(Chapter 3) G.R.8.U

img1449812093572

img1449812093572

Chunniest Present

^

G.R.8.U

(Chapter 3)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice)

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Hakyeon berjalan terburu-buru menuju ruangan Taekwoon. Di tangan kanannya menggenggam sebuah map coklat. Seringkali lelaki itu dengan ramah menyapa karyawan lain di sela perjalanannya.

Akhirnya perjalanannya berakhir sampai dia membuka pintu ruangan Taekwoon tanpa mengetuknya. Sang pemilik ruangan yang sedang menandatangani dokumen mendongak dan melihat asistennya itu.

“Aku tidak percaya ini. Bagaimana bisa seseorang semirip ini? Aku seakan melihat Jikyung hidup kembali.” Hakyeon meletakkan map ditangannya di meja Hakyeon. “Aku rasa aku sudah tahu mengapa kau tak mengatakan sesuatu saat menelponku kemarin.”

Taekwoon meraih map itu dan membukanya. Dia melihat data-data yang berkaitan tentang Jiyeon. Lembar pertama adalah kopian akta kelahiran Jiyeon. Lelaki itu membacanya dengan seksama.

“Tapi ada hal lain yang mengejutkanku tentang gadis itu.”

Taekwoon mendongak dan menatap Hakyeon meminta penjelasan asistennya itu.

“Dia satu sekolah sekolah dengan Taehyung.”

Seakan tak percaya dengan ucapan Hakyeon, Taekwoon membuka lembar sebaliknya dan menemukan bahwa ucapan asistennya itu memang benar. Lelaki itu jadi ingat saat dia menjemput Taehyung tempo hari. Jadi gadis yang dianggap halusinasinya itu memang benar ada.

“Apa kau tidak berpikir jika gadis ini adalah kembaran Jikyung, Taekwoon-ah?” Tanya Hakyeon kembali.

“Itu tugasmu untuk mencari tahu.” Taekwoon kembali meneliti profil mengenai Jiyeon tak memperdulikan protes Hakyeon yang kembali mendapatkan tugas.

Membaca nama ‘Park Jimin’, mengingatkan Taekwoon pada keakraban kedua kakak beradik itu. Hal itu jugalah yang mengingatkan Taekwokn pada buruknya hubungannya dengan adiknya.

“Apakah masih ada lagi sajangnim?” Pertanyan itu menyadarkan Taekwoon lalu dia menoleh pada lelaki berkulit coklat itu.

“Hakyeon-ah, menurutmu bagaimana aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Taehyung?”

Hakyeon sedikit terkejut dengan pertanyaan atasannya itu. Selama ini Taekwoon tidak banyak bicara mengenai adiknya itu.

“Mengapa tiba-tiba kau menanyakan itu?”

“Jawab saja.” Hakyeon tak kembali bertanya mendengar perintah dingin Taekwoon.

“Melihat Taehyung yang sangat benci harus dibandingkan denganmu meskipun tak sebenci dia pada tuan besar Jung, akan sulit menyatukan kalian. Ditambah kalian terlihat bagaikan minyak dan air. Kau pendiam sedangkan adiknya banyak tingkah.” Analisa Hakyeon.

“Jika kau tidak memiliki solusinya, tak perlau melanjutkannya lagi.” Tak sabar Taekwoon.

“Solusinya mudah Taekwoon-ah. Kau hanya perlu mengajaknya bicara santai tanpa ada topik pembicaraan mengenai abeojimu di dalamnya. Atau kau bisa mengajaknya pergi ke tempat yang dulu pernah kalian datangi mungkin. Dengan begitu aku yakin Taehyung tidak akan bersikap dingin lagi padamu.”

Taekwoon memikirkan ucapan Hakyeon. Ingatan masa lalu terkuak kembali. Dulu saat Taehyung masih duduk di sekolah dasar mereka selalu bermain sepakbola bersama dan Taekwoon merindukan masa-masa itu.

“Taekwoon-ah. YA!! Taekwoon-ah.” Panggil Hakyeon menyadarkan lelaki itu. “YA!! Apa kau tak mendengarkanku?”

“Aku mendengarkanmu. Gomawo.”

“Oh ya satu lagi. Kau mendapatkan undangan pesta dari keluarga Bae.” Hakyeon kembali berkata.

“Keluarga Bae? Pesta apa?”

“Putri keluarga Bae bernama Irene besok malam akan mengadakan pesta pertunangannya dengan Shim Changmin.”

Taekwoon mengangguk lalu kembali meneliti data Jiyeon seakan memberi tanda Hakyeon untuk tidak mengganggunya. Akhirnya asistennya itu meninggalkan ruangan Taekwoon dan membiarkan sang pemilik ruangan berkutat dengan data-data mengenai Jiyeon.

 

G.R.8.U

 

“Jadi mimpi itu terus berulang-ulang selama seminggu lebih ini?” Tanya Jaehwan setelah mendengar cerita Jiyeon mengenai mimpinya.

“Apa kau tidak melihat wajahnya dengan jelas Jiyeon-ah?” Sahut Sooyoung.

Gadis yang duduk di samping Sooyoung menggelengkan kepalanya. “Aku hanya melihat matanya yang hitam kelam.”

“Jangan-jangan itu mata Hongbin sunbeinim.” Senang Sooyoung.

“Tidak. Mata Hongbin sunbeinim berwarna coklat gelap.” Ucap Jiyeon.

“YA!! Bagaimana kau tahu mata Hongbin hyung berwarna coklat?” Tanya Jaehwan.

“Tadi aku melihatnya saat berbicara dengannya.”

“Jika dalam mimpimu selalu lelaki itu yang mumcul maka kemungkinan besar dia adalah jodohmu. Jangan-jangan….” Jiyeon dan Jaewhan menatap Sooyoung bersamaan.

“Jangan-jangan apa?” Jiyeon bingung.

“Jangan-jangan Taehyung yang ada dalam mimpimu.”

Seketika mata Jiyeon melebar mendengar kesimpulan Sooyoung. “YA!! Mana mungkin dia. Lagipula aku tidak mau jika dia jodohku. Dia sangat menyebalkan.”

Belum juga Jaehwan dan Sooyoung menyahut, ponsel Jiyeon berdering. Wajah gadis itu terlihat tidak senang membaca nama yang tercantum di layar ponselnya.

“Gara-gara kau menyebut namanya, aku harus berurusan dengannya lagi.” Kesal Jiyeon pada Sooyoung.

“Ada apa menelponku?” Sapa Jiyeon tak ramah mengangkat telpon itu.

“Aku menunggumu di kantin. Sangat tidak menyenangkan makan siang sendiri.”

“Aku tidak lapar. Kau makan saja sendiri.” Tolak Jiyeon.

“Ahh.. Aku baru saja melihat Hongbin masuk ke kantin, apa aku harus menghampirinya?” Ancam Taehyung.

Jiyeon mendengus kesal mendemgara ancaman Taehyung kembali. “Baiklah aku akan segera ke sana.”

“Aku menunggumu chagiya.” Ucap Taehyung sebelum menutup telponnya.

“Kau mau kemana?” Tanya Sooyoung melihat Jiyeon berdiri.

“Menghadapi namja menyebalkan itu lagi.”

Jiyeon berjalan keluar kelas. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju kantin yang tidak jauh dari kelasnya. Memasuki kantin Jiyeon bisa melihat Taehyung melambaikan tangan penuh semangat padanya. Akhirnya dengan berat hati gadis itu menghampiri Taehyung. Tak diperdulikannya bisikan-bisikan murid lain yang membicarakannya dekat dengan si pembuat onar nomor 1 di sekolah.

“Cepat habiskan makananmu. Aku harus kembali ke kelas setelah bel berbunyi.” Ucap Jiyeon duduk di depan Taehyung.

Segera Taehyung melahap ramen di hadapannya. Wajahnya berubah senang mendapati Jiyeon sudah duduk di hadapannya.

 

Jangan-jangan Taehyung yang ada dalam mimpimu.

 

Ucapan Sooyoung mengusik pikiran Jiyeon. Gadis itu pun mengamati wajah Taehyung dan membayangkan kerudung hoodie menutupi kepala lelaki itu. Tepat saat Taehyung menatapnya Jiyeon bisa melihat jelas warna mata lelaki itu.

Nafas gadis itu seketika tercekat mendapatkan hasilnya. Mata Taehyung berwarma hitam sama persis dengan mata lelaki di mimpinya. Jangan-jangan lelaki dihadapannya memang jodohnya sepetti yang dikatakan Sooyoung. Hati Jiyeon menjerit menolak kesimpulan itu.

“Kenapa menatapku seperti itu? Apa kau baru sadar jika aku memang tampan?” Percaya diri Taehyung.

“Ciihh… Tampan dari mana Taehyung-ssi? Bahkan Hongbin sunbeinim lebih tampan darimu.”

“Itu karena kau sudah dibutakan namja membosankan itu.”

Sebelum perdebatan itu kembali berlanjut, bel masuk sudah berbunyi. Jiyeon terlihat senang karena bunyi penyelamatnya itu.

“Waktu habis, aku kembali ke kelasku.” Jiyeon berdiri dan meninggalkan Taehyung yang tidak memprotes.

Dengan santai Taehyung kembali menikmati ramennya tanpa memperdulikan murid-murid lain yang berlomba kembali ke kelasnya.

 

G.R.8.U

 

Ravi membuka pintu ruangan yang dulu digunakan ayahnya. Seorang pria yang menjadi asisten ayahnya mengikuti Ravi memasuki ruangan. Seperti biasanya ruang kerja itu terlihat begitu mewah dengan berbagai barang antik yang dikoleksi ayahnya.

Kaki Ravi terus berjalan hingga berhenti disamping kursi besar yang sekarang menjadi miliknya. Tangannya menyemtuh kursi itu seakan kursi itu adalah kursi milik seorang raja yamg begitu berharga. Akhirnya dia menghempaskan tubuhnya di atas kursi hitam besar itu. Bibirnya menyunggingkan senyum kepuasan mendapati dirinya yang duduk di kursi itu.

“Saya sudah mempersiapkan dokumen pergantian kepemimpinan yang akan jatuh ke tangan anda Ravi-ssi. Setelah kau menandatanganinya, maka kau resmi menjabat menjadi Presiden dorektur di perusahaan ini.” Jelas Kim Seokjin.

Gamsahamnida Seokjin-ssi.” Ravi membuka dokumen di hadapannya dan membacanya sekilas sebelum akhirnya menandatanganinya.

Seokjin mengambil dokumen yang sudah ditandatangani Ravi itu. “Selamat bergabung Kim Sajangnim. Mohon kerjasamanya.” seokjin membungkuk memberi hormat.

Gamsahamnida Kim biseonim.”

“Apakah ada yang anda perlukan sajangnim?” Tanya Seokjin.

“Ada satu hal. Aku ingin kau memberikanku semua informasi tentang keluarga Jung terutama Jung Taekwoon.”

“Baik. Saya akan mengerjakan tugas dari anda sajangnim. Permisi.” Seokjin menvungkuk sekilas sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan.

Mata Ravi masih menikmati seluruh ruangan yang mengingatkannya pada ayahnya. Dia meraih pigura yang berisi foto ayahnya bersama Yuri. Sedetik kemudian dia menutup pigura itu tak ingin mendapati apapun yamg berkaitan dengan ibu tirinya di ruangannya ini.

 

G.R.8.U

 

Taehyung berjalan ke kelasnya tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya. Tak ada yang membuat lelaki itu senang selain bertemu dengan Jiyeon. Ditambah strategi ancamannya berhasil membuatnya semakin senang.

Perjalanan Taehyung menuju kelasnya terganggu saat indera pendengarannya menangkap sesuatu. Sebuah nama yang dipanggil dengan nada marah dan mengancam. Taehyung berbalik dan memasuki lorong kecil. Hingga diujung ruangan, Taehyung bisa melihat Namjoon tengah menarik kerah Sanghyuk yang tampak ketakutan.

“Jangan berbohong padaku Han Sanghyuk. Kemarin aku melihatnya menarikmu ke atap. Jadi apa yang dia bicarakan HUH?” Bentak Namjoon.

Taehyung tahu siapa ‘dia’ yang disebut Namjoon. Terdengar Sanghyuk mengatakan ‘tidak ada apa-apa’ seraya menggelengkan kepalanya. Ternyata lelaki itu lebih takut pada Taehyung dibandingkan Namjoon.

“Mengapa kau tak menanyakannya langsung padaku Namjoon-ssi?”

Namjoon dan Sanghyuk menoleh terkejut mendengar suara dalam Taehyung. Kaki Taehyung melangkah mendekati mereka. Dia meraih tangan Namjoon dan melepaskannya paksa dari kerah Sanghyuk. Lelaki itu sempat merapikan kerah kemeja Sanghyuk yang kusut akibat ulah Namjoon. Lalu dia menoleh pada orang yang sudah membuatnya geram.

“Apakah pukulanku kemarin belum cukup eoh?” Taehyung menahan emosinya.

“Pukulan seperti itu kecil untukku.”

“Kalau begitu kau akan merasakan yang lebih besar.”

Perkelahianpun tak dapat dihindarkan. Meskipun Namjoon berhasil memukul wajah Taehyung beberapa kali, namun pukulan Taehyung yang lebih keras dan tanpa ampun membuat tubuhnya semakin lemah untuk melawan. Hingga akhirnya Taehyung mendorong lelaki itu hingga membentur dinding dan memukulnya berkali-kali.

Melihat wajah Namjoon yang sudah babak belur dan mengeluarkan darah di hidung serta sudut bibirnya menandakan lelaki itu sudah tak berdaya. Jika tidak dihentikkan, Taehyung bisa membunuh lelaki itu. Akhirnya Sanghyuk memberanikan diri memanggil Taehyung untuk menghentikan lelaki itu namun Taehyung seakan kerasukan setan hingga tak berhenti memukul.

Sebuah tangan menahan tangan Taehyung hingga menghentikan lelaki itu. Hongbin yang menatapnya dingin langsung mendorong Taehyung mundur. Tubuh Namjoon yang sudah tak berdaya terjatuh ke tanah. Ketua kedisiplinan itu memeriksa keadaan Namjoon yang parah. Tanpa pikir panjang Hongbin memanggil ambulans.

“Sanghyuk-ah, bantu aku membawa namjoon ke ruang kesehatan.” Perintah Hongbin.

Ne sunbeinim.”

Sanghyuk meraih tangan kiri Namjoon dan Hongbin di sisi lain. Hongbin menatap tajam Taehyung.

“Sebaiknya kau ikut denganku. Karena aku akan melaporkan perbuatanmu ini.” Ucap Hongbin.

Dengan santai dan tanpa merasa bersalah Taehyung mengikuti Hongbin dan Sanghyuk yang membawa Namjoon ke ruang kesehatan.

 

G.R.8.U

 

Area pemakaman siang itu terlihat sepi hanya Taekwoon saja yang berjalan menyusuri jalan setapak itu. Kakinya membawa lelaki itu menuju salah satu makam dengan foto Jikyung di tengah nisan.

Taekwoon meletakkan buket bunga aster putih di atas makam itu. Dia masih ingat jika bunga aster putih adalah bunga kesukaan Jikyung. Bahkan gadis itu menanam bunga itu di kebun rumahnya.

buket-bunga-aster-bandung-murah-07

“Apa kau baik-baik saja di sana Jikyung-ah?” Taekwoon membuka suaranya.

Tangannya menyentuh foto gadis itu. “Dia sangat mirip denganmu. Aku berharap gadis itu adalah kau. Aku selalu berharap kau kembali dan kembali memanggilku ‘Oppa’. Aku… Aku sangat merindukanmu Jikyung-ah.

Lelaki itu menunduk dan menghapus air mata yang mengancam keluar. Deringan ponsel mengalihkan perhatiannya.

“Ada apa Hakyeon-ah?” Tanya Taekwoon mengangkat telpon itu.

“Sekolah baru saja menghubungiku. Kau harus segera ke sana. Adikmu kembali berbuat ulah dengan memukul teman sekolahnya hingga dilarikan ke rumah sakit.”

“Aku akan segera ke sana. Jangan biarkan abeoji mendengarnya, atau dia akan marah besar pada Taehyung.” Perintah Taekwoon.

“Kau tenang saja aku sudah memberitahu pihak sekolah untuk tidak menghubungi rumahmu.”

“Baguslah. Batalkan semua pertemuanku hari ini. Aku harus ke sana.”

Taekwoon mengurungkan niatnya menutup telpon itu saat mendengar panggilan Hakyeon.

“Aku rasa ini kesempatanmu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Taehyung. Jadi jangan menyia-nyiakannya.”

Taekwoon mengiyakan sebelum akhirnya menutup telponnya. Lelaki itu kembali menatap nisan bertuliskan ‘Lee Jikyung’.

“Aku harus pergi. Lain kali aku akan datang lagi Jikyung-ah” Ucap Taekwoon sebelum beranjak pergi meninggalkan area pemakaman itu.

 

G.R.8.U

 

Jaehwan berlari menyusuri lorong dengan terburu-buru. Tak jarang lelaki itu harus meminta maaf karena menabrak murid yang lain. Hingga akhirnya lelaki berambut coklat tua itu sampai di kelasnya. Dia segera meghampiri kekasihnya dan Jiyeon yang sedang mengobrol.

“Kalian…. Apa kalian tahu berita besar tentang… Tentang Taehyung?” Tanya Jaehwan dengan nafas terengah-engah.

Jiyeon dan Sooyoung bersamaan menggeleng dan menanyakan apa yang terjadi.

“Taehyung memukul Namjoon sampai harus dilarikan ke rumah sakit.” Jelas Jaehwan dengan nafas yang mulai teratur.

“Ciihh… Dasar namja menyebalkan itu tak henti-hentinya membuat ulah. Memang mengapa dia memukul Namjoon hingga seperti itu?” Geram Sooyoung.

Jaehwan mengangkat kedua bahunya. “Entahlah.”

“Aku yakin Jung Taehyung itu pasti melakukannya untuk mengetahui kekuatannya. Dasar tidak berperikemanusiaan. Jiyeon-ah, jauhi namja semacam itu.”

Jiyeon yang sedari tadi diam hanya bisa mengangguk lemah. Entah mengapa gadis itu tidak percaya jika Taehyung memukul Namjoon hanya untuk mengetahui seberapa besar kekuatannya.

Meskipun Taehyung terkenal dengan kenakalannya, namun Jiyeon yakin lelaki itu tidak akan melakukan perbuatan seperti itu tanpa alasan. Karena jika tidak, gadis itu yakin Taehyung sudah memukul Hongbin sejak tadi.

Jiyeon meraih ponselnya dan mencari nomor telpon Taehyung. Dia memandangi nama ‘namja tampan’ itu. Hati kecil Jiyeon ingin sekali menekan tombol panggil untuk mengetahui apa yang terjadi, tapi otaknya menolak pemikiran itu. Akhirnya gadis itu memasukkan kembali ponselnya dan kembali mengobrol dengan kedua temannya.

 

G.R.8.U

 

Taehyung memandang jendela mobil yang dikendarai Taekwoon. Setelah Taekwoon mengurus masalah yang diperbuatnya, akhirnya dia mau tak mau harus mengikuti kakaknya pulang.

Sepasang indera penglihatannya menatap kakaknya yang serius menyetir. Sejak tadi Taekwoon tak mengatakan sesuatu padanya. Padahal Taehyung yakin jika Yunho yang berada di sampingnya pasti akan merecokinya dengan omelan-omelan.

“Aku tahu kau melakukannya untuk melindungi temanmu yang bermarga Han itu. Tadi dia yang memberi keterangan padaku.” Ucap Taekwoon memecahkan keheningan.

Taehyung kembali memandang jendela tak merespon ucapan kakaknya. Baru sesaat menikmati pemandangan yang disuguhkan kaca bening itu, Taehyung tersadar jika jalan ini bukanlah jalan menuju rumahnya.

“Ini bukan jalan pulang hyung.” Itu bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan yang diungkapkan Taehyung.

“Aku tahu. Kita akan pergi ke suatu tempat.”

Taehyung kembali terdiam dan tak ingin melanjutkan pembicaraan. Moodnya yang sedang buruk membuat lelaki itu memilih untuk diam. Tak lama kemudian mobil porshce Taekwoon berhenti di depan sebuah lapangan besar dengan dua gawang berdiri kokoh di kedua sisi lapangan.

“Untuk apa kita kemari hyung?” Bingung Taehyung.

“Tentu saja bermain bola. Sudah lama aku tidak bermain bola denganmu?”

Taekwoon mengambil bola sepak berwarna hitam putih di bangku belakang dan menyerahkan pada Taehyung.

“Sepak bola?” Taehyung menatap bola itu seakan benda itu adalah benda asih yang jatuh dari langit.

Ne. Waeyo? Apa kau lupa bagaimana cara memainkannya?”

“Tentu saja tidak hyung.” Taehyung menggelengkan kepalanya.

“Baguslah. Ayo kita bertanding.”

Taekwoon keluar dari mobilnya. Dia melepaskan jas dan sepatunya lalu memasukkannya ke dalam mobil. Kancing di pergerlangan tangan dilepas lalu menggulung lengan kemejanya hingga bagian sikunya.

Di sisi lain Taehyung juga keluar dan mengikuti hal yang dilakukan kakaknya. Dengan kakinya yang telanjang Taehyung memainkan bola dengan kakinya. Mereka berdua turun menuju lapangan dan berdiri di tengah lapangan. Taehyung meletakkan bola di tengah garis lapangan.

“Kepala atau ekor?” Tanya Taekwoon mengeluarkan koin dari sakunya.

Pilihan Taehyung adalah kepala. Kemudian kakaknya meleparkan koin itu lalu menangkap dengan tangan kanan dan meletakan di punggung tangan kirinya. Taehyung tersenyum melihat kepala muncul dalam koin itu.

“Aku menang hyung. Kita mulai.”

Taehyung mulai menggiring bola munuju gawang. Tak menyerah, Taekwoon berlari menyusulnya. Dengan lincah kaki Taehyung berlari dengan bola yang ada dalam jangkauan kakinya. Namun detik kemudian Taekwoon berhasil merebut bola itu dengan menggunakan kaki kirinya. Taehyung mendengus kesal lalu mengejar kakaknya menuju arah berlawanan.

Taehyung berusaha merebut bola itu dari kakaknya. Namun sayang kakaknya lebih lincah membawa bola itu hingga akhirnya Taekwoon melakukan tendangan yang membuat bola itu masuk gawang.

Taehyung kembali mendengus kesal. Dia mengambil bolanya dan kembali memulai permainan. Dia kembali berlari membawa bola menuju gawang yang berlawanan. Taekwoon kembali mengejar dan berusaha merebutnya dengan cara yang sama. Namun sayang, Taehyung bisa membaca gerakan itu. Dia melompati kaki kakaknya dengan menjepit bola di kedua kaki. Dengan leluasa Taehyung menembakkan bola itu dan mencetak gol.

“Jangan menganggapku remeh hyung.”

Akhirnya Taekwoon tersenyum mendengar ucapan adiknya. Sesuai ucapan Taehyung, kali ini Taekwoon akan bermain serius. Kedua kakak beradik itu terus asyik bermain bola dan berebutan mencetak gol. Tanpa terasa waktu satu jam sudah berlalu dan mereka sudah mulai kelelahan karena sudah lama tidak bermain sepak bola bersama.

Kedua lelaki itu berbaring diatas rerumputan menikmati langit sore. Nafas keduanya terengah-engah setelah berlari terus menerus.

“Seperti dulu, aku selalu menang.” Taekwoon tersenyum senang.

“Lain kali aku pasti akan mengalahkanmu hyung.”

“Aku menunggu kesempatan itu Taehyung-ah.”

Taekwoon menoleh melihat ke arah adiknya. Taehyung menutup mulut dan berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan. Perasaan senang menyelimuti hati Taekwoon karena bisa merasakan moment ini bersama adiknya. Ternyata saran Hakyeon bekerja dengan baik. Mulai sekarang Taekwoon bertekad untuk memperbaiki hubungannya dengan Taehyung yang terpisahkan jurang lebar. Taekwoon akan membuat jembatan untuk sampai di tempat Taehyung.

 

G.R.8.U

 

Perlahan Yoona mengoleskan foundation di lebam pipi Taehyung. Seringkali lelaki itu mengaduh kesakitan dan meminta ibunya menghentikannya namun Yoona tetap melanjutkannya.

“Gadis itu cantik juga.”

Nde?” Bingung Taehyung memdengar ucapan ibunya.

“Gadis yang kau telpon saat di sekolah, dia sangat cantik.”

Eomma melihatnya?” Sesaat kemudian Taehyung mengaduh kesakitan karena ucapannya menggerakan lebam di pipinya.

Ne. Kau tak ingin memberitahu eomma karena itu eomma mencari tahunya sendiri. Jadi siapa nama gadis itu?”

“Park Jiyeon.” Jawab Taehyung dengan senang.

“Nama yang cantik. Apa kau begitu menyukainya?”

Taehyung mengangguk mantap. Melihat tingkah putra bungsunya Yoona hanya tersenyum dan mengacak rambut Taehyung.

“Sudah selesai dengan begini abeoji tidak akan melihat lebam itu.” Yoona puas dengan hasil kerja menyembunyikan warna merah kebiruan di pipi Taehyung.

“Apakah abeoji tidak mengetahuinya?”

“Tentu saja tidak. Hyungmu yang meminta semua orang untuk tidak memberitahu abeoji soal ulahmu itu.” Jelas Yoona.

“Taekwoon hyung?”

“Tentu saja Taekwoon hyung. Kau tidak memiliki hyung lainnya. Dia hanya ingin melindungimu dari amarah abeoji. Sudahlah ayo kita turun untuk makan malam sebelum abeojimu curiga.” Yoona menarik putranya itu keluar dari kamarnya.

 

G.R.8.U

 

Pintu perpustakaan keluarga Kim terbuka. Seorang gadis melangkah masuk ke dalam ruangan yang tidak ada orangnya itu. Kaki Dahyun menghampiri sebuah meja kerja lengkap dengan kursinya yang sudah dirubah sedikit oleh kakak tirinya.

Tangan Dahyun menyentuh meja kayu hingga terhenti disebuah pigura. Dalam pigura itu tampak Ravi bersama ayah mereka. Gadis itu mengangkat pigura itu untuk melihat foto itu lebih jelas.

Jemarinya menyentuh wajah Ravi yang berusia 5 tahun itu. Berbeda dengan Ravi yang sangat dingin, dalam foto itu Ravi tersenyum senang layaknya anak-anak pada umumnya.

Suara pintu terbuka mengagetkan Dahyun. Dia melihat Ravi masuk ke dalam ruangan dan mematap Dahyun dingin.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Ravi.

Dahyun segera meletakkan pigur itu lalu memggelengkan kepalanya. ” Tidak ada apa-apa Oppa. Permisi.”

Dahyung berjalan menuju pintu namun langkahnya terhenti saat Ravi menahan pergelangan tangannya.

“Jangan memanggilku Oppa. Karena aku bukan kakakmu.” Ravi melepaskan cengkramannya dan membiarkan Dahyun keluar dari ruangan itu.

Ravi menghampiri mejanya dan meraih pigura yang tadi dipegang Dahyun. Dia melihat foto masa kecilnya bersama ayahnya. Hal itu sebelum ayahnya kembali menikah dan membuat seluruh kehidupannya berubah begitu juga dirinya. Dia meletakkan pigura itu dengan sedikit membantingnya sebelum akhirnya memilih salah satu buku untuk dibacanya.

 

G.R.8.U

 

Langkah kaki Jiyeon menyusuri jalan yang selalu dilewatinya. Dia menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan maupun ke belakang berharap seaeorang yang ditunggunya keluar. Namun hanya beberapa pejalan kaki yang berlalu lalang, bukan lelaki yang ingin di temuinya. Gadis itu menunduk kecewa.

“Hai.”

Mendengar suara dalam itu Jiyeon mendongak dan seketika bibirnya melengkung melihat Taekwoon berdiri dengan kedua tangan dimasukkan di saku celananya..

tumblr_ngndevYFtN1sy7xzgo1_1280

“Hai Taekwoon-ssi.” Sapa Jiyeon menghampiri lelaki itu.

“Kulihat kau tadi terlihat sedih apakah ada masalah?”

Jiyeon menggelengkkan kepalanya. “Aniyo. Apakah kau baru pulang?”

Taekwoon mengangguk. Suasana menjadi hening karena Taekwoon bingung harus membicarakan apa.

“Apakah kau mau mampir kerumahku?” Tawar Jiyeon.

“Untuk menikmati masakanmu yang enak, aku rasa ya.”

Mereka berdua berjalan berdampingan. Jiyeon melihat Taekwoon yang lebih memilih diam dan tak bertanya. Mungkin aku yang harus bertanya, pikir Jiyeon.

“Apa kau tinggal di sini sendiri Taekwoon-ssi?”

Ne.” Taekwoon tidak sepenuhnya berbohong karena dia memiliki apartement yang tak jauh dari tempat tinggal Jiyeon.

“Lalu dimana orangtuamu? Apakah kau memiliki saudara?”

“Kedua orangtuaku tinggal di pinggir kota Seoul. Aku memiliki satu adik lelaki.” Jawab Taekwoon.

“Apakah adikmu senakal adikku?”

Taekwoon terlihat memikirkan membandingkan Taehyung dengan Jimin.

“Aku rasa sama. Dia juga seumuran Jimin.”

“Wahh… Kau pasti juga sangat kesal padanya.” Jiyeon ingat adiknya yang menyebalkan.

“Tidak juga. Aku sangat menyayanginya.”

Jiyeon menoleh dan menatap kagum Taekwoon. Merasakan tatapan Jiyeon lelaki itu menoleh.

“Mengapa menatapku seperti itu?”

“Aku merasa kagum denganmu yang sangat menyayangi adikmu Taekwoon-ssi. Dengan sifatnya yang sama dengan Jimin aku bahkan membencinya.”

Kedua sudut bibir Taekwoon terangkat perlahan mendengar ucapan Jiyeon.

“Rasa benci itu hanya sesaat Jiyeon-ssi. Jika kau merasa sendirian kau baru menyadari betapa kau menyayangi adikmu.”

Jiyeon bertepuk tangan mendengar ucapan Taekwoonyang begitu puitis.

“Tak kusangka orang sependiam kau bisa mengatakan hal manis seperti itu Taekwoon-ssi.”

Memdemgar pujian itu Taekwoon kembali tersenyum. Tanpa lelaki itu sadari sekarang dia lebih banyak tersenyum dan senyuman itulah yang juga menjadi kekaguman Jiyeon.

“Jiyeon-ah.”

Jiyeon menoleh dan menyunggingkan senyuman pada Taekwoon.

“Apakah besok malam kau ada acara?”

“Memang ada apa Taekwoon-ssi?”

“Aku ingin mengajakmu ke sebuah pesta temanku, jika kau mau.”

Jiyeon memegang dagunya berpikir. “Aku mau jika kau bisa membantuku sebelum kita pergi.”

“Membantu apa?”

“Kau datang saja besok dan kau akan mengetahuinya.” Ucap Jiyeon membuat Taekwoon semakin penasaran.

Ponsel Taekwoon berdenring menghentikan langkah mereka berdua. Lelaki itu meraih ponselmnya dan mengangkatnya.

“Taekwoon-ah, aku menemukan sesuatu yang menghubungkan Jiyeon dan Jikyung. Bisakah kau kembali ke kantor?”

Taekwoon melihat Jiyeon yang tengah menunggunya menyelesaikan telponnya.

“Baiklah aku akan segera ke sana.”

Taekwoon memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.

“Sepertinya aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk makan malam di rumahmu. Ada masalah di kantor dan aku harus kembali.”

“Tidak masalah.” Ucap Jiyeon tersenyum padanya.

Entah mengapa mlihat senyuman itu, Taekwoon seakan melihat kekasihnya dalam tubuh Jiyeon. Tangan lelaki itu terulur menyentuh pipi Jiyeon yang terkejut dengan tindakannya.

“Taekwoon-ssi, ada …..”

Ucapan Jiyeon terhenti saat menemukan hal yang mengejutkannya. Mata hitam kelam yang dimiliki Taekwoon mengingatkan Jiyeon pada lelaki di mimpinya.

“Mianhae. Aku pergi sekarang. Sampai jumpa besok Jiyeon-ssi.” Ucap Taekwoon menyadarkan Jiyeon.

Gadis itu melambaikan tangan pada Taekwoon sebelum lelaki itu menghilang dari pandangannya. Taekwoon memiliki mata yang hitam namun Taehyung juga. Bagaimana bisa mereka kebetulan memiliki mata yang sama? Pertanyaan itu terus mengusik pikiran Jiyeon.

 

~~~TBC~~~

Terimakasih buat readersdeul yang sudah setia membaca ff ini dan makasih banget buat like dan komennya. Di FF ini juga jangan lupa like n Komen ya….

90f53136c46062fa

6 thoughts on “(Chapter 3) G.R.8.U

  1. Tuh kan bikin penasaran. Kira2 ap hubungan jiyeon dan jikyung. Trus gimana hub taehyung dan taekwoon yg uda mulai akur. Klo mereka tau mereka suka ama gadis yg sama aduh thor daebak bgt bikin ceritanya yg bikin aku penasaran pake bgt
    Good job bwt author nim.
    Keep writing and fiighting

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s