[Drable] The Story Of This Rain

The story of this Rain.

 

Title ||  The Story Of This Rain

Author || Mochaccino

Maincast || Park Shin Hye and Jung Yonghwa

Genre || Romance/Sad

Length ||  Drable

Rated ||  G

 

Disclaimer ||  I Own Nothing But The Story

.

.

 

 

 

Cute Rain, bersambung di jendela bus yang buram . Aku tidak akan mengatakan kalau itu seburam memory yang tak jelas yang berbicara lewat pesan menyedihkan sepanjang jalan.  Andai saja kau mendengar itu bersamaku, duduk berhimpitan di sisi jendela berembun dan saling berpelukan. Hujan sedang menyanyikan lagu yang teramat panjang, dan terkadang aku merasa seperti padan gurun gersang yang terlihat lembut namun demikian kering. Kering adalah diriku, dan hujan adalah dirimu. Musim gurun yang mengatakan bahwa berita-berita yang kudengar tentangmu sangat menakutkan. 

 

Kenapa aku harus mempercayainya. 

 

Namun aku tetap menyimpannya . Apapun itu, dari sebuah awalan yang sepi hingga berujung pada akhiran tanpa titik. Mungkin juga sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan akhiran tanya.

 

Where are you 

 

 

Bukan bulan yang terakhir kalinya aku melihatmu. Ya, sedikit lebih agak lebih mundur kira.kira dua bulan ke belakang yang sejak aku mengatakan bahwa kau bukan laki-laki gentle yang bisa mengakui bahwa kau tidak menduakan aku ternyata itu memang sebuah tragedy. 

 

 

Aku tidak mengarang apapun tentang kebohongan, atau mereka-reka kisah palsu untukmu. Baiklah, kau memang menatapku dengan tatapan yang tidak bisa menerima kenyataan. Aku sedikit mengekangmu ataukah aku terlalu posesive. Jiwamu sedang menarik sekeping rasa percayaku. 

 

Aku lupa terkadang aku menyelipkannya di sisi sebelah mana. 

 

Memalukan, dan hujan masih berlanjut.

 

Mataku mengekori lampa merah di tikungan jalan. Bus ini berbelok ke kanan. Kenapa aku bisa melewatinya. 

 

Jika beberapa bulan ini bisa dengan mudah aku hitung dengan jari, kau pasti tahu, bahwa aku sudah tidak sanggub lagi menghitung detak jantung ini yang selalu merindukanmu sejak kepergianmu. Aku menyesal, Yonghwa Oppa. Laki-laki tampanku yang telah aku tuduh menyimak kisah yang berbeda dalam episode hidupku. 

 

Hhh…aku melewati lampu merah tadi. Jadi sekarang harus kembali lagi ke sana. Kakiku menerjang garis-garis hujan yang memaki payung transparanku. Kenapa menjadi lebih deras, padahal aku sudah berjanji untuk sebuah wawancara dengan seorang customer baruku mengenai peluang masa depan. Kontrak hidup di bumi. 

 

 

Alasan yang mungkin akan aku simpan selamanya.  Apakah tidak bisa aku membatalkan kontrak sekarang juga?  Jantungku yang masih menyebut namamu seperti meloncat keluar melewati mulutku. Kalau aku boleh, aku ingin mati sekarang. Kenapa aku harus melihat Yonghwaku bersama dengan perempuan itu. 

 

Terlambat untuk menghindar. Aku memutuskan untuk mengalungkan tambang di leherku, dan di ujung yang lain aku ijinkan dia untuk menariknya. Dengan senyumnya  aku menjadi sekarat.  

 

“Dia Anais , yang pernah kau katakan padaku…”  ujarmu dengan bibir yang siap mendoakan kematianku.

 

 

Aku tak menjawab, dan duduk begitu saja. Di hadapanmu, mengeluarkan beberapa brosur dan surat surat lain.  Sambil memandangya, Anais. Aku lupa kalau aku pernah mengatakannya padamu.  Ternyata dia gadis yang cantik, dan cukup seperti itu. Aku tidak ingin mengakui kalau dia lebih cantik dariku. Tidak akan pernah.

 

Apakah dia nyata ? 

 

Yonghwaku menatap bekunya wajahku. Dan aku menjadi gila. Aku tidak pernah membayangkan badanku akan sepanas ini di tengah hawa hujan yang mencekam. 

 

“Kami akan menghubungimu lagi, Shinhye . Setelah kami memutuskan mengenai biaya yang harus kami keluarkan untuk setiap paket yang kami pilih.  Apakah ini berikut buan madu ?”

 

Mataku terbakar, jantungku meledak, dan darahku mendidih. Yonghwaku seperti sedang menyumpahi kebodohanku di masa lalu. 

 

“Tn. Jung, event organizer kami tidak menyiapkan paket bulan madu. Namun jika Anda menghendakinya, kami akan mengusahakan. Silahkan hubungi kami lagi jika kalian sudah memutuskan.”  

 

Aku melirik Anais. Dia bergayut mesra di lengan kiri Yonghwaku…yang telah menjadi Yonghwanya.  Dan aku berdiri, menyisakan bongkahan batu yang sepertinya ingin kuhantamkan ke mukanya. Namun Yonghwaku berdiri juga, mengimbangi caraku menyikapi alunan kepedihan yang aku senyumi. 

 

“Apa kau baik-baik saja ?”  tanyamu. 

 

Kutarik partikel udara bebas untuk kupenjarakan di dalam paru-paruku. Aku ingin mengatakan kalau aku tidak baik-baik saja, namun sepertinya aku lebih suka meninggalkan kalimat tanya tanpa akhiran tanya. Yonghwaku menatapku yang sedang melangkah pada cerita hujan di sepanjang trotoar. Aku tidak ingin memperlihatkan sisi kosongku yang hampir menggemakan jeritan hatiku..

 

Kalau aku goyah lebih baik aku tidak terlihat. Hujan itu sekali lagi memakiku. 

 

“Terserahlah !”  

 

Kubuang payungku ke sisi jalan, dan aku mulai berlari kecil untuk meraih beberapa meter jarak agar aku bisa semakin jauh dari suaranya yang sepertinya sedang memanggilku. Atau tidak. 

 

Sebuah kisah hujan, yang sepertinya menjadi badai dari sebuah memory tentang kekosongan. Aku tidak ingin mengingat apapun dari hujan kali ini.

.

.fin.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s