[TWOSHOTS] The Words that Haven’t Spoken Yet [2.2]

wordsthathaventspoken

The Words that Haven’t Spoken Yet

a twoshoot written by reenepott©2015

Kim Myungsoo, OC(Park Hyunra) | Romance, Teen | Parental Guidance

Disclaimer : The plot and original character “Park Hyunra” is mine so don’t ever try to copy or re-post this fan-fiction without my permission!

Summary : Hyunra benci Myungsoo karena Myungsoo menyakiti sahabatnya. Seiring waktu berselang, Myungsoo mulai mendekatinya. Apakah Hyunra tetap membenci Myungsoo atau sebaliknya?

Part 2 – END

Ini sudah hampir dua minggu setelah kejadian Myungsoo ditembak di lapangan voli indoor.

Dan sudah hampir dua minggu Hyunra menjauhi Myungsoo.

“Hyun, kamu nggak kasihan, apa?! Udah seminggu lebih yang di belakang itu galau mulu!” Bisik Naeun tiba-tiba, membuat Hyunra yang sedang membuat latihan fisika mengerutkan kening. Ia mendongak menatap Naeun sebentar, lalu mengedarkan pandangan ke belakang. Cowok semua. Tumben banget, jam istirahat seperti ini sedikit cowok yang keluar kelas. Biasanya kelas kosong melompong.

“Hah? Emangnya kenapa cowok-cowok pada galau? Masa pada putus gitu?!” Ceplosnya bingung. Naeun memutar bola matanya bete, namun Hyunra mengerutkan keningnya. “Lagian emangnya kenapa aku harus kasihan, urusan mereka kali!”

Sekarang Naeun ingin menjedotkan kepalanya ke dinding akibat otak teman sebangkunya yang memang pentium tiga. Oke, Hyunra memang pintar, tapi dia oh-sangat-tidak-peka! Terutama dalam hal keceng-mengeceng, Hyunra adalah salah satu mahkluk bodoh dengan kebutaan tak kasat mata (?). “Maksudku Kim Myungsoo!” Pekiknya dengan suara tertahan. Tapi Hyunra malah mengrenyit.

“Memangnya dia kenapa?” Tanyanya acuh. “Masa galau gara-gara putus? Atau galau karena ketemu cewek cantik lagi, jadi bingung pacarnya mau dikemanain?!” Sinis Hyunra nyinyir.

“Ih, kok kau jahat gitu sih. Siapa lagi yang bikin galau seorang Myungsoo kalau bukan cewek bodoh yang menjadi teman sebangku-ku hampir setahun ini, hah?!” Sinis Naeun balik. Menurutnya Hyunra sudah mulai keterlaluan. Tidakkah anak itu menangkap sinyal hijau dari salah satu cowok tertampan di sekolah itu? Sebagai salah satu teman dekatnya Naeun merasa sebal dengan sikap Hyunra yang amat sangat teramat cuek dalam hal cowok. “Lagian, memangnya Myungsoo jadian dengan siapa? Setahuku tidak ada lagi cewek yang dekat dengannya selain kau,”

Hyunra memalingkan wajahnya. Sialan Naeun. Gara-gara kata-kata anak itu sekarang Hyunra gemetaran. Jantungnya berpacu lebih cepat—astaga, dia nggak salah minum obat, kan?! “Cewek yang nembak dia di lapangan voli indoor, kan?” Balas Hyunra dengan nada datar. “Bukannya dia hampir selalu menerima pernyataan cinta yang melayang padanya? Lagian, aku dan dia tidak dekat,”

“Sudah deh, Hyunra-ssi. Bisa nggak sih kamu berhenti sinis ada Myungsoo begitu? Memang salah dia apa sih?! Dia nggak salah apa-apa! Aku heran kenapa kamu benci banget sama dia sampai kayak gitu,” sergah Naeun tajam. Hyunra tersentak kaget, lalu mendongak dan mendapati Naeun menatapnya dengan sebal. Mulutnya menutup lalu membuka, seakan tidak terima dengan ucapan Naeun. “Kalau kamu begini terus, kamu jadi nggak pantes sama Myungso!”

Hyunra terkekeh pelan. “Sepertinya itu mustahil,” gumamnya sambil membuang muka. “Dengar, Naeun. Aku… “

“Dia nggak pacaran. Apa gara-gara itu yang bikin kamu menjauh? Kamu cemburu?” Potong Naeun dengan mata menyipit, membuat Hyunra kaku di tempat duduknya. Ia hanya menatap Naeun tanpa berkata, namun akhirnya dia memaksa untuk berucap.

“Aku nggak punya hak untuk cemburu. Dan aku nyatanya juga nggak cemburu. Aku dan dia memang tidak akur, jadi kurasa itu wajar saja,” ujarnya datar. Dan Hyunra buru-buru berpaling sebelum Naeun menyadari ada sesuatu yang salah padanya.

“Kau mau tahu? Dia ingin berteman denganmu. Tapi kurasa kau terlalu sombong untuk itu,” hardik Naeun lugas dan sedetik kemudian ia sudah beranjak dari mejanya, berjalan cepat keluar kelas. Meninggalkan Hyunra yang masih terdiam di tempatnya.

Maaf saja, Hyunra tidak buta. Dia tahu Myungsoo perhatian padanya. Tapi salahkah ia jika ia sedang berusaha melindungi hatinya? Hatinya yang pernah tertusuk banyak kali sebelum Myungsoo memberikan perhatian itu padanya.

Kesimpulannya, ia sudah terlalu lelah menunggu dan tak ingin dibohongi maupun disakiti lagi.

__

“Kurasa Naeun memang benar, Hyunra,” lagi Hyunra mendengus mendengar jawaban dari seberang telepon. Ia memeluk gulingnya lalu kembali telentang di atas ranjang, bosan dengan sore hari yang sunyi ditambah  dengan jawaban membosankan seperti itu. Dia pikir bertelpon dengan Krystal akan sedikit membuat suasana menjadi cerah, tapi nyatanya sama saja. “Myungsoo tidak melakukan hal yang salah, kan? Dia hanya ingin menjadi dekat denganmu, itu saja. Masa kau melarang-larang orang ingin dekat sama siapa?”

“Terserah dia mau dekat dengan siapa,” gumam Hyunra tapi ia yakin Krystal tidak mendengarnya.

“Atau kau takut jika Myungsoo kembali menyakitimu?” Tebak Krystal tepat sasaran. Hyunra terdiam, jemari tangannya yang semula memainan ujung gulingnya membeku seketika.

“Ya,” akunya dengan suara serak. “Aku lelah, Krys. Setelah ketahuan selingkuh dengan Soyeon unni, dia pacaran sama Jiyeon. Lalu Suzy. Lalu Sulli. Aku lelah, Krys. Aku tidak berani berandai-andai jika dia melihatku,”

“Dia tidak selingkuh dengan Jess unni,” sahut Krystal datar. Hyunra merenyitkan kening. “Dia tidak pernah selingkuh. Waktu itu dia memang sedang dekat dengan unni karena unni sedang dipedekatein sama Kris. Bisa dibilang, unni mengorek-ngorek tentang Kris dari Myungsoo. Dia tidak selingkuh,”

Kedua mata Hyunra melebar. Astaga. “Apa?”

“Kau waktu itu terbawa emosi sih, jadi tidak mau mendengar cerita lengkapnya. Dia tidak selingkuh, kok. Kami putus karena.. Ehm… Dia mengaku menyukai gadis lain,” sergah Krystal pelan. Dia memang tidak pernah menceritakan hal ini pada Hyunra, karena Myungsoo yang meminta untuk tidak menceritakan pada siapapun. Termasuk Hyunra.

Sementara Hyunra makin membeku di ranjangnya. Jadi… Selama ini dia salah sangka? Selama bertahun lamanya dia menjauhkan diri dari Myungsoo.. Dengan alasan yang jelas-jelas palsu? Astaga.

Bunuh Hayati di rawa-rawa, bang!

“Astaga, aku harus berangkat, Hyun-ah. Kapan-kapan kita lanjut lagi, oke? Bye!”

Tuutt

Bahkan setelah Krystal memutuskan sambungan telepon, Hyunra masih tetap diposisinya.

Astaga.

Hyunra menjatuhkan kepanya ke kasur lalu menarik napas panjang. Sialan kau Kim Myungsoo. Bagaimana mungkin kau membuat seorang cewek naksir kamu dari SMP sampe sekarang! Please banget lah! Jemari Hyunra kembali bergerak ketika bunyi pesan masuk di ponselnya. Dengan malas ia membukanya, dan mendapati SMS itu dari Naeun.

From: Naeun
Hyun-aah, makan yu?

Hyunra merenyitkan kening. Tumben banget Naeun ngajak makan?

To: Naeun
Taemin dikemanain woi? Kenapa malah ngajak aku?

From : Naeun
Dia lagi ada bimbel buat persiapan ujian. Ayolaah, ini sudah lama sekali kita nggak makan bersama!

To : Naeun
Okeyy. Dimana jam berapa?

From : Naeun
Thanks darl~ Di Ginkola Cafe, now!! I’m waiting~

Hyunra langsung mendengus menatap balasan dari Naeun.

To : Naeun
Aye madam. Tapi aku mandi dulu!!

Hyunra melempar ponselnya ke atas ranjang lalu menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Kali ini dia berterimakasih sekali pada Naeun. Daripada bengong di sore hari yang cerah di kamar, mending keluar! Ah, cinta sama Naeun!

Hyunra menyelesaikan mandinya dengan cepat lalu mengganti bajunya dengan celana pendek warna hitam dan tank top pink pucat, lalu menyambar cardigan rajut warna krem. Ia hanya memakai pelembab dan rambutnya yang dijepit kemudian dilepas, membuatnya mengikal alami. Setelah menyisir rambut dan menyiapkan isi tas selempangnya, ia segera berangkat ke kafe yang diminta Naeun.

Ia hanya butuh lima menit dengan naik bus untuk sampai ke Ginkola Cafe itu. Setelah turun dan memasuki kafe, Hyunra tak kesulitan menemukan sosok Naeun di tengah para pengunjung kafe yang bisa dibilang sedang sepi itu. “Naeun-ah!”

Naeun yang sedang duduk di meja paling pinggir di dekat jendala besar menoleh. Ia menatap Hyunra sejenak sebelum menatap cewek itu seakan menyuruhnya untuk segera duduk di hadapannya. “Sumpahlah, Shin Hyunra. Dua puluh menit, kenapa lebih lama dari sebelumnya?”

Hyunra segera menarik kursi sambil nyengir lalu duduk. “Kan aku sudah bilang aku harus mandi dulu,” jawabnya cengengesan. “Lagian kau mendadak sekali sih, aku kan awalnya berencana hanya tiduran di kamar seharian.”

“Tidak bagus anak gadis bermalas-malasan, tahu,” gumam Naeun lalu memanggil pelayan. “Lagian kau bisa debuan kalau di rumah terus. Lumayan kan menghirup udara segar,”

Aye, momma,” balas Hyunra sambil bertopang dagu. “Di sini paling enak menu apa?”

“Aku mau pesan fish and chips sama coke,” ujar Naeun tanpa melihat menu. “Kalau kau?”

Tangan Hyunra meraih menu sambil melirik Naeun. “Aku tidak tahu, yang enak apa?”

Desserts-nya enak loh, pastanya juga,” jawab Naeun sambil ikut melongok ke buku menu. “Cemilan juga enak,”

“Kalau gitu.. Fish and chips juga deh. Minumnya green tea latte,” sahut Hyunra sambil menutup buku menu. “Kalau kurang nanti saya pesan lagi,” sambil tersenyum, keduanya mempersilahkan si pelayan pergi.

“Hyun, aku ke toilet dulu ya,” ujar Naeun tiba-tiba, dan tanpa Hyunra bisa berucap cewek itu sudah ngacir ke toilet duluan. Hyunra merenyitkan hidungnya, lalu dengan kalem mengeluarkan ponsel dari tasnya. Salah satu keuntungan hidup di abad ke dua puluh satu adalah adanya smartphone, dimana kau tidak akan merasa bosan walau sendirian. Hyunra asyik tenggelam dalam Instagram-nya, hingga ia tak sadar ada orang lain yang menggantikan posisi Naeun di hadapannya.

“Hyunra-ya, annyeong,”

Degh!

Jemari Hyunra membeku ketika mendengar suara itu. Astaga. Sudah berapa lama ia tak mendengar suara itu mengucap namanya? Hampir dua minggu? Yah, kebodohan dia sendiri yang ambil langkah seribu dari cowok itu. Perlahan ia mengangkat matanya dari ponsel, dan benar saja. Kim Myungsoo sedang duduk di hadapannya. Dan dia oh nampak sangat tampan sekali—cukup, Hyunra. Kau sudah memutuskan untuk tak berurusan dengan orang ini.

“Kau…” Hyunra menahan napasnya, lalu seketika kemudian ia sadar. Son Naeun!

“Jangan salahkan Naeun, ini permintaanku sendiri.” Ujar Myungsoo seakan telah mengetahui isi kepala Hyunra. Kemudian cowok itu mengacak rambutnya, nampak gugup sekali. “Aish, tidak akan jadi begini kalau kau tidak terus menghindariku akhir-ahir ini!”

“Apa maksudmu?” Tanya Hyunra sambil merenyitkan kening. Kalau bisa, dia sekarang ingin pura-pura bego saja deh.

“Jangan berlagak pikun. Kau menghindariku dua minggu ini,” Myungsoo berujar lugas, yang membuat Hyunra mau-tak mau menelan ludah. Bukan karena kata-katanya, tapi tatapan dalam yang mengintimidasi itu. “Apa salahku padamu?”

“Aku rasa kau tak melakukan sesuatu yang salah,” balas Hyunra gugup, tangannya mulai gemetaran. “Dan aku tidak menghindarimu,”

Hell yes, Shin Hyunra. Orang buta saja tahu kau menghindariku, kenapa tidak jujur saja, sih? Apa karena masalah itu?” Sembur Myungsoo tidak sabaran, membuat Hyunra terus menciut di kursinya. Kalau di kelas, dia bisa melawan. Tapi ini tempat umum!

“Jika benar aku menghindarimu, bukankah itu sesuatu yang bagus? Aku tak akan mengganggumu lagi, kan? Masalah lalu terlupakan dengan mudah, beres,” balas Hyunra mengeraskan diri. Perlahan ia menatap Myungsoo. “Benar, kan?”

“Tidak, tidak bagus,” sahut Myungsoo cepat, “Aku bahkan tidak tahu apa masalah diantara kita, Hyunra! Sedari dulu kau memusuhiku tanpa alasan yang jelas, sekarang sudah bertahun berlalu, kau masih membenciku? Setidaknya beritahu aku apa masalah kita, aku tak mengerti!”

Astaga Tuhan, batin Hyunra mulai lelah. Dia tidak siap dirong-rong begini. “Aku hanya jengkel, bukan benci,” balas Hyunra akhirnya. “Tapi bisakah kau lupakan itu? Kau memikirkan hal-hal tidak penting. Kupikir—kupikir seperti ini lebih baik,”

“Itu penting,” geram Myungsoo. “Aku menyukaimu, Hyunra! Bagiku apa yang kau rasakan itu penting! Takkah kau mengerti itu? Aku selalu ingin bersamamu, apakah aku salah?”

Oh no. Jantung Hyunra copot sekarang juga. Kedua matanya melebar, kaku menatap Myungsoo. Tidak mungkin. Tidak mungkin cowok seperti Myungsoo mengatakan hal seperti itu padanya. “Apa katamu?” Bisik Hyunra lemah. Ia sudah kehilangan tenaga dan keberaniannya.

“Aku menyukaimu, Hyunra. Kenapa kau begitu membenciku?” Desah Myungsoo lelah. Ia hanya menatap Hyunra lurus, memerhatikan setiap gera gerik cewek itu.

“Aku tak percaya,” bisik Hyunra, amarah mulai menguasai dirinya. “Kau pikir semudah itu berkata menyukai seseorang? Setidaknya pikirkan perasaannya terlebih dulu!”

“Ken—”

“Dengarkan dulu!” Bentak Hyunra lalu menarik napas sebentar menyadari beberapa tatapan mulai diarahkan pada mereka. “Kau mau tahu masalahku denganmu apa? Oke! Akan kujelaskan. Kuberitahu kau karena aku sudah lelah. Aku membencimu karena apa yang kau lakukan pada Krystal. Kau tak tahu, kan? Aku mengorbankan perasaanku padamu demi kalian! Aku merelakan perasaanku hancur karena kalian saling suka. Lalu apa yang kau lakukan? Seenaknya saja kau main perempuan. Semua pengorbananku sia-sia, brengsek!”

“Mak—”

“Aku berusaha melupakanmu, dan kau kesana kemari dengan perempuan yang berbeda, dan kau tahu apa yang kurasakan? Sakit. Aku merasakan sakit seperti ini sekian lama, sampai aku sendiri tidak tahu apakah itu rasa sakit atau bukan. Aku tidak mau merasa sakit lagi. Aku tidak memercayaimu mengatakan itu agar aku tak merasakan sakit lagi. Salahkah kalau aku melindungi diriku sendiri?” Tanpa sadar air mata mulai menetes di pipi Hyunra. Ia menoleh ke samping menghindari tatapan kaget Myungsoo padanya. “Astaga, aku mengatakannya,”

“Hyunra—”

“Selamat tinggal,” ujar Hyunra dengan mata yang benar-benar basah, terakhir kali menatap lurus pada Myungsoo sebelum berlari keluar kafe.

Sementara Myungsoo tertinggal sendirian, kaget, marah, dan cemas. Bagaimana mungkin dia tak tahu itu? Pintar benar Hyunra menyembunyikannya. Namun segalanya nampak jelas sekarang. Kenapa Hyunra selalu menatapnya sinis dan mencemooh ketika sedang menggandeng cewek, kenapa Hyunra selalu menuduhnya yang tidak-tidak, astaga. Shin Hyunra, kenapa kau harus seperti ini sih? Tapi setidaknya dari yang Myungsoo dengar ia tahu kalau Hyunra menyukainya.

Oke, harusnya dia sadar dari dulu karena tujuannya menggandeng cewek-cewek itu adalah untuk melihat reaksi Hyunra. Kenapa dia tidak sadar kalau reaksi Hyurna yang begitu cukup jelas menggambarkan kalau gadis itu cemburu?!

Tunggu, dia bolehkan menganggap Hyunra cemburu?

Astaga Myungsoo. Betapa bodohnya dirimu. Menyakiti seseorang bertahun lamanya, pantas saja Hyunra bereaksi begitu.

Myungsoo mengacak rambutnya frustasi. Setidaknya Hyunra masih menyukainya…

__

84 messages

69 missed calls

Hyunra mengerang lalu kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal melihat notif ponselnya yang bisa membuat orang berkacamata minus itu. Hari ini dia tidak masuk sekolah karena sakit—maksudnya benar-benar sakit, dia flu berat semalam. Setelah pulang dari kafe kemarin ia langsung mengunci diri di kamar mandi dan menangis sepuasnya di sana. Dan bodohnya seorang Hyunra, dia menangis sambil mandi. Iya, dia mandi lagi padahal sebelum pergi dia sudah mandi.

Mandinya sih cuma lima belas menit, tapi nangisnya hampir satu jam. Kulit Hyunra sampai keriput semua dan matanya sebesar bola golf. Hidungnya berair terus dan tenggorokannya kering kebanyakan menangis.

Dan malamnya dia langsung flu.

Masalahnya, Hyunra menangis bukan karena putus cinta. Jelas-jelas Myungsoo menyatakan perasaannya, berarti rasa sukanya terbalas dong?

Tapi Hyunra menangis karena malu. Bayangkan saja. Kau akhirnya mengakui perasaanmu setelah kau sembunyikan sekian tahun lamanya, dan sialnya perasaan itu masih berlangsung sampai sekarang. Efeknya sama seperti menulis surat cinta untuk pertama kalinya namun ditolak!

Selain malu, Hyunra juga marah. Kenapa Myungsoo baru menyukainya sekarang?! Kenapa tidak dari dulu-dulu? Sialan. Hyunra sudah bersakit-sakit dan memendam-mendam sampai pepat perasaannya itu, dan sekarang solusinya adalah Myungsoo yang menembaknya. Hell, Hyunra juga bingung dengan dirinya sendiri.

Dan alasan terakhir, Hyunra juga tak tahu kenapa dia menangis.

Tok tok

“Hyunra-ya, sudah baikan? Ada Naeun, langsung ke kamarmu ya,” suara lirih ibunya terdengar dari pintu dan Hyunra hanya bereaksi dengan menggumam. Otaknya masih belum menangkap kata-kata itu namun pintu kamarnya sudah terjebak terbuka.

“Hei,” suara Naeun terdengar dan Hyunra mengangkat kepalanya.

“Hei, ada apa?” tanya Hyunra dengan suara serak. Naeun nampak ingin mengatakan sesuatu, namun ia hanya diam saja. ia menarik kursi yang ada di dekat meja belajar Hyunra lalu mendudukinya. “Jadi, kau bawa buku pelajaran untuk aku salin?”

“Sebenarnya aku datang untuk mengecek saja. Kupikir kau malas masuk sekolah karena kejadian di kafe—“ Naeun menggantung nada berbicaranya, takut Hyunra nangis lagi. Oke, dia ada di sana dan dialah yang merancang susunan acaranya, atas permintaan Myungsoo. “—tapi ternyata kau memang sakit.”

Hyunra memeluk gulingnya tanpa berkata. “Jadi memang kau ikut merencanakannya, ya?” tanya Hyunra pelan. “Dan kau dengar semua, kan?”

Naeun memeluk tas ranselnya sambil menautkan jari-jarinya. “…ya,” dan Naeun makin merasa bersalah. Setelah mendengar pengakuan Hyurna kemarin, Naeun merasa bersalah. Ia yang memaksa, bahkan meng-sinis-i Hyunra untuk menyatakan perasaannya. Seandainya saja ia tahu kalau situasinya rumit.

Karena jika ia menjadi Hyunra ia juga tak akan mengatakan apa-apa.

“Sudahlah, lupakan saja. Aku mau pinjam catatan hari ini dong,” kilah Hyunra berusaha mencairkan suasana.

Naeun menghembuskan napas lalu membuka tas ranselnya, dan mengeluarkan buku-buku catatannya. “Oke, nona manis,” jawabnya sambil meletakkannya di atas meja belajar Hyunra. “Tadi Myungsoo menanyakan tentangmu,”

Hyunra yang sedang beranjak bangun dari ranjangnya terdiam kaget. “Apa?”

“Dia nampaknya khawatir kau membencinya,” lanjut Naeun lagi. “Dia nampak ingin menyampaikan sesuatu, tapi kau pergi duluan kemarin,”

Hyunra terdiam. Naeun memang hebat. Ia tak bisa marah pada gadis itu tapi entah kenapa selalu saja membuatnya kesal akan sesuatu. “Aku tidak ingin membahasnya lagi,”

Naeun terdiam mendengar kalimat tegas dari Hyunra. Ia tahu ia tak memiliki hak untuk ikut campur, tapi… “Aku tahu kau pasti… marah padanya. Tapi bisakah kalian berteman? Setidaknya, meskipun kau sudah tidak menyukainya, kalian berteman? Hal yang terjadi sekarang tidak ada hubungannya dengan masa lalu,”

“Masalahnya, Naeun-ah. Aku masih sangat menyukainya dan sepertinya aku setiap malam bisa menangis karenanya,” balas Hyunra, matanya berkaca-kaca lagi. Oh dear. Ternyata dia masih memiliki air mata untuk dikeluarkan. “Astaga, aku tak pernah menangis seperti ini,”

“Hey, kau tidak salah kalau kau menyukainya kok. Biarkan saja kalau kau memang menyukainya, maju saja. Harusnya kau tidak takut sakit kalau kau pernah mengalaminya, setidaknya kau bisa mengatasinya, kan?” ujar Naeun sambil tersenyum kecil. Hyunra menarik napas, lalu menyambar kotak tisu di dekatnya dan membuang ingusnya.

“Masalahnya aku tak terbiasa dengan seseorang yang menyukaiku. Aku terbiasa one sided love dan rasanya aneh jika perasaanku terbalas,” balas Hyunra enteng sambil memainkan ponselnya, membiarkan Naeun yang melongo. “Lagipula, aku tidak mau patah hati lagi. Myungsoo itu player, jadi aku tidak mau jadi korban selanjutnya,”

“Besok kau masuk sekolah?” akhirnya Naeun bertanya.

“Aku ingin sekali tidak masuk tapi umma pasti mencak-mencak kalau aku keenakan ijin sakit,”

__

Dan benar saja. Keesokan harinya Hyunra masuk sekolah dan beruntunglah matanya sudah kempes, jadi ia tak tampak seperti orang yang kebanyakan menangis. Oh, dia belum cerita pada Naeun kenapa dia bisa mendapatkan mata sebesar bola tenis. Tapi sepertinya tidak usah deh. Hyunra memasuki kelasnya dengan gugup, sebisa mungkin tidak menjatuhkan pandangan ke bangku belakang.

Oke. Dia akan berusaha tidak mengenal Myungsoo.

Well, well, kenapa aku merasa kedinginan di musim panas seperti ini?” tiba-tiba Howoon duduk di depan Hyunra, merapatkan jaket sekolahnya lalu menatap Hyunra yang nampak tak peduli. “Hey, kau sudah sembuh?”

Hyunra mengangkat kepalanya lalu berdeham pelan. Sialan. Sejak kapan flu berubah menjadi batuk. “Seperti yang kau lihat sendiri, ekhem,” jawanya lalu kembali berdeham. Astaga, tenggorokannya gatal sekali.

“Apa yang terjadi antara kau dengan Myungsoo? Dingin sekali, brr…” Howoon mencondongkan tubuhnya mendekat menatap Hyunra yang memutar kedua bola matanya. “Ada apa sih?”

Hyunra menghembuskan napas kencang lalu menatap Howoon malas. “Jadi, kemarin aku berbicara dengannya membahas masa lalu,” Hyunra memulai ceritanya sembari mengeluarkan buku-buku pelajarannya dan memasukkannya dalam laci. “Dan setelah itu tak ada hal yang perlu dijelaskan lagi karena sudah selesai. Hei, masalah kami selesai akhirnya,” Hyunra mendorong bukunya masuk, tapi ternyata ada sesuatu yang mengganjal karena buku-buku itu tidak sepenuhnya masuk.

“Kemarin Myungsoo panik begitu tahu kau sakit,” gumam Howoon pelan, “Dia kira kau tak ingin bertemu dengannya. Tapi melihat wajahmu yang masih lemas begini, aku percaya kau benar-benar sakit,” putus Howoon pada akhirnya. Hyunra tidak menanggapi, ia malah mengeluarkan semua bukunya lalu meronggoh ke dalam laci mencari sesuatu yang salah.

Dan di sanalah mereka.

Hyunra menggenggam sesuatu lalu menariknya keluar. Hatinya mencelos ketika mendapati sepucuk surat dan setangkai bunga mawar putih yang mulai layu di sana. Hyunra memang bukan penikmat bunga—apalagi sampai punya kebun bunga pribadi bla bla bla—tapi dia tahu artinya bila seseorang memberikan setangkai mawar putih. Hyunra hanya bisa tersenyum miris. Ternyata Myungsoo tahu juga arti-arti bunga. Mawar putih, bisa jadi Myungsoo berusaha meminta maaf padanya.

Well, aku tinggal dulu ya,” ujar Howoon begitu melihat Hyunra yang sedang menggenggam surat itu ditangannya. Ia tersenyum kecil sebelum benar-benar meninggalkan Hyunra yang masih terbengong-bengong.

Pikirannya mengatakan abadikan momen ini! Heloooo~ Park Hyunra ini pertama kali kau mendapat bunga dari seorang cowok!

Tapi hatinya berkata apa kau yakin dia memberimu itu dengan tulus? Bisa jadi ia hanya sembarang memilih bunga. Dia kan memang expert soal cewek, dia pasti tahu dong gimana caranya meluluhkan hati perempuan!

Hyunra mendengus sendiri dan berusaha melepas pikirannya yang nyeleneh itu dan membuka suratnya.

Hyunra-ya…

Aku tahu maaf tidak mungkin cukup untukmu, tapi tolong dengarkan aku dulu.

Biarkan aku menjelaskan semuanya hari ini, pulang sekolah di atap gedung.

Tolong, ini caraku agar kita tidak berlarut-larut dalam masalah ini. Aku akan menunggumu sampai kau datang.

Myungsoo.

P.S: kalau kau tidak datang hari ini, aku akan menunggu esok harinya, lalu keesokannya lagi sampai kau datang. Please, tapi kita benar-benar harus bicara.

Dengan kasar Hyunra menutup kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam laci. Kali ini di tambah buku-buku pelajaran dan ia biarkan saja bila tidak masuk semua. Ia langsung menelungkupkan diri di atas meja dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

Kenapa?

Karena sepertinya dia ingin menangis lagi. Sialan yang bernama Kim Myungsoo itu. Kenapa sepertinya cowok itu menerornya terus sih? Tapi astaga, kenapa Hyunra merasa suka?

__

Kringggg

“Hyunra-ya, pulang bersama?” tanya Naeun tiba-tiba ketika Hyunra baru sadar kalau sudah jam pulang. Hyunra terdiam sejenak, lalu menggigit bibirnya.

“Aku ada urusan Naeun-ah,” jawab Hyunra pelan. “Kau duluan saja,”

Hufttt

Jadi sekarang ceritanya Hyunra jadi gugup. Setelah dua hari tanpa interaksi antara dia dengan Myungsoo, sekarang dia jadi gugup kalau ada di dekat cowok itu. Dan sekarang dia juga sedang menimbang-nimbang, haruskah dia menuruti surat Myungsoo itu? Atau dia abaikan saja dan pulang? Toh Myungsoo juga pasti tahu kalau dia tidak akan datang. Kan mereka sekelas. Hyunra masih duduk terdiam meskipun seluruh isi mejanya sudah masuk ke tasnya, duduk terdiam sambil mengamati Myungsoo yang berjalan pergi keluar kelas dengan tenang.

Tampaknya dia tidak akan ke atap gedung. Hyunra menghembuskan napas berat lagi ketika kelas mulai sepi. Setelah memantapkan hati, akhirnya ia memilih untuk menyeret tasnya keluar kelas. Kali ini dia tidak keluar koridor, tapi berbelok dan menaiki tangga menuju atap gedung.

Hyunra mengacak rambutnya frustasi sambil menaiki tangga. Ia akhirnya menghembuskan napas keras lalu mempercepat laju langkahnya menaiki tangga. Tangannya terhenti di gagang pintu, terdiam sejenak ketika mendengar suara orang yang sepertinya sedang berdebat dari luar. Hyunra mendekatkan telinga ke pintu, siapa tahu dia mengenal suara-suara itu.

“Tidak, aku tidak bisa. Kita tidak bisa kembali,” kedua mata Hyunra melebar. Itu kan Myungsoo!

“Kenapa? Jadi kau sudah punya cewek baru? Hah? Karena itu?” sekarang kening Hyunra berkerut. Siapa cewek ini?

“…aku masih menyukai Hyunra,”

“Kau memang brengsek, Kim Myungsoo,”

“Aku terkadang memang begitu,”

“Kau selalu begitu! Aku pikir—aku pikir kau sudah melupakan cewek itu makanya kau menerimaku! Aku tak menyangka kau menyamakanku dengan Jiyeon sunbae. Jadi karena cewekmu itu ternyata juga menyukaimu, jadi kau memutuskanku?!” tangan Hyunra terangkat untuk menutup mulutnya, matanya tambah melebar mendengar kata-kata cewek itu. Mereka membicarakan siapa?!

“Aku sudah pernah bilang padamu tentang Hyunra. Aku juga sudah pernah bilang hubungan kita tidak berarti apa-apa—“

“Ya, ya,” potong cewek itu, “Aku yang terlalu terbawa perasaan. Aku sudah menyukaimu sejak dulu, oppa! Meskipun bagimu hubungan ini tidak berarti apa-apa, aku sangat senang saat kau menerimaku. Aku sudah bertekad membuatmu menyukaiku bagaimanapun caranya!”

“Jeongmal mianhaeyo, mianhae Seyoung-ah…” Hyunra menegakkan tubuhnya. Oh jadi itu Kwon Seyoung.

“Aku tidak bisa menyalahkanmu, oppa—“ oke, ini topik yang sangat sensitif sekali, “Aku terima kau sakiti seperti ini. Tapi tolong, membuat Hyunra cemburu bukan begini caranya. Itu sama saja kau tidak menghargai perasaan orang yang kau sayangi dan menyayangimu. Aku—aku lepas kau pergi,” suara gadis itu mulai gemetar dan Hyunra tebak seratus persen pasti gadis itu telah menangis.

Hyunra menegakkan tubuhnya. Anggap saja dia tidak tahu. Dia bisa menyela mereka…

Brak

Hyunra hanya bisa mematung ketika dua orang itu terdiam dan menoleh kepadanya. Ia tergagap, hendak ingin menyela ketika Seyoung buru-buru berkata.

“Aku pergi,”

Dan gadis itu pun sudah hilang menuruni tangga. Hyunra menatap punggung Seyoung yang sudah tak terlihat, namun akhirnya sadar kalau sekarang dia sedang berdua dengan Myungsoo. “Jadi…”

“Aku dan Seyoung tidak ada hubungan apa-apa,”ujar Myungsoo lugas dan membuat Hyunra menoleh menatapnya.

“Aku dengar apa yang kalian bicarakan dari tadi. Aku hanya masuk terlambat,” dan Hyunra terdiam lagi. “Kau memang brengsek,”

“Tolonglah, jangan buat semuanya jadi semakin sulit,” desah Myungsoo, suaranya terdengar lelah.

“Kau duluan yang membuatnya jadi semakin sulit!” semprot Hyunra dengan suara yang hampir hilang. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

Myungsoo menutup matanya, lalu menghembuskan napas. “Aku menyukaimu sejak dulu, Hyunra-ya. Aku memang bodoh mengencani mereka hanya untuk membuatmu cemburu. Bisakah kau sedikit mengerti?”

Jujur saja, kedua tangan Hyunra lemas mendengar kata-kata Myungsoo. Jantungnya berpacu, dan dia bisa tersenyum lebar mendengar kata itu. Tapi situasi ini tidak mendukung, dia tidak bisa tersenyum. Hyunra hanya menunduk dan memaksakan suaranya untuk keluar. “Apa kau pernah menyukai Krystal?”

Dan sekarang ia melihat ujung sepatu Myungsoo mendekati miliknya. “Aku tidak pernah menyukai Krystal,” ungkap Myungsoo nyaris seperti bisikan. “Aku menerimanya karena ia yang meminta. Dan karena aku bisa lebih… dekat untuk melihatmu,”

Hyunra tersentak dan mengangkat kepalanya mendengar pernyataan Myungsoo. Dan ia kembali kaget ketika mendapati wajah Myungsoo yang dekat sekali dengan wajahnya. Tapi sedetik kemudian mata Hyunra berkilat marah dan mendorong tubuh Myungsoo menjauh. “Kau jahat, brengsek. Aku sudah mengorbankan perasaanmu agar melihatmu bahagia. Kau memutuskan Krystal. Kau mematahkan hatinya sama saja dengan mematahkan hatiku! Kenapa kau bisa tidak memikirkan perasaan orang lain, hah?! Kau ke laut—“

Tapi sayangnjya lengan lelaki lebih kuat daripada perempuan. Myungsoo menangkap kedua tangan Hyunra dan menarik gadis itu hingga membentur tubuhnya sendiri, menahan tubuhnya yang meronta dengan kedekatan mereka sekarang. “Aku minta maaf, Hyunra-ya. Aku minta maaf,” bisiknya terus-terusan saat Hyunra terus-terusan meronta dan berusaha menjerit melepaskan diri. Merasa pertahanannya mulai goyah, kedua mata Hyunra mulai berair.

Tanpa sadar Hyunra benar-benar sudah menangis di hadapan Myungsoo, benar-benar menangis terisak. “Aku memang jahat, maafkan aku,”

“Kau bodoh, tolol, idiot! Brengsek muka dua! Pergi ke laut sana!” maki Hyunra terus-terusan yang malah membuat Myungsoo melingkarkan lengannya di pinggang Hyunra, lalu meraup bibir perempuan yang sedang mengoceh itu dengan bibirnya.

Hyunra membeku bersama dengan tangisannya, ia ingin menarik diri dari keterkejutannya namun lengan Myungsoo menariknya semakin mendekat. Bibir lembut itu bergerak di atas bibirnya, mengirim sensasi menggelenyar ke tubuhnya dan syaraf-syarafnya. Kedua tangan Hyunra yang terkepal kaku di dada Myungsoo perlahan bergerak mengelus kemeja seragamnya, seiring dengan bibirnya yang pasrah dengan ciuman Myungsoo yang bertubi padanya.

Ciuman itu berakhir ketika keduanya sudah kehabisan napas. Myungsoo melepas bibirnya sambil menatap tajam Hyunra yang menunduk malu, tak berani menatap Myungsoo. “Maafkan aku. Aku takut jika aku mendekatimu, lalu menyatakan cinta padamu, kau akan menolakku. Atau mengusirku. Aku takut kau mendorongku menjauh seperti para lelaki yang pernah menyatakan perasaan padamu,” ujarnya dengan suara rendah, yang entah kenapa membuat Hyunra bergetar dalam pelukannya. Dan Hyunra tetap menunduk. “Tapi kurasa aku tak perlu mengkhawatirkan hal itu sekarang,” ujar Myungsoo tiba-tiba dengan nada riang, membuat Hyunra mendongak memelototinya tak percaya.

“Kau benar-benar…” desisnya, lalu meronta berusaha melepaskan diri dari Myungsoo.

“Kau pikir setelah aku menciummu aku akan melepasmu begitu saja? Percayalah Park Hyunra, ketika aku sudah memilikimu, maka tak ada lagi sandiwara. Kau akan menjadi pacarku satu-satunya,” ujarnya pede sambil menahan Hyunra padanya.

“Dasar kau egois, arogan, brengsek..”

“Ya, ya, dan hanya si egois-arogan-brengsek ini yang kau sukai, ya kan?!”

For God’s sake, Myungsoo! Get lost!

And it won’t happen. Never.

Dan itulah… setidaknya mereka mau saling bicara. Apa jadinya kalau mereka masih saling gengsi satu sama lain?!

END

A/N : JANGAN INJEK GUE YA PLIS. INI EMANG GAGAL TOTAL MAAF SODARA-SODARA. KAN CERITANYA ANE MASIH AMATIRAN WAHAHAHAHAHAAH
Main castnya Myungsoo dan kubuat dia mesum kayak Minho. AHAHAHHAHA kan mereka emang bawaan lahir sih muka mesum mesum kiyut gituh AHAHAHAHA. Semoga layak baca dan para pembaca bisa membacanya ya. Maaf kalau sedikit bobrok(emang bobrok).
Makasihhh buat yang udah baca. Maaf kalo ada kesalahan.. typo, kata yang nggak sopan (kan udah dibilang Parental Guidance jadi baca bareng ortu aja ya #jeder #mulaigila) Maafkan kalau alurnya gajelas dan ceritanya pun gajelas-_- yah kalian tahu lah seperti apa wujud karya-karya reenepott itu. Bai bai!!

5 thoughts on “[TWOSHOTS] The Words that Haven’t Spoken Yet [2.2]

  1. hi there!

    ya ampun ala cinta anak sekolah ya mereka *yaiya emang settingnya juga sekolah wkwkwk*

    dan endingnya Myungsoo keliatan ala cowok badboy gitu ya wkwkkw “setelah menciummu kau pikir aku akan melepasmu?” eyaaaakkk kok akunya yg melting padahal Hyunra malah marah-marah wkwkwk

    Hyunranya juga keras kepala sih… padahal pas abis jadi temen sekelompok kan udah mencair gitu.
    terus terus mereka pacaran? wkwkkw endingnya digantung! good job banget ngegantungnya begitu hihihihi

    see ya~

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s