir.

“Apa kau marah Jaemi-a? Aku hanya bercanda ternyata teman-temanku benar bahwa kau anti dengan kata-kata itu.” Aku melihat Chunji eoppa menyesal telah mengatakan hal itu.

“Eoppa gwenchana… aku akan datang nanti malam dan bermalam bersamamu.” mendengar pernyataanku namja di depanku mendadak tersenyum lebar.

-Flashback End-

Semua teman-temanku tertawa, aku masuk ke dalam ruangan kecilku mengambil empat kotak lalu melemparkan tiga kotak kearah mereka.

“Igi mwoya?” Tanya Jung kook sembari membolak-balik kotak itu.

“Cari ukuran kalian masing-masing.” perintahku sambil mencoba sepatu baruku. Melihatku mengenakan sepatu, ketiga temanku segera membuka isi dalam kotak itu.

“Wah… kau membeli semua ini? Ini adalah sepatu sport limited edition.” kata Wang zi sembari berjalan-jalan dengan memakai sepatu barunya.

“Anya.” jawabku singkat, ketiga sahabatku menatap mataku dengan tajam. “Itu semua dibeli oleh uang Chunji eoppa, berterima kasihlah padanya. Aku sengaja memilih sepatu sport ini karena hanya ada satu sepatu model seperti ini.” tambahku merasa menang. Entah sudah berapa kali Chunji eoppa menelponku, tapi tetap saja aku tak mau mengangkatnya.

“Jungseyo.” Jung kook dengan lancang mengangkat panggilan telepon dari Chunji eoppa.

“Neon micheoso?” ucapku lirih.

Entah apa yang dibicarakan mereka, yang jelas Jung kook mengaku bahwa dirinya adalah pacarku. Aku memukulnya dengan sekeras-kerasnya, kemudian dia mematikan panggilan dari Chunji eoppa.

“Yaa! Kenapa kau memukulku?” gerutu Jung kook sembari mengelus kepalanya, aku rasa dia benar-benar kesakitan. Aku sudah tau bahwa Chunji eoppa bertaruh dengan teman-temanya, setiap laki-laki yang mendekatiku hampir semua pada akhirnya mengajakku untuk melakukan you know what i mean.

Beberapa hari telah berlalu si Chunji eoppa itu telah berhenti mengganggu dan mendatangi sekolahku, untuk beberapa hari ini aku benar-benar seperti teroris. Bagaimana tidak beberapa laki-laki termasuk Chunji eoppa sibuk mencariku, membuatku pusing saja. Malam ini, aku dan teman-temanku tidak keluar rumah. Wang zi mengatakan bahwa dia tidak diijinkan keluar oleh ibunya, Jung kook sedang pergi dengan seorang yeoja, sedangkan Tae hyung dia pergi dengan temannya. Yaah… ini kesempatanku untuk pergi ke bar.

“Ahjummaaa, aku ingin keluar sebentar.” teriakku sambil membuka-buka laci kamarku.

“Anda mencari apa nona?” Ahjumma masuk membawakan makan malam untukku.

“Apa kau tau kunci mobilku? Aaah… kampakke, mobilkukan berada di Incheon.” sembari memegang kepalaku. Aku memutuskan untuk jalan kaki, hanya membutuhkan waktu lima menit menuju bar itu. “Aku nanti pulang ahjumma, biar aku membawa kunci saja, jadi kau tak perlu repot-repot membukakan pintu untukku.”

Aku berjalan menuju bar seorang diri, kali ini aku tak perlu khawatir ada preman jalanan lagi, perumahan ini benar-benar dijaga ketat oleh satpam. Sesampainya aku di depan bar, aku bertemu satpam yang biasa menjaga bar ini, Ia bilang bahwa di dalam ada dua yeppeo namja. Kedua namja itu tak pernah datang ke bar ini. Setiap kali ada yeppeo namja datang, satpam ini pasti selalu memberi tahuku.

“Jinjja ahjushi, guere aku akan masuk, gomawo ahjushi.” Aku selau bicara tidak formal pada ahjushi gaul ini. Aku memasuki klub malam, tempat persinggahan keduaku setelah kedai ahjumma, aku menyapa bartender yang terlihat asyik dengan pekerjaannya. “Eoppa.” aku berjalan mendekati meja bar.

“Yaa! Yaa! Lihatlah siapa yang datang? Sudah beberapa bulan kau tak datang kesini Jaemi-a.” Ucap Nam joon eoppa sembari sibuk mengisi gelas. Mataku mulai mencari namja tampan yang dibilang ahjushi tadi. Aku melihat sekeliling, sepintas aku melihat namja yang sepertinya tak asing di mataku. Aku terus melihat kearahnya dan berfikir siapa namja itu, aku tak bisa melihat dengan jelas dikarenakan lampu diskotik yang mati nyala.

Kau tahu kenapa aku menghubungimu waktu terakhir kali aku kesini?”

“Aaah… iya kenapa itu? Aku menelpon balik tapi kau tidak mengangkatnya.”

“Berikan aku segelas minuman.” ucap seorang namja dari lawan arah, dia mendekat kearahku dan menghentikan percakapanku bersama Nam joon eoppa. Posisiku saat ini adalah duduk di depan meja bartender mengarah ke floor. Aku melihat namja itu semakin mendekat, dalam hati aku berkata “Oh my god, namja ini tampan sekali.” kesalnya dia hanya melirikku sembari mengambil pesanannya dan pergi ke floor begitu saja. Pantas saja di tengah-tengah floor banyak yeoja-yeoja fikirku dalam hati. Aku melanjutkan percakapanku dengan eoppa, sepertinya dia sudah tau kebiasaanku yang suka mengoleksi yeppeo namja. Pasti saat ini dia berfikir bahwa aku ingin mendekati namja itu.

“Eoppa, kenapa kau melihatku seperti itu?” ucapku sambil menikmati permainan musik dari DJ. Kini aku membenarkan dudukku menghadap kearah Nam joon eoppa. Meskipun aku terlihat ingin mendekati namja itu, tak pernah ada niatan untuk mengawali pendekatan dengannya.

“Yaa! Kenapa kau disini?” aku mendengar suara yang tak asing di telingaku, aku membalikan badanku sembari mengelus pundakku yang dipukul olehnya.

Bersambung…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s