(Chapter 10) Love & Revenge

love-revenge-1

love-revenge-1

Poster By Jungleelovely

Title : Love & Revenge (Chapter 10)

Story by CHUNNIEST

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

* Lee Sungjong (INFINITE)

Sudah chapter 10 saatnya ganti poster. Mianhae untuk readersdeul yang lama menantikan ff ini. Jangan bosan-bosan meninggalkan komen ya….

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

Myungsoo keluar dari mobilnya dan segera berlari menuju rumah keluarga Kim. Laki-laki itu melihat ibunya tengah duduk di depan menunggu dirinya. Dia segera menghampimpiri wanita yang mengeratkan jaket tebalnya saat angin berhembus.

Mendengar panggilan Myungsoo, Heesunpun berdiri dan langsung berhambur ke pelukan putranya. Isakan tangispun tak mampu dibendung lagi. Myungsoo hanya terdiam dan menepuk-nepuk bahu ibunya untuk menenangkan wanita itu. Hati Myungsoo terasa sakit melihat ibunya begitu menderita seperti ini. Dan dia tahu semua ini adalah ulah ayahnya sendiri. Isakan tangis Heesun berangsur-angsur mengecil. Myungsoo melepaskan pelukan ibunya dan menatap wanita itu.

“Katakan padaku eomma apa yang….” Ucapan Myungsoo terputus saat matanya menangkap bekas kemerahan dileher ibunya seperti bekas cekikan.

“Leher eomma… Apakah appa yang melakukannya?”

Heesun merapatkan jaketnya segera menyembunyikan bekas itu lalu menggeleng.

Aniyo Myungsoo-ah.”

“Berhentilah membohongiku eomma. Sudah kubilang aku bukan anak kecil yang bisa eomma bohongi.. Appa sudah keterlaluan, dia bahkan tega menyakiti eomma. Aku akan membatalkan pernikahan itu.” Marah Myungsoo.

Seketika mata Heesun melebar mendengar keputusan putranya. Wanita itu langsung menggelengkan kepalanya keras.

Andwae Myungsoo-ah. Kau tidak boleh melakukan itu.”

“Mengapa aku tidak boleh melakukannya HUH? Apa eomma ingin melihat keinginan appa terwujud? Berhentilah bersikap baik padanya eomma. Tidak ingatkah appa tak pernah bersikap baik pada eomma?” Kesal Myungsoo.

Heesun terdiam. Wanita itu jelas tidak ingin suaminya bersama wanita lain tapi dia tak bisa berbuat apapun. Karena waita itu tahu dia akan lebih menderita lagi jika pernikahan itu dibatalkan. Tiba-tiba Heesun berlutut di hadapan putranya membuat Myungsoo terkejut.

Eomma apa yang kau lakukan? Berdirilah.”

Myungsoo hendak mengangkat ibunya untuk berdiri namun wanita itu bersikeras tetap berlutut di hadapan putranya.

“Aku mohon jangan membatalkan pernikahan itu Myungsoo-ah. Eomma lebih baik sakit hati daripada eomma harus kehilanganmu. Eomma mohon jangan lakukan itu.” Mohon Heesun.

Myungsoopun menatap ibunya yang sedang menangis. “Apa maksud eomma?”

Appamu akan membunuhmu jika kau membatalkan pernikahanmu dengan Minhee. Jadi eomma mohon Myungsoo-ah jangan batalkan pernikahan itu.”

Kedua tangan Myungsoo terkepal mendengar ucapan ibunya. Lelaki itu semakin membenci ayahnya yang hanya mementingkan keinginannya sendiri tanpa memperdulikan istri dan anaknya. Myungsoo kembali memeluk ibunya yang masih menangis. Dia menepuk-nepuk lembut punggung ibunya untuk menenangkan wanita yang paling berharga untuknya.

“Aku pasti akan mencari cara membawa eomma lepas dari cengkraman appa. Aku berjanji eomma.” Janji Myungsoo.

Dari kejauhan Sungsoo tersenyum puas melihat putra dan istrinya saling berpelukan. Pria itu tidak sabar menanti kembalinya wanita yang dicintainya meskipun harus mengorbankan istri dan anaknya. Tanpa seorang pun ketahui Dongwoo yang berdiri tak jauh darinya melayangkan tatapan penuh kebencian pada Sungsoo. Aura hitam kelam mengelilingi iblis itu membuat Sungsoo merasa tidak nyaman.

 

*   *   *   *   *

 

Minhee menghempaskan tubuhnya di kursi pesawat begitupula Sunggyu. Gadis itu menoleh dan menatap lelaki disampingnya penuh tanya.

“Mengapa kau menatapku seperti itu eoh?”

“Aku hanya penasaran. Memang tugas apa yang menanti kita di sana Oppa?” Tanya Minhee penuh antusias.

“Kau memang tak sabaran ne?”

“Aku hanya penasaran Oppa. Cepat katakan padaku.”

Sunggyu tersenyum melihat Minhee berubah manja seperti ini.

Nne… Nee… Aku akan memberitahumu. Kita akan menemui Park Yoochun dari Perusahaan Micky untuk membicarakan kerjasama kedua perusahaan.”

Seketika tubuh Minhee membeku mendengar nama ‘Park Yoochun’. Minhee merasa seperti tersambar petir saat mendengar nama laki-laki yang tak ingin ditemuinya lagi. Tak kunjung mendengar reaksi Minhee, Sunggyu menoleh dan melihat wajah Minhee tanpa ekspresi dan tampak pucat.

“Minhee-ah…. Kau tidak apa-apa? Apa kau sakit? Katakan sesuatu padaku.” Sunggyu mengguncangkan tubuh gadis itu untuk menyadarkannya.

“Apa kau sadar apa yang kau lakukan Oppa?”

Ne. Aku tahu Park Yoochun memang hwajangnim yang sulit untuk diajak bekerjasama dengan perusahaan dalam negeri, tapi tidak ada salahnya bukan untuk mencobanya?”

“Sangat salah. Benar-benar salah Oppa. Apa kau tidak tahu reputasi buruk yang dia miliki?”

“Reputasi buruk?” Sunggyu menautkan kedua alisnya.

Ne. Dia terkenal playboy Oppa. Dia selalu berlaku sangat tidak sopan dengan yeoja yang ada di dekatnya.”

“Apakah kau sudah pernah bertemu dengannya?”

“Enam bulan yang lalu dan aku tidak akan pernah memaafkan apa yang sudah dia lakukan padaku Oppa.” Kesal Minhee.

“Memang apa yang dia lakukan padamu?”

“Dia…” Minhee menundukkan wajahnya malu. “Dia mengajakku tidur dengannya.” Ucap Minhee lirih.

Sunggyu memang tidak mengenal Yoochun tapi mendengar ucapan Minhee, itu berarti Yoochun memang laki-laki yang berbahaya. Tangan Sunggyu menggenggam tangan kekasihnya.

“Itu tidak akan terjadi lagi.” Minhee mendongak dengan wajah yang masih merona malu. “Kau tenang saja. Bukankah ada aku bersamamu. Aku pasti akan melindungimu.”

Hati Minhee seketika tenang mendengar janji yang diucapkan Sunggyu. Minhee mengangguk senang dan kekesalan di hatinya lenyap seketika. Tak berapa lama pesawat mulai tinggal landas membawa Sunggyu dan Minhee menuju Macau untuk melaksanakan tugas yang penting.

 

*   *   *   *   *

 

Telpon ruangan Minhee berdering. Jiyeon yang sedang melakukan tugas Minhee meneliti dokumen langsung mengangkat telpon itu.

Ne Woohyun Oppa?” Tanya Jiyeon tanpa mengalihkan tatapannya dari dokumen itu.

“Kim hwajangnim menelponmu.”

Tubuh Jiyeon membeku mendengar nama Myungsoo.”Sambungkanlah.”

Tak berselang lama Jiyeon bisa mendengar suara Myungsoo yang memanggilnya lemah.

Oppa. Kau tidak apa-apa?”

“Temui aku di taman Yeouido.”

Belum sempat Jiyeon bertanya lebih lanjut Myungsoo sudah memutuskan telpon itu. Jiyeon berdiri lalu meninggalkan pekerjaannya.

“Jiyeon-ssi, kau mau kemana?” Tanya Woohyun melihat Jiyeon hendak pergi.

“Aku mau menemui Myungsoo Oppa. Sepertinya ada yang aneh dengannya.”

“Aneh?”

Jiyeon mengangguk. “Suaranya tidak seceria biasanya. Nanti aku akan menghubungimu lagi Oppa.” Ucap Jiyeon buru-buru pergi.

 

*   *   *   *   *

 

Pintu mobil sedan berwarna hitam terbuka. Sepasang kaki yang dibalut sepatu hitam menapak tanah. Sungsoo merapikan jas hitamnya dan menatap supermarket di hadapannya.

“Kau yakin ini alamat yang benar?” Tanya Sungsoo pada sang sopir.

Ne tuan Sungsoo. Alamat ini sesuai dengan alamat yang diberikan tuan Taecyeon.”

Sungsoo melangkah menghampiri supermarket itu. Kakinya memasuki area supermarket dan langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dikenalnya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman saat menemukan orang yang dicarinya.

“Lama tidak bertemu Tae Minjung. Atau sekarang aku harus memanggilmu Lee Minjung.”

Wajah Minjung tampak pucat melihat Sungsoo sudah berdiri di hadapannya.

“Sungsoo Oppa? Ba-bagaimana kau bisa di sini?”

“Tidak sulit untuk mencarimu. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Minjung menatap wajah Sungsoo yang serius. Wanita itu meminta seseorang untuk menggantikannya. Tak lama kemudian Minjung sudah duduk di samping Sungsoo dalam mobilnya.

“Apa yang ingin kau katakan Oppa?” Tanya Minjung membuka pembicaraan.

“Apa kau merasa nyaman berada di sini?”

“Aku sangat menikmatinya.” Senang Minjung.

“Mengapa kau tak mengatakannya padaku?”

“Mengatakan apa Oppa?”

“Mengapa kau tidak memberitahuku jika putra kita sudah meninggal?”

“Aku pikir kau tidak ingin mengetahuinya.” Minjung menundukkan kepalanya sedih.

DDUGGHH….

Dengan keras Sungsoo memukul pintu mobil. “Aku appanya dan kau pikir aku tidak ingin mengetahuinya?”

Minjung hanya bisa menunduk. “Maafkan aku Oppa.”

Sungsoo menghela nafas berusaha meredam emosinya. “Kembalilah padaku Minjung-ah. Aku selalu menantimu setiap hari.”

Minjung menggelengkan kepalanya. “Tidak Oppa. Bukankah sudah kukatakan kita tidak bisa bersama?”

“Kalau begitu aku akan membuat kita bersama. Apa kau tahu mengapa aku menjodohkan putraku dengan putrimu?”

Minjung mendongak dan menatap Sungsoo. “Jadi Oppa memiliki tujuan lain?”

Salah satu sudut bibir Sungsoo terangkat. “Aku akan merebut perusahaan Taeyang jika kau tidak kembali padaku.”

“Kau…. Perusahaan Taeyang adalah perusahaan yang Jungwoo Oppa bangun sendiri dengan kerja kerasnnya dan kau ingin merebutnya?”

Ne. Tapi itu tidak akan terjadi jika kau kembali padaku.”

“Kau benar-benar licik Oppa. Mengapa kau melakukan semua ini?”

Sungsoo memajukan wajahnya dan menatap Minjung dalam-dalam. “Karena aku sangat mencintaimu. Jadi pikirkanlah Minjung-ah.

“Kau bukanlah Sungsoo Oppa yang aku kenal.”

Minjung hendak keluar dari mobil Sungsoo namun Sungsoo menariknya kembali.

“Sungsoo yang kau kenal sudah tiada semenjak kau meninggalkanku bersama putra kita. Pikirkanlah baik-baik Minjung-ah.”

Sungsoo melepaskan cengkraman membiarkan Minjung keluar dari mobil Sungsoo. Pria itu masih terus mengamati Minjung. Bibirnya menyunggingkkan senyuman kepuasan.

 

*   *  *   *   *

 

Minhee duduk dengan sangat tidak nyaman di hadapan seorang laki-laki bernama Park Yoochun. Sesuai tebakan gadis itu, Yoochun tengah menatapnya seakan tengah merayunya. Namun Sunggyu menyadari hal itu.

“Uuhhuukk….” Sunggyu pura-pura batuk. “Yoochun-ssi. Kedatangan kami kemari untuk…”

“Untuk memintaku bergabung dengan perusahaanmu bukan?” Potong Yoochun tak memperdulikan Sunggyu dan hanya menatap Minhee terus menerus.

“Benar Yoochun-ssi.”

“Aku akan menolaknya.” Tolak Yoochun tanpa mendengar penjelasan Sunggyu lebih lanjut.

“Tapi Yoochun-ssi….”

Akhirnya Yoochunpun menoleh ke arah Sunggyu. Lalu diapun kembali menatap Minhee dan menarik tangan gadis itu dengan paksa.

“Aku akan melakukannya jika gadis ini tidur denganku.” Ucap Yoochun dengan nada menggoda.

Seketika Minhee langsung menarik tangannya. Sunggyu menggebrak mejanya marah.

“Itu tidak akan terjadi Yoochun-ssi. Aku tidak akan menyerahkan kekasihku kepada anda.” Tegas Sunggyu.

“Kalau begitu aku juga tidak bisa bergabung dengan perusahaanmu. Jika tidak ada hal lain lagi aku akan pergi.” Yoochun berdiri dan meninggalkan restoran itu.

“Mana tanganmu?”

Minhee menatap Sunggyu binggung namun dia tetap menyerahkan tangannya yang dipegang Yoochun pada kekasihnya itu.

“Untuk apa tanganku Oppa?”

Sunggyu menggosok telapak dan punggung tangan Minhee. “Menghilangkan bekas tangan namja brengsek itu.”

Minhee tersenyum geli melihat Sunggyu sedang cemburu. “Sepertinya kita tidak akan berhasil Oppa.” Ucap Minhee pesimis.

“Kita tetap akan berhasil Minhee-ah. Kau tenang saja. Aku tidak akan menbiarkan namja itu menyentuhmu lagi.”

Minhee menghela nafas karena sifat kekasihnya yang pantang menyerah. “Baiklah. Kalau begitu aku akan membantumu Oppa. Aku akan menghubungi beberapa temanku yang mengenal Park Yoochun. Mungkin saja kita bisa menemukan kelemahannya.”

Sunggyu mengangguk setuju dengan ide Minhee.”Gomawo Minhee-ah.”

Minhee tersenyum dan mengangguk senang.

 

*   *   *   *   *

 

Taecyeon memarkirkan mobilnya di lantai basement gedung perusahaan Kim. Setelah mematikan mesin mobil dia pun keluar. Dia berjalan memasuki gedung perusahaan Kim. Tangannya meraih ponselnya yang berdering.

Ne tuan besar Kim?” Ucap Taecyeon seraya melanjutkan perjalanannya.

“Cepat datang ke ruanganku.” Perintah Geunhyung.

“Saya akan segera ke sana tuan besar Kim.”

Taecyeon menghentikkan langkahnya tepat saat dirinya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. Pria itu berbalik saat merasakan seseorang tengah mengikutinya. Namun Taecyeon hanya melihat lorong itu kosong tak ada seorangpun. Dia berbalik hendak mencari tahu siapa orang itu. Namun baru beberapa langkah ponsel Taecyeon kembali berbunyi. Melihat nama ‘Tuan Sungsoo di layar ponselnya, Taecyeon segera berbalik dan kembali berjalan.

Tanpa Taecyeon ketahui Changmin yang bersembunyi di balik pilar dinding menghembuskan nafas lega. Sejak pagi Changmin memang sengaja mengikuti Taecyeon karena itulah sensor yang Taecyeon miliki mendeteksi keanehan. Namun beruntung bagi Changmin karena Taecyeon tak mengetahuinya.

“Aku tidak akan menyerah sebelum menemukan kejanggalan dari namja bernama Ok Taecyeon.” Ucap Changmin pantang menyerah.

Di ruangan Taecyeon dia menerima telpon dari Sungsoo.

“Berita apa yang kau dapat dari anak haram itu?” Tanya Sungsoo menyeruak di telinga Taecyeon.

“Hari ini pertemuan Sunggyu iseonim dan Yoochun hwajangnim berjalan tidak lancar. Yoochun hwajangnim menolak kerjasama itu.”

“Sudah kuduga. Pantau dia terus.”

Taecyeon meletakkan ponsel di mejanya. Dia kembali memikirkan keanehan yang dirasakannya tadi. Dia yakin jika ada seseorang yang mengikutinya. Dia menggelengkan kepalanya melupakan keanehan itu lalu berjalan keluar ruangan untuk menemui Geunhyung.

 

*   *   *   *   *

 

Jiyeon melangkahkan kakinya menyusuri jalanan ditaman. Matanya mengelilingi taman itu mencari sosok Myungsoo. Akhirnya gadis itu menemukan Myungsoo yang tengah duduk di salah satu bangku. Pria itu membungkuk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jiyeon berjalan menghampiri lelaki itu. Myungsoo mendongak saat Jiyeon berhenti di depannya. Meskipun Myungsoo tersenyum namun Jiyeon merasa senyuman itu seperti dipaksakan.

“Ada apa Oppa? Mengapa kau menyuruhku kemari?”

Myungsoo berdiri dan melingkarkan tangannya di bahu Jiyeon.

“Aku hanya ingin jalan-jalan denganmu. Ayo.”

Myungsoo menarik Jiyeon mengikuti langkahnya. Jiyeon merasakan keanehan dengan Myungsoo. Entah mengapa gadis itu merasa lelaki disampingnya bersedih seakan dia sedang berpura-pura ceria.

Oppa. Kau tidak apa-apa?”

Myungsoo menoleh dan kembali tersenyum. “Tentu saja aku tidak apa-apa. Kau bisa melihatnya sendiri.”

“Tapi…”

“Cukup bertanyanya. Aku hanya ingin berjalan-jalan denganmu. Jadi maukah kau menemaniku?”

Tentu saja Jiyeon mengangguk. Gadis itu dengan senang hati menemani pujaan hatinya itu. Mereka berduapun berjalan seraya bersenda gurau. Mereka melihat seorang anak kecil berlari ke arah mereka. Namun karena tidak berhati-hati anak laki-laki itu terjatuh diiringi tangisan bocah itu. Jiyeon segera menghampiri anak itu dan membantunya berdiri.

“Aigoo… Kakimu terluka.” Melihat luka di siku anak itu, Jiyeonpun meniupnya dengan lembut seraya membersihkan debu yang menempel di sisi luka itu.

“Sudah merasa baikan?” Tanya Jiyeon.

Dengan imut bocah itupun mengangguk. Menggunakan ibu jarinya, Jiyeon menghapus air mata anak itu.

“Lain kali hati-hati ne?”

Ne noona. Gomawo.” Anak itupun kembali berlari meninggalkan Jiyeon.

“Ternyata kau sudah cocok menjadi seorang eomma ne?”

Jiyeon menoleh mendengar ucapan Myungsoo. Gadis itu segera berdiri dan Myungsoo menghampirinya. Lelaki itu mendekatkan kepalanya di telinga Jiyeon.

“Jadi nona Tae, berapa anak yang kau inginkan?” Goda Myungsoo.

Seketika kedua pipi Jiyeon merona. “Kita kan belum menikah Oppa.” Jiyeon meninggalkan Myungsoo karena malu.

Myungsoo segera mengejar tunangannya itu. “Tapi sebentar lagi kita akan menikah. Tentu saja tidak apa-apa jika kita membicarakannya sekarang bukan?”

Shirreo.”

“Apa kau tidak tahu berapa anak yang aku inginkan?” Jiyeon menatap Myungsoo penasaran. “Sangat banyak.”

MWO?” Kaget Jiyeon.

“Aku ingin memiliki anak yang banyak agar keluarga kita sangat ramai Minhee-ah. Tapi meskipun aku sibuk bekerja, aku akan tetap meluangkan waktu untuk mereka dan dirimu. Aku ingin menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita. Dan juga….”

Myungsoo menatap Jiyeon dan tersenyum. Sekilas gadis itu bisa melihat semburat kesedihan di mata lelaki itu. Tanpa Jiyeon sadari tangan Myungsoo sudah berada di pipi gadis itu mengelusnya dengan lembut.

“Dan juga menjadi suami yang baik untukmu Minhee-ah. Itulah impianku.”

Hati Jiyeon membeku mendengar impian Myungsoo. Gadis itu beharap jika Myungsoo mengatakan hal itu padanya bukan pada Minhee, maka Jiyeon akan menjadi gadis yang sangat bahagia.

“Ayo kita berjalan-jalan lagi.” Myungsoo menarik tangan Jiyeon tak menyadari kesedihan mendalam di hati Jiyeon.

 

*   *   *   *   *

 

Minjung membuka lemari pakaiannya. Dia mengambil sebuah foto yang selalu di sembunyikan di bawah pakaiannya. Wanita itu memandangi foto Minhee saat masih kecil, begitu manis. Minhee kecil mengenakan hanbok pink dan kuning lalu tersenyum manis ke arah kamera.

kid

 

Aku akan merebut perusahaan Taeyang jika kau tidak kembali padaku.

 

Ucapan Sungsoo terus terngiang di pikiran Minjung. Dia tak menyangka lelaki yang dulu dicintainya sekarang berubah menjadi monster yang sangat jahat.

“Maafkan eomma Minhee-ah. Eomma sudah membawa masalah dalam keluarga kita.”

Minjung melangkahkan kakinya keluar. Dia duduk di tepi tangga seraya menatap langit yang begitu cerah.

“Jungwoo Oppa. Maafkan aku. Aku sudah benar-benar jahat kepadamu. Maafkan aku Oppa.”

Minjung teringat masa lalu saat bersama dengan suaminya.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

Minjung masuk dalam ruang kerja Jungwoo dengan membawa secangkir kopi ditangannya. Suaminya itu sedang sibuk dengan dokumen perusahaannya lalu mendongak mendengar kedatangan istrinya. Senyuman terukir saat melihat istrinya meletakkan cangkir itu di meja.

Gomawo yeobo.” Jungwoo menyunggingkan srnyuman.

Minjung berjalan di belakang Jungwoo dan memijat lembut bahu suaminya yang terasa kaku.

“Tidak bisakah kau beristirahat Oppa. Ini sudah jam 2 malam, dan kau juga harus pergi kekantor besok pagi bukan?”

“Sebentar lagi aku akan istirahat. Jika kau lelah tidurlah lebih dulu.”

Oppa. Mengapa kau bekerja sangat keras seperti ini?” Ingin tahu Minjung.

“Perusahaan Taeyang masih belum berkembang Minjung-ah. Aku ingin membuat perusahaan yang kubangun sendiri ini menjadi seperti Perusahaan besar lainnya. Dengan begitu kau dan Minhee tidak perlu menderita jika aku meninggalkan kalian.”

“Aaishhh… Kau kan masih muda Oppa. Mana mungkin kau secepat itu meninggalkan kami.”

“Tidak akan ada yang tahu kapan Tuhan memanggilku Minjung-ah. Tapi setidaknya jika aku pergi kau tidak perlu bersusah payah mencari uang untuk putri kita. Apa kau tahu mengapa aku memberi nama perusahaan ini Taeyang?”

Minjung menggelengkan kepalanya.

“Aku ingin perusahaan ini bisa menjadi seperti matahari yang menerangi orang-orang yang aku cintai. Kau dan Minhee. Kalian adalah dua yeoja yang paling penting dalam hidupku.”

Minjung tersentuh mendengar penjelasan Jungwoo. Dia menunduk dan mencium pipi suaminya.

“Kalau begitu kau harus menjaga kesehatan agar impianmu itu terwujud Oppa. Beristirahatlah.”

“10 menit lagi.”

“Janji?”

Jungwoo mengangguk.

“Baiklah aku akan menunggu Oppa di kamar. Jika Oppa tidak datang dalam waktu 10 menit, aku akan menyeretmu ke kamar.”

Ne Yeobo.” Jungwoo tersenyum melihat istrinya berjalan keluar dari ruangannya.

 

~~~FLASHBACK END~~~~

 

Minjung menghapus air matanya yang jatuh saat mengingat masa lalunya itu. Dia kembali menatap langit seolah bisa melihat wajah suaminya di sana.

“Aku pasti akan menjaga impianmu Oppa. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku.”

Minjung berdiri dan kembali masuk ke dalam rumahnya. Sungjong yang duduk disamping ibunya sejak tadi pun juga meneteskan air mata melihat ibunya begitu menderita.

Eomma…. Aku juga akan melindungi eomma dan juga noona.” Janji Sungjong menghapus air matanya sebelum akhirnya menghilang dari tempat itu.

 

*   *   *   *   *

 

“Jadi hal itu yang membuat Yoochun seperti itu Jaejoong-ssi?” Tanya Minhee dengan ponsel di telibganya.

Sunggyu yang sedari tadi duduk di samping gadis itu tak bosan-bosannya memandang gadisnya.

“Apa kau tahu siapa namanya? Park Yeonhee? Baiklah. Gamsahamnida sudah memberitahuku Jaejoong-ssi.”

Minhee menurunkan ponselnya setelah sambungannya terputus.

“Jadi kau mendapatkan sesuatu?”

Minhee menoleh dan mengangguk.

“Jaejoong adalah sahabat lama Yoochun. Dia bilang Yoochun dulu tidak seperti sekarang.”

“Tidak seperti sekarang? Maksudmu dengan sifatnya yang playboy itu?”

“Benar. Dulu dia memiliki seorang istri. Namanya Park Yeonhee. Mereka hidup sangat bahagia. Tapi…”

“Tapi kenapa?”

“Yeonhee mengidap penyakit alzheimer. Yoochun mencari segala cara untuk menyembuhkan penyakit istrinya. Namun sayang tak ada satupun dokter yang bisa menyembuhkannya.”

“Jadi istrinya meninggal?”

Minhee mengangguk. “Sejak itulah Yoochun tak pernah mencintai siapapun lagi dan hanya bermain-main saja dengan yeoja yang dia temui. Aku rasa dia benar-benar bodoh. Bagaimana bisa dia seperti itu.”

“Dia tidak bodoh. Aku pun juga akan gila jika kehilanganmu.”

“Aishh… Oppa berhentilah berkata-kata manis seperti itu. Ini bukan saat yang tepat.” Meskipun kesal namun ada perasaan senang dalam hati Minhee mendengar ucapan Sunggyu.

“Aku rasa ini adalah kelemahan Yoochun. Kita bisa menggunakannya Oppa.”

Sunggyu menatap Minhee bingung.

“Apa maksudmu Minhee-ah?”

“Kita bisa meminta arwah Yeonhee untuk membujuk Yoochun agar mau bekerja sama dengan perusahaan Kim.”

“Tapi bagaimana kita menemukan arwah Yeonhee?”

Minhee tersenyum lebar mendengar pertanyaan Sunggyu. “Sungjong.” Ucap Minhee.

“Jadi kau meminta Sungjong untuk memanggil arwah Yeonhee?”

SHI-RREO…”

Minhee menoleh mendengar suara Sungjong. Benar saja saat ini Sungjong sedang duduk di salah satu sofa sdengan kedua tangan yang terlipat di dada.

“Ayolah dongsaengie. Bantu noona. Bukankah kau menyuruhku untuk membantu orang?”

“Aku menyuruh noona bukan aku yang membantu orang lain.”

“Tapi hanya ini cara satu-satunya Sungjong-ah. Bukankah kau bisa memanggil arwah Yena jadi kau pasti bisa memanggil arwah Yeonhee juga.”

“Tidak akan. Aku memanggil arwah Yena karena kau dalam bahaya.”

“Dalam bahaya? Jadi jika aku dalam bahaya kau bisa memanggilnya?”

Aniyo noona. Memanggil arwah yang sudah meninggal itu sangat sulit. Aku harus menghadapi malaikat-malaikat lain dan juga Tuhan yang bisa menghukumku.”

Minhee menghela nafas kesal karena adiknya tak bisa membantunya.

“Kita bagaimana lagi Oppa? Sungjong tidak mau menbantuku.” Keluh Minhee.

“Tidak apa-apa Minhee-ah. Kau sudah membantuku banyak aku akan memikirkan cara yang lain. Kau bisa menikmati liburanmu dulu Minhee-ah. Aku ingin pergi ke suatu tempat.”

Minhee menghela nafas berat melihat kepergian Sunggyu. Minhee bisa merasakan jika Sunggyu merasa kecewa meskipun laki-laki itu tak mengatakannya. Gadis itu menoleh ke arah Sungjong namun tak lagi melihat adiknya itu membuat gadis itu semakin mendengus kesal. Mata Minhee melebar saat mengingat seseorang yang bisa membantunya. Diapun mengambil ponselnya dan menghubungi orang itu.

 

*   *   *   *   *

 

Hari sudah gelap, Jiyeon dan Myungsoo memutuskan duduk di bangku taman setelah mereka menikmati makan malam. Jiyeon meringis saat merasakan kakinya tersa sakit.

“Ada apa Minhee-ah?” Cemas Myungsoo.

“Kakiku terasa sakit Oppa.”

Myungsoo berjongkok dan melihat kaki Jiyeon. Dia melepaskan kedua sepatu Jiyeon dan melihat lecet-lecet di kedua kaki Jiyeon.

Mianhae aku tidak sadar kau memakai sepatu tinggi padahal aku mengajakmu berjalan jauh.” Sesal Myungsoo.

Gwaenchana Oppa.

“Aku akan mengobati lukamu. Kita ke apartementku yang lebih dekat.” Myungsoo berbalik lalu menepuk kedua bahunya. “Naiklah. Aku akan menggendongmu.”

“Tapi Oppa…”

“Tidak tapi-tapian Minhee-ah. Cepatlah naik.”

Jiyeonpun menurut lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Myungsoo. Setelah siap, Myungsoo berdiri dan mulai berjalan seraya menggendong Jiyeon di punggungnya.

00a345e71b90ca0502d1764b49122ec7

“Apakah aku berat Oppa?” Tanya Jiyeon cemas jika Myungsoo merasa berat menggendongnnya.

Aniyo. Aku kan namja yang kuat.”

Jiyeon tersenyum mendengarnya. Punggung Myungsoo terasa hangat dan nyaman dan juga Jiyeon bisa merasakan wangi shampo yang dipakai Myungsoo. Gadis itu menyandarkan kepalanya dan merasa sangat nyamn berada begitu dekat dengan Myungsoo. Jiyeon ingin waktu berhenti agar dirinya bisa menikmati kebersamaannya dengan Myungsoo lebih lama.

Tak lama kemudian Jiyeon sudah duduk di sofa empuk dalam apartement Myungsoo. Di hadapannya Myungsoo dengan hati-hati mengobati luka di kaki Jiyeon. Tak jarang gadis itu meringis kesakitan namun Myungsoo segera meniupnya.

“Sudah selesai. Aku akan membereskan peralatan ini dulu.”

Jiyeon mengangguk mendengar perkataan Myungsoo. Lelaki berdiri dan meninggalkan Jiyeon untuk mengembalikan kotak peralatan kesehatannya. Saat kembali Myungsoo tersenyum melihat Jiyeon sudah tertidur di sofa itu. Perlahan Myungsoopun menghampiri Jiyeon dan berlutut di sampingnya. Jemarinya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Jiyeon. Dengan lembut jemari Myungsoo mengelus pipi gadis itu.

Mianhae Minhee-ah. Jika saja kau bukan putrinya aku tidak akan sesedih ini.”

Myungsoo mengecup lembut kening Jiyeon sebelum akhirnya menggendong tubuh Jiyeon menuju kamarnya. Dengan lembut Myungsoo membaringkan tubuh Jiyeon di ranjangnya. Gadis itu sedikit mengerang merasakan tidurnya terganggu. Namun dia kembali terbang ke dalam alam mimpinya. Myungsoo menarik selimut dan menutupi tubuh Jiyeon.

“Selamat malam Yeobo.”

Myungsoo kembali mengecup kening Jiyeon sebelum meninggalkan gadis itu. Dia beerhenti di depan jendela melihat lampu-lampu yang menghiasi kota Seoul. Tangannya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.

“Apa semua sudah siap Lee biseonim?”

“Sudah hwajangnim. Semua sudah siap. Saya akan menyerahkan semuanya pada anda besok.”

Gomawo Lee biseonim.”

“Tapi hwajangnim. Apa anda yakin akan melakukannya?” Tanya Seungyeol.

“Aku sangat yakin.”

“Tapi bagaimana dengan Tae hwajangnim?”

“Dia.. Dia pasti akan baik-baik saja.” Pikir Myungsoo.

Myungsoo kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan kembali menatap pemandangan kota Seoul dengan sedih.

 

*   *   *   *   *

 

Sunggyu berjalan dengan lunglai ke dalam kamarnya. Dia terlihat berantakan setelah tak kunjung menemukan bagaimana caranya membuat Yoochun mau bekerjasama dengan perusahaannya. Sunggyu membuka pintu kamarnya dan menghampiri dapur. Langkahnya terhenti saat matanya menabgkap sesuatu. Diapun menoleh dan melihat secarik kertas tergeletak di meja. Kakinya melangkah menghampiri meja itu laku mengambil kertas itu.

 

Oppa, aku pergi menemui Yoochun hwajangnim.

Aku memiliki rencana agar Yoochun hwajangnim bisa bekerjasama dengan perusahaan Kim.

Aku tidak ingin melihatmu kecewa seperti siang tadi Oppa.

Tunggu aku ne?

 

Tae Minhee

 

Sunggyu melemparkan kertas itu dan segera berlari keluar. Sedangkan di lantai hotel yang lain Minhee mengetuk sebuah pintu. Beberap detik kemudian pintu terbuka memperlihatkan Yoochun yang hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Minhee sedikit membuang muka tak igin melihat pemandangan yang tidak seharusnya dilihatnya.

“Kau? Apa kau berubah pikiran nona?” Goda Yoochun.

“A-aku ingin membicarakan sesuatu dengan anda Yoochun-ssi. Ini mengenai Yeonhee.”

Wajah Yoochun berubah dingin mendengar nama istrinya keluar dari mulut Minhee. Yoochun membuka pintu kamarnya lebar-lebar.

“Baiklah masuklah.”

Minhee tampak ragu untuk masuk. Namun mengingat tujuannya dia pun memberanikan diri melangkah masuk. Tanpa Minhee ketahui, Yoochun menutup pintu dan menguncinya. Minhee mengamati kamar Yoochun yang lebih besar dari kamar hotel yang dia tempati.

“Duduklah.”

Minhee semakin ragu melihat Yoochun menyuruhnya duduk diatas ranjang. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan sangat keras. “Tidak. Aku berdiri saja.”

“Baiklah terserah kau.” Yoochunpun duduk di atas ranjang lalu menatap Minhee. “Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”

“Sebenarnya percaya atau tidak aku bisa melihat arwah seseorang yang sudah meninggal. Dan sore tadi aku bertemu dengan istrimu, Park Yeonhee.”

“Lalu apa dia mengatakan sesuatu?”

“Dia berkata ‘Aku sedih melihat kau berubah Yoochun Oppa. Aku ingin kau berubah.’ Itu yang dikatakannya.”

Minhee mengamati wajah Yoochun yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Lelaki itu berdiri dan menghampiri Minhee membuat gadis itu takut. Yoochun berhenti tepat di hadapan Minhee.

“Kaupikir aku percaya dengan kebohonganmu?”

Nde?”

Yoochun menarik Minhee dan menghempaskan tubuh gadis itu ke ranjang. Sebelum Minhee bisa kabur Yoochun sudah menndih tubuh Minhee mengunci gadis itu.

“Yeonhee tak pernah memanggilku Yoochun Oppa. Kau cerdik sekali Park Jiyeon. Tapi sayang sekali sekarang kau tak lagi secerdik itu di hadapan harimau bukan?”

Yoochun menunjukkan senyuman evilnya membuat Minhee semakin ketakutan. Gadis itu hanya bisa memanggil nama Sunggyu di dalam hatinya berharap kekasihnya itu bisa menyelamatkannya.

 

~~~TBC~~~

Annyeong readersdeul… sudah kangen ff ini ya….. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya……

tumblr_nl1spi6MS41s77rqzo5_500

2 thoughts on “(Chapter 10) Love & Revenge

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s