P FOR PIONER

pioner

PIONER

A Ficlet

By Risuki-San

 

SHINee’s Onew & IU | General | Friendship, Romance, Hurt/Comfort

© 2015 Risuki-san

 

‘Pioner, memulai kehidupan baru, mengubah batuan keras menjadi hutan tropis yang ramai’

.

PIONER

Setitik berkas cahaya menyiram tajam permukaan. Siang teramat terik untuk manusia berjalan diatas aspal keras.

Namun Jieun berbeda.

Gadis itu tak pernah mematuhi hukum alam.

Ia tersenyum saat partikel cahaya menusuk kulitnya, teramat bahagia hanya untuk sekedar mengeluh.

“Ada apa denganmu? Kau terlihat aneh.”

Setitik suara menyadarkannya, bahwa ia tidak sendiri.

Kenapa terlihat aneh?

Jieun hanya bahagia hingga sulit menahan diri untuk tersenyum.

Sulli, kau tahu, aku….”

“Apa?”

“Aku….”

Jieun menggantungnya terus menerus.

Deret kalimat sederhana yang mampu mengusik Sulli hingga sehebat ini.

“Apa?! Cepat katakan!”

“Aku….”

“KAU MEMBUNUHKU LALU MEMBUAT TUBUH SEKSIKU MENJADI HANTU PENASARAN!”

Sulli berteriak marah.

Ia kehabisan stok sabar di dalam tubuhnya, Jieun selalu mengujinya dengan kebiasaan paling buruk di dunia.

Mengatakan hal-hal yang membuatnya penasaran, hal-hal yang menariknya ke dalam sebuah kubangan ‘ingin tahu’.

“Aku akan menikah.”

Jinki Oppa melamarmu?”

Gadis itu diam, haruskah ia menjawabnya?

Jinki Oppa bukanlah seseorang yang akan memulai, karena itu aku yang akan melakukannya. Sejak awal aku juga yang memulai, maka aku harus melanjutkan peranku sampai akhir.”

Jika ingin bersamanya, maka Jieun harus mengumpulkan keberanian untuk menjadi seorang pencetus.

Seperti bola lampu milik Edison, seperti rumus gravitasi milik Newton, seperti Amerika milik Colombus.

Maka Jieun harus menjadi yang pertama.

Yang mengklaim bahwa ‘ini’ atau ‘itu’ adalah miliknya.

Jinki adalah miliknya yang paling berharga.

“Apakah cinta satu pihak bisa berhasil? Ia berkata iya, bukan berati hatinya juga berpikir sama.”

“Aku tahu.”

Gadis itu akan mengubahnya.

Perasaan Jinki.

“Sekali saja, pernahkah ia mengutarakan perasaannya, bahwa kau berhasil mengubahnya, berkat ketulusanmu?”

“….”

“Bahwa ia mencintaimu.”

.

.

.

Tumbuhan tingkat tinggi takkan mampu memulai, hanya makhluk sederhana yang melakukannya.

Pioner.

Memulai kehidupan baru, mengubah batuan keras menjadi hutan tropis yang ramai.

.

.

.

Jieun memulai semua aspek.

Mengungkapkan hatinya, mengaitkan kedua tangan, menariknya pergi bersama, bahkan membangun sebuah keluarga.

Jieun bertekad untuk melanjutkan peran yang ia ambil sejak awal.

Sebagai pioner.

Oppa….”

Namun gadis itu meragu.

“Aku tak memiliki banyak waktu.”

Gadis itu hanya tersenyum mendengarnya, jari kecilnya mengusap pelan permukaan hangat sebuah cangkir kopi.

“Jika itu aku…aku akan melupakan pekerjaanku.”

“Ya?”

Jinki Oppa tak memiliki banyak waktu untuk bersamaku, tapi memiliki banyak waktu untuk pekerjaan.”

Jinki membuang nafas, teramat keras hingga jutaan partikel udara bergerak cepat. Berantakan seperti tumpukan dokumen diatas meja kerja.

Lelaki itu hanya sedikit lelah dengan Jieun dan unsur kekanakannya.

Jinki selalu berusaha melakukan apa yang gadis itu ucapkan.

Jieun ingin ini, Jieun ingin itu, Jieun ingin melakukannya, Jieun tak ingin melakukannya.

Sebuah perintah tak terbantahkan yang harus ia patuhi.

“Aku akan sangat senang jika kau sedikit saja lebih dewasa.”

Jieun sedikit terperanjat.

Ini pertama kalinya sejak lima tahun mereka saling mengenal.

Jinki mengutarakan keinginannya.

“Apalagi? Oppa, apa yang membuatmu tak senang? apa yang kau sukai, apa yang kau inginkan untuk aku lakukan? Tuntut aku sesuatu….”

“….”

“Aku lelah terlihat buruk karena selalu hanya aku yang menuntutmu.”

 Jieun mengucapkannya lalu menarik segaris senyum.

Sangat canggung.

Sangat memalukan.

“Sebenarnya…aku memiliki satu permintaan….”

Gadis itu terdiam, mata kecilnya menatap bibir apel Jinki yang terbuka, hampir mengatakan sesuatu yang Jieun tahu bukanlah hal yang akan memenuhi perutnya dengan kupu-kupu.

“Tunggu!”

Jieun menghentikannya.

Ia memiliki sebuah firasat.

.

.

.

Jinki tak pernah terlihat seperti itu.

Bersungguh-sungguh, terdapat tekad kuat yang tengah membakarnya. Perasaan ingin lepas yang tak terkendali.

Satu permintaan.

Jinki akan mengakhirinya.

Mohon ijinkan Jieun yang melakukannya.

.

.

.

“Seorang teman bertanya padaku, sebanyak apa Jinki Oppa mengungkapkan perasaannya padaku? Dalam sehari berapa kali? Sepuluh kali? Dua puluh kali? Lalu ia berkata…Joon Oppa mengatakannya terus menerus sampai aku tak bisa menghitungnya. Ia mengatakan jika ia sangat bosan mendengarnya.”

“….”

“Kemudian aku bertanya pada diriku, berapa kali? Sebanyak apa? Apa sangat banyak hingga aku tak ingin mendengarnya lagi?”

Jinki terdiam, bibir apelnya terkunci. Ia melupakan satu permintaan paling penting dalam hidupnya.

Oppa, apa aku selalu berada dalam lingkaran rencana masa depanmu?”

Jieun bertanya lalu mengintimidasi Jinki dengan tatapannya.

Terlalu dalam hingga lelaki itu membeku, sangat keras hingga jutaan Newton yang ia kerahkan hanya akan terbuang sia-sia.

Oppa, kau tahu siapa nama istri walikota negara bagian Sydney?”

Jinki bahkan tak tahu jika sebuah negara bagian dipimpin oleh seorang walikota.

.

.

.

Kaki kecil menapak daratan berwarna coklat, menginjak pelan tanah basah akibat tetesan air dari langit, Jieun berlari cepat.

Bukan karena hujan.

Tapi untuk memburamkan sesuatu yang mendesak keluar dibalik kelopak, air mata yang ingin terurai namun harus ditahan untuk beberapa saat.

‘Perasaan Jinki Oppa, lima tahun lalu dan sekarang, apakah masih sama?’

Jieun tak pernah menutupi perasaannya.

Ia mengungkapkan apa yang ia inginkan dengan mudah dan Jinki adalah seseorang yang tak bisa berkata tidak.

‘Aku akan membuat Jinki Oppa menyukaiku. Karena itu, Jinki Oppa bersabarlah, aku akan mengubah perasaanmu. Jadi setuju jadi pacarku, ya?’

Jinki tak menyukainya, lima tahun lalu.

‘Aku berusaha mencintaimu, setiap hari, terus menerus.’

Seperti berusaha merakit sebuah bom, namun bom itu tak pernah meledak.

Seperti menanam satu pohon di halaman rumah, sebanyak apapun pupuk yang ia berikan, sebanyak apapun air yang ia tumpahkan.

Tak ada yang tumbuh, perasaan itu tak kunjung mekar.

Jinki tak bisa mencintainya.

Gadis itu mengetahuinya karena ia memahami Jinki lebih dari siapapun.

Ia melepasnya karena Jinki harus bahagia.

.

.

.

“Siapa nama istri walikota Sydney?”

“Itu….”

Jinki berpikir keras, lebih keras dari saat ia belajar untuk memasuki perguruan tinggi negeri .

 “Oppa, kau sangat bodoh!”

“Eh?”

“Tak ada cara lain.”

Dengan pandangan mata dan sikap duduk yang angkuh, Jieun melakukannya.

Melipat tangan dan kaki dengan tata cara yang begitu anggun, meraih sesuatu yang berkilau pada jari manisnya.

Sebuah cincin pertunangan.

Meletakkannya diatas meja.

Menyembunyikan dengan sangat rapi, melipat permukaan hatinya yang sesungguhnya terkoyak hebat.

Melepas lelaki itu dengan caranya.

“Karena Jinki Oppa sangat bodoh, aku menolak proposal pernikahanmu!”

.

.

.

End.

A TO Z FANFIC

copyright

3 thoughts on “P FOR PIONER

  1. setiap kata dalam setiap balis kalimatnya, membawa aku ke dunia khayal yang menyejukkan. seperti sedang berpetualang di sebuah pulau tak berpenghuni. alami dan indah. namun tak ada yang tahu kehidupan didalamnya.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s