(Chapter 1) The Unwanted Love

wpid-the-unwanted-love.gif

wpid-the-unwanted-love.gif

 Jungleelovely @ Poster Channel

Title : The Unwanted Love (Chapter 1)

Story by Chunniest

Genre : Romance, comedy

Lenght : Chapter

Cast :

* Aaron Yan or Yan Yalun

* Jung Yuri (OC)

* Lay or Zhang Yixing (EXO)

* Victoria Song or Song Qian

Ini adalah drama terbaru author semoga suka ya….. Jangan lupa komen n likenya

Happy reading^_^

 DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

 

From the day I met you, I lose

myself in you completely

(Aaron Yan & G.NA – 1/2)

 

Di sebuah kursi besar seorang lelaki dengan wajah oriental tengah duduk dengan nyamannya. Karisma kepemimpinan berkoar dari penampilannya yang begitu fashionable. Kemeja putih dipadukan dengan tuxedo ungu lengkap dengan dasi kupu-kupu membuat lelaki bernama lengkap Aaron Yan itu mampu memikat gadis-gadis.

Manik mata Aaron tertuju pada lelaki jangkung yang berdiri di hadapannya. Lelaki – yang tak lain adalah sekertarisnya – berjalan satu langkah kemudian menyerahkan sebuah map berwarna merah kepada sang Presiden Direktur Yan lalu kembali ke tempatnya semula. Tangan Aaron tidak sabar membuka map itu. Sebuah foto berukuran sedang terpajang ditengah map itu. Foto seorang gadis dengan rambut kucir kuda yang diambil dari kejauhan.

“Jadi kau sudah menemukannya?” Suara rendah namun penuh penekanan itu memperlihatkan wibawa lelaki yang menjabat sebagai Presiden Direktur YL Entertainment.

“Benar sajangnim. Karena mereka mengganti nama marga membuat saya kesulitan mencari mereka.”

“Akhirnya aku menemukannya. Jadi dimana aku bisa menemuinya?”

“Dari informasi yang saya dapatkan, sajangnim bisa menemuinya di taman Pyeonghwa saat siang hari. Dia akan bernyanyi untuk anak-anak di sana.”

Xie xie (Terimakasih) Zhoumi-ah. Aku akan segera kesana.”

Aaron berdiri dan meninggalkan kursinya. Kakinya seakan dipaku ditempat ketika mendengar panggilan sekertarisnya. “Sebaiknya anda merubah penampilan anda sajangnim. Karena dia pasti akan menolak jika tahu anda adalah Presiden direktur YL Entertainment.”

Aaron menunduk melihat pakaian formalnya. “Kau benar. Aku akan mengganti pakaianku.” Lelaki itupun menghilang ditelan pintu.

Bel berdenting seiring pintu terbuka. Saapaan ramah keluar dari gadis yang membungkuk memberi salam. Seorang lelaki mengenakan jaket hitam, topi hitam dan lengkap dengan kacamata hitam berjalan mantap menuju gadis bernama Jung Yuri.

“Selamat siang tuan ada yang bisa saya bantu?” Tanya Yuri saat lelaki itu menghentikkan langkahnya tepat di hadapannya.

“Aku ingin membeli mawar putih.” Ucap lelaki itu dari balik maskernya.

“Anda ingin berapa ikat? Satu buket? Satu tangkai? Dua tangkai?”

“Satu buket.”

“Baiklah, saya akan menyiapkannya untuk anda. Mohon tunggu sebentar.” Yuri menarik dirinya untuk menyiapkan pesanan lelaki itu.

Yuri mengambil banyak tangkai bunga mawar putih yang sudah dibersihkan durinya. Bunga-bunga itu ditali menjadi satu dan diselimuti plastik pink bercorak hati. Terakhir Yuri mengikatnya dengan kertas pita agar penampilan menjadi lebih cantik. Bibir Yuri tersenyum puas melihat hasil kerjanya.

“Bunganya sudah siap tuan. Apa anda ingin menulis kartu ucapan?” Tanya Yuri mengalihkan perhatian lelaki itu dari bunga-bunga.

“Iya aku ingin menulis kartu ucapan.”

Yuri menyerahkan sebuah kartu cantik bergambar bunga-bunga dan menyerahkannya pada lelaki itu beserta penanya. Lelaki itu melepaskan maskernya dan meraih pena itu. Mata Yuri mengamati wajah tampan lelaki itu. Bentuk wajah oval dan orientalnya, dengan mata tidak terlalu besar namun tajam, bibir bawahnya yang lebih tebal dan juga rambut blonde yang menyembul dari balik kerudung jaketnya membuat Yuri terpesona melihatnya.

Lelaki itu mengulurkan tangan memperlihatkan telapak tangannya yang putih kemerahan. Yuri bingung melihat tangan besar itu lalu mendongak memandang sang pemilik tangan.

Nde?” Yuri tampak tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu.

“Apa kau igin meminta tanda tanganku? Aku akan memberikannya secara gratis.” Yuri terdiam menatap lelaki itu bingung. “Apa kau tidak tahu siapa aku?” gadis itu menggelengkan kepala menjawab pertanyaan lelaki.

“YA! Apa kau hidup di jaman batu? Bagaimana bisa kau tak mengenaliku?”

Sebuah gebrakan meja keras berasal dari tangan Yuri. Dia menatap lelaki itu kesal karena sudah menghinanya.

“YA!! Apa kau seorang presiden yang harus aku kenal eoh? Aku rasa dunia tidak akan runtuh jika ada satu orang tak mengenalmu.”

“Cihh… Kau….”

Wae?”

“Ciihhh…. Karena aku seorang publik figure aku tidak akan memukulmu. Tapi aku tidak mau membayar bunga ini karena pelayananmu yang tidak memuaskan.” Ucap lelaki itu berlalu pergi menbawa buket bunga mawar putih bersamanya.

MWO? YA!!! Kau harus membayarnya. YA!! Kembali kau.”

Yuri mengejar lelaki itu keluar namun sayang lelaki itu sudah melesat menggunakan mobilnya. Yuri menendang kerikil kesal. “Aaiiisshh…. Awas saja namja itu. Jika aku bertemu dengannya lagi aku pasti akan mencincangnya.”

Yuri menghentak-hentakkan kakinya kembali masuk ke dalam toko. Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu yang menghubungkan rumah mereka dengan tongkat yang membantunya untuk menunjuk arah jalannya.

“Yuri-ah… Apa terjadi sesuatu yang buruk? Eomma mendengar ada keributan tadi.” Tanya wanita bernama Jung Yuhee meraba mencari putrinya.

“Tidak ada apa-apa eomma hanya saja tadi ada ulat tapi aku sudah menyingkirkanya.”

Yuhee hanya mengangguk mempercayai ucapan putrinya. Mata Yuri melirik ke arah jam tua yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan jam 1 siang.

Eomma aku harus pergi. Anak-anak pasti sudah menungguku.” Ucap Yuri meraih tasnya.

Ne. Hati-hati Yuri-ah.”

Ne eomma.” Yuri segera melesat keluar dari toko bunga itu.

Seorang gadis cantik dan rambut lurus panjang terurai tengah duduk di sofa putih di rumahnya. Gaun peach bunga-bunga terlihat manis ditubuhnya yang tinggi. Sebuah ponsel melekat di telinganya. Wajahnya menunjukkan kekecewaan saat tak kunjung mendengar jawaban dari seseorang yang di telponnya. Sudah 10 kali gadis itu menghubungi orang itu namun hasilnya sama saja.

Helaan nafas berat berhembus keluar dari mulutnya. Dia memandang ponsel di pangkuannya kesal. Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu yang nyaring. Dengan malas gadis itu berdiri dan melangkahkan kaki menuju pintu. Saat pintu terbuka gadis itu melihat seseorang dengan buket mawar putih menutupi wajahnya. Buket bunga itu bergeser menampakan seorang lelaki yang tersenyum hingga memperlihatkan lesung di kedua pipinya.

“Yixing-ah. Ada apa kau kemari?” Tanya gadis bernama lengkap Victoria Song.

“Aigo… Jie jie (kakak perempuan) apa kau tidak merindukanku? Aku baru saja kembali dari Los Angeles dan kau menyambutku seakan aku bukan orang penting.”

Victoria tersenyum melihat tingkah lelaki dihadapannya. “Maafkan aku. Aku hanya terkejut melihatmu di sini. Apa bunga itu untukku?” Yixing menyerahkan bunga itu pada Victoria. “Cantik sekali. Kau selalu tahu aku menyukai mawar putih.”

“Aku tahu segalanya tentangmu jie jie.”

“Jika saja Aaron ge ge (kakak laki-laki) sepertimu.” Tampak kesedihan diwajah cantik Victoria.

“Apa dia mengabaikanmu lagi?” Victoria mengangguk lemah.

Yixing bisa melihat kesedihan di mata Victoria. Hal ini sudah biasa lelaki itu lihat dari gadis itu dan akhirnya dirinyalah yang akan menghibur gadis itu.

“Sudahlah jie jie. Karena sekarang ada aku di sini jadi pikirkan saja aku. Aku punya hadiah untukmu.”

Yixing melangkah memasuki rumah Victoria seakan tempat itu adalah rumahnya sendiri. Sang pemilik rumah mengikuti lelaki itu duduk di sofa yang tadi ditempatinya. Tangan Yixing mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna coklat dan menyerahkan pada gadis dihadapannya.

“Apa ini?” Tanya Victoria.

“Buka saja.”

Victoria membuka kantong itu dan mengeluarkan sebuah gelang rantai dengan pita pink yang sangat cantik.

“Ini cantik sekali. Terimakasih Yixing-ah.”

“Sama-sama jie jie. Apa jie jie tidak ada pemotretan hari ini?”

“Ada. Sebentar lagi Jason akan menjemputku.”

Sebelum Yixing kembali mengobrol, ponselnyapun berdering. Lelaki itu langsung menggerutu kesal saat mendapati siapa sang penelpon.

“YA!! Yixing-ah di mana kau? Kami semua sudah berkumpul di studio untuk berlatih buat konser besok. Cepat kemari atau kalau tidak aku akan menyeretmu dari rumah Victoria noona.”

Telpon itu terputus setelah Yixing mendengar omelan dari Suho. Terdengar tawa geli membuat Yixing mendongak dan menangkap basah sanga pelaku itu.

“Jadi kau kabur lagi ne? Aiisshh… Dasar kamu selalu nakal Yixing-ah. Cepat kembali sebelum Suho marah besar padamu.”

Yixing menghela nafas berat dan tak ingin meninggalkan gadis yang baru beberapa menit ditemuinya itu.

“Baiklah. Sampai jumpa lagi jie jie.

Victoria berdiri dan mengantarkan Yixing hingga ke depan pintu. Gadis itu melambaikan tangannya mengantar kepergian lelaki itu. Pintu ditutup kembali dan sebuah senyuman  menghiasi wajah cantiknya.

“Kau selalu berhasil membuatku merasa lebih baik Yixing-ah.” Gumam victoria.

Pohon-pohon rindang meliuk kesana kemari mengikuti angin yang berhembus menerpanya. Daun-daun yang kering tak mampu bertahan dari batangnya sehingga berjatuhan turun. Udara yang sangat nyaman untuk dinikmati di sebuah taman. Terdengar petikan gitar mengiringi angin-angin yang tengah menari.

I hope this tears will stop running someday

Someday after this darkness disappear

I hope the warm sunshine dries these tears

When I feel that I’m getting tired of myself,

I want to give up on all of my dreams I have kept so hard

Every time I feel like I’m still lacking in many things

I lost the strength in my legs and fell down

Everyday I hold on, comforting myself  “it’ll be alright”

But it still make me a little scared

I told myself to believe in me, but I don’t

Now I don’t know how longer I can hold on

But it will pass

Although the night is long, the sun will comeup

Someday my painful heart will be healed

Someday… Someday…

IU – Someday

 

Tepukan tangan kecil terdengar tepat saat Yuri selesai memainkan gitar dan bernyanyi. Melihat senyuman di wajah anak-anak di hadapannya terlihat jelas menyukai nyanyian Yuri.

Eonnie suaramu sangat bagus.” Puji gadis kecil yang duduk di belakang teman-temannya.

Gomawo Nana-ya.”

Eonnie… Suara eonnie merdu sekali, mengapa eonnie tidak menjadi penyanyi saja?” Tanya Jieun yang duduk di samping Nana.

Eonnie merasa kemampuan eonnie tidak cukup untuk menjadi seorang penyanyi.”

“Aiiggo… Kalian sudah menjadi fans Yuri seonsaengnim ne?” Tanya Yoona, guru mereka.

Ne. Seonsangnim.

“Karena Yuri seonsaengnim sudah menyanyikan 3 buah lagi maka tandanya kelas menyanyi sudah berakhir.” Seruan kecewa menjadi protes dari anak-anak.

“Tapi kalian harus pulang anak-anak, jika tidak eomma kalian pasti akan protes pada seonsaengnim. Sekarang kalian berbaris dan masuk ke dalam mini bus satu persatu, arraseo?”

Ne seonsaengnim.” Serempak anak-anak itu berdiri dan mengambil tasnya. Dengan rapi mereka berbaris memasuki mini bus. Gadis bertubuh ramping itu menghampiri Yuri yang sedang memasukkan gitarnya ke tempatnya.

Gomawo sudah membantuku Yuri-ah. Jika tidak ada kau, anak-anak itu pasti akan merasa bosan.” Ucap Yoona.

“Sama-sama eonnie. Aku senang menyanyikan lagu untuk mereka.”

“Nana benar, suaramu sangat bagus Yuri-ah. Apa kau tidak berpikir ingin menjadi penyanyi saja?”

“Tidak eonnie. Aku rasa kemampuanku tidak sehebat itu.” Yoona bisa melihat kesedihan di mata Yuri.

“Baiklah. Aku harus segera membereskan kekacauan ini.” Ucap Yoona mengalihkan pembicaraan dan segera melipat matras yang digunakan untuk tempat duduk anak-anak.

“Yuri-ah.” Yuri yang sedang membantu Yoona langsung menoleh mendengar panggilan yang aneh itu.

Dia melihat Seulgi menatapnya penuh harap. “Mendengar nada manja itu, kau pasti menginginkan sesuatu. Katakan Seulgi-ah.” Yoona yang mendengar ucapan Yuri terkekeh geli.

“Yuri-ah, temani aku menonton konser XOXO besok malam, jebal. Eomma tidak akan mengijinkanku pergi sendirian. Tapi jika eomma tahu aku pergi denganmu secara ajaib eomma pasti akan mengijinkan aku pergi. ”

“Mendengar ucapanmu mengapa terdengar aku seperti penyihir yang memberi mantra pada eommamu eoh?”

Seulgi bergelayut manja di lengan Yuri. “Aku mohon Yuri-ah, eomma sangat percaya padamu. Jebal Yuri-ah, hanya kau satu-satunya harapanku.”

Tiba-tiba sebuah tangan menarik telinga Seulgi. “Sudah saatnya kita pulang anak nakal.”

“Aahh.. Eonnie appo. Yuri-ah jebal…” Teriak Seulgi ditarik Yoona.

Yuri tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu. Gadis itu meraih ponselnya dan mengetik pesan pada Seulgi jika dia akan membantu gadis yang l tahun lebih muda darinya. Terdengar teriakan heboh dari dalam van itu membuat Yuri tersenyum.

“Kemampuanmu lebih dari cukup.”

Yuri menoleh dan mendapati seorang lelaki mengenakan sweater berwarna warni dengan kacamata besar bertengger di hidungnya. Senyuman lebar terukir di wajahnya. Wajahnya yang oriental membuat Yuri yakin dia bukan orang korea. Tapi baru saja Yuri mendengar lelaki itu berbicara bahasa hangul.

“Anda berbicara denganku?”

“Tentu saja. Aku tertarik mendengar nyanyianmu. Suaramu sangat merdu, bahkan kau bisa dengan tepat mengatur suaramu dengan baik layaknya pemyanyi papan atas. Apa kau tidak berniat menjadi penyanyi?”

Aniyo. Aku tidak berniat menjadi penyanyi.”

“Sayang sekali. Padahal aku sangat iri denganmu.”

Nde?”

“Aku iri kau bisa bermain gitar. Aku bahkan tak bisa memainkan benda itu.”

“Benarkah? Sangat mudah memainkannya.”

Lelaki itu sedikit membungkuk membuat wajah mereka berdekatan. Yuri hendak melangkah mundur namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan menahan tangannya.

“Apa kau mau mengajarkannya padaku?”

Wajah Yuri tampak memikirkan pertanyaan lelaki itu.

“Baiklah. Apakah kau tidak bisa bermain alat musik apapun …..”

“Xiao Lu itu namaku.” Aaron mengulurkan tangannya yang di balas Yuri.

“Aku Jung Yuri.”

“Jadi Xiao Lu apa kau tak bisa memainkan alat musik apapun?”

“Aku hanya bisa piano sedikit.”

“Piano? Sejak dulu aku ingin sekali belajar piano.”

“Bagaimana jika kita bergantian. Kau mengajarkanku gitar dan aku akan mengajarimu piano, otteokke?”

“Ide yang bagus.”

“Kalau begitu kau setuju?” Aaron mengulurkan tangan untuk mencapai puncak keputusan.

Ne.” Yuri membalas uluran tangan lelaki di hadapannya.

“Ternyata orang oriental tidak semuanya menyebalkan.” Gumam Yuri mengingat lelaki menyebalkan yang ada di toko bunga tadi.

Nde?”

Yuri menggeleng. “Aniya.”

“Kalau begitu sampai jumpa Yuri-ssi.”

Lelaki itu melambaikan tangan seraya tersenyum lebar membuat Yuri menggelengkan kepala melihat tingkah lelaki itu.

“Aaiisshh… Mentang-mentang dia saudara Yan sajangnim, dia bisa seenaknya sendiri datang latihan.” Gerutu Sehun.

“Sehun benar. Hyung. Lebih baik kita tinggal dia dan mulai berlatih.” Timpal Baekhyun.

Sang leader – Kim Suho – menghela nafas karena sudah satu jam telinganya panas mendengar protes dari member XOXO lainnya.

“Kalian tentu saja tahu kita tidak bisa memulai tanpa dia, karena dia adalah leader dancernya.”

Terlihat ekspresi kesal di wajah lelaki bernama Kim Jongin. Bahkan giginya bergemeletuk karena berbenturan keras. Terdengar suara langkah kaki berjalan menarik perhatian 8 lelaki itu. Tampak lelaki yang menjadi topik pembicaraan mereka tengah berjalan santai memasuki ruang berlatih itu.

Kim Jongin berjalan menghampiri lelaki itu dengan masih melayangkan tatapan tajam padanya. Kakinya berhenti tepat di hadapan Yixing yang terlihat tak memperdulikan keberadaan Jongin dihadapannya.

“Zhang Yixing. Apa kaupikir kemampuanmu lebih hebat dari kami semua, jadi kau bisa seenaknya membuat kami menunggumu seolah kau adalah orang penting HUH? Aku rasa kau salah sangka Yixing-ssi. Kemampuanmu menari dan bernyanyi jauh dari kata ‘luar biasa’. Kau beruntung bisa menempati posisi yang kau inginkan karena kau adalah saudara Yan Sajangnim. Jadi jangan pernah besar kepala jika kami membutuhkanmu.”

Wajah Yixing yang awalnya santai sekarang berubah garang mendengar ucapan rekan satu groupnya.

“Memang kenapa jika aku mendapatkan keberuntungan iti? Kau hanya iri pada Jongin-ssi. Karena aku mendapatkan posisi yang sudah lama kau inginkan. Tapi bagaimana ya, anak tukang kayu sepertimu mana bisa memiliki koneksi sepertiku.”

“Kau…”

Segera Chanyeol dan …. (chen) Menahan Jongin yang hendak memberi gempalan tinju pada Yixing. Suho segera menghampiri mereka. Lelaki itu menatap Jongin dan meminta lelaki itu meredakan amarahnya. Tatapannya beralih pada Yixing yang terlihat cuek menanggapinya.

“Aku tahu sejak awal kau tidak suka bergabung dengan group ini tapi kenyataannya kita sudah menjadi satu group selama 3 tahun ini. Kita sudah memiliki banyak sekali fans. Apa kau akan membuat para fans kecewa dengan ketidak akuran kita? Meskipun kau tidak suka, paling tidak bekerjasamalah untuk menunjukkan tidak terjadi perselisihan diantara kita. Anggap saja kau melakukannya demi kita – ani demi fans kita. Bikankah itu hal mudah?”

Yixing terdiam seraya mnik matanya melihat kearah member lainnya. “Baiklah. Ayo segera latihan.” Yixing berjalan santai melewati member lain. Dia melepaskan jaketnya dan menyampirkan di kursi.

“Ayo kita latihan.” Perintah Suho dan dijawab ‘ya’ oleh member lainnya.

Lagu andalan dari album terbaru mereka berjudul ‘Love Me Right’. Kesepuluh lelaki itu terlihat energik dan kompak. Mereka mengambil posisi yang sudah seharusnya tanpa ada sedikitpun kesalahan. Sehingga tak seorangpun tahu mereka baru saja berselisih.

Aaron sudah mengganti pakaian Xiao Lu – nya dengan suits yang tadi dikenakannya. Disampingnya Zhoumi sudah duduk diam.

“Apa Yixing sudah kembali?” Tanya Aaron.

“Sudah sajangnim. Dia bersama member lain sudah kembali sore tadi.”

“Telpon dia. Suruh dia menemuiku.”

Ne sajangnim.”

Zhoumi segera melaksanakan perintah Aaron. Setelah lama menunggu nada tunggu, Zhoumipun mematikkan telpon itu.

“Dia tidak mengangkatnya. Tapi aku akan menelpon manager XOXO.”

Aaron mengangguk menyetujui ucapan Zhoumi. Berbeda dengan menelpon Yixing, hanya beberapa detik sang manager – Lee Sungmin – mengangkat telponnya.

“Manajer Lee, dimana Yixing sekarang?” Tanya Zhoumi.

“Dia sedang berlatih bersama member lainnya sekertaris Li.”

Zhoumi mengatakan apa yang didengarnya kepada Aaron. “Katakan pada Yixing untuk menemui Yan sajangnim segera.”

Zhoumipun sudah melaksanakan perintah Aaron. Mata lelaki itu menatap keluar jendela. Tangannya terkepal keras jika mengingat nama Yixing. Ingin sekali Aaron memukul Yixing saat ini juga. Beruntung lelaki itu tak bisa menemuinya sekarang.

Tiba-tiba ingatannya tentang Yuri yang sedang memainkan gitar, melemaskan otot-otot panas akibat amarahnya. Suara Yuri masih terngiang membuat perasaannya menjadi lebih baik. Bahkan bibirnya saat ini juga menyunggingkan senyuman.

Mobil sedan hitam itu berhenti didepan gedung YL entertainment. Aaron keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam gedung itu. Semua karyawan membungkuk memberi hormat saat melihat Aaron. Setelah menaiki lift 10 lantai, Aaron segera berjalan ke ruangannya diikuti Zhoumi yang setia di belakangnya.

“Aaron gege.” Panggilan itu menghentikan langkah Aaron. Seorang gadis yang mengenakan dress berwarna peach erjalan cepat ke arahnya.

“Song Qian-ah. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Dari tadi aku menelpon gege tak diangkat, jadi aku menutuskan datang kemari.”

“Kau tak perlu datang kemari. Aku sangat sibuk jadi pulanglah.”

Aaron hendak berjalan meninggalkan Victoria, tapi gadis itu segera berpindah ke hadapan Aaron untuk menghalangi kepergian lelaki itu.

“Minggir Song Qian-ah, aku sangat sibuk.”

“Tidak bisakah gege hanya sekedar menjawab telponku sekali. Sesibuk apapun, seharusnya gege tetap bisa menghubungi tunangannya sendiri bukan.”

Aaron menghela nafas melihat kesedihan di wajah cantik Victoria. Lelaki itu jadi merasa sikapnya sudah terlalu jahat bagi gadis yang akan menjadi istrinya itu. Song Qian memang bukan orang asing yang tiba-tiba dijodohkan dengannya. Dia juga teman kecilnya bersama Yixing. Karena itu sebenarnya dia menyayangi gadis itu. Hanya saja pekerjaannya yang semakin menumpuk membuatnya lupa akan kehadiran gadis itu.

Kaki Aaron melangkah sekali dan tangannya terulur menyentuh pipi gadis itu. Ibu jarinya dengan lembut menggesek pipi Victoria.

“Maafkan aku. Aku terlalu sibuk hingga mengabaikanmu. Bagaimana jika besok kita makan malam bersama?”

Sebuah senyuman seketika muncul dari wajah Victoria. Dan kepalanya mengangguk menyetujui tawaran Aaron.

“Kalau begitu besok jam 7 aku akan menjemputmu.”

“Ok.”

“Apa kau tidak ada jadwal pemotretan?”

“Ada.” Victoria menundukkan kepalanya menjawab pertanyan tunangannya.

“Apa kau kabur lagi?”

Victoria tak menjawab maupun mendongakkan kepalanya.

“Kau belum menjawabku Song Qian-ah.”

“Karena gege tidak menjawab telponku, jadi aku ingin bertemu dengan gege.”

Aaron tersenyum dan mengelus puncak kepala gadis itu.

“Maafkan aku membuatmu cemas. Kau pergilah, Zhoumi akan mengantarmu.”

Victoria mengangguk dan melambaikan tangan sebelum akhirnya pergi bersama Zhoumi.

Bola mata Yixing menatap keluar jendela dengan malasnya. Disamping lelaki itu, Sungmin sang manager tengah menyetir mobil SUV hitam itu. Mata Sungmin melirik kearah Yixing yang hampir tertidur. Sang manager itu memakluminya karena setelah pulang dari Los Angeles, Yixing langsung berlatih bersama member lainnya. Dan pagi hari dia harus dibangunkan oleh Sungmin, sedangkan member lain masih beristirahat di dorm.

“Kau tidak bertanya mengapa aku membangunkanmu pagi-pagi?” Tanya Sungmin memecahkan keheningan.

“Aku yakin hal itu sangat penting jadi aku tak perlu bertanya karena aku nanti pasti akan mengetahuinya.”

Ponsel Yixing berbunyi membuat lelaki itu tidak jadi tidur. Dia membuka ponsel yang berukuran sedang itu. Ada sebuah pemberitahuan disebuah blog yang diikutinya. Lelaki itu membukanya dan seketika sebuah foto Victoria mengenakan dress putih layaknya seorang malaikat terpajang di layar ponselnya. Bibirnya mrmelengkung mengagumi model yang saat ini tengah naik daun itu. Dia menaikkan foto itu dan melihat artikel yang membicarakan Victoria menjadi model untuk majalah B-Style.

Yeoja itu lagi?”

Yixing mendongak mendengar pertanyaan managernya. “Jangan terkejut seperti itu. Tidak ada yang tidak aku tahu darimu dan member lainnya.”

Yixing tak menjawab, dia kembali sibuk membaca artikel tentang Victoria.

“Apa tidak ada yeoja lain yang memikat hatimu Yixing-ah? Semua orang tahu jika Victoria adalah tunangan Yan sajangnim bukan?”

Yixing tak kunjung menjawab dan tak mau menjawab. Karena memang tidak ada gadis lain yang memikat hatinya. Sejak kecil Yixing selalu melihat ke arah Victoria. Sayang sekali Victoria tak pernah melihat ke arahnya, gadis itu hany melihat ke arah Aaron. Yixing tak pernah berhenti menyukai Victoria, meskipunhanya menjadi teman keluh kesah gadis itu saja.

Sungmin tak kembali bertanya hingga dia menghentikan mobilnya tepat didepan YL Entertainment. Kedua lelaki itu keluar dan memasuki gedung itu. Tak berapa lama kemudian mereka sudah berdiri dihadapan Aaron yang duduk di kursi besarnya. Dia membanting koran yang baru saja dibacanya. Didalam koran itu menampilkan gambar Yixing yang hendak memukul orang asing di depannya. Diatas foto itu tertulis dengan huruf besar ‘Lay member XOXO berkelahi di bar Los Angeles’.

“Jelaskan padaku apa ini? Mengapa kau memukul orang asing ini?”

“Dia yang menghalangi jalanku.”

“Karena itu kau memukulnya?”

“Aku sudah memintanya dengan sopan ge tapi dia yang memulai berkelahi.”

“Lantas kau bisa membalasnya HUH? Ingat Yixing-ah, kau sekarang adalah idol jika kelakuanmu seperti ini, maka semua penggemarmu tidak akan memperdulikan kau lagi.”

“Tapi aku tidak bersalah gege, dia yang memulainya.”

BRAKKK…..

“Tidak perduli siapa yg salah. Melihat berita ini jelas sekali kau sudah mencoreng namamu sendiri dan juga nama boyband di mana kau berada. Aku sudah membantumu untuk menemukan keahlianmu Yixing-ah, tapi jika kau berulah lagi, maka aku harus mengeluarkanmu, ni mingbai ma? (Kamu mengerti?)”

Mingbai ge.

Yixing berjalan keluar bersama Sungmin. Tak ada kata yang keluar dari Sungmin, karena manager itu tahu jika dia mengatakan satu patahkan pasti akan membuat lelaki itu semakin kesal. “Aku akan mengantarmu ke stadium. Yang lain pasti sudah berada di sana untuk berlatih.” Ucap Sungmin namun tak ada jawaban apapun dari Yixing.

Manik mata Amber milik Victoria tak lepas dari sosok lelaki yang saat ini sedang mengenakan setelan hitam lengkap dengan dasi kupu-kupunya. Victoria tak pernah berhenti mengagumi tunangannya yang sedang asyik memakan dried seafood soup.

Namun tetap saja ada sedikit kekecewaan yang melintas di mata gadis itu. Butuh waktu 4 jam untuk membuat riasan sempurna lengkap dengan rambut curly yang membuatnya terlihat cantik. Namun tak ada satu kata pujian yang keluar dari mulut tunangannya.

Ge, bagaimana menurutmu penampilanku hari ini?” Tanya Victoria berusaha memancing Aaron.

Lelaki itu mendongak dan menatap Victoria sekilas. “Kau selalu cantik Victoria.”

Pujian itu lantas membuat bibir gadis itu tersenyum senang.

“Apa Yixing menemuimu kemarin?” Tanya Aaron seraya menikmati makanannya.

“Ya, dia datang ke rumahku kemarin.”

“Jangan biarkan dia menemuimu lagi.”

“Memang ada apa ge?”

“Dia sedang berbuat ulah jadi banyak wartawan yang mengincarnya. Dan aku tak mau kau terlibat. Jadi untuk sementara jangan menemuinya.” Victoria mengangguk dan tersenyum senang karena Aaron mengkhawatirkannya.

Kata romantis memang bukanlah sifat Aaron, jadi bagi Victoria kekhawatiran tunangannya itu merupakan hal yang langka. Terkadang Aaron bisa menjadi kakak yang selalu melindunginya da memperhatikannya tapi juga terkadang dia bisa menjadi orang asing yang lebih memilih mendiamkannya. Tak pernah sekalipun Aaron memperlakukannya layaknya seorang kekasih bahkan tunangannya. Meskipun begitu, Victoria tak pernah menyerah untuk membuat Aaron menyukainya.

“Jadi kau akan pergi dengan Seulgi, Yuri-ah?” Tanya ibu Seulgi seakan mengintrogasi putrinya dan Yuri.

Seperti biasa Yuri terlihat tenang dan menampilkan senyuman manisnya. “Ne ahjuma.”

“Baiklah aku akan mengijinkan Seulgi pergi jika bersamamu Yuri-ah. Karena ahjuma percaya kau pasti akan menjaga Seulgi dengan baik.”

“Aaiishh… Eomma. Bukankah aku anak eomma, kenapa eomma tidak percaya padaku?” Kesal Seulgi

“Karena Yuri anak yang baik-baik dan kau sudah menghancurkan kepercayaan eomma, jadi eomma tidak bisa percaya padamu lagi. Kalau kau tidak suka, eomma akan mencabut ijin pergimu.”

Aniyo eomma. Aku suka kok. Ayo Yuri-ah.” Seulgi segera menarik Yuri pergi sebelum ibunya berubah pikiran.

Mereka berdua akhirnya berhasil keluar dari rumah Seulgi yang menurutnya bagaikan penjara. Seulgi mengajak Yuri untuk naik taxi menuju tempat konser. Mengetahui dirinya akan segera menonton konser XOXO, Seulgi berteriak kegirangan membuat Yuri hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Memangnya mengapa kau begitu mengidolakan boyband XOXO, Seulgi-ah? Aku bahkan baru mendengar nama boyband itu.”

Aigoo .. Yuri-ah, kemana saja kau selama ini, bagaimana bisa boyband dengan member-member yang tampan kau tidak tahu?”

“Aku dirumah membantu eomma dan juga menbantu eonniemu. Kalau masih ada waktu terkadang akau bermain gitar dan membuat lagu.”

Seulgi menghela nafas melihat temannya begitu kudet tentang masalah idol. “XOXO itu boyband dengan beranggotakan 9 orang: Suho, Kai, Chanyeol, Baekhyun, D.O, Chen, Xiumin, Lay dan Sehun. Dan yang paling tampan menurutku adalah Lay Oppa. Dia sangat tampan dan penuh karisma. Apalagi saat dia menari, aku yakin kau pasti akan langsung terpesona melihatnya.”

“Benarkah sehebat itu? Aku jadi penasaran lelaki bernama Lay itu.” Pikir Yuri.

Teriakan dan seruan para penggemar sudah terdengar begitu riuh bahkan sebelum konser dimulai. 9 lelaki yang akan menjadi pusat perhatian itu berkumpul mengenakan jas hitam garis-garis putih. Suho menatap member lainnya yang terlihat gugup kecuali Yixing.

“Yixing-ah, bekerjasamalah ne?” Yixing hanya bergumam menjawab pertanyaan Suho.

“Baiklah. Kalian siap?” Tanya Suho pada semua member.

Ne hyung.” jawab mereka bersamaan.

Suho mengulurkan tangan diikuti member lain. “Kita tampilkan yang terbaik. XOXO FIGHTING.” Mereka bersamaan mengangkat tangan bersamaan. Segera mereka keluar menuju panggung yang langsung diberi sorak sorai para penggemar. Segera lagu ‘ Love Me Right’ mengalun dan para member XOXO sudah bersiap di tempatnya masing-masing. Mereka mulai menari membuat para penggemar berteriak histeris menyebut nama mereka.

Dari kursi yang jauh dari panggung, Yuri dan Seulgi mengamati konser itu. Seulgi begitu antusias sama dengan penggemar lain berbeda dengan Yuri.

“Jadi mana lelaki yang namanya Lay?” Tanya Yuri penasaran.

“Tunggu sebentar, dia akan menjadi center bentar lagi. Ahh.. Itu dia. Dia yang namanya Lay.”

Yuri melihat kearah panggung dan melihat Yixing menari serta menyanyikan bagian reffnya. Seketika Yuri langsung bisa mengenali lelaki itu.

“Dia….” Yuri ingat lelaki itu sama dengan lelaki yang sudah mencuri bunganya.

Ne Yuri-ah, dia namanya Lay.”

Yuri ingat Yixing pernah menawarkan tanda tangannya tapi dia tidak tahu jika Yixing adalah seorang idol yang sangat digemari para gadis. Yuri memutuskan beranjak dari tempat duduknya dan bertekad akan membalas lelaki bernama ‘Lay’ itu.

Setelah menampilkan 3 buah lagu secara berturut-turut, merekapun kembali ke belakang panggung untuk mengganti pakaian mereka.

“YA!! Lay-ssi.

Lay yang berjalan di paling belakang menoleh begitupula member lain. Mereka bisa melihat Yuri tengah berdiri seraya melipat kedua tangannya.

“Nona, penggemar dilarang masuk kemari.” Ucap Suho.

Terdengar tawa sinis Yuri. “Penggemar? Aku bahkan sangat membencinya. Apa kau ingat denganku Lay-ssi?”

Dengan santai Yixing menggeleng mereasa tidak mengenal gadis itu. Yuri mendengus tak percaya lalu menghampiri Yixing. Dia mengulurkan tangannya dan menatap Yixing tajam.

“Lebih baik kau membayar bunga-bunga itu sebelum aku memberimu pelajaran Lay-ssi.”

Mendengar kata ‘ bunga’ Yixingpun teringat gadis itu. “Kau…”

~~~TBC~~~

One thought on “(Chapter 1) The Unwanted Love

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s