(Chapter 6) G.R.8.U

img1457457536142

img1457457536142

Chunniest Present

^

G.R.8.U

(Chapter 6)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice)

^

Previous :

PrologChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Suara keributan di dapur mengusik kenyaman tidur Taekwoon. Mata lelaki itu bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka. Dia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Kegiatan menyenangkan itu harus terhenti kala indera pendengarannya kembali mendengar suara gaduh di dapur.

Taekwoon menyikap selimut dan bangkit berdiri. Langkahnya sedikit terhuyung karena kepalanya yang terasa pusing. Dia berjalan berjalan menuju keluar kamarnya. Dia membuka pintu dan seketika tubuhnya membeku melihat pemandangan diluar pintu itu. Terlihat Jiyeon dengan rambut kucir kudanya mengenakan celemek dan sibuk menata meja makan yang jarang digunakannya.

Merasakan tatapan Taekwoon, Jiyeon menoleh dan menyunggingkan senyuman manis yang selalu lelaki itu rindukan.

“Selamat pagi Taekwoon-ssi.” Sapa Jiyeon seceria matahari pagi.

Taekwoon berjalan menghampiri meja makan dan menatap makanan-makanan di atasnya dengan sangat kelaparan.

“Duduklah, kita sarapan dulu.” Jiyeon melepaskan celemeknya dan meletakkan kembali pada tempatnya sebelum akhirnya mengambil tempat duduk di hadapan Taekwoon.

Meskipun kelaparan tapi Taekwoon tak kunjung menyentuh makanan itu. Tatapannya justru tertuju pada gadis di hadapannya.

“Bagaimana bisa kau di sini?” Inilah pertanyaan yang mengusik lelaki itu sejak tadi.

“Apa kau tidak ingat menemuiku semalam?”

Taekwoon menggeleng lemah. “Apakah aku melakukan hal yang aneh?”

Ya, kau menciumku. Jawab Jiyeon dalam hati.

“Tidak hanya saja kau mengatakan sesuatu yang tak ku mengerti.”

“Memang aku mengatakan apa?”

Jiyeon memegang dagunya mengingat ucapan Taekwoon semalam. “Kau mengatakan jika monster itu keluar lagi. Kau juga mengatakan darah ditanganmu tidak bisa hilang. Memang apa yang terjadi Taekwoon-ssi? Lalu apa monster yang kau maksudkan itu?”

Taekwoon terdiam dan terlihat menyesali mulutnya yang tak mampu di kontrolnya. Dia kembali menatap gadis di hadapannya.

“Bukan apa-apa. Lupakan saja. Aku selalu mengatakan hal yang tidak-tidak saat mabuk. Bahkan aku tidak sadar jika aku menemuimu. Sebaiknya kita makan sekarang.”

Taekwoon mengambil sumpit dan memakannya.

“Apa Jikyung mengetahuinya?”

Pertanyaan itu sukses menghentikan kegiatan tangan lelaki itu. Dia meletakkan kembali sumpit dan mangkuknya.

Ne. Jikyung mengetahuinya. Dia akan menjadi orang pertama yang mengetahui keadaanku.”

“Kalau begitu katakan padaku.”

Taekwoon terlihat terkejut dengan perkataan Jiyeon. Tak ada nada bercanda atau tertekan dari ucapan Jiyeon seperti saat dia menyinggung tentang Jikyung.

“Jika aku memang Jikyung, aku ingin mengetahui apa yang Jikyung ketahui.” Tambah Jiyeon.

“Tapi mengapa tiba-tiba kau ingin tahu tentang Jikyung? Bukankah dua hari yang lalu kau menolak apapun penjelasanku mengenai Jikyung. Jadi apa yang membuatmu berubah pikiran?”

“Dapur itu.” Jiyeon menunjuk ke arah dapur yang tak jauh dari ruang makan.

“Ada apa dengan dapur itu?” Taekwoon mengikuti ke arah yang ditunjuk Jiyeon.

“Aku pernah memimpikan berada di dapur itu dan seseorang memelukku dari belakang. Apakah aku dan kau pernah melakukan hal itu?”

Mulut Taekwoon terbuka tak percaya mendengar penjelasan Jiyeon. Sampai-sampai dia tidak mendengar Jiyeon memanggilnya hingga mengguncangkan bahunya.

“Ah… Ne... Kita memang pernah melakukan hal itu. Jikyung sebenarnya tidak pintar memasak tapi dia ingin sekali belajar memasak agar bisa menjadi istri yang baik untukku. Karena itulah aku mengajarinya dan aku selalu memeluknya dari belakang.”

Jiyeon mengangguk-angguk mendengar cerita Taekwoon. “Jika begitu ceritakan padaku mengenai monster yang kau katakan itu.”

Bahu Taekwoon menurun seiring helaan nafasnya. Bukannya lelaki itu tidak ingin cerita hanya saja dia cemas setelah mendengar ceritanya Jiyeon akan takut padanya.

“Setiap orang pasti memiliki kekurangan dan begitu juga denganku. Kekuranganku adalah aku tidak bisa mengontrol amarahku. Saat aku dilanda kemarahan tanpa kukehendaki tubuh melakukan sesuatu diluar kesadaranku. Lalu aku tersadar ternyata aku sudah membuat kekacauan.”

“Jadi monster itu ada di dalam dirimu dan keluar saat kau sedang marah?”

“Bisa di bilang begitu. Apa kau takut padaku?”

“Tidak. Aku memiliki teman yang mungkin sama denganmu. Lalu apa yang akan Jikyung lakukan?” Jiyeon teringat pada Taehyung yang juga memiliki sisi gelap layaknya Taekwoon.

“Dia akan menemaniku dan menggenggam tanganku semalaman agar monster itu tidak keluar lagi.”

“Aku rasa aku sudah melakukannya semalam. Kau tidak melepaskan tanganku semalaman membuatku tidak bisa pulang.”

Wajah Taekwoon berubah menyesal. “Mianhae.”

Gwaenchana. Aku rasa kita harus segera sarapan, kalau tidak aku bisa terlambat sekolah.”

Taekwoon tersenyum melihat keceriaan Jiyeon di pagi hari.

 

G.R.8.U

 

Langkah kaki Dahyun menuruni tangga penuh semangat. Beberapa saat yang lalu dia mendengar suara kakaknya – Mingyu – membahana di penjuru rumah. Bibirnya menyunggingkan senyuman melihat kakaknya menghempaskan tubuhnya di sofa.

Oppa…..” Panggil Dahyun menghampiri lelaki yang lebih tua darinya.

“YA!! Mengapa kau meninggalkanku kemarin? Bukannya menungguku di rumah sakit tapi malah menghilang begitu saja.” Dahyun memajukan bibirnya kesal.

Mingyu menegakkan tubuhnya dan menatap adiknya penuh keterkejutan. Tangannya terulur menyentuh dahi adiknya untuk mengecek panas atau tidak.

“Kau masuk rumah sakit? Apa kau sedang sakit?”

“Aku tidak sakit Oppa, hanya saja trauma itu datang kembali. Bukankah Oppa yang menolongku ke rumah sakit?”

“Aku sedang camping di Busan mana mungkin aku menolongmu.”

Kali ini giliran Dahyun yang terkejut dengan jawaban kakaknya. Jika bukan Mingyu Oppa siapa lagi yang menolongku? Apakah Ravi Oppa? Tapi mungkinkah dia orangnya? Pikir Dahyun.

“Dahyun-ah, kau tidak apa-apa? Katakanlah sesuatu.” Panik Mingyu mengguncangkan bahu adiknya.

“Aku sudah tidak apa-apa Oppa.”

“Kau yakin?” Mingyu terlihat belum mempercayai ucapan adiknya.

“Sangat yakin. Tolong jangan ceritakan hal ini pada eomma ne? Aku tidak ingin eomma terlalu mencemaskanku.”

Mingyu mengacak lembut puncak kepala adiknya. “Tentu saja. Rahasiamu ada di tangan yang tepat.”

Dahyun tersenyum tipis pada kakak yang selalu bisa diandalkannya. Namun pikirannya masih penasaran dengan orang yang sudah membawanya ke rumah sakit. Pemikiran tentang Ravi yang melakukannya menggelitik pikiran gadis itu. Namun tetap saja ada perasaaan tidak percaya dengan pemikiran itu.

 

G.R.8.U

 

Baru saja Jiyeon meletakkan pantatnya di kursi dia langsung dihujani tatapan penasaran oleh kedua sahabatnya Sooyoung dan Jaehwan.

“Apa maksud tatapan kalian ini?” Tanya Jiyeon.

“Jadi kau dan Taehyung kemana kemarin? Apakah kalian ….” Ucapan Jaehwan terputus dan digantikan dengan tatapan mereka yang nakal.

Langsung saja Jiyeon memukulnya dengan buku yang dikeluarkannya dari tas.

“Kami tidak melakukan apapun. Kami hanya bermain-main saja.”

“Lalu bagaimana dengan Hongbin sunbeinim?” Sahut Sooyoung.

“Aku sangat terkejut melihat Hongbin sunbeinim tiba-tiba datang. Tapi bukannya senang malah dia dan Taehyung bertengkar membuat keributan di sana.”

“Sepertinya Hongbin sunbeinim mulai menyukaimu Jiyeon-ah. Akhirnya perasaanmu terbalas juga.” Senang Sooyoung.

“Menyukaiku? Entahlah.”

Jaehwan melihat ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Biasanya jika Jiyeon mendengar mengenai Hongbin, gadis itu pasti akan bersemangat namun tidak kali ini.

“Ada apa Jiyeon-ah? Apa kau tidak menyukai Hongbin hyung lagi?” Jaehwan menatap Jiyeon serius.

“Ada yang berubah dengan hatiku Jaehwan-ah. Entah mengapa perasaan sukaku pada Hongbin sunbeinim semakin lama semakin menghilang.”

“Apa karena Taehyung?” Jiyeon menatap tajam Sooyoung yang seenaknya berbicara.

Aniyo. Sebenarnya aku bertemu dengan seorang namja yang mirip dalam mimpiku. Dan itu bukan Taehyung. Namja itu mengatakan padaku jika aku adalah kekasihnya yang hilang. Awalnya aku tidak percaya. Namun semalam saat aku berada di apartementnya aku melihat dapur yang sama seperti dalam mimpiku.”

“Jadi kau berpikir kau bukanlah Jiyeon? Apa kau sedang tidak waras Jiyeon-ah?” Jaehwan memegang dahi Jiyeon untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu namun langsung ditepisnya.

“Sudah kukatakan awalnya aku tidak percaya. Tapi entah mengapa perasaanku sangat dalam dengan namja itu.” Jiyeon mengingat ciumannya kemarin.

“Kau ingin mengatakan jika kau menyukai namja itu? Apa kau sudah gila Jiyeon-ah? Secepat itu hatimu berubah?” Heran Sooyoung.

“Kau tak mengerti Sooyoung-ah. Entah mengapa namja itu selalu memenuhi pikiranku. Perasaan ini sama seperti saat aku menyukai Hongbin sunbeinim.”

“Mungkin kau memang benar kekasihnya yang hilang Jiyeon-ah. Kau pernah mengatakan jika kau tidak ingat masa kecilmu. Jadi kemungkinan besar kau memang orang itu. Apa kau akan menyelidikinya?” Ucap Jaehwan.

“Aku akan melakukannya.” Jiyeon tersenyum tipis pada kedua sahabatnya itu.

 

G.R.8.U

 

Taekwoon menatap Hakyeon yang masih ketakutan berhadapan dengannya. Lelaki itu tak bisa menyalahkan sekertarisnya itu. Melihat langsung dirinya memukul membabi buta orang yang sudah menggagalkan operasi pengirimannya pasti sudah membuat orang lain merinding ketakutan.

“Apa kau sudah membereskan orang itu?”

Hakyeon mengangguk dan menjawab ‘ya’ dengan suara lirihnya. Taekwoon bisa menangkap reaksi tubuh Hakyeon yang gemetar ketakutan.

“Monster itu sudah menghilang Hakyeon-ah, Mianhae sudah membuatmu ketakutan.”

Akhirnya Hakyeon berani menatap langsung atasannya itu. “Tapi ba-bagaimana bisa secepat itu, biasanya kau membutuhkan waktu lama untuk menghilangkan monster itu.”

“Ada seseorang yang berhasil menghilangkannya. Bisakah kita lupakan kejadian kemarin dan mulai bekerja?”

“Tentu saja.” Hakyeon tampak lebih santai melihat Taekwoon yang duduk di hadapannya bukan monster yang dilihatnya kemarin.

“Karena pengiriman kemarin gagal. Atur ulang pengiriman kembali. Dan jangan ada orang baru yang masuk. Aku tidak ingin mengambil resiko memasukkan orang seperti kemarin.”

“Baik sajangnim. Aku akan mengaturnya ulang. Satu jam lagi anda akan ada pertemuan dengan Perusahaan Bae untuk membahas penanaman saham. Tapi…”

“Tapi apa?”Taekwoon menatap sekertarisnya bingung.

“Tapi kau juga akan bertemu dengan Ravi di sana. Apa hal itu tidak masalah?” Ragu Hakyeon.

“Apa kau meragukanku untuk memenangkan hati tuan Bae, Hakyeon-ssi?”

“Te-tentu saja tidak sajangnim hanya saja kau pernah mengatakan padaku untuk tidak meremehkannya.”

“Aku tidak meremehkannya Hakyeon-ssi. Aku yakin aku bisa mengalahkan orang baru itu.” Yakin Taekwoon.

“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke mejaku jika kau membutuhkanku.” Hakyeon berbalik meninggalkan Taekwoon yang bersandar di kursi besarnya.

Taekwoon yakin sekali jika orang yang sudah dihabisinya adalah orang suruhan Ravi. Selama ini tidak ada satu orang pun yang berani mengganggu usaha ilegalnya. Dan hal itu terjadi setelah Ravi menggantikan ayahnya.

Tangan berkulit seputih salju itu menekan tombol dan rak yang berada di dinding bergeser memperlihatkan foto Jikyung yang tak bosan-bosan dipandanginya. Sebenarnya Taekwoon tidak sepenuhnya tidak sadarkan diri semalam. Dia masih ingat betul saat dirinya mencium bibir Jiyeon yang berwarna merah muda.

Jemari Taekwoon menyentuh bibir Jikyung dan ingat betapa lembutnya bibir itu menempel di bibirnya. Tapi ada yang berbeda dengan ciuman itu. Taekwoon merasa ciuman itu berbeda dengan ciumannya saat bersama Jikyung.

Suara ponsel berdering mengalihkan perhatian lelaki itu. Dia berjalan menuju mejanya dan mengambil ponselnya. Nama ‘Abeoji’ tertera di layar ponselnya.

“Taekwoon-ah, Abeoji dan eomma hampir sampai di rumah. Nanti malam bisakah kau pulang makan malam bersama? Ada yang ingin abeoji bicarakan denganmu.”

“Baiklah abeoji. Nanti malam aku akan pulang.”

“Baguslah. Sampai jumpa nanti malam.”

Taekwoon meletakkan ponsel itu di atas meja dan mulai kembali memasuki dunia kerja yang akan mengalihkan perhatiannya dan kehidupan pribadinya.

 

G.R.8.U

 

Sebuah tangan putih yang dihiasi gelang berwarna hitam mengambil gelas bubble tea dan meminumnya. Mata hitam sang pemilik tangan terus tertuju pada sekolah yang terletak tepat di depan caffe itu. Dia mengangkat tangan satunya guna melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Sebentar lagi dia keluar dan aku harus menemuinya, pikir Taehyung senang.

“Kita bertemu lagi. Annyeong hasseyo.”

CajI2u6XIAAuQ5I

Sebuah suara gadis mengalihkan perhatian Taehyung. Dia melihat seorang gadis berambut cinnamon tersenyum dan melambai ke arah Taehyung. Dengan tatapan kosong Taehyung mengamati gadis itu karena tak mengenalnya. Dilihatnya gadis itu langsung duduk di hadapannya tanpa meminta ijin dari Taehyung.

“Siapa kau?” Suara dingin Taehyung membuat gadis itu mendongak.

Gadis itu kembali tersenyum pada Taehyung tak memperdulikan sikap dingin Taehyung.

“Kau tidak ingat aku? Kita bertemu di halte beberapa hari yang lalu.”

“Halte?” Kedua alis Taehyung bertaut mencoba mengingatnya.

“Benar dan pada saat itu aku dalam kondisi memalukan penuh dengan air mata.”

“Aku tidak ingat. Aku tidak akan ingat jika hal itu tidak penting.” Dengan cuek Taehyung kembali meminum minumannya.

“Tidak masalah. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu.”

Taehyung meletakkan gelas itu dan menatap gadis yang menatapnya senang.

“Memang aku melakukan apa untukmu?”

“Kau mengucapkan beberapa kalimat yang pedas namun membuatku berpikir jika ucapanmu memang benar. Saat itu aku menyerah untuk menyukai seseorang tapi kau berkata ‘Menangis tidak akan menyelesaikan masalahmu. Jangan menyerah menghadapi kesulitanmu, dengan begitu kau akan bisa melihat jalan keluar dari kesulitanmu itu’. Dan karena ucapanmu aku menjadi lupa untuk menyerah.”

“Jadi apa yang kau lakukan setelah aku mengatakan hal itu?”

“Aku tidak menyerah untuk menyukai orang itu.”

“Lalu apakah orang itu menyukaimu?”

Dahyun menghela nafas berat lalu menggelengkan kepalanya. “Dia tak pernah menyukaiku, bahkan mungkin membenciku. Tapi entah mengapa semenjak aku tidak menyerah menyukainya, ada yang berubah darinya. Dia mulai sedikit memperhatikanku.”

“Jadi ucapanku benar bukan? Jika kau tidak menyerah kau akan menemukan jalannya.”

“Tapi aku tidak tahu akankah dia menyukaiku.”

“Sedikit memperhatikan itu sudah merupakan tanda seorang namja menyukaimu. Aku juga seorang namja jadi aku tahu apa yang dipikirkan namja.” Taehyung terdengar tidak sedingin yang tadi hal itu membuat Dahyun senang.

“Menyenangkan bisa mengobrol denganmu. Aku Dahyun. Bisakah kita berteman?” Dahyun mengulurkan tangannya.

Taehyung mengamati tangan Dahyun itu lalu beralih ke sang pemilik tangan. Belum pernah ada yang mengulurkan tangan dan mengajaknya berteman. Ada perasaan menggelitik senang dalam hati Taehyung.

“Teman?” Taehyung mengulangi kata itu dengan nada yang aneh.

“Teman. Apa kau tidak tahu kata itu eoh?”

“Tentu saja aku tahu. Baiklah kita berteman.” Taehyung membalas uluran tangan Dahyun.

“Jadi aku harus memanggilmu apa? Kau tidak menyebutkan namamu.”

“Panggil saja aku V. Just V.”

“Baiklah V. Senang bisa berteman denganmu.” Dahyun mengayunkan tangan mereka dengan penuh semangat.

 

G.R.8.U

 

Taekwoon berjalan kembali ke tempat duduknya setelah mempresentasikan produk mobil sport dengan kecepatan tinggi yang sedang dalam tahap perencanaan dalam perusahaannya kepada tuan Bae. Tatapan Taekwoon tertuju pada Ravi yang tersenyum sinis padanya. Entah mengapa pemikiran Ravi terlibat dengan orang yang sudah dihabisinya kemarin semakin kuat tertancap dalam otak Taekwoon.

Sayang sekali tidak ada bukti yang membuktikan pemikirannya itu. Jika saja monster itu tidak keluar, Taekwoon pasti bisa mengintrogasi mata-mata itu. Namun semua sudah terlanjur terjadi dan yang pasti Taekwoon harus lebih berhati-hati dalam menjalankan bisnis tertutup itu.

“Bagi pemula untuk tuan Kim, ide mengenai mobil dengan roda yang berfungsi ganda memang sangat menarik tuan Kim. Namun saat ini di pasaran lebih menonjolkan pada kecepatan. Karena itu aku akan menanamkan sahamku pada pada tuan Jung. Keputusan sudah diambil, jadi meeting kali ini sudah berakhir. Terimakasih tuan-tuan untuk kedatangan kalian.”

Tuan Bae berdiri dan seketika Taekwoon serta Ravi berdiri dan membungkuk pada lelaki yang berumur lebih tua dari mereka. Ketika mereka mendongak tatapan kedua laki-laki itu bertemu dan menciptakan aura dingin dari kedua tatapan mereka. Ravi berjalan mendekat den tersenyum sinis pada Taekwoon.

“Selamat untuk keberhasilanmu Taekwoon-ssi.” Ravi mengulurkan tangannya namun Taekwoon enggan menyambut uluran tangan itu.

“Kau tidak perlu repot-repot melakukan basa-basi itu Ravi-ssi.”

“Sayang sekali sebagai bentuk kesopananku aku harus melakukannya.”

“Terimakasih untuk kesopananmu Ravi-ssi. Kulihat semenjak masuk ruang meeting tadi kau tampak kesal. Apa kau mengalami hari yang buruk?” Taekwoon memang melihat wajah Ravi yang memendam amarahnya sejak rapat tadi.

“Hanya masalah perusahaan biasa. Aku pergi dulu. Sampai jumpa Taekwoon-ssi.”

Taekwoon mengamati punggung Ravi yang menjauh hingga lelaki itu menghilang dari balik pintu. Hakyeon yang sedari tadi mengamati pembicaraan kedua lelaki itu berjalan menghampiri Taekwoon.

“Entah mengapa aku memiliki firasat jika Ravi yang menjadi dalang dari kegagalan operasi pengiriman kemarin. Perintahkan seseorang untuk menyelidikinya.”

“Baik sajangnim.”

 

G.R.8.U

 

Langkah kaki santai menggiring Jiyeon menuju gerbang sekolah. Gadis itu merasa sepi karena tidak ada Taehyung yang biasanya mengganggunya. Mengingat Taehyung, Jiyeon jadi ingat pembicaraannya dengan Sanghyuk tadi.

 

~~~Flashback~~~

“A-apa yang ingin sunbeinim bicarakan?” Sanghyuk kembali bertanya ketika mereka sudah duduk.

“Kudengar Taehyung berkelahi untuk melindungimu dari Namjoon, benarkah itu?”

Sanghyuk tampak terkejut mendengar pertanyaan Jiyeon. Namun detik berikutnya ekspresi lelaki itu berubah menjadi bimbang. Sanghyuk bingung haruskah dia memberitahukannya pada Jiyeon atau tidak. Tapi ucapan Taehyung sebelum dia di skors masih terngiang di pikiran Sanghyuk.

 

Jangan katakan pada siapapun untuk apa aku berkelahi. Karena itu bisa membuatmu dalam bahaya dan aku tak bisa melindungimu. Tidak masalah jika semua orang berpikir aku monster yang sudah menghancurkan Namjoon, kau mengerti?

 

Sanghyuk menoleh menatap Jiyeon dan menilai apakah gadis itu berbahaya untuknya.

“Tak perlu takut seperti itu Sanghyuk-ssi. Taehyung sendiri yang memberitahuku kemarin. Aku hanya ingin memastikannya darimu. Aku tidak percaya dengan ucapannya.” Yakin Jiyeon.

“Jadi kau adalah gadis yang diceritakannya itu?”

Kedua alis Jiyeon menyatu mendengar pertanyaan itu.

“Apa Taehyung selalu menceritakan tentangku padamu?”

Sanghyuk mengangguk mantap. “Dia memang bercerita tentang seorang gadis yang disukainya, tapi dia tidak menyebutkan jika gadis itu adalah kau.”

“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku Sanghyuk-ssi.” Tuntut Jiyeon.

Ne. Taehyung memang berkelahi untuk melindungiku dari Namjoon.”

“Jadi kalian benar-benar berteman? Apa dia memaksamu?” Suara Jiyeon meninggi membuat Sanghyuk memberi isyarat pada gadis itu untuk tidak keras-keras.

“Jangan terlalu keras Jiyeon-ssi, nanti semua orang akan tahu dan akan memanfaatkan situasi ini.”

Jiyeon pun mengangguk mengerti dan meminta maaf karena kecerobohannya.

“Awalnya dia memang memaksaku mendengar keluh kesahnya, tapi semakin lama aku sadar sebenarnya dia tidak semenakutkan yang orang-orang pikir. Dia hanya kesepian dan membutuhkan seseorang untuk mendengarkan kekesalan dihatinya saja.”

Jiyeon ingat ekspresi serius yang ditunjukkan Taehyung kemarin. Sanghyuk memang benar, Taehyung memang terlihat sangat kesepian dan sangat membutuhkan seseorang yang menemaninya.

“Sanghyuk-ssi, apa kau tahu apa yang membuat Taehyung terlihat kesepian?”

Mianhae Jiyeon-ssi, aku sudah berjanji pada Taehyung untuk tidak mengatakannya pada orang lain. Yang pasti ada hubungannya dengan keluarga dan hyungnya.”

“Taehyung memiliki hyung?” Kaget Jiyeon.

Ne. Mianhae aku tidak bisa memberitahumu Jiyeon-ssi.”

“Tidak masalah Sanghyuk-ssi. Gomawo.”

~~~Flashback End~~~

 

Jiyeon memang tidak tahu apa-apa mengenai keluarga Jung kecuali ayahnya yang menyeramkan. Ada rasa penasaran yang merasuk di pikiran Jiyeon mengenai apa yang sudah membuat Taehyung terlihat sangat kesepian. Dia akan menanyakan nanti jika dia bertemu dengan lelaki itu.

“Apa kau sedang memikirkanku?”

Jiyeon memekik kaget mendengar suara yang tiba-tiba masuk ke telinganya. Tatapannya tertuju pada lelaki yang saat ini tertawa geli melihat reaksinya.

“Aiishhh… kau ini mengagetkanku saja.” Jiyeon mendengus kesal.

“Kau terlalu memikirkanku jadi kau tidak sadar aku berjalan mendekatimu.”

“Cih… Siapa juga yang memikirkanmu?” Jiyeon berjalan diikuti Taehyung.

“Bagaimana jika kita pergi bermain lagi?” Tawar Taehyung.

“Tidak bisa aku harus bekerja.”

“Bekerja? Tapi kau kan masih sekolah.” Heran Taehyung.

“Apa kau tidak pernah mendengar kata part time Taehyung-ssi.”

“Tentu saja pernah. Aku hanya tidak menyangka kau melakukannya. Kalau begitu aku akan ikut denganmu.”

Langkah Jiyeon terhenti dan menatap lelaki yang dipikirkannya tadi.

“YA!!! Apa kau tidak ada kegiatan lain selain mengikutiku? Lagipula kau sedang di skors apa orangtuamu tidak menghukummu?”

“Mereka tidak ada dirumah. Lagipula di rumah tidak ada siapapun jadi aku bosan.”

Jiyeon menghela nafas mendengar jawaban Taehyung.

“Baiklah kau boleh ikut denganku. Tapi jika kau membuat onar …..”

“Aku berjanji akan menjadi anak yang baik.” Potong Taehyung dan memasang jari V nya.

v bts

Akhirnya kedua manusia itu berjalan bersama menuju caffe tempat Jiyeon bekerja. Gadis itu teringat ucapan Sanghyuk yang mengatakan mengenai kakak Taehyung. Rasa penasaran kembali muncul.

“Taehyung-ssi. Kudengar kau memiliki hyung, benarkah?”

Taehyung hanya bergumam menjawab pertanyaan Jiyeon seakan tidak ingin membicarakan kakak satu-satunya.

“Kau sepertinya tidak menyukainya, mengapa?”

Taehyung menoleh ke arah kekasih paksaannya itu. Jiyeon bisa menangkap kemarahan di mata Taehyung.

Hyung adalah namja paling sempurna yang pernah ada. Tampan, pintar, jenius dan juga penurut. Semua orang pasti menyukainya. Berbeda denganku, tidak ada yang menyukaiku.”

Jiyeon terkejut mendengar penjelasan Taehyung. Sekilas Jiyeon bisa melihat kesedihan di balik amarah itu.

“Kau pasti sudah tahu alasannya mengapa aku tidak menyukai hyungku. Sudah cukup membicarakannya. Jadi di mana kau bekerja?”

Jiyeon menunjuk caffe di seberang jalan dan mereka berdua langsung meluncur ke sana.

 

G.R.8.U

 

Suara mobil memasuki pekarangan terdengar dari dalam rumah keluarga Kim. Dengan senang Dahyun menghampiri jendela kamarnya dan melihat siapa yang datang. Kedua sudut bibirnya melengkung lebar melihat Ravi keluar dari dalam mobil. Lelaki itu berjalan ke dalam rumahnya seraya melonggarkan dasi yang menjerat lehernya.

Dahyun segera keluar dari kamar dan berlari menuruni tangga. Terdengar pintu di buka dan menutup kembali. Dahyun melihat Ravi berjalan lunglai memasuki rumah. Gadis itu berhenti di depan Ravi menghentikan langkah lelaki itu. Dia melemparkan senyuman pada Ravi.

“Ada apa?” Tanya Ravi dingin.

Gomawo Oppa.”

“Untuk apa berterimakasih padaku?”

“Karena Oppa sudah membawaku ke rumah sakit kemarin.” Senang Dahyun.

Wajah Ravi seketika menegang mendengar ucapan gadis itu. Dia tidak menyangka Dahyun akan mengetahui jika dirinya yang menyelamatkannya. Padahal Ravi tidak menyebutkan namanya saat di rumah sakit.

“Kau salah orang. Aku tidak pernah menolongmu.” Ravi berjalan melewati Dahyun.

“Tapi hanya kau Oppaku yang berada di Seoul. Kemarin Mingyu Oppa sedang berada di Busan jadi tidak mungkin dia yang menolongku.” Langkah Ravi terhenti mendengar ucapan Dahyun.

Lelaki itu berbalik dan kembali menghampiri Dahyun namun kali ini jauh lebih dekat. Bahkan Dahyun bisa mencium aroma sake dari hembusan nafas Ravi. Gadis itu mendongak dan bisa melihat kedua pipi Ravi sedikit memerah. Saat Dahyun melakukan hal itu tanpa di duga membuat tatapan mereka bertemu.

Beberapa detik mereka berdiri dalam dalam diam dan detik berikutnya tangan Ravi terangkat menangkup pipi Dahyun. Ibu jarinya bergerak mengelus pipi Dahyun yang terasa lembut di kulitnya. Mata Dahyun berkedip-kedip melihat sikap Ravi yang tak biasa.

Sayang sekali moment itu tak berlangsung lama karena saat terdengar suara pintu terbuka langsung menyadarkan mereka dan Ravi langsung melepaskan tangannya.

“Kau salah orang. Tidak ada untungnya aku menolongmu.” Ravi berbalik dan berjalan menuju kamarnya.

Lelaki itu menutup pintu kamarnya dan bersandar pada pintu itu. Dia mengangkat tangan yang tadi digunakannya untuk menyentuh pipi Dahyun. Menatap tangan itu, Ravi langsung mengumpat dan mengutuk perbuatan yang seharusnya tak dilakukannya.

“Dasar bodoh! Ini pasti karena aku sedikit mabuk.” Pikir Ravi.

Hari ini adalah hari yang tidak menyenangkan bagi Ravi. Mata-mata yang dikirimnya dihabisi oleh Taekwoon dan juga saham yang diperlukannya juga di ambil oleh orang yang sama. Kebencian Ravi kepada Taekwoon semakin besar dengan kejadian hari ini. Dan lelaki itu bertekad untuk membalas lelaki itu.

 

G.R.8.U

 

Acara makan malam keluarga Jung sudah dimulai meskipun masih kekurangan satu anggota keluarga yang belum hadir.

“Dimana Taehyung?” Tanya Yunho melihat kursi Taehyung yang kosong.

“Aku sudah menghubunginya. Sebentar lagi dia pasti akan datang.” Jawab Yoona.

Sang kepala keluarga – Jung Yunho – menoleh kearah putra sulungnya yang menikmati makan malam dalam diam.

Abeoji mendengar ada masalah dengan operasi pengiriman beberapa hari yang lalu?” Yunho memulai pembicaraan.

“Benar abeoji. Tapi aku sudah membereskannya. Dan aku sedang menyelidiki siapa orang itu.”

“Kau memang selalu cepat melakukan pekerjaanmu Taekwoon-ah. Bukankah kau sudah berumur 25 tahun tidakkah kau berpikir sudah saatnya kau memiliki seorang pendamping?”

Taekwoon terdiam mendengar ucapan sang ayah meskipun lelaki itu tahu mengarah ke mana pembicaraan itu.

“Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku abeoji dan aku tidak sempat memikirkan hal itu.” Dengan tenang lelaki itu kembali menyantap makanannya.

“Mulai besok, aeboji akan mencari seseorang yang pantas menjadi istrimu. Kau setuju dengan ide abeoji bukan?”

Kepala Taekwoon mendongak membuat tatapannya bertemu dengan sang ibu yang duduk diam di hadapannya. Wanita cantik itu menggelengkan kepala seakan mengatakan pada putranya untuk menolak permintaan sang ayah. Tatapan Taekwoon beralih ke ayahnya yang tengah menatapnya penuh harap.

Ne abeoji.”

Sebuah tepukan tangan keras Yunho menjadi tanda kepuasan lelaki itu. Berbeda dengan sang suami yang begitu bahagia, Yoona justru menunduk sedih.

“Sudah kukatakan bukan jika Taekwoon pasti akan menurutiku.” Ucap Yunho pada sang istri.

“Sampai kapan hyung mau diatur oleh aeboji eoh? Bahkan masalah pendamping pun hyung tak bisa memilih sendiri.”

Seketika ketiga anggota keluarga Jung menoleh mendengar ucapan itu. Taehyung yang baru saja datang tidak sengaja mendengar percakapan sang ayah dengan kakaknya. Lelaki itu dengan santai duduk di kursinya tanpa memperdulikan tatapan amarah ayahnya.

Abeoji memilihkannya untuk kebaikan Taekwoon. Jadi belajarlah dari hyung mu yang selalu menuruti ucapan abeoji.” Suara Yunho berubah dingin menghadapi putra bungsunya.

Shirreo. Aku memilih jalanku sendiri bukan menuruti jalan abeoji. Karena aku bukanlah boneka abeoji yang bisa diatur sesukanya.”

BRRRAAKK…..

Gebrakan meja yang keras membuat Yoona dan Taekwoon terkejut. Perang antara ayah dan anak akan kembali di mulai. Nafas Yunho memburu menatap Taehyung yang terlihat santai dengan kemarahan sang ayah. Tiba-tiba wajah marah Yunho berubah menjadi pucat. Dia memegangi dadanya yang mendadak terasa sangat sakit. Segera Yoona dan Taekwoon menghampiri Yunho dan membawa lelaki yang berumur setengah abad itu kembali ke kamar.

“Taekwoon, panggil dokter Choi.” Perintah Yoona yang langsung dilaksanakan putranya itu.

Dua puluh menit kemudian dokter Choi Minho yang merupakan dokter keluarga Jung sudah selesai memeriksa Yunho yang saat ini terlelap. Lelaki berparas tinggi itu menghampiri Yoona dan Taekwoon yang tengah menunggunya.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tuan Jung hanya kelelahan saja setelah perjalanan panjang ditambah emosinya yang meninggi membuat penyakit jantungnya kembali berulah.” Jelas lelaki yang mengenakan jubah putih itu.

“Syukurlah. Terimakasih dokter Choi.” Yoona menghela nafas lega.

“Sama-sama nyonya Jung. Ini resep untuk obatnya. Saya permisi dulu.”

“Aku akan mengantar anda keluar dokter Choi.” Taekwoon mengantar Minho keluar dari kamar ayahnya.

“Sudah lama tuan Jung tidak sakit, jadi apa yang terjadi?” Tanya Minho yang usianya tidak jauh dari Taekwoon.

“Taehyung, abeoji kembali bertengkar dengan Taehyung.”

“Huhh… Pantas saja. Tuan Jung dan Taehyung sepertinya memang tidak pernah cocok.” Minho menggelengkan kepalanya.

Taekwoon membuka pintu dan Minho berjalan keluar. Lelaki itu membungkuk dan mengucapkan terimakasih pada dokter muda itu sebelum menutupnya kembali. Taekwoon kembali ke kamar ayahnya dan melihat sang ibu tengah duduk di tepi ranjang seraya menatap Yunho yang masih terlelap. Mendengar langkah kaki Taekwoon mendekat, Yoona menoleh dan tersenyum pada putranya.

“Taekwoon-ah, apa kau yakin akan menuruti perjodohan itu? Apa kau tak memiliki seorang yeoja yang kau sukai?” Tanya Yoona.

Sejenak Taekwoon terdiam. Nama Jiyeon terlintas di pikirannya. Taekwoon memang ingin sekali menolak perjodohan yang dibicarakan ayahnya. Apalagi Jiyeon sudah mulai menyadari jika dirinya adalah Jikyung. Tetapi Taekwoon tak bisa menolak permintaan ayahnya karena bagi Taekwoon sang ayah juga sangat penting dalam hidupnya.

“Aku memilikinya eomma, tapi aku tak bisa menolak permintaan abeoji. Jika abeoji ingin aku menikah dengan yeoja lain maka aku akan menurutinya.”

Yoona menghela nafas mendengar ucapan Taekwoon yang penurut.

“Mengapa kau melakukannya Taekwoon-ah?”

“Melakukan apa maksud eomma?” Bingung Taekwoon.

“Mengapa kau selalu menurut bahkan masalah perasaan kau masih saja menuruti abeojimu meskipun kau tidak menyukainya?”

Taekwoon menghampiri ibunya dan berlutut di hadapan wanita yang sudah melahirkannya itu. Mata hitam itu menatap sang ibu penuh sayang.

Abeoji dan eomma selama ini selalu memberikan yang terbaik untukku. Selalu membantuku ketika aku dalam kesulitan dan memberikan apapun yang selalu kubutuhkan. Jadi sebagai balasan yang bisa kulakukan hanyalah menuruti ucapan kalian. Lagipula abeoji dan eomma juga dijodohkan dan kalian bahagia. Aku berpikir hal itu juga akan berlaku padaku.”

Air mata keluar dari mata Yoona mendengar ucapan Taekwoon yang begitu menyentuh. Kedua tangannya menangkup pipi Taekwoon dan mengelusnya lembut.

Eomma yakin semua eomma di dunia ini pasti iri pada eomma karena memiliki putra yang begitu berbakti pada kedua orangtuanya. Jika saja Taehyung juga berpikir sama denganmu.”

Taekwoon memegang tangan ibunya. “Eomma, ingatlah Taehyung dan aku sangatlah berbeda. Eomma jangan berpikir untuk melakukan hal yang sama dengan abeoji. Itu akan membuat Taehyung semakin sedih.”

“Kau benar. Apa kau tidak berpikir jika Taehyung dan abeojimu sangat mirip?”

Ne eomma, aku menyadari hal itu. Karena itulah mereka tidak cocok dan ingin menang sendiri. Ini sudah larut eomma, istirahatlah.” Taekwoon mencium pipi sang ibu sebelum berjalan menjauh.

Yoona tersenyum melihat putranya berjalan keluar kamar. Tatapan wanita itu beralih ke arah suaminya yang tengah terlelap. Tidak menyangka waktu begitu cepat sehingga tanpa sadar pasangan Jung itu sudah beranjak tua.

Yoona menggenggam tangan lelaki yang dicintainya sebelum akhirnya menutup matanya yang terasa berat.

 

G.R.8.U

 

“Dasar namja menyebalkan. Tadi merengek ingin ikut lalu setelah menerima telpon pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun.” Gerutu Jiyeon yang tengah berjalan pulang.

“Awas saja besok kalau bertemu aku pasti akan memarahinya karena sudah membuatku cemas tidak menemukannya tadi. Aku akan mencincangnya habis-habisan dasar namja menyebalkan. Dia juga tak menelponku mengatakan sesuatu.” Jiyeon mengepalkan tangannya seakan bersiap meninju seseorang di hadapannya.

Tiba-tiba ponsel Jiyeon bordering dan gadis itu mengambilnya di saku langsung mengangkatnya tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

“YA!!! Kau pergi ke mana tadi HUH? Jika ingin pergi tidak bisakah kau mengatakannya padaku dulu HUH? Membuatku khawatir saja.” Sembur Jiyeon.

“Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik?”

Jiyeon terdiam mendengar suara Taekwoon diujung telponnya. “Mi-mianhae Taekwoon-ssi, kupikir kau orang lain.”

“Apa kau sedang menunggu telpon seseorang?”

A-aniyo. Ada apa menelponku?”

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Apa kau ada waktu?” Tanya Taekwoon.

“Baiklah.”

“Baguslah. Kalau begitu berjalanlah terus dan kau akan melihatku.”

Belum sempat Jiyeon bertanya kembali, Taekwoon sudah menutup telpon itu. Gadis itu memandang ponselnya bingung. Namun Jiyeon tetap berjalan lurus sesuai perintah Taekwoon. Hingga di pertigaan gadis itu bisa melihat Taekwoon berdiri seraya bersandar di mobilnya. Senyuman manis yang selalu membuat jantung Jiyeon berdebar tampak di wajah tampan lelaki itu.

“Jadi ke mana kau akan mengajakku?” Tanya Jiyeon setelah berdiri di hadapan lelaki yang lebih tinggi darinya itu.

“Nanti kau juga akan tahu. Masuklah.”

Tak lama Jiyeon dan Taekwoon sudah berada di dalam mobil yang melaju di jalanan. Taekwoon menoleh dan melihat Jiyeon tengah sibuk mengamati jendela mobil.

“Tampaknya hari ini suasana hatimu sedang buruk. Apa kau mau mengijinkanku mendengar ceritamu?” Taekwoon memecahkan keheningan.

“Hanya seseorang yang membuatnya begitu.”

“Apa dia seorang namja?”

Jiyeon menoleh mendengar suara Taekwoon sedikit berat tampak jelas tidak menyukai gadis itu bersama lelaki lain. Inilah sifat yang baru saja Taekwoon perlihatkan, sifat cemburu.

“Dia memang namja. Tapi hanya teman.”

Meskipun Taekwoon menganggukkan kepalanya mengerti tapi Jiyeon masih bisa melihat ekspresi ketidaksukaan di mata lelaki itu.

“Jadi apa yang dilakukannya sehingga membuatmu kesal.”

“Dia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun membuatku cemas saja.”

Taekwoon tidak lagi bertanya membuat suasana berubah menjadi tegang. Jiyeon lebih memilih menikmati pemandangan di luar jendelanya. Kira-kira lima belas menit kemudian mobil Taekwoon memasuki hamparan padang rumput sebelum akhirnya mematikan mesin mobilnya.

Kedua orang itu keluar dari mobil dan di sambut dengan rerumputan hijau. Karena malam dan penerangan yang minim membuat Jiyeon tak bisa menebak di mana dia berada.

“Ini di mana Taekwoon-ssi?” Penasaran Jiyeon.

“Ini adalah tempat kita sering menghabiskan waktu bersama. Ayo.” Taekwoon mengulurkan tangannya.

Jiyeon sedikit takut melihat tempat yang gelap itu namun saat tangannya merasakan genggaman tangan Taekwoon yang hangat perasaan itu hilang dan digantikan perasaan nyaman yang tidak ingin Jiyeon lepaskan.

“Tidak bisakah kita membawa senter atau lilin? Di sini sangat gelap.” Jiyeon merapatkan tubuhnya pada Taekwoon.

“Kita tak memerlukan itu. Lihatlah.”

Taekwoon mengambil ranting lalu menggoreskan ranting itu di rerumputan. Tiba-tiba hewan-hewan bercahaya berterbangan menjadi penerangan mereka. Jiyeon begitu terpana melihat cahaya kunang-kunang yang menerangi kegelapan malam itu. Cahaya-cahaya kecil itu terlihat begitu cantik.

Slow-Shutter-Fireflies-5

Tatapan Jiyeon beralih ke sebuah danau yang tak dilihatnya tadi. Ingatannya tertuju pada mimpinya yang menampilkan pemandangan danau yang sama.

“Danau itu…” Ucapan Jiyeon terputus karena pemandangan itu terlalu mengejutkannya.

“Kita sering kemari untuk menghabiskan waktu berdua. Apa kau mengingatnya?”

“Aku juga pernah memimpikan hal ini.”

“Aku senang ingatan itu masih melekat di pikiranmu. Ayo.”

Taekwoon menarik tangan Jiyeon mendekati danau itu diiringi cahaya dari kunang-kunang. Mereka berdua duduk diatas rerumputan seraya menikmati pantulan benda-benda langit dari atas permukaan air danau.

“Tempat ini adalah tempat terakhir kita bersama. Dan aku tidak akan melupakan ucapan terakhirmu saat itu.” Taekwoon menatap lurus ke arah danau.

Jiyeon menoleh ke arah lelaki di sampingnya. Gadis itu tidak ingat apapun selain danau yang di mimpikannya.

“Kau mengatakan ‘Apapun yang terjadi kau tidak akan melupakanku’. Awalnya aku berpikir kau hanya asal bicara saat itu tapi ternyata hal buruk itu terjadi dan membuatku harus kehilanganmu.” Taekwoon memandang langit malam yang dihiasi kerlip bintang-bintang.

Jemari Jiyeon menyentuh tangan Taekwoon dan menggenggamnya membuat lelaki itu menoleh. Sebuah senyuman menghiasi wajah cantik gadis itu.

“Aku memang tidak ingat apapun mengenai kehidupanku sebagai Jikyung tapi aku tidak melupakanmu Taekwoon-ssi. Aku selalu memimpikanmu meskipun awalnya aku tidak tahu arti mimpi itu.”

Tangan Taekwoon yang bebas terulur menangkup pipi Jiyeon. Tatapan keduanya bertemu dan entah mengapa jantung Jiyeon berdetak lebih cepat dari biasanya. Mata hitam Taekwoon mampu menyihir Jiyeon hingga membeku di tempat. Wajah lelaki itu semakin dekat dan Jiyeon mengepalkan tangannya di depan dada berusaha menutupi suara detak jantungnya yang bergemuruh.

Suara ponsel merusak moment romantis itu. Jiyeon mengambil ponsel yang disakunya dan melihat nama ‘Namja pengganggu’ di layar ponselnya. Dia menatap Taekwoon seakan meminta ijin dari lelaki itu untuk mengangkat telpon itu. Lelaki bermarga Jung itu mengangguk dan Jiyeon langsung berjalan menjauh.

“Ada apa menelponku?” Tanya Jiyeon ketus.

“Aku ingin meminta maaf karena tadi aku pergi tanpa mengatakan apapun padamu.”

Jiyeon terdiam mendengar lelaki yang selama ini menyebalkan bisa mengucapkan kata ‘maaf’.

“YA!! Kau mendengarku tidak?” Pertanyaan Taehyung menyadarkan gadis itu.

“Tentu saja aku mendengarmu. Aku tidak tuli. Aku akan memikirkan permintaan maafmu.”

“Memikirkannya?” Pekik Taehyung. “YA!! Tidak bisakah kau langsung menerima permintaan maafku yang tulus ini eoh?”

“Tidak bisa karena kau sudah membuatku kesal karena mengkhawatirkanmu yang tiba-tiba menghilang. Jadi aku akan memikirkannya.”

“Kau mengkhawatirkanku?” Ada nada gembira dalam suara Taehyung dan hal itu membuat Jiyeon merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol ucapannya.

“Tidak kau salah dengar. Aku harus pergi. Bye.”

Jiyeon segera mematikan telpon itu dan menonaktifkannya karena tak ingin terganggu Taehyung lagi yang bisa membuatnya salah tingkah. Jiyeon yakin saat ini Taehyung pasti sedang senyum-senyum sendiri seperti orang gila.

“Apakah abeojimu yang menelpon?” Tanya Taekwoon saat Jiyeon kembali duduk di sampingnya.

Aniyo. Hanya orang menyebalkan.”

“Orang menyebalkan?” Salah satu alis Taekwoon terangkat.

Ne, dia selalu mengangguku. Tapi terkadang aku merasa kasihan padanya.” Tatapan Jiyeon tertuju lurus pada danau yang tenang itu. “Dia terlihat kesepian dan tidak memiliki teman. Aku tidak bisa membayangkan jika aku menjadi dirinya.”

“Kesepian? Tidak punya teman? Aku rasa aku bisa merasakan apa yang dirasakannya.”

Jiyeon menoleh dan menatap wajah tampan lelaki di sebelahnya. “Kau juga pernah merasakannya?”

“Aku melewati masa sekolah dalam kondisi yang sama. Tidak ada yang berani mendekatiku kecuali kau.”

“Aku rasa aku tahu mengapa tidak ada yang berani mendekatimu.”

Taekwoon melemparkan tatapan penuh tanya. Jiyeon mengulum senyumnya membuat Taekwoon semakin penasaran.

“Memang apa yang membuat semua orang takut padaku?”

“Karena kau tak pernah tersenyum dan itu membuat wajahmu semakin menakutkan. Cobalah untuk tersenyum dan orang lain pasti aku terpesona dengan ketampananmu.”

Jiyeon menggerakkan kedua sudut bibir Taekwoon untuk membentuk senyuman. Gadis itu tertawa geli melihat betapa anehnya wajah Taekwoon dengan senyuman paksaan itu. Tanpa gadis itu sadari tatapan lelaki itu tak teralihkan darinya. Tawa yang sudah lama tak didengarnya. Direngkuhnya tubuh Jiyeon ke dalam pelukannya dan seketika tawa gadis itu terhenti.

“Taekwoon-ssi?” Panggil Jiyeon hendak melepaskan pelukan lelaki itu.

“Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku sangat merindukanmu.”

Jiyeon terdiam dan membiarkan Taekwoon memeluk tubuhnya. Pelukan Taekwoon terasa sangat nyaman seolah Jiyeon terasa terlindungi dalam pelukan lelaki itu. Mata gadis itu terpejam dan juga menikmati kehangatan tubuh mereka yang menyatu menghilangkan udara dingin yang berhembus.

 

G.R.8.U

 

Kunang-kunang berterbangan di atas lapangan rumput. Seorang gadis terus mengagumi kecantikan cahaya dari serangga itu. Tangannya terangkat hendak menangkap salah satu kunang-kunang itu namun sayang dia tak mampu meraihnya.

Seseorang berjalan menapaki rerumputan mendekati gadis itu. Langkahnya terhenti saat tak jauh dari gadis itu. Dia tersnyum melihat tingkah gadis itu layaknya anak kecil yang asyik bermain-main. Menyadari kehadiran lelaki itu, gadis itu menoleh dan menyuguhkan senyuman pada lelaki itu.

“Kau tampak bahagia sekali?” Tanya lelaki itu.

“Aku sudah mengingatnya. Melihat kunang-kunang ini membuat ingatanku yang hilang menjadi kembali.”

“Jadi kau akan pergi?” Tersirat nada sedih di suara lelaki itu.

Gadis itu berjalan menghampiri lelaki itu. Langkahnya terhenti tepat di hadapan lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Dia mendongak dan menangkup kedua pipi lelaki itu yang terasa dingin.

Mianhae Oppa, aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Aku harus kembali ke kehidupanku yang sebenarnya. Gomawo sudah menolongku.”

Lelaki itu meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. “Kau benar, kau harus kembali. Besok aku akan mengantarmu. Sekarang lebih baik kau beristarahat.”

Lelaki itu berbalik membuat gadis itu memandangnya sedih. Perpisahan memang terasa sangat sulit tapi gadis itu tak bisa terus berada di sini dia harus kembali ke dunia nyatanya. Gadis itu berbalik dan kembali melihat kunang-kunang itu.

“Aku akan segera kembali Taekwoon Oppa.” Ucap gadis itu sebelum berbalik mengikuti lelaki tadi.

 

~~~TBC~~~

Maaf jika author updatenya lama soalnya author terhalang untuk membuatnya. Ga da laptop atau hp jadi author cuma bisa bikin di sela-sela kerja. Maaf jika masih banyak typo karena author hanyalah manusia biasa. Seperti biasa yang mau komen nih author kasih hadiah.

HongBin-VIXX-image-hongbin-vixx-36159054-500-281

14 thoughts on “(Chapter 6) G.R.8.U

  1. Ada apa ini. Apa maksud part yerakir tadi thor. Apa jiyeon bukan jikyung tapi kenapa jiyeon bisa punya memori yg hampir sama dg jiyeon
    Cie jiyeon da mulai perhatian sama taehyung.
    kyknya uda da bnih2 cinta nih

    D tunggu updatenya.
    Trus arti judulnya apa ya thor klo bleh tau sih G.R.8.U ????

  2. annyeong eonni,,
    masih inget aku gak?
    mian baru komentar skarang :D , aku sukaa banget baca ff karyanya eonni,.
    ceritanya bikin greget,.
    seandainya jiyeon lebih milih taehyung daripd namja yg lain,. 😁

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s