Tell Him 9th/end

tell him

Title ||  Tell Him 9th/end

Author ||  Alana

Maincast || Park Jiyeon, Lee Joon, Nam Woohyun

Genre || Romance /Angst

Length || Multichapter

Rated || PG

 

 

 

Joon mulai bergumam. Aku menoleh. Apakah dia mabuk. Matanya sayu. Dia tidak sedang melihat ke arahku. Dia terbaring menatap langit. Aku tidak sedang mengasihani keadaannya. Hanya saja perasaanku masih bernostalgia dengan kenangan tak terlihat yang pernah aku alami bersamanya. Di jembatan kecil yang menghubungan rumah utama dan paviliun penginapan di sekitar kolam ikan itu adalah saksi perjumpaanku dengannya.  Aku mendengar langkahnya. Berjalan pelan seakan-akan sedang meneliti keadaanku. Aku menghitung langkah kakinya. Kemudian tepat berada di sisiku. Saat itu aku hanya bisa merasakan tubuhnya lebih tinggi dariku. Wewangian dari tubuhnya meresap di ,indera penciumanku. 

 

“Joon!”  panggilku. Joon menoleh. “Tidurlah!” ujarku. Dia tersenyum sebentar.

 

“Aku akan kembali ke Seoul sebentar lagi.” ujarnya.

 

“Kau mabuk.”  ujarku

 

“Tidak. Hanya dua botol soju tidak akan membuatku mabuk.”  

 

“Kau tidak usah terburu-buru. ”  Woohyun beranjak pergi. 

 

Aku memperhatikan punggungnya.

 

“Joon, kumohon, jangan malam ini. Jalanan berbahaya jika kau sungguh nekat. Kabut pegunungan sangat tebal, apalagi menjelang pagi. Aku tidak mau kau terjebak diantara kabut.”  Aku sangat khawatir, namun aku melihat Woohyun sudah menjauh. Aku harus mengejarnya memasuki rumah utama.

 

Kutinggalkan Joon sendiri. 

 

 

////

 

 

 

Woohyun duduk di atas kasurnya dengan menatapku. Saat ini dia tidak lagi memasang wajah kaku atau dingin. Dia melihatku dengan lebih mesra, mungkin lebih dari sekedar menggoda. Aku sedikit gugup jika dia sudah seperti itu. 

 

“Duduklah di sini!” ujarnya sambil menepuk tempat di sebelahnya.

 

“Ehm, ini sudah malam, aku tidak bisa berada di sini. Nanti Eomma akan menceramahiku panjang lebar.”

 

Woohyun menalikan sebentar rasa sabarnya padaku, lalu menarik tubuhku dengan tatapannya yang lembut, dia sedang bercengkrama dengan hatiku. Dia sangat manis malam ini.

 

“Hanya sebentar.” ujarnya lagi.

 

Aku melangkah menuruti permintaannya. Duduk dan sedikit nervous. Bukan karena sikapnya yang lembut saja aku menjadi seperti ini, namun karena di hatiku, aku merasa sedikit merasa bersalah mengenai kejadian siang tadi. Joon hampir saja membuatku kehilangan segala-galanya.

 

“Maafkan aku karena aku tidak peka dengan apa yang kau rasakan.”

 

Kami saling menatap. “Aku yang seharusnya jujur padamu mengenai Joon.”

 

“Dia ..”  Woohyun tidak melanjutkan kalimatnya

 

“Jangan khawatir!”  aku tidak ingin membicarakan mengenai Joon terlebih kondisinya saat ini sedang labil. 

 

“Kalian sudah saling mengenal sebelumnya.”

 

“Ya. Dia menjadi salah satu tamu kami saat itu.”

 

“Kau masih belum bisa melihat waktu itu.”

 

“Ya.”

 

“Aku sudah tahu kalau dia mempunyai perasaan khusus untukmu.”

 

Aku mengernyit. “Kau tahu?”

 

“Lukisan itu.”

 

“Mengenai lukisan itu…”  Aku terdiam sebentar. ” Aku sudah mengembalikannya pada Joon.”

 

“Baiklah. Aku tidak akan meributkan masalah lukisan lagi. Karena sekarang semuanya sudah jelas. Aku hanya ingin bertanya, apa kau mencintainya?”  pertanyaan itu membuatku sangat takut. Takut karena aku tidak ingin mendustai perasaanku. Apakah aku mencintai Joon.

 

Sejak merasakan kehadirannya lagi, aku mungkin dilanda oleh perasaan yang tidak bisa kujelaskan. Mungkin aku mencintainya, namun mungkin juga hanya sekedar perasaan yang ingin kupaksakan masuk di dalam otakku, bahwa aku mencintainya. Namun jika memang aku mencintai Joon, lalu apa yang aku rasakan pada Woohyun. Apakah aku tidak mempunyai hati sedikit pun padanya, terlebih dia begitu mencintaiku. 

 

“Tn. Nam..”

 

“Kau boleh memanggilku Woohyun.”  ujar Woohyun menyela.

 

“Aku tahu.”

 

“Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku.”  ucapan itu membuat hatiku begitu terharu. Laki-laki yang selama ini bersikap dingin padaku begitu tulus mencintaiku. 

 

“Aku tahu.”

 

“Apakah aku bersikap baik padamu selama ini?”

 

Aku mengangguk dan tersenyum. 

 

“Hm.” 

 

“Apa aku pernah membuat hatimu terluka atau membuatmu menangis?” 

 

Aku menggeleng.

 

“Apa aku..”

 

Aku mendekat padanya dan mengecup bibirnya, mencoba menghentikannya untuk menanyakan banyak hal yang aku rasa tidak perlu. Kami sebentar salig mengulum dan menautkan bibir. Woohyun mengambil tubuhku dan memeluknya dengan erat. Aku yang semula mendominasi ciumanku, kini tenggelam dalam ciumannya.

 

“Kau jangan mengkhawatirkan perasaanku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Tuan.” ujarku ketika kami melepaskan ciuman.

 

Woohyun menelan ludahnya dan mencoba tersenyum. Dia terlihat sangat menguasai dirinya. Laki-laki dewasa yang membuatku terpana. 

 

“Tidurlah!”  bisiknya. 

 

Aku berdiri dan meninggalkannya dengan langkah pelan. Lalu aku melihat lampu kamarnya di matikan. Setelah itu barulah aku melangkah pergi. Eomma sudah menungguku di bawah tangga ketika melihatku turun dengan wajah cemas. Aku mencemaskan Joon. Apakah dia jadi pergi atau tidak.

 

“Eomma, bagaimana dengan Joon?”  tanyaku. Wanita itu mengangguk. Dia melihat aku gelisah, dia melihat aku hilang fokus. Mataku terus melintas pada pondok itu.

 

“Jangan cemas. Dia tertidur pulas. Eomma sudah mengurusnya.” Jawabnya.

 

Ah, leganya aku. Paling tidak aku sudah memastikan kalau dia tidak jadi kembali ke Seoul. Eomma menatapku, dan aku tahu apa maksud daei semua tatapan yang seakan-akan menghakimi itu.

 

“Eomma, aku sudah berusaha.” ujaku membela diri. Sapuan lembut di kepalaku membuatku berhenti menhibaskan lenganku.

 

“Kenapa kau menjadi seperti ini?  Bukankah eomma sudah mengatakan padamu untuk tidak menemui Joon.” 

 

“Eomma, aku tidak menemuinya. Dia yang datang padaku. Ini mengenai lukisan itu.”

 

“Lukisan?” tanyanya.

 

“Agh, sudahlah! Eomma tidak mengerti mengenai hal itu. “

 

“Lalu bagaimana sekarang?”

 

“Joon sudah menikah, Eomma.” Eomma terlihat terkejut. Jelas dia terkejut, karena dia melihat kenyataan bahwa Joon masih senang berada di dekatku ketimbang berada di sisi istrinya. 

 

“Lalu kenapa kau masih bersamanya?”

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Apa kau masih mengharapkannya? Eomma harap kau segera melupakan hal itu. Kau sebentar lagi kau akan menikah. Eoma tidak ingin kau bersikap buruk pada Woohyun.”

 

“Aku akan menikahi Tn.Nam. Eomma jangan khawatir.”

 

“Lalu kau akan tetap berhubungan dengan Joon. Wanita macam apa yang sudah Eomma besarkan selama ini?”

 

“Eomma, tidak seperti itu. Aku masih membutuhkan waktu untuk menenangkan hatiku. Aku mungkin mencintai Joon, tapi aku tidak berharap apapun darinya. Tidak bolehkah aku mencintainya seperti ini. Di dalam hati ini saja.” 

 

Aku merasa frustasi. Kenapa Joon harus kucintai. 

 

.

.

.

 

 

Langkah kakiku terhenti di depan pondok Joon yang sudah gelap. Eomma mengatakan dia sudah tidur. Malam ini udara begitu dingin. Semua sudah terleap, bahkan semua ikan di dalam kolam. Mereka sepertinya ikut tertidur dan menyembunyikan diri di bawah bebatuan. Aku duduk di beranda sambil merapatkan jaketku. Kenapa aku belum menidurkan mataku. 

 

“Jiyi!”  panggil Joon dari dalam. 

 

Aku menoleh. Apa dia mengingau. 

 

“Kenapa kau disitu?” tanyanya

 

“Apa kau mengigau?” tanyaku

 

“Tidak. Aku masih terbangun.”

 

“Kau mabuk.” ujarku

 

“Aku tidak akan mabuk hanya karena dua botol soju. Apa kau bercanda!” 

 

Aku menunduk mengulum senyumku. Dia membuatu tersenyum. Namun hatiku ingin menangis. 

 

‘Di luar dingin, cepatlah masuk ke kamarmu dan tidur!” 

 

“Kenapa kau belum tidur?” tanyaku. 

 

“Aku masih memikirkanmu.”

 

“Kenapa kau tidak memikirkan istri dan anakmu.”

 

“Mereka baik-baik saja tanpa aku. Buktinya mereka tidak meneleponku ketika aku berada jauh dari mereka.”

 

 

Aku menarik napasku dengan berat. ” Mungkin karena kau tidak pernah memberikan kehangatan seorang Ayah dan seorang suami untuk mereka.”

 

Sunyi, tidak ada jawaban. Mungkin apa yang aku katakan benar, dan dia merasa sedikit bersalah. Mungkin juga sedang merenungkan sesuatu. Aku beranjak dsri tempatku duduk.

 

“Kau mau ke mana?” 

 

“Kau menyuruhku untuk tidur. Aku akan segera tidur.”

 

“Apa kau mencintaiku ?” tanyanya.

 

Langkahku terhenti. Aku menoleh ke arah pondok. Di dalam sana mjngkin Joon sedang mengintipku dari celah jendelaatau pintu. Aku tidak bisa melihatnya, namun aku merasakan kegelisaannya.

 

“Apa yang kau ingin dengar dariku ?” tanyaku.

 

“Sebuah kejujuran.”  balasnya

 

“Woohyun pun menanyakan hal yang sama padaku. Apakah aku mencintainya.”

 

“Lalu apa jawabanmu?”

 

“Aku tidak menjawabnya.”  

 

“Apa kau akan menjawab pertanyaanku?”

 

“Aku rasa tidak. Jika aku tidak menjawab pertanyaannya , maka demikian juga dengan pertanyaanmu.”

 

Sedikit agak lama sampai akhirnya,

 

“Baiklah.”  balas Joon lesu

 

“Tapi aku akan tetap menikahi Woohyun.”

 

 

Tidak ada sahutan, lalu aku melangkah pergi.

 

.

.

.

 

 

Sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku terlambat bangun, mungkin karena tadi sekitar jam empat pagi aku baru bisa terlelap. Mataku terbuka untuk meraih ponselku yang tergeletak di meja.

 

‘Jiyi, aku kembali ke Seoul lebih dulu, karena ada urusan mendadak. Kau beristirahatlah dulu dan temani Ayahmu hingga sembuh. Aku akan kembali secepatnya jika urusanku sudah selesai.’

 

‘I Love You’

 

Aku menghela napasku. Jadi Woohyun memutuskan untuk kembali ke Seoul lebih awal. Lalu bagaimna dengan Joon?  Lalu apakah dia begitu saja membiarkan aku di sini bersama Joon. Aku melongok keluar jendela, da melihat ke arah pondok di mana Joon berada. Sepertinya dia masih tidur.

 

“Dia tadi berpamitan, katanya ada masalah yang harus di urusnya.”  Ujar Eomma ketika aku masih terduduk di pinggir jendela.

 

“Ya, dia meninggalkan pesan untukku.”

 

“Joon tadi berpamitan untuk berjalan-jalan.” 

 

Apakah dia pergi ke lembah itu. Lembah di mana dulu aku pernah membawanya. 

 

“Kau mau ke mana?”  Eomma menarik lenganku

 

“Aku akan menyusulnya.”

 

“Apa kau mengerti kenapa Woohyun meninggalkanmu di sini bersmaanya?”

 

“Aku mengerti eomma. “

 

“Selesaikan masalahmu dengannya. Jangan menyisakan cerita jika kau ingin mengawali lembaran yang baru dengan cerita yang baru.”

 

“Aku mengerti eomma.”  

 

Aku bergegas megenakan sepatu dan jaketku, berlari menuruni tangga dan keluar dari halaman rumah dengan sepeda. 

 

“Joon!”  panggilku ketika aku melihatnya berdri di hamparan rumput. Padahal angin berhembus cukup dingin. Joon melihat ke arahku dan melambai.

 

“Jiyi!”  balasnya. Dia berlari ke arahku dan menyambutku. Menggandeng tanganku. Senyumnya bertebaran di dadaku. Dia terlihat lebih lepas dan bahagia. Adakah sesuatu yangmembuatnya lega.

 

“Kau terlihat sangat luar biasa pagi ini!”  pujiku

 

Dia tidak menjawab. Hanya tersenyum dan menatapku. Apa yang ada dipikirannya.

 

“Woohyun kembali ke Seoul.” ujarku.

 

“Ya, aku tahu.”

 

Aku mengernyit. “Kau tahu?”

 

“Kami tadi sempat bicara..” 

 

Mendadak aku mencium gelagat tak enak ketika mendengar Joon mengatakan hal itu. Apa yang mereka bicarakan.

 

“Apa yang kalian bicarakan?” 

 

“Kami membicarakanmu.”

 

“Aku?”

 

Kenapa Joon bisa begitu tenang saat mengatakan hal itu. Apakah dia memohon pada Woohyun untuk melepaskan aku, atau dia akan menceraikan Eunjung untuk menikahiku, ataukah Joon akan pergi dan mengalah untuk Woohyun.

 

“Dia memintaku untuk menjagamu.”  jawabnya

 

“Woohyun memintamu begitu?”

 

Aku duduk di atas rumput. Matahari menyinari tubuh kami. Untuk sesat aku merasakan kehangatan. Tingkah Woohyun sangat lucu. Dia seperti seorang laki-laki yang tabah dan bijaksana, namun hatinyan pasti sedang merintih. 

 

“Aku tidak menyangka bahwa kehidupanku akan tiba pada titik ini.” tatapanku  terkunci pada keseriusannya melihat hamparan rumput di depan kami.

 

“Kau menyesal?”

 

Aku menggeleng.

 

“Apakah kau merasa bahagia jika aku bersamamu?”  tanyaku.

 

“Kenapa kau menanyakan hal itu?”

 

“Selama ini, setelah kau pergi dari tempat ini, apakah kau berpikir untuk kembali, dan menemuiku lagi?”  

 

“Kau pasti sangat membenciku karena aku tidak melakukan hal itu.” Joon melirikku dengan perasaan menyesal, dia menjawab dengan desahan panjang.

 

“Terus terang aku tidak berpikir apapun selain kesembuhanku saat itu.”

 

“Aku tidak pernah melupakanmu. Aku selalu memikirkanmu.” sambutnya. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak.

 

“Kau tidak pernah kembali ke tempat ini.”  tegasku datar.

 

“Ya.”

 

“Kau pun tidak menanyakan keadaanku, meski itu hanya satu kali lewat telepon ataupun pesan.”

 

Joon semakin merasa terdesak. Dia merasa kalah dengan tuduhanku. Namun sepertinya itu adalah kenyataan yang ada. Aku ngin sekali mempercayai apa yang dia pikirkan mengenai aku, tapi sepertinya itu semua tidak berarti ketika aku memojokkannya dengan kenyataan yang ada.

 

“Aku mulai mencari sebuah tempat bersandar.” ujarku lembut. “Dan kau pasti tau siapa dia. Meskipun pada awalnya dia bukan namja yang bisa dikatakan ramah. Dia sangat dingin, angkuh tapi apa kau tahu? Dia menggenggam tanganku ketika aku menjalani masa-masa sulit menjelang pengobatan mataku dan sesudahnya.”

 

Joon menunduk. 

 

“Sepertinya aku tidak sebanding dengannya.” 

 

“Itu pasti.”  aku tersenyum sambil menepuk pudaknya. 

 

 

.

.

.

 

 

 

Joon mengantarku hingga tiba di depan rumah Woohyun. Suasananya tampak sepi. Apakah Woohyun pergi. 

 

“Terima kasih sudah mengantarku!”  Aku berdiri di depan pintu.

 

“Apa kau baik-baik saja?”

 

“Aku baik-baik saja.”

 

“Aku akan menghubungimu lagi.”

 

Aku tidak bisa mengatakan tidak. Mungkin akan menyakitinya, tapi akupun sebenarnya masih ingin melihatnya. 

 

Pintu terbuka ketika Joon sudah berlalu dengan mobilnya. Aku melihat wajah Woohyun yang tersenyum. 

 

“Bagaimana keadaan Ayahmu?”

 

“Dia sudah membaik.”

 

“Kau bersama Joon?”

 

“Hm.”  Aku mengangguk

 

“Kau sudah makan?”

 

“Sudah. Apa Tuan sudah makan?”

 

“Kau bisa memangglku Woohyun.”

 

“Ya.”

 

“Kenapa tidak kau lakukan?”

 

“Aku masih belum terbiasa.”

 

Woohyun menatapku lekat-lekat

 

“Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan.”  ujarku.

 

“Benarkah?”

 

Woohyun mengajakku duduk di sofa. Dia terlihat tenang meskipun aku tahu dia pasti ingin segra mengorek sesuatu dariku.

 

“Aku dan Joon berbicara banyak. Kami membahas banyak hal. Mengenai pertemuan, mengenai lukisan dan lain-lain.”  Woohyun mendengarnya dengan tersenyum. Sungguh aku ingin terbuka padanya. Aku tidak mau dia berpikir bahwa aku tidak punya pendirian.

 

“Apa dia tidak menceritakan kehidupan pribadinya.”

 

“Aku rasa akupun tidak ingin mendengarnya.”

 

“Jiyi, aku senang kau bisa terbuka seperti ini. “

 

“Dia akan kembali ke Australia.”  Woohyun mengerutkan dahinya.  “Dia akan mengajar sebagai dosen di sana. ” lanjutku.

 

“Kapan?” 

 

“Dalam bulan ini.”

 

“Look, Jiyi! Sebenarnya aku sudah memikirkan masak-masak mengenai kita dan hubungan ini.”

 

Aku mendadak merasa was-was. Apa yang akan dikatakan Woohyun kali ini. Kenapa tiba-tiba aku merasa sanagt ketakutan.

 

“Aku harus membuka sebuah perusahaan baru di Rusia. Kami, ehm maksudnya ada kolegaku di sana yang berinisiatip untuk membuka usaha yang bergerak di bidang yang sama denganku. Kami merencanakan ini sejak awal tahun kemarin. “

 

“Apa kau akan pergi? Lalu bagaimana pernikahan kita?”

 

Woohyun menggenggam tanganku.

 

“Aku memberikan kebebasan padamu.”

 

“Apa maksud Tuan?”  

 

“Aku hanya merasa kau belum siap untuk pernikahan kita.”

 

“Andweeh! Jangan katakan kalau kau membatalkan pernikahan ini!”  

 

“Jiyi, aku sudah memikirkannya sejak Joon muncul dalam kehidupan kita.”

 

“Keapa Tuan baru mengatakannya sekarang? Ini sungguh tidak adil. Aku tidak mau Tuan bersikap seperti ini.”

 

Woohyun menghela napasnya.

 

“Aku tidak ingin membebanimu dengan perasaanku. Di dalam hatimu, mungkin kau tidak mempunyai perasaan cinta untukku. ”  Aku menggeleng berkali-kali

 

“Tuan, aku mencintaimu.”  aku mencoba menegaskannya.

 

“Kau hanya berusaha untuk membalas budiku. Kita memang sudah dijodohkan , tapi sepertinya aku tidak ingin memaksamu. Aku akan membebaskanmu. “

 

“Kenapa Tuan seperti ini?”

 

Air mataku mengalir deras. Aku sungguh merasa terpukul dan kehilangan pegangan setelah Woohyun mengatakan dia membebaskanku. Apa maksudnya dia mengatakan hal itu.

 

Woohyun berdiri, sementara aku masih memegangi tangannya dan berusaha agar Woohyun menarik ucapannya. 

 

“Kau pasti akan merasa lega dan bebas menentukan dengan siapa kau akan menjalani hidupmu.”

 

“Tuan, aku tidak mau Tuan bersikap seperti ini. Selama ini aku hanya bergantung pada Tuan.”

 

“Itu sebabnya aku ingin melepasmu, supaya kau tidak selalu bergantung padaku. Hidup bersamaku hanya sebuah rasa pengabdian. Aku tidak ingin kau menjalani hal semacam itu. Kau akan tersiksa seumur hidupmu.”

 

“Tidak, Tuan. Aku tidak merasa seperti itu.”

 

“Jiyi, kumohon! Jangan seperti ini. Mungkin saat ini kau menangis. Kau hanya terkejut, tapi besok atau mungkin satu bulan ke depan, kau akan merasa lega karena aku bukan lagi menjadi tunanganmu. Kau bisa melanjutkan hidupmu. Kau bisa mencintai dengan hati tanpa beban. Mungkin itu Joon atau mungkin Minhyuk, assisten kita tercinta yang selalu memanimu di tempat kerja. “

 

 

Woohyun masih sempat bercanda dalam suasana seperti ini. Apa yang ada di kepalanya. 

 

 

Sepertinya keputusannya sudah bulat.  Aku bahkan tidak bisa menggapainya ketika dia meninggalkan sendiri di ruangan ini. Semua terasa sangat hampa.

 

.

.

.

 

 

 

Minhyuk melihat wajah sembabku dan mengehela napas.  ” Aku sudah menduga bahwa kau akan ketahuan!”

 

“Minhyuk, apa yang kau katakan?”

 

“Mengenai Joon.”

 

“Kau jangan ikut campur!”  hardikku

 

“Ada seorang wanita mencarinya ketika kalian semua tidak ada si sini.”

 

“Wanita? Siapa?”

 

“Istri Tn. Lee. ”  

 

“Dia mencari Joon atau aku?”

 

“Dia mencari Joon ke sini. Itu berarti dia sudah tahu, kalau kau ada kaitannya dengan suaminya.”

 

“Apa kau mengatakan sesuatu ?”

 

“Aku hanya mengatakan bahwa kau sedang mengunjungi Ayahmu.”

 

Aku mengangguk.

 

“Apa kau dan Joon benar-benar…”  Minhyuk menghentikan kalimatnya.

 

“Jangan ikut campur !”  

 

Minhyuk mengangkat tangannya. “Oke!” jawabnya

 

Aku sungguh pening. Kepalaku berputar-putar. Kenapa semua masalah ini menerjang bertubi-tubi. Diawali dengan Ayahku yang sakit, kemudian tindakan nekat Joon, lalu pembatalan pernikahan Woohyun, dan sekarang Eunjung. Dia pasti akan menyanyakan masalah Joon padaku. Dia mencurigai jika Joon bermain api di belakangnya. Oh Joon! Sebaiknya kau segera pergi ke Australia, atau selamanya Eunjung dan Woohyun tidak mempercayai apa yang terjadi dengan kita.

 

Baru dua puluh menit aku duduk, Minhyuk sudah berteriak-teriak di sambungan telepon. ” She is here!”  ujarnya. Tentu saja aku tahu siapa yang dimaksud Minhyuk. Eunjung.

 

Dadaku berdegup kencang. Ini baru kali kedua mereka berhadapan setelah beberapa waktu itu mereka dipertemukan. Apa yang akan Eunjung katakan padaku. Apakah dia akan menjambakku dan berteriak akan membuat hidupku berantakan karena sudah merebut perhatian Joon darinya.

 

“Apakah dia boleh masuk?”  tanya Minhyuk kemudian.

 

“Hm, suruh dia masuk. ”  balasku.  Aku menata sebentar posisi dudukku dan riasan wajahku. Aku tidak mau terlihat berantakan di depannya. 

 

Wajahnya menyeruak ketika pintu itu terbuka.

 

“Hi!” sapanya lembut. Dia sangat luar biasa cantik. penuh kharisma. Dia sangat percaya diri dan sangat mempesona. Tubuhnya begitu indah dan ramping. Lekuk payudaranya juga sangat ideal dengan pinggangnya. Baiklah cukup sudah dengan pujianku padaya.

 

Dia berjalan mendekat.

 

“Silahkan duduk!” ujarku.

 

Eunjung terus menatapku. Dia sangat menaruh perhatian dengan wajahku. Ekspresinya sama ketika Joon menatapku. Dia pasti sudah mengira kalau aku adalah orang yang sama seperti orang yang dia temui di penginapan itu.

 

“Kau Jiyi, kan.” ujarnya menebak.

 

Aku menunduk dan menghela napasku. Menekan semua prasangka buruk mengenai dia.

 

“Ya. Aku Jiyi.” jawabku.

 

“Kau sangat berbeda.”

 

“Aku hanya mempunyai mata saat ini. Selebihnya masih seorang Jiyi yang sama.” 

 

Eunjung terdiam. 

 

“Ada yang bisa aku bantu? ” tanyaku

 

“Kau pasti tahu kenapa aku ke sini.” ujarnya lagi dengan nada dingin. Matanya sungguh menyimpan amarah, namun dia bisa menguasainya. Mungkin jika dia melihat seorang Jiyi yang lugu seperti dulu, maka dia akan langsung mencaci maki habis diriku.

 

“Aku tidak tahu.” jawabku

 

“Joon.”

 

“Kenapa menanyakan Joon padaku?”

 

“Kau tahu kenapa Joon belakangan ini sungguh repot dengan lukisan itu.”

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Aku tidak pernah melupakan kenapa dulu aku dan Joon sempat bertengkar hebat mengenai masalah ini. “

 

“Aku sangat keberatan jika pertengkaran kalian itu diakibatkan karena aku.”

 

“Kenyataannya memang seperti itu. Joon, dia terlalu terobsesi dengan dirimu. Setiap hari yang dia lakukan menyediri dan melukis dirimu. Apa kau tidak tahu, bahwa tidak hanya lukisan itu yang dia lukis mengenai dirimu. Dia banyak melukis mengai dirimu di dalam studio lukisnya.”

 

 

“Aku tidak tahu menahu mengenai hal itu.”

 

“Apa kalian kemarin bersama?”

 

Aku tahu dia akan menanyakan hal ini. Apa yang harus kujawab. Jika aku mengatakan iya, maka dia pasti akan menghabisiku. Tapi aku tidak punya jawaban lain. Toh, kami tidak melakkan apa-apa selain berciuman.

 

“Dia bersikeras mengantarku pulang ke rumah orang tuaku. Ayahku sakit.”

 

“Aku sudah menduganya. “

 

“Tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

 

“Apa kalian sudah merencanakan ini?”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Joon meminta cerai dariku tadi malam.”  Eunjung menatapku sengit. “Aku tidak mengerti kenapa kau seperti ini. Bukankah kau akan menikah dengan Tn. Nam, tapi kenapa kau masih menginginkan suamiku?”

 

“Aku tidak menginginkan suamimu. Dan aku sama sekali tidak tahu kalau Joon berniat menceraikanmu. Aku hanya tahu bahwa dia akan kembali ke Australia untuk mengajar lagi di sana.”

 

“Kau pasti sudah meracuninya.”

 

“Ny. Lee, aku sungguh tidak bisa menerima tuduhan semacam ini. Kau sama sekali tidak berhak mengatakan hal ini padaku. “

 

“Aku tidak akan tinggal diam, Jiyi! Aku akan menuntutmu seandainya terjadi sesuatu dengan keluarga kami. Aku akan membuatmu bertanggung jawab atas kejadian ini.”

 

Eunjung berdiri dan berjalan ke arah pintu,

 

“Seharusnya kau membicarakan ini dengan Joon, bukan denganku.”

 

“Kita lihat saja nanti!”  ancam Eunjung dengan wajah memerah.

 

Dia membating pintu, dan sama sekali tidak mau perduli dengan semua ini. Joon sungguh bodoh. Kenapa dia akan menceraikan Eunjung.

 

Aku menatap ponselku untuk menghubunginya. Joon. Terus terang aku gemetar sat ini karena emosi. Perasaanku sungguh tidak bisa dilukiskan ketegangannya. Aku ingin berteriak pada Joon dan memakinya. Namun ketika aku mendengar suaranya….

 

“Ada apa, Jiyi?”  suara itu begitu tenang

 

“Eunjung datang menemuiku.” emosiku seakan meredup.

 

“What!?”  Joon sepertinya sangat terkejut  “Apa yang dia katakan padamu? Apa kau baik-baik saja? Jiyi…”

 

“Aku baik-baik saja. Tapi kenapa kau sungguh bodoh.”

 

“Aku kenapa?”  teria Joon.

 

“Kenapa kau ingin menceraikan Eunjung?”

 

“Apa dia mengatakan itu padamu?”

 

“Ya. Dia mengatakan itu padaku!”  Aku hampir berteriak dengan kalimatku tadi. 

 

“Aku minta maaf, kalau kau terkena imbasnya. Tapi sungguh bukan aku yang meminta bercerai. Dia sendiri yang berteriak-teriak ingin bercerai.”

 

“Kalian bertengkar lagi.”

 

“Kami selalu bertengkar.”

 

“Aku…”  Mendadak aku pening. Jemarku memijat keras keningku.

 

“Jiyi, aku minta maaf kau harus mengalami hal ini. “

 

“Joon, tolong jangan dekati aku lagi. Woohyun semalam membatalkan pernikahan kami.”

 

“What?”  Sebentar terdiam.  “Hh Jiyi, kenapa aku begitu senang mendengarnya.”

 

“Aku tidak. Aku sungguh merasa hancur. Kau membuatku seperti ini.”

 

“Jiyi, aku ingin menemuimu.”

 

“Tidak!” 

 

“Kenapa?”

 

“Aku …yang jelas aku tidak mau bertemu denganmu lagi.”

 

“Kau marah padaku?”

 

“Joon, aku sangat menginginkan hubungan kita tidak berlanjut. Apapun yang kita alami saat ini, kita sudahi. Aku tidak ingin kau menemuiku lagi.”

 

“Jiyi…”

 

“Mengertilah!”

 

“Aku…”

 

“Bye Joon!”

 

Aku segera memutuskan pembicaraan. Ini sungguh tidak berguna. Aku merasa benar-benar terpojok. Semua membuatku seperti teromabng ambing.

 

“Jiyi, Tn. Nam menelepon, kataya saat ini dia sudah di Bandara.”

 

“Hm?”  Aku menoleh ke arah Minhyuk yang berdiri di pintu. “Sejak kapan kau memanggilku Jiyi?”  Minyuk tersenyum.

 

“Tn. Nam mengatakan kalau..”

 

“Ya, aku sudah tahu, Minhyuk. Aku tahu.”  

 

Minhyuk menghela napasnya.  Dia mendekatiku yang semakin keras memijat keningku.

 

“Duduklah, aku akan memijat pundakmu. Kau sepertinya strees.”  Minyhuk menggandengku dan mendudukan aku di kursiku lagi. Dia benar memijatku. Aku mendiamkannya. Saat ini aku membutuhkannya. Rasanya sedikit nyaman.

 

“Aku lelah.” ujarku dengan mata terpejam.

 

“Apa yang akan kau lakukan?”

 

“Aku tidak tahu.”

 

“Kenapa Tn. Nam bisa bersikap seperti itu.”

 

“Kau tahu?”  

 

“Dia mengatakan padaku untuk membatalkan semua persiapan untuk menghias galery ini. Aku hanya berpikir bahwa pernikahan tidak jadi diselenggarakan di sini. Apakah dia yang memutuskan hal itu.”

 

“Ya. Tadi malam. Dia akan berbisnis ke Rusia. Dia meninggalkan aku. Lalu Joon akan bercerai dengan istrinya. “

 

“Mari berpikir positip!”  Minhyuk berbicara seolah-olah dia sungguh memahami situasi ini. 

 

“Sepertinya aku akan meninggalkan semua ini.” ujarku.

 

“Kau akan ke mana?”  Minhyuk terperanjat.

 

“Aku akan kembali membantu eommaku. Dia sedikit kewalahan sejak ayahku sakit.”

 

Minhyuk mengangguk-angguk. 

 

“Lalu bagaimana denga Tn. Nam?”

 

“Aku tidak tahu.Yang jelas, aku tidak akan memusingkan diriku dengan persoalan ini lagi. Untuk sementara, kau bertanggung jawab atas galery ini.”

 

“Jiyi!”  sebutnya kemudian. 

 

“Heh, sejak kapan kau berani memanggilku Jiyi? Panggil aku Nona… Agh, lupakan. Aku bukan lagi Nona Nam.”  Aku menunduk sedih. Memikirkan Woohyun. 

 

“Lalau bagaimana jika Tn. Nam menanyakanmu?”  tanya Minhyuk

 

“Katakan padanya….aku ..”  aku terdiam. “Just tell him, that I never forget about him. “

 

“Lalu jika Joon bertanya?”

 

“Juga katakan padanya, bahwa aku berharap hal terbaiklah yang terjadi pada kehidupannya, dan jangan mencariku lagi.”  Minhyuk tersenyum ke arahku.  

 

“Hanya itu?”

 

“Ya. Hanya itu.”

 

“Lalu untukku?”

 

“Kau cepatlah menikah, dan jangan banhak mengganggu customer wanita di sini!” tegasku. 

 

 

.

.

.

.

 

 

Aku sedang mengawasi beberapa oekerja yang sedang merenovasi beberapa bagunan paviliun yang mulai keropos. Sudah tiga bulan ini, aku berusaha memperbaiki dan membuat penginapan milik orang tuaku menjadi lebih modern. Bangunannya banyak yang di makan usia.  Beruntung aku masih mempunyai beberapa won dari hasil kerja kerasku yang sempat aku tabung beberapa waktu lalu. Pikiranku sudah tenang, dan semua berjalan dengan normal. 

 

Eommaku sangat senang aku berada di antara mereka lagi. Apalagi saat ini aku sangat maksimal membantu mereka. Beberapa tamu kami juga mengatakan kepuasannya mengenai pelayanan penginapan sederhana ini.

 

“Eomma, aku akan ke pasar dulu. Sepertinya aku harus membeli beberapa bahan makanan untuk di dapur.”

 

Eomma melambai ke arahku. Dia sedang sibuk menyuapi Ayahku yang saat ini hanya bisa duduk di kursi roda. Aku bahagia melihat mereka. Bisa bersama hingga tua. Semoga saja aku bisa membuat mereka lebih bahagia.

 

Aku berjalan ke arah mobilku. Agh, masih mobil milik Woohyun. Aku belum mengembalikannya. 

 

Tin..Tin..Tin!

 

Sebuah klakson membuyarkan lamunanku ketika melangkah untuk membuka pintu mobil. Aku menoleh dan melihat hal yang mengejutkanku.  Aku tidak bisa menahan rasa haruku. Memdadak jantungku berdebur indah diantara senyumanya.

 

Aku hanya berdiam diri di tempat berdiriku ketika sosok itu menghampiriku. Dia terlihat lebih pucat dari biasanya. Apakah iklim di Rusia begitu menyiksa kulitnya.

 

“Jiyi!” sapanya manis. 

 

“Tn. Nam.”

 

“Kapan kau akan memanggilku Woohyun ?”

 

Aku tersenyum mendengarnya. Suaranya begitu hangat dan menyentuhku.

 

“Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat lebih kurus.”

 

“Aku baik-baik saja.”

 

“Aku sangat khawatir padamu.” bisiknya. Lalu dia berjalan mendekatiku. Lebih rapat. Kemudian menggenggam tanganku.

 

“Aku sangat merindukanmu.” bisiknya lagi.  

 

“Woohyun, …” sebtku malu-malu.

 

“Aku merasa bersalah ketika meninggalkanmu sendirian.” ujarnya denhan raut cemas.

 

“Aku tidak apa-apa.” 

 

“Aku sempat berpikir kau akan bersama dengan Joon ke Australia.”

 

Aku menunduk, sejujurnya aku sungguh tidak menyukai pemikiran itu. Tapi aku menelannya. Aku tidak ingin memperpanjang atau mengungkit masalah mengenai Joon. 

 

“Aku sedih ketika kau memutuskan untuk pergi.”

 

“Maafkan aku!”   Woohyun mengambil tubuhku dan membawanya dalam pelukannya.

 

“Aku merasa kau sangat membenciku saat itu, karena aku bersama Joon.”

 

“Maafkan aku?” 

 

“Itu sebabnya aku tidak ingin berlama-lama di sana. Aku merasa ingin kembali dan menenangkan diriku. Di sini.”

 

“Aku senang kau di sini. Aku sangat lega.”

 

“Apakah bisnismu berjalan lancar di sana?”  

 

“Jiyi!”  tiba-tiba eommaku muncul dan mendengus kesal ke arahku.

 

“Nde, eomma!” 

 

“Kenapa kau tidak menyuruhnya masuk?”

 

Aku menatap Woohyun, kemudian laki-laki itu menggadengku berjalan masuk.

 

“Eommoni, aku rasa kami siap untuk menikah.” ujar Woohyun lantang. Membuat senyuman di wajah eommaku semakin lebar. Matanya berbicara banyak mengenai kebahagiaan.

 

 

 

////

 

 

“Jiyi, kenapa aku begitu ingin cepat menikah saat ini?”

 

Aku menggeleng ketika Woohyun masuk ke dalam kamar. Kamar pengantin yang sederhana. 

 

Dia semakin mendekat dan duduk di sisiku. Menyentuh wajahku dan mengecup bibirku.

 

“Karena aku selalu membayangkan dirimu saat berada di pangkuanku. Aku benar-benar ingin menyentuhmu lagi seperti itu. Kau sungguh cantik, dan…”

 

Woohyun melepaskan gaun tidurku, dan mulai menelusuri tubuhku.” aku ingin melakukannya lebih dari itu.” bisiknya lagi.

 

Aku sungguh tidak bisa mengatakan aa-apa selain tersenyum dan menikmati malam pertama ini untuknya. 

 

-FIN-

 

 

a/n

Tell Him beres! Makasih untuk yang setia mbaca ff ini. Makasih semuanya yang udah berkomentar. Pis!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 thoughts on “Tell Him 9th/end

  1. Hahhahaha ealah udah mau emosi duluan. Gegara joon tetep bersikeras mau ama jiyi..trus jiyi juga ada bimbang

    Akhirnya happy end..
    Woohyun selamattt.
    Makasih bebz udah ditamatin :*

  2. Akhirnya tell him di post juga,, sneng deh jiyi milih woohyun,, Aq pikir wktu woohyun pergi, jiyeon bkalan milih joon,, ternyata enggak,, pkoknya akhirnya jiyeon plih woohyun,, bkinin sequelnya donk lan,, bikinin haneymoonnya jiyeon sma woohyun,, kan jarang mereka beromantis ria.. Wkwkw

  3. Jungie udh gila y? Dy mnt cerai tp dy slhkan jiyi? Bzzz..
    Hmm untung woohyun balik cr jiyiii.. meiiiii akhrx mrk brsatu n mnikah.. trs mrk lovey dovey ehem ehem.. wkwkwk #plak.. cc snanh bngt bcax.. hrpn cc trkbulkan.. joon msh aja ngarep sm jiyi y.. bnr2 deh pdhl udh married.. ckck..
    Mei yg haeji lovers jd kan? Di wp km?

  4. Jiyi mau jd ceww ganjen yah km,,, mau ono iya ini iya, embat semua. Pantes lah klo eunjung ngelabrak km wong km sbg cwe kok gak jaga jarak dr awal uda tau km uda tunagan ma woohyun, pria yg baik mapan dan tgg jwb tulus cinta km dan trm keadaan kluarga km apa adanya. Kurang apalgi sih woohyun smpe km numpang nampang hilir mudik buat curi pratian joon. Apa namanya klo bukan cwe ganjen ?? gue bête setenah mati ama jiyi,,, tau asa tuh km d labrak ma istri joon d tggl woohyun d batalin pula akhrnya rencana pernikahan km. itu semua gara2 sifat egois km sndr yg tnp sadar uda ngeusak semuanya. Hadehhh jiyi jiyi ,, insapp insapp nak. Untung ending ma woohyun dan jiyi dg tegas nolak joon. Klo jiyi smpe mlih joon gue dampratt jiyi ny sini uda ngerusak rmh tgga orang

  5. Waaah, ada nggak sih cwok kayak woohyun oppa, bener2 dingin tapi sebenarnya perhatian, romantis pula. Suka deh dengan karakternya disini. Bener2 akhirnya nggak bisa ku tebak trnyata happy ending bareng woohyun oppa, senengnyaaaa.

  6. sempat emosi aja,woon nyerah,joon seperti gak tahu diri..jiyeon yg hampir kalap..bimbang…
    tapi senang tentang pemikiran jiyeon ama woohyun..
    setidaknya pengorbanan woon gak sebanding dg joon yg hanya beberapa hari bertemu walaupun jiyeon cinta..kalau q mah buang jauh2 tu rasa cinta buat lelaki kayak tu si joon..
    kyaaa senang woon balik lagi. dan akhirnya nikah..

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s