Behind The Perfection (Chapter 1)

btp

Author : Yhupuulievya
Cast :Yoon Nara (OC), Kim Jongin, Oh Sehun, Min Yuri, and many more
Genre : Drama-Romance
Rate : PG15
Length : Chaptered

Warning for some sugestive scenes and both harsh and swearing words.
~o~

“For her, perfection is imperfection itself, a burden that slowly brings her down”

~o~

Hello, I’m back ^^ Maaf atas hiatusnya yang super lama, Tugas kampus bikin aku sibuk akhir-akhir ini. Hope you guys understand :) and here the new FF for you guys, FF ini sebenernya udah sampe beberapa chapter, cuma baru sempet ngepost sekarang dan insyaAllah bakal mulai rutin lagi kaya dulu. HAPPY READING !

~o~

          Seorang gadis berambut hitam pekat melangkahkan kakinya keluar kelas, sebuah kotak yang tak terlalu besar di genggamnya di tangan kiri, pitanya yang berwarna biru tua tampak tersampul rapih. Yoon Nara berusaha mencari seseorang begitu bel tanda istirahat berbunyi beberapa detik yang lalu, hendak memberikan kotak kado itu.

Beberapa siswa di kolidor sekolah reflek menyingkir begitu Nara melewati mereka, tentu saja tak mau mencari masalah jika mereka tak sengaja menabrak siswi yang paling populer di sekolah itu. Tak bergeming, Nara tetap melangkah dengan percaya diri, tatapannya lurus kedepan, ia tidak terlalu peduli dengan berbagai tatapan orang-orang yang ditujukan padanya. Let it be, they can admire her head over heels or they can even hate her for their own shake. Itu bukan urusannya sama sekali.

Nara hendak menuruni tangga begitu ia mendengar suara yang begitu familiar di bawah sana

“Tidak, semua yang kita lakukan ini salah” suara parau seorang perempuan memenuhi indra pendengaran Nara

“Salah? Apakah saling mencintai itu salah?”

“Tapi…”

“Dengar Haerin, kita akan baik-baik saja, kau percaya padaku?”

Nara menuruni tiga tangga dan melihat dibawah sana seorang pria kini menjulurkan tangannya dan menghapus air mata gadis yang berdiri tak jauh darinya, selang beberapa detik, ia mengecup gadis itu di kening lalu beralih kebibirnya.

“Aku berjanji akan berbicara padanya nanti, aku akan menyelesaikannya dengan baik-baik” Sambungnya begitu ia melepaskan ciumannya

“Tapi kau akan melukainya…”

“Tidak Haerin, Semuanya akan berlalu dan kita akan baik-baik saja. Kau, aku, dan dia… semuanya akan baik-baik saja. Dia pasti akan mengerti”

“Tidak ! Kita tidak akan baik-baik saja, kau akan melukainya dan persahabatan kita akan hancur!”

“Kita sudah berjalan terlalu jauh Haerin-ah, apa kau tidak keberatan jika harus kehilanganku begitu saja?” Lelaki didepannya kini tampak gusar

“Aku tau… tapi dia menyukaimu. Selama beberapa tahun ini dia hanya melihatmu dan aku tidak pernah melihat dia begitu bahagia selain bersamamu, apa kau tidak mengerti?”

“Apa kau tidak menyukaiku?”

“Bukan begitu, aku…”

“Cukup Haerin, jika itu yang kau mau, aku akan kembali padanya, walau itu berarti aku harus bersamanya tanpa mencintainya sama sekali. Apa itu yang kau mau?”

“Apa….”

Nara memutar bola matanya dan berbalik arah, ia sama sekali tak berniat untuk mendengar percakapan mereka lebih lanjut. Langkahnya tetap setenang angin yang berhembus sore ini, dan tepat saat ia melihat tempat sampah tak jauh darinya, ia melemparkan kotak kado berpita biru itu kedalamnya. Wajahnya tampak datar memang, tapi perasaanya benar-benar kacau. Bagimana tidak ? ia baru saja melihat kekasihnya mencium sahabatnya sendiri. Oh Sehun dan Lee Haerin.

~o~

Yoon Nara memasuki kamarnya dengan malas, alisnya terangkat sedikit saat melihat Ibunya telah menunggu disana.

“Kau terlambat setengah jam”

“Aku tau…” Nara menaruh tasnya di meja panjang berwarna perak sebelum duduk disebrang ibunya.

“Apa yang harus kupakai malam ini?” imbuhnya

Nyonya Han tak perlu repot-repot menjawab pertanyaan tersebut karena dalam beberapa detik saja, seorang pelayan dengan sigap membawakan sebuah gaun pendek berwarna pastel.

“Mari nona…” pelayan itu mengisyaratkan Nara untuk mencoba gaun yang dibawanya dan tanpa mengatakan apapun Nara memasuki klosetnya.

Nyonya Hann memerintah kan pelayan itu untuk meninggalkan kamar Nara, sebelum ia masuk ke ruang ganti baju untuk menemui anak satu-satunya itu.

“Aku ingin mereka menyiapkan gaun yang baru untukku, gaun ini terlalu sempit” Nara mengungkapkan ketidak nyamanannya, namun Nyonya Min mendekat dan menarik tali-tali dibagian belakang gaun tersebut dengan paksa, lalu membentuk tali simpul, membuat Nara sedikit tehentak karena nafasnya tersekat untuk sesaat.

“Kau akan memakai gaun ini Yoon Nara, Keluarga Oh mengirimkannya tadi pagi” Suara ibunya memang terdengar tenang, namun dibalik itu, ia tahu… kata-katanya tak bisa dibantah.

“Aku tidak tahu apa yang kau lalui hari ini, tapi aku tidak mau melihat matamu yang bengkak saat pesta nanti malam”

“Nyonya Oh memberitahuku bahwa ia menyerahkan cincin keluarganya pada Sehun tadi pagi dan itu berarti ia akan melamarmu nanti malam. Jika kau mengatakan “Ya” pertunangan kalian akan dilaksanakan tak lama setelah itu dan Yoon Nara…”

Nara menatap bayangan ibunya lewat pantulan cermin, wanita setengah baya itu tengah menatapnya dengan serius.

“Aku tidak mau kau mengecewakanku…” Nyonya Han menarik simpul terakhir dan menatap Nara sekilas sebelum meninggalkan gadis itu.

~o~

          Disebuah club malam, dentuman musik yang keras menggema memenuhi seisi ruangan, sorot lampu samar-samar terus berkedip, orang-orang berdansa dengan liar dan beberapa orang lainnya lebih memilih duduk di meja bartender dan menikmati wine. Di sebuah sofa sana, seorang laki-laki berambut hitam pekat sedang mencumbu gadis berambut blonde dengan penuh gairah. Setelah ia meninggalkan beberapa hickey dileher gadis itu, ia memamerkan smirknya yang menawan. Tepat saat gadis itu hendak menciumnya dibibir, ia menghentikannya.

“I said no kiss on the lips, okay?”

Laki-laki itu hendak meneruskan aktifitasnya saat ponselnya bergetar beberapa kali, menandakan sebuah panggilan masuk.

Oh Sehun

Nama tersebut terpampang jelas dilayar ponselnya.

“Shit man, can’t you call me in another time? I’m doing some good things here” lelaki itu mengungkapkan kekesalanya, well… sebenarnya itu hanyalah sebuah candaan

“Ayolah Kai… kau berada dibar lagi malam ini?” Suara disebrang sana membalas kata-katanya

“Tentu saja, dimana lagi?”

“Kapan kau akan berhenti menjadi pria brengsek huh?”

“Nah, never” lelaki yang dipanggil Kai itu tertawa kecil

“So… what’s up?’ lanjutnya

“Ah tidak… aku hanya ingin menanyakan kabarmu”

“Come on Sehun! Aku tau kau sedang dalam masalah. Dari nada suaramu saja aku sudah tau”

Hening

“Ini mengenai…”

“Pacarmu?’ Kai memotong

“Apakah gadis itu benar-benar pembawa masalah?” Lanjutnya

“Tidak Kai… sebenarnya aku tidak pernah ada masalah dengannya, hanya saja…” Sehun menghentikan kata-katanya sejenak

“Ibuku memberikan cincin dari keluargaku tadi pagi, dia ingin aku melamarnya”

“So?” Tanya Kai

“Kau tau aku tidak pernah mencintainya Kai, dia sudah seperti adik perempuan bagiku”

Kai tertegun sejenak

“Apa kau yakin? Rasanya sedikit aneh, maksudku kau sudah menghabiskan belasan tahun dengannya dan kau sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun untuknya?’

“Entahlah… aku menyanginya sebagai sahabat atau….. ah… Ini benar-benar sulit, semuanya terasa membingungkan”

“See? I told you love is bullshit”

“Ayolah Kai… kau malah membuatnya semakin runyam”

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak pernah berpacaran dan kau meminta saran dariku?” Kai menggelangkan kepalanya

“Well then buddy, Saranku adalah putuskan saja pacarmu. Kau bisa lebih bebas dan temuilah aku di Paris, kita bisa bersenang-senang bersama disini. That’s what teenagers do”

“Shut up Kai! Saranmu sama sekali tak membantu. Aku lebih baik mengakhiri panggilanku”

“Okay then…”

“Kai, Kau tidak mau mengucapkan sesuatu padaku terlebih dahulu?” Tanya Sehun

“Huh? Apa aku harus mengucapkan sesuatu? Oh benar… I love you”

“That’s not it jerk! Hari ini hari ulang tahunku, kau benar-benar sahabat yang buruk”

Kali ini Sehun benar-benar mengakhiri panggilannya. Kai termenung, lalu mengecek kalender di ponselnya.

“Shit!” Ucapnya kesal

12-April, ini benar-benar hari ulangtahun sahabatnya. Kai kembali menatap ponselnya dan mengetikan beberapa ucapan happy birthday.

~o~

12-April-2012, 09.15 PM

Sehun’s mansion

Yoon Nara memandang pantulan dirinya didepan cermin, rambutnya tergelung rapih dan gaun pastel dari keluarga Oh melingkar sempurna di tubuhnya yang ideal. Matanya terlihat sendu dan sedikit menyipit, tapi itu sama sekali tak mengurangi kecantikannya. Ayolah… bagaimanapun keadaan Nara, dia tetaplah seorang Nara, the queen of school, simbol dari kesempurnaan. Bagaimana tidak? Dia adalah gadis paling cantik di sekolah, populer, cerdas, pewaris muda, dan semua gadis ingin menjadi dirinya. Tentu saja mereka iri, tapi jika saja mereka tahu kehidupan sebenarnya dari seorang Yoon Nara, mereka akan berpikir dua kali untuk berada diposisinya.

Nara menghela nafas beratnya, ia telah sampai di mansion Sehun beberapa waktu yang lalu, dan hal pertama yang dilakukannya bukanlah menemui kekasihnya itu, melainkan mengunci diri di toilet.

“Nona… apakah kau baik-baik saja?’

Nara terkesiap, ia mendengar suara salah satu pelayan keluarga Oh diluar sana

“Nona sudah berada disana selama setengah jam”

Nara merapihkan penampilannya dan membuka pintu toilet.

“Aku baik-baik saja” Nara menatap pelayan itu sekilas lalu beranjak pergi.

Kediaman Oh sudah sangat ramai, tamu-tamu undangan mulai memenuhi mansion yang luas ini. Itulah mengapa Nara mengunci dirinya di toilet, ia tak terlalu nyaman berada di keramain seperti ini.

Nara hendak menaiki tangga saat dilihatnya Nyonya Anderson berjalan kearahnya, wanita itu tersenyum penuh makna dan ia tahu apa yang hendak wanita itu lakukan.

“You look beautiful tonight, Miss Nara”

“Thank you Miss Anderson, it’s been long time”

“Yes” Wanita paruh baya itu tersenyum semanis mungkin.

“I just spotted you here with empty hand so I brought you a glass of red wine, your favorite” Miss Anderson menyerahkan gelas wine itu kepada Nara

“Thank you” Nara mengambil gelas itu namun tak meminumnya.

“So I hear your mother has a new project for the company?”

Nara tersenyum miring, ia tahu betul bahwa wanita didepannya ini sedang berbasa-basi, mencoba trik terbaiknya agar keluarga Yoon bisa melakukan kerja sama dalam proyek baru mereka.

“That’s right  Miss Anderson but I’m sorry, i’m not up for bussines tonight”

“So, maybe next time? I hope you have a great night” Imbuh Nara

Dengan kalimat itu, Nara meninggalkan Miss Anderson begitu saja, ia menaiki tangga dan menyerahkan minuman ditangannya pada salah satu dari beberapa pelayan yang sedari tadi berlalu lalang disana.

~o~

          Yoon Nara menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah pintu bercat perak, ia terlihat ragu untuk memutar knop pintu itu. Namun setelah beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk masuk kesana, walau bagaimanapun, ia tak boleh lari dari situasi saat ini hanya karena kenyataan yang ada ternyata tak sejalan dengan harapannya.

Didepan sana seorang laki-laki berambut pirang tengah duduk membelakanginya, sebuah tuxedo berwarna hitam adalah busana yang namja itu kenakan. Yoon Nara berjalan menghampirinya.

“Kau sudah menunggu lama?” Nara membuka suaranya

Lelaki yang ada didepannya terkesiap, baru menyadari bahwa gadis yang ditunggunya telah datang dan kini duduk tepat didepannya.

“Kau sudah datang?”

“Hmm…” Nara menaruh tas kecilnya dimeja.

Suasana disana terasa begitu kaku, lilin-lilin yang menyala redup tak memberikan efek apa-apa, bahkan hidangan yang mengunggah selera serta angin malam yang berhembus tenangpun , tidak mampu mencairkan suasana. Bukankah seharusnya ini menjadi makan malam yang romantis? Tapi mengapa udara disini terasa berat?

“Aku tidak bisa menemukanmu disekolah” Lelaki itu mencoba untuk menjaga obrolan mereka tetap berjalan

“Oh… ada beberapa hal yang harus aku lakukan tadi”

“Ah begitu” Lelaki didepannya mengerutkan alis

“Kau terlihat cantik malam ini”

Nara menatap lelaki didepannya dengan seksama, berusaha mencari kebohongan yang tersirat dimatanya, namun ia salah, lelaki itu tersenyum kepadanya.

“You look great too, Oh sehun” jawabnya

Pria yang dipanggil Sehun itu tersenyum lebih lembut

“So let’s have our dinner?” Sehun hendak menyentuh makanannya namun ia berhenti saat melihat Nara sama sekali tak bergeming.

“Apa kau baik-baik saja?”

“Apa kau mengingat pertemuan pertama kita?” Nara balik melontarkan pertanyaan lain pada Sehun

“Tentu saja”

“8 tahun yang lalu, kau menanngis dibawah salju yang turun lebat dan saat aku menanyakan apa yang terjadi, kau hanya mengatakan bahwa kau membenci ibumu, aku bahkan masih mengingat setiap kata yang kau ucapkan”

“Dia sama sekali tidak membiarkanku pergi keluar, aku harus belajar sepanjang hari dan aku tidak mempunyai waktu untuk bermain seperti anak lainnya” Sehun mencoba menirukan gaya bicara Nara saat itu, namun ia tak mendapat senyuman sebagai respon. Gadis itu hanya menatapnya datar dan sorot matanya tampak misterius. Sehun tak mengerti sama sekali, oleh karena itu ia hanya melanjutkan ucapannya

“Kau benar-benar ketakutan saat itu, tapi kau masih ingatkan apa yang terjadi?”

Nara tak langsung menjawab, ia berpikir sejenak sebelum berkata

“Kau membawaku pergi dari sana dan mengatakan bahwa kau akan bertanggung jawab jika ibuku marah nanti, aku bahkan masih menyimpan syal yang kau berikan saat itu” Nara melanjutkan kata-kata Sehun

“Kau masih menyimpannya?” Sehun menatap Nara tak percaya

“Aku menaruhnya dikotak merah dan selalu menyimpannya”

“Ah… that’s good” Sehun menganggukkan kepalanya

“Semua itu seolah baru terjadi kemarin, tapi melihat bahwa kita adalah siswa SMA sekarang, aku menyadari bahwa waktu telah berlalu dan kita melewati tahun-tahun ini bersama” Nara kembali berbicara

“Aku melalui banyak hal yang sulit dalam hidupku dan kau selalu ada disampingku selama ini, kadang aku berpikir, apakah aku bisa bertahan tanpamu? Aku terus memikirkan itu sepanjang malam dan merasa cemas, tapi kemudian aku menyadari satu hal… aku tidak bisa terus menahanmu disisiku jika kau sama sekali tak bahagia”

Sehun mengernyitkan dahi, ia menatap Nara dengan lekat

“Nara… kau….”

“Tidak Sehun, biarkan aku menyelesaikan semuanya” Nara balik menatap Sehun

“Selama ini aku mengira bahwa kau memiliki perasaan yang sama sepertiku, tapi jika diingat-ingat kau bahkan tak pernah mengatakan bahwa kau mencintaiku. Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri bahwa sebuah cinta tak harus diucapkan”

“Saat aku mengenalkanmu pada Haerin aku melihat arti lain dimatamu, kau lebih bersemangat dan aku berusaha menghibur diriku sendiri dengan mengatakan bahwa aku harus mempercayaimu. Kau tidak akan menghianatiku. Aku terus mengatakan itu didalam hati walau sebenarnya aku tidak merasa yakin sama sekali”

“Nara… aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan” Ekspresi Sehun berubah muram

“Aku melihatmu bersama Haerin sore tadi”

Sehun membulatkan matanya

“Nara aku…”

“Tidak, kau tidak perlu menjelaskan semuanya ataupun minta maaf. Aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa aku berada diantara kalian“

“Tidak Nara, dengar… aku bisa memperbaikinya”

“Aku sudah tidak menginginkan semua ini Sehun. Kau tidak perlu memperbaiki hubungan kita”

“Nara…”

“Mari kita akhiri semuannya, jika kau tidak mau, aku sendiri yang akan mengakhirinya”

“Kau terlalu gegabah..”

“Tidak Sehun. Aku melakukan hal yang benar. Aku tidak bisa terus hidup dalam kebohongan selamanya dan kau tidak perlu khawatir, aku sama sekali tidak membencimu maupun Haerin. Tapi aku perlu menenangkan diri untuk beberapa saat”

Nara beranjak dari tempat duduknya, sebelum ia pergi, ia mengeluarkan sebuah kotak berpita merah marun.

“Aku membuatkan syal untukmu sebagai pengganti syal yang kau berikan dulu”

“Min Ajhuma mengatakan bahwa sesuatu yang dibuat oleh kita sendiri akan jauh lebih bernilai dari barang mewah apapun yang  dapat dibeli. Jadi untuk pertama kalinya, aku mencoba merajut syal ini untukmu DAN menghabiskan setiap malam selama seminggu ini untuk membuatnya, jadi aku harap kau tidak akan membuangnya”

“Happy Birthday Oh Sehun”

~o~

Nara’s Mansion

22:00

Yoon Nara menyeret kakinya dengan paksa, jika ia bisa… ia tidak ingin pulang malam ini, pikirannya terlalu kacau untuk berdebat dengan ibunya nanti.

“Kau sudah pulang?”

Seperti dugaannya, Nyonya Han kini tengah duduk diruang tamu, menunggu segala laporan darinya.

“Aku tidak ingin membicarakannya malam ini” Nara hendak menaiki tangga saat ibunya kembali berbicara

“Aku tidak melihat cincin tunangan dijari manismu, Apakah Sehun tidak melamarmu?” Nyonya Han menghampiri Nara

“Aku memutuskannya” Nara berbalik dan menatap ibunya

“What the hell do you think you’re doing Yoon Nara?” Nyonya Min menatap Nara tajam

“He doesn’t love me for God sake!” Nara meninggikan suaranya dan Nyonya Min menamparnya dipipi

“Sudah berapa kali akau katakan untuk tidak melibatkan perasaanmu disini. Tidak ada kata cinta dalam dunia kita Yoon Nara! Di dunia bisnis, kau menikah untuk kepentingan perusahaan”

“Kau tahu sendiri bahwa keadaan perusahaan kita sedang tidak stabil dan apa yang kau lakukan SEKARANG?!” Nyonya Han membentak Nara

“Too bad that I did it already” Nara hendak berbalik namun Nyonya Han menahannya, Nara sedikit mengernyit saat dirasa bahwa cengkraman ibunya terlalu erat.

“Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi pemberontak Nara, maka dari itu kembali ke pesta dan temui Oh Sehun. Katakan padanya bahwa kau menyesal telah memutuskan hubungan kalian”

Nyonya Han melepaskan cengkramannya dengan kasar, ia meninggalkan Nara yang kini mematung disana.

~o~

          Nara memasuki kamarnya dengan gontai, begitu ia sampai disana ia langsung membuka lemari pakaiannya dan memisahkan beberapa baju sebelum memasukannya pada koper hitam miliknya.

Nara mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor seseorang

“Ajusshi, tolong pesankan aku tiket ke Paris malam ini juga. Begitu kau mendapatkannya beritahu aku jadwal penerbangannya. Aku akan menemuimu di bandara”

Nara memutus panggilannya dan melempar ponselnya kearah kasur. Buliran bening kini keluar dari matanya, turun membasahi pipinya. Akhirnya setelah beberapa tahun ini, ia kini menangis, mengeluarkan segala emosi yang selalu ia pendam. Walau bagaimanapun semua ini mematahkan batas sabarnya, ia lelah untuk berpura-pura kuat, lelah untuk berpura-pura tak peduli, dan lelah untuk terus mengikuti apa yang dikatakan Ibunya.

Hari ini dan detik ini juga, ia berjanji untuk membebaskan dirinya, ia tak mau terus mengikuti skenario hidup yang diciptakan ibunya. Ia mempunyai hak untuk hidup dan bermimpi. Oleh sebab itu, Nara memutuskan untuk pergi ke Paris, menemui ayahnya dan tinggal disana. Melepaskan segala kehidupan mewahnya adalah hal yang nekat namun terasa tepat, karena sesungguhnya uang tidak bisa mebelikanmu kebahagiaan.

Nara mengusap air matanya dan kembali mengepak barang-barangnya. Di ujung sana ponselnya bergetar. Ah… mungkin Lee Ajusshi sudah berhasil memesankan tiket untuknya.

Nara terdiam begitu caller dengan ID “Hun” tertera di layar ponselnya. Ia tertegun, Hun adalah nama yang ia berikan pada Sehun sejak mereka masih kecil dan kini lelaki itu mencoba untuk menghubunginya.

Nara tetap tak menjawab, ia kembali meletakan ponselnya dan membiarkan nada deringnya terus berputar memenuhi ruang kamarnya. Ia hanya perlu waktu untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu.

~o~

Charles de Gaulle Airport, Paris

13-April-2014, 05 PM

Sore itu, matahari menyembunyikan figurnya di balik awan, membuat sore ini tak terasa terik sama sekali, tapi Nara menikmatinya, suasana disini terasa menenangkan. Oh benar, gadis itu baru saja sampai di bandara Charles de Gaulle beberapa saat yang lalu dan kini ia berjalan kebagian informasi untuk mengambil peta metro. Rasanya sudah begitu lama ia tak berkunjung ke Paris dan hal ini membuatnya sedikit merasa hilang.

“Notre Dame” Nara bergumam pelan sembari mengamati peta metro yang di genggamnya.

Yup, tujuan pertamanya adalah Notre Dome, disana ia bisa menemukan stasiun yang menjadi persimpangan semua  rute metro, maka tanpa pikir panjang ia segera bergegas untuk pergi kesana.

Perjalanan ke Notre Dome terasa sangat nyaman, pemandangan di sepanjang jalan terlihat begitu menenangkan mengingat Prancis sudah memasuki musim semi dan pinggiran kota Paris ini nampak cukup sepi. Meski begitu, rumah-rumah yang dilihatnya sepanjang rute metro tampak begitu indah dengan pepohonan musim semi dan bunga-bunga di bagian halaman.

Nara bergegas menyiapkan kopernya begitu sampai disana, ia harus berpindah metro dan turun di stasiun Champs de Mars untuk sampai ke Eiffel. Oh ia tak berniat untuk mengunjungi menara Eiffel sama sekali, hanya saja hotel yang dipesan Lee Ajusshi untuknya berada disekitar sana.

Bukankah Nara berencana untuk tinggal bersama ayahnya? Tentu saja, namun gadis itu belum menghubunginya sama sekali. Nara sangat yakin, begitu ia memberitahu segala hal yang terjadi padanya, ayahnya akan sangat khawatir dan ia tidak ingin membuat ayahnya cemas karenanya. Maka dari itu ia memutuskan untuk menginap di hotel malam ini.

Nara menghirup udara sejuk Paris, pada akhirnya ia sampai disana. Rasanya sangat aneh namun menenangkan. Sudah berapa lama ia melewatkan hal-hal kecil seperti ini? Menghirup udara malam yang sejuk, menikmati lampu-lampu kota yang berkelip, berjalan-jalan di pinggiran kota dan menenangkan pikiran.

Rasanya sudah terlalu lama ia tak merasa sebebas dan setenang ini, mengingat belasan tahun dalam hidupnya ini, ia hanya sibuk mengejar gelar siswa terpandai disekolah dan mengikuti bisnis di perusahaan ibunya. Oh well… Sepertinya ia melewatkan banyak hal dalam hidupnya.

Yoon Nara menyeret kopernya, ia kembali berjalan dengan langkahnya yang tenang, pemandangan yang indah ini memang sangat sayang untuk dilewatkan, namun perjalan dari Seoul ke Paris yang memakan waktu belasan jam, sukses membuatnya lelah. Lagipula ia bisa menikmati kota Paris dilain hari-kan?

Nara mengangguk dan tersenyum tipis, sepertinya kota Paris bukan hanya kota pelarian saja, perasaannya mengatakan bahwa sesuatu yang menakjubkan akan terjadi disini dan mengubah hidupnya. Oh she can’t wait…

Nara kembali melangkahkan kakinya dan……..

~o~

Paris, 07PM

Kim Jongin membanting pintu mobilnya dengan keras, pertemuan singkat dengan ayahnya barusan membuat emosinya tersulut. Pria paruh baya itu terus membujuknya untuk mau melaksanakan pertunangan dengan gadis menyebalkan bernama Yuri. Ayolah, ia lebih baik sendirian seumur hidup daripada menghabiskan hidupnya dengan gadis yang paling ia benci itu.

“Sial….” Kai menghidupkan mobilnya dan menembus jalanan kota Paris dengan kecepatan tinggi, whatever… dia benar-benar emosi saat ini.

“Yes man?” Kai segera menjawab panggilan dari sahabatnya begitu ponsel miliknya berdering

“Kau.. apa?” Kai kembali bertanya

“Dia memutuskan hubungan kami” suara diujung sana terdengar samar

“Kau serius? Dari semua cerita yang pernah kau katakan padaku, gadismu itu terdengar seperti pacar yang benar-benar setia, maksudku bukankah dia benar-benar menyukaimu?”

“Dia tidak selingkuh Kai, tapi aku…” jeda

“Kau selingkuh?”

“Tidak-tidak, maksudku aku menyukai sahabatnya dan dia mendengar pembicaraan kami”

“err….Sehun, itu sama saja kau menghianatinya”

“Tapi kami… maksudku aku dan sahabatnya, sudah memutuskan untuk mengakhirinya, bahkan sebelum malam itu aku sudah berencana untuk memperbaiki hubungan kami”

“Too Late!”

“I know” Suara diujung sana terdengar murung

“Jadi apa yang akan kau lakukan?”

“Entahlah Kai, aku bahkan tidak bisa menghubunginya. Dia menghilang begitu saja”

“No comment dude, aku hanya bisa menyarankan bahwa kau harus meminta maaf padanya nanti”

“Aku baru saja mengatakan bahwa aku bahkan tidak bisa menghubunginya. Seriously Kai? Apa kau benar-benar mendengarkanku?”

“Ah iya-iya, hanya saja aku sedang tidak terlalu fokus”

Suara tawa Sehun terdengar diujung sana

“So, what’s going on? Kau tidak mendapatkan wanita untuk malam ini?”

“No no, that’s not it”

“so, what? Tell me…”

“You know what? Ayahku baru saja mengenalkanku pada seseorang”

“Dia cantik?”

“Hell no… dia adalah gadis yang plaing menyebalkan yang pernah kutemui”

“Kau mengenalnya?”

“Tentu saja, dia teman sekelasku dan ayahku baru saja mengenalkannya padaku. That’s funny!”

“haha ayolah Kai, sejak kapan kau membenci wanita?”

“Nah gadis ini pengecualian, apa kau berharap aku tidur dengannya dan memanfaatkan situasi ini? That’s good idea tapi tidak untuk gadis ini”

“Hey kau terdengar begitu membencinya…”

“Tentu saja, dia adalah gadis yang menyebalkan, dia bahkan pernah berpacaran dengan Josh dan…”

“Josh ? siapa dia?”

“Musuhku, aku sudah pernah menceritakan ini padamu Sehun”

“Ah benar, baiklah-baiklah… lanjutkan”

“Gadis ini benar-benar bukan tipe idealku, she’s flat, too slim, bitchy, annoying, manip….”

TTTIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

TTTTTTTTTTTTTIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIDDDDDDDDDDDDDDD

Kai melempar ponselnya dan memutar stir, ia menekan klakson beberapa kali dan berusaha mengingatkan gadis didepan sana bahwa ia berjalan kearah laju mobilnya.

Kai memutar stirnya dengan cepat, berusaha berbelok arah untuk menghindari gadis didepan sana, namun terlambat…. mobilnya menabrak gadis itu dalam hitungan detik.

“OH SHITTT!” Ia memukul stirnya dengan keras, lalu bergegas keluar untuk segera menolong gadis yang baru saja ditabraknya.

Jantungnya berdegup kencang, bagaimana kalau gadis itu tak bisa tertolong? Oh God, ia memang sedang tidak fokus, tapi menghilangkan nyawa seseorang bukanlah hal yang ia harapkan. Kai menghampiri gadis itu saat orang-orang mulai berdatangan

“Calm down ladies, I’ll take responsibility for this, okay? So don’t panic” Kai berusaha mengingatkan orang-orang untuk tidak panik karena ia akan bertanggung jawab atas apa yang baru saja dilakukannya.

Kai hendak membopong gadis itu dengan bridal style dan saat ia membalik tubuh gadis didepannya, ia termenung…. entah apa yang terjadi namun waktu seakan berhenti. Gadis itu, kulitnya sepucat porselin, rambutnya sepekat malam, bibirnya semerah darah dan wajahnya… wajah itu… is she an angel?

Fuck—gerutu Kai dalam hati. Ia buru-buru menyingkirkan pikirannya yang mulai melantur entah kemana, yang harus ia lakukan saat ini adalah membawa gadis itu ke Rumah Sakit terdekat.

Kai segera membopong gadis itu untuk masuk kemobilnya, tanpa pikir panjang ia lalu duduk disebalah gadis itu dan menengoknya sekali lagi sebelum melajukan mobilnya.

Gadis itu masih tak sadarkan diri dan Kai tanpa sengaja mengamatinya dengan seksama, konsentrasinya teralihkan. Ia malah mengamati setiap bagian dari wajah gadis itu, dan berhenti dilehernya. Sebuah kalung dengan hurup N melingkar disana.

“What a beautiful stranger” Gumamnya samar sebelum melaju menembus malam yang tenang.

~TBC~

Gimana? Ada yang suka ? Kalo suka bakal aku lanjut, kalo engga aku bakal nyoba bikin Fic yang lain. Jadi… ditunggu komennya ya :) don’t be a silent reader please because your comment means a lot to me. xoxo

8 thoughts on “Behind The Perfection (Chapter 1)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s