Last Memory (Ficlet)

LAS MEMORY

Title    :  Last Memory

Story by : 29Megumi / Megumi (@0729yes)

Cast : Lee Junho (2PM), Kim Soeun (Actrees)

Support Cast : Song Jaerim

Genre : Romance, sad, Drama, Angst

Length : Oneshoot

Rate : PG – 16

Summary :

.

.

Perpisahan?

 

Siapa yang bahagia saat perpisahan datang?

 

Aku akan memberikannya lotre jika ada yang seperti itu.

.

.

.

.

.

Cerita ini murni karangan author semata, dan efek bergalau ria karena kehilangan seseorang. So lets read, and Don’t Be silent readers, gomapta chingudeul ^^

Sound recommended pas baca nih ff

2PM – Suddenly, Ukiss- 0330, Ailee – Heaven

Gak nyambung sih, tapi coba aja wkwk. 

.

.

.

.

.

.

-o0o- Last Memory –o0o-

Kim Soeun tertawa miris lebih kepada meremehkan dirinya sendiri, ia memandangi sepatu kets yang ia kenakan.

Hai sepatu? Sudah membawa diriku kemana saja kau? Kenapa aku masih ada disini? Ditempat menyakitkan ini?

Kesal, gadis itupun menghentakkan kakinya kasar. Helaan napasnya sampai terdengar jelas. Bukan karena sepinya tempat ini, tapi mungkin karena memang ia yang tuli akan keramaian sekitar. Sehingga ia hanya bisa melihat bagaimana kepedihan dan kemirisan hidupnya yang patah karena perpisahan.

“Mau sampai kapan kau disini?”

Soeun mendongak, mengetahui seseorang berjalan mendekat dan berbicara padanya.

“Lee Junho”

Rasanya tenggorokan nya serak saat mengucapkan nama itu. Nama seorang laki-laki tampan dengan eyesmile yang luar biasa sempurna. Dia, yang ada dihadapannya kini.

“Eun”

Suara Junho menyapa gendang telinganya. Membuat ia menutup rapat matanya. Terlalu sakit, Soeun ingin membuangnya, tapi kenapa dia selalu datang? Bukankah pria itu yang meninggalkan dirinya? Lalu kenapa dia masih selalu mengikuti Soeun.

Soeun menutup telinganya, tidak mau mendengar suara pria itu lagi. Tidak mau.

“Kim Soeun”

Soeun menggeram, kenapa pria ini keras kepala sekali.

Tanpa menjawabnnya dan melihatnya. Soeun lantas berdiri dan pergi secepat yang ia bisa. Semula berjalan cepat, dan Junho mengejarnya. Soeun memutuskan berlari. Dan Junho masih juga mengikutinya

Sebenarnya apa yang pria itu inginkan?

Dengan begini, justru Junho semakin menumbuhkan kenangan-kenangan yang sudah Soeun pendam.

-o0o-

“Pulang malam lagi? Memang kau tidak ada kerjaan lain apa? Kau masih punya esok untuk mengerjakan pekerjaanmu! Tidak harus lembur begini”

 

 

 

Junho terus mengomel sepanjang jalan. Kini, pemuda yang mengenakan jaket hitam dengan topi dan masker itu tengah mengantar sang gadis pulang setelah bekerja.

 

 

Pemuda itu lelah dan merasa kasihan karena kekasihnya selalu saja pulang lebih larut. Rasanya ia ingin menghampiri bos tempat kekasihnya bekerja dan mencincang cincang bos itu.

 

 

“Cihh.. berhenti mendumel Lee Junho! Aku ini reporter, bekerja full time adalah hal wajar”

 

 

“Tidak itu tidak wajar! Hei pemerintah saja sudah menetapkan kerja 8 jam sehari! Aku laporkan saja perusahaan tempat mu bekerja itu! Dan juga bosmu yang sok tampan si song jaerim itu!”

 

 

Kim Soeun -kekasih Junho- menghentikan langkahnya,, membuat Junho juga berhenti. Mereka sempat saling bertatap, tapi sepersekian detik kemudian, Soeun justru tertawa geli.

 

“Apa? Melaporkan? Coba saja kalau kau berani? Karirmu taruhannya Lee Junho”

 

Soeun mengibaskan tangannya “sudahlah lupakan” gadis itu pun berjalan kembali.

 

 

Junho diam, matanya memancarkan kejengkelan. Bukan terhadap Soeun, tapi, lebih kepada dirinya sendiri. Dia memang pengecut. Karena ia tidak bisa mengatakan pada dunia kalau ia memiliki kekasih dan itu adalah Soeun.

 

 

“Bagaimana jika aku bisa melakukannya?”

 

 

 

Entah angin apa yang menampar pria itu. Tiba-tiba saja ia membuka suara yang cukup lantang. Membuat Soeun yang sudah berjarak sedikit jauh menoleh kaget.

 

 

Hei, apa dia gila? Bagaimana jika orang-orang curiga?

 

 

Benar saja, beberapa orang yang melewati mereka sempat berhenti dan menoleh penuh rasa penasaran kearah Junho.

 

 

Soeun menggigit bibir bawahnya khawatir orang-orang disekitarnya mengetahui penyamaran Junho.

 

 

“Apa dia Junho? Junho oppa?”

 

 

“Suaranya seperti kenal”

 

 

“Apa dia selebrity, aku tidak asing dengan perawakannya”

 

 

 

Bisik-bisik suara orang-orang tambah membuat Soeun was-was. Oh tidak, Junho! Jangan lakukan hal bodoh. Kau mau melihatku mati ditangan fansmu besok hah?

 

 

 

“Aku mencintaimu! Aku akan menghukum orang yang menyakitimu dan memperlakukanmu dengan tidak baik! Apa aku salah? Aku bisa melakukan itu!”

 

 

 

Soeun geram, ia pun menghampiri Junho dan menariknya, membawanya cepat-cepat pergi dari orang-orang yang mulai mengelilingnya tadi. Dan cepat cepat berjalan agar mereka cepat sampai dirumah Soeun.

 

 

“Kau gila yaa.. semua orang hampir saja tahu identitasmu.. bagaimana kalau itu terjadi.. astaga lee Junho”

 

 

Junho menghempas tangan Soeun. Membuat Soeun terkejut,

 

 

“Apa kau fikir aku sedang bercanda?”

 

 

Soeun memutar bola mata malas “Junho aku mohon, berhenti bersikap seperti ini”

 

 

“Kim Soeun? Apa kau suka seperti ini? Sembunyi-sembunyi dalam menjalin hubungan?”

 

 

Soeun menghela napas, sebenarnya, ia juga tidak suka seperti ini. Ia ingin seperti pasangan normal lain, pergi kemana saja dan kapan saja dengan kekasih tanpa harus sembunyi-sembunyi dan menyamar.

 

Tapi, kali ini kasusnya berbeda. Kim Soeun memcari seorang idol papan atas korea. Lee Junho, member dari boygrup 2PM . Dan itu suatu ketidak mungkinan ia bisa seperti pasangan lain, lihat. Junho saja harus selalu memakai perlatan ninjanya jika hendak bertemu dengannya.

 

Ya, perlatan ninja : jaket, kacamata, makser dan topi.

 

 

“Bukan begitu, tapi, aku tidak mau seperti doyeon yang diserbu fans L infinite, saat netizen tahu kalau mereka berpacaran”

 

 

Junho menghela napas, ia akui, semua permasalahan dalam hubungannya adalah dirinya dan statusnya.

 

 

“Maaf, maafkan aku” sesal Junho.

 

 

Soeun menggeleng lalu tersenyum, ia tidak pernah menyalahkan Junho. Kalau mau saling menyalahkan, dirinya juga salah. Kenapa dia justru mencintai orang yang dicintai banyak orang.

 

 

“Tidak perlu meminta maaf, karena tidak ada yang perlu dimaafkan tuan lee”

 

 

Junho tersenyum, ia kemudian melangkah mendekat kearah Soeun, merentangkan tangan meminta Soeun memeluknya. Soeun terkekeh, namun akhirnya gadis itu pun berhambur kepelukan Junho.

 

 

Mereka saling berpelukan, menghantarkan rasa kasih yang mereka miliki dengan cara seperti ini.

 

Junho menghirup aroma shampo Soeun yang sangat membuatnya nyaman. Pria itu pun makin merekatkan pelukannya. Ia sesekali mengintip kearah jendela rumah dihadapannya ini, Ya, rumah Soeun.

 

 

“Tidak ada nenek galak itu kan?”

 

 

Soeun merenggangkan pelukannya lalu menatap gangar Junho

 

 

“Hei. Dia itu nenekku. Jangan bicara begitu”

 

 

“Aishhh.. nenek sama cucu sama saja, sama-sama galak” Junho menjawir hidung Soeun dengan gemas.

 

 

Mereka tertawa, Junho sudah melepas masker yang ia kenakan, lingkungan tempat Soeun tinggal memang aman, lebih-lebih daerah ini akan sepi dijamjam malam begini.

 

 

Tangan Soeun terulur memainkan anak-anak rambut Junho.

 

 

“Setelah ini, kau akan pergi kemana?” Tanya Soeun.

 

Soeun tahu, Junho selalu mencuri waktu untuk menjemput dan mengantarnya pulang disela jadwal padatnya.

 

 

“Aku akan pergi ke jepang, besok ada premier twenty, film ku yang akan mulai tayang disana”

 

 

Soeun mengangguk “jaga dirimu, minum vitaminmu, dan jangan lupa mengirimiku pesan”

 

 

Junho tersenyum, senyum seorang lee Junho yang meneduhkan dan membuat orang lain juga ikut tersenyum.

 

 

“Baik nyonya”

 

 

 

“Hmm tapi vitaminku habis” ujar Junho lagi kini dengan perubahan ekspresinya

 

 

“Apa? Memang managermu tidak membelikanmu? Lalu wooyoung oppa? Apa dia tidak memberimu vitamin?”

 

 

“Ishhh.. bukan vitamin yang itu bodoh”

 

 

Soeun memiringkan wajahnya “lalu?”

 

 

Junho tersenyum jahil, “lalu?” Ujar Junho dan mendekatkan wajah lebih dekat lagi dengan Soeun.

 

 

Jarak diantara mereka pun semakin dekat, hanya tinggal beberapa centimeter lagi,

 

 

Jika salah satu diantara mereka bergerak pun, jarak itu akan terkikis habis.

 

 

Junho hendak memajukan lagi wajahnnya,

 

Soeun tersenyum malu “dasar mesum”

 

“Mwo? Hei.  Aku tidak mesum, aku hanya minta cium”

 

 

“Sama saja”

 

 

“Sudah diam”

 

 

Soeun pun diam, dan Junho kembali melancarkan aksinya.

 

 

Mereka saling menutup mata, menikmati sentuhan bibir penuh dengan perasaan itu.

 

 

Perasaan sayang

 

 

Yang entah mengapa nampaknya. Malam ini lebih dari pada itu.

-o0o-

“Eun”

Soeun lagi lagi menutup telinga nya kasar dan keras. Ia kesal, ia tidak mau mendengar suara laki-laki itu lagi tidak mau!

Kenapa Junho tidak pergi saja, kenapa? Kenapa dia justru masih disini? Masih mengantarku pulang belerja? Kenapa Junho? Seharusnya kau sudah pergi? Pergi sana! Pergi!

Erang Soeun dalam hatinya.

“Soeun”

“DIAMMMMMM”

Soeun sudah sampai pada batasnya. Ia pun menoleh pada Junho yang berdiri dibelakangnya.

Tanpa masker

Tanpa kacamata

Dan tanpa topi

Kenapa disaat ia pergi dan mereka tidak bersama lagi, justru Junho bisa sebebas ini pergi kemana-mana?

Kenapa tidak saat dulu mereka masih berpacaran?

“Pergi” lirih Soeun

Satu tetes air mata keluar dari pelupuk mata Soeun.

“Pergi Junho”

Dan Soeun,

Kenapa dia harus menyuruh Junho pergi ditempat penuh kenangan ini?

Didepan rumahnya sendiri

Tempat Junho biasa memeluknya

Tempat Junho biasa mengeluarkan kata kata manisnya

Dan tempat Junho selalu meminta dicium olehnya.

“Pergi Junho kumohon” Soeun terduduk lemas

Soeun menangis, ia menangis mengeluarkan seluruh perasaanya, sakit, sedih dan kehilangan.

Sosok Junho masih berdiri dihadapannya, memperhatikan dalam diam seorang kim Soeun yang menangisi dirinya.

“Jangan menangis”

Suara Junho justru membuat air mata itu makin tumpah ruah, Soeun tak bisa lagi menahannya.

Terlalu perih,

Ia tidak sanggup menghadapi ini

Ia tidak bisa menerima perpisahan mendadak ini

Sebuah mobil mewah tiba-tiba saja melintas dan berhenti tak jauh dari tempat Soeun terduduk lemas dan menangis.

Seorang pria turun dari mobil itu, setelan jas yang mewah dan senada menandakan jelas status pria itu.

“Bodoh, apa yang kau lakukan disini”

Pria itu menghampiri Soeun, membantu Soeun berdiri.

Tapi Soeun mengelak, ia tidak mau, sebelum Junho pergi.

“Pergi, Junho, pergi” Soeun kembali merintih sambil menangis.

“Kim Soeun! Berhenti menyebut Junho Junho dan Junho! Dia sudah tidak ada, ikhlaskan dia Soeun, kau tidak bisa terus seperti ini”

Pria berjas itu merengkuh Soeun dalam pelukannya, Soeun justru makin menangis.

“Jaerim, Junho”

“Stttt.. aku tahu ini berat, tapi Junho sudah tenang dialam sana, berhenti bersikap seperti ini, kau membuatnya tidak tenang”

Song Jaerim-pria ber jas itu kemudian mengeratkan pelukannya. Membiarkan Soeun bersender di pundaknya dan menangis. Soeun masih menangis, dan masih menatap sosok Junho yang makin lama makin memudar dari pandangannya.

Sosok Junho itu mendekat, mencondongkan tubuhnya yang tembus pandang, dan mencium kening Soeun.

Soeun makin menjadi, tangisan tak bisa lagi ia bendung.

Terlebih. Sosok Junho mulai menghilang dari pandangannya.

Jadi, Junho benar benar pergi?

Jadi, berita kecelakaan seminggu yang lalu itu benar?

Junho sudah tiada?

—-Fin—-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A/N : Haii haiii… Megumi here, saya bawa FF baru lagi dan untuk pertama kalinya bermain cast JUNHO 2pm yang tidak lain dan tidak bukan suami kesayangan #hahaaha

Sebelumnya, mohon maaf bila ada penulisan yang tidak sesuai atau banyak typo berkeliaran, masih sama-sama belajar say amah hehe..

Anyway, semoga suka ya.. maaf juga kalo gaje, nih FF dibuat hanya dalam dua jam wkwk..

Happy reading ^^

gomawo

4 thoughts on “Last Memory (Ficlet)

  1. wahh aprell kita bertemu disinih wkwk.. (kalomasihingetakuhh)

    yahh emang, jangankan ditinggal untuk selamanya, ditinggal sebentar aja pasti rasanya sedih huhuu jadi curhat wkwk

    anyway maksih udh comen dan baca yaww

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s