Sajaegi Chapter 7

sajaegi1

Title: Sajaegi

Author: Kim Jaemi (@iimwae)

Credit: Gitawa @ Diamond of Paradise

Cast: Park Jimin (Bts)

*Han So Mi / Silla Geongju (Author Chingu)

*Baek Seung Hoon (Aktor)

*Im Jaemi or You

*Park Ri ni (Author Chingu)

Support Cast: Find them when you read it!!

Genre: Teen, Friendship, Romance, Bullying, Memorise and School Life

Length: Chaptered

Disclaimer: Story Request!!No Copas!!No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

#Before

“Nona Jaemi akan kembali di malam hari, jadi jangan mengawatirkannya. Lagian aku tidak begitu suka dengannya.” Jung ahjushi tersnyum padaku. Aku memintanya untuk mengantarku ke tempat kerja Jaemi, tapi ia enggan untuk mengantarku hanya memberi petunjuk arah.

Jarum jam menunjukan di angka tujuh malam, aku berjalan seorang diri di jalanan yang sepi. Desa ini memang indah, namun tak ada sinyal. Lalu bagaimana aku menghubungi Jaemi? Apa tempatnya masih jauh? Aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang, aku ingin membalikan tubuhku tapi aku takut. Langkah kaki itu semakin mendekat, aku menghentikan langkahku kemudian mulai berlari.

Sajaegi Chapter 7

—KEMATIAN—

Aku berlari sekencang mungkin dan berteriak sekeras mungkin setelah menabrak seseorang. Malam ini sangatlah gelap, aku benar-benar ketakutan. Aku masih engos-engosan setelah berlari, namja itu mengintipku yang berjongkok sembari memegang dada.

“Kenapa kau disini?”

“Eook, kau?” aku menunjuknya dengan napas masih terengah-engah. ” ada yang mengejarku tadi.”

“Siapa?”

“Molla, aku rasa orang itu akan mencelakaiku.” Jimin menggeleng-gelengkan kepala kemudian berjalan. “Mana mungkin orang sini akan mencelakaimu.”

Aku berjalan menyusulnya dengan langkah yang kupercepat. Kenapa dia berada disini? Aku hanya diam, membiarkan diriku bertanya seorang diri.

“Silla geongju!”

“Eum.” aku melirik kearahnya yang menghentikan langkahnya.

“Kenapa kau disini?” aku tak ingin menjawab, itu adalah pertanyaan yang ingin ku ajukan padanya. “Kenapa hanya diam saja?”

“Aku bingung harus menjawab apa.” namja di sampingku mengerutkan alisnya, sedangkan aku berjalan meninggalkannya.

“Yaa! Kau mau kemana? Apa kau tahu daerah sini?” Aaah… dia benar, aku tidak tahu daerah sini.

“Tentu.”

“Baiklah kita berpisah disini, selamat tinggal Silla geongju!” namja itu membungkukan tubuhnya padaku kemudian berbelok di pertigaan. Aku melihat sekeliling dengan menggidikan tubuhku lalu berlari mengejarnya. Dia melihat aneh kearahku sedangkan aku tersenyum sok manis padanya. Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya dan berlari kearah jalan yang semula akan kulewati. Haiss dia mengerjaiku, aku melihatnya tengah berlari kecil menghadap kearaku sembari melambai-lambaikan tangannya. Aku berlari mengejarnya dan tak sengaja menabraknya membuat kami berdua terjatuh dengan aku berada di atas tubuhnya.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Jaemi, seketika kami membenarkan posisi kami.

“Yaa Jaemi-a! Jangan marah ini tidak sengaja.” jelas Jimin dengan membantuku berdiri. Jaemi sendiri hanya mengerutkan dahinya kemudian melangkah pergi.

“Jangan lewat situ!” kataku yang tak dihiraukan olehnya. “Aku mohon Jaemi dengarkan aku kali ini, ada yang mengikutiku sewaktu aku berjalan seorang diri melewati perkebunan itu.” Jaemi menghentikan langkah kakinya, ia hanya melipat tangannya tanpa melihat kearahku.

“Yaa Jaemi-a bukankah rumah…” belum sempat Jimin melanjutkan ucapannya, Jaemi membalikan tubuhnya dan mulai melangkah ke jalan yang semula akan kulewati. Ia mengurungkan niat untuk melewati perkebunan, aku dan Jimin mengikutinya dari belakang.

 #Pagi Hari

Hari yang sangat cerah untuk mengawali suatu aktifitas. Udara di Jeongseon benar-benar segar. Aku membuka mataku dari mimpi indah semalam. Sudah ada makanan di atas nakas, aku juga tak melihat Jaemi. Byun ahjushi membuka pintu kamar menyuruhku menikmati makanan yang sudah disiapkannya untukku.

“Jangan bilang pada nona Jaemi, aku tak pernah melakukan hal ini padanya.” ungkap Byun ahjushi sembari meletakan telunjuknya di mulut.

Setelah aku menikmati sarapan pagiku, aku beranjak dari atas ranjang. Sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk bangun, biasanya ketika weekend Jaemilah orang yang pertama membangunkanku dan mengajakku berjalan-jalan. Kali ini aku hanya bisa menghembuskan napas dengan kencang mengingat-ingat masa lalu. Byun ahjushi menyiapkan air panas untuk mandiku, beliau benar-benar baik padaku. Aku memang tidak bisa mandi dengan air dingin di pagi hari dan terlebih lagi udara disini sangatlah dingin.

“Eook Jimin-ssi!”

“Panggil saja aku Jimin! Oh ya dimana Jaemi?” aku mengangkat bahuku karena aku memang tidak tahu dimana Jaemi. “Apa dia sudah pergi ke kedai?” tanyanya yang hanya diajukan pada dirinya sendiri. “Silla geongju…”

“Eum?”

“Anya deso, aah maukah kau berjalan-jalan denganku ke kebun?”

“Nee?”

“Baiklah jika tidak mau.”

“Haiis, aku belum menjawab…” namja ini menarik tanganku untuk mengikutinya. Sesampai kami di kebun kami mulai bercerita-cerita tentang seputar kebiasaan kami. Dia meminta maaf padaku karena sudah salah paham.

“Kau menyukai Jaemi?”

“Bukan hanya menyukai tapi aku menyayanginya.”

“Aaah geure? Tapi siap-siap kau akan patah hati.”

“Maukah kau membantuku…”

“Tentu.” aku tersenyum padanya, mulai saat ini aku dan Jimin resmi menjadi teman. “Tapi aku tidak yakin kau bisa mendapatkannya.” Jimin hanya mengerutkan alisnya yang juga sukses membuatku tertawa. Kami berdua berfoto-foto, dia mengatakan akan membunuhku jika mengupload foto ini ke dunia maya.

“Coba saja jika berani, aku pastikan kau masuk penjara seumur hidup karena telah membunuh seorang putri kerajaan.”

“Kalau begitu aku jadikan teman hidup bagaimana?”

“Mwoya.” aku semakin tertawa mendengar ucapannya.

#Jimin *Pov*

Aku membeli dua minuman untukku dan untuk yeoja yang tengah kutinggalkan seorang diri di kebun. Ketika aku kembali aku melihatnya tengah memegangi kakinya sembari merintih. Yeoja itu benar-benar tak bisa menjaga diri sendiri. Selalu terjatuh disaat yang tidak tepat. Aku menggendongnya menuju rumah Byun ahjushi. Kakinya terkilir, sedari tadi dia hanya merintih. Jaemi sudah kembali, dia hanya melihat dengan tatapan dingin kearah So mi yang tengah diurut oleh Byun ahjushi.

Aku mengendarai mobil milik So mi, yaah aku berniat mengantarnya pulang karena kakinya terkilir. Awalnya aku berniat menjemput Jaemi, namun mana mungkin aku membiarkan teman baruku menyetir mobil dengan kaki terkilir. Aku memaksa Jaemi agar mau membawa mobilku, aku tahu dia akan menolak tapi tak ada pilihan lagi karena aku sudah meninggalkan kunci mobilku padanya.

#Jaemi *Pov*

Hiis namja yang menyebalkan, aku harap appa tidak tahu kalau aku pulang dengan menaiki mobil.

@School

Hari ini adalah hari senin, aku berangkat sekolah dengan menaiki mobil pribadi milik agensi. Ada supir, manager dan juga asisten. Aaah benar-benar merepotkan, inilah alasan kenapa aku tidak ingin menjadi artis. Aku keluar dari mobil, sudah ada yang meneriaki namaku. Sederet laki-laki bodoh, yang juga berkali-kali memberi bingkisan padaku. Seperti biasa aku tidak akan tersenyum pada mereka. Dari belakang ada yang merangkul lengangku.

“Hey artis.” waah kenapa dengan Re na? Biasanya Re na tidak berani melakukan hal ini padaku. Meskipun bertahun-tahun menjadi temanku dia selalu takut padaku.

“Kau kenapa?”

“Yaa! Aku adalah teman tersetiamu, bolehkan sekali-kali aku merangkulmu?”

“Boleh-boleh.” aku menganggukan kepalaku sembari tersenyum manis padanya. Kali ini bukan hanya Re na yang merangkulku tapi Bokyung yang baru saja datang juga ikut merangkulku.

“Ho hoi teman kami sudah menjadi artis.” ucap Bokyung sembari mengacak-acak rambutku lalu berlari di koridor. Kenapa dengan Re na? Dia sama sekali tidak melepas rangkulannya padaku.

Sesampai kami bertiga di dalam kelas, aku menaruh tasku di samping tempat duduk Jimin yang belum datang. Aku dan kedua temanku duduk di bangku yang biasa kami duduki sebelum pelajaran dimulai. Kami bertiga bercanda-canda mengingat-ingat kenakalan yang pernah kami lakukan bertiga.

“Hei si penakut! Kau lah yang paling penakut diantara kami bertiga.”

“Aaah kau benar Shin bokyung.”

Re na mengajak kami bertiga untuk berfoto, di saat itu So mi memasuki kelas. Ia melihat kearah kami yang sama sekali tak menghiraukan kehadirannya.

“Yaa Jaemi-a apa kau menyayangi kami?” tanya Re na membuatku bingung. Tentu saja aku menyayangi kalian, sudah hampir empat tahun aku berteman dengan kalian. “Mwoya… cepat jawab!”

“Aku tidak pernah menyangi kalian.” aku tersenyum melihat kedua temanku yang mencemberutkan wajah mereka. “Tapi aku mencintai kalian lebih dari diriku sendiri.” aku membentuk jari v dengan beraegyo.

“Aku saja yang di tengah, yaa neo… fotokan kami bertiga.” pintanya pada salah satu namja di bangku samping kami. “Kapan lagi aku bisa berfoto dengan artis.”

“Mwoya… kenapa dengan anak ini?”

“Aku adalah icon karena aku berada di tengah, aah cham… yaa Han so mi bergabunglah dengan kami.” aku menatap tajam kearah Re na. “Hanya sekali saja, jangan melihatku seperti itu!” Re na melangkah menuju white board, ia mengambil Bordmarker kemudian menulis nama So mi, namaku, namanya dan nama Bokyung serta di bawahnya menulis “WE ARE BESTFRIEND FOREVER”

“Cepat kesini!” Re na menarik tanga So mi dan tanganku untuk maju ke depan. Kami berempat berfoto dengan Re na merangkul tangan kiriku dan tangan kanan So mi. “Aku senang bisa memiliki sahabat seperti kalian.”

“Apa yang kau lihat! Tidakah kau ingin pergi?” ungkapku sinis pada So mi.

“Aku hanya ingin seperti dulu, yaa Jaemi-a! Aku mohon jangan hukum aku seperti ini, hanya kau satu-satunya yang kumiliki.” aku tak menghiraukan ucapannya, aku mengajak Re na dan Bokyung pergi menuju bangku yang tadi kami duduki.

“Satu-satunya yang kumiliki? Lalu aku dan Re na apa?” tambah Bokyung yang terlihat marah.

“Bukan itu maksudku Bokyung-a!”

“Aah geuman, aku sudah tahu semuanya.” tandas Bokyung. “Aaah cham… minggu depan kau ulang tahunkan Re na-ya?”

“Oh iya aku baru ingat, aku berjanji pada kalian setelah aku pulang dari konser di Singapura minggu depan akan mentarktir kaliankan? Gaji pertamaku menjadi artis.”

“Jinjja e yo?” tanya Re na yang kubalas dengan anggukan. “Aku menyayangi kalian.”

“Aku minta dulu fotonya!” kata Bokyung dengan menyalakan bluetooth. Aku juga menyalakan bluetoothku berniat meminta foto yang baru saja diambil.

#Author *Pov*

So mi tak tahu harus berbuat apa lagi, ketiga temannya telah menjauhinya.

“Jangan khawatir aku mau menjadi temanmu.” saut Ri ni yang tiba-tiba berdiri di samping So mi.

Siang ini So mi tengah mengantri untuk mendapatkan tiket konser Bts. Ia berdiri berjam-jam lamanya, sebelumnya ia tak pernah melakukan hal itu sendirian. Ia memang pernah pergi menonton konser namun itu terjadi disaat masih duduk di kelas dua SMP. Dengan keringat yang bercucuran ia tetap sabar mengantri, padahal ia bisa meminta seseorang untuk mendapatkan tiket konser Bts. Kini ia sadar betapa susahnya menjadi penggemar, harus berpanas-panasan demi ingin bertemu idolanya.

“Bukankah itu putri Silla?” anak-anak yang mengantri menyadari bahwa putri Silla juga sama seperti mereka tengah mengantri demi untuk mendapatkan tiket. Ketika giliran So mi ternyata tiketnya sudah habis terjual, memang sengaja di konser kali ini pihak bighit mengurangi kursi untuk penonton. Mengingat kemaren masih banyak sisa tiket yang belum terjual.

“Yaa Jimin-a bukankah itu putri Silla?” Jimin melihat kearah yang di tunjuk J-hope, So mi tengah keluar dari barisan dengan wajah sedih. Jimin berlari kearahnya membuat yeoja-yeoja berteriak histeris.

“Jimin eoppa menghampiri putri Silla.”

“Jangan salah paham! Kami hanya teman Armyduel.” Jimin mengajak salah satu yeoja di depannya melakukan highfive.

“Kami tahu eoppa, karena eoppa tengah menjalin hubungan dengan Jaemi eonni.”

“Hey omong kosong apalagi itu, kami hanya berteman.” tambah Jimin dengan tersenyum.

“Jinjja eoppa? Kalau begitu masih ada kesempatan untukku menjadi calon istrimu.” Jimin tertawa.

“Mungkin.” Ia mengajak So mi pergi dari kerumunan yeoja-yeoja. “Sampai bertemu nanti malam Armyduel. Saranghae.” yeoja-yeoja itu semakin berteriak-teriak histeris.

Di dalam mobil milik Bts yang hanya ada supir, J-hope dan Jimin serta satu yeoja, mereka hanya terdiam. J-hope mulai mengawali pembicaraan, ia mananyakan pertanyaan yang sederhana pada So mi. Keduanya mulai bercanda-canda dan tertawa-tawa. So mi mengaku bahwa dirinya yang saat ini adalah Army, ia mengatakan bahwa lagu-lagu Bts benar-benar bagus. Saking bagusnya sampai So mi tak bisa berkata apa-apa. J-hope memberikan tiket VVIP pada So mi, tiket yang akan diberikannya pada adik tercintanya.

“Yaa Jimin-a kenapa kau hanya diam saja?”

“Tidak ada yang ingin dibicarakan hyung.” Jimin menjawab dengan tersenyum.

#So mi *Pov*

Aku meminta ijin pada abamamma untuk pergi melihat konser Bts. Awalnya abamamma melarangku, namun aku tetap memaksa untuk melihat konser. Aku dijinkan melihat konser dengan catatan aku harus dikawal oleh beberapa namja bertubuh kekar. Abamamma mengawatirkanku, padahal tidak akan terjadi apa-apa padaku. Aku lebih memilih mengiyakan dari pada nantinya aku dilarang pergi.

Di barisan depan aku menikmati perfome ketujuh namja tampan. Mereka hebat bisa membuatku benar-benar menyukai mereka. Dance mereka, lagu mereka dan suara mereka, seperti tujuh keajaiban dunia. Kira-kira borobudurnya siapa yah!!! Aku tersenyum sendiri sembari menikmati pertunjukan mereka.

Seung hoon berkunjung ke rumahku, ia marah padaku karena aku pergi ke konser Bts. Memang untuk sehari ini netizen tengah membicarakanku di internet. Karena aku mendatangi konser Bts banyak yang berkomentar positif tentang mereka. Ada yang mengatakan “Bts hebat karena membuat puri Silla menyukai boyband mereka, aku semakin mencintai Bts”.

“Kau pergi ke dreamconcert Bts?” aku mengangguk pelan, Seung hoon melemparkan tatapan dingin padaku. “Undang mereka untuk kau nikmati seorang diri seperti yang sudah kau lakukan pada T.O.T.”

“Aku tidak bisa, kini aku tahu betapa sulitnya menjadi penggemar.”

“Baiklah, aku kecewa padamu Han so mi, selama bertahun-tahun aku debut kau tidak pernah datang ke dreamconcert boybandku.”

“Bukannya begitu Seung hoon-a.”

“Aku rasa kau bukanlah sahabat yang selalu mendukung karierku.” Seung hoon membanting pintu kamarku dengan kasar, aku benar-benar terkejut. Sebelumnya aku tak pernah melihatnya semarah ini.

@School

Di koridor sekolah banyak mata yang tertuju padaku. Mereka melirik sinis kearahku, aku tahu kebanyakan anak sekolah ini mengidolakan T.O.T. Sudah pasti kalau saat ini mereka tengah membenciku dan menganggapku mengkhianati T.O.T. Jimin mengatakan padaku bahwa ia tidak akan masuk karena banyak schedulle. Aku memang semakin dekat dengannya, sebagai sahabat. Setiap kali kami saling mengirim pesan, ia selalu menanyakan kabar Jaemi padaku, padahal namja itu tahu bahwa hubunganku dengannya sedang tidak baik.

Di lorong aku melihat seorang yeoja tengah menangis sembari berlutut.

“Yaa Jaemi-a geumanhe!” titahku dengan berlari menghampiri Jaemi yang sedang membuli anak kelas dua. Aku menyuruh yeoja itu untuk berdiri, aku juga mengambil album yang sudah rusak di lantai. “Aku mohon hentikan semua ini!”

“Haiss aku rasa sosok Ri ni baru telah bertambah.” Jaemi menatap tajam kearahku yang diikuti oleh Bokyung. “Yaa Han so mi aku dengar kau pergi ke dreamconcert boyband sajaegi itu.”

“Mereka tidak pernah melakukan sajaegi, sebelum ada bukti aku mohon berhentilah mengumpat mereka. Yaa Jaemi-a, aku merindukanmu. Aku ingin kita sama-sama seperti dulu, aku, kau, Bokyung dan juga Re na.”

“Tapi aku tidak…”

“Aku tahu kau juga merindukanku.”

“Siapa yang bilang? Yaa Han so mi aku muak denganmu, aku menantangmu untuk membuat ff oneshoot dengan main cast idola barumu dan aku memakai cast T.O.T. Like harus lebih dari dua ratus dan yang berkomentar harus lebih dari seratus. Jika kurang dari itu, dia dinyatakan kalah dan yang kalah harus berlutut di lapangan sekolah di hadapan yang menang.”

“Yaa Jaemi-a…”

“Sikero Re na-ya, aku sudah muak dengannya. Jika kau terus berbicara lagi nasibmu akan sama sepertinya.”

“Yaa yaa yaa, ayo kita pergi!” Bokyung mengajak Re na dan Jaemi keluar dari lorong.

“Aku menerima tantanganmu.” ucapku dengan hati yang penuh kekecewaan. Rasa sakit yang teramatlah yang berada di hatiku, aku tidak mengira sebelumnya bahwa Jaemi akan mengucapkan kata-kata yang bahkan aku tak pernah membayangkannya.

#Jaemi *Pov*

“Yaa Jaemi-a! Aku ingin pergi ke rumah kaca.” ajak Re na.

Aku dan Bokyung mengerutkan alis kami, Re na berubah total. Biasanya ia hanya mengikuti kemanapun kami pergi, ia tak pernah merangkulku atau pun menaruh tangannya di pundakku. Dia mengajak kami pergi ke rumah kaca, rumah yang pasti akan kami kunjungi seminggu sekali atau sebulan sekali. Di rumah kaca banyak bunga yang tumbuh serta hewan peliharaan kami masing-masing. Tapi, akhir-akhir ini kami jarang pergi kesana. Aku yang sibuk dengan latihan dan schedulle, serta kedua temanku yang tidak akan pergi kesana tanpa aku. Song ahjumalah yang merawat bunga dan hewan peliharaan kami ketika kami tidak datang ke rumah kaca.

Sesampai kami di rumah kaca, segera kami menuruni mobil dan memasuki rumah kaca. Aku terkejut setelah melihat kucingku tak bergerak di dalam kandangnya. Aku mencoba mengeluarkan kuncing yang sudah tak benyawa, aku berteriak marah melihat kucingku yang hanya diam. Kucing berwana abu-abu dan hitam, aku memeluknya dengan sangat erat sembari menangis.

“Maafkan aku Lefi-ya! Maafkan aku yang tak pernah datang mengunjungimu.” ungkapku yang masih memeluk kucingku. Re na dan Bokyung menghampiriku, mereka mengelus pundakku sembari menyuruhku untuk merelakan kucing kesayanganku. “Ahjumma apa yang terjadi pada Lefi?”

“Tadi si manis masih baik-baik saja agashi, saya hanya pergi beberapa jam untuk membeli makanannya.” kucing itu adalah pemberian Seung hoon sebagai tanda cinta kami. Apa ini pertanda bahwa cintaku akan berakhir dengannya? Setelah aku mengebumikan Lefi, aku dan kedua temanku pulang ke rumah masing-masing.

#Author *Pov*

So mi masih berusaha membuat ff oneshoot, sebelumnya ia hanya membuat ff berchapter. Ia berpikir keras tentang ff yang akan dikerjakannya, ia sempat frustasi karena tak kunjung mendapat ide. Akhirnya ia mendapat insprirasi setelah membaca salah satu postingan Army tentang Sajaegi.

Jaemi tengah berada di bandara untuk menuju Singapura, semua artis Tc akan menggelar konser di negara yang memiliki julukan Seribu Satu Larangan itu. Setelah konser berakhir semua wartawan bertanya dimana keberadaan Jaemi. Ia tidak mengikuti konser di Singapura ia menghilang sebelum perfome. Di saat itu pula Re na tengah diculik oleh beberapa orang. Di negara Gingseng tengah digencarkan dengan berita penculikan Re na anak pemilik agensi Bighit yang baru saja menuai hasil di dunia entertainment. Re na ditemukan sehari setelah menghilangnya, ditemukan dengan keadaan yang parah dan kritis. Segera ia dilarikan ke rumah sakit, namun naasnya ia tak tertolong lagi. Dalam perjalan ke rumah sakit ia menghembuskan napas untuk terakhir kalinya. Berita menghilangnya Jaemi juga tersebar di tanah Gingseng, banyak kejanggalan yang terjadi.

“Tidak mungkin, Re na tidak mungkin meninggalkanku kan appa?” tangis Ri ni selaku soudara kembar Re na yang terbaring di atas peti dengan senyum tertancap di bibirnya. Ia sama sekali tak menghiraukan Ri ni yang terus memanggil-manggil namanya. Memintanya agar segera bangun. “Yaa penakut! Kita bisa tidur bersama-sama lagi, tempat ini terlalu sempit untukmu.” Ri ni memeluk gadis yang tak akan pernah mendengarkannya lagi. “Aku minta maaf Re na-ya! Aku minta maaf karena aku selalu memarahimu, aku menyayangimu.”

Jaemi dan Bokyung datang bersamaan, segera Bokyung menangis di samping peti Re na. Jaemi hanya melihat sendu kearah sahabatnya, ia berusaha menahan air matanya. “Yaa penakut! Bukankah dua hari lagi kau akan ulang tahun, Jaemi akan mentraktir kita dengan gaji pertamanya. Cepatlah bangun!!!” ucap Bokyung. So mi juga datang, ia berteriak histeris. Tangisnya tak tertahankan lagi, bendungan air matanya sudah membanjiri kedua pipi merahnya.

“Pergi kau dari sini!” geram Ri ni dengan mendorong Jaemi. Ia menatap tajam kearah Jaemi. “Dimana kau berada saat adikku diculik dan diperkosa oleh laki-laki bejat itu?”

“Mulsuneyo? Saat Re na diculik dia berada di Singapura.” tandas Bokyung yang masih meratapi kepergian sahabat terbaiknya.

“Tanyakan padanya apa dia benar-benar berada di Singapura?” Ri ni memandang penuh dengan kebencian pada Jaemi yang sedari tadi hanya terdiam.

Bersambung…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s