(Chapter 11) Love & Revenge

love-revenge-1

love-revenge-1

Title : Love & Revenge (Chapter 11)

Story by CHUNNIEST

Poster By Jungleelovely

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

* Lee Sungjong (INFINITE)

Annyeong readersdeul tercinta. Author balik lagi nih ma ff yang sudah kalian tunggu. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak-jejak kalian ya…

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

Minhee mengamati wajah Yoochun yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Lelaki itu berdiri dan menghampiri Minhee membuat gadis itu takut. Yoochun berhenti tepat di hadapan Minhee.

“Kaupikir aku percaya dengan kebohonganmu?”

Nde?”

Yoochun menarik Minhee dan menghempaskan tubuh gadis itu ke ranjang. Sebelum Minhee bisa kabur Yoochun sudah menindih tubuh Minhee mengunci gadis itu.

“Yeonhee tak pernah memanggilku Yoochun Oppa. Kau cerdik sekali Park Jiyeon. Tapi sayang sekali sekarang kau tak lagi secerdik itu di hadapan harimau bukan?”

Yoochun menunjukkan senyuman evilnya membuat Minhee semakin ketakutan. Gadis itu hanya bisa memanggil nama Sunggyu di dalam hatinya berharap kekasihnya itu bisa menyelamatkannya.

“Dia tidak akan datang kemari sayang.” Ucap Yoochun seakan membaca pikiran Minhee.

Tiba-tiba tubuh Minhee terdiam membuat Yoochun menatapnya heran. Yoochun memanggil gadis itu namun tak ada respon apapun dari Minhee. Sebuah senyuman simpul menghiasi bibir Minhee.

“Chunnie Oppa.” Tubuh Yoochun membeku mendengar panggilan itu. Suara gadis itu berbeda dengan suara Minhee yang didengarnya tadi. Suara itu mirip sekali suara dengan suara istrinya yang sudah lama meninggal. Tangan lelaki itu terulur menyentuh pipi Minhee.

“Yeonhee? Kau kah itu?”

Senyuman lebar terlihat diwajah gadis itu. “Tidak ada yang memanggilmu Chunnie Oppa selain aku bukan Oppa?”

Yoochun langsung menarik tubuh Minhee ke dalam pelukannya. Memeluk gadis itu erat seakan tidak ingin melepaskannya.

“Aku juga sangat merindukanmu Yeonhee. Aku merasa kesepian tidak ada kau di sampingku. Jangan pergi tinggalkan aku Yeonhee-ah.”

Yeonhee yang berada dalam tubuh Jiyeon memeluk suaminya. Tiba-tiba pintu terbuka dan menampakan Sungkyu yang terengah-engah karena berlari. Sunggyu memanggil Jiyeon membuat Yoochun dan Yeonhee melepaskan pelukan mereka. Sunggyu menarik tangan Yeonhee dari Yoochun.

“Kau tidak apa-apa Jiyeon? Kita pergi dari sini.” Cemas Sunggyu.

Yeonhee tersenyum pada lelaki itu dan Sunggyu merasa itu bukanlah senyuman Minhee. Gadisnya tidak pernah tersenyum seperti itu.

“Maaf tuan, tapi aku bukan Jiyeon. Dan aku tidak akan pergi dari sini.”

“Jangan bercanda Jiyeon.” Sunggyu masih tak percaya.

“Aku tidak bercanda tuan. Namaku Park Yeonhee dan aku adalah istri Park Yoochun.”

Tubuh Sunggyu membeku mendengar pernyataan gadis itu. Dia tidak percaya karena gadis dihadapannya seharusnya Minhee yang berada dalam tubuh Jiyeon.

“Tidak. Itu tidak mungkin. Kau adalah Park Jiyeon bukan Park Yeonhee. Ayo kita pergi.”

Yeonhee menepis tangan Sungkyu kasar. Tatapannya berubah kesal tertuju pada Sunggyu.

“Aku tidak mau pergi denganmu tuan. Aku ingin tinggal bersama suamiku.” terdengar nada marah di suara Yeonhee.

Yoochun menghampiri Sunggyu dan mendorongnya keluar dari kamarnya. Sunggyu yang masih terkejut dengan penolakan Yeonheebhanya bisa berjalan keluar.

“Kau sudah dengar sendiri bukan? Jadi sebaiknya kau pergi Sunggyu-ssi. ” Yoochun menutup pintu itu meninggalkan Sunggyu yang masih berdiri mematung.

Yoochun kembali menghampiri istrinya dan tak memperdulikan teriakan dan gedoran pintu Sunggyu. Lelaki itu memeluk istrinya lembut dan mencium keningnya lembut.

 

*   *   *   *   *

 

Terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Myungsoo yang tengah menikmati kopi menyungingkan senyuman. Lelaki itu menunggu tunangannya keluar dari kamar mandi. Tak lama lelaki itu menguap karena semalam dia tidak bisa tidur dengan Jiyeon berada di sampingnya.

Terdengar ponsel Jiyeon yang tergeletak dimeja berdering. Myungsoo mengambil ponsel itu dan melihat nama ‘Nam Woohyun’ tertera di layar ponselnya. Mendengar Jiyeon masih mandi Myungsoo memutuskan menerima telpon itu.

“Jiyeon kau tidak apa-apa? Sejak kemarin kau tak menghubungiku. Apa terjadi sesuatu dengamu dan Kim hwajangnim?” Cemas Woohyun.

Myungsoo masih terdiam tak menjawab apapun. Lelaki itu masih terkejut mendengar Woohyun memanggil sang pemilik telpon dengan nama ‘Jiyeon’ bukan ‘Minhee’.

“Jiyeon kau mendengarku? Jiyeon jawab aku.” Panggil Woohyun.

“Apa maksudmu memanggil Minhee dengan nama Jiyeon, Nam biseonim?”

Seketika Woohyun diam seribu bahasa mendapati Myungsoo yang menjawab telponnya.

“Katakan padaku, apa maksudmu memanggil Minhee dengan Jiyeon, Nam biseonim?” Kali ini Myungsoo menekankan setiap kata yang diucapkannya untuk menuntuk Woohyun menjawab pertanyaannya.

Josseonghamnida Kim Hwajangnim saya memanggil Minhee bukan Jiyeon. Anda salah dengar.” Woohyun berusaha menutupi kesalahannya.

“Jangan coba-coba menutupi kebenaran dariku Nam biseonim. Atau aku akan ke apartementmu dan membuatmu jujur padaku.”

Tak ada suara ataupun nada putus. Kemudian terdengar helaan nafas dari ujung telpon. Hingga akhirnya mau tak mau Woohyun menceritakan tentang pertukaran Minhee dan Jiyeon. Awalnya Myungsoo tidak percaya dan tak ingin percaya tapi dia tahu Woohyun tidak akan berani membohonginya.

Tangan Myungsoo terkulai dan tak mendengarkan penjelasan Woohyun leboh lanjut. Bersamaan Jiyeon pun keluar dari kamar mandi mengenakan pakaiannya semalam seraya mengeringkan rambut dengan handuk. Gadis itu menoleh dan tersenyum pada Myungsoo. Namun senyuman itu lenyap melihat wajah dingin Myungsoo beserta ponsel di tangannya.

“Jadi kau bukan Minhee?” Myungsoo melayangkan tatapan tajam Jiyeon.

Oppa aku….”

“Jadi benar yang Woohyun katakan. Kau bukanlah Minhee.”

Oppa aku bisa menjelaskannya.”

“Kau tak perlu menjelaskan apapun karena aku sudah mendengar semuanya. Kau sudah membohongiku. Berani sekali kau berpura-pura menjadi Minhee dan menikmati semua perhatianku HUH?” Bentak Myungsoo.

687474703a2f2f32352e6d656469612e74756d626c722e636f6d2f74756d626c725f6d326a746935563142773171686d7a336c6f315f3530302e676966

Oppa aku…”

“Berhenti memanggilku seperti itu. Kau tidak pantas memanggilku seperti itu. Keluar dari rumahku.” Perintah Myungsoo.

“Tapi…”

“KELUAR!!” Jiyeon melangkah mundur mendengar amarah Myungsoo.

Akhirnya Jiyeon memilih mengikuti perintah lelaki itu. Dia mengambil tas di kursi lalu menghampiri Myungsoo untuk mengambil ponsel di tangan lelaki itu.

“Jika kau menyayangi Minhee, sebaiknya tidak mengatakan apapun tentang hal ini.” Ucap Jiyeon.

Myungsoo mendengus sinis. “Cciihhh…. Untuk seseorang yang berbohong padaku, bukankah tak layak mengatakan hal itu padaku?”

Jiyeon merasa kesal karena Myungsoo bersikap seolah semuanya adalah kesalahannya padahal Minhee sendiri yang memutuskan untuk tidak mengatakan kebenarannya pada Myungsoo. Gadis itu mengambil ponsel Minhee dan berjalan segera keluar sesuai perintah Myungsoo.

Tangan Myungsoo terkepal, dia mengambil cangkirnya dan melemparkannya dengan keras. Cangkir yang membentur dinding seketika pecah berkeping-keping. Nafasnya memburu menahan emosi.

“Kau harus menjelaskannya langsung padaku Tae Minhee.” Ucap Myungsoo yang diiringi teriakan frustrasi.

 

*   *   *   *   *

 

Yeonhee menyisir rambutnya di depan cermin rias. Perlahan rambut Jiyeon yang hitam nan panjang sudah terlihat rapi. Di samping gadis itu Sungjong muncul dengan menunjukkan ekspresi ketidaksukaannya.

“Aku memintamu untuk membantu Minhee lepas dari suamimu bukan untuk merebut tubuhnya.” Sungjong berkata dingin.

Yeonhee meletakkan sisir dan menoleh memandang malaikat yang merupakan adik Minhee itu. Wanita itu tersenyum lembut pada Sungjong.

“Aku tidak merebutnya Sungjong-ah. Aku hanya meminjamnya sebentar.”

“Tapi nyawa Minhee akan dalam bahaya jika dia tidak segera kembali ke tubuhnya.”

“Aku tahu. Aku hanya ingin memberikan sesuatu pada Yoochun yang tertunda. Sesuatu yang belum sempat aku berikan aku meninggalkannya. Aku mohon Sungjong-ah. Berikan aku sedikit waktu setelah itu aku akan mengembalikan tubuh ini.”

Sungjong menghela nafas mendengar permintaan Yeonhee. “Baiklah. Ingat Yeonhee Tuhan akan menghukummu jika kau menyalahgunakan tugasmu.”

“Aku mengerti. Gomawo Sungjong-ah.”

Sungjong menghilang bersamaan Yoochun keluar dari kamar mandi. Lelaki itu mengacak-acak rambutnya yang masih basah dengan handuk.

“Kau berbicara dengan siapa yeobo? Sepertinya aku mendengar kau berbicara dengan seseorang.”

“Aku tidak berbicara dengan siapa-siapa Oppa. Mungkin hanya perasaanmu saja.”

Yeonhee menghampiri Yoochun yang sedang mengenakan kemeja biru muda. Kedua tangan Yeonhee terbuka lebar dan meneluk suaminya dari belakang.

“Chunnie Oppa, bisakah kita kembali ke rumah kita sekarang?”

Tangan Yoochun yang sedang mengancingkan kemejanya terhenti.

“Mengapa kau ingin pulang? Bukankah di sini sangat indah?”

“Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu Oppa tapi sayangnya benda itu berada di rumah.”

Yoochun melepaskan pelukan istrinya dan berbalik. Tangannya terulur menyelipkan rambut Yeonhee ke belakang telinganya.

“Baiklah. Tapi aku harus menemui seseorang dulu setelah itu kita kembali bagaimana?”

“Baiklah.” Yeonhee mengangguk senang.

 

*   *   *   *   *

 

Jiyeon duduk di salah satu bangku taman yang kemarin di kunjunginya bersama Myungsoo. Gadis itu menutup mata membiarkan air mata menetes mengingat kenangannya bersama Myungsoo. Tatapan Myungsoo yang dingin padanya menunjukkan kebencian lelaki itu pada gadis itu.

url

“Jiyeon-ah.”

Gadis itu membuka matanya dan melihat Woohyun berdiri di hadapannya. Tangan Jiyeon segera mengapus air matanya. Woohyun duduk di samping lalu melihat wajah sedih gadis di sampingnya.

Mianhae. Karena aku Kim hwajangnim jadi mengetahuinya.” Sesal Woohyun.

Gwaenchana Oppa. Lagipula kebohongan apapun pasti akan terkuak juga.”

“Apa dia sangat marah?”

Jiyeon mengangguk lemah. “Dia… Dia sangat marah dan dia menyalahkanku atas kebohongan ini.”

“Tapi Minheelah yang memutuskan untuk tak mengatakan apapun padanya. Seharusnya kau menjelaskannya.”

“Aku rasa percuma Oppa. Dia tidak akan percaya padaku. Hanya Minheelah yang bisa menjelaskannya.”

“Kau benar. Kita tidak bisa melakukan apapun sebelum Minhee kembali.”

Jiyeon menghela nafas dan matanya menerawang ke depan. Meskipun Jiyeon sudah berusaha menahan perasaan itu tapi tetap saja hatinya terasa sakit. Sebuah tangan meraih bahu Jiyeon dan memeluknya.

“Aku tahu kau ingin menangis. Menangislah. Bahu ini selalu siap untuk menjadi tempat sandaranmu.”

Seketika tangisan Jiyeon pecah dan Woohyun menepuk-nepuk pelan punggung Jiyeon. Wajah lelaki itu menunjukkan kesedihan melihat gadis dalam pelukannya terluka.

 

*   *   *   *   *

 

Sunggyu menghampiri Yeonhee yang duduk seraya menikmati teh di sebuah caffe. Tanpa ijin dari gadis itu, Sunggyu duduk dihadapannya. Yeonhee menatap Sunggyu dengan wajah polosnya.

“Di mana Minhee?”

Yeonhee meyunggingkan sebuah senyuman. Meskipun Yeonhee dalam tubuh Jiyeon seperti Minhee namun wanita itu lebih anggun daripada Jiyeon dan Minhee. Terlihat jelas dress putih bunga-bunga yang dikenakannya beserta high heels putih khas wanita.

“Ternyata gadis bernama Minhee sangat spesial untukmu ne?”

“Tentu saja dia sangat spesial. Jadi katakan dimana Minhee?”

“Kau tenang saja. Dia berada di tempat yang aman. Lagipula aku masuk ke tubuh ini juga demi menyelamatkan kekasihmu dari Chunnie Oppa. Aku hanya akan meminjam tubuh ini sebentar. Setelah keinginanku tercapai aku akan mengembalikannya.”

“Dan kapan keinginan itu terwujud?” Tanya Sunggyu tak sabar.

“Sebentar lagi. Tapi aku juga membutuhkan bantuanmu.”

“Jika hal ini untuk menyelamatkan Minhee, aku akan membantumu.”

 

*   *   *   *   *

 

Myungsoo meletakkan sebuah gelas dan memberi tanda bartender untuk menuangkannya kembali. Wine dari botol berpindah ke gelas kecil Myungsoo. Dalam sekali teguk lelaki itu menghabiskan. Kedua pipi Myungsoo yang memerah menandakan lelaki itu sudah mabuk.

“Sudah cukup hwajangnim. Kau sudah mabuk.” Seungyeol menahan gelas Myungsoo yang hendak meminumnya lagi.

“Minggir Seungyeol-ah. Jangan menghalangiku.” Myungsoo mendorong Seungyeol terhuyung. Sekertarisnya itu dengan sigap menangkap tubuh Myungsoo yang hampir terjatuh.

“Minhee. Minhee.” Panggil Myungsoo yang mulai tak sadarkan diri.

Akhirnya Seungyeol membawa atasannya itu ke dalam mobil. Lelaki bertubuh tinggi itu melihat Myungsoo yang tertidur di sampingnya seraya mengigau memanggil Minhee. Seungyeol meraih ponselnya dan menelpon gadis yang di panggil Myungsoo.

Minhee, ini aku Lee biseonim.” Ucap Sungyeol setelah mendengar suara Jiyeon.

“Ada apa menelponku selarut ini Lee biseonim?”

“Bisakah kau datang ke rumah Kim hwajangnim?” Suasana hening tak terdengar jawaban apapun dari Jiyeon. “Saat ini Kim hwajangnim sedang mabuk. Dan aku masih harus mengurus pekerjaan yang ditinggalkannya. Bisakah anda membantuku untuk menjaganya?” Pinta Seungyeol.

“Baiklah. Aku akan ke sana.”

Setelah mengucapkan terimakasih Seungyeol menutup telpon itu. Lelaki itu segera melajukan mobil menuju apartement Myungsoo. Tiga puluh menit kemudian Seungyeol melihat Myungsoo yang sudah ditidurkan di ranjang. Dia menoleh dan menatap Jiyeon yang sudah berada di sampjngnya.

“Aku harus pergi. Terimakasih sudah mau menjaganya Tae hwajangnim.”

Jiyeon mengangguk dan Seungyeol pergi meninggalkan Jiyeon dan Myungsoo berdua. Gadis itu menghampiri Myungsoo dan melepaskan sepatu Myungsoo. Tangan Jiyeon terhenti saat mendengar Myungsoo mengigau memanggil Minhee.

Gadis itu mendekati wajah Myungsoo dan mengamati lelaki yang tangah tertidur itu. Tangannya terulur menyentuh pipi Myungsoo yang memerah. Terdengar nama Minhee keluar dari bibir Myungsoo kembali. Seketika tangan Jiyeon berhenti diudara. Merasakan air mata yang menggumpal di mata, gadis itu berdiri. Langkahnya terhenti saat merasakan tangannya tertahan.

“Jangan pergi Minhee. Jangan tinggalkan aku.” Ucap Myungsoo yang masih tak sadarkan diri.

Jiyeon menatap Myungsoo yang terus memanggil Minhee. Dengan satu tangannya yang bebas Jiyeon melepaskan tangan Myungsoo. Segera gadis itu berjalan cepat keluar dari kamarnya. Gadis itu menuju dapur yang agak jauh dari kamar Myungsoo. Gadis itu bersandar di dinding dan meremas dadanya yang terasa sakit.

Jiyeon sudah berusaha menahan ataupun mematikan perasaan ini tapi gadis itu tak mampu mengendalikan hatinya. Dan sekarang hanya kesakitan yang gadis itu rasakan. Air matanya akhirnya keluar. Gadis itu menepuk-nepuk dadanya berharap sakit didalamnya berkurang. Isakan tangis tertahan memecahkan keheningan.

Dalam kamar, Myungsoo membuka matanya. Dia mendengar suara isakan tangis Jiyeon. Lelaki itupun turun dari ranjangnya. Perlahan dia membuka pintu lalu berjalan menuju sumber suara dengan terhuyung. Dari balik dinding dia bisa melihat Jiyeon duduk memeluk lututnya. Bahunya bergerak seiring tangisnya. Tangan Myungsoo terkepal menahan diri untuk memeluk gadis itu. Dia memilih berbalik dan meninggalkan Jiyeon.

 

*   *   *   *   *

 

Yeonhee menggenggam tangan Yoochun memasuki rumah mereka. Wajah gadis itu terlihat bahagia melihat rumah yang sudah lama tidak dikunjunginya. Lelaki dibelakang Yeonhee juga tampak bahagia melihat istrinya sudah kembali meskipun dalam tubuh yang berbeda.

“Jadi sesuatu apa yang ingin kau berikan padaku?”

Yeonhee hanya tersenyum pada suaminya lalu menariknya menuju kamar mereka. Pintu berwarna putih dibuka dan memperlihatkan kamar yang luas dan tampak mewah layaknya kamar hotel VIP.

Gadis itu melepaskan genggamannya dan menghampiri meja rias berwarna cream yang sengaja tidak Yoochun singkirkan. Kaca besar memantulkan bayangan Yeonhee dalam tubuh Jiyeon. Dia menyentuh kaca itu mengingat bagaimana setiap hari dia selalu duduk di depan kaca itu dan merias wajahnya.

Tangannya berpindah pada laci meja lalu membukanya dan tampak amplop didalamnya. Gadis itu mengambilnya lalu menghampiri suaminya kembali. Dia menyerahkan amplop itu pada Yoochun.

“Waktuku sudah habis Oppa.” Yoochun menatap gadis itu seakan menanyakan apa maksud ucapannya.

“Oppa harus bisa menerima kenyataan jika aku sudah meninggal. Sekarang aku sudah menjadi malaikat dan dunia kita berbeda Oppa.”

“Tapi kau tahu aku tak bisa hidup tanpamu Yeonhee-ah.” Yoochun menahan tangan istrinya untuk mencegahnya pergi.

Yeonhee menyentuh pipi suaminya. “Aku tahu Oppa. Tapi Tuhan sudah menulis jalannya seperti ini. Kita tidak bisa menentang jalan itu.”

Yeonhee menghapus air mata Yoochun. “Surat ini aku tulis sebelum aku meninggal Oppa. Aku menaruhnya di laci berharap kau menemukannya tapi kau tak pernah menyentuh laci itu.”

“Aku selalu mengingat dirimu jika aku melihat meja rias itu.”

“Sudah waktunya Yeonhee.” Gadis itu bisa mendengar Sungjong mengingatkannya. Yeonhee menoleh dan melihat Sungjong berdiri di sampingnya dan wanita itu mengangguk mengerti ucapan malaikat itu.

“Aku sudah menuliskan semua untukmu di surat ini Oppa. Setelah membacanya kau akan tahu apa yang aku inginkan.”

Yeonhee memeluk suaminya untuk terakhir kalinya. “Kau lelaki yang baik Oppa dan tetaplah bersikap yang baik untuk seterusnya. Aku sangat menyayangimu. Selamanya aku akan selalu berada di hatimu Oppa.”

Tiba-tiba tubuh gadis itu terkulai lemas. Yoochun menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh.

“Aku juga sangat menyayangimu Yeonhee.” Ucap Yoochun meneteskan air mata.

Tangisan Yoochun pecah dan lelaki itu tak perduli jika orang lain mendengarnya. Karena saat ini Yoochun harus merasakan kehilangan istrinya untuk kedua kalinya. Terdengar erangan lirih dan gadis dalam pelukan Yoochun tersadar.

“Yeonhee.” Panggil Yoochun melepaskan pelukannya.

Gadis itu menatap Yoochun yang begitu dekat dengannya. Segera gadis itu mendorongnya. Dia melihat sekeliling begitu asing buatnya.

“Di mana ini?” Bingung gadis itu.

“Yeonhee.” Gadis itu menatap Yoochun yang masih memanggil nama istrinya.

“Aku bukan Yeonhee. Dia sudah kembali ketempatnya.” Ucap Minhee yang ternyata sudah kembali ke dalam tubuh Jiyeon.

Yoochun menggelengkan kepalanya keras dan berteriak tidak menerima dia kembali kehilangan istri yang dicintainya. Yoochun terduduk dilantai dan memukul-mukul lantai merasa tidak adil dengan keadaan yang diterimanya. Lelaki itu menangis dan terus memanggil istrinya. Melihat Yoochun yang rapuh mengingatkan dirinya saat kehilangan ayahnya. Minhee menghampiri Yoochun dan berlutut di hadapannya. Gadis itu menepuk bahu Yoochun pelan.

“Kehilangan seseorang yang sangat berharga sangatlah berat Yoochun-ssi. Setiap orang pasti akan merasakannya. Tetapi kita tidak bisa hanya mengunci diri dalam masa lalu. Yeonhee ingin kau berjalan maju tanpa menoleh ke belakang Yoochun-ssi. Dia ingin kau menemukan seseorang yang akan mendampingimu. Awalnya memang sakit tapi kau pasti bisa melewatinya Yoochun-ssi.”

Lelaki itu menatap surat di tangannya dan ingat jika Yeonhee mengatakan keinginannya tertuang dalam surat itu. Dia membuka surat itu dan mulai membacanya. Dalam surat itu Yeonhee mencurahkan betapa sayangnya dirinya pada suaminya itu. Namun sayang sekali penyakit yang dideritanya membuatnya selalu melupakan lelaki yang setia berada di sampingnya.

Di bait kedua Yeonhee menulis agar Yoochun berhenti bersedih jika kehilangan dirinya. Yeonhee amat sangat menyesal karena harus meninggalkan suaminya terlebih dahulu. Dan juga Yeonhee meminta Yoochun untuk tidak menyerah dan jangan berubah karena dia lebih menyukai suaminya yang baik hati.

Yoochun tersentuh membaca surat itu namun kemudian dia menghapus air matanya dan menyunggingkan senyuman terimakasih pada Minhee yang sudah meminjamkan tubuhnya beberapa saat untuk istrinya.

Terdengar suara langkah kaki yang berlari. Mereka berdua menoleh saat mendengar Sunggyu memanggil Minhee dengan ‘Jiyeon’. Lelaki itu segera menghampiri Minhee dan memeluknya. Minhee melepaskan pelukan itu dan menanyakan bagaimana bisa Sunggyu berada di sana.

“Yeonhee yang memintaku untuk menjemputmu.”

Mendengar nama istrinya, Yoochun langsung menatap Sunggyu penuh tanya. “Yeonhee sudah merencanakan ini saat di Macau.” Jawab Sunggyu.

“Yeonhee pasti ingin kau bahagia Yoochun-ssi. Jadi jangan menyerah.” Minhee memberikan senyum untuk menyemangati Yoochun. Dengan ajaib mutiara putih kembali berubah menjadi biru.

“Terimakasih Jiyeon-ssi.

Minhee dan Sunggyu meminta diri untuk pulang. Namun langkah mereka terhenti saat Yoochun memanggil Sunggyu. “Untuk perjanjian kerjasama itu, aku akan menerimanya.”

Wajah Sunggyu menjadi cerah mendengar kabar baik dari Yoochun. Dia membungkuk mengucapkan terimakasih pada Yoochun. “Jangan berterimakasih padaku. Berterimakasihlah pada sekertarismu. Karena dia sudah membantuku.”

Sunggyu mengangguk lalu dia bersama Minhee keluar dari rumah Yoochun. Saat berada di dalam mobil, Minhee menunjukkan gelang di pergelangan tangannya. Sunggyu terkejut melihat mutiara putih tinggal satu lagi.

“Sebentar lagi aku akan kembali ke dalam tubuhku sendiri.” Sunggyu ikut bahagia mendengar Minhee senang.

“Baguslah. Aku akan sangat senang jika kau kembali ke tubuhmu.”

Tangan Sunggyu terulur memberikan sentilan di dahi Minhee.

“YA!! Untuk apa kau melakukan ini Oppa?” Kesal Minhee.

“Itu hukuman untuk tindakan cerobohmu mengunjungi kamar Yoochun sendirian. Tidakkah kau berpikir bagaimana khawatirnya aku?”

Mianhae. Aku hanya ingin membantumu Oppa. Kulihat kerjasama itu sangat penting untukmu jadi aku tidak bisa tinggal diam.”

“Kerjasama itu memang sangat penting, tapi jika harus membahayakanmu, aku lebih memilih melupakan kerjasama itu. Lain kali jangan melakukan hal seperti itu lagi. Kau mengerti?”

Mimhee tersenyum senang mendengar Sunggyu mengatakan dirinya sangat penting untuknya. Lalu gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan kekasihnya itu.

 

*   *   *   *   *

 

“Dua hari ini aku mengikutinya dan tak ada hal yang mencurigakan antara Taecyeon dan tuan Sungsoo.” Jelas Changmin dengan ponsel menempel di telinganya. Diujung telpon lelaki bertubuh tinggi itu mendengar Sunggyu menghela nafas. Sunggyu mengucapkan terimakasih sebelum menutup telpon itu.

Changmin menaikki tangga menuju apartementnya. Lelaki itu masih penasaran dengan kasus yang belum bisa diungkapnya. Sama halnya dengan Sunggyu lelaki itu juga curiga ada yang aneh dengan lelaki bernama Oc Taecyeon. Setelah menyelidiki latar belakang lelaki itu ada beberapa yang ganjil dengan data lelaki itu. Seperti tidak tercantum nama kedua orangtuanya.

Langkah Changmin terhenti di depan pintu apaertemennya. Dahinya bertaut saat mendapati pintu rumahnya dibuka dengan paksa. Perlahan lelaki itu membuka pintu dan mengamati seluruh rumahnya dengan sikap waspada. Dia bisa melihat rumahnya begitu berantakan. Diapun menghampiri kamar dan terkejut melihat seseorang duduk di meja kerjanya.

Changmin bertanya siapa orang itu dan seketika kursi berputar menunjukkan Taecyeon membawa foto bukti keberadaannya di saat kebakaran rumah Yeonhee.

“Jadi karena foto itu kau mengikutiku?” Tanya Taecyeon.

Changmin menyuruh Taecyeon meletakkan foto itu kembali. Namun Taecyeon tak mengindahkan ucapan Changmin. Dia menyalakan korek api dan segera api itu melahap foto itu hingga tinggal abu.

“Foto itu sudah lenyap dan sekarang giliranku melenyapkanmu.” Taecyeon berdiri dan menghampiri Changmin yang tak beranjak. Saat Taecyeon hampir menekan jarak dia mengeluarkan pisau dan hendak menghunuskan ke perut Changmin. Namun sang detektif itu berhasil menghindar. Taecyeon menghampiri Changmin dan kembali membunuhnya.

Changmin berhasil menghindar namun dia merasakan perih di lengan kanannya karena tergores. Benar saja, darah kelur membasahi lengan kemejanya. Terdengar tawa puas Taecyeon.

“Aku tidak akan membiarkanmu lebih jauh dari ini?” Changmin justru tersenyum meremehkan mendengar ancaman Taecyeon.

“Bukan aku. Tapi kau yang tidak akan melangkah lebih jauh.” Sebelum Taecyeon memikirkan maksud ucapan Changmin, pintu terbuka dan 3 orang polisi masuk membekuk Taecyeon. Tatapan tajam dilayangkan Taecyeon kepada Changmin. Namun Changmin hanya cuek lalu menghampiri temannya Yunho.

“Terimakasih sudah datang hyung.” Changmin sudah menduga hal ini akan terjadi karena itu dia meminta Yunho dan teman yang lain berada di sekitar rumahnya.

“Tidak masalah.” Tatapan Yunho berhenti di luka bagian lengan Changmin. Menatap lengannya sendiri, Changmin berkata itu hanya luka kecil jadi dia biaa mengobatinya sendiri. Yunho dan dua polisi lainnya langsung membawa Taecyeon dengan kedua tangan yang sudah diborgol.

“Paling tidak aku bisa menahannya karena mencoba membunuhku. Besok aku akan memberitahukan hal ini pada Sunggyu.” Ucap Changmin segera ke kamar mandi membersihkan lukanya.

 

*   *   *   *   *

 

Pintu kamar terbuka dan Myungsoo melangkah keluar. Tangannya memegang kepalanya yang terasa pusing. Dia berjalan kedapur untuk melegakan tenggorokkannya yang kering.

“Minumlah lalu minum juga obat sakit kepala ini.” Myumgsoo melihat Jiyeon menyodorkan segelas air putih dan satu tablet obat. Dengan patuh Myungsoo mengambil gelas itu lalu meneguknya bersama obat itu.

“Aku sudah membuatkanmu roti panggang isi coklat. Dan ada Soup untuk menambah energimu.”

Dengan dingin Myungsoo mengusir gadis itu menghentikan Jiyeon yang sedang menata meja makan. Gadis itu bisa melihat tatapan kebencian melayang kearahnya. “Aku tidak akan pergi sebelum memastikan kau menghabiskan roti panggangmu. Aku tahu kau membenciku tapi suka atau tidak aku harus tetap disini karena aku sudah berjanji pada Seungyeol.”

Perutnya yang memang kelaparan membuat Myungsoo menahan diri untuk tidak berdebat dengan gadis yang sudah duduk menunggunya. Myungsoo menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya di kursi. Suasana hening dalam acara makan itu. Myungsoo tidak berniat sedikitpun mengucapkan sesuatu.

Myungsoo berdiri meninggalkan meja makan setelah selesai melahap rotinya. Sedangkan Jiyeon mengambil piring kotor dan mencucinya. Kegiatannya terhenti saat matanya memanas. Diapun berpegangan pada sisi bak cuci. Dia mengangkat kepalanya meredam air matanya. Di dalam hati, gadis itu berdoa agar secepatnya bisa kembali ketubuhnya dan pergi sejauh mungkin dari sang pemilik apartemen ini. Jiyeon hanya ingin melupakan perasaan ini.

 

~~~TBC~~~

 Untuk yang sudah komen n like dapet salam cinta nih dari Kim Myungsoo.

tumblr_mzggzuvFm81sgbtl8o1_500

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “(Chapter 11) Love & Revenge

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s