(Chapter 1) G.R.8.U

img1448080935746

img1448080935746

Chunniest Present

^

G.R.8.U

(Chapter 1)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet)

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Mata Jiyeon melotot dan mulutnya terbuka seketika mendengar kalimat yang dilontarkan lelaki di hadapannya. Jika saja Hongbin yang mengatakan itu, tak perlu ditanyakan betapa bahagianya gadis itu. Namun ini yang mengatakan seseorang tak dikenalnya dan juga terkenal berbahaya.

“Apa kau tidak bisa membaca Taehyung-ssi. Surat itu bukanlah untukmu.” Jiyeon menunjuk surat ditangan lelaki di hadapannya.

“Tapi sayang sekali …..” Taehyung membaca surat itu sekilas untuk mencari tahu nama gadis itu. “Park Jiyeon. Karena surat ini sudah berada ditanganku jadi surat ini adalah milikku.”

“YA!! Mana ada peraturan seperti itu?” Kesal Jiyeon.

“Tentu saja ada karena aku yang membuatnya.”

Jiyeon berusaha merebut surat itu namun sayang Taehyung terlalu tinggi darinya sehingga dia tak dapat meraih suratnya.

“Jung Taehyung.”

Sebuah panggilan itu menghentikan kegiatan rebut-rebutan Jiyeon dan Taehyung. Mereka bersamaan menoleh dan melihat Hongbin berjalan ke arah mereka lebih tepatnya menuju ke arah Taehyung. Tatapan Jiyeon tak bisa lepas dari lelaki itu.

“Ada apa memanggilku?” Tanya Taehyung dengan nada malas.

“Pagi ini sudah dua kali kau membuat onar. Dan juga kau mengenakan seragam tidak sesuai peraturan. Sebagai ketua displin aku memperingatkan padamu untuk tidak lagi melanggar peraturan lagi. Karena jika tidak maka berita ini akan sampai di telinga kepala sekolah yang akan mengeluarkanmu. Kau mengerti?” Tegas Hongbin.

“Tidak aku tidak mengerti dan tidak mau mengerti.”

Hongbin berusaha menahan emosinya mendengar jawaban asal itu.

“Ayo kita pergi chagi.” Taehyung menarik leher Jiyeon pergi meninggalkan Hongbin.

Sadar dengan situasi yang bisa membuat Hongbin salah paham, Jiyeon mendorong lelaki itu sekuat tenaganya.

“Berhentilah bersikap seenaknya sendiri Jung Taehyung. Jika kau ingin memiliki surat itu silahkan, tapi kau tidak bisa memilikiku.” Jiyeon menghentak-hentakan kakinya kesal ketika meninggalkan Taehyung.

Semua rencana indahnya hancur berantakan karena si pembuat onar. Ditambah sekarang Hongbin pasti mengira dirinya adalah kekasih Taehyung. Jiyeon mengacak-acak rambutnya menumpahkan kekesalannya. Gadis itu setuju dengan ucapan Jaehwan, Jung Taehyung memang sangat berbahaya.

 

G.R.8.U

 

Sebuah foto berukuran besar terpajang di dinding yang dilapisi kaca. Foto seorang gadis yang mengenakan dress pendek hitam dengan corak bunga-bunga tampak tersenyum ke depan. Surai coklat yang dibiarkan tergerai membingkai wajah cantik gadis itu.

1ea8ed9c25ab5422ad4323d666cc5366

Tangan Taekwoon terulur menyentuh foto itu. Tatapannya yang biasanya dingin berubah menjadi tatapan kerinduan. Dia sangat merindukan gadis dalam foto itu. Sebuah ketukan di pintu menyadarkan lelaki itu. Dia segera menekan tombol untuk menyembunyikan foto itu lalu kembali ke tempat duduknya. Pintu terbuka dan asistennya, Cha Hakyeon, berjalan masuk menghampirinya.

“Apakah pengiriman barang ke Brazil berjalan lancar?” Taekwoon membuka pembicaraan.

“Sangat lancar sajangnim.”

“Baguslah. Lalu apa ada yang ingin kau sampaikan?” Taekwoon menatap Hakyeon.

“Aku hanya ingin memberitahu jika anda harus meluangkan waktu untuk acara pemakaman.”

“Pemakaman siapa?”

“Tuan Kim Jaejoong. Tadi baru saja seseorang memberitahuku jika tuan Kim menghembuskan nafas terakhirnya jam 10 pagi.”

“Lalu apakah sudah ada kabar siapa yang menggantikannya?” Seolah kematian Kim Jaejoong tidaklah penting bagi Taekwoon. Yang dia ingin tahu sekarang siapa yang akan menjadi pemimpin perusahaan Kim itu.

“Kemungkinan besar yamg akan menggantikannya adalah putra sulungnya Kim Ravi. Aku rasa ketiga putra tuan Kim tak memiliki pengalaman dalam bidang bisnis sehingga aku tidak yakin Ravi akan berhasil seperti abeoji-nya.” Simpul Hakyeon.

“Jangan terlalu yakin dulu. Aku sudah beberapa kali bertemu dengan Ravi. Meskipun dia tidak memiliki pengalaman dalam dunia bisnis tapi dia memiliki ambisius yang tinggi yang tidak di miliki abeoji-nya, jadi jangan meremehkannya. Apakah abeoji sudah mengetahuinya?”

“Sedang dalam proses pemberitahuan. Berita mengenai kematian rivalnya tentu akan membuat tuan besar Jung gembira.”

“Kau benar. Sisihkan waktuku untuk pergi pemakamannya besok. Lalu kosongkan jadwalku siang ini.”

“Memang kau mau ke mana? Tumben sekali kau mengosongkan jadwal. Apa kau akan pergi berkencan?” Penasaran Hakyeon.

Mendengar ocehan Hakyeon membuat pena Taekwoon terbang ke arahnya. Namun sayang sekali lelaki berkulit coklat itu berhasil menangkapnya.

“Aku tidak ada waktu untuk berkencan. Aku ingin menjemput Taehyung. Ada yang ingin kubicarakan dengannya.”

“Apakah ada perang di pagi hari?” Taekwoon mengaangguk menjawab pertanyaan Hakyeon. “Baiklah aku akan mengosongkan jadwal sesuai perintahmu. Tapi Taekwoon-ah, berkencan sekali-kali tidak masalah bukan? Berhentilah menyibukkan diri untuk menutupi kesedihanmu. Kau harus melupakannya.”

Tatapan tajam nan dingin seperti pemangsa tertuju pada Hakyeon yang seketika langsung membungkuk dan berlari meninggalkan ruangan itu. Taekwoon menyandarkan tubuhnya di kursi lalu tatapannya beralih ke jendela yang menawarkan pemandangan langit biru cerah. Biasanya dia akan menikmati cuaca yang cerah ini bersamanya tapi sekarang berbeda. Kerinduan ini tak pernah bisa terobati.

 

G.R.8.U

 

Jiyeon menjatuhkan tubuhnya di kursi dan tanpa semangat dia meletakkan kepalanya di meja. Tak dipedulikan suasana kelas yang ramai karena jam istirahat. Gadis itu masih kesal karena ulah pembuat onar, Kim Taehyung. Lekaki menyebalkan itu memanggilnya chagi dihadapan Hongbin. Putus sudah harapan Jiyeon untuk menyatakan perasaan pada pujaan hatinya itu.

Jaehwan dan Sooyoung berjalan masuk ke dalam kelas setelah makan bersama di kantin sekolah. Jaehwan menyuapkan snack ring potatoes ke mulut Sooyoung. Dengan senyum mengembang Sooyoung mengunyah snack itu. Langkah sepasang kekasih itu terhenti saat melihat Jiyeon sudah kembali di kursinya. Melihat gadis itu tengah melamun, Sooyoung yakin ada yang tak beres dengannya.

“Ada apa dengannya? Apakah pernyataan cintanya gagal?” Tanya Jaehwan sibuk memakan snacknya.

Sooyoung mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu. Lalu mereka berjalan menghampiri Jiyeon. Keduanya duduk melingkari gadisnyang menjadi pusat perhatian mereka.

“Bagaimana hasilnya Jiyeon-ah?” Sooyoung duduk di samping Jiyeon dan menepuk bahu temannya itu.

“Gagal.” Lirih Jiyeon.

Waeyo? Apakah Hongbin menolakmu?” Sahut Jaehwan dengan mengunyah cemilannya. Jiyeon menggeleng lemah.

“Apa Hongbin mengacuhkanmu?” Kali ini Sooyoung yang ikut menebak. Namun Jiyeon kembali menggeleng.

“Lalu apa yang terjadi Jiyeon-ah? Katakan pada kami?” Sooyoung mengguncangkan tubuh teman sebangkunya itu. Akhirnya Jiyeon menegakkan tubuhnya dan menatap Sooyoung dan Jaehwan secara bergantian.

“Suratku diambil orang.” Jawab Jiyeon dengan nada ingin menangis.

“Aishh… Jika begitu kenapa kau tidak mengambilnya kembali. Bukankah itu sangat mudah?” Jaehwan berkata.

“Tidak bisa karena orang itu adalah Jung Taehyung.”

MWO?” Seru Ken dan Sooyoung kompak.

“Ta-tapi bagaiman bisa surat itu diambil anak baru itu?” Nama Kim Taehyung bagaikan mengguncang Sooyoung hingga membuatnya terbata-bata.

Akhirnya Jiyeon menceritakan tragedi tabrakannya yang mengakibatkan suratnya jatuh ke tangan Taehyung. Dia juga menceritakan apa yang terjadi ketika Hongbin datang. Bertemu dengan Taehyung merupakan kesialan bagi Jiyeon.

“Dan sekarang Hongbin sunbeinim sudah mengira aku adalah kekasih Taehyung. Bagaimana ini Sooyoung-ah, Jaehwan-ah.” Rengek Jiyeon.

“Tenang Jiyeon-ah, kita cari cara lain.” Sooyoung menenangkan Jiyeon.

“Mengapa kau tidak mencoba menyatakan perasaanmu lagi. Tak perlu menggunakan surat, kau hanya perlu mengatakannya.” Usul Jaehwan.

“Tapi Hongbin sunbeinim sudah salah paham dengan hubunganku dan Taehyung.” Jiyeon menunduk sedih.

“Kau jelaskan saja apa yang terjadi. Aku yakin Hongbin hyung lebih mempercayai ucapanmu daripada Taehyung si anak nakal. Jangan menyerah Park Jiyeon.”

Sooyoung mengangguk setuju dengan ucapan kekasihnya. Akhirnya bibir Jiyeon menyunggingkan senyuman lalu mengucapkan terimakasih pada kedua sahabatnya. Gadis itu kembali bersemangat dan memutuskan besok akan mengatakannya pada Hongbin.

 

G.R.8.U

 

Yoona meletakkan baki berisi teko teh lengkap dengan gelas berukuran kecil di atas meja. Jemarinya yang anggun meraih teko dan menuangkan teh ke dalam gelas secara perlahan. Kemudian wanita itu meletakkan cangkir yang sudah penuh dengan teh di hadapan Yunho.

Setelah mendengar kabar kematian rivalnya, Yunho tak henti-hentinya tersenyum. Dia senang karena umurnya lebih panjang dari umur Jaejoong. Dan dia tidak sabar akan menghadiri pemakaman besok.

Yeobo.” Panggilan dari Yoona sukses mengalihkan perhatian Yunho. “Soal Taehyung….”

“Jangan merusak kesenanganku dengan membicarakan anak kurang ajar itu.” Potong Yunho.

“Tapi kita harus membicarakannya. Tidak pernahkah terpikir olehmu jika Taehyung menderita karena kau terus membandingkannya dengan Taekwoon?”

Yunho lebih memilih untuk tidak angkat bicara untuk merespon ucapan istrinya.

“Berhentilah melihatnya hanya dari sisi keinginanmu saja yeobo. Taehyung memang tidak sepintar Taekwoon. Tapi dia mewarisi sifatmu yang berani dan tak takut menghadapi apapun.”

“Cukup Yoona. Aku tak ingin mendengar apapun tentang anak kurang ajar itu. Aku akan memperlakukannya dengan baik jika dia bisa seperti Taekwoon.”

Yunho berdiri dan mengakhiri pembicaraan itu. Helaan bafas berat terdengar dari mulut Yoona. Tatapan wanita itu mengekor suaminya hingga menghilang dari pintu. Tanpa disadari Yunho, saat ini dirinya terlihat mirip dengan putra keduanya. Dan sulit untuk mengubah pikirannya juga merupakan sifat yang diwariskan Yunho pada Taehyung. Selama ini Yoona selalu berpikir melihat Yunho dalam diri Taehyung namun suaminya itu tetap tak perduli.

 

G.R.8.U

 

Jiyeon memanggul tasnya berwarna merah. Beberapa waktu yang lalu Jaehwan dan Sooyoung sudah terlebih dulu meninggalkannya dengan alasan akan berkencan. Melihat keromantisan kedua sahabatnya, terkadang Jiyeon iri ingin menikmati kencan seperti mereka berdua.

Chagi.” Jiyeon terlonjak kaget saat mendengar suara yang tiba-tiba muncul itu. Mendengar suaranya saja Jiyeon sudah menduga jika itu adalah milik lelaki menyebalkan yang sudah menggagaglkan semua rencananya.

“Berhentilah memanggilku seperti itu.” Geram Jiyeon melihat Taehyung sudah berdiri di sampingnya.

“Aku akan berhenti jika aku menginginkanya. Namun sayang sekali aku tidak menginginkannya.”

Jiyeon semakin kesal melihat wajah tanpa dosa lelaki itu seolah membuatnya merasa bersalah.

“Kau memang tidak akan berhenti seberapa kali aku menolakmu bukan?” Taehyung menganggukan kepalanya membuat Jiyeon mendengus kesal. Gadis itu memilih kembali berjalan meninggalkan lelaki itu.

“Apa kau mau pulang? Aku ingin mengantarmu.”

“Aku bukan anak playgroup. Aku bisa pulang sendiri.” Ketus Jiyeon.

“Tapi aku ingin bersamamu.” Rengek Taehyung.

Langkah Jiyeon terhenti dan melihat Taehyung memasang wajah imut. Bukannya gemas Jiyeon justru semakin kesal. “Tapi aku tidak ingin kau temani jadi jangan mengikutiku lagi.” Jiyeon segera melesat pergi sebelum Taehyung kembali mengikutinya.

Mendengar penolakan Jiyeon, Taehyung justru tersenyum. Ada kesenangan tersendiri saat melihat berbagai ekspresi yang muncul di wajah Jiyeon. Lelaki itu jadi tak sabar ingin bertemu gadis itu kembali.

 

G.R.8.U

 

maxresdefault

Sebuah mobil Porsche berwarna putih berhenti di depan SMA Hanlim. Mobil mewah itu kontan menjadi pusat perhatian murid-murid yang keluar dari gerbang sekolah. Pintu mobil terbuka dan sepatu hitam menapak tanah. Sang pemilik sepatu yang tak lain adalah Taekwoon, keluar dari mobil. Seketika semua gadis terpesona melihat penampilan Taekwoon yang maskulin dan wajahnya yang tampan.

Kakinya melangkah tanpa memperdulikan tatapan-tatapan memuja dari seluruh murid perempuan. Taekwoon terus melangkah hingga melewati gadis yang berlari dari arah yang berlawanan. Detik itu juga Taekwoon berhenti melangkah saat matanya sekilas melihat sesuatu yang sangat mustahil. Dilihatnya seorang gadis berlari membelakanginya. Rambut hitamnya yang dikucir kuda bergerak ke sana kemari seiring gerakan tubuhnya. Taekwoon hendak menyusul gadis itu namun panggilan ‘hyung‘ menghentikan niatnya. Dia berbalik dan sudah melihat Taehyung berdiri menatapnya aneh.

“Apa yang hyung lakukan di sini?” Tanya Taehyung.

“Menjemputmu. Ayo.” Taekwoon berjalan terlebih dahulu lalu disusuk adiknya dari belakang.

Beberapa menit berikutnya kedua kakak beradik itu sudah berada di salah satu restoran. Makanan demi makanan pun tersaji di atas meja. Inilah yang membuat Taehyung senang jika kakaknya mengajaknya pergi. Meskipun terlihat dingin namun Taekwoon sebenarnya sangat perhatian padanya.

“Selamat makan.” Taehyung segera meraih daging sapi dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Berbeda dengan Taehyung yang sangat lahap, Taekwoon terlihat santai memakan makanan itu. Namun senyuman tipis terlihat diwajahnya melihat makan Taehyung yang banyak. Taekwoon tidak memulai pembicaraan apapun dan membiarkan adiknya makan tanpa adanya gangguan. Tak butuh waktu lama seluruh makanan di atas meja sudah habis. Taehyung mengelus perutnya yang sangat kenyang sedangkan Taekwoon sudah menyeruput kopi yang dipesannya.

“Tumben sekali hyung menjemputku. Apakah ada sesuatu yang ingin hyung bicarakan denganku?”

Taekwoon meletakkan cangkir kopinya dan menatap adik satu-satunya. “Soal pertengkaran tadi pagi, berhentilah berpikir jika abeoji hanya menyayangiku dia ……”

“Jika hyung ingin mengatakan abeoji juga menyayangiku, aku tidak ingin mendengarnya. Jelas sekali abeoji tak menyayangiku, jadi berhentilah menipuku hyung. Jika hanya ini yang ingin hyung bicarakan, aku lebih baik pergi.” Taehyung berdiri lalu berlalu meninggalkan Taekwoon yang hanya bisa menghela nafas melihat sifat keras kepala adiknya yang sama dengan ayahnya.

 

G.R.8.U

 

Langkah-langkah kecil Jiyeon menyusuri jalan menuju rumahnya. Meskipun melelahkan namun Jiyeon tak ingin mengeluh. Pekerjaan ayahnya yang hanya petugas kebersihan tidak mampu membiayai hidupnya dan dan kedua anaknya. Apalagi harus menbiayai uang sekolah Jiyeon dan Jimin. Untung saja pamannya, Yoochun bersedia memberikan bantuan dengan membayar sekolah mereka berdua. Karena itu sebagai balas budi Jiyeon bekerja di kafe milik pamannya itu.

Noona.…” Panggilan Jimin menyadarkan Jiyeon dari lamunannya. Dilihat adiknya berlari menghampirinya.

Noona lama sekali? Aku dan abeoji sudah sangat lapar.”

“Aishh… Apa kau menungguku pulang hanya untuk dapat makanan HUH?”

“Tidak juga, aku mengkhawatirkan noona. Kan tidak aman seorang gadis berjalan sendirian malam-malam seperti ini.”

“Aishh… Mulai pintar kau berkata-kata eoh? Arraseo.. arraseo... Aku akan segera memasak untuk kalian.”

Jimin bersorak senang sedangkan Jiyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka berjalan pulang dan langsung disambut ayah mereka dengan pelukan. Jiyeon selalu menyukai kehangatan dalam keluarga kecilnya ini. Gadis itu segera beralih ke dapur dan memasakan nasi goreng untuk keluarga kecilnya.

Tak butuh waktu lama sampai tiga piring berisi nasi goreng sudah tertata rapi di meja. Jimin terlihat antusias melihat makanan di hadapannya itu.

“Selamat makan.” Ucap ketiga anggota kekuarga Park. Dan acara makan malampun dimulai.

“Kau memang sepintar eommamu dalam hal memasak Jiyeon-ah.” Puji Park Daeyeon membuat Jiyeon tersenyum lenyap.

“Tapi lebih enak masakan eomma.” Sela Jimin masih asyik makan.

Senyuman Jiyeon lenyap mendengar ucapan adiknya. Tanpa bisa dihindari pukulan keras mengenai jidat lelaki itu.

“Sudah syukur aku memasakanmu masih saja menjelekkannya.” Geram Jiyeon.

“Hee… Hee… Aku hanya bercanda noona. Masakanmu enak sekali.”

Jiyeon tersenyum puas akhirnya adiknya memuji masakannya. Gadis itu memandang ayah dan Jimin yang sama lahapnya. Secara otomatis senyuman terukir diwajahnya. Berkali-kali Jiyeon mengucapkan terimakasih pada Tuhan karena memberikan keluarga yang hangat seperti ini. Gadis itu tahu tidak semua orabg mampu merasakan kebersamaan kekuarga seperti ini. Meskipun terkadang Jiyeon merasa kekurangan karena tidak ada ibu didalam keluarganya tapi dia senang karena kadang kala ayahnya bisa seperti ibu baginya.

G.R.8.U

 

Kertas pink dengan corak bunga-bunga tergeletak di meja. Sepasang alat penglihatan milik Taehyung membaca kata-kata yang tertulis rapi di atas kertas itu.

“Untuk Hongbin sunbeinim?” Taehyung membaca kata yang menjadi pembuka sutat itu.

“Jadi gadis itu menyukai Lee Hongbin. Ciihh…. Apa dia buta? Bukankah aku lebih tampan daripada ketua disiplin yang sangat membosankan itu? Aku akan menggantinya.”

Taehyung meraih pena dan langsung mencoret kata ‘Hongbin Sunbeinim‘ lalu mengganti dengan nama ‘Jung Taehyung’ di sebelahnya. Lelaki itu mengangkat kertas itu dan tersenyum bangga membaca namanya di surat itu meskipun tulisannya sangat jelek.

“Kau pasti akan menyukainya, Park Jiyeon.” Ucap Taehyung penuh percaya diri.

Suara ponsel menghentikan kegiatan lelaki itu yang berkutat dengan surat itu sejak tadi. Dia meraih malas benda persegi di meja lalu mengangkatnya.

“Taehyung-ah, dimana kau?” Terdengar suara Suga, temannya.

“Di rumah. Memang kenapa?”

“YA!! Tumben sekali jam segini kau berada dirumah? Biasanya kau akan datang ke club.” Heran Suga.

“Aku sedang malas. Lagipula dunia tidak akan gempa jika aku tidak datang bukan?”

“Tapi ada seseorang yang mencarimu.”

“Siapa?” Dahi Taehyung berkerut seraya tangannya memutar-mutar penanya.

“Dia tidak mengatakan namanya. Yang pasti dia sangat cantik dan sexy.” Suga menekankan kata ‘Sexy‘ untuk membuat Taehyung tergiur.

“Lain kali saja. Aku sedang tidak ingin pergi. Ada yang harus kulakukan besok.”

“Melakukan apa?” Penasaran suga.

“Rahasia. Bye hyung.” Taehyung menutup ponselnya tanpa mengindahkan protes dari lelaki diujung telponnya.

Pena terlepas dari tangan Taehyung, berganti dengan surat yang ditulis Jiyeon. Kedua bibirnya melengkung seakan ada sesuatu yang direncanakan otak nakalnya.

 

G.R.8.U

 

Tatapan Yunho tertuju pada kursi kosong disamping Taekwoon. Suasana sarapan berbeda dengan biasanya karena pagi ini tak terdengar perdebatan antara Yunho dan Taehyung.

“Di mana Taehyung?” Yunho membuka penbicaraan.

“Tadi dia berangkat ke sekolah pagi sekali, katanya ada seseorang yang ingin ditemuinya.” Jelas Yoona.

“Tumben sekali dia pergi pagi-pagi.” gumam Yunho.

Tanpa disadari lelaki itu, Yoona menyunggingkan senyuman karena Yunho mengharapkan Taehyung berada di meja makan. Padahal ketika putranya ada mereka selalu bertengkar namun giliran

“Taekwoon-ah. Kita berangkat bersama ke rumah duka.” Perintah Yunho yang langsung disetujui Taekwoon.

Keluarga Jung kembali menikmati sarapan tanpa ada pertengkaran yang menyelanya.

 

G.R.8.U

 

Kaki Jiyeon yang dibalut sepatu sneakers berwarna hitam menapaki jalanan menuju gerbang sekolah. Matanya terlihat masih mengantuk meskipun sudah tertidur di bus. Tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya dengan menutup kedua matanya.

“YA!! Siapa ini?” Seru Jiyeon.

“Tebaklah chagi.

Mendengar suara rendah dan terkesan jahil itu,Jiyeon melepaskan paksa tangan itu dan langsung berbalik. Mendapati Taehyung tersenyum lebar padanya membuat Jiyeon mendengus kesal.

“Kau lagi.” Jiyeon masih kesal pada Taehyung karena mengambil suratnya.

“Apa kau merindukanku chagi?”

“Tidak. Tidak sama sekali.”

“Benarkah? Sayang sekali padahal aku sangat merindukanmu.” Taehyung memajukan bibirnya menunjukkan ekspresi kecewa.

“Berhentilah seolah-olah kita adalah sepasang kekasih.” Kesal Jiyeon.

“Tapi kita memang sepasang kekasih chagiya. Kau menulis surat untukku dan aku menerima perasaanmu.”

“YA!! Apa kau tidak bisa membaca? Surat itu jelas-jelas bukan untukmu.”

“Benarkah?” Taehyung membuka tasnya dan mengeluarkan surat Jiyeon. “Tapi di sini tertulis untuk Jung Taehyung.” Lelaki itu menunjukkan isi surat yang sudah diganti nama olehnya.

Melihat tulisan Jung taehyung yang berantakan jelas sekali itu bukanlah tulisan Jiyeon. Amarah gadis itu semakin memuncakk mendapati karya perasaannya berubah hancur karena tulisan Taehyung.

“Kau lihat bu…. Aaahhh…..” ucapan Taehyung terpotong karena merasakan sakit di kakinya.

Yup!! Sebuah injakan dari Jiyeon menyalurkan kekesalan gadis itu. “Dasar pengrusak. Aku sangat membencimu. Tidak peduli kau orang berbahaya atau tidak yang pasti aku sangat membencimu.”

Jiyeon berbalik tak ingin membuat kepalanya terasa panas akibat ulah Taehyung. Bahkan dia tak mendengarkan ocehan Taehyung yang mengatakan dirinya menyukainya. Kontan hal itu membuat murid lain yang mendengarnya terkejut namun Jiyeon tak mau ambil pusing dan memilih meninggalkan tempat itu.

 

G.R.8.U

 

Yunho dan Taekwoon berjalan memasuki rumah duka. Banyak sekali tamu sudah berdatangan dan juga bunga-bunga yang mengucapkan belasungkawa atas kematian Kim Jaejoong. Mereka berdua memasuki sebuah ruangan dengan foto Jaejoong terpajang di tengah ruangan. Keluarga dari Jaejoong memberi hormat pada mereka. Yunho dan Taekwoon berlutut untuk memberikan penghormatan terakhir bagi mendiang Jaejoong.

Setelah acara itu keluarga Kim mengantar mereka untuk duduk di meja menikmati minuman. Taekwoon menuangkan teh di cangkir ayahnya dan juga untuknya. Tatapan Taekwoon beralih pada seorang lelaki yaang mengenakan tuxedo hitam tengah berjalan kearah mereka. Lelaki itu berhenti di depan meja mereka dan membungkuk sekilas.

“Tuan besar Jung, eomma saya ingin berbicara dengan anda.” Katanya.

“Oh baiklah. Jadi kau yang bernama Kim Ravi? Kau mirip sekali dengan ayahmu.”

Gamsahamnida tuan besar Jung.”

Yunho berdiri dan menghimpiri ibu tiri Ravi. Tatapan Ravi beralih pada Taekwoon yang dengan santai menikmati tehnya. Lelaki itu duduk dihadapan Taekwoon dan menuangkan sendiri teh untuknya.

“Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Presiden direktur Jung di sini.” Meskipun itu sebuah pujian namun Taekwoon bisa menangkap nada ketidaksukaan yang Ravi sembunyikan.

“Tak perlu bersikap sangat formal Ravi-ssi, toh sebentar lagi kita juga akan sering bertemu.”

Ravi meraih cangkir dan meminum tehnya. Putra sulung keluarga Kim itu tahu siapa lelaki dingin dihadapannya ini. Bukan hanya seorang presiden direktur yang menggantikan posisi ayahnya, namun dia juga mendengar sifat Taekwoon tak beda jauh dari ayahnya.

“Upacara persembahayangan terakhir akan dilakukan sebentar lagi. Terimaksih kau sudah menyempatkan waktumu untuk datang kemari. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu Taekwoon-ssi. Aku berbeda dengan abeojiku, jadi jangan pernah menganggapku sama dengannya.” Ravi kembali tersenyum ramah.

Orang-orang yang tidak mengetahui isi pembicaraan mereka hanya akan melihat sikap saling ramah yang kedua lelaki itu tunjukkan. Namun dibalik semua itu terjadi persaingan sengit diantara mereka.

Taekwoon masih menatap Ravi yang berjalan menjauh. Seperti ucapannya, Ravi memang berbeda dari ayahnya yang tidak terlalu ambisius. Lelaki itu meraih cangkirnya dan meminum tehnya. Salah satu sudut bibir itu terangkat karena merasa akan ada hal yang menarik setelah Ravi bergabung dalam dunia bisnis.

 

G.R.8.U

 

Kepala Jiyeon menoleh kekanan kekiri ke depan dan juga kebelakang. Hembusan nafas lega terdengarbketika gadis itu tak menemukan Taehyung di sekitarnya. Sejak istirahat pertama lelaki pembuat onar itu tak henti-hentinya menempel pada Jiyeon hingga akhirnya rencananya berbicara dengan Hongbin harus tertunda.

Namun kali ini Jiyeon berhasil kabur dari lelaki itu dan dia tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Terdengar langkah kaki berjalan dan dari balik dinding Jiyeon meoongok. Bibirnya tersenyum melihat seseorang yang ditunggunya tengah berjalan ke arahnya. Gadisvitu merapikan rambut dan seragamnya sebelum akhirnya muncul di hadapan Hongbin. Seperti biasanya Hongbin menyapa Jiyeon dengan senyuman yang ramah.

Sunbeinim, bisakah kita berbicara sebentar? Ada yang ingin kukatakan padamu.” Meskipun gugup namun paling tidak gadia tu bisa berkata-kata.

“Tentu saja. Memang apa yang ingin kau bicarakan? Apakah soal kekasihmu Taehyung?”

“Dia bukan….”

“Apa yang kaulakukan di sini chagiya.” SuarabTaehyunh bagaikan petir yang menyambar tubuh Jiyeon.

Bahkan saat ini tangan taehyung sudah berada di bahu Jiyeon lalu melayangkan tatapan tajam pada Hongbin.

“Apa kau membuat masalah dengan kekasihku Hongbin-ssi?” Tanpa sopan santun Taehyung tak menggunakan embel-embel ‘Sunbeinim‘ pada Hobgbin yang notabene adalah kakak kelasnya.

“Aku rasa yang membuat masalah adalah kau Taehyung-ssi. Kau menganggu pembicaraan kami.”

“Benarkah? Namun sayang sekali aku tidak suka jika kekasihku berbicara dengan namja lain. Jadi kami pergi dulu.”

Jiyeon yang masih kecewa karena rencana keduanya gagal hanya menurut saja ketika Taehyung menariknya pergi. Melihat wajah sedih Jiyeon, Hongbin merasakan kejanggalan dari hubungan mereka. Dia hanya bisa berbalik dan melihat kepergian kedua orang itu.

“Jangan berbicara dengan namja lain chagi kau membuatku cemburu.”

Langkah Jiyeon terhenti menghentikan langkah Taehyung. Mata Jiyeon menunjukkan kebencian yang teramat sangat pada lelaki itu karena selalu mengganggu rencananya untuk menyatakan perasaan pada Hongbin.

“Berhentilah memanggilku ‘Chagi‘ karena aku sangat membencimu.” Jiyeon melangkah pergi dengan amarah yang memuncak di kepalanya.

Mata taehyung masih mengekor kepergian gadis itu. Bukannya menyesal sudah membuat Jiyeon membencinya tetapi lelaki itu sangat senang mendengarnya. Ada kata-kata yang mengatakan ‘Benci jadi cinta’ dan Taehyung ingin kebencian Jiyeon padanya bisa berubah cinta.

 

G.R.8.U

 

Setelah mengikuti upacara penghormatan terakhir yang cukup lama, akhirnya Yunho dan Taekwoon keluar dari rumah duka. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan mereka.

“Kau yakin tidak ingin abeoji mengantarmu?” Tawar Yunho kesekian kalinya.

Ne abeoji. Aku akan menghubungi Hakyeon untuk menjemputku.”

“Baiklah jika itu keinginanmu. Sampai jumpa di rumah.”

Taekwoon membukakan pintu untuk ayahnya. Setelah Yunho masuk Taekwoon membungkuk sekilas sebelum mobil itu melaju pergi. Lelaki itu menengok ke sekelilingnya. Sebuah kafe kecil yang terhimpit dua gedung perkantoran menyita perhatiannya.

Kaki panjang Taekwoon melangkah menuju kafe itu. Dentingan bel terdengar ketika dia membuka pintunya. Terlihat beberapa pengunjung tengah bersantai menikmati kopi mereka. Lelaki itu duduk di salah satu kursi. Sepasang alat penglihatannya meneliti design kafe yang rata-rata didominasi dengan kayu. Tanaman-tanaman yang tertata rapi di pinggir ruangan menambah kesan segar kafe itu.

Tubuh Taekwoon membeku ketika tatapannya tertuju pada seorang yang saat ini menghampirinya. Wajah itu tak pernah dilupakannya. Wajah yang terpatri di dalam otaknya. Wajah yang sama dengan wajah gadis di dalam foto yang selalu disimpannya. Taekwoon tak memperdulikan ucapan gadis itu yang menawarkan menu di kafe itu. Hanya satu nama yang terucap dari bibir lelaki itu, nama ‘Lee Jikyung’.

~~~TBC~~~

Daebak!!! Gak kusangka ternyata banyak banget yang suka ff ini. Gomawo untuk readersdeul yang sudah komen. Di Chapter ini jangan lupa komen lagi ya…..

Yang komen aku kasih hadiah  nih hyungnya V yang ganteng

tumblr_nilqf1TODz1t4u75fo2_500

10 thoughts on “(Chapter 1) G.R.8.U

  1. Tambah kesini tambah keren aja. Teryata taehyung cocok juga jd” berandalan” meskipun berandalan yg iece dan menggemaskan.
    Hehe…
    Lanjut terus

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s