Tell Him [ Chapter-8 ]

tell him

 

Title ||  Tell Him /part8

Author || Alana

Main Cast ||  Park Jiyeon | Lee Joon | Nam Woohyun

Support Cast ||  Lee Minhyuk | Ham Eunjung | Par Sun Young a-ka Hyomin

Genre || Romance 

Length || Chaptered

Rated ||  M

 

Disclaimer || I Own Nothing but the Story

 

 

 

 

“Joon!”  panggilku. Namun Joon terus melangkah.

 

Aku megejarnya hingga tiba di tempat parkir. Dia membalikkan badannya ketika aku berusaha menarik lengannya. Kami saling menatap lagi untuk kesekian kalinya.

 

Lalu dengan cepat Joon menarik tanganku dan membawa tubuhku masuk ke dalam mobilnya. Dia melangkah ke sisi lain dan memasuki mobilnya dengan wajah kaku. Duduk di belakang setir tanpa menatapku. Apakah dia marah. Mobil ini mundur, dan meninggalkan halaman galery. Ke mana dia akan membawaku.

 

 

 

Dia seperti marah. Mungkin juga sangat marah. Diam dan menatap vertikal pada jalanan yang padat, bising, penuh dengan hiruk pikuk keramaian. Aku hanya diam dan mencoba untuk menerka ke mana Joon akan membawaku. Bagaimana jika Woohyun tahu tentang hal ini.

 

“Ku mohon turunkan aku di sini. Aku harus kembali.” ujarku dengan sedikit panik. Tanganku berkeringat.

 

“Aku punya banyak pertanyaan untukmu.”  Joon hanya bergumam denan bibir setengah terbuka. 

 

“Baiklah. Aku akan mencoba untuk menjawab semua pertanyaanmu. Tapi kumohon jangan membawaku pergi terlalu jauh.” 

 

“Apa alasanmu untuk memperlakukanku seperti ini?” tanya Joon.

 

“Alasan ?”‘

 

“Kau membuat dirimu berubah, kau bahkan bisa melihat. Bagaimana kau bisa mengenaliku? Aku Joon, Lee Joon. Aku yang mengagumimu kenapa tiba-tiba menjadi kecewa seperti ini.”

 

Aku terdiam. Tidak mengerti dengan apa yang dia bicarakan. Kagum, dan kecewa. Jika dulu Joon begitu mengaguminya, apakah di sana terselip sedikit simpati dan cinta.

 

“Aku hanya ingin melihat dunia.” jawabku

 

“Dunia tidak sehebat seperti yang kau pikirkan. “

 

“Aku ingin melihat dunia yang sama seperti dunia yang kau lihat.”

 

“Apakah itu penting? Aku tidak berharap kau melihat dunia yang aku lihat. Ini cukup membuatku tertekan.”

 

“Aku tidak mengerti dengan makna tertekan dalam khasusmu.”

 

“Kau tidak akan mengerti, karena kita belum cukup saling mengerti. Kenapa?”

 

Tanya Joon. Aku menggeleng. Perasaanku begitu mendayu. Apakah aku merasa bahagia sudah terlepas dari perasaan ini, yang selama ini kusebut sebagai kepura-puraan yang sangat menindas. 

 

“Aku hanya ingin bertemu dengan seseorang yang sudah membuat hidupku berubah. Ingin berubah.”

 

“Lalu kau datang menemuiku?”

 

“Kau yang menemuiku.Aku tidak pernah tau jika itu adalah lukisanmu, dan aku tidak pernah tau kalau kau melukisku, saat itu. Kau memanfaatkan kebutaanku. Aku tidak mengijinkanmu melukis wajahku, tapi kau melukisnya.. Apa yang membuatmu begitu bersikeras melukisku?”

 

 

Joon terdiam begitu saja seolah-olah perkataanku hanya sebuah lagu yang tidak enak di dengar. 

 

“Aku …”  Kalimatnya terputus.

 

“Aku seorang gadis polos dengan masalahku. Kau datang, bahkan menghadirkan sesuatu yang aneh di dalam perasaanku. Kau membuatku mengangis hanya karena kau mengatakan aku hanya gadis buta.Aku memang gadis buta. Apa hebatnya diriku, aku buta, dan tidak berpendidikan.  Kenapa dia harus cemburu pada seorang gadis buta dan miskin sepertiku?”

 

Joon menghentikan mobilnya di sisi jalan. Dia meoleh padaku, memenjarakan diriku dalam tatapan matanya. Lembut, aku bahkan menjadi luluh seketika.

 

“Apakah aku mengatakan kalimat itu ?”  tanyanya 

 

“Sangat jelas di telingaku.”

 

Joon menunduk dan bergayut di gagang setir. Napasnya turun naik tak beraturan. Mencerna semua yang telah terjadi bukanlah hal yang mudah. Tidak perlu lagi menoleh ke belakang. Walau masa depanpun tidak terlalu mudah di jangkau karena sebuah salah pengertian.

 

“Aku minta maaf.” bisiknya.

 

“Aku tidak bisa tidak memikirkanmu sejak hari itu.”  lirihku dalam sebuah senyuman yang tertahan.

 

“Akupun begitu.” balasnya. Masih dengan nada yang lesu.

 

“Apa yang terjadi?” aku bertaya dengan hati yang setengah ikhlas untuk menerima jawabannya. Mengenai kehidupannya bersama Eunjung. Setelah semua itu berlalu dariku. Kehidupan yang membawaku hingga detik ini.

 

Joon mengikat semua perhatianku hanyabtertuju padanya.

 

“Setelah aku kembali pada kehidupanku bersama Eunjung, aku di hadapkan pada kenyataan bahwa aku hanya seorang pelukis miskin yang harus menikahi putri seorang pengusaha. Kemudian harus rela menjadi pajangan murah yang dianggap tidak bernilai di dalam istana megah mereka. “

 

“Aku tidak melihat kau menderita ketika kau dalam gandengan tangannya.”  saat ulang tahun Eunjung. Ketika aku merasa kosong dan hampa. Ketika kedua tanganku seperti terborgol dalam genggaman Woohyun. Hatiku merana menatapnya langkah kakinya di sisi Eunjung.

 

“Kau hanya melihat bentuk luarnya.”  sangkal Joon. 

 

Aku tidak ingin mengomentari masal tangganya. Bukan karena aku tidak kasihan padanya atau tidak perduli, hanya saja semua ini terlalu riskan. Aku tidak mau memprovokasi apa yang sudah mereka alami menjadi lebih rumit. Seandainya pun kehidupan mereka tidak bahagia, semua itu terlepas dari keberadaanku. Aku tidak berada diantara mereka.

 

Dalam arti kata, mereka tidak bahagia, bukan karena aku.

 

 

“Kau akan mengajakku ke mana?” tanyaku. Mengalihkan pembicaraan. Mencari topik bahasan lain selain rumah tangganya yang tidak harmonis. Bukan salahku. Sekali lagi aku menegaskan di dalam hatiku bahwa ketidakbahagiaan mereka jauh sebelum ada dirilu.

 

“Aku akan mengantarmu pulang.”  usul Joon. Pulang ke mana?

 

“Ke mana? Aku tinggal bersmaa Tn. Nam. Dan lagi, dengan kenyataan bahwa kau melarikan aku dari galerinya, akan membuat dia menjadi geram. “

 

“Siapa dia sebenarnya?”

 

Aku tersenyum.

 

“Kami akan menikah. Aku sangat mengaguminya. Dia seorang laki-laki dengan karakter yang kuat . Selama ini dia yang memberikan rasa aman padaku.”

 

“Aku merasa tidak ada apa-apanya ketika kau mengatakan mengenai kehebatannya.”

 

“Joon, aku jatuh cinta padamu.”   bisikku. Langsung. Dia terkesiap. Diam sebentar, lalu.. .Joon menoleh dramatis, membuat kesan yang sangat mengejutkan untukku. 

 

“Ya, aku mencintaimu. Di dalam hati ini. Sejak aku mendengar suaramu, kemudian menyentuh wajahmu saat itu. ”  Aku tersneyum mengingat pagi itu, ketika aku harus meraba wajahnya, untuk mengetahui bagaimana dia, karakternya, juga kepribadiannya. Eemuanterbaca di dalam telapak tanganku. Sangat lembut. Aku bisa merasakan getaran hatinya di sana. Menelusup melewati pori-pori kukitku, kemudian mengalir di aliran darahku. Aku begitu terhanyut. Aku terpesona. Aku jatuh cinta. Jatuh cinta yang membuat hatiku jatuh dalam rasa sakit. 

 

Joon masih menatapku. Dia berusaha untuk mengerti dengan semua ungkapanku. Aku tidak berharap ada sebuah rasa di sana. Cinta.

 

“Aku hanya berpikir bahwa kau dan Mirmenjalin hubungan yang serius. Dia terlihat baik. Dia sangat memperhatikanmu, memahamimu. Aku terkesan melihat hal itu.”

 

“Dia namja baik. Dia mempunyai pandangan yang cemerlang mengenai jalan hidup yang sudah dipilihnya.”

 

“Kenapa dengan kalian?” 

 

“Aku dan Mir, maksudmu?” 

 

“Ya.” 

 

“Semua berakhir ketika aku memutuskan untuk membuat mataku melihat dunia. Aku merasa bahwa aku berhak untuk itu. Tn. Nam yang membiayai semuanya. “

 

 

“Kau mencintaiku. Jatuh cinta padaku. Terdengar mengharukan bagiku. Apa yang membuatmu mencintaiku. Aku tidak sebanding dengan Tn. Nam.”

 

“Memang.” jawabku. Joon tersenyum tipis.

 

“Kalian pasti dijodohkan.”

 

“Ya. Aku dan Tn. Nam dijodohkan oleh kedua orangtua kami. Tapi aku sangat menghormatinya, aku mengaguminya. Dia membuatku menjasi wanita yang luarbiasa. Terkadang aku berpikir, dibalik semua sifat dinginnya, dia menyimoan cinta yang begitu besar dan mendalam padaku. Selama aku berada di rumah sakit waktunitu, dia selalu beradamdi sisiku. Dia memegang tanganku. Dan memberikan kekuatan padaku.”  

 

“Dari caramu mengatakan mengenai dirinya, kau sepertinya tidak sadar, kalau semua yang kau rasakan itu bukanlah sekedar rasa kagum dan hormat semata. Kau mencintainya, namun kau masih berusaha menyangkalnya karena di dalam matamu, kau masih ingin mmelihatku. Kau masihbterbelengu dengan oerasaan yang kau pikir kau mencintaiku. Apapun itu, sebenarnya kau hanya ingin membktikan padaku bahwa kau hanya dendam padaku. ”  Joon menatapku. Dia seperti sedang menelanjangi isi hatiku. Akuntidak jelas dengan hal itu. Cinta dan pengabdian.  Mungkinkah aku mencintai Woohyun. 

 

“Kau mempunyai keluarga. Aku cukup syok ketika aku mengetahuinya.” 

 

Aku menunduk, menelusuri tanganku yang kosong. Tidak ada apa-apa di sana selain sebuah cincin pertunanganku dengan Woohyun. 

 

“Aku ingin melukismu lagi.”  bisik Joon

 

“Kenapa?”  

 

“Karena kau yang sekarang sungguh berbeda.”

 

“Apa yang kau lihat padaku waktu itu?”  

 

“Aku tidak melihatmu, tapi aku mendengar semua yang ada di dalam hatimu. Aku melukis semua yang ada di dalam sana.” 

 

“Itu artinya kau melukis diriku yang sekarang. Apa yang ada di dalam hatiku saat itu adalah impianku untuk menjadi manusia seperti ini.”

 

Hening

 

Detik berlalu hingga ke enampuluh. Menarik semua energi di sekitarku dan mencoba tersenyum. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan melihat. Ada banyak pengertian dari sudut pandang setiap manusia yang melihatnya. 

 

“Apa yang ada di dalam hatiku saat itu?”  tanyaku.

 

“Aku melihat ketulusan, cinta, kelembutan, sebagai kekuatan. Mata bukanlah satu-satunya indera dalam tubuh kita untuk bisa melihat. “

 

Aku terkejut mendengar hal itu. Joon mengatakan hal itu, dan membuatku ingin menangis. Apa artinya semua pengelihatan ini jika Joon tidak mengangapnya sebagai hal yang istimewa.

 

“Aku melihat kau melihat dengan hatimu. Aku melihatmu melihat dengan telingamu. Aku bahkan tidak bisa melakukan semua itu.”  Joon terdiam untuk menyusun kalimatnya kembali.  “kau bisa melihat dunia tanpa mata, itu adalah hal yang ajaib. Itu sebabnya aku melukismu . Itu sebabnya aku mendaptkan nilai tertinggi dalam tugas akhirku. Lukisan dirimu adalah harta tak bernilai dalam hidupku. Hanya lukisan itu yang aku miliki, selain Hyomin. Dia putriku. Aku tidak bisa mengatakan dia tidak penting, karena kenyataannya dia hadir karna diriku.”

 

Aku semakin tercekat. Joon membuatku kehilangan kata-kata. Pertama dalam hidupku aku seperti mendapatkan sebuah rumus ajaib untuk menenangkan perasaanku. 

 

 

Tak urung tersenyum. Bibirku tanpa sengaja menyunggingkan senyum, sementara di dadaku berkecamuk sebuah perasaan gelisah. Aku tergugu dalam tangis yang kemudian membuatku hampir kehabisan napas. 

 

 

“Kau kenapa? Apa kata-kataku membuatmu sedih ?”  Joon memelukku

 

“Tidak. Aku …aku …aku merasa sangat terharu. “

 

Joon mengusap punggungku. Aku baru pertama kali ini merasakan tubuhnya dekat denganku. Dia sangat kuat. Aku merasakannya. jemarinya menelusuri tulang punggungku dan menyertakan semua yang dia rasakan ke dalam sentuhannya.

 

“Kita berangkat?”  ajaknya pelan. Aku mengangguk.

 

Kami saling menatap sebentar sebelum dia melanjutkan perjalanan ini. Aku akan menghubungi Woohyun setelah aku tiba di rumah orangtuaku. 

 

Namun Joon ternaya mengajakku berenti di depan sebuah penginapan di tengah perjalanan kami. Dia melirikku sebentar. Ada banyak pengertian yang mungkin aku salah artikan. Mengenai apa maksud dari perhentian ini. Rasa gugup kembali menyerangku. Apakah dia ingin melakukan sesuatu padaku. Jika iya, apakah aku harus menyesalinya ataukah merasa bahagia?

 

“Kita berhenti sebentar, karena ada sesuatu yang ingin aku lakukan.”

 

“Apa?”  Tanyaku, tapi Joon terlanjur keluar dari mobil. Dia membukakan pintu mobil untukku.

 

“Kenapa kita di sini?” tanyaku lagi

 

Joon tidak menjawab. Saat itulah ponselku berbunyi. Aku melihatnya dan Woohyun yng menghubungiku. Beberapa kali dia berdering hebat hingga aku menerimanya.

 

“Ya, Tuan.”  Aku memalingkan diriku dari Joon

 

“Kau di mana? Aku mencarimu di galery tapi kau tidak ada. Mobilmu masih di sana. Apa yang terjadi?”

 

“Tuan…” Aku tidak bisa menjawabnya. Joon memperhatikan kegugupanku. Dia mendekat. Kemudian mengambil ponselmitu dariku. Aku berusaha menahannya tapi dia sudah terlanjur menggapainya. Dia menekan tombol pengeras suara supaya aku bisa mendengarnya juga.

 

“Tn. Nam, aku pinjam sebentar tunanganmu. Ada yang ingin aku katakan padanya. Aku harap kau tidak keberatan. Aku hanya sebentar bersamanya.”

 

“Lee Joon, apa yang akan kau lakukan bersama Jiyeon?” Woohyun sepertinya marah besar. aku bisa mendengarnya.

 

“Aku tidak akan berbuat apa-apa padanya. kami hanya sedang bernostalgia, Tn.Nam.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Kami berteman. Kami saling mengenal sebelumnya.”

 

“Berikan ponselnya pada Jiyeon.”  

 

Joon melihat ke arahku dan menyerahkan ponselku kembali. 

 

“Tn. Nam.” sapaku

 

Tidak ada jawaban. Hanya deru napas yang sepertinya sedang dicoba untuk ditata. Aku merasa seperti Woohyun sedang merasakan perasaan sakit. mungkin dia sedang menunduk menatap lantai seperti biasanya sambil berpgangan pada ujung meja, atau sedang menatap ke arah luar dari jendela di ruangan kerjaku di dalam galeri sambil menekan’nekan keningnya. Aku merasa bersalah.

 

“Jiyeon, aku mencintaimu. ” Bisik Wohyun dengan suara yang lirih.

 

Jantungku bedebur kencang ketika mendengar dia mengatakan mencintaiku. Kata-kata yang selama ini aku tunggu. Dia tidak mengatakan hal lain, dan itu yang membuatku merasa bahwa Woohyun sungguh mencintaiku. Sia tidak keberatan ataunmeneriakkan kata-kata kasar. Dia hanya menyebutkan kalimat ajaib yang membuatku merasa tenag. Dia mempercayaiku.

 

“Tn. Nam, temui aku di rumah orangtuaku. Appa sakit. Aku dalam perjalanan pulang. “

 

“Aku akan menyusulmu. ”  ujarnya dengan semangat.

 

Joon menatapku lagi. Dia terlihat gelisah. Kemudian menghampirilu. Dia menangkap bahuku kemudian membawaku dalam pelukannya.

 

“Biarkan aku melukismu. Ini unuk terakhir kalinya, Jiyi!”  bisiknya. 

 

“Baiklah. Kali ini aku mengijinkanmu melukisku.”

 

Joon membawaku ke sebuah studio lukis miliknya. Rungannya tidak terlalu luas, tapi sepertinya tempat ini merupakan tempat favorit Joon. Dia meletakkan banyak lukisan di sini. Lukisannya. Aku tidak tahu, kenapa dia tidak memamerkannya di galeriku.Apakah istrinya mengetahui hal ini?

 

“Lukisanmu indah.” ujarku. Aku melangkah pelan menikmagi karya seninya di dinding-dinding ruangan. 

 

Joon hanya bersandar pada sebuh meja  kayu besar, di atasnya terdapat banyak alat-alat melukisnya. Di ruangan ini juga terdapat sofa dan mini pantry yang bersih. Semua tertata rapi. Kemudian aku berjalan ke dekat jendela. Joon mengikuti, dia membukanya, hawa pegunungan menyeruak masuk. Aku melangkah ke lantai balkon. 

 

“Jangan terlalu lama di luar. Udaranya cukup dingin.”  ujarnya. Aku mendekat pada sisi pembatas balkon dan memperhatikan pemandangan. Sekarang sudah hampir malam, matahari sebentar lagi tenggelam. Cahaya lampu dari rumah-rumah di sekitar sini terlihat seperti rangkaian lampu Natal yangn mengelilingi lereng-lereng gunung.

 

Tiba-tiba aku merasakan punggungku menjadi hangat. Joon sudah berdiri di belakangku. Dia memperhatikanku lekat-lekat, memastikan apakah aku akan tersinggung atau menolak tubuhnya. Aku diam, nervous. Menunduk, mendekap lenganku di dada.  Lalu Joon melingkarkan lengannya padaku. Dia memelukku dan meletakkan dagunya di bahuku. Aku sempat terkejut, dan membuang pandangan ke langit. 

 

“Mianhae!” bisiknya.

 

“Untuk apa?”  

 

“Untuk semua yang telah terjadi.”

 

“Huft, kau bicara apa?”  aku meliriknya. Tatapan kami bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Jantungku berdegun kencang. Apa yang terjadi. Kenapa menjadi seperti ini.

 

“Masuklah, aku akan melukismu. Di sini dingin. Aku takut kau terkena hypotermia.”

 

Joon menarik tanganku masuk. Dia menutup pintu jendela balkon dan menempatkan aku di sebuah bangku. Dia menghadapiku. Berdiri diantara celah pahaku yang terbuka. Kedua tangannya memegang wajahku. Meneliti sesuatu di sana. Aku bingung dengan tingkahnya, namun aku membiarkannya.

 

“Apa kau selau begini pada object lukisanmu?”

 

“Tidak. Aku mempunyai cara berbeda dengan semua object lukisanku. Aku mungkin tidak akan selesai malam ini, sehingga aku akan mengambil titik tertentu yang bisa aku jadikan ciri khas darimu.”

 

“Apa kita akan terlambat ke rumah orangtuaku?” 

 

Aku benar-benar berpikir Joon akan membuat masalah dengan Woohyun. Mereka pasti akan berkelahi. Joon berdiri di belakang kanvasnya, meninggalkan aku sendiri di bangku kayu dengan posisi dudukku.

 

“Jangan bergerak!”

 

“Hah! Berapa lama?” tanyaku

 

“Sssttttttt!”  dia menyuruhku diam. Sepertinya dia mulai melukisku. Aku menatap dia yang menatap aku. Sangat tajam dan membuatku semakin terpenjara dalam pesonanya.  Joon melepaskan sweaternya. Sepertinya dia merasa penat telah menyerangnya.

 

Lima belas menit berlalu. Aku sudah merasa jenuh.

 

“Aku haus.” ujarku. Joon berhenti. Dia menatapku lagi dan berjalan mendekati pantry. Dia mengambil segelas air dan melangkah ke arahku.

 

“Minumlah.”  Joon menyodorkan gelas air itu. Sebentar dia mengambil tissue, dan menyeka keringat di keningku. Aku terkesiap dengan ulahnya. Namun sepertinya dia hanya sedang menatapku sebagai objectnya, bukan seorang Jiyeon.

 

“Kau cantik.”

 

“Istrimu juga cantik.”

 

“Kalian cantik, dan aku lebih bisa melihat kecantikanmu dari hatiku.”  Kata-katanya manis, dan membuatku melayang. 

 

“Apakah Woohyun memperlakukanmu dengan baik?”  tanyanya.

 

“Dia laki-laki terbaik yang pernah aku tahu. Sikapnya dan semua yang dia berikan padaku adalah sikap seorang laki-laki yang bertanggungbjawab.”  Joon menyeringai.

 

“Kau menyindirku. “

 

“Tidak. Aku hanya menjawab pertanyaanmu. ”  Aku diam sebentar melihatnya menunduk. “Apa kita sudah selesai?” tanyaku

 

Joon melihat kanvasnya. 

 

“Kau lelah?” 

 

“Aku hanya berpikir untuk segera tiba di rumah orangtuaku secepatnya, mungkin sebelum Tn. Nam mendahului kita.”

 

 

Joon mengangguk. Dia menutup kanvasnya.

 

“Kita berangkat sekarang.”  ajaknya

 

“Lukisan itu?” tanyaku

 

“Aku sudah mendapatkan apa yang ingin kudapatkan. Tapi kau tidak boleh melihatnya. Ini adalah milikku. Kau tidak boleh mengambilnya.”

 

Aku sempat merasa aneh dengan sikapnya, tapi aku tidak memperdulikan. Joon menutupnya rapat-rapat. Aneh. Tapi biarkan saja. Aku mengambil tasku di atas meja kemudian melangkah mengikuti Joon.

 

Ketika tiba di pintu, Joon berbalik ke arahku. Dia melihatku dengan seksama. Tatapannya sangat aneh.

 

“Ada apa?” tanyaku lagi

 

Dia mendekat. Aku meneliti keadaanku. Mungkin ada sesuatu yang janggal di tubuhku yang membuatnya begitu berkonsentrasi.

 

“Jiyi, …”  Joon mendekapku. Sangat erat.  “Mungkin hal ini tidak akan pernah lagi bisa kulakukakan setelah kita keluar dari tempat ini.”  bisiknya.  

 

“Ough, Joon !”  aq merasa sangat tertekan dalam dekapannya. Menempel di dadanya yang bidang membuatku seperti berada dalam kehangatan yang menenggelamkan.  

 

Aku sedikit meronta,  barulah dia melonggarkan dekapannya. Menatapku dan kembali diam. Jangan menciumku. Jeritku. Bagaimana jika dia menciumku? Apakah aku akan marah?  

 

Joon menundukkan kepalanya dengan posisi miring ke sebelah kiri. Dia semakin mendekat, dan dekat….aku terpejam. Apakah dia akan menciumku. Kedua tangannya turun melewati kedua lenganku, menelusurina, meremasnya lembut, lalu …

 

Bibirnya menyentuh bibirku. Hangat. Menekan, mengulum sedikit. Kemudian bernapas. Diam sebentar, lalu mengecup, menhcup untuk kedua kalinya. Saat itu mataku terbuka. Dia menatapku, memastikan sesuatu. Aku diam, nervous, namun aku tidak marah.

 

Dia kembali menyentuhkan bibirnya. Terpejam, dan kedua tangannya tertahan di kepalaku. Mengarahkan bibirku supaya tidak terlepas dari bibirnya. Kemudian bibir itu mulai menelusuri keseluruhan bongkahan bibirku, mengulum lagi, menghisap, semakin mendalam. Tubuhnya ikut bergerak. Menekan, dan deru napasnya kian tak beraturan. Aku bisa merasakan detak jatungnya. Semuanya terekam di dalam otakku seperti potongan gambar putus-putus. Aku tidak melihatnya, namun aku merasakannya. 

 

Tanganku dibimbingnya untuk mengalung di lehernya, kemudian dia menekan tubuhku ke dinding, menahan dengan menumpukan tangannya. Aku merasakan sesuatu yang berbeda darinya. Dia semakin bergerak aneh. Membuatku terguncang di dinding mengimbangi gerakan erotisnya. Lidahnya mulai menelusup. Aku membukanya, menerimanya, dan mempermainkannya. 

 

Tangan Joon turun melewati pinggangku, merayap ke bagian belakangku, meletakkannya pada bongkahan bokongku, dan meremasnya dengan kuat. 

 

“Hmmh!”  rintihku. Aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhku. Joon membuatku melayang. Dia kemudian menggendongku, membopongku, dan berjalan sambil berciuman. Tapi hanya sebentar, ketika kami melepaskan pautan bibir dan saling menatap dengan tatapan yang aneh.

 

Joon meletakkan aku di sofa. Dia membuatku gugup setengah mati ketika dia melepaskan sepatuku.

 

“Joon!”  bisikku. aku ragu, namun aku tidak bisa menolaknya.

 

Kemudian Joon mendekat lagi.  Tidak ada kata-kata darinya selain sebuah tatapan yang bersambung dengan ciuman.  Aku berusaha menolak tubuhnya sekuat tenaga, namun Joon terlihat semakin bergairah. Apa yang terjadi dengan dirinya.

 

“Jiyi, tolong hentikan aku! ” bisiknya dengan semua cumbuannya. 

 

“Joon, please jangan seperti ini! Aku akan menikah dengan Woohyun. Aku tidak bisa melakukan ini denganmu. Kumohon!” aku mencoba untuk menghentikannya, seperti yang dia inginkan. Dia mencoba untuk memperlambat cumbuannya. Berhenti menghisapi bagian sensitive di leherku. Terengah-engah dan memejamkan matanya.

 

“Maafkan aku. Aku sungguh tidak bisa berpikir apapun. ” ujarnya lirih.

 

Aku terduduk dengan sikap kaku. Wajahku memanas dan merona. Aku hampir saja melakukan sesuatu yang mungkin akan berakibat buruk bagi hubunganku dengan Woohyun.

 

“Kenapa kau seperti ini?”  tanyaku. Aku tidak mengerti.

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Aku menginginkanmu. Aku sungguh ingin melakukan sesuatu denganmu. Namun aku tidak bisa berbuat tidak adil pada Woohyun. Maksudku Tn. Nam. Aku ingin memberikan kesucianku padanya.”

 

Joon menepuk bahuku sambil menunduk. Dia masih belum bisa meredakan badai dalam dirinya sendiri. 

 

“Aku akan meninggalkan Eunjung. Aku akan pergi.”

 

“Wae?”  aku terlihat kecewa.

 

“Aku tidak merasa nyaman dengan pernikahanku. Aku akan kembali mengajar di Australia. Di sana aku lebih bisa merasakan menjadi diriku, seandainya kau memang tidak bisa bersamaku.”

 

Aku menahan napasku. 

 

 

.

.

.

 

 

Mobil Joon berhenti di depan pagar rumahku. Sebuah penginapan yang masih sama seperti dulu. Suasananya masih setenang dan sedamai dulu. Joon tersenyum melihat hal itu.

 

“Di sinilah aku menemukanmu.”  ujarnya. Aku membalas senyumannya dan mengajaknya turun. Kami melangkah masuk melewati gerbang sederhana terbuat dari kayu.  Baru beberapa langkah kami masuk, sebuah mobil terparkir di depan mobil Joon. Woohyun. Aku dan Joon saling menatap, dan Woohyun keluar dengan wajah yang dingin seperti biasanya. Dia mendekatiku dan langsung menarik tanganku dari sisi Joon. Memelukku dengan rasa khawatir.

 

“Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu di saat kau tidak ada di hadapanku.”  Bisiknya. Aku terpejam mendengarnya. Perasaanku begitu damai dan tenang dalam pelukannya.

 

Joon menatapku sedih. Dia memalingkan diri dan menyimak kehadiran eommaku. 

 

“Bibi!” sapanya. Aku melepaskan diriku dari Woohyun. 

 

“Eomma!”  Aku memeluknya. 

 

“Kalian datang. Joon, kau pun datang. Kau terlihat sangat dewasa.” 

 

“Bibi masih mengingatku.”  ujar Joon. Eomma, melirik Woohyun.

 

“Woohyun, kau terlihat lebih hangat sekarang.”  

 

Woohyun tersenyum. Dia hanya melirikku dan merengkuhku. 

 

“Jiyi yang membuatku menjadi laki.laki yang berharga di dunia ini.”  

 

“Masuklah, Appa sudah menunggu kalian.”  sambut eomma.

 

Ayahku adalah laki-laki perkasa dan tegar. Dia tidak terlihat melemahkan dirinya meski kondisinya lemah. Dia masih terlihat duduk di atas kasurnya dengan selimut yang menutupi bagian pinggul hingga telapak kaki. Dia membaca beberapa artikel di sebuah majalah. Dia menyukai hal-hal yang berhubungan dengan kemiliteran. Ayahku, dia adalah laki-laki yang setia. Aku sangat bangga padanya, terlebih dia begitu berjuang untuk hidup kami.

 

Dia hanya tersenyum sambil memberi tepukan di bahu pada Woohyun. Joon membungkuk memberi salam. Dia tahu mengenai Joon, dia memahami kehadirannya. Dia juga menatapku dan memberikan sebuah isyarat yang manis. 

 

Kami berbicara sebentar, hanya beberapa menit sebelum akhirnya eomma menghampiri kami untuk makan malam. Makan malam yang sudah sangat terlambat. Saat ini sudah lewat jam sepuluh. Joon hanya duduk di serambi sambil menatap langit. Di hadapnnya ada dua buah botol soju. Dia sudha menghabiskan satu setengahnya.  aku dan Woohyun duduk di hadapannya. Woohyun tidak banyak bicara seperti biasanya. Dia menghabiskan waktunya dengan menatapku. Membuatku canggung dan merona. Sikapnya malam ini sungguh membuat tanda tanya di hatiku. Aapa yang sedang dipikirkannya. Sepertinya dia ingin segera menagajkku berdua saja, lalu mengungkapkan apa yang ingin dia katakan. 

 

Joon mulai bergumam. Aku menoleh. Apakah dia mabuk. Matanya sayu. Dia tidak sedang melihat ke arahku. Dia terbaring menatap langit. Aku tidak sedang mengasihani keadaannya. Hanya saja perasaanku masih bernostalgia dengan kenangan tak terlihat yang pernah aku alami bersamanya. Di jembatan kecil yang menghubungan rumah utama dan paviliun penginapan di sekitar kolam ikan itu adalah saksi perjumpaanku dengannya.  Aku mendengar langkahnya. Berjalan pelan seakan-akan sedang meneliti keadaanku. Aku menghitung langkah kakinya. Kemudian tepat berada di sisiku. Saat itu aku hanya bisa merasakan tubuhnya lebih tinggi dariku. Wewangian dari tubuhnya meresap di ,indera penciumanku. 

 

“Joon!”  panggilku. Joon menoleh. “Tidurlah!” ujarku. Dia tersenyum sebentar.

 

“Aku akan kembali ke Seoul sebentar lagi.” ujarnya.

 

“Kau mabuk.”  ujarku

 

“Tidak. Hanya dua botol soju tidak akan membuatku mabuk.”  

 

“Kau tidak usah terburu-buru. ”  Woohyun beranjak pergi. 

 

Aku memperhatikan punggungnya.

 

“Joon, kumohon, jangan malam ini. Jalanan berbahaya jika kau sungguh nekat. Kabut pegunungan sangat tebal, apalagi menjelang pagi. Aku tidak mau kau terjebak diantara kabut.”  Aku sangat khawatir, namun aku melihat Woohyun sudah menjauh. Aku harus mengejarnya memasuki rumah utama.

 

Kutinggalkan Joon sendiri. 

 

 

tbc.

 

 

a/n

 

Belum ending. Sabar!

 

 

 

12 thoughts on “Tell Him [ Chapter-8 ]

  1. Meiii cici udh bc.. wah joon dsr mesum awas aja mcm2in jiyi.. mei fix dong.. woohyun jiyi aja.. lbh dewasa, brkhrisma, sifatx pny karskter yg kuat dan sngt mncintai jyi dgn carax sendiri.. next ya.. mdh2an jiyi woohyun hmm nc.. kekeeek.. plak..

  2. Joon udah ke australia aja. Sendiri tapi. Kagak usah bawa jiyi. Biarkan woohyun
    bahagia bersama jiyeon.
    Cekakakaka
    end nya kapan. Jangan lama yeeeeeee.
    woohyun disini kerenn banget dahh

  3. aigo knp joon bgitu… aq stuju woohyun jiyeon ajj . kalo ma joon jiyi dafet bks donk… trus ksian si woohyun… .. huaaaah.. . joon kamu jangan egois… awas y …..huppp

  4. hampir aja,kalau gak uh q tak rela.enak banget si joon..kasian woohyun yg berjuang demi jiyeon dari nol.untung masih waras..emang ya gak boleh berdua.kalau berdua yg satunya setan..

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s