(Chapter 12) Love & Revenge (END)

love-revenge-1

love-revenge-1

Poster by JungLeeLovely

Title : Love & Revenge (Chapter 12)

Story by CHUNNIEST

Genre : Romance, drama

Lenght : Chapter

Cast :

* Tae Minhee (OC)

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Sunggyu (INFINITE)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

*Nam Woohyun (INFINITE)

* Lee Sungjong (INFINITE)

Tidak terasa akhirmya sudah sampai ending. Semoga endingnya tidak mengecewakan ya……

Gomawo untuk readersdeul yang sudah setia mengikuti ff ini dan makasih banyak untuk yang sudah komen dan like di setiap ff ini. Ffsudah ending tapi karya author tidak akan berhenti jadi tunggu karya author yang lain ya…..

Happy reading^-^

NB:

Hwajangnim = Presiden direktur

Iseonim = Direktur

Biseonim = Sekertaris

 

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

*   *   *   *   *

Minjung menatap gedung perusahaan Kim yang menjulang tinggi. Melihat gedung yang berdiri begitu angkuh mengingatkam Minjung pada lelaki yang muncul dari masa lalunya. Lelaki yang beberapa hari menemuinya. Wanita itu melangkah masuk ke dalam gedung itu. Di lobby, Minjung di sambut seorang gadis yang berdiri di belakang meja.

“Selamat pagi nyonya. Ada yang bisa saya bantu?” Sapa gadis itu dengan ramah.

“Aku ingin bertemu dengan Kim Sungsoo.”

Gadis itu tampak terkejut saat Minjung menyebutkan nama lelaki yang berperan penting dalam perusahaan itu.

“Apakah anda sudah janji nyonya?” Minjung menggeleng menjawab pertanyaan gadis itu.

“Maaf nyonya saya tidak bisa mempertemukan anda dengan tuan Sungsoo tanpa ada janji terlebih dahulu.”

“Tapi dia pasti dengan senang hati ingin bertemu denganku. Jadi katakan pada Kim Sungsoo jika Lee Minjung mencarinya sekarang.” Terdengar nada tegas yang sama seperti puttinya Minhee.

Gadis itu tampak ragu namun detik kemudian dia mengambil gagang telpon dan menelpon seseorang. Minjung melihat gadis itu mengangguk-angguk sebelum akhirnya menutup telpon itu.

“Mari Nyonya Lee saya akan mengantar anda.” Ucap gadis itu meminta Minjung mengikutinya. Mereka memasuki lift dan naik 8 lantai. Tak ada pembicaraan antara kedua wanita itu. Minjung terlalu sibuk mempersiapkan kata-kata yang hendak dilontarkan pada Sungsoo. Tak berapa lama pintu lift terbuka Minjung mengikuti gadis itu menuju ruangan Sungsoo. Minjung melihat sekertaris Sungsoo yang mengambil alih mengantarkan wanita itu.

“Akhirnya kau datang Minjung-ah.” Sungsoo memeluk Minjung setelah sang sekertaris meninggalkan mereka. Sungsoo melepaskan pelukannya dan menatap penuh rindu pada wanita itu. “Apa kau sudah memikirkan apa yang kukatakan?” Lanjutnya.

“Aku sudah memikirkannya.”

Sungsoo menggiring Minjung menuju sofa yang ada di ruangan itu. “Jadi apa keputusanmu?” TanyabSungsoo dengan nada tak sabar.

“Sebagai ibu Minhee aku membatalkan pernikahan itu. Dan aku tidak akan pernah lagi kembali kepadamu Sungsoo Oppa.”

Senyuman di bibir Sungsoo seketika Sirna. “Kau tahu apa yang bisa kulakukan jika kau membatalkan pernikahan ini Minjung-ah?”

“Tapi aku tidak akan membiarkannya.” Wanita menatap lelaki itu tanpa rasa takut. “Aku menyesal sudah memiliki hubungan dengan monster sepertimu Oppa. Tak akan kubiarkan kau menyakiti keluargaku. Aku datang kemari hanya ingin mengatakan itu. Selamat tinggal Oppa.” Minjung berbalik pergi meninggalkan Sungsoo yang menggeram.

Terdengar suara gigi-gigi yang saling berbenturan. Lelaki itu berteriak frustasi dan menyingkirkan semua benda di mejanya. Nafasnya tersengal-sengal karena emosinya memuncak. Penolakan Minjung kembali membuka luka lama yang sudah berusaha disembuhkannya.

Namun tentu saja Sungsoo tidak akan tinggal diam dengan penolakan ini. Dia masih memiliki segudang rencana membuat Minjung kembali padanya. Wajah amarahnya berganti dengan senyuman sinis. Mata lelaki itu seakan menunjukkan akan melakukan sesuatu yang tidak akan terduga.

 

*   *   *   *   *

 

Jiyeon keluar dari rumah setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Dengan kemeja putih dan celana panjang hitam, Jiyeon sudah siap menjadi Minhee. Gadis itu memasuki mobil yang sudah disiapkan untuknya.

Dia terkejut saat melihat Minjung sudah duduk di sampingnya. Mobil pun sudah berjalan membawa mereka menyusuri jalanan kota Seoul.

“Si-siapa anda?” Tanya Jiyeon tak mengenal wanita itu.

“Aku eomma Minhee, Jiyeon-ssi.” Jiyeon terkejut mendengar Minjung memanggilnya Jiyeon.

“Minhee sudah menceritakannya padaku tentang kalian. Dengar Jiyeon-ssi, ada yang harus kukatakan padamu. Beberapa hari yang lalu ayah Myungsoo mendatangiku. Dia mengatakan akan merebut perusahaan Taeyang jika aku tak kembali padanya.” Jiyeon terlihat bingung dengan kalimat terakhir Minjung.

“Aku dan ayah Myungsoo pernah memiliki hubungan yang salah. Dan dia menginginkanku kembali. Karena itulah tujuan utamanya menikahkan Myungsoo dengan Minhee. Tapi tadi pagi aku menolak untuk kembali padanya. Sungsoo bukanlah lelaki baik seperti yang terlihat Jiyeon-ssi Dia seperti monster yang akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya. Karena sekarang kau berada dalam tubuh Minhee, jadi berhati-hatilah.” Jiyeon mengangguk mendengar peringatan Minjung.

Tiba-tiba mobil berhenti mendadak membuat Jiyeon dan Minjubg hampir saja terantuk kursi di depannya. Jiyeon menanyakan pada sopir Jung apa yang terjadi. Lelaki itu menunjuk mobil van hitam di depan yang menghalangi jalan mereka.

“Aku rasa ayah Myungsoo sudah menjalankan rencananya.” Yakin Minjung melihat mobil itu.

Pintu mobil van terbuka dan beberapa lelaki mengenakan setelan hitam keluar dan menghampiri kedua sisi pintu belakang. Dengan paksa mereka membuka pintu dan langsung menarik Minjung dan Jiyeon keluar. Kedua wanita itu memberontak sedangkan sopir Jung berusaha menolong mereka namun sayang dua orang lelaki memukulinya.

Lelaki-lelaki itu mendorong paksa Minjung dan Jiyeon masuk ke dalam mobil dan meninggalkan sopir Jung yang tersungkur di jalan. Sopir Jung mengambil ponselnya dan segera menelpon Woohyun.

 

*   *   *   *   *

 

Minhee dan Sunggyu berjalan kembali menuju tempat kerja mereka setelah bertemu dengan Geunhyung yang senang mendengar misi mereka berhasil. Minhee dan Sunggyu terlihat sangat akrab saat mengobrol. Minhee lebih banyak tersenyum bersama lelaki dibsampingnya. Namun keakraban itu terhenti saat mendengar Myungsoo memanggil Minhee dan menghampiri gadis itu.

“Selamat pagi Kim hwajangnim.” Sapa Minhee namun tidak seperti biasa wajah Myungsoo begitu dingin.

“Apa kau akan memanggil tunanganmu seperti itu?” Minhee dan Sunggyu terkejut mendengar Myungsoo sudah mengetahui rahasianya.

“Ikutlah keruanganku ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Myungsoo melangkah pergi.

Minhee hendak mengikuti Myungsoo namun Sunggyu menahan lengannya. Minhee tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa sebelum akhirnya gadis itu melepaskan tangan Sunggyu. Sampai di ruangan Myungsoo, Minhee melihat lelaki itu berdiri seraya memasukan kedua tangan di saku celananya menunggu kedatangannya.

“Mengapa kau membohongiku?” Tanya Myungsoo dengan nada dingin.

“Maafkan Myungsoo-ssi. Aku hanya tidak ingin memperlihatkan kelemahanku.”

“Bahkan pada tunanganmu sendiri.”

Saat hendak menjelaskan, ucapan Minhee terputus saat ponselnya berdiri. Dia melihat Myungsoo berbalik membiarkan Minhee menerima telpon itu. Minhee tak pernah melihat Myungsoo semarah ini. Biasanya lelaki itu akan bersikap lembut padanya. Gadis itupun menerima telpon dari Woohyun.

“Ada apa Nam biseonim?” Minhee memulai pembicaraan.

Hwajangnim, baru saja saya menerima telpon dari sopir Jung. Dia mengatakan beberapa orang membawa eomma anda dan juga Jiyeon.”

MWO? Ta-tapi bagaimana bisa eomma datang tanpa memberitahuku?”

“Saya tidak tahu hwajangnim. Tapi sopir Jung mengatakan saat dia mengantar mereka eomma anda mengatakan ‘Aku rasa ayah Myungsoo sudah menjalankan rencananya’ itu yang dikatakan eomma anda sebelum menculiknya.”

Tatapan Minhee tertuju pada Myungsoo yang sedang bersandar pada meja menunggu dirinya selesai.

“Cepat cari tahu dimana mereka dan aku akan menanyakan langsung pada orang yang bersangkutan.”

“Baik hwajangnim.”

Minhee memasukkan kembali ponselnya lalu menghampiri Myungsoo.

“Baru saja Nam biseonim mengatakan bahwa beberapa orang telah menculik eomma dan Jiyeon, dia bilang hal ini berhubungan dengan appamu. Katakan padaku Myungsoo-ssi dimana mereka?”

“Aku tidak tahu.” Jawab Myungsoo tak perduli karena masih marah pada tunangannya itu.

“Dengar Myungsoo-ssi, aku tahu kau masih marah karena aku membohongimu. Tapi bantulah aku. Aku harus menyelamatkan mereka. Aku mohon Myungsoo-ssi.”

Lelaki itu melihat wajah Minhee yang memohon. Selama ini Myungsoo mengenal Minhee tak pernah memohon pada siapapun karena bagi gadis itu memohon adalah kelemahan. Myungsoo berdiri dan menghampiri Minhee. Kedua tangannya menangkup pipi Minhee dan menatap gadis yang dilanda kecemasan.

“Baiklah aku akan membantumu. Tapi aku tidak tahu apakah appa akan memberitahuku atau tidak.”

Minhee tersenyum lalu meganggukkan kepalanya. Myungsoo mengambil ponselnya dan menelpon ayahnya. Terdengar suara berat Sungsoo menyapa Myungsoo.

Appa, apa kau sudah dengar jika Sunggyu hyung berhasil membuat Park hwajangnim bekerjasama dengan Perusahaan Kim?”

“Iya appa sudah mendengarnya.”

Appa di mana? Aku ingin membicarakan hal ini.” Pancing Myungsoo.

“Kita bisa membicarakannya nanti. Appa harus menemui seseorang di daerah Heongdang.”

Minhee menatap Myungsoo yang sudah selesai menelpon. “Aku tahu di mana tempatnya.” Myungsoo menarik Minhee keluar dari ruangan itu.

 

*   *   *   *   *

 

Sunggyu berjalan memasuki kantor polisi. Setelah mendapat telpon dari Changmin jika dia menangkap Taecyeon karena hampir membunuhnya semalam,Sunggyu langsung segera datang.

Langkah Sunggyu terhenti sesaat saat merasakan sesuatu memasuki tubuhnya. Aura hitam keluar dari tubuh lelaki itu dan senyuman khas iblis menghiasi wajah Sunggyu. Lelaki itu kembali berjalan hingga bertemu dengan Changmin yang menyambutnya.

“Dia ada di dalam. Apa kau ingin bicara dengannya?”

Sunggyu mengangguk dan Changmin segera mengantar Sunggyu di ruang introgasi. Sebelum membuka pintu itu Changmin meminta barang-barang yang ada pada Sunggyu kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya. Setelah itu pintu terbuka dan Sunggyu langsung masuk ke dalam.

Taecyeon yang duduk dengan tangan diborgol langsung membungkuk menyapa Sunggyu. Lelaki itu duduk dihadapan Taecyeon dan menatapnya tajam.

“Ada apa anda datang kemari Iseonim?”

“Jadi kau belum mengakui kesalahanmu Yeonie hyung?”

Mata Taecyeon membulat mendengar nama yang sudah lenyap dalam hidupnya. Hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu.

“Kaukah itu Dongwoo-ya? Ta-tapi tidak mungkin itu kau. Bukankah kau sudah lama meninggal?”

Sunggyu tersenyum sinis dan berkata jika Taecyeon masih mengingatnya. Dongwoo yang memasuki tubuh Sunggyu memandang Taecyeon penuh kebencian.

“Dan kau tahu betul bagaimana aku meninggal Yeonnie hyung.”

“Ma-maafkan aku Dongwoo-ya. Aku terpaksa melakukannya.”

“Aku sudah menganggapmu seperti kakakku hyung tapi ternyata kau tega membunuhku hanya untuk mengikuti perintahnya. Ucapanmu saat di panti asuhan jika kau menyayangiku seperti adikmu sendiri itu apakah benar hyung? Tapi sepertinya itu hanya bualanmu.”

“Dongwoo-ya aku sangat menyesal sudah melakukan hal itu. Aku mohon maafkan aku.”

“Memaafkanmu? Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kau mengakui segalanya hyung.”

Taecyeon terdiam mendengar syarat dari Dongwoo. Wajahnya menunjukkan ketakutam yang besar membuat sang iblis tersenyum sinis.

“Mengapa hyung? Kau takut kekuasaan dan harta yang kau dapatkan saat ini akan sirna jika kau mengakui perbuatanmu? Apa kau tidak tahu betapa menderitanya aku menjadi iblis hyung?”

Taecyeon masih terdiam tak menjawab. Ucapan iblis Dongwoo memang benar, dia takut segala yang dimilikinya saat ini mengingat bagaimana susahnya dirinya saat berada di panti asuhan.

“Harta dan kekuasaan tidak akan kau bawa mati hyung. Apa kau tahu hyung saat kau meninggalkan dunia ini Tuhan akan mengirimmu ke neraka untuk disiksa? Tapi Tuhan masih bisa memaafkanmu jika kau mengakui kesalahanmu hyung.”

Dongwoo keluar dari tubuh Sunggyu membuat lelaki itu bingung sudah berada di dalam ruang introgasi. Sunggyu memanggil Taecyeon membuat lelaki itu tahu Dongwoo sudah menghilang dari tubuh Sunggyu.

Taecyeon memikirkan ucapan Dongwoo. Lelaki yang dianggapnya adik itu benar, Taecyeon sudah melakukan segala kesalahan hanya untuk melindungi harta dan kekuasaan yang didapatnya. Dia menatap putra dari ibu yang sudah dibunuhnya. Dia berdiri lalu berlutut di hadapan Sunggyu.

“Maafkan aku tuan Sunggyu. Aku mohon maafkan aku, karena aku, kau sudah sangat menderita.” Ucap Taecyeon ketakutan.

“Apa maksudmu Taecyeon-ssi?”

Taecyeon akhirnya menceritakan kejadian 15 tahun yang lalu yang membakar ibu Sungkyu dan Dongwoo.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

Hyung aku mohon hyung jangan lakukan ini. Wanita itu memiliki seorang anak. Jika kau membunuhnya dia tidak akan memiliki orangtua. Hyung pasti tahu bukan rasanya tidak memiliki seorang ibu ” Ucap Dongwoo yang duduk disamping Taecyeon. Mereka berdua tengah berada di mobil mengamati Yeonhee yang ada di dalam rumah.

“Tapi tuan Sungsoo sudah menugaskan kita Dongwoo-ya.”

“Kita bisa menggunakan cara lain tanpa harus membunuhnya.” Dongwoo masih bersikeras merayu Taecyeon untuk tidak melakukan tindakan yang berdosa.

“Tidak ada cara lain. Kita hanya bisa menuruti perintah tuan Sungsoo. Ayo.” Taecyeon keluar dari mobil dan diikuti Dongwoo dengan wajah yang takut. Taecyeon menendang pintu rumah dengan kasar membuat Yoohee yang sedang memasak langsung menoleh.

“Si-siapa kalian?” Tanya Yoohee ketakutan

“Kami dikirim untuk membunuh anda nyonya.” Ucap Taecyeon tanpa menunjukkan belas kasihan.

Seketika Yoohee melindungi diri dengan pisau dapurnya saat Taecyeon hendak menyakitinya. Wanita itu melemparkan barang-barang ke arah Taecyeon untuk mengusir lelaki itu. Taecyeon mengeluarkan sebuah pisau belati untuk membunuh Yoohee. Niatnya terhenti saat melihat Dongwoo menghalangi rencananya. Lelaki itu menyuruh Dongwoo menyingkir namun dia menggeleng keras.

“Aku sedang menjalankan tugasku Dongwoo-ya. Minggirlah.”

“Apa hatimu terbuat dari batu hyung? Dia hanya seorang wanita, tidakkah kau merasa kasihan padanya?”

Taecyeon mendengus sinis. “Jika rasa kasihan itu membuatku kehilangan harta dan kekuasaan yang sudah susah payah kuraih, aku tidak akan melakukannya. Jadi minggirlah. Jika tidak ingin melihat aku membunuhnya, kembalilah ke mobil dan tunggu aku menghabisi wanita itu.”

“Aku tidak akan membiarkanmu hyung. Katamu kita akan berusaha berdua tapi tidak seperti ini yang aku inginkan.”

Taecyeon berjalan tak memperdulikan Dongwoo, dia menghampiri Yoohee yang ketakutan. Lelaki itu hendak menghunuskan pisau namun Dongwoo menghalanginya membuat bahunya tergores pisau itu.

“Kubilang minggir Dongwoo-ya.” Dongwoo tidak menggubris perintah Taecyeon.

“Jika itu yang kau inginkan kau akan mati bersama wanita ini. Selamat tinggal.” Taecyeon keluar meninggalkan Dongwoo dan Yoohee. Mengetahui apa rencana Taecyeon, Dongwoo menatap Yoohee yang masih ketakutan.

“Di mana pintu lainnya?” Tanya Dongwoo dengan nada yang lebih lembut.

Karena Yoohee masih ketakutan dia hanya terdiam menatap lelaki di hadapannya. Dongwoo memegang kedua bahu Yoohee dan mengguncangkannya.

“Nyonya cepat katakan padaku. Hyung akan membakar tempat ini jadi katakan dimana pintu lainnya berada?” Tanya Dongwoo kembali.

Dengan tangan gemetar Yoohee menunjuk ke arah kanannya. Segera Dongwoo menarik Yoohee menuju pintu yang di tunjuk wanita itu. Namun sayang mereka berdua terlambat, api sudah menjalar di seluruh rumah. Bahkan pintu satu-satunya jalan keluar mereka sudah dikerubungi api. Mereka berdua begitu panik karena tak bisa menyelamatkan diri.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

“Maafkan aku tuan Sunggyu, aku benar-benar menyesal melakukannya. Aku bahkan harus kehilangan lelaki yang sudah kuanggap adikku sendiri. Aku mohon maafkan aku tuan Sunggyu.” Taecyeon membungkuk memohon maaf dengan tangis penyesalan.

Sunggyu bisa melihat penyesalan yang dalam di mata Taecyeon. Perasaan iba muncul di hatinya. Meskipun Taecyeon sudah membunuh ibunya tapi Sunggyu bukanlah orang jahat yang menyimpan dendam.

“Karena kau sudah mengakuinya. Aku akan memaafkanmu. Tapi hukuman tetap harus kau jalani dan juga kau harus mau bersaksi untuk menangkap paman Sungsoo.”

“Aku akan melakukannya tuan. Terimakasih tuan Sunggyu.”

Sunggyu berdiri dan hendak meninggalkan ruangan itu. Namun panggilan dari Taecyeon membuatnya menoleh.

“Aku ingin memberitahu tuan rencana tuan Sungsoo. Karena nyonya Minjung menolak untuk kembali padanya, tuan Sungsoo menangkap nyonya Minjung dan nona Minhee di gudang kawasan Heongdang. Dia berencana akan membunuh nona Minhee untuk membuat nypnya Minjung kembali padanya.”

Mendengar hal itu Sunggyu langsung berlari keluar diikuti Changmin bersama beberapa anak buahnya.

“Jadi karena itu kau menjadi iblis?” Tanya Sungjong yang berada di samping Dongwoo.

“Benar. Tapi sekarang tidak lagi.” Seketika sebuah sinar terang menyelimuti tubuh Dongwoo mengubah sang iblis itu menjadi malaikat sama dengan Sungjong. “Ba-bagaimana bisa?” Kaget Sungjong.

“Taecyeon hyung sudah mengakui kesalahannya jadi tak ada alasan lagi menjadi iblis. Ayo kita pergi.” Jelas Dongwoo.

“Tidak. Aku harus menyelamatkan noona dan eomma-ku.” Dongwoo menahan tangan Sungjong yang hendak pergi. “Tidak boleh. Apa kau tidak dengar Tuhan sudah memanggil kita.” Sungjong terus saja memberontak saat Dongwoo menariknya kembali ke surga. Namun dengan bantuan Tuhan, Dongwoo berhasil membawa malaikat cerewet itu kembali ke surge.

 

*   *   *   *   *

 

Sungsoo berjalan memasuki sebuah gudang yang sudah lama tidak terpakai. Beberapa lelaki berpakaian hitam membungkuk memberi hormat. Dengan angkuhnya Sungsoo menghampiri Minjung yang duduk terikat dikursi. Minjung meneriakkan sesuatu pada lelaki itu namun tidak jelas karena mulutnya tertutupi plester. Tangannya terulur membelai pipi Minjung.

“Aku tidak akan menyerah begitu saja meskipun kau menolakku untuk kedua kalinya Minjung-ah.”

Sungsoo berputar dan berdiri di belakang Minjung. Dia sedikit membungkuk dan meletakkan kepalanya di bahu wanita itu. Hidungnya menghirup wewangian bunga yang selalu disukai Minjung. Tatapannya beralih menuju Jiyeon yang berdiri terikat diatas papan kayu. Jiyeon berusaha melepaskan ikatan tangan di atas kepalanya.

“Kau lihat putrimu. Aku sudah mempersiapkannya untuk menjadi tontonanmu.”

Sungsoo menegakkan tubuhnya dan salah satu anak buahnya menghampirinya dengan membawa nampan berisi pisau belati, gunting, dan juga pistol lalu menyerahkannya pada bosnya. Sungsoo kembali berdiri di hadapan Minjung dan memperlihatkan nampan itu pada wanitanya.

“Kau ingin aku menggunakan alat apa Minjung-ah?”

Minjung menggelengkan kepalanya dan berusaha mengetakan sesuatu namun Sungsoo tak memperdulikannya. Dia mengambil pisau belati lalu menyerahkan nampan itu pada anak buahnya. Lelaki itu membolak-balik pisau yang tidak terlalu besar itu di depan wajah Minjung.

“Sepertinya pisau ini akan memulai penyiksaan putrimu terlebih dahulu.”

Minjung kembali menggelengkan kepalanya berusaha menghentikan lelaki dihadapannya. Namun sayang dengan tubuh terikat di kursi serta mulut yang ditutup, wanjta itu tak mampu berbuat apa-apa. Sungsoo mendekati Jiyeon yang terlihat ketakutan melihat pisau di tangan lelaki itu.

“Kau mengatakan akan menghentikanku melakukan sesuatu pada putrimu Minjung-ah. Tapi bagaimana kau akan menghentikanku dengan tubuh terikat seperti itu Minjung-ah?”

Sungsoo mendekatkan pisau itu di sisi wajah Jiyeon yang gemetar ketakutan. Pisau itu turun hingga ke leher gadis itu. Sampai di lengan Jiyeon Sungsoo menekan pisau itu dan menggoreskan beberapa centi sehingga darah segar mengalir dari luka itu. Jiyeon meringis kesakitan namun hal itu tetap tak membuat Sungsoo mengasihaninya.

Lelaki itu kembali menatap wanita yang saat ini berteriak hingga mengeluarkan air mata. Dia kembali mendekati Minjung dan melepaskan plester di mulut wanita itu.

“Jangan menyakitinya Oppa. Aku akan kembali padamu, aku berjanji. Jadi lepaskan dia sekarang.” Mohon Minjung.

Senyuman sinis terdengar dari lelaki itu. “Melepaskannya. Kau sudah menolakku untuk kedua kalinya Minjung-ah. Tidak tahukah kau betapa sakitnya aku HUH?”

“Maafkan aku Oppa.” Minjung kembali menitikkan air mata.

“Aku rasa tidak. Kau sudah membuat kesabaranku habis Minjung-ah. Aku ingin membuatmu juga merasakan sakit yang sama denganku. Kita sudah kehilangan putra kita, bagaimana jika aku melenyapkan putri Jungwoo Minjung-ah?” Sungsoo mengambil pistolnya.

“Jangan Oppa. Jangan lakukan itu. Aku mohon, aku akan melakukan apapun yang kau inginkan asal jangan lakukan itu Oppa.”

Sungsoo mengarahkan pistol itu kepada Jiyeon yang masih berusaha meredakan sakit di lengannya.

“Hentikan Appa.”

Sebuah suara mengalihkan perhatian Sungsoo. Lelaki itu menoleh dan mendapati putranya berlari menghampirinya bersama Minhee.

“Jangan mendekat Myungsoo-ah, aku aku akan menemkkan peluru ke arah tunanganmu.”

Mendengar ancaman ayahnya Myungsoo dan Minhee berhenti. Sungsoo memberi isyarat pada anak buahnya untuk menahan putranya dan juga Minhee. Melihat kesempatan ini, Jiyeon berusaha melepaskan tali ditangannya meski harus menahan perih di lengannya.

“Hentikan Appa. Tidak cukupkah appa melukai perasaan eomma yang selalu mencintaimu? Cinta tak bisa di paksakan. Sadarlah appa, kau tidak mencintai eomma Minhee, appa hanya terobsesi padanya. Jika appa mencintai, appa tidak akan menyakitinya.” Ucap Myungsoo meronta dari anak buah ayahnya.

“Apa kau sedang menasehati orang tuamu sendiri Myungsoo-ah?”

“Putramu benar Oppa. Pikirkanlah perasaan Heesun yang selalu menderita, tidakkah kau memiliki belas kasihan padanya?” Timpal Minjung.

“Diam kau.” Sungsoo mengarahkan pistolnya ke arah Minjung dan menarik pelatuknya. Minhee segera berlari dan melindungi ibunya. Peluru berhasil mengenai bahu Minhee membuat Minjung berteriak.

Appa aku mohon hentikkan semua ini. Letakkan pistol itu dan kita bicarakan baik-baik.” Myungsoo berusaha merayu ayahnya.

“Membicarakan baik-baik? Aku sudah melakukannya dua kali dan wanita ini selalu menolakku.”

Appa…”

“Cukup Myungsoo-ah. Aku tidak butuh nasehat darimu. Kau sudah membuatku muak.”

Sungsoo mengarahkan pistolnya dan menembakkan ke arah Myungsoo. Suara ledakan pistorl terdengar namun seseorang memeluk Myungsoo membuat peluru itu menancap di punggungnya. Lelaki itu begitu terkejut melihat wajah Jiyeon yang tersenyum tipis padanya.

“Ji-Jiyeon-ah.” Panggil Myungsoo menahan tubuh gadis itu yang melemah.

Tiba-tiba pintu terbuka dan para polisi langsung membekuk anak buah Sungsoo dan juga pemimpinnya. Sungsoo berusaha meronta namun kekuatan dua orang polisi tak mampu ditandinginya.

Sunggyu menghampiri Minjung dan melepaskan tali yang membelitnya lalu menghampiri Minhee yang terduduk seraya memegang lengannya yang tertembak.

Mianhae aku datang terlambat.” Sesal Sunggyu.

“Aku tidak apa-apa Oppa.” Minhee tersenyum tipis pada lelaki itu.

Tak jauh dari mereka, Myungsoo terduduk dengan tubuh Jiyeon berada dalam pangkuannya.

“Mengapa kau melakukannya?” Jiyeon menyunggingkan senyuman lemah mendengar pertanyaan Myungsoo.

“Aku hanya tidak ingin kau terluka Oppa.” Ucap Jiyeon lemah.

“Tapi justru kau yang terluka.”

“Tidak masalah dengan pengorbanan ini asalkan aku bisa melindungimu Oppa.” Jiyeon mengangkat tangannya menyentuh pipi Myungsoo dan mengamati wajah tampannya.

“Aku pasti akan selalu mengingat wajah ini Oppa.”

“Jangan berkata seolah-olah kau tidak akan kembali. Kau pasti akan segera bisa melihatku lagi dan kau bisa memanggilku Oppa lagi.”

Jiyeon menyunggingkan senyuman lemah sebelum akhirnya matanya tertutup. Myungsoo terus memanggil nama gadis itu namun Jiyeon tak kunjung bangun.

Bersamaan dengan itu mutiara terakhir di pergelangam tangan Minhee berubah menjadi biru menyempurnakan gelang itu. Seketika Minhee tak sadarkan diri membuat Minjung dan Sunggyu mengguncangkan tubuhnya dan memanggil namanya.

 

*   *   *   *   *

 

Minhee membuka matanya dan langsung terbangun. Dia melihat dirinya tengah berbaring di ranjang yang dikelilingi bunga berwarna warni begitu cantik. Dia menurunkan kakinya lalu berjalan ditempat yang putih bersih itu. Dia melihat ayahnya melambai ke arahnya, gadis itu segera berlari ke arah ayahnya dan langsung memeluknya.

“Kau melakukannya dengan baik Minhee-ah.” Gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap ayahnya bingung.

“Kau sudah berbuat 7 kebaikan. Dan sekarang kau bisa kembali ke tubuhmu.” Jungsoo menangkup kedua pipi putrinya. “Maafkan appa tidak mendidikmu dengan baik. Bahkan appa tak pernah memberikan kasih sayang padamu.”

Minhee menggeleng lalu menggenggam kedua tangan ayahnya. “Appa sudah mendidikku dengan sangat baik, bahkan aku tidak ingin menukar appa dengan appa-appa yang lain. Aku akan selalu merindukan appa.”

Jungwoo menghapus air mata yang membasahi pipi Minhee. “Appa akan selalu berada di hatimu Minhee-ah jadi kau perlu bersedih lagi. Ini saatnya kau kembali ke tubuhmu appa akan mengantarmu.”

Jungsoo menggandeng tangan Minhee dan berjalan menuju pintu gerbang yang dihiasi bunga-bunga. Minhee tersenyum saat melihat Sungjong. Dia pun langsung memeluk adiknya itu.

“Selamat noona bisa kembali ketubuhmu.”

“Itu semua karena bantunmu Sungjong-ah. Gomawo.”

Jungwoo dan Sungjong mengantar Minhee hingga depan pintu gerbang. Gadis itu teringat sesuatu dan langsung memandang kedua malaikat itu.

“Tapi bagaimana dengan Jiyeon? Apakah dia juga akan kembali?” Wajah Jungsoo dan Sungjong berubah sedih mendengar pertanyaan Minhee.

“Tidak. Karena saat tertembak Jiyeon berada ditubuhmu makan Jiyeon akan berada di sini dan tidak akan kembali tubuhnya.” Jelas Sungjong.

Minhee terkejut dengan apa yang didebgarnya. Gadis itu merasa tidak adil jika Jiyeon tidak kembali ketubuhnya sama seperti dirinya.

“Tapi ini tidak adil. Appa, Sungjong-ah aku mohon kembalikan Jiyeon. Dia gadis yang baik, tidak sepantasnya dia menerima takdir seperti ini. Aku mohon.”

“Maafkan appa Minhee-ah. Tapi Tuhan sudah mengaturnya seperti itu. Kami sebagai malaikat tidak bisa memaksa-Nya.” Jelas Jungwoo.

“Maafkan kami noona.” Sungjong mendorong tubuh Minhee.

Mata Minhee terbuka. Kali ini dia berada di rumah sakit. Dia melihat seorang suster terkejut melihat dia sadar. Minhee bangkit dan duduk di atas ranjangnya. Dia merasakan nyeri di punggung dan lengannya karena dia sudah kembali dalam tubuhnya sendiri. Namun gadis itu tak perduli, dia melepaskan infus di tangannya lalu turun dari ranjang. Suster yang melihat hal itu langsung mencegah Minhee keluar.

Minhee mendorong suster itu lalu kembali berjalan keluar. Minjung, Sunggyu dan Myungsoo langsung berdiri melihat Minhee keluar dari kamar. Minhee menatap mereka bergantian.

“Dimana Jiyeon?” Tanya Minhee dengan nada bergetar.

“Nanti kau akan menemuinya sayang. Tapi saat ini kau belum pulih benar.” Ucap Minjung.

“Dimana Jiyeon?” Tanya Minhee kembali dengan suara yang lebih keras.

“Aku akan mengantarmu.” Sunggyu menghampiri Minhee dan membawa gadis itu meunuju kamar yang tak jauh dari situ. Saat pintu terbuka mereka melihat Jikyeong duduk di samping Jiyeon yang tak sadarkan. Minhee menggunakan tangannya menutupi mulutnya menahan tangis. Perlahan gadis itu menghampiri tubuh Jiyeon yang terbaring lemah.

“Sebenarnya ada apa Minhee-ah?” Tanya Sunggyu melihat Minhee yang menangis.

“Ini semua salahku Oppa. Apa yang harus aku lakukan? Jiyeon… Jiyeon tidak akan kembali.”Tangis Minheepun pecah membuat Sunggyu harus memeluk gadis itu. Jikyeong yang mendengar ucapan Minhee menatap putrinya tak percaya.

“Aku sudah membunuhnya Oppa. Ini semua salahku.” Minhee terus saja menyalahkan dirinya sendiri.

“Ini bukan salahmu Minhee-ah. Kau tidak membunuhnya.” Sunggyu berusaha menenangkan kekasihnya.

“Jika saja aku kembali ketubuhku lebih cepat Oppa, jika aku yang tertembak dalam tubuh ini.” Minhee memukul-mukul tubuhnya, Sunggyu menahan kedua tangan Minhee dan kembali memeluknya membiarkan Minhee menangis keras.

Di luar kamar Myungsoo mematung mendengar ucapan Minhee. Dia tidak percaya gadis yang baru saja menyelamatkannya akan pergi selamanya sebelum dia mengatakan apapun. Myungsoo berjalan menjauhi ruangan itu.

Tanpa sadar air matapun jatuh membasahi pipinya. Dia menyesal, sangat menyesal harus membenci gadis yang menyelamatkannya. Dia menyesali perlakuan buruknya pada Jiyeon beberapa hari yang lalu. Langkah lelaki itu terhenti di dalam sebuah gereja. Dia berlutut di hadapan salib Tuhan. Dia melipat tangannya dan menatap salib itu.

“Tuhan aku tahu aku begitu kejam padanya, pada seorang gadis yang selalu baik padaku. Aku bahkan selalu berkata kata kasar padanya. Tapi jangan bawa dia pergi seperti ini Tuhan. Aku mohon kembalikan. Aku berjanji akan menjaganya, aku mohon kembalikan dia.” Doa Myungsoo seraya menangis. Lelaki itu begitu terpukul apalagi saat terlambat menyadari sesuatu.

 

^EPILOG^

 

Sunggyu memeluk Minhee dari belakang karena gadis itu terlalu sibuk dengan ponselnya sedari tadi dan me

“Kapan kau akan memperhatikanku? Kau berjanji akan bermain di pantai bersamaku.” Minhee tertawa mendengar suara Sunggyu yang begitu manja. “Memang kau sedang apa?” Tanya Sunggyu kembali mengintip ponsel Minhee.

“Mengirim foto kita berdua pada seseorang. Karena sudah selesai. Ayo kita bermain.”

“Itu yang sedari tadi aku inginkan.” Sunggyu mengangkat tubuh Minhee ala bridal lalu membawanya ke pantai.

Di tempat lain, sebuah ponsel di meja bergetar membuat sang pemilik tersenyum saat melihat foto Minhee dan Sunggyu berada di pantai.

“Apa yang kau lihat hingga membuatmu tersenyum Jiyeon-ah?”

Gadis itu mendongak dan tersenyum melihat Myungsoo duduk di depannya. Gadis itu menyerahkan ponselnya membiarkan lelaki itu melihat apa yang membuatnya tersenyum.

“Jadi mereka sedang berada di Hawaii?” Jiyeon mengangguk. “Padahal mereka baru saja menikmati bulan madu di pantai Bali dan sekarang mereka menikmati pantai lagi.”

“Apa kau juga ingin?” Tanya Myungsoo menggoda. Jiyeonpun mengangguk dengan imutnya membuat Myungsoo tak henti tersenyum.

“Kalau begitu aku akan memesankan tiketnya sekarang.” Myungsoo mengeluarkan ponselnya.

“Benarkah?” Tanya Jiyeon tak percaya.

“Tentu saja. Apapun untukmu chagiya. Jadi kau mau ke mana?”

“Ke pulau Jeju.”

“YA!! Kau iri melihat Sunggyu hyung dan Minhee pergi keluar negeri dan sekaran kau justru ingin pergi ke dalam negeri?”

“Produk dalam negeri lebih bagus Oppa. Lagipula pemandangan di pulau Jeju tak kalah indah dari Negara lain.”

Arrasseo. Aku akan memesankan tiketnya.”

Jiyeon menatap Myungsoo yang tengah memesan tiket pesawat melalui telepon. Gadis itu tak menyangka sekarang dirinya sudah menjadi milik lelaki dihadapannya bahkan sekarang namanya bukan Park Jiyeon lagi melainkan Kim Jiyeon.

“Mengapa kau memandangku seperti itu?” Tanya Myungsoo selesai menelpon.

“Aku masih tidak percaya sekarang kita sudah menikah Oppa.”

Lelaki itu mengulurkan tangannya menggenggam tangan Jiyeon. “Dan aku juga tidak percaya kau kembali dan duduk di hadapanku sekarang. Kupikir aku akan kehilanganmu.” ucap Myungsoo mengingat kejadian dua bulan yang lalu.

“Aku juga berpikir tidak bisa melihatmu lagi Oppa. Tapi…” Myungsoo menatap Jiyeon yang menghentikan ucapannya. “Tapi Tuhan mendengar doamu Oppa. Karena itu aku bisa kembali. Gomawo Oppa.

“Seharusnya aku yang berterimakasih karena kau sudah kembali. Dan aku juga berhutang maaf padamu?” Dahi Jiyeon bertaut terlihat tidak mengerti apa maksud Myungsoo.

“Setelah tahu kau bukan Minhee, sebenarnya aku bukan marah karena kau membohongiku. Aku marah karena aku sudah jatuh cinta pada gadis yng bernama Park Jiyeon. Aku berusaha menghindar dari kenyataan itu tapi saat kehilanganmu,aku baru sadar jika aku tidak lagi mencintai Minhee. Aku hanya mencintaimu. Mianhae.” Jiyeon tersenyum dan menggenggam erat tangan Myungsoo.

“Itu sudah masa lalu Oppa. Aku sudah memaafkanmu. Yang penting kita sekarang bersama bukan?” Myungsoo mengangguk setuju dengan ucapan Jiyeon.

“Bagaimana kabar appa-mu Oppa? Kau tak pernah mengajakku jika ingin menjenguknya” Tanya Jiyeon. Setelah kejadian di gudang sebulan yang lalu, Sungsoo di penjara.

“Dia baik. Ibu selalu menjenguknya dan memberi semangat padanya. Aku hanya masih trauma jika dia akan menyakitimu lagi, karena itu aku tak ingin mengajakmu.” Sebelum Jiyeon bertanya kembali ponsel Myungsoo pun berdering. Diapun mengangkat dan mendengar Seungyeol yang mengomel dan memintanya kembali ke perusahaan.

“Apakah Seungyeol lagi?” Myungsoo mengangguk menjawab pertanyaan gadis itu.

“Dia marah karena aku tidak memberitahunya jika aku pergi.”

“Kalau begitu apa yang Oppa tunggu lagi?”

Bibir Myungsoo sedikt maju membuatnya tampak imut. “Kau belum memberikannya.” Jiyeon tersenyum melihat suaminya begitu menggemaskan. Gadis itu berdiri lalu menbungkuk memberikan ciuman kilat di bibirnya.

“Aku pergi dulu yeobo, sore nanti aku akan menjemputmu dan kita akan menikmati bulan madu kita.” Ucap Myungsoo sebelum pergi.

Setelah Myungsoo menghilang, Jiyeongmendongak menatap langit siang yang cerah. Di dalam hati gadis itu tak henti mengucapkan terimakasih pada Tuhan yang sudah memberinya kesempatan kedua. Gadis itu berjanji tidak akan menyia-nyiakan hidupnya kali ini.

 

~~~END~~~

 Hicks…hicks…. Akhirnya selesai juga FF ini. Author ingin mengucapkan untuk para artis yang sudah meminjamkan namanya untuk ff ini. Juga untuk readersdeul yang sudah setia berkomen ria di setiap chapternya. Makasih banyak ya…….

img1450169153690

 

 

 

 

5 thoughts on “(Chapter 12) Love & Revenge (END)

  1. Stelah ul bosan nungguin chapter baru muncul di Whats New? akhirnya ul ketemu sama ff kakak yang keren ini. Wah…kagum banget sama kakak, kok bisa kepikiran ya alur cerita yg sebagus ini. Pasti keren kalau ff ini jadaku ingin negaraku aman, makmur, maju dan tidak ada lagi pemimpin yang kolusi korupsi dan nepotismei drama, pasti retingnya bakalan bagus,
    semangat buat ff yang lain ya kak. ul gak tau kakak bakal baca komen ini apa enggak, tapi yang jelas, cerita ini bagus banget kak…😀😊☺

    • Annyeong Nurul…..MAkasih buat komennya. Wah ffku jadi drama pasti itu adalah mimpi menjadi nyata hee….hee… Kuharap di layar televisi bisa merubah sinetron dengan episode yang panjang dengan drama yang punya makna yang bisa dipetik. Makasih atas pujiannya. Author suka bgt bikin yang drama2 gtu makanya ini sedang proses bikin ff drama yang lain. Gomawo.,…

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s