Sajaegi Chapter 8

sajaegi1

Title: Sajaegi

Author: Kim Jaemi (@iimwae)

Credit: Gitawa @ Diamond of Paradise

Cast: Park Jimin (Bts)

*Han So Mi / Silla Geongju (Author Chingu)

*Baek Seung Hoon (Aktor)

*Im Jaemi or You

*Park Ri Ni (Author Chingu)

Support Cast: Find them when you read it!!

Genre: Teen, Friendship, Romance, Bullying, Memorise and School Life

Length: Chaptered

Disclaimer: Story Request!!No Copas!!No Plagiarism! Happy reading guys ^^ #PeaceUp&V

#Before

“Pergi kau dari sini!” geram Ri ni dengan mendorong Jaemi. Ia menatap tajam kearah Jaemi. “Dimana kau berada saat adikku diculik dan diperkosa oleh laki-laki bejat itu?”

“Mulsuneyo? Saat Re na diculik dia berada di Singapura.” tandas Bokyung yang masih meratapi kepergian sahabat terbaiknya.

“Tanyakan padanya apa dia benar-benar berada di Singapura?” Ri ni memandang penuh dengan kebencian pada Jaemi yang sedari tadi hanya terdiam. 

Sajaegi Chapter 8

—INIKAH SIFAT ASLIMU?—

“Katakan pada kami dimana kau saat Re na diculik?”

“Nan aniya.” jawab Jaemi dengan wajah datar.

“Geumanhqe, jebal geumanhae ragu! Jangan bertengkar di hari kematian sahabat kalian.” ungkap So mi dengan menangis penuh isak.

Semua orang mengantar Re na ke tempat peristirahat terakhirnya. Ri ni berjalan sembari memegang foto saudaranya yang juga berada di pelukan ayahnya. Jaemi merangkul Bokyung yang semakin menangis, ia mengingat hari-hari yang sudah dilaluinya bersama Re na.

#Kelas Tiga Akhir

#Flashback

“Jwesonghabnida.” Re na membungkukan tubuhnya setelah menabrak dua yeoja. Salah satu yeoja itu menatap tajam sembari menyilakan kedua tangan.

“Mianhe Jaemi-a!” Bokyung menundukan kepalanya, sedikitpun ia tak berani mendongakan kepala.

“Detso.” ungkap Jaemi membuat So mi melirik heran kearahnya.

Semenjak kejadian itu Somi, Jaemi, Re na dan Bokyung selalu melakukan sesuatu bersama. Pergi ke kantin, ke kamar mandi, berbuat kenalakan selalu bersama. Padahal mereka tidak satu kelas, Re na sekelas dengan Jaemi dan Somi sekelas dengan Bokyung.

Pagi ini keempat yeoja tengah mengendap-endap di koridor sekolah. Sebelumnya mereka juga membeli empat seragam Sopa.

“Yakin mau meneruskan?” tanya So mi sembari mengintip di dinding yang diikuti oleh ketiga temannya.

“Pakai ini!” Jaemi memberikan masker topi, serta kaca mata pada So mi. “Kau akan menghancurkan penyamaran karena kau putri Silla.”

“Kau juga akan menghancurkan penyamaran karena debutmu yang gagal.” tambah Bokyung dengan memasang topi di kepala Jaemi.

Keempat pelajar itu berjalan dengan santai di koridor yang jelas-jelas bukan sekolah mereka. Terlebih lagi mereka masih duduk di kelas tiga SMP, sedangkan mereka berada di SMA Sopa.

“Aku tidak pernah bertemu kalian.” ucap seorang yeoja yang juga berjalan di koridor. Re na membalikan tubuhnya hendak melangkah, sedangkan Jaemi menarik kerahnya agar kembali ke tempat semula.

“Kira-kira yeoja ini kelas berapa yah!” pikir Jaemi dalam hati.

“Kami berjurusan Komunikasi.” jelas So mi. “Jelas kalau kau tidak pernah melihat kami karena kami bukanlah yeoja-yeoja yang terkenal.” tambahnya.

“Aku juga…”

“Matilah kita So mi.” ungkap Jaemi dengan membisiki teman di sampingnya.

Keempat yeoja itu hanya bisa menelan ludah mereka. Mereka bingung harus berbuat apa dan menjawab apa. Yeoja di depan mereka bertanya pada salah satu dari mereka. Bertanya kenapa So mi memakai masker, topi serta kaca mata dan Jaemi juga sama memakai ketiga barang tersebut. So mi membuat alasan bahwa dia alergi dengan debu dan angkatan kelas satu tengah bersih-bersih gedung. (Mereka tertolong dengan alasan yang dibuat So mi, di ujung sana beberapa murid tengah merapikan loker dan bersih-bersih kelas).

“Pantas aku tidak pernah melihat kalian, huh… ternyata masih kelas satu.”

Keempat yeoja itu menghembuskan nafas dengan lega kemudian melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka tengah berdebat tentang kelas namja yang akan mereka datangi.

“Yaa Re na-ya kau tahu dimana kelasnya?” Re na menggeleng sembari memanyunkan bibirnya.

Sudah hampir sepuluh menit mereka melewati koridor namun tak kunjung juga menemukan namja yang dimaksud. Setelah hampir frustasi, Re na melihat sosok namja tampan yang tengah duduk-duduk di bangku kelas sembari bercanda-canda. Jaemi dan Bokyung menarik Re na agar segera menghampiri namja tersebut. Re na menggelangkan kepalanya pertanda bahwa ia tengah menahan malu.

“Mwoya apa yang kalian lakukan?” tanya teman namja tersebut.

“Eeoh Re na-ya!” namja itu menyapa Re na dengan mengangkat tangannya.

Dengan menghembuskan nafas Re na memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada namja yang dipanggil-panggilnya dengan panggilan Wohyoon eoppa. Sesaat namja itu memandang iba kearah Re na, lau tertawa sejadi-jadinya yang diikuti oleh beberapa teman namjanya.

“Heei kau masih kelas tiga SMP, jangan salah paham! Aku baik padamu bukan berarti aku menyukaimu, haiss lihatlah penampilanmu! Sama sekali bukan typeku.” ungkap Wohyoon membuat So mi geram. So mi membuka masker serta kaca matanya kemudian menampar namja yang tengah meremehkan sahabatnya.

“Yaa neo…” So mi menunjuk namja di depannya dengan tatapan muak. Namja di depannya tak menyangka bisa bertemu dengan putri Silla, Wohyoon tersenyum girang hendak meminta berfoto dengannya. So mi melihat kearah Re na yang menangis di pelukan Bokyung sedangkan Jaemi hanya menyilakan kedua tangannya dengan memasang wajah angkuh. (Tentunya di balik masker dan kaca mata hitam yang dipakainya).

“Jika kau tidak menyukainya seharusnya kau menolaknya dengan halus, sehingga tidak melukai perasaannya.” So mi semakin geram, baginya tidak ada ampun lagi untuk namja di depannya. “Semua orang berhak menyukai siapapun, jika kau tidak ingin disukai oleh seseorang hidup saja di hutan!” tambahnya yang sekali lagi menampar Wohyoon.

Jaemi membuka maskernya dan kaca mata hitam milik Bokyung, ia berjalan kearah So mi dan mengajak ketiga temannya untuk pergi. Saat ini keempat yeoja dengan satu yeoja yang menangis menjadi pusat perhatian di koridor. Ketika hendak menuruni tangga langkah mereka terhenti oleh namja tampan yang menatap iba kearah Re na.

“Re na-ya! Tak seharusnya aku mengatakan ini, tapi aku harus. Aku mencintaimu, lebih dari kau mencintai Wohyoon.” ungkap namja itu.

“Maafkan aku Myung soo eoppa, untuk saat ini aku tidak ingin bermain cinta.” Re na berjalan keluar dengan tatapan kecewa, marah, sedih campur jadi satu. Ia tak ingin mengingat kejadian yang mempermalukan hidupnya.

#Flashback End

Myung soo berdiri dengan sesekali menitihkan air mata. Ia tak percaya bahwa yeojachingunya telah tiada. Ia menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa melindungi yeoja yang dicintainya. Setelah pemakaman Re na, Ri ni kembali menatap tajam kearah Jaemi yang masih memeluk Bokyung. Ia tidak akan terima dengan kematian adiknya, dirinya pasti akan mengusut sampai tuntas penyebab kematian adiknya.

“Katakan pada kami dimana kau saat itu?” Tangis Ri ni melemah, ia memohon agar Jaemi berkata jujur dan memberitahukan keberadaan di saat hal buruk menimpa adiknya.

“Aku tidak bisa mengatakan pada kalian, yang jelas bukan aku yang melakukannya.” jawab Jaemi dengan masih sama, dengan wajah datar.

“Yaa Im jaemi! Sejujurnya aku sulit membedakan karena kau juga selalu mengelak saat kau melakukan kesalahan, tapi entah kenapa saat ini aku percaya padamu.”

“Kau tidak harus mempercayaiku, aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak.” tandas Jaemi dingin.

Bokyung yang masih menangis mengajak Jaemi untuk pergi, ia beranggapan bahwa sahabatnya tidak akan senang melihat pertengkaran mereka. Di pelukan Jaemi, ia masih menangis, ia sama sekali tak bisa menghentikan air mata yang sedari tadi membanjiri kedua pipinya.

#Ri ni *Pov*

Ini masih terlalu menyakitkan bagiku, aku pasti akan mengungkap semuanya. Yaa Im jaemi! Aku tahu kaulah orang yang sudah membunuh adikku, tapi kenapa? Apa alasannya dia membunuh adikku? Aku pasti akan mencari tahu.

Malam ini aku masih melihat ke figura yang berisikan fotoku dan Re na dengan memakai baju yang sama. Appa mengetuk pintu kamarku, aku pun mempersilahkannya untuk masuk. Beliau membawakan makan malam untukku, aku tidak ingin makan appa. Aku hanya ingin bertemu dengan Re na. Aku kembali menangis di pelukan appa, ini semua terlalu berat untukku.

Aku melangkahkan kaki menuju kamar Re na, yaah… aku ingin tidur di kamarnya. Aku membuka-buka laci berharap menemukan petunjuk. Aku mendapati diary yang terkunci, aku mencoba untuk mencar-cari kunci namun tak kunjung kutemukan. Apa isi dalam buku diary ini? Ada secarik kertas yang berusaha kukeluarkan dari dalam buku. Aku tak bisa mengambilnya karena kertas itu belum sepenuhnya lepas dari buku, mungkin saja dulu Re na berniat menyobek tapi tidak jadi.

“Jaemi aku benar-benar takut denganmu…” aku tidak bisa membaca semuanya, aaah aku berteriak frustasi. Jaemi!!! Aku muak dengan yeoja itu.

#So mi *Pov*

Aku mengatakan pada abamamma bahwa aku bersedia menjadi seorang artis. Tapi bukan di Tc melainkan di Bighit.

“Kau akan menjadi trainee di Bighit? Sayang… Bighit bukanlah agensi yang besar.”

“Karena itulah aku ingin menunjukan bakatku.” Yang sebenarnya aku tak memiliki bakat sama sekali di dunia entertain. “Melalui agensi kecil seperti Bighit, aku akan menunjukan pada dunia. Putri Silla anak dari raja Seungji menjadi star dari agensi kecil.”

@School

“Aku sudah membuat ff oneshoot, kapan kita mulai mengepost?” tanyaku ketika sampai di kelas, kali ini tanpa senyuman yang biasa terpapar di wajahku. Sebaliknya aku menatap tajam dengan penuh kemuakan.

“Nanti.” jawabnya singkat. Hari ini Ri ni dan Bokyung tidak masuk sekolah, mungkin mereka masih bersedih atas kematian Re na seminggu yang lalu.

Jimin datang lalu menyapaku yang berada di bangku yang dulu pernah kududuki dan yang saat ini di duduki oleh Jaemi.

“Yaa Han so mi! Aku dengar kau akan menjadi trainee di Bighit.” ungkap Jimin dengan meletakan tasnya.

“Eoo.” aku tersenyum padanya kemudian melirik sinis kearah Jaemi yang menatapku dengan wajah datar.

Di atap gedung aku tengah berbincang-bincang dengan Jimin, dia berjanji padaku akan membantuku selama aku menjadi trainee. Kami bercanda-canda dengan memakan cemilan yang tadi kubawa.

Kami menghentikan aktifitas kami ketika mendengar seorang yeoja tengah bertengkar di tangga, ia juga tengah menuju atap gedung. Entah dia bertengkar dengan siapa, aku rasa pertengkarannya karena perselingkuhan. Sesampai yeoja itu di atap gedung, aku melihatnya yang masih memegang ponsel di telinganya. Yeoja itu menatap tajam kearah kami, segera Jimin berdiri dan melangkah kearahnya.

“Kau baik-baik saja?” Kekhawatiran terlihat dengan jelas di wajah namja yang baru saja duduk denganku.

“Detso.”

“Kau sedang marah?” Apa hubungan mereka berdua? Kenapa Jimin takut sekali kalau Jaemi marah?

“Yaa neo…” Jaemi menunjukan kepalanya kearahku. “Ayo kita mulai mengepost! Yaa Jimin-a hitung sampai kehitungan ketiga setelah aku dan yeoja itu mengatakan siap.”

Aku mulai mengedit di akunku, mungkin Jaemi juga melakukan hal yang sama.

“Siap.”

“Siap.” ucapku tak lama setelahnya.

“Hana, dul, set.” hitung Jimin lalu aku menekan tombol kirim.

“Dua hari di mulai dari detik ini, kau tahu konsekuensi bagi yang kalah.” aku tersenyum sinis padanya. Mana mungkin aku kalah dengannya, selama ini aku selalu sukses mendapat komentar lebih dari lima ratus pembaca dan like lebih dari seribu. Sedangkan ff miliknya tidak pernah lebih dariku, selalu di bawahku.

Aku membuat ff oneshoot berjudul We do nothing (link:), bercerita tentang Bts yang mendapat tudingan telah melakukan sajaegi dengan Tae hyung sebagai pemeran utama.

Apa Seung hoon masih marah padaku? Ia tak mengirim pesan atau pun menghubungiku. Aku merindukanmu Seung hoon-a, kenapa kau juga ikut-ikutan membenciku?

Hari ini adalah hari pertama aku menjadi trainee, aku sudah lama tidak menari atau pun menyanyi karena keduanya memang bukanlah hobyku.

“Kami akan segera mendembutkan anda putri Silla.” ungkan Byun shik pd-nim.

Jung kook mengajari menari dan latihan vocal. Byun shik pd-nim mengatakan akan segera mencari pelatih vocalku dan juga komposer untukku. Aku dengar ada komposer berbakat bernama Kim ha ki, yang dengar-dengarnya adalah tunangan Seok jin eoppa. Dia masih muda namun berbakat dalam menciptakan lagu.

Di ruang latihan aku dan ketujuh bangtan tengah makan malam sembari bercanda-canda. Yaah sebelum pelatih vocal dan koreoku datang merekalah yang menjadi pelatihku. Ada Jung kook si golden magnae yang memiliki suara emas dan seorang dancer serta J-hope eoppa yang menjadi koreo di lagu predebutku dan Nam joon eoppa yang akan menjadi pelatih rapku. Yoongi alias Suga eoppa menciptkan laguku, Tae hyung dia tidak membantu apa-apa kecuali menyemangatiku. Seok jin eoppa selalu memasakan untukku karena aku seorang yeoja yang tak bisa memasak dan si Jimin yang selalu menemaniku di saat latihan. Senang menjadi putri Silla, ini untuk pertama kalinya aku bersyukur menjadi keluarga kerajaan. Aku adalah Army dan aku adalah penggemar yang paling beruntung bisa menjadi trainee dan bertemu dengan Bts setiap hari, bukan hanya bertemu mereka adalah pelatihku.

Jimin mengajari koreo yang tadi diajarkan oleh Jung kook padaku. Dia mengerutkan alisnya karena aku tak kunjung bisa.

“Baiklah kita latihan vocal saja.” Jimin menggunakan piano untuk mengiringi lagu yang akan kunyanyikan. “Bagus So mi, suaramu merdu hanya saja dancemu seperti Rm hyung. Kapan terakhir kali kau menari?” Terakhir kali aku menari saat aku akan debut dengan ketiga temanku yang bernama like a star.

Aku dan Jimin berkunjung ke rumah Ri ni, aku dengar seminggu belakangan ini dia hanya mengunci diri di kamar. Aku mengetuk pintu kamarnya berharap dirinya membukakan pintu untukku.

“Pergi! Aku tidak ingin bertemu siapapun.” perintah Ri ni.

Jimin mencoba menghubungi Tae hyung, memintanya agar segera menyusul kami. Tak lama kemudian Tae hyung datang, ia juga melakukan apa yang tadi kulakukan. Setelah lama menggedor-gedor pintu kamar, akhirnya Ri ni mau membukakan pintu. Segera Ri ni memeluk Tae hyung dengan sangat erat.

“Kau masih punya kami Ri ni-ya.” ungkap Tae hyung dengan mengelus-elus rambut milik yeojachingunya.

Sudah dua hari setelah pengepostan ff, aku jarang membuka akunku karena aku sibuk berlatih. Sebulan lagi aku akan debut dengan lagu ballad yang baru saja diciptakan oleh Suga eoppa. Betapa terkejutnya aku setelah membuka ffku, tak satupun yang berkomentar di ff yang sudah aku buat dengan susah payah. Ige mwoya… hanya sepuluh yang menyukai dan tidak ada yang berkomentar? Apa Jaemi sengaja melakukan ini agar aku kalah? Aku membuka postingan milik Jaemi, sudah banyak komentar yang bertebaran di ff yang berjudul The Fuck Love. Setiap detiknya banyak komentar yang masuk, kali ini dia memakai nama author Im Jaemi bukannya Seuta. Aku menghembuskan nafas setelah membaca komentar-komentar di ffnya.

“Waaah jahat sekali Seung hoon, Dae zi-ya jangan terlalu dipikirkan lagi, cari saja namja lain.” Jaemi menggunakan main cast Seung hoon dan Min Dae zi actris di Sm entertainmen. (author said: Biar tidak bisa bertemu suga hahaha ingat berondong Sehun hehehe)

Aku membaca ff buatan Jaemi, waah aku akui dia memang hebat, dia membuat ff sadness dan juga Romance. Aku memang tak pernah mambaca ff buatannya selama di Amerika karena aku terlalu sibuk mencari inspirasi.

#Author *Pov*

So mi kalah mutlak dengan Jaemi, artinya So mi harus berlutut di hadapan Jaemi di lapangan sepulang sekolah.

Di lorong So mi tengah dikerjai oleh sebagian hatersnya. Yeoja-yeoja itu membulli habis-habisan pada yeoja yang hanya seorang diri. Di saat yang sama Jaemi dan Bokyung berjalan di lorong seketika anak-anak itu menghentikan aktifitas mereka. Mereka mendudukan kepala mereka sembari merapatkan bibir.

“Gaja Bokyung-a!” bukannya membantu Jaemi malah tersenyum sembari melangkahkan kaki dengan menyilakan kedua tangannya. Bokyung dan Jaemi pergi meninggalkan So mi yang berkaca-kaca. So mi hanya bisa menahan air mata, ia tidak akan menitihkan air mata dengan hal-hal seperti ini.

“Mwoya… kau lihatkan So mi, kau tidak ada apa-apanya tanpa iblis itu.” Yeoja yang dulu pernah ditampar So mi memegang dagu So mi.

“Yaa!” tiba-tiba Bokyung datang.

(Jika kalian ingin tahu bagaimana Bokyung bisa kembali lagi, ia berasalan pada Jaemi akan pergi ke kamar mandi).

Tanpa ampun Bokyung langsung menjambak yeoja itu, “sudah kubilang padamukan jangan pernah memanggil Jaemi dengan sebutan iblis! Kau ingin aku benar-benar merobek mulutmu.” Bokyung mendorong yeoja itu sampai menabrak meja. “Ga!” tambahnya lagi dengan tatapan geram.

“Yaa Han so mi gwaencha?” tanya Jimin yang tiba-tiba berlari kearah So mi. Bokyung melirik sinis kemudian pergi.

“Bokyung-a!” Bokyung menghentikan langkah kakinya tanpa melihat kearah So mi yang masih dibantu berdiri oleh Jimin.

“Aku bukannya sedang menolongmu, tapi aku muak dengan yeoja-yeoja itu yang selalu menjelek-jelekan Jaemi sahabat terbaikku.” Ungkap Bokyung kemudian berlalu pergi.

Sepulang sekolah Jaemi tersenyum mengejek kearah So mi yang melihat kearahnya. “Jaemi-a aku tidak bisa pulang denganmu.”

“Mwo?”

“Aku ada urusan, jadi kau pulang saja dulu.” Jaemi mengerutkan dahinya setelah mendengar ungkapan Jimin. “Yaa Tae hyung-a antarkan aku ke ruang guru dan kau juga Ri ni, hati-hati di jalan Jaemi-a!.” Tambahnya.

“Berhentilah bersikap sok perhatian padaku!” tandas Jaemi dingin lalu melangkah pergi, ia mengintrupsikan pada So mi dengan senyumannya.

“Yaa Jaemi-a!” Jaemi tak menghiraukan Seung hoon dan terus melewatinya tanpa menoleh. So mi melihat kearah Seung hoon yang tak lagi menganggapnya sebagai sahabat.

Sebentar lagi pertunjukan akan segera dimuali, Jaemi sudah berdiri di tengah lapangan sembari melempar-lemparkan buah apel keatas lalu menangkapnya kembali, berkali-kali ia melakukan hal itu.

“So mi dan Jaemi berdiri di tengah lapangan.” teriak salah satu murid di koridor membuat anak-anak berlari ke lapangan.

So mi menatap penuh dengan kebencian, ia beranggapan bahwa Jaemi telah melakukan sesuatu agar dirinya kalah. Jaemi sendiri masih berdiri dengan angkuh, sombong dengan senyum mengejek terlihat jelas di wajahnya. Semua murid-murid mulai berbisik-bisik ria membincangkan kedua yeoja yang tengah saling tatap satu sama lain.

“Kau pikir cerita yang kau buat itu menarik Han so mi? Anya… cerita yang kau buat sama sekali tidak menarik, mereka membaca ceritamu karena siapa dirimu. Kau ingin tahu kenapa aku mengubah nama authorku? Aku ingin lihat siapa saja readers yang munafik. Kau tahukan sekarang, kenapa aku selalu menggunakan nama Seuta karena itulah alasanku. Aku ingin menghindari orang-orang yang munafik, yang hanya mau membaca cerita karena siapa kita.”

“Mulsuneyo?”

“Mwoga?”

“Kaulah yang sudah membuat readersku melakukan hal itu padaku.”

“Mwo? Huh… buat apa aku melakukan hal itu Han so mi? Kau sama sekali bukanlah tandinganku, apa yang aku lakukan pada readersmu? Menyuruh mereka satu per satu untuk tidak berkomentar di ff yang sudah kau buat? Apa kau pikir aku punya waktu untuk melakukan hal-hal semacam itu?”

Semua fans T.O.T membenarkan ucapan Jaemi, mereka mulai berbisik-bisik kembali. “Han so mi memang bodoh, sudah tahu itu grub untuk memosting ff T.O.T, malah mengepost ff Bts disana.”

So mi mulai berlutut, sebelumnya Jaemi melarang semua anak-anak agar tidak mengabadikan kejadian ini, akan memalukan jika seorang putri kerajaan berlutut di hadapan semua orang. Jaemi mulai tersenyum puas, ia menang mutlak dalam permainannya kali ini.

-Cekrek-

Suara kamera yang ditujukan pada So mi dan juga Jaemi, sontak membuat yeoja yang tengah menyilakan kedua tangannya mengarahkan pandangannya ke sumber suara.

“Wae? Ini akan menarik jika seorang putri kerajaan berlutut pada seorang artis yang sedang naik daun.” Ungkap Ri ni tak kalah sinisnya. “Kita lihat apa komentar para netizen setelah mengetahui gambar ini. Si Jaemi gadis jalang yang sudah berani menyuruh putri kerajaan berlutut di hadapan banyak orang. Dengan begitu kariermu akan berakhir.” Ri ni dengan nada centil lebih tepatnya nada mengejek terdengar dengan jelas dari mulutnya. Sedangkan Jaemi hanya menanggapi dengan senyuman pahit kemudian mulai menatap Ri ni yang masih menunjuk-nunjukan ponselnya.

“Gomawo Ri ni-ya! Geure-geure lakukan saja, dengan begitu aku tidak perlu repot-repot menolak permintaan appaku lagi. Satu hal lagi, putri Silla berlutut karena kalah mutlak dengan Jaemi dalam membuat ff, kemampuannya benar-benar diragukan.”

“Geumanhe! Aku mohon jangan bertengkar lagi, teman kita baru saja meninggal dan lihat apa yang kalian lakukan.” Bokyung mulai menitihkan air mata. Jaemi mengelus sahabatnya yang tengah menjongkokan diri.

“Mianhe Bokyung-a! Uljima eoh uljima ragu.” Hanya Bokyung satu-satunya teman yang dimiliki Jaemi, ia tidak ingin kehilangan lagi.

“Aku mohon hentikan.”

“Eoh gaja!” Jaemi mengajak Bokyung untuk pergi, selama berteman So mi tak pernah mendapat perlakukan seperti itu dari Jaemi. Ia tak pernah melihat Jaemi meminta maaf dengan tulus.

Seung hoon datang lalu menyuruh So mi untuk berdiri, So mi sendiri menghempaskan tangan Seung hoon yang mencoba menyuruhnya berdiri.

“Jangan sentuh aku, aku bukanlah yeoja bodoh yang bisa kalian permainkan. Aku sudah tahu hubungan kalian berdua.” Jaemi membalikan tubuhnya kearah So mi.

So mi pergi diikuti oleh Seng hoon kemudian Jimin.

“Kau bukanlah yeoja yang menyenangkan, siapa yang tersenyum tulus saat melihatmu.” Ungkap Ri ni.

“Tanyakan pada namja di sampingmu, saat kau pergi ke Australia di awal kelas satu, di depan kelas. Kejadian itu sudah menjadi rahasia umum yang dirahasiakan darimu.”

“Apa maksudmu?”

“Tanyakan saja kau akan tahu jawabannya, ya Kim tae hyung jujur saja aku menikmatinya. Kejadian yang membuatku tidak bisa membulli si Tae hyung namja udik dari Daegu padahal aku sudah mengucapkan selamat padanya.”

Bersambug….

#Maaf baru nongol, enaknya dilanjut apa dihentikan? Ff ini udah kelar, sampek 22 end. 

#Banyak typo bertebaran, karena gak sempet ngedit.

 

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s