SECRET ADMIRE

SECRET ADMIRE

SECRET ADMIRE

A Drabble

By Risuki-San

SHINee’s Onew & Red Velvet’s Irene | Teenager | Friendship, General, Romance, Hurt-Comfort

© 2016 Risuki-san

.

Kau pikir kenapa aku bercerita tentang Luna padamu?’

.

SECRET ADMIRE

Irene mendapat jackpot utama tahun ini. Tidak seperti biasa dewi fortuna berpihak pada dirinya seperti dunia yang berteriak pada perlindungan terhadap anak. Kata sepakat dan mufakat pada seluruh keberuntungan agar menjumpainya.

Siang ini Irene hanya duduk diatas bangku, ia bersiap akan pulang setelah pengumuman jika pelajaran tambahan ditiadakan khusus untuk hari ini. Tapi kemudian tiba-tiba sosok pangeran menghalanginya pulang. Jinki pangeran paling tampan dalam hidupnya datang mendekat, pangeran bungsu yang biasanya hiperaktif dan melakukan hal aneh menemuinya.

“Kau mau makan siang denganku?”

Irene terdiam. Dia menatap pada Jinki, lelaki itu tersenyum hingga Irene kesilauan seperti menyaksikan matahari saat malam.

Gadis itu diam karena berpikir sangat keras. Dengan kalimat dan ekspresi seperti apa untuk mengiyakan pertanyaan Jinki dengan cara biasa padahal hatinya bersemu bersorak meniup terompet kemenangan.

“Hmmm…bagaimana ya…”

Karena Irene terlalu boros menggunakan waktu, maka Jinki berkata dan menarik lengan gadis di depannya.

“Ayo, lagipula aku tak membutuhkan persetujuanmu.”

.

.

.

Jinki adalah anak bungsu di keluarganya. Kakak tertua memiliki karir di rumah sakit sebagai dokter spesialis, seorang paman yang seusia dan setampan Jo In Sung. Kakak kedua adalah yang terbaik, masih muda dan seorang pengusaha muda, perawakannya seperti  Choi Si Won artis tampan kesukaan Irene. Tetapi diantara semua pangeran yang hidup di sebelah rumahnya, Irene telah memilih satu orang tetapi enggan untuk mengakuinya.

.

.

.

“Aku pesan 2 ya, jangan pakai lama.”

Jinki membuka suara pada seorang pelayan lalu meraih ponselnya yang terus berbunyi, menyumpal speaker sumber suara menggunakan jari. Tidak mungkin menutup panggilan tersebut, tapi juga tidak mengetahui cara menemukan tombol silent agar ponselnya diam tak bersuara. Jinki yang malang.

“Dia lama sekali.”

Kini panggilan berakhir dan Jinki mulai menyadari. Dia meninggalkan Irene yang masih bersama Johny di tempat parkir. Tapi tidak lama kemudian, Irene dengan sungut pada kedua kepalanya datang menghampiri, maka Jinki menyambut dengan senyum terindah.

“Lama sekali. Johny baik-baik saja kan?”

Menyambutnya tidak menggunakan Irene sebagai pusat perhatian.

Johny tidak terluka kan?”

Irene hanya diam mendengar penuturan Jinki. Dia duduk tak menghiraukan kalimat-kalimat aneh yang membuat orang lain bisa salah paham.

“Tadi kami menabrak tembok.”

Irene berbohong tetapi sukses membuat Jinki berdiri hingga kursinya jatuh menyapa lantai.

“Kau gila ya!”

Jinki berteriak kemudian dia kebingungan karena seorang pelayan datang membawakan makanan. Bagaimana ini, pergi mengecek Johny atau makan dengan tenang dan percaya diri bahwa Irene baru saja berbohong?

Irene mengetahui kebingungan Jinki karena gadis itu memahaminya lebih dari malam mengerti bintang.

“Aku yang paling mahir memarkir mobil di dunia ini, makanlah dengan tenang.”

Supaya Jinki tetap disana, berada dalam jarak pandangnya.

“Duduklah.”

Irene berucap lalu memulai melahap makanannya. Dia terlihat fokus pada makanan tetapi mencuri pandang, memastikan apakah Jinki masih bersamanya.

Apakah Johny yang lebih penting atau mempercayai dirinya yang telah mengakui kebohongan.

Johny adalah pemberian ayahku. Aku tak boleh merusaknya.”

“Maka parkirkan sendiri.”

“Aku tidak bisa. Kau tahu itu.”

Irene kemudian berhenti melanjutkan makan, ia memperhatikan Jinki dengan terus terang. Rasanya lebih nyaman saat memandang lelaki itu sedekat ini tanpa diketahui.

“Kenapa?”

Kenapa mereka makan siang bersama? Kenapa Irene, kenapa makan siang dengannya?

“Apa?”

Jinki sebaliknya bertanya-tanya. Dia menatap Irene dan gadis itu mengartikannya dengan sangat dalam. Jinki selalu memandang orang lain dengan dalam. Itu sangat manis.

“Kau tahu…hari ini keluargaku makan siang bersama. Mereka akan makan siang dan mengomel padaku. Mereka akan mengomel agar aku belajar lebih giat dan tidak membuat masalah. Akan sangat menyebalkan dan aku kasihan pada telingaku. Jadi aku kabur saja denganmu.”

Jadi itu alasannya. Entah kenapa Irene sedikit kecewa.

 “Itu karena kau yang paling banyak membuat masalah. Setidaknya mencoba belajar, jangan mencontek terus, kerjakan juga tugasmu. Dasar pemalas. Berhentilah membuat khawatir keluargamu.”

Berhentilah membuat Irene mengkhawatirkanmu.

.

.

.

“Kau ingin tahu kenapa makanan disini sangat enak?”

Jinki berkata dengan ekspresi sangat meyakinkan. Dia bermaksud melakukan pembalasan seperti peristiwa pembunuhan dimana nyawa harus dibalas nyawa.

Irene sebenarnya tidak penasaran.

“Apa? Apa rahasianya?”

Tapi ia berkata sebaliknya karena dengan begitu Jinki akan berada lebih lama dengannya.

“Karena kau sangat penasaran, aku akan memberitahu rahasia paling tersembunyi ini.”

Jinki berkata memudian membawa keduanya melangkah pada suatu tempat, sebuah kolam berisi ikan-ikan yang mereka lahap beberapa saat lalu.

Jinki, ponselmu bunyi terus.”

“Pasti itu ibu- tunggu…”

Lelaki itu terperanjat, ia baru menyadari bahwa ponselnya berbunyi dengan nada suara berbeda. Panggilan itu bukan dari ibunya, atau ayahnya, atau kakaknya.

“Iya, besok aku akan menemuimu.”

Jinki menerima panggilan dari seseorang itu. Jinki tersenyum lebih indah dari saat bicara dengannya. Irene berpikir perasaannya akan segera terungkapkan, berhenti menjadi pengagum rahasia saat Jinki adalah seorang teman yang ditemuinya sejak kecil dan setiap hari.

“Kupikir kalian sudah putus.”

“Tidak, aku memohon padanya agar kembali.”

Jika Irene mengungkap perasaannya dan memohon agar Jinki menjadi miliknya, apa hal seperti itu akan berhasil?

Ini terlalu menyedihkan, maka Irene berusaha menghibur dirinya. Ia mengubah pembicaraan.

“Apa? Apa rahasia makanannya?”

Irene bertanya dengan ekspresi penuh tanya. Dan Jinki lagi-lagi tersenyum, ada arti dibalik itu semua tetapi Irene tidak dalam keadaan dimana dapat memahaminya. Irene sedang terlalu sedih untuk membaca sinyal jahil Jinki.

“Itu…”

Jinki menunjuk pada seseorang di dalam sebuah kotak, lalu Irene tidak tahu apa yang seseorang itu lakukan di dalam sana. Tapi Irene memahami satu hal.

“Orang itu sedang memberi makanan. Supaya ikan yang kau makan tadi rasanya sangat enak.”

“Orang itu sedang buang air besar.”

“Iya.”

Maka Irene menatap pada Jinki. Ia berusaha membaca kejujuran.

“Kau marah?”

Jinki bertanya pada Irene yang terdiam menatapnya.

“Tidak.”

Irene menjawab dengan penuh keyakinan. Kemudian dia berhenti menatap Jinki, ia berpaling kemudian otaknya kosong. Irene berjalan pelan, ia meninggalkan Jinki dibelakang yang kebingungan karena diamnya Irene bukan hal yang ia prediksi.

Seharusnya Irene marah dan memukulnya. Berteriak meminta pernyataan bahwa itu semua bohong.

“Hei, kau marah kan? Iya kan?”

Irene berteriak marah akan lebih baik jika dibandingkan ini.

“Maaf…maaf…aku bohong…”

Jinki berkata-kata dengan menyentuh pelan permukaan punggung Irene. Gadis itu berkata tidak marah, tetapi berjalan menjauhinya. Gadis itu memuntahkan makanannya.

Sebelumnya Irene bahagia karena berpikir bahwa Jinki tidak lagi dimiliki Luna. Kemudian makan siang bersama dengan status baru Jinki adalah sebuah peningkatan hubungan. Tetapi Irene dijatuhkan kembali oleh alasan makan siang adalah untuk menjauhi omelan keluarga Jinki. Kemudian ikan yang menggunakan kotoran manusia sebagai makanan adalah candaan yang tidak lucu tetapi sukses membuatnya mual.

 “Jinki…”

“Heemm…”

Jinki menjawab dengan mata yang masih menatap pada Irene, jarinya membersihkan sisa muntah menggunakan tisu. Jika terus seperti ini, Irene akan lelah menjadi seorang teman.

“Jika kau merasa bersalah. Besok pergi denganku. Batalkan janjimu dengan Luna.”

“…”

“Aku tidak mau menjadi temanmu lagi. Aku tidak mau melihatmu dari jauh lagi. Aku ingin melihatmu sampai puas tanpa takut kau menyadarinya. Aku tidak mau makan siang bersamamu dengan alasan apapun kecuali kau hanya ingin melakukannya denganku. Aku tidak mau bersedih lagi karena mendengarmu bercerita mengenai Luna. Aku ingin berhenti melakukannya.”

.

.

.

 “Luna bilang kau menyukaiku. Ternyata benar.”

.

.

.

“Kau pikir kenapa aku bercerita tentang Luna padamu? Karena kau temanku?”

“…”

“Karena aku ingin kau cemburu.”

.

.

.

End.

copyright

2 thoughts on “SECRET ADMIRE

  1. huaaa jinki jaill-_ irene nyampe muntak kek gitu, jan gitu wehh kaga barokann ntar-_. Seru thorr tapi fell hurtnya engga terlalu ngena gimana gitu. Tapi bagus kok^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s