(Prolog) G.R.8.U

img1448080935746

img1448080935746

Chunniest Present

^

G.R.8.U

(Prolog)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet)

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Langit malam bertaburan bintang-bintang tampak begitu indah. Sinar bulan menjadi penerang di sekitar danau. Air danau yang tenang bagaikan cermin yang melukiskan langit. Gadis dengan nama Park Jiyeon duduk di pinggir danau seraya mengagumi pemandangan yang disuguhkan matanya.

Sebuah tangan meraih tangan Jiyeon dan menggenggamnya membuat sang empunya menoleh. Jiyeon tidak bisa melihat dengan jelas wajah lelaki yang mengenakan hoodie merah lengkap dengan penutup kepalanya. Bahkan saat lelaki itu menoleh hanya sepasang manik mata hitam yang mampu dilihat Jiyeon. Manik mata yang begitu tajam nan lembut di saat bersamaan terlihat begitu mempesona. Bahkan Jiyeon seolah terhipnotis hingga terpaku pada kedua mata itu.

Tiba-tiba air dingin menyirami tubuh Jiyeon. Ketika gadis itu membuka mata dia tak mendapati dirinya berada di pinggir danau lagi melainkan berada di atas ranjang dengan badan yang sudah basah kuyup. Sepasang alat penglihatannya tertuju pada lelaki yang berdiri di samping ranjang dengan tangan kanannya memegang ember. Nafas Jiyeon beradu ketika sadar dengan situasi saat ini.

“PARK JIMIN!!!!” Marah Jiyeon.

Gadis itu berdiri dan melihat piyama dengan motif boneka beruangnya basah kuyup. Dia kembali menatap sang pencari gara-gara.

“Apa yang kau lakukan eoh?” Meskipun suara Jiyeon tidak keras namun menyiratkan kemarahan pada adiknya.

“Menyiram noona. Salah sendiri noona sulit dibangunkan.” Jawab Jimin yang terdengar santai membuat Jiyeon semakin kesal. Apalagi melihat ranjangnya yang basah amarahnya semakin memuncak. Akhirnya gadis itu melayangkan jitakan di kepala adik satu-satunya itu.

“Kau harus menjemur ranjang itu atau kalau tidak jangan harap kau mendapatkan sarapan.” Jiyeon berlalu meninggalkan Jimin yang kesal mendengar ancaman kakaknya. Meskipun menggerutu namun lelaki itu tetap mengerjakan tugasnya.

Di kamar mandi Jiyeon terdiam sejenak mengingat mimpinya. Ini bukanlah pertama kali Jiyeon memimpikan lelaki tak dikenalnya selama seminggu berturut-turut ini. Jiyeon tidak mengerti apa arti mimpi itu, tetapi dia penasaran dengan lelaki yang memiliki manik mata hitam yang sangat mempesona itu. Gadis itu segera melupakan mimpinya sejenak untuk membersihkan dirinya agar tidak terlambat kesekolah.

G.R.8.U

Pagi hari datang dan disambut dengan sinar matahari yang hangat serta kicauan burung yang bernyanyi di atas pohon. Suara air mengalir yang jatuh di atas bambu membuat musik yang indah bagi kediaman tradisional keluarga Jung. Meskipun jaman sudah berkembang namun keluarga Jung tetap teguh untuk tinggal dalam rumah Hanok itu.

Layaknya pagi biasanya, keluarga Jung tengah menikmati sarapan dengan tenang. Sang tuan besar Jung yang mengenakan hanbok gelap duduk di kepala meja. Jung Yunho menatap putra sulungnya, Jung Taekwoon yang menikmati sarapannya.

“Apa kau sudah menemukan Joon, Taekwoon-ah?” Tanya Yunho membuka pembicaraan.

Ne abeoji. Sesuai perintahmu aku sudah melenyapkannya.”

Senyuman puas terukir di wajah Yunho, senyuman yang jarang ditunjukkannya pada orang lain. “Kerja bagus. Kau selalu melakukannya dengan sangat baik Taekwoon-ah.”

Tatapan Yunho beralih ke putra keduanya dan seketika senyuman lenyap berganti tatapan tidak senang pada lelaki yang mengenakan seragam asal-asalan.

“Kau harus belajar dari hyungmu Taehyung-ah. Tidak bisakah sekali saja kau melakukan apapun yang bisa membuat abeoji bangga padamu?”

Yoona, istri Yunho menyentuh tangan suaminya untuk menghentikan perdebatan kecil di pagi hari. Taehyung yang mendengar ucapan meletakkan sendoknya dengan keras dan seketika nafsu makannya tertelan perasaan emosinya. Senyuman sinis keluar dari mulutnya.

“Apapun yang kulakukan memang tidak akan bisa membuat abeoji puas. Karena hanya Taekwoon hyung yang abeoji sayang bukan aku. Aku sudah kenyang, aku akan berangkat sekarang.” Taehyung berdiri dan meninggalkan meja makan.

“Anak kurang ajar, aku akan memberinya hukuman.” Yunho berdiri dan hendak menyusul Taehyung namun Taekwoon menghentikannya.

“Sudahlah abeoji. Jika abeoji memukulnya tidak akan menyelesaikan masalah.” Ucap Taekwoon menenangkan ayahnya.

“Aku akan berbicara dengannya.” Yoona segera menyusul Taehyung keluar.

Panggilan Yoona menghentikan Taehyung yang menapaki tangga terakhir. Lelaki itu berbalik dan melihat ibunya menghampirinya.

“Taehyung-ah, jangan berbicara seperti itu pada abeoji. Abeoji tidak hanya menyayangi hyungmu tapi dia juga menyayangimu.”

“Jika abeoji menyayangiku dia tidak akan menbandingkanku dengan hyung terus menerus.”

“Taehyung-ah….”

“Aku harus berangkat eomma.” Taehyung berbalik dan meninggalkan rumah besar yang dianggapnya seperti neraka.

G.R.8.U

Dengan hati-hati Jiyeon melipat kertas bercorak bunga pink yang sangat cantik. Setelah membentuk persegi panjang yang rapi gadis itu memasukkannya ke dalam amplop dengan corak yang sama. Bibir gadis itu mekengkung melihat surat yang ditangannya.

“Jadi kau sudah siap memberikannya hari ini?” Tanya Sooyoung, teman sebangkunya.

“Aku sudah mempersiapkan diri dari semalam dan aku tak akan menyia-nyiakan keberanianku hari ini.”

Tatapan Jiyeon dan Sooyoung teralih pada dua lelaki – dengan pakaian berantakan dan wajah penuh lebam – baru saja memasuki kelas.

“Ada apa dengan Hoseok dan Jungkook?” Bingung Jiyeon.

“Itu pasti ulah adik kelas kita yang baru.”

“Adik kelas baru? Siapa?”

“V, panggilan untuk Jung Taehyung yang baru saja pindah ke sekolah ini.” Sahut Jaehwan yang tiba-tiba sudah muncul didepan mereka.

“Tumben sekali kau tidak terlambat Oppa?” Heran Sooyoung

“Aku sudah sangat merindukanmu chagi jadi aku datang lebih awal.” Rayuan gombal Jaehwan muncul.

“Aku juga sangat merindukanmu Oppa.” Sepasang kekasih itu saling menggenggam tangan membuat Jiyeon menatap mereka malas.

“Tidak bisakah kalian tidak melakukan hal itu dihadapanku?” Akhirnya sepasang kekasih itu melepaskan kontak fisik mereka mendengar ucapan Jiyeon.

“Bicara soal V tadi, aku heran dia baru saja pindah dan berani memukul sunbeinimnya?” Heran Jiyeon.

“Aku rasa bukan salah anak baru itu. Salah murid lain yang penasaran dengannya. Apa kau tidak tahu arti marga Jung di namanya?” Jiyeon menggeleng mendengar pertanyaan Jaehwan. “Marga Jung yang dimilikinya artinya adalah dia putra Jung Yunho pemilik perusahaan Jung sekaligus ketua mafia yang ditakuti di kota ini sekaligus orang paling kejam.”

Mata Jiyeon terbelalak dan mulutnya hampir terbuka lebar mendengar penjelasan itu. “Bagaimana bisa sekolah menerima anak mafia itu?”

“Kudengar dia sudah 10 kali berpindah sekolah karena selalu berbuat ulah. Meskipun begitu, kepala sekolah tak bisa menolaknya karena menghargai ayahnya.” Jelas Sooyoung.

“Aku rasa menghargai bukanlah kata yang tepat. Kepala sekolah hanya takut pada mafia itu” Sela Jiyeon.

“Kau benar. Yang pasti murid bernama Jung Taehyung itu sangat berbahaya jadi jangan sampai kita berurusan dengannya.” Sahut Jaehwan. Tatapan lelaki itu beralih pada kekasihnya. “Tapi kau tenang saja chagi aku pasti akan melindungimu.”

Mata Sooyoung berbinar menatap Jaehwan. “You’re my hero Oppa.”

Jiyeon kembali menggeleng melihat tingkah konyol mereka. “Lebih baik aku pergi menyerahkan surat ini daripada melihat kalian.” Ujar Jiyeon berlalu pergi.

G.R.8.U

Taehyung memasuki kelasnya setelah memukul dua orang yang menghalangi jalannya tadi. Dia berhasil melampiaskan kekesalannya pada kedua orang itu. Dia duduk dan membanting tasnya di meja. Tak ada satupun murid yang berani menasehatinya.

Kepala lelaki itu tertoleh dan melihat lelaki yang langsung menunduk ketakutan. Lelaki yang duduk di sebelahnya.

“YA!! Han Sanghyuk. Ikut aku.”

Lekaki bernama Sanghyuk itu mendongak dan memastikan dirinya yang Taehyung panggil.

“Tentu saja, siapa lagi yang bernama Han Sanghyuk disini? Ayo.” Taehyung menarik dasi Sanghyuk membuat lelaki itu mau tak mau harus mengikutinya.

Taehyung terus menarik Sanghyuk tanpa memperdulikan tatapan orang-orang yang dilewatinya. Hingga akhirnya mereka sampai di atas atap dan Taehyung melepaskan cangkramannya.

“Aku tidak berbuat salah Taehyung-ssi. To-tolong jangan pukul aku.” Takut Sanghyuk.

“Aku tidak akan memukulmu. Aku hanya butuh kau diam dan mendengarkanku.”

Sanghyuk terlihat tak mengerti namun dia lebih memilih diam karena takut untuk bertanya pada teman sekelasnya itu. Taehyung menatap langit yang cerah dan mencurahkan kekesalannya tentang ayahnya terutama tentang pertengkaran mereka pagi ini.

“Aku tidak ingin disamakan dengan Taekwoon hyung. Aku hanya ingin abeoji melihatku sebagai Taehyung bukan kopian dari Taekwoon hyung.”

Taehyung menarik nafas lalu menghembuskannya. Dia merasa lega setelah mencurahkan isi hatinya. Lelaki itu menoleh ke arah Sanghyuk yang diam seribu bahasa.

“Aku merasa lega. Ingat jangan menceritakan apapun tentang yang kukatakan atau kau tahu akibatnya.” Taehyung meremas-remas tangannya membuat Sanghyuk langsung mengangguk.

“Ta-tapi mengapa kau menceritakan ini padaku?” Penasaran Sanghyuk.

“Karena kau murid paling diam dan paling takut padaku. Jadi aku yakin kau tidak akan berani membocorkannya pada siapapun. Kau boleh pergi.”

Sanghyuk segera pergi meninggalkan Taehyung. Sedangkan lelaki dengan rambut kemerahan itu mendongak menatap langit biru dengan awan putih yang begtu cerah. Ketenangan itu terganggu saat terdengar suara pintu terbuka.

“Untuk apa kau kembali?” Tanya Taehyung tanpa menoleh.

“Untuk membalas pukulanmu pada kedua teman kami.”

Mendengar suara yang berbeda dengan Sanghyuk membuat Taehyung menoleh. Dia melihat tiga lelaki berdiri di depan pintu dan menatap ke arahnya.

“Jika kalian kemari untuk menantangku, lebih jangan sekarang. Aku sedang dalam mood yang buruk.” Taehyung menatap ketiga lelaki itu dengan malas.

“Apa kau meremehkanku anak baru?” Namjoon menendang kaki Taehyung yang bergelantungan.

“Aku tidak meremehkanmu, aku hanya memperingatkanmu. Tapi jika kau tidak mendengarnya, aku akan meladenimu. Jangan menyesal karena aku tidak akan berhenti.” Taehyung berdiri dan dengan santai membersihkan celananya.

“Jangan sok jago. Rasakan ini.”

Namjoon melayangkan tinjunya, namun dengan sigap Taehyung menghindar. Dia menahan tangan Namjoon dan memberikan beberapa tinju di perutnya membuat lelaki itu terhuyung ke belakang. Melihat teman mereka di pukul, Mark dan Jackson langsung menyerang Taehyung. Meskipun terkena beberapa pukulan dari Mark, namun Taehyung berhasil menjatuhkan kedua lelaki itu.

“Apa kalian menginginkanya pukulanku lagi?” Taehyumg menyeringai melihat ketiga musuhnya sudah babak belur akibat ulahnya.

Hyung dia memang berbahaya hyung lebih baik kita pergi saja.” Usul Jackson.

Meskipun kesal dengan kekalahannya, namun Namjoon harus menyetujui usulan Jackson. Mereka berbalik dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.

“YA!! Kalian mau ke mana? Aku belum selesai. Bukankah sudah kubilang aku tidak akan berhenti?” Seru Taehyung dengan nada mengancam.

Namjoon dan kedua temannya segera berlari yang langsung dikejar Taehyung. Suara gaduh mengiring ketiga lelaki yang menuruni tangga dengan cepat. Mereka harus berlari untuk menyelamatkan diri dari Taehyung.

G.R.8.U

Jiyeon berjalan menyusuri lorong sekolah. Berkali-kali gadis itu mengurangi gugupnya dengan mengatur pernafasannya. Dan tak jarang gadis itu merapikan rambut coklatnya yang terurai dan seragam yang di kenakannya. Terdengar suara gaduh dari arah depannya. Jiyeon bisa melihat tiga murid berlari ketakutan kerarahnya. Seketika kerumunan itu menabrak Jiyeon. Tanpa bisa dihindari surat di tangannya terlepas dan tubuhnya harus merasakan padatnya lantai.

“Aaiisshh… Apa yang dilakukan mereka hingga berlarian seperti itu sih. Menyebalkan.” Gerutu Jiyeon seraya berdiri dan membersihkan roknya dari debu. Melihat kedua tangannya kosong membuat gadis itu tersadar. “Suratku.”

Jiyeon mencari surat di lantai sekitarnya. Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat amplop berwarna pink itu. Namun senyumnya seketika menghilang saat melihat sepatu sneaker di dekat surat itu. Dia melihat seseorang mengambil surat itu dan membukanya. Membaca nama di seragam lelaki itu, tubuh Jiyeon mematung di tempatnya. Lelaki dengan seragam yang dipakai asal-asalan dengan rambut berwarna coklat seraya mulutnya sibuk dengan permen karetnya membaca isi surat itu.

“Ke-kembalikan suratku.” Suara Jiyeon terbata-bata mengalihkan perhatian lelaki itu.

“Aku menerimanya.”

Nde? Apa maksudmu?” Jiyeon tampak bingung dengan ucapan Taehyung.

Lekaki itu tersenyum lebar lalu menghampiri Jiyeon. Dia menunduk membuat wajah mereka semakin dekat.

“Aku menerimamu menjadi kekasihku.” Ucap Taehyung penuh percaya diri.

~~~TBC~~~

tumblr_m1sz00hGID1rsyzipo1_500

Annyeong Readersdeul…… Akhirnya setelah menderita WB cukup lama akhirnya author bisa buat lagi drama nih HOREEEE!!!!!!

Kali ini Author tidak lagi menggunakan OC, author ketularan temenku yang menggunakan cast Park Jiyeon. Karena author sedang kesemsem sama Leo VIXX makanya Jiyeon aku pairingin ma  cowok cakep ini. Semoga readersdeul suka ya…

Jangan lupa tinggalkan jejak-jejak kalian ^_^

tumblr_nilqf1TODz1t4u75fo3_500

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s