Behind The Perfection (Chapter 2)

btp

Author : Yhupuulievya
Cast : Yoon Nara (OC), Kim Jongin, Oh Sehun, Min Yuri, and many more
Genre : Drama-Romance
Rate : PG-15
Length : Chaptered

Warning for both harsh and swearing words!!
~o~

“For her, perfection is imperfection itself—a burden that slowly brings her down”

~o~

Chapter 1

***

Paris, 06 AM

Kim Jongin masih terlelap dalam tidurnya saat pagi mulai menyapa. Sebuah nada dering berbunyi dari ponsel yang ia letakkan di meja samping tempat tidurnya. Lelaki itu menutup telinganya, mencoba mengabaikan bunyi yang mengusik tidurnya, namun sialnya ponsel itu tak juga mau berhenti berdering.

“Damn it!”

Kai meraba-raba untuk mencari poselnya, matanya masih tertutup karena ia masih ingin tidur lebih lama lagi. Maka saat ia meraihnya, Kai memilih untuk mematikan panggilan itu dan kembali tidur.

Namun, baru saja beberapa detik berlalu, ponsel itu kembali berdering. Kai membuka matanya dengan paksa dan menekan tombol jawab tanpa pikir panjang. Belum sempat ia mengutarakan kekesalannya, wanita diujung sana sudah terlebih dahulu memakinya

“Where are YOU right now?”

“Kembali ke rumah sekarang juga dan selesaikan kekacauan yang kau buat, kau mengerti?” Bentakan wanita diujung telepon, sukses membuat telinga Kai berdengung sakit, ia sedikit menjauhkan telinganya dari ponsel yang ia genggam

“Who the hell are you, huh? Kau membangunkanku sepagi ini dan berbicara yang tidak-tidak. Get a life woman!” Kai baru saja hendak mematikan panggilan itu saat wanita di sebrang sana kembali membentaknya

“Kau siapa huh? Berikan ponsel ini pada Yoon Nara sekarang juga! Aku sedang tidak ingin bermain-main”

“Who the heck is Yoon Nara ? I am K.i.m J.o.n.g.i.n.!” Kai  mengeja namanya dengan pelan lalu melemparkan ponselnya ke kasur, terserah siapa wanita diujung sana, yang ia pikirkan saat ini hanyalah kembali menarik selimutnya dan mencoba untuk tidur lagi.

Kai menutup matanya dengan erat dan saat itu panggilan lainnya mengganggu lagi. Kai menggeram, ia sudah benar-benar marah kali ini. Dicarinya ponsel yang ia lemparkan dan segera menekan tombol jawab begitu ia menemukannya

“WHAT NOW?” Jawabnya tanpa basa-basi dan kini suara laki-laki yang entah begaimana terdengar familiar ditelinganya, terdengar diujung sana

“Nara?”

“Aku sudah bilang aku bukan Nara, oke? Stop calling!” Kai mematikan panggilannya dan kembali membaringkan tubuhnya

“Nara Nara dan Nara! kenapa setiap orang memanggilku Nara?” Kim Jongin kembali menggerutu dengan matanya yang terpejam, namun baru beberapa saat setelah itu, ia kembali terbangun dengan tiba-tiba, seolah mengingat sesuatu. Nara … bukankah itu gadis…

Kai membuka matanya dan mencari ponsel yang ia lemparkan tadi. Tak jauh dari selimutnya ia mengambil ponsel itu dan matanya membulat

“Ini……”

“Bukan ponselku….” Pikirannya kembali menerawang kejadian tadi malam

[FLASHBACK]

Paris, 09PM

Kim Jongin duduk didepan sebuah kamar pasien di rumah sakit, matanya menatap kebawah tepat kelantai berwarna putih itu, tatapannya kosong, raut wajahnya dengan jelas menggambarkan kegelisahan. Bagaimana tidak ? ia sama sekali belum menerima informasi mengenai keadaan gadis yang tak sengaja ditabraknya tadi.

“Permisi Tuan?”

Kim Jongin reflek mengalihkan tatapannya saat sebuah suara membuyarkan lamunannya, tepat disampingnya berdiri seorang perawat.

“Anda keluarga dari Nona Yoon Nara?”

“Ah, bukan bukan…” Kai segera menyanggah, namun kembali mengoreksi kata-katanya saat Suster tersebut mengerutkan alis

“Tapi aku yang bertanggung jawab akan… ah maksudku aku yang membawanya kesini”

“Bagaimana keadaanya sekarang?” imbuhnya

“Oh, nona Yoon Nara masih belum siuman tuan, tapi keadaanya baik-baik saja, ia hanya terkejut. Beberapa saat lagi ia akan siuman”

“Ah begitu…”

Suster didepannya tersenyum lembut dan kembali berkata

“Bukankah sebaiknya anda menghubungi keluarga pasien?”

“Ah benar. aku akan menghubunginya…” Kai tersenyum canggung sebelum suster itu meninggalkannya sendiri.

Tak jauh dari tempat duduknya tadi, sebuah tas kecil tersimpan disana dan Kai segera mengambil tas itu, mencari ponsel milik gadis itu untuk segera mengubungi keluarganya.

Kai menghela nafas beratnya, jadi… ia tak sengaja memasukkan ponsel gadis itu kedalam saku celananya begitu ia selesai menghubungi keluarganya. Kai mendesah frustasi, kadang ia bisa sangat ceroboh memang dan parahnya ia tidak tahu bagaimana cara mengembalikan ponsel milik gadis itu, mengingat ia segera pergi saat ayah gadis itu datang, bukannya ia tak bertanggung jawab lebih lanjut tapi ia harus segera pulang malam itu, ayahnya terus memaksa untuk membicarakan mengenai perjodohan yang direncanakan keluarganya.

“Aih….” Kai mengacak rambutnya pelan, ia yakin bahwa gadis itu sudah pulang sejak tadi malam mengingat suster disana mengatakan bahwa kondisinya baik-baik saja.

Kai hendak turun dari kasurnya saat sebuah pesan singkat muncul di layar ponsel milik gadis itu

[Hun]

Aku tahu kau masih marah padaku, bahkan kata maaf saja sepertinya tidak cukup. Apa yang harus aku lakukan Nara? Katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki segalanya.

Kai mengangkat bahunya, ia tahu bahwa membuka pesan yang bukan miliknya adalah hal yang tidak sopan, tapi ia sudah terlanjur membacanya. Toh ia juga tadi tak sengaja sudah mengangkat beberapa panggilan masuk.

Kai hendak meletakan ponsel yang digenggamnya saat sebuah panggilan masuk kembali membuat ponsel itu berdering

“Hallo?” suara seorang gadis terdengar diujung sana saat Kai menekan tombol jawab, membuat namja itu sontak tersenyum.

~o~

          Di sebuah rumah yang minimalis, seorang ajusshi kini sedang menuangkan teh hangat kedalam cangkir gadis yang duduk disampingnya.

“Kau baik-baik saja?” Cho bertanya dengan tatapannya yang sirat kecemasan

“Ne appa, kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja..”

“Kau tau? Aku bisa mengantarmu”

“Tidak perlu, bukankah kau harus berangkat ke kantor sekarang?”

“Tapi kau masih perlu istirahat Nara, jika kau membutuhkan ponsel baru ayah bisa membelikannya”

“Tidak appa, itu tidak perlu. Aku bisa mengambil ponselnya hari ini juga selain itu aku yakin ibu akan menghubungiku jika nomornya aktif. Aku tidak mau Ibu mengetahui bahwa aku ada di Paris dan aku memerlukan beberapa kontak yang ada diponsel itu”

Tuan Cho menatap Nara dengan khawatir, gadis itu sudah melalui banyak hal yang berat dalam hidupnya. Kadang ia berpikir untuk mengambil Nara begitu saja dan membiarkan putrinya untuk tinggal bersamanya, tapi mustahil… Han tidak akan membiarkan itu terjadi dan wanita itu akan melakukan apa saja agar Nara tetap tinggal bersamanya, yah… walau hanya untuk kepentingan bisnis semata.

Mata ajussi itu kini berkaca-kaca lalu ia tersenyum lemah

“Baiklah kalau begitu, jaga diri baik-baik Nara dan hubungi ayah jika kau memerlukan sesuatu”

Gadis yang dimaksud hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Cho ingin menemani putrinya lebih lama lagi, hanya saja ia mempunyai setumpuk pekerjaan kantor yang tak bisa ditinggalkan. Lelaki itu kini kembali menghentikan langkahnya di ambang pintu dan kembali berbalik

“Nara… jika kau mempunyai banyak kesulitan, kau bisa pulang kesini kapanpun, kau bisa mengandalkan ayah dan… ingatlah bahwa ini rumahmu juga”

Nara hanya tersenyum sendu, tidak… ia tidak boleh menangis sekarang meski kata-kata ayahnya membuat ia terharu. Nara hanya mengangguk pasti meski ia tahu bahwa hal itu tak akan pernah terjadi, bukan karena ia tak mau tinggal bersama ayahnya dengan segala kehidupannya yang serba sederhana, hanya saja ibunya tak akan membiarkan semua itu terjadi. Lagipula jika wanita itu tahu ia ada disini, ayahnya pasti akan mendapat masalah dan Nara tidak mau terus menerus merepotkan ayahnya.

~o~

          Kim Jongin melangkah dengan santai dan menyusuri jalanan yang mulai ramai. Sebuah headphone menutup kedua telinganya dan sebuah senyuman mengembang dibibirnya, sesekali ia bersiul ceria. Oh… entah apa yang terjadi pada namja itu, namun melihat senyumnya yang secerah matahari pagi ini, rasanya sedikit aneh mengingat hal itu jarang atau lebih tepatnya hampir tidak pernah terjadi.

Bibirnya semakin mengembang saat dilihatnya seorang gadis yang cukup ia kenali kini tengah duduk di cafe bagian luar sambil sesekali melirik jam yang melingkar di tangannya.

“Yoon Nara” Kai bergumam pelan sebelum melangkahkan kakinya menuju cafe.

“Ehm…” Kai berdehem pelan saat ia berdiri tepat didepan gadis itu dan tanpa meminta ijin sama sekali, ia langsung duduk di depannya, membuat gadis itu kini menatapnya

“Maaf tapi aku sedang menunggu seseorang” Nara terlihat tidak nyaman saat namja itu duduk didepannya tanpa permisi.

Kai tersenyum penuh arti, ia tahu bahwa gadis itu sedang menunggu seseorang dan tentu saja, orang itu adalah dirinya. But well…. bermain-main sedikit bukan masalahkan? Pikirnya

“Wow! Aku rasa kita berjodoh, aku juga sedang menuggu seseorang” Kai tersenyum nakal dan Nara membuang mukanya kesembarang arah, tak membalas kata-katanya sama sekali.

Kai memanggil pelayan di cafe tersebut dan segera memesan minuman saat pelayan disana menghampirinya

“Aku ingin satu Macchiato dan satu espresso untuk nona ini” ucapnya tenang

“Oh baik tuan…” pelayan itu segera pergi saat Kai selesai memesan minumannya dan kini gadis bernama Yoon Nara itu mengalihkan tatapannya pada Kai

“Aku bisa memesan minumanku sendiri” Nara menatap Kai lekat, merasa terganggu dengan kehadiran namja itu

“Yup! Dan aku sudah berbaik hati memesankannya untukmu”

“Thanks but I don’t drink coffee”

“Kalau begitu aku bisa memesankan jus untukmu”Kai hendak memanggil pelayan lagi saat Nara menghentikannya

“Tidak perlu dan… bisakah kau berpindah tempat? Aku sedang menunggu seseorang” ulang Nara

“Well, kita bisa menunggunya bersama-sama.. bukankah aku juga sudah mengatakan bahwa aku sedang menunggu seseorang?”

Nara memutar bola matanya dan bergegas untuk duduk ditempat lain. Ia sama sekali tak mengenal namja ini dan ia merasa terganggu karena terus mendapati sikap menyebalkan darinya.

Kai tersenyum pelan… baru saja Nara berjalan beberapa langkah ia kembali bergumam, mengeluarkan skill aktingnya.

“Hmm… lama sekali. Kemana gadis itu? Aku harus segera mengembalikan ponselnya” Gumam Kai pelan pada dirinya sendiri.

Nara yang mendengar itu mengernyitkan dahi dan segera berbalik arah, membuat Kai tersenyum puas.

“Apa kau orang yang hendak mengembalikan ponselku?”

Kai terkekeh pelan

“Sebenarnya aku hendak mengembalikan ponsel ini pada pacarku, ia meninggalkannya dikamarku kemarin malam. Kenapa?” Kai menunjukan sebuah ponsel yang sebenarnya adalah miliknya sendiri.

Nara mengerutkan dahinya, ia merasa namja ini sedang mempermainkannya. Tapi apa mungkin? Toh ia sama sekali tidak mengenal namja ini. But screw it…. mungkin saja laki-laki ini berbohong dan beniat mengerjainya.

“Apakah kau Kim Jongin?” Tanya Nara lebih lanjut

Kai hendak menjawab Nara saat ponselnya bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk

Dad. Shit! Ayahnya memanggil disaat yang tidak tepat

“Oh… sepertinya pacarku memanggil dengan nomor ayahnya, excuse me for a while, okay?”

Kai berjalan beberapa langkah untuk segera menjawab panggilannya dan belum sempat ia menggumamkan kata ‘Hallo’, laki-laki diujung sana sudah lebih dahulu mengawali pembicaraan mereka

“Kau diamana huh? Keluarga Min ingin kita meresmikan perjodohan ini dan ayah sudah mengurus semuanya. Pesta pertunangan kalian akan diadakan nanti malam dan kau tak bisa melarikan diri kali ini. Pastikan kau datang tepat jam 8, tidak ada kata terlambat dan tidak ada kata penolakkan atau kau akan menerima konsekuensinya jika membatah”

Kai hendak membalas kata-kata ayahnya saat ia menyadari bahwa kini Nara sedang memperhatikannya dari jauh. Tak mau gadis itu curiga, maka Kai berkata

“Oh baik sayang… aku akan kesana”

“Bye..”

Kai mematikan panggilan ayahnya dan segera menghampiri Nara, ia berdiri didepan gadis itu dan menatapnya lekat. Sebuah ide ekstrim dalam sekejap menghampiri pikirannya dan dalam keadaan terdesak seperti ini mau tak mau Kai harus menjalankan rencananya. Maka dari itu kini ia tersenyum dan menjawab pertanyaan Nara yang tadi belum sempat ia jawab

“Maaf nona… tapi namaku Kai bukan Kim Jongin dan sekarang aku harus pergi menemui pacarku” Kai mengedipkan sebelah matanya

“Have a nice day… pretty girl!”

Kai bergegas pergi meninggalkan Nara yang masih berdiri disana dan diam-diam, ia mengeluarkan ponsel Nara, mengetikan beberapa pesan singkat sebelum mengirimkannya.

“Maaf nona, aku tidak bisa menemuimu sekarang, ada urusan mendadak yang harus ku kerjakan. Kau bisa menemuiku malam ini di gedung xxxx pukul 8, aku akan mengembalikan ponselmu dan mengganti uang taximu”

Kai kembali melirik Nara, sepertinya gadis itu telah menerima pesannya.

~o~

Sehun’s mansion, Seoul

08AM

Seorang namja berambut blonde kini duduk disebuah meja makan persegi panjang, matanya menatap lekat pada objek didepannya tapi tatapannya tampak kosong, pikirannya tak ada disana dan ia terhanyut dalam lamunannya sampai sebuah suara membuayarkan pikirannya

“Sehun…”

“Ah ..” Sehun segera mengalihkan tatapannya pada wanita tua yang kini berdiri didepannya

“Bibi Yun? Ada apa?” tanyanya

“Seperti biasa, apa yang kau inginkan untuk sarapan pagi kali ini?”

“Oh itu… tuna dan susu coklat sudah cukup dan untuk Na…” namja itu menghentikan kalimatnya begitu menyadari bahwa ia hampir menyebutkan nama gadis yang sama sekali tak ada disana.

Wanita tua didepannya kini melihat namja itu kembali diam, raut mukannya berubah muram.

“Apakah bibi boleh mengatakan sesuatu?” Sehun mengernyitkan dahi, namun mengangguk lemah tak lama setelah itu.

Bibi Yun segera duduk didepan Sehun dan tersenyum sendu menatap namja itu. Sebenarnya ia tak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain, namun bekerja pada keluarga Oh selama belasan tahun ini, membuatnya menganggap Sehun sebagai putranya sendiri dan melihat namja itu terlihat murung, ia merasa simpati

“Dulu saat aku muda, aku pernah mengalami hal seperti ini dan berada diposisi sepertimu” Sehun menatap bibi Yun lekat dan mendengarkan setiap kata yang diucapkan wanita itu

“Kau tau hal apa yang paling sulit untuk disadari?” Bibi Yun bertanya pada Sehun dan laki-laki itu segera menggelangkan kepalanya

“Saat kau benar-benar dekat dengan seseorang dan merasa bahwa dia sudah seperti keluargamu sendiri, kau akan sulit untuk membedakan apakah perasaan nyaman yang kau rasakan adalah perasaan cinta atau kasih sayang biasa sebagai seorang sahabat”

“Kadang karena orang itu selalu ada disisimu, kau mengira bahwa hal itu saja sudah cukup. Kau akan menganggap bahwa kau menyayanginya sebagai sahabat, sampai suatu saat orang itu menghilang, kau akan sadar bahwa kau membutuhkannya. Kau merasa tidak lengkap tanpanya”

Sehun membenarkan posisi duduknya dan kembali memperhatikan bibi Yun, menunggu kalimat selanjutnya dari wanita itu

“Mungkin awalnya kau akan menganggap bahwa kau hanya tak terbiasa tanpa kehadirannya dan mengira bahwa kau akan baik-baik saja dan terbiasa nanti”

“Tapi ingatlah Sehun….” Bibi Yun menatap Sehun lekat

“Kadang kita terlalu jauh melihat kedepan tanpa menyadari bahwa sesuatu yang selama ini kita cari ternyata ada didekat kita dan saat kau menyadari itu, aku harap semuanya belum terlambat, karena faktanya… kita akan menyadari betapa berharganya seseorang, setelah orang itu menghilang dari kehidupan kita untuk selamanya”

“Aku tau kau sudah dewasa tapi aku harap kau bisa memikirkannya dengan baik”

“Dan Sehun…. Nara adalah gadis yang baik” Bibi Yun tersenyum lembut dan menepuk pundak Sehun, lalu pergi untuk menyiapkan sarapan pagi.

Sehun hanya terdiam, memikirkan kata-kata yang diucapkan bibi Yun. Tak ada yang salah dengan ucapan wanita itu, bahkan sekarang saja ia sudah merasa ada sesuatu yang hilang dan itu benar-benar membuatnya bingung. Berbicara akan masalah hati, ia sama sekali bukan ahlinya dan kalimat bibi Yun barusan semakin membuatnya bingung.

Sehun menatap kedepan, biasanya sekarang Nara akan duduk didepannya dan mereka akan membicarakan hal-hal menarik sambil menunggu sarapan pagi. Selama ini ia selalu menjemput Nara di pagi buta dan mengajak gadis itu untuk sarapan pagi bersama, mengingat orang tua mereka selalu sibuk dan mereka sama-sama merasa tak nyaman untuk sarapan sendiri.

Setelah sarapan pagi datang, Nara akan memotongkan tuna untuknya dan ia akan menuangkan teh kesukaan gadis itu. Mereka akan terus bercengkrama selama makan sebelum akhirnya berangkat sekolah bersama-sama.

Mereka tak pernah merasa kespian ataupun terlalu mempedulikan keadaan keluarga mereka yang selalu sibuk dengan bisnis-bisninsnya. Toh mereka bisa mengisi kekosongan satu sama lain, dan sekarang… untuk pertama kalinya selama belasan tahun dalam hidupnya, Oh Sehun menghabiskan sarapan paginya sendiri. Tanpa Nara…

Dan anehnya… ia merasa tak lengkap.

~o~

Paris

07.45 pm

Yoon Nara menyusuri malam dengan langkahnya yang gontai, sesekali melirik jam tangannya lalu mendesah frustasi. Lima belas menit lagi dan ia belum menemukan alamat yang ia cari. Ia mendengus kesal kini, jika dipikir lagi, mengapa ia harus repot-repot memenuhi permintaan namja itu? Toh pria bernama Kim Jongin itu sendiri yang dengan cerobohnya mengambil ponselnya tanpa sengaja, dan mengapa ia sendiri yang harus repot-repot mengambilnya?

“Permisi.. apa kau tau alamat ini?” Nara bertanya pada pejalan kaki lainnya dengan bahasa Prancis yang tak begitu lancar

“Oh bangunan ini tepat berada didepan sana nona” gadis itu menunjuk sebuah gedung megah yang ada di sebrang jalan

“Terima kasih” tanpa pikir panjang, Nara segera menuju kesana dan langkahnya dihentikan oleh sebuah suara

“Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?” Seorang security berjalan kearahnya begitu ia memasuki gedung itu

“Oh aku ingin menemui sesorang bernama Kim Jongin”

“Apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?”

Nara mengerutkan dahi

“Janji? Aku rasa tidak, tapi ia menyuruhku datang kesini”

“Oh maaf nona. Mungkin kau bisa menemui tuan Kim Jongin nanti”

“Tapi dia sendiri yang memintaku datang kemari. Aku bisa menunjukan buktinya” Nara mengeluarkan ponselnya untuk menunjukan sebuah pesan singkat pada penjaga itu

“Oh baiklah… saya akan mengeceknya terlebih dahulu, anda bisa duduk disana sambil menunggu” Penjaga itu menunjuk sebuah ruang tunggu dan pergi sebentar untuk mengkonfirmasi semuanya.

Nara menghela nafas dengan lelah

~o~

          “Biarkan dia masuk” Kai mengakhiri panggilan itu lalu melirik ayahnya dengan senyuman penuh arti

“If you wanna play a game, let’s play…” Kai bergumam dan memamerkan smirk khasnya

Tuan Kim melihat senyuman yang terpatri di bibir anaknya dan ia berubah cemas, ekpresi itu adalah ekpresi ketika lelaki itu merencanakan sesuatu dan ia perlu memastikan akan hal ini.

“Apa yang sedang kau rencanakan Kim Jongin?” Tuan Kim menghampiri anaknya yang sedang berdiri tegap, memasukan kedua lengannya kedalam saku celana

“Tidak ada” jawab Kai singkat

I know that face though.. jangan bermain-main denganku Jongin. Cepat mulai acara ini karena keluarga Min sudah menunggu dari tadi”

Kai mengikuti tatapan ayahnya dan melihat seorang gadis beserta keluarganya duduk tak jauh dari tempatnya. Gadis itu Min Yuri sedang menatapnya dengan tajam, ia tau bahwa Yuri sama dengannya, tak menginginkan perjodohan ini sama sekali. Kai terkekeh, ia tak perlu mengkhawatirkan ini semua, toh sebentar lagi permainan ini akan berakhir atau lebih tepatnya ia yang akan mengakhirinya.

Tatapan Kai mengitari seisi ruangan lalu berhenti dipintu masuk, 10 menit, ucapnya dalam hati.. 10 menit adalah waktu yang diperlukan seseorang dari lantai dasar untuk sampai keruangan ini, dan jika dihitung dari tadi… sepertinya ‘ia’ hampir tiba.

Kai tersenyum nakal dan mengambil mikrofon, mengalihkan perhatian para tamu undagan kepadanya

Good evening ladies and gentleman… seperti yang kalian ketahui bahwa malam ini, aku mempunyai sebuah berita penting yang harus aku sampaikan and well as you know… aku tidak pintar dalam berbasa-basi” Kai berbicara to the point dan beberapa tamu terkekeh secara sontak. Disisi lain, ayahnya menutup mata kesal atas kelakuan anaknya, Jongin sama sekali tak tahu cara berbicara didepan umum atau lebih tepatnya mungkin ia sengaja menghancurkan imagenya didepan tamu-tamu penting yang memenuhi ruangan ini. Tuan Kim menatap Kai dengan lekat mengirimkan isyarat lewat tatapannya agar Kai bisa lebih serius lagi.

“Dan berita itu adalah…” Kai menghela nafas

“Malam ini aku mengumumumkan pertunanganku dengan gadis bernama Yoon Nara” Semua mata membulat, ayahnya terbujur kaku dan keluarga Min menatap tajam kearahnya kecuali Min Yuri itu sendiri, gadis itu malah tersenyum penuh arti lalu menggumamkan sesuatu seperti ‘that’s cool man!’ dan Kai balik tersenyum.

“Dan gadis itu ada disini…” Kai menunjuk kearah pintu masuk dan tepat saat itu pintu megah didepan sana terbuka dan menampilkan seorang gadis dengan mantel berwarna coklat tua. Ia sontak membulatkan mata, terkejut bahwa ruangan ini ternyata sebuah ball-room dan ia baru saja menginterupsi sebuah pesta. Gadis itu menunduk malu dan hendak pergi, namun sebuah suara seketika menghentikan langkahnya

“Welcome here my baby… Yoon Nara”

Kai mengedipkan matanya dan semua orang sontak memandang Nara lalu bertepuk tangan. Nara berbalik dengan sejuta pertanyaan di kepalanya dan saat ia melihat siapa yang baru saja menggumamkan namanya, gadis itu terperangah.. pria itu…

Bukankah ia adalah namja yang ia temui dikafe tadi pagi? Dan apa yang terjadi sekarang? Hell ya… she’s so damn clueless

Beritahu aku…

Beritahu apa yang sedang terjadi disini? –ucapnya dalam hati

~O~

3 thoughts on “Behind The Perfection (Chapter 2)

  1. whoaaaa.. ternyata ff ini bikin baper bgt,
    dan alurnya berkualitas, thats cool man…
    next chap nya cepetan di publish ya …
    gak sabar nih penasaran sama kelanjutan nya, dan entah kenapa yoon nara di gambaran imajinasi aku cocok nya sama Krystal..

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s