FLASHLIGHT

ff onrene flashlight

FLASHLIGHT

An Oneshoot

By Risuki-san

SHINee’s Onew & RV’s Irene | Teenager | Romance, Sad, Drama, Hurt-Comfort

© 2016 Risuki-san

Note:

Percakapan bercetak miring adalah percakapan di masa lalu

Semoga kalian bisa memahami ceritaku yang biasanya bikin bingung ya ._.

.

‘Seperti cahaya berjalan di atas bumi, kesempatan terakhir terlalu pendek diarungi’

.

FLASHLIGHT


Baginya Jinki lebih tampan dari pangeran kerajaan Inggris.

Satu-satunya di dunia yang berhasil mencuri sesuatu yang hangat di dalam dirinya.

Hati manusia.

“Aku akan pulang.”

Tak ada yang lebih baik dari Jinki saat memperlakukannya.

“Kau tidur di kamarku, aku akan mengerjakan ini.”

Seperti saat ini.

Saat Jinki menahannya untuk tidak pergi.

Gadis itu tak diijinkan menginjak tanah sendirian.

Irene tanpa Jinki.

Takkan pernah terjadi.

“Mungkin aku takkan tidur, aku harus menyelesaikannya hari ini juga.”

Lelaki itu berucap singkat, lalu kembali menatap layar persegi panjang.

Sebuah laptop.

“Aku bisa menelepon taksi sekarang, dan taksinya akan datang saat aku baru keluar dari apartemenmu.”

“…”

Oppa?”

Irene menatap lelaki itu, memperhatikan kulit pucat yang ia tahu terasa dingin jika seseorang menyentuhnya.

Gadis itu lalu menoleh, melihat deretan angka pada kalender.

Oppa, kapan kau terakhir minum?”

Irene bertanya lalu beranjak dari posisinya, melangkah mendekati kulkas.

Kosong.

Oppa, kau sangat kurus.”

Lalu Irene mendekat pada Jinki, menatap seseorang di depannya.

Gadis itu khawatir.

“Belakangan ini mendapat supply darah sedikit sulit.”

Jinki oppa bisa mengambil sedikit darahku.”

“Aku takkan melakukannya.”

Karena Jinki tahu gigi taringnya akan sangat menyakiti.

“Aku akan marah jika Jinki oppa tidak mendengarkanku kali ini!”

Dan ancaman untuk Jinki takkan pernah berlaku.

Vampir selalu menang.

Itu aturannya.

.

.

.

Sesuatu terjadi.

Jinki melemah secara fisik.

Ouch…”

Lelaki itu berdarah.

Tidak seperti biasanya.

Irene, apa ini?”

.

.

.

Mereka bilang vampir sangat menakutkan.

Jinki seorang vampir tapi ia tampan.

Tapi tampan tidak mengubah apapun, Irene hanya sedikit takut.

Maka ia membawa sesuatu untuk pertahanan diri.

.

.

.

“Aku hanya…”

Gadis itu tergagap.

Ia tak mengerti sejak kapan berada di sana, sebuah pegunungan ketika beberapa detik lalu tubuhnya berada di dalam apartemen Jinki.

“Pisau perak?”

Jinki berucap dengan serak.

Sudut matanya sedikit berair.

Lelaki itu kecewa.

“Kau takut denganku?”

Jinki bahkan memilih mati setelah hidup ribuan tahun ketika Irene adalah satu-satunya darah yang dapat ia ambil.

Tapi gadis itu berucap mencintainya disaat tangan putihnya menyimpan senjata.

.

.

.

Sebuah pegunungan saat Jinki terbangun menjadi vampir lalu menemukan gadis kecil yang menyentuhnya.

Membalut luka di kepalanya.

“Tuan, Anda baik-baik saja?”

“…”

“Dayang Choi, tolong bantu aku. ”

Irene kecil yang saat itu memiliki nama Bae Joohyun.

Irene pada masa yang berbeda, saat ia dilahirkan sebagai putri mahkota era Silla, sebagai putri mahkota era Joseon, lalu waktu berlalu.

Hingga Irene sebagai putri perdana menteri pada abad 20.

Dan selalu sama.

Irene yang bereinkarnasi dan Jinki yang menunggu gadis itu tumbuh.

Dan Gunung Halla selalu menjadi tempat pertama seorang vampir menemui gadisnya.

.

.

.

Oppa…maafkan aku…”

Gadis itu memeluk lutut.

Menangisi seseorang.

Seseorang yang pergi kepada arah yang ia tak tahu harus kemana untuk menemukannya.

Oppa…”

Irene tidak takut karena sendirian disebuah pegunungan.

Gadis itu hanya takut jika Jinki bersungguh-sungguh meninggalkannya.

OPPA! OPPA!”

Irene berteriak saat menemukan dirinya kembali di dalam apartemen Jinki.

Gadis itu segera beranjak, tidak menghapus air pada mukanya tapi melangkah mencari pada seluruh ruangan.

Tapi semua pintu terkunci, kecuali satu.

SREKK

Pintu utama terbuka.

Lalu Irene dan sebuah dorongan halus.

TAP

Sepasang kaki menyentuh lantai.

Jinki membawanya keluar.

Dengan kekuatan dan dengan lembut.

Jinki takkan pernah bisa memberikan rasa sakit untuk gadisnya.

.

.

.

Dan waktu berlalu.

Irene tanpa Jinki yang mereka pikir takkan pernah terjadi.

OppaJinki Oppa…”

Gadis itu menyebutkannya.

Ia merindu seperti langit malam yang takkan pernah melihat langit saat siang.

Satu bulan.

Dua bulan.

Satu tahun….

Jinki menghilang terlalu lama.

.

.

.

Oppa….”

Irene menemukannya.

Tuhan mempertemukan dua insan.

.

.

.

Irene melangkah pada seseorang.

Seseorang yang berada di tepi jalan raya.

Oppa…”

“…”

“Aku bersalah…aku bersalah…”

Gadis itu berkata, ia memperhatikan raut muka datar yang ia tak pernah melihat sebelumnya.

Jinki selalu tersenyum.

Tak pernah mengabaikannya.

“Kau menemukan kekasih baru?”

Jinki bertanya dengan raut muka menahan marah.

Jinki berusaha sembunyi, berusaha melupakan Irene yang telah menempati hatinya sejak ribuan tahun hingga seterusnya.

Tapi Irene melupakannya.

Begitu mudah.

“Kau membawa pisau perakmu? Aku harap kau membawanya, karena aku bisa saja membunuhmu.”

“Aku membuangnya…”

Lalu Jinki tersenyum bengis, menampakkan taring yang selalu ia sembunyikan.

Karena Jinki khawatir jika gadis itu takut melihatnya.

Tapi sekarang berbeda.

Dirinya merindu setiap hari, tapi Irene melupakannya seperti tak pernah mengenal Jinki dalam hidupnya.

Oppa…dia temanku…”

Gadis itu sedikit mundur saat seseorang di depannya tiba-tiba mendekat.

“…dia hanya membantuku karena aku hampir terjatuh…”

Lalu Irene menarik sebuah tangan.

Oppa, aku merindukanmu setiap hari.”

SRETT

“Aku merindukannya juga.”

Jinki berucap lalu mencium gadis di depannya.

Tidak lembut seperti biasanya.

Jinki berubah.

.

.

.

Gadis itu berusaha keluar dari dekapan tangan seseorang, Irene memohon tapi lelaki itu tak mendengarnya.

Jinki sangat-sangat marah.

BRAKK

Irene berhasil meloloskan diri, lalu melangkah mundur, ia hampir berlari tapi perubahan Jinki menahannya.

Wujud Jinki yang sesungguhnya.

Satu pasang sayap tiba-tiba hadir, berwarna putih dan sangat besar. Permukaan mata sabit dengan warna merah seluruhnya.

Dan gadis itu mengkhawatirkan satu hal.

“APA ITU VAMPIR?!”

“BAGAIMANA CARA MEMBUNUHNYA?!”

Seluruh dunia melihat.

 ‘Jika aku marah, aku akan berubah, menjadi sangat menakutkan.’

‘Lalu apa yang terjadi?’

‘Aku akan kehilangan banyak energi. Semakin lama aku berubah, maka semakin banyak energi yang hilang.’

Jinki harus kembali, gadis itu bersumpah Jinki harus kembali.

OPPA! KAU LIHAT AKU!”

“…”

OPPA! AKU AKAN BUNUH DIRI, AKU TIDAK MAIN-MAIN!”

Seperti manusia tanpa akal, vampir yang berubah ke dalam wujud aslinya. Tidak berbeda dengan binatang buas.

BRAKK

Sebuah mobil menabrak seorang manusia.

Dan jangan lupa jika binatang buas juga memiliki naluri.

Memiliki hati yang lembut pada dia yang dicintai.

Irene…”

Gadis itu berhasil melakukannya.

Jinki kembali, tapi menjadi semakin lemah, selemah dirinya.

Oppa…ambil darahku…”

Lelaki itu hanya menatapnya, membawa gadis itu pada dekapannya.

Membawa pada pegunungan tempat mereka bertemu sepuluh ribu tahun lalu dan satu tahun lalu.

Jinki berucap.

“Aku mengalami ini berulang kali.”

Melihat Irene yang menghadapi kematian.

“Tapi tak pernah jika usiamu semuda ini. Kesempatan ini terlalu singkat.”

Jinki mengerti jika ini adalah waktunya.

Irene menutup mata.

Selamanya.

.

.

.

‘Kau bisa berjodoh dengannya, tapi…’

‘Tapi?’

‘Ada selang waktu seratus tahun untuk setiap kesempatan. Dan hanya ada sepuluh kesempatan’

.

.

.

“Tak ada kesempatan tersisa, ‘kan?”

Jinki berucap pada seseorang.

“Ambil nyawaku, sebagai gantinya selamatkan dia.”

“…”

“Dan ambil ingatannya.”

.

.

.

End.

A TO Z FANFICcopyright

9 thoughts on “FLASHLIGHT

  1. halo.. aku reader baru ^^
    Ahyoung imnida :)
    aku suka ceritanya eonni.. walaupun ada beberapa dialog yg aku kurang ngerti tapi bagus.. ^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s