IRENE WHITE

ff onew irene

IRENE WHITE

An Oneshot

By Risuki-san

SHINee’s Onew (Chase Lee) & Red Velvet’s Irene | Teenager | Fantasy, Romance, Drama, Hurt-comfort

.

Note:

Sebenarnya ini ff aku ikutkan lomba tapi karena jadi kontributor aja nggak masuk apalagi menang jadi aku post dengan beberapa perubahan XD

.

Aku akan memantraimu agar kau hanya dapat melihatku

.

IRENE WHITE

Irene adalah putri tunggal Raja Orodath. Irene hidup seperti Putri Salju dalam dongeng dunia barat. Ia tak mengerti dengan situasi saat seorang pemburu mencoba menaklukannya, melakukan perintah yang ia tahu bukan hal baik, saat dirinya masih berkabung atas kematian seorang ayah. Maka Irene melakukan satu hal untuk menang. Meraih pisau untuk perlindungan sementara, dengan sedikit racun pada bagian ujung, kemudian melempar pada sasaran yang ia inginkan.

“Ibuku ingin kau membunuhku.”

Irene berkata lalu mendekati sebuah rusa yang berhasil dibunuhnya.

“Ambil jantungnya, berikan pada ibuku, katakan jika kau berhasil membunuhku.”

Maka masalah diakhiri.

.

.

.

Irene bertahan hidup tidak seperti sedia kala. Dia tidak lagi terbangun didalam istana atau aroma makanan hangat kala pagi. Hanya sebuah rumah kecil di dalam hutan. Sebenarnya tidak bisa disebut rumah, mungkin gubuk tua akan lebih tepat untuk menggambarkannya.

Irene tidak diam mengisi perut agar bertahan hidup, dia juga melakukan perencanaan. Kematian Raja Orodath tak bisa dilupakan seperti debu usang. Ada harga yang harus dibayarkan.

Kemudian dua manusia datang, Irene menganggapnya sebagai bantuan.

“PANGERAN! ADA RUMAH! KITA BISA ISTIRAHAT!”

“Ya, dan ini rumahku.”

Kedua insan disana terkejut.

Jadi seorang putri tinggal di dalam gubuk tua, terlihat dan terdengar seperti kisah dongeng. Mereka berdiri saling menatap, Irene dengan gaun kerajaan dan pangeran beserta pengawalnya.

“Jadi kau pangeran? Aku-“

“Bukan!”

Chase menyela cepat. Dia tersenyum menunjukkan deretan gigi kelinci, kemudian menarik tangan pengawalnya, membisikkan sesuatu di dekat telinga.

“Kau tahu jika aku sedang mencari seseorang yang tulus mencintaiku, bodoh! Mulai sekarang biarkan mulut kotormu menganggur kecuali aku menyuruhnya bekerja!”

Pengawal kerajaan yang satu ini selalu saja ceroboh, tetapi sangat setia, maka Pangeran Chase mempertahankannya.

“Namaku Chase, dia temanku, Elias. Jadi kami boleh menginap?”

“Tentu.”

.

.

.

Irene menyiapkan makanan saat dua manusia asing masih terlelap. Dia tersenyum karena rencana masa depan semakin dekat.

“Kau tidak terlihat asing.”

Tidak tahu sejak kapan Chase berada disana kemudian berkata-kata, memperhatikan Irene sangat dekat. Hingga aroma makanan tidak lagi terhirup oleh indera penciuman. Hanya aroma maskulin yang terngiang di dalam pikiran.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa pernah mengenalmu.”

Chase berkata-kata dengan menatap langsung padanya, Irene tersenyum kecil. Jadi sedikit mantra yang ia ucapkan berhasil bekerja.

BRAKK

“DILUAR ADA BANDIT! PANGERAN AYO PULANG! DI LUAR SANGAT BERBAHAYA!”

Elias tiba-tiba muncul lalu berkata-kata dan menghancurkan atmosfer hangat dua insan. Dia berlari lalu menarik pangeran, menyelamatkan aset negara yang paling berharga. Terus membiarkan tuannya mencari cinta sejati, terdengar romantis, tetapi sejauh ini yang mereka lakukan hanya melingkari dunia dan dikejar-kejar penjahat. Tak ada cinta sejati. Ini hanya perjalanan konyol.

Ayo!”

Maka perjalanan diakhiri, karena Irene adalah jawaban atas cinta sejati yang dipertanyakan. Chase berlari dan menggenggam tangan seorang gadis. Berusaha melarikan diri karena setidaknya mereka membutuhkan uang untuk membeli kuda jika mereka benar-benar ingin pulang. Jika seperti itu kesimpulannya, maka bandit adalah makhluk yang harus dihindari pertemuannya.

DORR

Suara tembakan tepat menghentikan sepasang kaki. Irene menyaksikan darah keluar dari kakinya. Gadis itu meringis lalu berusaha bangkit dan berdiri, dia berusaha berlari seperti tubuhnya baik-baik saja.

Ini bukan akhir. Irene bertekad tidak dengan jalan cerita seperti ini buku hidupnya diakhiri. Dia yakin tidak sedang sendirian. Dan benar karena Chase memberikan bantuan. Dia meraih tubuh kecil Irene, membawanya dengan lembut karena tak ingin menyakitinya, membawanya dengan cepat karena mereka tak boleh tertangkap, membawanya dengan perasaan takut kehilangan.

Kakinya tertembak, apa gadis itu akan baik-baik saja?

.

.

.

Pelarian itu kemudian membawa ketiganya di dalam hutan yang semakin dalam. Bandit tidak lagi mengejar. Mereka berhasil kabur. Tetapi apakah gadis ini akan berhasil selamat?

“Kita harus menyingkirkan pelurunya terlebih dahulu, akan sedikit sakit.”

Elias berkata-kata kemudian memberikan isyarat agar Chase menurunkan Irene dari gendongannya, meletakkan gadis itu diatas daun-daun yang berkumpul di bawah pohon teduh.

“Setidaknya kita harus mencari alkohol untuk sterilitas dan untuk meredakan sakitnya.”

Chase berucap, ia hampir beranjak. Tetapi sebuah tangan kecil menahannya, Irene menggeleng.

“Tidak ada yang seperti itu disini…Elias, pangeranmu tampan tapi bodoh ya?”

Chase sedang ditertawakan, tapi ia tidak marah. Ia bahagia meski selalu kesal karena seluruh tubuhnya lelah dan berkeringat, tidak membuatnya terlihat seperti pangeran saat dia adalah pangeran paling tampan di dunia.

“Tahan sedikit, aku akan menyingkirkan pelurunya.”

Elias berkata-kata lalu diikuti genggaman erat pada punggung Chase, Irene memeluknya tanpa ampun saat sakit merambat akibat prosedur pengambilan peluru.

“Pangeran… aku meminta satu hal darimu.”

“Kemudian kau akan pulang denganku? bertemu ayah dan ibuku?”

“…i…iya…”

.

.

.

 “Aku minta darahmu, darah seseorang yang mencintaiku dengan tulus”

“Kau akan memantraiku? Agar selamanya hanya melihatmu?”

“Untuk ayahku.”

.

.

.

Tiga manusia kemudian perlahan melangkah. Pada daerah yang Irene sangat tahu. Dia hidup disana sejak lama, sangat lama hingga sebelum kelahirannya, Raja Orodath telah menaklukan tempat itu seorang diri.

“Hari ini tepat usiaku tujuh belas tahun, aku harus berada dalam ruang rahasia ayahku. Disana aku akan mendapatkan keadilan atas kematian ayahku, penyihir itu harus dibunuh.”

“Tunggu, kau yakin akan melawan penyihir?”

Elias bertanya-tanya, Dia hanya sangat bingung pada kondisi Irene yang begitu cepat berubah. Kakinya membaik lebih cepat dari rambat cahaya diatas bumi.

Chase terdiam, kedua tangannya menggenggam. Sorot matanya memandang tajam pada sebuah kastil tua.

“Kalian berhenti disini, aku akan masuk sendirian.”

Irene berucap lalu memandang pada Chase. Ia memandang seperti mengharapkan sesuatu.

“Berhati-hatilah.”

Kemudian Chase melepasnya begitu saja. Ia diam menyaksikan punggung kecil yang perlahan menjauh, punggung kecil dimana pada bagian depan mengharapkan dirinya untuk menahan. Setidaknya kalimat bahwa Chase tak ingin gadisnya pergi bertarung sendirian.

“Kau tak boleh pergi sendiri.”

Chase berucap lalu melangkah mendahului Irene. Gadis itu tanpa sadar mengukir garis senyum. Ini berbahaya, tapi sendirian akan membuatnya kesepian.

“Aku akan melindungi pangeran.”

Irene berucap lalu menepuk sebuah pundak yang lebih tinggi. Dia tersenyum begitu tulus kemudian berjinjit karena sedikit sentuhan pada telinga yang ia terima.

“Kau akan melindungi siapa?…aishh….baiklah, aku menantikannya.”

Chase berkata dan diikuti oleh tarikan kuat pada telinga Irene.

.

.

.

Ruang rahasia milik Raja Orodath, usia tepat tujuh belas tahun, dan darah seseorang yang tulus mencintai dirinya akan mengubah segalanya.

Berubah menjadi penyihir hitam sepenuhnya. Terkuat hingga sanggup mengalahkan Ratu Eliz, penyihir putih yang mengentaskan rakyat Kerajaan Oros atas kebengisan Penyihir Hitam Raja Orodath.

.

.

.

Irene telah berada di dalam kastil, ia memperhatikan banyak hal, terlalu banyak perubahan, ini bukan kastilnya yang dulu. Gadis itu perlahan melangkah mendekat pada singgasana Ratu Eliz. Dia bersiap mengucap mantra untuk menegakkan keadilan atas kematian Raja Orodath.

“Aku sangat ingin membunuhmu, tapi aku akan membiarkanmu menyerang terlebih dulu. Karena aku yang terkuat.”

Irene berkata-kata, ia memandang Ratu Eliz yang masih terdiam. Sedetik kemudian Irene terkejut, kedua matanya menatap tajam pada daerah kaki yang mengeluarkan darah. Gadis itu terluka, gadis itu yang terkuat, tapi baru saja terluka. Mustahil.

“Kau terkejut? Mungkin kau salah memasukkan formula, tulus mencintai? Kau yakin dia tulus?”

Irene perlahan melangkah mundur. Jadi Ratu Eliz mengetahuinya, formula rahasia yang ia pikir hanya diketahui oleh dirinya dan sang ayah.

 “Adikku, kau melakukan tugas dengan baik.”

Setelah mendengar rangkaian kata tersebut, Irene menatap padanya, seseorang yang sebelumnya ia pikir tulus. Satu-satunya yang dapat dipercaya.

“Pangeran…”

“Kau bisa membunuhnya untuk kedamaian Kerajaan Oros. Mantra avadra akan sangat tepat.”

Lelaki itu terdiam, ia menyaksikan betapa lemah gadis di depannya, betapa banyak air membasahi mata, betapa lantai dingin terbasahkan oleh air mata Putri Kerajaan Oros.

 “Ayahmu menceritakan banyak hal. Dia bilang kau mewarisinya, kekuatan dan kebengisannya. Kau akan tumbuh semakin kuat dan jahat.”

Ratu Eliz berucap kemudian perlahan mendekat pada Irene. Maka gadis itu melangkah mundur. Kedua matanya menunjukkan semburat merah karena marah begitu juga sedih. Gadis itu memutuskan untuk melakukan pelarian. Gadis itu menarik telapak Chase, Irene lupa tentang pengkhianatan sebelumnya. Hanya sebuah refleks untuk menyelamatkan orang yang paling berharga.

Kemudian kenyataan menyadarkannya saat Irene tak bisa menariknya. Chase tidak bergerak atau membalas genggaman yang dilakukan. Kemudian Irene berkata dengan suara yang goyah.

“Aku berbeda. Aku tidak seperti ayahku.”

Irene berkata dengan sungguh-sungguh. Ia melempar apa yang ia sebut dengan kasih sayang. Irene sangat pandai. Ia memahami dan mengerti perasaannya. Ia sungguh sedang jatuh cinta.

 “Penyihir hitam tidak pernah memegang kalimatnya.”

Ratu Eliz berucap, ia tahu sebanyak apa adiknya merasa goyah.

 “AVADRA!”

Maka telah diputuskan bahwa Irene terbunuh oleh Ratu Eliz. Irene terjatuh ke dalam pelukan seorang pangeran, kemudian hilang. Tak ada jasad untuk ditangisi, tak ada debu untuk ditaburkan diatas laut, tak ada jejak sisa kehidupan yang bisa dikenang.

“Pangeran, itu sebabnya kau meminta darahku?”

.

.

.

Karena Chase pun juga pandai. Ia juga mengerti melebihi siapapun, jika darahnya akan bekerja sehingga memberikan akhir yang salah.

.

.

.

End.

copyright

One thought on “IRENE WHITE

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s