Like Petrichor Chapter 4

11219560_995263270505683_2746744773496623344_o

Judul: Like Petrichor (Chapter 4)

Author: Kim Jaemi (@iimwae)

Cast: Bts&Exo

*Kim Tae Hyung ooc (Bts)

*Jeon Jung Kook ooc (Bts)

* Im Jaemi or You

* Min Wang Zi (Author chingu)

Support Cast: Find them when you read it!!

Genre: Teen, Friendship, Romance, and School Life

Length: Chaptered

Disclaimer: No Copas!!No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

#Before

“Berikan aku segelas minuman.” ucap seorang namja dari lawan arah, dia mendekat kearahku dan menghentikan percakapanku bersama Nam joon eoppa. Posisiku saat ini adalah duduk di depan meja bartender mengarah ke floor. Aku melihat namja itu semakin mendekat, dalam hati aku berkata “Oh my god, namja ini tampan sekali.” kesalnya dia hanya melirikku sembari mengambil pesanannya dan pergi ke floor begitu saja. Pantas saja di tengah-tengah floor banyak yeoja-yeoja fikirku dalam hati. Aku melanjutkan percakapanku dengan eoppa, sepertinya dia sudah tau kebiasaanku yang suka mengoleksi yeppeo namja. Pasti saat ini dia berfikir bahwa aku ingin mendekati namja itu.

“Eoppa, kenapa kau melihatku seperti itu?” ucapku sambil menikmati permainan musik dari DJ. Kini aku membenarkan dudukku menghadap kearah Nam joon eoppa. Meskipun aku terlihat ingin mendekati namja itu, tak pernah ada niatan untuk mengawali pendekatan dengannya.

“Yaa! Kenapa kau disini?” aku mendengar suara yang tak asing di telingaku, aku membalikan badanku sembari mengelus pundakku yang dipukul olehnya.

Like Petrichor Chapter 4

—MEREKA YANG TAK PERNAH MENGAJAKKU KENAPA MEREKA YANG MENYUDUTKANKU?—

Aku menggigit ujung bibir bawahku, seolah-olah tak percaya bahwa namja yang di depanku sekarang ini, tak lain tak bukan adalah Kim tae hyung teman sebangkuku sekaligus sahabatku. Entah habis minum apa, namja yang biasanya dingin dan pendiam berubah menjadi namja yang bawel dan banyak bicara, bahkan mengalahkan Jung kook. Malam ini Tae hyung benar-benar berisik, dia terus bertanya perihal kedatanganku ke bar ini. Terang saja dia terkejut, selama ini ketiga sahabatku tak pernah tau bahwa aku sering ke klub malam. Sebenarnya aku kesal dengannya, sedari tadi ngomel terus tanpa mengenalkan namja tampan yang bersamanya. Aku mengurungkan niatku pulang ke rumah di Cheongdamdong, Aku menyuruh Tae hyung mengantarkanku ke rumah atap.

#Author *Pov*

@Sopa School

“Aaah menyebalkan, eomma melarangku keluar kemaren malam.” gerutu Wang zi kesal. “Jaemi terlambat lagi?” tambahnya. Tae hyung menceritakan pada kedua sahabatnya perihal kemaren malam. Sesampainya Jaemi di kelas, Wang zi dan Jung kook menatapnya tanpa henti. Ia tau kenapa kedua sahabatnya melakukan hal itu, pasti Tae hyung sudah bercerita fikirnya dalam hati. Jaemi menjelaskan kepada ketiga sahabatnya, ia mengaku bahwa ia sering ke klub malam.

“Cheongdamdong bar, kau sering ke bar itu? Tanpa mengajakku? Haiis…” Tanya Jung kook sembari menjitak kepala Jaemi. Jaemi mengangguk dengan memegang kepalanya, kali ini ia benar-benar disudutkan oleh ketiga teman-temanya. “Dan kau Tae hyung-a kau pergi kesana juga? Aaaah teman macam apa kau ini?

“Yaa… aku mengajakmu kemaren malam, kau bilang sedang sibuk dengan yeoja-yeoja.” Tae hyung menjitak kepala Jung kook yang duduk di depan Jaemi. “Gadis satu ini juga terlihat akrab dengan pekerja bartender.”

“Yaa…! Bagaimana kau bisa masuk ke bar semahal itu?” Tanya Jung kook yang terlihat kesal.

“Aaah aku merogoh kantongku dalam-dalam demi untuk memasuki bar elit itu, yaa yeoja! Bagaimana kau bisa masuk ke bar semahal itu?” Tae hyung menajamkan pandangannya kearah yeoja yang duduk di sampingnya.

“Apa kalian tidak tahu bahwa bar itu free ladies?

“Aaah… kalau aku tahu disitu ada free ladiesnya pasti aku akan pergi ke tempat itu? Yaa! Kenapa kau tak pernah mengajakku?” gerutu Wang zi menyesal.

“Kalianlah yang tak pernah mengajakku ke bar, geunde Tae hyung a? Ngomong-ngomong siapa yeppeo namja yang bersamamu kemaren.” Tanya Jaemi mengalihkan pembicaraan. Tae hyung telah berubah seperti biasanya, tak seperti kemaren malam, ia hanya menjawab “Kai” dengan singkat. “Namja itu tampan, kenalkan aku padanya?” tambah Jaemi tanpa melihat Tae hyung.

“Yaa napeun yeoja! Setampan apa namja itu?” Tanya Wang zi penasaran.

“Tanyakan saja pada Tae hyung.” Sesaat Tae hyung hanya diam kemudian berkata “Dia adalah Kai, kau mengenalnya Wang zi-ya, dia adalah murid pindahan sewaktu kita masih smp.” Wang zi mencoba mengingat namja itu, tapi dia tak mengingatnya. “Dia namja yang brengsek, dia hanya mendekati yeoja untuk menemani malamnya saja.” jelas Tae hyung dengan cepat.

“Apa bedanya dengan Jung kook dan namja-namja yang pernah dekat denganku?” tandas Jaemi menggoda Jung kook. Jaemi bukanlah tipe yeoja pemaksa, ia lebih suka namja-namja yang mendekatinya terlebih dahulu.

“Kim kai… yeoja ini minta dikenalkan dengan namja brengsek sepertinya. Siap-siap kau berakhir dengan air mata jika kau mendekatinya.” Ungkap Jung kook. Jaemi hanya mengangkat telapaknya sembari merapatkan bibirnya.

Sepulang sekolah Jaemi dan teman-temannya tidak langsung pulang, mereka duduk-duduk di koridor sekolah. Lelucon Jung kook membuat mereka tertawa, suasana di koridor saat ini sangat sepi, semua murid sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, hanya ada suara Jaemi dan teman-temannya.

“Aku ke kamar mandi dulu.” Ucap Jaemi sembari berdiri menuju kamar mandi. “Aaah… kenapa sudah di kunci?” keluhnya kesal.

“Yaa nappeun yeoja! Kemana?” teriak Wang zi.

“Kamar mandinya sudah di kunci aku mau ke kamar mandi di kelas satu.” jawab Jaemi. Sepanjang perjalan ia memasang headset dan mendengarkan lagu.

“Eonni, Jaemi eonnikan?” sapa yeoja yang ada di dalam kamar mandi.

“Eoo, nugu?” sembari melepas headset yang sedari tadi melekat di telinga Jaemi.

“Naa… Songyi, Song yi kyung i ye yo.”

“Guere, nugueyo?”

“Eonni jinjja mollaeyo?”

“Eoo.”

Yeoja itu menjelaskan bahwa dia adalah artis yang sedang naik daun, tapi Jaemi mengaku tak mengenalnya. Jaemi merasa kesal dengan yeoja di depannya, dia sudah tau pasti ujung-ujungnya yeoja itu akan menitip salam pada Tae hyung. Jaemi meninggalkan yeoja anak kelas satu itu, ia menuju teman-temannya dan memasang headsetnya kembali.

“Sudah sore ayo kita pulang.” Jaemi mengambil tasnya kemudian berjalan menuju gerbang.

“Yaa yeoja! Gidaryo?” perintah Jung kook sembari berlari menuju yeoja yang tak merespon krmudian merangkulnya, Tae hyung dan Wang zi mengikuti mereka dan ikut merangkul juga. Mereka berempat berjalan menjauhi sekolah, Wang zi mengantar Jaemi ke rumah atapnya, sedangkan Tae hyung dan Jung kook pulang ke rumah mereka masing-masing.

#Jaemi *POV*

@Rumah Atap

Malam ini aku mendapat panggilan telepon dari nomor yang tak ku kenal. Sesaat aku enggan mengangkatnya, tapi aku urungkan niatku kemudian aku mulai mengangkat nomor tak dikenal itu.

“Jungseyo? Nugueyo?”

“Jungseyo.”

Aku mendengar suara namja, lalu aku menanyakan siapa namja ini. Yaah… lagi lagi aku mendapat panggilan telepon dari namja-namja aneh. Segara aku menutup panggilan tak jelas itu lalu mulai mencari nomor milik Wang zi.

“Yaa nappeun, eodi e? Datanglah ke rumah atap?”

“Aaaah miane Jaemi-a, eomma melarangku keluar rumah. Jinjja jinjja miane.”

“Eoo gwenchana, nan kenheo.”

Aku menutup panggilan teleponku dan mencari nomor ponsel Jung kook. Awalnya aku berfikir ini akan sia-sia mengingat Jung kook adalah raja yeoja. Yaah… tepat sekali, ketika aku menghubunginya aku mendengar suara yeoja, cepat-cepat aku menutup panggilanku, hanya tinggal Tae hyung yang belum aku hubungi.

‘Yaa namja! Datanglah ke rumah atapku.’ Pesan singkatku padanya, aku tak melihat ada balasan darinya. Aku ingin ke bar tapi aku masih trouma kalau harus berjalan sendiri di jalan setapak itu, aku takut kalau ada ahjushi-ahjushi itu lagi. Terdengar ponselku bergetar, aku berfikir siapa lagi yang meneleponku, ternyata itu adalah Tae hyung.

“Jungseyo.”

Eooo.”

“Mian, aku harus mengantar eommaku belanja.”

“Hmmm, arraso ga?”

Aku benar-benar bosan di rumah sendiri, kalau saja aku tau akan seperti ini pasti aku akan pulang ke rumah di Cheongdamdong.

-Drt…drt…drt-

Lagi-lagi aku mendengar ponselku bergetar. “Jungseyo Eomma.” Aku mendapat panggilan telepon dari eommaku.

Eomma menyuruhku pulang saat liburan sekolah beberapa bulan lagi, aku hanya mengiyakan permintaan eommaku ini. Kini aku sendiri di rumah atapku, berharap ada yang mengajakku keluar. Aku melihat-lihat kontak di ponselku mencari-cari nama yang bisa aku ajak keluar. Aku melihat nama namja, anak kelas satu yang pernah menyukaiku.

“Noonha, waeyo?” Dia mengangkat panggilan teleponku dengan girang.

“Yaa jimin-a! Datanglah ke rumah atapku dan jemput aku?” Perintahku padanya, dia mengiyakanku dengan cepat. Aku berganti baju kemudian menunggunya di depan ruangan kecilku.

Tin-tin aku mendengar suara klakson mobil, segera aku menuruni anak tangga dan menuju mobilnya.

“Noonha.” Dia membukakan pintu mobilnya untukku.

“Gomawo.” ucapku sembari memasuki mobil.

“Noonha kita akan pergi kemana?” Tanya jimin sembari menancap gas mobilnya.

“Cheongdamdong.” Jawabku singkat.

Mungkin dalam hatinya bertanya-tanya kenapa aku mengajaknya kesana. Dia menawariku makan malam tapi aku menolaknya dan menyuruhnya mengantarkanku ke Cheongdamdong. “Rumah nomor dua satu.” Titahku padanya.

“Noonha sebenarnya kita mau kemana?”

“Sudahlah cari rumah nomor dua satu.”

“Iya setidaknya beri tahu dulu apa yang akan kita lakukan di rumah itu noonha?”

“Yaa!? Apa yang kau maksudkan dengan apa yang akan kita lakukan di rumah itu? Seolma… aaah jinjja.”

“Anya noonha, gereonggo anya”

“Neon micheoso?” Aku menyuruhnya menghentikan mobilnya kemudian keluar dari mobil lalu menyuruhnya pulang.

“Geunde noonha.”

“Yaa sikereopta, garagu?” perintahku lagi padanya.

“Jaemi noonha.” rengeknya memanggil namaku.

“Aaah jinjja e garagu?” Kali ini aku kesal pada jimin yang tak mau pulang. Yaah… aku harus bertanggung jawab karna akulah yang sudah menyuruhnya untuk menjemputku. “Geure, bammeok gatchiga?” Aku mengajaknya makan di sebuah restoran yang berada di perumahan ini. Selesai kami makan dia beranjak dari tempat duduk dan membayariku makan. Tau saja kalau aku belum mengambil uang ucapku dalam hati. “Antarkan aku ke rumah tadi?” Aku menyuruhnya untuk mengantarku ke rumah, dia malah mengajukan pertanyaan yang membuatku kesal. “Kau tau Wang zi kan itu rumahnya aku mau tidur disana, denya?” Untungnya dia mempercayaiku.

Aku memasuk rumah dan dia pun pulang ke rumahnya. Aku berganti pakaian lagi dengan menggunakan rok lima centi di atas lutut dan menggunakan kemeja transparan beserta highless. Yaah… aku berniat ke bar lagi, aku memang seorang yeoja yang tak betah berada di rumah seorang diri tanpa teman. Aku pamit pada ahjumma, meskipun terlihat ingin melarangku tapi ia tak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Aku berjalan menuju bar, kali ini aku tak melihat satpam yang biasa menjaga bar disini. Aku cuek saja dan berjalan mendekati meja bar, aku juga tak melihat Nam joon eoppa yang biasa menjadi bartender di bar ini.

“Aku tak melihat eoppa kemana dia?” Tanyaku pada bartender yeoja yang biasa menemaninya.

“Aaah… dia belum datang tunggu saja?” Rupanya aku datang lebih awal, terang saja jarum jam masih menunjukan pukul sembilan lebih lima belas menit. Aku berjalan menuju floor dan menari mengikuti permainan music dari DJ. Setelah lama aku menari aku melihat Nam joon eoppa telah sibuk mengisi gelas, bergegas aku mengahampirinya.

“Kau datang lagi Jaemi-a?”

“Euum… aku bosan di rumah.” Jawabku sembari menyalakan rokok.

“Merokok lagi?” Aku tak menghiraukannya dan terus menghisap puntung rokok. Aku melihat dua namja memasuki bar, salah satu dari mereka berjalan menuju bartender untuk memesan meja dan minuman. Dia melihatku sepintas lalu melanjutkan dengan memesan meja dan minuman. Yaah… dia adalah namja yang datang bersama Tae hyung kemaren malam. Aku kesal karna lagi lagi dia hanya melihatku sebentar, tanpa mengucapkan “Anyeong” dan pergi begitu saja seolah-olah kami tak pernah bertemu sebelumnya. Aku memalingkan wajahku kemudian melanjutkan percakapanku dengan Nam joon eoppa.

“Kau sudah lama disini?”

“Sekitar satu jam yang lalu.”

Jam menunjukan pukul sepuluh malam, kini saatnya permainan dari DJ yang sengaja diundang untuk menjadi bintang tamu. Bar ini memang sering mendatangkan bintang-bintang ternama di Korea. Aku tak mau ketinggalan dengan DJ idolaku itu, aku menuju floor dan menari lagi.

“………” ucap salah satu namja padaku, aku tak dapat mendengar dengan jelas dikarenakan musik.

“Kau mengingatku.” Ucapnya mengeraskan suara. Dia menarikku dan mengajakku ke tempat duduknya di ruangan kecil yang dia pesan bersama temannya.

“Kau mengenalnya?” aku mendengar suara namja yang duduk di ruangan itu. Aku masih bingung dengan namja ini, yaah… aku memang mengenal namja yang duduk itu, diakan temannya Tae hyung tapi namja yang menarikku ini siapa fikirku dalam hati.

“Hey kau tak ingat denganku?” aku mencoba untuk mengingat namja ini.

“Aaaa… Tao-ssi?”

“Yups majayo, rupanya kau masih mengingat namaku… anja?” Dia menyuruhku duduk, Aku ingat sekarang, dia adalah namja yang pernah menyelamatkanku beberapa bulan yang lalu. “Kau belum memberi tahu namamu.” ungkapnya menagih janjiku dulu.

“Yaa! Kau membawa seorang yeoja yang tak kau kenal?” Sembari meminum minuman yang dia pesan tadi.

“Im jaemi, aku boleh keluarkan?” Aku berdiri hendak melangkah keluar.

“Kau teman Tae hyung?” Tanya namja yang bernama Kai yang juga menghentikan langkah kakiku, aku berbalik badan ke arahnya.

“Eoo, aku fikir kau lupa denganku.” ucapku kesal.

“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Tao.

Aku keluar dari ruangan itu lalu menuju floor, aku melewatkan permainan Dj idolaku. Kesal, tapi disisi lain aku senang pada akhirnya aku bisa berkenalan dengan namja yang bernama Kai. “Gomawo Tao-ssi.” gumamku dalam hati. Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam Nam joon eoppa mengomeliku dan menyuruhku pulang, tapi aku malah menyalakan rokok lagi di depannya.

“Yaa, aku tak bisa mengantarmu, cepatlah pulang?

“Eoppa sikero?”

“Mwo? Kau bicara informal denganku?” aku menutup mulutku dengan satu tanganku. Nam joon eoppa malah tertawa melihat tingkah lakuku ini.

“Anyeong Jaemi-ssi?” Aku menoleh pada sumber suara. Tao menawarkan diri untuk mengantarku pulang, dengan nada terpaksa aku mengiyakannya.

#Author *Pov*

“Yaa sekiya, jaga uri deongseng?” Perintah Nam joon.

“Hyung, dia adikmu? Arraso.” Tanya Tao. “Aku sudah pernah menyelamtakannya satu kali.”

“Jadi yeoja ini yang kau selamatkan dulu yang membuatmu di pukuli oleh ahjushi-ahjushi itu? Kenapa kau tak bilang padaku jaemi-a?” Nam joon benar-benar khawatir.

“Eoppa khawatirmu telat.”

“Yaa… gara-gara kau kami semua babak belur, kami mendatangi para ahjushi-ahjusi karena berani memukuli namja tengik ini.” Nam joon mengarahkan kepalanya pada Tao.

“Siapa yang menyuruhmu?” ungkap Jaemi dengan wajah datar.

Jaemi, Kai dan Tao pergi dari bar, mereka memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah atap milik Jaemi dan meninggalkan motor milik Kai. Selama perjalanan Jaemi dan Tao banyak cerita, berbeda dengan Kai yang sedari tadi hanya diam dan berjalan sembari mengantongi tangannya. Tao mencoba menggoda Jaemi dengan berjalan mundur di depannya dan sesekali membuatnya tersenyum.

“Tao-ssi kau mengenal Nam joon eoppa? “

“Eum, dia kakak tingkat di sekolahku.”

“Daeeebak. Kau sekolah di Shungji high School?”

“Eum, aku dan Kai sekolah di sana, hanya Tae hyung yang masuk Sopa.”

“Kau juga mengenal Tae hyung? Haiis geu namjaneun… pantas saja dia sering punya luka memar.”

“Beberapa minggu yang lalu tangannya terluka itu karena dia berkelahi dengan ahjushi-ahushi itu. Aku tidak tahu kalau kau sahabat dari si pendiam alien itu.”

Shungji High School adalah sekolah yang berada tiga puluh menit dari pusat kota Seoul, sekolah ini banyak terlibat perkelahian antar sekolah. Jelas saja Jaemi terkejut mendengar sahabatnya yang bertemperamen pendiam dan dingin seperti Tae hyung terlibat pertemanan dengan murid Shungji. Bahkan ia adalah satu-satunya murid dari Sopa yang bergabung dengan gangster di Shungji.

“Kau sekolah di Sopa?” pertanyaan Kai menghentikan langkah Jaemi dan tao.

“Eoo.” Jaemi hanya menoleh sebentar kemudian melangkahkan kakinya kembali.

“Yaa sekiya! Aku lapar, ayo kita makan dulu?” ajak Kai. Mereka makan mie ramen di supermarket dua puluh empat jam.

-PRUUNK-

Sebuah bir kaleng kosong menghantam kening Jaemi, ia memegang keningnya yang sedikit berdarah. Srantan Kai dan Tao melihat kearah belakang, mereka adalah mungsuh Kai dan teman-temannya dari sekolah lain.

Bersambung…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s