[TWOSHOTS] The Words that Haven’t Spoken Yet [1.2]

wordsthathaventspoken

The Words that Haven’t Spoken Yet

a twoshots written by reenepott©2015

Kim Myungsoo, OC(Park Hyunra) | Romance, Teen | Parental Guidance

Disclaimer : The plot and character of “Park Hyunra” is mine so don’t ever try to copy or re-post this fan-fiction without my permission!

Summary : Hyunra benci Myungsoo karena Myungsoo menyakiti sahabatnya. Seiring waktu berselang, Myungsoo mulai mendekatinya. Apakah Hyunra tetap membenci Myungsoo atau sebaliknya?

Part 1/2

“Aku tidak mau tahu. Kerja dengannya sama saja dengan mengerjakan sendiri! Pokoknya tidak, aku tidak mau naik darah gara-gara si es sialan itu!” Hyunra mendesis tegas sambil menunjuk-nunjuk kertas yang berisi daftar pasangan makalah pelajaran literatur selama satu tahun ajaran. “Howoon-ah, kau kan ketua kelasnya. Tolonglah minta pada Mr. Kim—“

“Yahh, Park Hyunra. Masalahnya ini bukan Mr. Kim yang menyusun, tapi wali kelas kita, Ms. Jung. Kau tahu kan galaknya seperti apa, aku saja tidak berani,” sahut Howoon lancar, membenahi kacamatanya lalu kembali mengerjakan soal latihan. “Kalau kau bersikeras, coba saja sendiri minta ke Ms. Jung. Aku tak bisa bantu,”

“Ayolah, Hyunra. Mau sampai kapan perang dingin terus? Cobalah bekerja sama. Dia tak sebegitunya kok,” bujuk Naeun, gadis berparas manis yang sangat populer dikalangan kaum Adam. Hyunra mendengus lalu melirik ke sudut kelas. Lihat, betapa menyebalkannya gaya cowok itu!

“Sekali-sekalilah, anggap saja amal,” ujar Howoon lagi, sambil tersenyum manis. “Lakukanlah demi nilai akhir nanti,”

Hyunra menatap Howoon tajam, sebelum kembali melirik sosok yang duduk di pojok belakang kelas dan sekarang tengah tertidur. “Baiklah, baiklah, baiklah! Sekali dalam seumur hidup. Ergh, tahun ini aku benar-benar sial!”

__

Myungsoo menatap lembaran kerja di atas mejanya dengan diam. Haruskah dimulai hari ini? Benar-benar hari ini? Myungsoo bukan penyuka pelajaran literatur. Dan dipartnerkan dengan Shin Hyunra benar-benar suatu ujian berat. Suara melengking cewek itu sering membuatnya sakit kepala, jadi dia tak pernah menanggap setiap kata dan nada yang keluar dari mulut eksotisnya. Dan mungkin itu salah satu faktor yang membuat cewek penyuka dodge ball itu benci setengah mati padanya. Mungkin bukan benci, tapi kesal.

Tapi sungguh, Myungsoo tidak membenci cewek itu. Hyunra nya saja yang memang sensian. Jadi Myungsoo juga sering kesal dengan tingkah laku Hyunra yang memang sering membuat orang sebal. Dia benar-benar tidak membencinya, meskipun mereka memang sedang perang dingin. Dan yang membuatnya makin malas dengan Hyunra, dia sendiri tidak tahu apa induk permasalahannya hingga harus berperang dingin dengan Hyunra selama beberapa tahun belakangan.

“Jadi bagaimana?” Suara Hyunra datar dan terdengar malas, mulai membuka agendanya dan mengambil pensil. “Kau mau temanya apa?”

Myungsoo mendongak cepat dan terkaget melihat Hyunra yang sudah duduk di depannya sambil membalikkan kursi. “Maksudmu?”

Hyunra berdecak keras, lalu menulis cepat di atas agendanya. “Literatur, bodoh. Kau pikir apa lagi?” Sahutnya sebelum menarik napas dalam-dalam, mengusahakan emosinya masih berada di bawah batas kondisi gawat. “Aku ingin temanya astronomi. Menurutmu?”

“Itu mau membuat karya ilmiah fisika?” Sindir Myungsoo tenang, membuat Hyunra membulatkan matanya menahan marah. Astaga pria ini! Ia sudah berusaha membuat suasana yang kondusif untuk mereka berdua dan pria ini mau cari mati?! “Lebih baik membuat pembiakan ulat sutra,”

WHAAAATT?! Hyunra makin menekan emosinya yang mau meledak. “Itu sama saja dengan biologi, bodoh!” Semburnya dengan geraman tertahan. “Riset tentang perang dunia saja! Kau bisa membahas sistem perang, senjata dan bla bla bla-nya, sedangkan aku bisa membahas dari segi politik dan sosial,” putusnya dengan nada final.

Myungsoo hanya mendengus di tempat duduknya. Itulah perempuan. Mereka yang mengajak berdiskusi tapi hasil keputusannya dari mereka sendiri. “Kalau begitu untuk apa kau datang kesini?”

Dan sekarang Hyunra benar-benar melongo. “Kim Myungsoo, kau benar-benar!” Desisnya marah sebelum bangkit dan pergi dari area itu secepatnya.

Menurutmu, siapa yang lebih menyebalkan, sih?

__

“Kau mau tahu sesuatu?” Hyunra bertanya pada Naeun yang tengah memberesi buku matematikanya dan menggantinya dengan buku biologi ke atas meja.

“Apa?”

“Aku sudah menyiapkan boneka voodoo untuk Kim Myungsoo,” jelasnya sambil tersenyum sarkastis pada sosok yang duduk di meja pojok kanan belakang.

Dan Naeun hanya bisa terdiam di posisinya. “Kau gila?”

“Aku sangat waras,”

“Mana ada orang waras yang percaya pada voodoo, bodoh?” Tanya Naeun masih tak percaya. Makin lama ia makin percaya kalau Hyunra sudah gila. Mana ada orang waras yang mau mem-voodoo temannya sendiri? Oh well, Myungsoo dan Hyunra tak pernah berteman. “Kau itu, bisa tidak sih, rukun sebentaar saja dengan Myungsoo? Dia dulu juga temanmu, kan?”

“Dulu,” gumam Hyunra pelan, kembali mengingat masa-masa dimana dia dulu memang berteman baik dengan si Kim Myungsoo itu.

“Apa masih karena itu? Sudah dua tahun, Hyunra-ya, masa kau masih dendam, sih?” Tegur Naeun prihatin, karena jujur, dia juga ikut cemas. Permusuhan antara Hyunra dan Myungsoo yang dimulai sejak tahun terakhir SMP itu memang kontroversial dan terkenal hingga ke seluruh penjuru sekolah. Yang pada akhirnya, membuat teman-teman dekat mereka mulai membuat kubu Hyunra dan kubu Myungsoo, yang selalu bertengkar jika salah satu dari mereka berpapasan. Namun sayangnya, kedua kubu itu hanya bertahan setengah tahun, mereka mulai capek melihat Hyunra dan Myungsoo yang selalu bersitegang namun tidak maju-maju penyelesaian induk masalahnya.

Ketika mereka mulai masuk SMA, teman-teman mereka mulai berusaha mendinginkan kedua mahkluk itu, namun tak pernah berhasil. Keduanya tetap bersikeras ditambah Hyunra yang tak pernah mau membahas induk permasalahan lagi membuat Myungsoo makin jengkel dan memilih untuk mengikuti permainan Hyunra.

Mau tahu induk permasalahannya? Sebenarnya hanya hal sepele.

Dulu Hyunra punya teman yang sangaaaaaaat dekat, bernama Jung Krystal. Dia sangat menyukai Myungsoo dan akhirnya mereka pacaran. Dan karena Hyunra sebenarnya juga menyukai Myungsoo, dia memilih untuk mendukung Krystal dan Myungsoo. Semuanya berjalan dengan baik, hubungan Krystal dengan Myungsoo teramat baik, bahkan hubungan Myungsoo dengan Hyunra juga baik. Namun semuanya berubah saat Myungsoo tertangkap selingkuh dengan sepupu Krystal sendiri, yang membuat Hyunra berang. Dia merasa ia sudah mengorbankan perasaannya demi sahabatnya dan orang yang ia suka namun ternyata sahabatnya memercayakan hatinya pada seorang yang brengsek.

Sejak saat itu Hyunra begitu membenci Myungsoo. Namun, dia tak mungkin mengungkapkan alasannya pada Myungsoo, kan?

Hyunra tertegun mendengar pertanyaan Naeun yang membuat memorinya kembali berputar itu. “Tidak. Kami hanya tidak cocok satu sama lain. Tapi mungkin ini yang seharusnya,”

__

“Iya, Krys. Aku tahu. Aku tahu, tapi bagaimana dong? Aku sudah tak bisa berteman dengannya lagi. Dia-nya juga sangat menyebalkan. Mungkin karena habitat barunya?” Hyunra menyelesaikan kalimatnya dengan nada sarkastis sambil menyembunyikan cengirannya, meskipun si penelpon di seberang tak akan tahu bagaimana ekspresinya sekarang.

Ya, ia dan Krystal sudah tidak satu sekolah lagi, malah sudah tidak senegara lagi. Krystal pindah ke Kanada saat SMA, namun hubungan mereka tetap berjalan, seperti saling mengirim e-mail atau bertelpon bila menemukan waktu luang yang sama. Seperti sekarang, dimana Hyunra baru saja selesai bersiap untuk tidur dan Krystal yang sudah bersiap untuk sekolah.

“Hati-hati, kalau kalian bertengkar terus lama-lama jadi cinta loh. Kau sendiri kan yang bilang kalau kau menyukainya?” Tantang Krystal dari seberang yang membuat kedua mata Hyunra membeliak. Ya, Krystal tahu. Dia tahu setelah memaksa Hyunra untuk bercerita mengapa dia sangat marah dengan Myungsoo, padahal dirinya saja yang menjadi korban merasa biasa saja setelah beberapa bulan. Bahkan, sekarang Krystal juga sudah punya pacar bernama Mike dari sekolah barunya. “Jadi kapan kau mau bilang padanya?”

“Itu hal mustahil, Kryssie,” Hyunra berdecak sambil mengejek Krystal dengan panggilan barunya karena sekarang dia orang Amerika. “Aku dan dia hanya makin tidak cocok, itu saja,”

But it’s freaking two years y’know?! Aku saja sudah tenang-tenang saja, malah kalau bertemu mungkin kami sudah berteman. Hyunra-ya, berhentilah bersikap berlebihan,”

Hyunra terdiam, karena merasa kata-kata Krystal benar. Mungkin… Dia mungkin sudah terlalu berlebihan. “Fine. Aku akan berusaha,” putus Hyunra akhirnya, sebelum memekik beberapa detik kemudian. “Tapi dia juga menganggapku menyebalkan, Krys!”

“Jadi kalian itu sebenarnya kenapa sih?!” Omel Krystal mulai bete. “Ck, sudah ya, aku mau masuk kelas. Bye!”

“Bye,” balas Hyunra lemah sebelum mendengar suara telepon terputus. Ia lalu menghembuskan napas berat. Ayolah Hyunra, Krystal saja sudah move on, kenapa dia masih jalan ditempat sih?! Lebih baik besok ia kembali membahas makalah literatur lagi bersama Myungsoo.

Bahas, selesaikan, lupakan. Beres masalah.

__

Kedua mata Myungsoo hanya bisa menatap sosok gadis yang duduk di bangku di depannya, lalu membalikkan kursi sambil membawa agenda dan sebuah notebook mini tanpa berkata apa-apa. Tidak terpengaruh, gadis itu terus melakukan hal yang ia rasa perlu, menghiraukan tatapan Myungsoo yang kata orang lain terlalu mengintimidasi. Akhirnya selang beberapa saat, Myungsoo rasa gadis itu mulai merasa jengah dan akhirnya mendongak.

“Kenapa?”

“Whoa, jadi sekarang kau ingin dekat-dekat denganku terus ya,” cibir Myungsoo sambil mengeluarkan smirk andalannya. Gadis di depannya, Hyunra, hanya memutar bola matanya bosan.

“Semakin cepat kita membahas ini, semakin cepat tugasnya selesai. Semakin cepat mengumpulnya, semakin cepat aku tidak harus berkumpul dengamu,” sahut Hyunra dingin, kembali fokus pada tugas yang sedang dikerjakannya. “Apa kau hanya mau berdiam diri saja?”

“Tapi ini jam istirahat,” balas Myungso sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dan Hyunra juga demikian. Kelas sedang sepi namun berisik, sebagian anak turun ke kantin dan yang bertahan biasanya sudah membawa bekal. “Apa kau tidak lapar?”

“Tidak,” sahut Hyunra cepat, tangannya akhirnya menutup agendanya kembali. “Jadi kau mau mengerjakan tugasnya kapan?”

“Pulang sekolah di perpustakaan. Bukankah disana banyak buku sejarahnya?”

Hyunra menarik napas dalam lalu menghembuskannya sambil mengangguk. “Baiklah. Nanti, pulang sekolah,” gumamnya lalu menutup notebook-nya dan bersiap beranjak dari meja Myungsoo.

Kruyuuuukk

Myungso mendongak mendengar suara perut keroncongan itu, di depannya berdiri Hyunra yang membalikkan tubuhnya sambil mengigit bibir. Ia menyeringai melihat ekspresi Hyunra yang menahan malu lalu buru-buru kabur ke kursinya. Menggelengkan kepalanya pelan, Myungsoo tiba-tiba berdiri dan melangkah menuju meja Hyunra, menarik tangan gadis itu hingga berdiri, lalu menariknya keluar kelas.

Hyunra jelas syok dengan perlakuan Myungsoo yang tiba-tiba itu. Matanya melotot dan ia hanya bisa melongo menatap Myungsoo yang tengah menggenggam tangannya. Bukan hanya dia, tapi seisi kelas pun begitu. Sejak kapan anjing dan kucing bisa akur begitu? “Myung… Soo, apa yang kau lakukan?” Tanya Hyunra dengan suara tercekat ketika Myungsoo terus menariknya turun hingga sampai ke depan konter kantin.

“Kalau kau mau tahu, badanmu itu sudah sekurus lidi,” ujarnya datar sambil melirik tubuh Hyunra yang berdiri di sampingnya, lalu membeli dua potong sandwich. Hyunra terdiam, lalu hendak memesan sandwich juga sambil mengeluarkan dompetnya ketika Myungsoo menahan tangannya dan menyerahkan dua potong sandwich itu. “Makan semua, kalau kau tidak mau pingsan nanti siang,”

Lagi-lagi Hyunra mematung di tempatnya, melongo sambil menatap punggung Myungsoo yang melangkah pergi. What da hell?!?!

__

Hyunra sudah berusaha menghiraukan tatapan teman sebangkunya yang sedari tadi terus meliriknya, namun semua usahanya berakhir dengan dengusan. Dia sudah berusaha tidak memulai sebuah obrolan karena pernah ditegur minggu lalu. Sekarang dia tak ingin ditegur lagi. Tapi… Aish! “Apa, Naeun-ssi?”

Naeun melirik Hyunra lagi, lalu tersenyum tipis. “Aku tak menyangka hari ini akan datang,” gumamnya dengan suara rendah namun masih terdengar jelas.

Kali ini giliran Hyunra yang melirik Naeun tajam “Maksudmu?!”

“Siapa sangka kalau cat and dog perhatian satu sama lain? Dibeliin makan siang lagi,” bisik Naeun lagi, diakhiri dengan kikikkan geli. Hyunra melotot, lalu mencoba mencubit pinggang temannya dari bawah meja. “Aduh, Hyunra-yah! Stop!”

“Itu yang di belakang sedang apa sih? Dari tadi kasak-kusuk terus,” suara menggelegar Ms. Jung terdengar, membuat Hyunra dan Naeun membeku dan kembali ke posisi mereka semula. “Tolong tenang,”

Hyunra melirik Naeun tajam, sementara yang dilirik membalasnya dengan tatapan jahil. Hyunra ingin sekali menjambak rambutnya sendiri lalu rambut Naeun. “Diam!” Geram Hyunra dengan suara rendah oktaf -3.

Tapi Naeun memang benar sih. Sekembalinya ke kelas, Hyunra memang memakan kedua sandwich itu. Tadinya dia mau bilang itu sandwich ia beli sendiri, tapi Myungsoo duduk di belakang. Sakit hati dong nanti? Akhirnya Hyunra terpaksa bilang ke Naeun kalau sandwich itu Myungsoo yang membelikannya. Seperti yang sudah diduga, Naeun meloncat kegirangan. Tunggu, yang dikasih Hyunra kok yang seneng Naeun ya?

Kriiiiiinggg

Bel pulang sekolah. Hyunra menatap jam lalu hendak menungkupkan kepalanya.

Pulang sekolah. Perpustakaan. Kim Myungsoo.

Srak

Seketika Hyunra duduk tegak lagi, lalu meringis. “Naeun-ah, hari ini aku tidak bisa pulang bersama. Tak apa ya?” Hyunra berujar dengan nada memelas, membuat Naeun yang sedang membereskan bukunya menoleh.

Gwaenchanna, kalau begitu aku minta Taemin oppa mengantarkan aku pulang saja hehe! Ah lumayan!” Sahutnya sambil cengengesan sendiri. Hyunra ikut terkekeh lalu menjitak pelan kepala temannya itu.

“Dasar modus!”

“Eh! Gak salah dong modus ke pacar sendiri? Dari pada modus ke pacar orang?” Balas Naeun lalu terkekeh lagi. Guru sudah meninggalkan kelas bersamaan dengan beberapa murid yang beres lebih dulu, membuat kelas mulai sepi. “Memangnya di sekolah ada apa Hyunra-ya?”

Hyunra melirik ke meja belakang, ternyata Myungsoo juga sedang beres-beres. “Aku mau kerja kelompok di perpustakaan,”

Naeun mengangkat alis tinggi-tinggi. “Tugas apa? Memangnya ada?”

“Literatur,” sergah Hyunra cepat, berdiri lalu menyandang tas ranselnya di salah satu pundaknya. Naeun lalu tersenyum mengerti.

“Oh, butuh waktu berdua. Oke deh, selamat bersenang-senang!” Celetuk Naeun jahil, membuat Hyunra melotot dan membuka mulutnya siap mengumpat. Namun Naeun lebih cepat, ia langsung keluar setelah sebelumnya melirik Hyunra maupun Myungsoo. “Dadah Hyunra!!”

“Sudah beres?” Hyunra sedang menghembuskan napasnya berat ketika suara Myungsoo terdengar amat dekat di belakangnya. Tersentak, Hyunra sedikit meloncat dan berbalik.

“Uh, ya,” balasnya canggung, lalu menunggu Myungsoo berjalan di depannya. Dia tidak bisa bersikap biasa saja setelah Myungso membelikannya makan siang. Ribuan spekulasi mulai menggentayangi otak Hyunra, jangan-jangan Myungsoo sedang melakukan trik? Atau dia memasukkan racun ke makananku? Atau dia sedang berusaha menggodaku? Membuatku berhutang budi?

“Hei, kau mau bengong di situ terus?” Suara dingin Myungsoo menyentakkan pikiran Hyunra kembali ke dunia nyata. Hyunra mengedipkan matanya lalu menatap Myungsoo, dan pria itu langsung masuk ke perpustakaan.

Dugeun!

Jadi… Dia hanya berdua dengan Myungsoo di sini?

Dugeun dugeun!

What da hell? Kenapa dia jadi gugup begini? Dengan susah payah Hyunra menelan ludahnya dan memaksa kakinya melangkah masuk, lalu menyunggingkan senyum tipis pada Kang Minhyuk, ketua pengurus perpustakaan, dan mengikuti ke meja dimana Myungsoo sudah mulai bersiap.

“Kau bisa berikan notebook-mu dulu? Aku ingin melihat apa yang sudah kau kerjakan sambil kau memilih buku sumbernya,” ujar Myungsoo kalem tanpa menatap Hyunra, dan Hyunra juga tak dapat menatap Myungsoo. Dalam diam Hyunra mengeluarkan notebook-nya dari ranselnya dan memberikannya pada Myungsoo, sebelum beranjak masuk ke jejeran rak-rak tinggi dengan buku-buku tebal yang berdebu.

Tentu saja berdebu. Memangnya ada anak kurang kerjaan yang membaca buku sejarah untuk selingan? Oh, mungkin untuk beberapa anak. Hyunra menatap ratusan buku dihadapannya, sebelum memantapkan diri untuk menatap huruf-huruf judul yang sudah pudar termakan usia. Dia memilih buku-buku yang mungkin berkaitan dengan sejarah dunia, sejarah Eropa dan sejarah Amerika. Komunisme Jepang… Mungkin akan dibahas nanti, sekarang PD 1 saja dulu. Dia juga mencari beberapa buku teknik mesin kuno yang mungkin juga berhubungan.

Ketika ia sedang iseng-iseng kembali meneliti judul, siapa tahu dia kembali menemukan buku yang berkaitan, matanya terjatuh pada sebuah buku usang berjudul Perang Salib. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung menarik buku itu dan kembali ke mejanya dan meja Myungsoo.
“Kau rajin juga,” komentar Myungsoo tiba-tiba saat Hyunra sudah duduk di hadapannya sambil meletakkan setumpuk buku. “Atau kau memang melakukannya karena ingin tugas ini cepat selesai?”

Hyunra mengerutkan keningnya mendengar nada bicara Myungsoo yang menurutnya sedang ngajak ribut itu. “Kenapa tidak fokus pada tugas ini saja?” Gumam Hyunra sambil menarik notebook-nya kembali. Myungsoo menatapnya sambil menyeringai, namun tak diindahkan Hyunra. Ia akhirnya memilih untuk menarik satu buku dan mengeluarkan laptopnya dari tas, mengikuti Hyunra yang mulai mengerjakan bagiannya.

Suara gesekan lembaran kertas, dan keyboard yang diketik terus mengalun mengisi ruang perpustakaan yang sunyi itu hingga kurang lebih dua jam. Dalam selang waktu itu, Hyunra mati-matian berusaha untuk meredakan degup jantungnya yang terus melaju makin cepat tiap menitnya. Sesekali ia melirik Myungsoo yang sedang fokus mengetik, sejenak memandanginya lalu kembali fokus pada tugasnya. Hyunra mengagumi wajah itu, mata itu, rahang itu, hidung itu, hingga lesung pipit yang membelah sebelah pipinya ketika tersenyum miring. Astaga. Tidak mungkin, Hyunra tidak mungkin masih menyukainya setelah sekian lama, kan?!

“Haaah!!” Hyunra menghembuskan napas berat lalu menyenderkan punggungnya, tak menyadari kalau ia juga mengeluarkan suara yang keras, demi mengusir bayang-bayang Myungsoo dari otaknya. Sementara Myungsoo yang kaget, hanya mendongak lalu memandang Hyunra heran.

“Kenapa?”

Hyunra tersentak, langsung menutup mulutnya lalu menggeleng keras-keras. Myungsoo menatapnya aneh sebelum beralih menatap jam dinding yang menunjuk pukul lima sore.

“Kau mau temani aku makan?” Tanya Myungsoo tiba-tiba, membuat Hyunra melotot.

“Tapi aku harus segera pulang—”

Kruyuuuuukkk

“Aku rasa kau punya waktu sebentar untuk makan, kan?” Gumam Myungsoo sambil melirik tangan Hyunra yang merengkuh perut datarnya, sebelum menggeleng kecil dan langsung menarik tangan Hyunra yang baru sedetik selesai membereskan tas sekolahnya.

Jadi, rupanya Kim Myungsoo ini tukang tarik-tarik orang.

“Err.. Tapi kau tidak harus main tarik, kan?” Balas Hyunra canggung. Matanya terus menatap tangannya yang digenggam demikian erat. Hyunra mendongak, lalu memutuskan untuk mengunci mulutnya ketika menangkap tatapan dingin Myungsoo padanya, meski hanya sepersekian detik.

__

“Tidakkah kau menyadarinya? Akhir-akhir kelas ini jadi damai sekali,” Howoon berujar sengaja dengan suara keras agar sepasang murid yang sedang konstentrasi di pojok belakang kelas itu mendengar. “Kalau saja mereka begini dari dulu, bukankah terasa aman tentram damai sejahtera?”

“Jangan-jangan benci jadi cinta! Hahaha!” Sahut yang lain, lalu terdengar gelak tawa dan siulan jahil. Hyunra, yang dengan jelas merasa dirinya yang sedang disinggung, hanya berusaha menjaga suasana emosionalnya agar tidak meledak.

“Bukankah mereka tampak cocok bersama?”

“Kalau begini terus, mereka mungkin bisa pacaran,” Hyunra langsung mendongak mendengar lontaran pernyataan yang terakhir ia dengar. Ia menatap Myungsoo, namun nampaknya cowok itu sama sekali tenang dan nampak tak peduli. Dia nampak biasa saja dan menghiraukan gosip yang disebar dengan suara lebih dari 5000 Hz itu. Hyunra menarik napas, lalu meletakkan ballpoint-nya.

“Kau sudah selesai?” Tiba-tiba Myungsoo berujar tenang, membuat Hyunra melonjak kaget dan langsung menatap Myungsoo. “Kalau sudah duluan saja, nanti aku menyusul,”

“Oke. Jangan lupa, nanti aku tagih. Aku harus segera ke percetakan dan sebaiknya kau tidak cerewet,”

“Baiklah,” jawab Myungsoo sekenanya, sementara Hyunra mulai membereskan peralatan kerjanya dan beranjak dari sisi Myungsoo.

Saat ia melewati Howoon, ia hanya menyenggol bahu pria itu. “Itu pengorbanan untuk nilai, tolong,” bisiknya tajam sebelum berlalu kembali ke bangkunya.

Namun cengiran Howoon semakin lebar. Ia mengikuti Hyunra ke bangkunya lalu berbisik kecil, “Harusnya kau mengerti kenapa akhir-akhir ini Myungsoo sering mengajakmu keluar,”

Dugeun!

Hyunra menengok cepat sambil memelototi Howoon yang melenggang pergi.

Memang akhir-akhir ini Myungsoo sering mengajaknya pergi ke tempat-tempat aneh, akuarium, kafe, taman, restoran, atau bioskop. Tentu saja semua itu tempat aneh bagi sepasang musuh, kan?! Apa Myungsoo… Suka padanya? Astaga, itu tidak mungkin!

Malamnya Hyunra benar-benar tidak bisa tidur. Dia tahu dia harusnya mengerjakan PR kimia yang bejibun itu, tapi otaknya tidak ingin bekerja. Sedari tadi ia hanya membolak-balikan tubuhnya di atas kasur sambil memikirkan hal yang sama.

Apa yang ia benci dari seorang Kim Myungsoo?

Gayanya yang cool membuat semua cewek menatap Myungsoo seakan cowok itu adalah cowok paling keren abad ini. Ekspresinya, apalagi saat ia tersenyum miring hingga lesung pipitnya setengah terlihat. Cewek-cewek langsung menarik napas menatap betapa gorgeous-nya cowok ini. Sikapnya pada cewek-cewek itu berbeda seratus delapan puluh derajat dari sikap Myungsoo pada Hyunra, dan Hyunra sangat benci itu.

Suaranya. Hyunra benci suara Myungsoo yang terkadang membuat bulu romanya berdiri. Suaranya yang terkadang seperti memerintah dan Hyunra tidak bisa melakukan apapun selain mengikutinya. Tatapannya, Hyunra juga benci itu. Dimana sering kali Hyunra kesulitan melepasan tatapan yang mengintimidasi dan seakan menyedotnya ke dalam itu. Dan wangi tubuhnya. Hyunra selalu pusing jika berada di dekat cowok itu, karena hanya Myungsoo yang punya wangi seperti itu.

Ketika Hyunra berpikir lagi, ia mengerang. Dia baru sadar betapa ia menyukai Kim Myungsoo.

Gayanya cool dan Hyunra tidak bisa melepas pandangan daripadanya. Setiap gerakan yang dibuat Myungsoo selalu membuat Hyunra melirik, ingin melihatnya.

Ekspresinya, Hyunra tidak tahu kenapa ia juga jadi menahan napas setiap menatap Myungsoo dengan berbagai ekspresinya. He’s so f*cking damn handsome. Dan sialnya, lesung pipit di satu pipinya itu yang selalu membuat jantung Hyunra selalu hampir copot!

Sikapnya pada cewek-cewek lain, harus Hyunra akui ia iri dengan mereka. Myungsoo dengan mudah tersenyum, lalu menyapa dengan suara riang. Sementara dengannya? Cowok itu hampir selalu menyeringai, bukan tersenyum. Nada dalam suaranya juga dingin, terkadang seperti menyuruh dengan nada absolut. Rasanya Hyunra ingin menonjok Myungso tepat di hidungnya.

Suaranya, Hyunra tidak tahu kenapa. Rasanya ia bisa mendengar Myungsoo berceloteh sepanjang hari, kalau cowok itu mau. Ia tidak tahu kenapa tapi ia selalu menunggu kalau-kalau Myungsoo akan berkata lebih banyak.

Tatapannya, Hyunra tidak ingin mengingatnya lagi. Ia bisa kehilangan konsentrasi jika Myungsoo menatapnya intens. Rasanya seperti cowok itu tepat menatapnya dan memerhatikan seluruh gerak-geriknya, bahkan aliran napasnya. Tatapan yang membuat rona merah muncul di pipinya, karenya Hyunra merasa Myungsoo hanya sedang memerhatikan dirinya.

Yang terakhir wangi tubuhnya. Hyunra baru sadar kalau ia selalu menarik napas dalam-dalam jika berada di dekat Myungsoo. Cowok itu, entah kenapa, memiliki aroma yang adiktif. Sampai akhir dia tak akan mengakui kalau ia menyukai aroma itu, tapi yeah. Hyunra bilang dia hanya kerajingan dengan wangi itu.

Jadi… hanya ego Hyunra yang setinggi Menara Petronas yang membuatnya bersikukuh kalau Hyunra sama sekali tidak tertarik pada cowok itu.

__

“Tumben sekali kau ingin makan es krim. Biasanya aku yang menentukan dimana kita makan,” celetuk Myungso sambil menyuap sesendok penuh es krim cokelat ke dalam mulutnya. Hyunra membelalak saat menyuap es krim vanillanya, tidak menyangka kalau Myungsoo akan berkata demikian.

“Ngg… Sebenarnya aku hanya butuh teman,” gumam Hyunra sambil menjatuhkan pandangannya lagi. Tangannya berhenti menyendok es krim ketika merasakan Myungsoo menatapnya intens. “Maaf ya, tapi aku tidak tahu harus mengajak siapa,”

“Memang ada apa?” Tanya Myungsoo bingung. Hyunra menghembuskan napasnya, masih ragu untuk bercerita yang sebenarnya. Baru saja Hyunra membuka mulutnya hendak bersuara,

“PARK HYUNRA~!! BOGGOSHIPPEO!!!” Suara nyaring yang tidak didengar Hyunra dua tahun belakangan. Oh dear, she missed Soojung so damn much.

Hyunra membalikkan tubuhnya lalu menghambur memeluk gadis yang ikut menghambur memeluk Hyunra. “Jung Soojung!! I miss you so muchie babe!!!

“Argh! Aku sangat senang karena ayahku ada perjalanan mendadak ke Korea. Aku bisa bertemu denganmu lagi!! Oh ya, aku juga ke sini bersama… Loh, ada Myungsoo?” Soojung berceloteh sebelum menyadari kalau Myungsoo sedang menatap kedua gadis yang sedang melepas rindu itu. Tanpa disangka, Myungsoo hanya nyengir.

“Hei Soojung,” sapanya sambil mengangat tangannya. Soojung tersenyum manis, membalas sapaan riang Myungsoo.

“Hai, Myung. Lama tak jumpa,” dan kemudian kepalanya berputar menatap Hyunra sambil menahan napas. “Hyunnie sayang, sepertinya kau butuh diinterogasi,” bisiknya yang membuat Hyunra meringis.

“Myungsoo tidak tahu kalau aku akan bertemu denganmu,” lapor Hyunra membela diri. “Kan kalau aku sendirian bakal jadi kacang rebus,” lanjutnya sambil melirik sosok lelaki tinggi yang berdiri tak jauh di belakang Soojung.

Soojung kembali nyengir, lalu menarik lelaki itu mendekat padanya. “Ehehehe. Well guys, this is my boyfriend, Mike,” lelaki bule itu tersenyum manis, lalu mengenalkan diri pada Hyunra dan Myungsooo sedikit canggung.

Sebenarnya, Myungsoo tidak mengerti. Kenapa Hyunra mengajaknya? Tapi ia berusaha tetap tenang, lalu meneliti wajah Hyunra. Sepertinya gadis itu memang gugup setengah mati. Jadi, sekarang Myungsoo hanya bisa menyimpulkan kalau Hyunra memang butuh teman. Mereka berempat makan es krim sambil bertukar cerita, dan ketika mulai menjelang sore Soojung dan Mike pamit pulang. Tersisa hanya ia dan Hyunra berdua.

“Maaf, Myungsoo-goon. Aku tidak berani mengajak Naeun, jadi terpaksa aku mencoba mengajakmu,” gumam Hyunra dengan suara pelan. Tapi, bukan itu masalah untuk Myungsoo.

“Tapi kau tidak bilang dari awal, Hyunra,” jawab Myungsoo, berusaha membuat nadanya sedatar mungkin. Hyunra menggigit bibir, lalu menghembuskan napas lagi.

“Maafkan aku,”

“Kau tahu? Kalau kau butuh bantuan, apapun itu, aku akan bersedia membantumu. Jadi jangan ragu kalau ingin mengatakan sesuatu,” Myungsoo mulai merasa sedikit bersalah ketika melihat Hyunra yang menunduk. “Oke?”

“Oke,” jawab Hyunra pelan, masih enggan mengangkat kepalanya.

“Sekarang aku antar kau pulang,” putus Myungsoo sambil menarik tangan Hyunra, dan membuat gadis itu melotot.

Mwo?! A-anio, aku bisa pulang sendiri,” tolak Hyunra sambil berusaha melepas tangannya, namun sayangnya cengkeraman Myungsoo terlalu kuat. “H-hei…”

“Kau yakin? Menjelang malam begini? Kau berani?” Sergah Myungsoo sambil melirik ke luar, dimana langit mulai gelap dan remang cahaya lampu jalanan mulai menyala. Hyunra ikut melirik, lalu menggigit bibir.

“Ngg… Tidak,”

“Kalau begitu, beres masalah,” Myungsoo akhirnya nyengir lalu kembali menarik Hyunra. Tunggu sebentar… Nyengir?! Biasanya Myungsoo selalu menyeringai!

“Ngg… Myungsoo-goon, apa kau tidak keberatan kalau aku membeli tteokbokki sebentar? Aku kelaparan,” tanya Hyunra ragu. Myungsoo menoleh, lalu tersenyum dan mengangguk.

“Boleh saja. Ayo!”

__

“Naeun-ah, kau lihat Myungsoo tidak?” Hyunra bertanya pelan sambil mengecek makalah yang menjadi tugas literatur mereka. Waktu tenggat mereka memang masih seminggu lagi, tapi bukankah lebih cepat lebih baik?

Naeun yang sedang mengemut ch*ki-choki (?) Memandang Hyunra dengan alis terangkat. “Memangnya tadi kau tidak lihat dia keluar?”

“Tapi kan kau juga keluar ke kantin, siapa tahu lihat dimana dia sekarang. Dia sudah janji mau mengumpulkan tugas ini berdua, tapi akhirnya dia sendiri yang ngacir entah kemana,” cetus Hyunra sedikit sebal. “Ya sudah, aku mengumpulkan ini sendiri saja deh,”

“Hyun, Myungsoo itu di lapangan voli indoor,” ujar Naeun akhirnya, melempar bungkus bekas ch*ki-chokinya ke tong sampah.

“Ngapain dia disitu? Memangnya dia masuk klub voli, ya?”

Tiba-tiba, Naeun mencubit lengan Hyunra gemas. “Bukan bodoh. Kau tahu si cheerleader yang masih kelas satu itu? Yoon Seyoung? Dia menembak Myungsoo hari ini,”

Dan seketika Hyunra membeku.

“Nde?!”

“Setahuku, Seyoung itu memang cantik. Dia tetangganya Myungsoo dan mereka teman main dari SD. Ckck, biasanya Myungsoo yang nembak duluan, eh ini ceweknya, mungkin emansipasi wanita mulai mengganas…” Jabar Naeun panjang lebar tanpa mengetahui Hyunra sudah sekaku tiang bendera. Dia tidak pernah tahu… Tentu saja! Cowok macam Myungsoo mana mungkin tidak dekat dengan cewek?

Tapi Myungsoo tidak pernah memberitahunya…

Lagian, memangnya Hyunra siapanya Myungsoo sih? Hanya teman sekerja kelompok saja.

Buru-buru Hyunra menepis perasaan kesal dalam benaknya dan memutuskan untuk beranjak. “Ah, sudahlah. Itu bukan urusanku. Aku mengumpulkan ini dulu, ya?” Putusnya sambil melenggang keluar kelas, membalas sekali lambaian tangan Naeun dari kelas. Sambil mendekap makalah yang ternyata super tebal itu, pikiran Hyunra terus kemana-mana.

Pantas saja dia pintar menghadapi wanita. Pantas saja dia sedikit banyak mengerti apa yang wanita butuh. Memang, cowok cakep kan nggak lepas dari cewek cantik! Tanpa sadar, langkah kaki Hyunra mulai menghentak-hentak seiring dengan pikirannya yang mulai ngaco. Dan disitulah emosinya kembali tersulut.

Oke. Hyunra sudah mewanti-wanti dirinya sendiri kalau Myungsoo bukan siapa-siapanya. Dia hanya teman sekelas yang kebetulan kerja sekelompok dengannya. Tidak lebih. Tapi kenapa Hyunra merasa kesal ketika melihat cowok itu jalan berduaan dengan serang cewek di koridor sekolah?!

Tidak peduli, tidak peduli, tidak peduli, Hyunra terus membatin sambil terus berjalan, pura-pura tidak melihat Myungsoo dan memasang tampang cool.

Sialan. Ceweknya cantik sekali. Dan dalam dua detik mereka akan berpapasan. Semoga Myungsoo tidak melihat.. Semoga dia…

“Hyunra-ya! Kau mau mengumpul tugasnya, ya?!” Suara bariton itu membuat Hyunra tersentak lalu menoleh cepat. Bohong kalau dia tidak tahu suara bariton itu milik siapa.

“E-eh?” Hyunra mengangkat alisnya tinggi, kaget ketika Myungsoo tiba-tiba melepas tangan cewek yang melingkari lengannya lalu menghampirinya.

“Ayo kita kumpulkan bersama!” Ujarnya riang sembari mencoba mengambil tugas makalahnya dari tangan Hyunra. Tapi Hyunra malah mendekap tugas itu, tidak membiarkan Myungsoo menyentuhnya.

“Tidak perlu, eh, kurasa kau—” Hyunra mengintip ke belakang punggung Myungsoo lalu menangkap sosok cewek yang berdiri menunggu sambil memasang wajah cemberut. “Lebih baik kau menemani pacarmu saja. Aku mengumpul ini sendiri saja,” balasnya sambil memundurkan tubuh. “Oke? Hehe. Daah!!”

To Be Continued…

A/N : Hai hai hai~!!! Aku udah lama banget nggak post fanfic jadi permulaannya twoshots ini ya ^^ Thank you for reading ^^

2 thoughts on “[TWOSHOTS] The Words that Haven’t Spoken Yet [1.2]

  1. hi there!

    dududuuduuuu
    hatinya kembali mencair nih si Hyunra hahhhaha xD
    Myungsoo nih suka gitu (?) sikapnya wkwkwk

    see ya next chapt^^

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s