(Chapter 7) G.R.8.U

img1470184144548

img1470184144548

Chunniest Present

^

G.R. 8. U

(Chapter 7)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice) – Park Chanyeol (EXO)

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Previous :

PrologChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5 – Chapter 6

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Manik mata berwarna coklat tua itu menatap tak percaya seorang gadis yang tenggelam dalam selimut berwarna nila itu. Wajah yang selalu melekat diingatannya tampak terlelap.  Wajah yang sama dengan wajah gadis yang beberapa hari ini menemaninya.

“Be-benarkah dia Jikyung? Apa kau yakin ahjushi?” Tanya Taekwoon terbata.

“Awalnya kami juga tidak percaya.  Tapi dia memiliki kalung dengan tulisan nama Jikyung, hadiahku saat ulang tahunnya.” Jawab Donghae ikut menatap putrinya.

“Berarti Jiyeon bukanlah Jikyung? Tapi bagaimana bisa mereka memiliki wajah yang sama?”

Donghae memberi isyarat pada Taekwoon untuk mengikutinya. Mereka memasuki sebuah ruangan yang tak lain adalah ruang kerja Donghae. Lelaki bermarga Lee itu mengambil selembar foto dari dalam laci lalu menyerahkan pada Taekwoon.

Taekwoon melihat dalam foto itu Seohyun yang terlihat lebih muda tengah menggendong dua bayi di lengan kanan dan kirinya. Lelaki itu kembali menatap Donghae.

“Jadi Jikyung adalah anak kembar?”

Donghae mengangguk. “Ne. Sebenarnya Jikyung memiliki adik bernama Jihyun. Namun sayang setelah mengambil foto itu seseorang menculik Jihyun. Aku sudah berusaha mencarinya tapi aku tak bisa menemukannya. Satu minggu kemudian penculik itu ditemukan tewas dibunuh dan kami tak dapat menemukan Jihyun.”

Taekwoon tak lagi mendengar penjelasan Donghae, pikirannya melayang ke arah Jiyeon. Jika Jiyeon bukanlah Jikyung, bagaimana bisa dia memiliki memori tentang Jikyung dan dirinya.

“Taekwoon-ah, kau tidak apa-apa?” Tanya Donghae menyadarkan Taekwoon.

Ne. Aku hanya terkejut saja mengetahui Jikyung memiliki saudara kembar. Bolehkah aku menunggu hingga Jikyung terbangun?”

“Tentu saja,  Jikyung pasti sangat senang melihatmu saat terbangun.”

Taekwoon meletakkan foto itu di meja sebelum berjalan kembali ke kamar Jikyung. Dalam kamar yang didominasi warna ungu muda terlihat Jikyung masih dalam posisi yang sama. Taekwoon mengambil kursi dan menaruhnya di sisi ranjang. Dia duduk dan mengamati wajah Jikyung yang terlihat lelah.

Tangan lelaki itu terulur menggenggam tangan Jikyung lalu meremasnya lembut. Pikiran lelaki itu beralih pada Jiyeon. Entah apa yang akan Jiyeon pikirkan jika tahu dia bukan Jikyung padahal Taekwoon sudah berusaha meyakinkan gadis itu. Jika memang benar Jiyeon adalah saudara kembar Jikyung, Taekwoon jadi penasaran dengan masa lalu gadis itu. Lelaki itu melupakan Jiyeon sejenak dan memilih memikirkan gadis di hadapannya.

 

G.R.8.U

 

Pintu sebuah rumah sederhana terbuka dan tampak seorang pemuda bertubuh tinggi berjalan masuk dengan wajah yang lesu. Setelah menempuh perjalanan panjang membuat lelaki bernama lengkap Park Chanyeol itu sangat lelah.

“Bagaimana Chanyeol-ah? Apakah Jikyung sudah kembali ke keluarganya?” Sebuah suara dari arah dapur mengalihkan perhatian Chanyeol.

Ne eomma. Keluarganya sangat senang dengan kembalinya Jikyung.” Tersirat nada sedih dari suara Chanyeol.

Lelaki itu berjalan ke dapur dan melihat ibunya tengah memotong sayuran. Wanita paruh baya itu mendongak dan melihat wajah putranya tampak tidak senang.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Apa maksud eomma?” Bingung Chanyeol.

“Kau sepertinya tidak senang dengan kepergian  Jikyung.”

Aniyo eomma. Tentu saja aku senang,  tidak akan ada lagi yang menggangguku.”

“Benarkah?  Tapi wajahmu tidak mengatakan hal yang sama.” Goda nyonya Park.

“Hanya perasaanmu saja eomma. Aku lelah mau tidur dulu.” Chanyeol berbalik sebelum ibunya kembali menggodanya.

“Kau bisa pertimbangkan tawaran pekerjaan untukmu Chanyeol-ah, dengan begitu kau bisa dekat dengannya.”

Chanyeol hanya melambaikan tangannya tak memperdulikan ucapan ibunya. Dia berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar bercat pintu. Biasanya telinga lelaki itu akan direcoki dengan suara Jikyung yang selalu memanggilnya. Lelaki itu pun teringat perpisahannya dengan Jikyung tadi.

 

~~~FLASHBACK~~~

 

Chanyeol menatap wajah Jikyung yang cemberut. Mata gadis itu tak lepas dari lelaki itu. Chanyeol tahu apa yang diinginkan gadis itu namun dia sudah menolaknya berkali-kali.

“Hentikan Jikyung-ah. Kau sudah tahu jawabanku tetap tidak.” Ucap Chanyeol membuat Jikyung tidak puas.

“Ayolah Oppa. Satu hari saja. Aku ingin mengenalkanmu pada Taekwoon Oppa.” Rengek Jikyung.

Mianhae Jikyung-ah. Aku tidak bisa. Mungkin lain kali.”

“Padahal aku ingin memperkenalkan Oppa  sebagai dewa penolongku.” Jikyung menunduk sedih.

Chanyeol mendekati Jikyung dan mengacak lembut puncak kepala gadis itu. Jikyung mendongak dan tampak jelas kesedihan di matanya.

“Aku bukanlah dewa Jikyung-ah. Hanya kebetulan aku menemukanmu di pinggir sungai. Aku hanya namja biasa. Lain kali aku pasti akan mengunjungimu lagi.”

Oppa janji?”

Ne… ne… anak manja. Aku janji.” Chanyeol menyatukan jari kelingking dan ibu jarinya dengan Jikyung.

 

~~~FLASHBACK END~~~

 

Chanyeol sudah berada di kamarnya. Tangannya meraih sebuah amplop besar di mejanya. Tampak logo perusahaan Kim di atas amplop itu. Beberapa hari yang lalu dia mendapatkan surat yang mengatakan jika perusahaan Kim menerima dirinya untuk bergabung dengan perusahaan itu.

Surat itu kembali diletakkan di atas meja. Ucapan ibunya terngiang di telinga lelaki itu. Ibunya benar, surat itu adalah jalan satu-satunya agar dia bisa dekat dengan Jikyung. Namun nama ‘Taekwoon’ yang selalu gadis itu sebutkan menghalangi lelaki itu. Meskipun belum pernah bertemu dengannya namun Chanyeol merasa tidak akan bisa bersaing dengan lelaki itu.

Chanyeol merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar berwarna biru muda. Wajah Jikyung selalu terngiang di kepala lelaki itu. Bahkan saat matanya terpejam pun Chanyeol masih bisa melihat Jikyung tersenyum padanya. Lelaki itu menikmati bayangan-bayangan Jikyung hingga tanpa sadar sudah beralih ke dunia mimpi.

 

G.R.8.U

 

Jiyeon berjalan santai  melewati gerbang sekolah. Tampak sekolah sudah ramai seperti biasanya. Bibir gadis itu tersenyum sendiri saat mengingat momentnya bersama Taekwoon semalam.

“Apa kau sedang memikirkan ku sampai membuatmu tersenyum-senyum sendiri?”

Langkah kaki Jiyeon terhenti dan berbalik. Dia mendapati Taehyung mengenakan seragam asal dan tas tersampir di bahu kanannya.

“Bukanah kau sedang di skors? Mengapa kau memakai seragam?”

Taehyung menghampiri Jiyeon dan merangkul bahu gadis itu seraya mengajaknya berjalan bersama.

“Skorsku berakhir lebih cepat dari seharusnya. Apa kau merindukanmu?”

Jiyeon melepaskan tangan Taehyung di bahunya.

“Tidak sama sekali. Aku bahkan berharap skorsmu lebih lama.”

Taehyung kembali merangkul bahu Jiyeon dan tak membiarkan gadis itu melepaskannya.

“Sayang sekali doamu tak terkabul. Aku sudah kembali dan aku tidak akan membiarkan kekasihku ini kesepian.”

Jiyeon mendengus kesal karena harinya yang tenang sudah berakhir. Lagi-lagi dia harus menghadapi lelaki pengganggu di hadapannya ini.

“Jung Taehyung.”

Tampak Hongbin berdiri dengan kedua tangan disilangkan di depan dada. Taehyung mendengus malas karena harus berhadapan dengan Hongbin.

“Wae?” Tanya Taehyung malas.

Hongbin berjalan menghampiri Taehyung dan Jiyeon. Lelaki itu menatap Jiyeon sekilas sebelum tertuju pada Taehyung.

“Kau dilarang masuk ke sekolah karena masih diskors.”

Taehyung tersenyum sinis. “Sayang sekali Hongbin-ssi. Skorsku sudah selesai jika kau tidak percaya kau bisa menanyakannya pada kepala sekolah.”

Hongbin mendengus kesal. Jika Taehyung sudah menyebutkan kepala sekolah itu berarti ucapnya memang benar.

“Jadi ada lagi yang ingin kau bicarakan Hongbin-ssi? Jika tidak ada sebaiknya kau pergi, karena aku sedang sibuk.” Taehyung merangkul bahu Jiyeon seakan memperjelas apa yang hendak lelaki itu lakukan.

“Masih ada. Aku harus berbicara dengan Jiyeon. Jika kau menghalangi aku akan membuatmu diskors lebih lama lagi.”

Taehyung yang tak percaya dengan ancaman Hongbin hanya terbengong melihat Hongbin menarik Jiyeon pergi.

“YA!!! Aku baru saja menikmati kebersamaanku dengannya dan kau sudah merebutnya dariku?” Kesal Taehyung.

Namun Hongbin tak memperdulikanya. Sedangkan Jiyeon hanya menjulurkan lidahnya membuat Taehyung semakin kesal.

tumblr_mccnpwj9jh1qepc6qo1_500

“Dasar pengganggu. Tidak bisakah dia tak menggangguku sehari saja. Aku pasti akan membalasmu Lee Hongbin.” Taehyung tersenyum licik.

Sedangkan di sisi lain Hongbin membawa Jiyeon menjauh dari Taehyung.  Lelaki itu tidak ingin Taehyung kembali mengganggunya saat dirinya sedang berbicara dengan Jiyeon. Tak lama kemudian mereka sudah duduk di salah satu bangku taman.

“Jadi apa yang ingin sunbeinim bicarakan denganku?” Tanya Jiyeon memulai pembicaraan.

Hongbin menoleh dan meneliti wajah, tangan dan kaki Jiyeon. “Apakah Taehyung menyakitimu?”

“Tidak. Mengapa sunbeinim menanyakan hal itu?” Bingung Jiyeon.

“Aku tidak ingin murid baik sepertimu dilukai oleh namja nakal itu. Aku hanya khawatir kau mungkin akan dipukulnya.”

“Jadi sunbeinim hanya khawatir aku dilukai oleh Taehyung?”

tumblr_mlujrreO0y1qjwvgso1_500

Hongbin menampilkan senyuman ramah yang selalu Jiyeon lihat. “Ne. Aku pasti akan melindungimu dan murid yang lain dari namja pembuat ulah itu.”

Ada perasaan kecewa dalam hati Jiyeon saat mengetahui Hongbin mengkhawatirkannya bukan karena lelaki itu menyukai Jiyeon melainkan dia hanya melakukan tugasnya sebagai ketua kedisiplinan.

“Jiyeon-ah kau tidak apa-apa?” Pertanyaan Hongbin menyadarkan Jiyeon dari lamunannya.

“Aku tidak apa-apa sunbeinim. Kau tenang saja Taehyung tidak akan menyakitiku. Dia berkelahi hanya karena ada yang mengganggunya. Apakah ada lagi yang ingin sunbeinim bicarakan? Jika tidak ada aku ingin kembali ke kelas.”

“Tidak ada. Kau bisa kembali ke kelas. Tapi ingat Jiyeon-ah jika dia menyakitimu, hubungi saja aku. Aku pasti akan membuatnya menyesali perbuatannya.”

Jiyeon mengangguk seraya tersenyum tipis sebelum akhirnya berjalan pergi. Meskipun merasa kecewa karena Hongbin tak pernah memiliki perasaan suka padanya namun Jiyeon berniat menutup perasaan sukanya pada Hongbin. Mungkin dia dan Hongbin hanya ditakdirkan sebagai kakak dan adik kelas saja. Lagipula ada seseorang yang perlahan menyingkirkan nama Hongbin dari hatinya.

 

G.R.8.U

 

Mata Taekwoon yang terpejam bergerak dan perlahan terbuka. Lelaki itu terkejut saat melihat seorang gadis tengah duduk di tepi ranjang seraya menatapnya dengan senyuman manisnya.

“Sejak kapan kau terbangun?” Tanya Taekwoon membenarkan posisi duduknya.

Jikyung mengangkat kedua bahunya. “Entahlah mungkin setengah jam yang lalu.”

“Dan kau tidak membangunkanku?”

“Bukankah aku pernah bilang jika aku suka sekali melihat Oppa saat sedang tidur. Karena Oppa terlihat seperti malaikat saat sedang terlelap.”

“Jadi aku tidak terlihat seperti malaikat saat terbangun?” Tanya Taekwoon dengan nada mengancam.

Ani.” Jikyung tersenyum jahil.

Seketika Taekwoon meloncat ke ranjang dan memberi kekasihnya itu hukuman dengan menggelitik pinggang gadis itu. Tawa geli Jikyung pecah memenuhi ruangan itu. Sudah lama sekali suara itu tak terdengar di kamar ini.

“Jadi aku seperti apa saat terbangun?” Taekwoon menghentikan kegiatan menggelitiknya.

Jikyung memegang dagunya berpikir. “Oppa terlihat seperti Singa.”

“Apa kau bilang?” Taewoon kembali menggelitik kekasihnya hingga mata gadis itu bermain.

Suara ketukan menghentikkan candaan sepasang kekasih itu. Taekwoon turun dari ranjang dan berjalan menghampiri pintu. Seorang pelayan berdiri di depan pintu dan mengatakan jika tuan dan nyonya Lee sudah menunggu mereka untuk makan siang. Pelayan itu langsung pergi setelah melaksanakan tugasnya. Taekwoon berbalik dan melihat Jikyung masih duduk di atas ranjangnya.

“Bukankah kau sudah dengar sendiri tuan putri. Jadi sebaiknya kau bangun dan ikut aku turun.” Perintah Taekwoon.

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

“YA!! Jikyung-ah, mengapa kau tidak mau?”

“Gendong aku Oppa. Aku masih terlalu lelah.”

Taekwoon menghela nafas mendengar nada manja yang sudah lama tak didengarnya.

“Ternyata sifat manjamu masih juga belum menghilang.” Gerutu Taekwoon sebelum akhirnya menggendong gadis itu di depan dadanya.

Dengan senyuman senang gadis itu merangkul erat leher Taekwoon. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.

“Aku sangat merindukanmu Oppa.”

Mendengar nada serius Jikyung membuat Taekwoon yakin gadis dalam gendongannya itu adalah kekasihnya. Meskipun manja dan suka bercanda, namun terkadang gadisnya itu bisa sangat serius.

“Aku juga sangat merindukanmu.” Taekwoon mencium puncak kepala Jikyung.

 

G.R.8.U

 

Helaan nafas berat kembali keluar dari bibir Jiyeon. Seharian ini gadis itu harus bersabar menghadapi tingkah Taehyung yang terus mengganggunya. Selesai sudah hari tenangnya tanpa lelaki pengganggu itu.

Beruntung bagi gadis itu saat pulang Taehyung tak mengikutinya. Lelaki itu tak terlihat saat pulang sekolah. Entah apa yang dilakukannya tapi itu adalah keberuntungan bagi Jiyeon.

Langkah Jiyeon terhenti dan matanya melihat ke sekelilingnya. Dia tak melihat Taekwoon di tempat biasa lelaki itu menunggunya.

“Aneh, biasanya dia sudah menungguku. Bukankah dia bilang ingin menunjukkan foto-fotoku?”

Jiyeon mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Taekwoon. Namun tak ada jawaban. Jiyeon mencobanya sekali lagi namun hasilnya tetap sama. Akhirnya gadis itu memutuskan mengirim sebuah pesan.

Di rumah keluarga Lee,  tampak Taekwoon tengah menemani Jikyung di taman belakang rumah. Mereka duduk di ayunan yang menggoyangkan tubuh mereka. Jikyung merangkul bahu Taekwoon dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Deringan ponsel Taekwoon mengganggu kebersamaan mereka. Lelaki itu meraih ponselnya dalam saku dan melihat nama Jiyeon tertera di layar ponselnya.

Oppa tidak mengangkatnya?” Tanya Jikyung menatap kekasihnya.

Taekwoon menggeleng lalu mengaktifkan mode silent. “Tidak.”

“Memang siapa yang menelpon?”

“Hakyeon, dia pasti ingin membicarakan masalah pekerjaan. Aku akan mengurusnya besok.” Bohong Taekwoon.

Jikyung kembali menyandarkan kepalanya di bahu Taekwoon. Matanya memandang langit yang di penuhi bintang-bintang.

“Melihat bintang-bintang itu, aku jadi ingat danau yang sering kita kunjungi. Apa Oppa ingat?”

“Tentu saja aku ingat. Tempat itu adalah tempat terakhir kita bersama. Dan kau mengatakan ‘apapun yang terjadi kau tidak akan melupakanku’.”

“Itu memang benar Oppa. Saat melihat kunang-kunang dan bintang-bintang di langit, aku langsung teringat pada Oppa.”

Taekwoon tersenyum lalu mengecup puncak kepala Jikyung. Meskipun lelaki itu senang berada disisi kekasihnya yang sudah kembali namun pikirannya justru tertuju pada Jiyeon. Entah apa yang harus dikatakan lelaki itu jika dirinya memang salah menyangka Jiyeon adalah kekasihnya yang hilang.

Oppa, appa bilang seminggu lagi appa akan mengumumkan kembalinya diriku. Apa Oppa mau mendampingiku?” Jikyung mendongak dan menatap Taekwoon manja.

“Tentu saja aku akan mendampingimu.”

Gomawo Oppa.” Jikyung memeluk erat perut Taekwoon.

Dari dalam rumah pasangan suami istri Lee tersenyum memperhatikan putri mereka yang terlihat bahagia. Bagi mereka kembalinya Jikyung bagaikan oasis yang menyejukan kehidupan mereka yang sepi.

“Apa Oppa yakin mengenai rencana tentang Jihyun? Akankah Jikyung menerima keputusanmu?” Ragu Seohyun.

Donghae menatap Jikyung yang tengah tersenyum bahagia menatap kekasihnya. Lalu tatapan lelaki itu beralih pads istrinya.

“Aku sangat yakin. Jihyun juga putri bukan? Aku rasa tidak adil jika tidak melakukannya. Kau tenang saja, aku yang akan mengatur semuanya.”

Seohyun tersenyum dan mengangguk percaya pada suaminya. Donghae menarik tengkuk istrinya dan mengecup keningnya.

 

G.R.8.U

 

Tatapan seluruh siswa tertuju pada dua orang yang tengah berjalan berdampingan. Setiap orang yang dilewati mereka pasti langsung berbisik. Taehyung yang menjadi pusat perhatian itu tampak tenang dan tak memperdulikan bisikan-bisikan itu, justru lelaki itu terlihat senang berhasil menarik kekasih paksaannya itu.

Lain halnya dengan Jiyeon yang menampilkan wajah cemberutnya. Meskipun hanya bisikan namun Jiyeon masih bisa mendengar apa yang murid-murid lain katakan. Ada yang kasihan pada Jiyeon karena harus menjadi kekasih sang pembuat onar namun ada juga yang berpikir Jiyeonlah yang sudah menggoda Taehyung sehingga lelaki itu tergila-gila padanya.

Huft…. Hello? Memang siapa yang sudah mengambil paksa suratnya dan seenaknya mengatakan dirinya menjadi kekasih lelaki itu. Kesal Jiyeon dalam hati.

“Ya!!! Lepaskan tanganku. Kau membuat sekolah heboh di pagi hari.” Jiyeon berusaha menarik tangannya namun gagal karena Taehyung menahannya erat.

“Tidak mau. Lagipula aku tidak perduli dengan mereka yang aku perdulikan hanya membawa kekasihku.” Taehyung memasang senyum bodohnya membuat Jiyeon memutar bola matanya malas.

Hari ini Jiyeon tidak mood melawan lelaki yang terus menariknya. Ada sesuatu yang tengah mengganjal di pikiran gadis itu. Genap  satu minggu ini Taekwoon seakan menghilang di telan bumi. Jiyeon berusaha menghubunginya namun tak  ada balasan. Jiyeon juga datang ke apartement lelaki itu namun sepertinya Taekwoon tidak pernah pulang ke sana lagi. Gadis itu tak tahu lagi harus bagaimana mencari tahu keberadaan lelaki yang sudah merebut hatinya itu.

“Ya!! Kau baik-baik saja? Kau sedang memikirkanku ya?” Taehyung mengguncang bahu Jiyeon menyadarkan gadis itu.

Jiyeon mendengus mendengar ucapan Taehyung yang terlalu percaya diri. “Sedikitpun aku tak pernah memikirkanmu.”

Taehyung mencondongkan tubuhnya membuat Jiyeon mundur satu langkah. Mata Taehyung tertuju lurus pada mata Jiyeon. Tersirat kejahilan di manik mata hitam Taehyung.

“Benarkah? Tidak sedikitpun?”

Sebenarnya Jiyeon hanya asal mengucapkan. Terkadang dia memikirkan tentang Taehyung namun Jiyeon tidak ingin lelaki dihadapannya tahu karena jika tidak, bisa-bisa Taehyung tak mampu lagi menyangga kepalanya yang membesar.

N-ne. Tidak sedikitpun.”

“Jika tidak mengapa kau bertanya pada Sanghyuk mengenai aku?”

Mata Jiyeon membulat karena tertangkap basah berbohong. Dalam hati gadis itu merutuki Sanghyuk yang menceritakannya pada Taehyung.

“Sanghyuk pasti berbohong padamu.”

Satu sudut bibir Taehyung terangkat. “Sayang sekali Sanghyuk takut padaku jadi dia tidak mungkin berbohong padaku.”

“A-aku hanya…..”

Jiyeon bisa bernafas lega saat mendengar ponsel Taehyung berdering. Lelaki itu meraih ponselnya dan langsung mengangkat telpon dari Suga.

“Ada apa hyung?” Sapa Taehyung dengan nada malas.

“Apa kau sudah menonton berita?”

Hyung kau tahu sendiri aku tak pernah menonton berita. Memang ada apa?”

“Kau bilang ingin melihat kekasih hyungmu. Saat ini hyungmu dan kekasihnya sedang menjadi berita terhangat hari ini.”

Hyung dan kekasihnya? Siapa?” Penasaran  Taehyung.

“Namanya Lee Jikyung?”

“Aku tak pernah mendengar nama itu?”

“Tentu saja karena gadis itu selama ini menghilang setelah diculik. Namun sekarang gadis itu sudah kembali.”

“YA!! kau mau ke mana?” Seru Taehyung melihat Jiyeon berjalan menjauh.

Gadis itu tidak menjawab maupun menoleh hanya melambaikan tangan.

“Aku tidak kemana-mana.” Jawab Suga polos.

“Bukan kau Hyung. Gara-gara kau dia jadi pergi.”

“Dia? Siapa? Kekasihmu?” Seketika  tawa Suga pecah membuat Taehyung mendengus kesal.

“Kau menyebalkan Hyung.” Taehyung mematikan telponnya dan masih kesal karena Jiyeon pergi meninggalkannya.

Jiyeon memasuki kelasnya dan langsung menjatuhkan pantatnya di kursinya. Dia melepaskan tas yang tersampir di bahunya. Saat hendak membuka tas ranselnya gadis itu merasakan keanehan. Dia menoleh dan benar saja Jiyeon melihat Sooyoung dan Jaehwan menatap dirinya dan ponsel mereka secara bergantian.

“Mengapa kalian menatapku seperti itu eoh?” Tanya Jiyeon.

“Jadi kau benar kekasihnya yang sudah lama hilang?” Tanya Jaehwan kaget.

“Mengapa kau tidak bercerita pada kami terlebih dahulu?” Sahut Sooyoung.

“Bercerita apa? Aku tidak mengerti apa maksud kalian.”

Jaehwan menyerahkan ponselnya dan menyuruh Jiyeon untuk melihatnya. Jiyeon pun mengikuti ucapan Jiyeon dan terkejut melihat video seorang gadis yang mirip sekali denganya. Jiyeon membaca judul video itu ‘Putri keluarga Lee yang hilang telah kembali’. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah lelaki yang berdiri di samping gadis itu seraya memeluk bahunya. Lelaki yang memenuhi pikiran Jiyeon.

Apakah gadis ini Jikyung? Jadi karena hal ini Taekwoon tiba-tiba menghilang dari kehidupanku? Pikir Jiyeon.

“Seharusnya kau cerita pada kami Jiyeon-ah, kan kami bisa mendukungmu.” Ucap Jaehwan.

“Jiyeon-ah apakah namja ini yang kau ceritakan? Tampan sekali.” Sooyoung terpesona pada Taekwoon.

Jiyeon menatap kedua sahabatnya secara bergantian. “Yeoja ini bukan aku.”

“Mana mungkin bukan kamu Jiyeon-ah, jelas-jelas wajahnya sama denganmu.” Tak percaya Jaehwan.

“Jangan coba-coba berbohong Jiyeon-ah. Katakan pada kami.” Sooyoung tak sabar ingin mendengar kebenarannya.

“Aku tidak berbohong. Yeoja ini bukan aku. Lagipula kemarin aku melakukan rutinitasku seperti biasa.”

Jaehwan dan Sooyoung saling bertatap muka lalu bersama-sama melihat ke arah gadis yang menjadi topik pembicaraan. Sepasang kekasih itu membanding-bandingkan Jiyeon dengan gadis yang ada di video. Wajah mereka begitu mirip bahkan gerak bibir mereka saat berbicara sangat mirip. Hanya satu yang membedakan mereka yaitu rambut. Rambut Jiyeon lurus sedangkan rambut gadis yang ada di video bergelombang.

“Benarkah Yeoja ini bukan kau Jiyeon-ah? Selain rambut kalian yang berbeda namun selebihnya kalian sama.” Jaehwan masih belum yakin.

“Aku mengatakan yang sebenarnya. Yeoja itu bukan aku. Aku tidak melakukan konferensi pers kemarin. Jika masih tidak percaya kau bisa tanya Taehyung. Kemarin dia mengikutiku terus seharian.”

Mendengar Jiyeon menyebut nama Taehyung membuat Jaehwan dan Sooyoung percaya. Karena mereka yakin Jiyeon tidak mungkin asal menyebut nama lelaki itu.

“Tapi bagaimana bisa wajah kalian sangat mirip? Apakah kalian anak kembar?” Bingung Sooyoung.

Jiyeon mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Pertanyaan Sooyoung juga memenuhi pikiran gadis itu.

 

G.R.8.U

 

Yoona membawa baki berisi cangkir beserta teko yang berisi teh menuju ruang keluarga. Di ruang keluarga sang suami tengah menunggu sembari membaca koran. Wanita itu meletakkan baki itu diatas meja lalu menuangkan teh di dalam cangkir.

“Mengapa Taekwoon tidak pernah menceritakan tentang kekasihnya?”

Yoona yang hendak menyerahkan cangkir teh pada suaminya terhenti.

“Taekwoon memiliki kekasih?” Kaget Yoona.

Taekwoon menyerahkan koran yang dibacanya pada istrinya. Koran di bagian depan menampilkan foto Taekwoon tengah merangkul bahu seorang gadis. Saat melihat wajah gadis itu dengan seksama semakin membuat Yoona terkejut. Wajah kekasih Taekwoon sama dengan gadis yang disukai Taehyung.

“Telpon Taekwoon suruh dia menemuiku.” Yunho bangkit berdiri dan berjalan pergi.

“Apa Oppa akan menyuruh Taekwoon untuk meninggalkan gadis ini?”

Langkah Yunho terhenti dan berbalik. “Kau akan mengetahuinya nanti.” Ucap Yunho berbalik pergi.

Yoona menghela nafas berat melihat sikap suaminya yang tak bisa ditebak. Jika Taehyung tahu tentang hal ini tidakkah dia semakin membenci Taekwoon? Wanita itu kembali menghela nafas berat.

 

G.R.8.U

 

Jiyeon memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Bel pulang sudah berbunyi beberapa saat yang lalu. Beberapa siswa sudah keluar dari kelas.

OMMO!!” Seruan Jaehwan membuat Jiyeon dan Sooyoung menoleh.

Kedua gadis itu melihat Jaehwan tengah melihat ponselnya. Kegiatan membersihkan meja menjadi terhenti.

“Ada apa Oppa?” Tanya Sooyoung penasaran.

“Taehyung tengah mengamuk,  dia menghajar orang-orang yang dilewatinya.” Jaehwan menunjukkan berita di group sekolah mereka.

Jiyeon dan Sooyoung melihat foto Taehyung yang hendak memukul salah satu siswa. Baru saja selesai diskors karena memukul Namjoon, dan sekarang Taehyung berbuat ulah lagi. Tapi mengapa dia memukul membabi buta seperti ini? Pasti ada alasan mengapa Taehyung mengamuk. Pikir Jiyeon.

Seketika Jiyeon berdiri dan berlari keluar membuat Jaehwan dan Sooyoung terheran-heran. Jiyeon berlari menuju kelas Taehyung. Sampai di kelas Taehyung, Jiyeon tak melihat lelaki pembuat onar itu. Hanya kekacauan yang dilihat gadis itu. Tatapan Jiyeon terhenti pada Sanghyuk yang membantu teman-temannya merapikan kelas.

“Sanghyuk-ssi, apa yang terjadi?” Jiyeon menghampiri lelaki berkacamata itu.

“Tiba-tiba Taehyung mengamuk.”

“Mengamuk? Memang ada masalah apa?”

Sanghyuk mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Setelah melihat video di ponselnya tiba-tiba dia langsung membanting ponselnya dan mengamuk.”

“Video apa?” Tanya Jiyeon kembali.

“Aku tidak tahu.” Sanghyuk menggelengkan kepalanya.

Ada apa dengan namja itu? Apa yang membuatnya mengamuk? Apa dia baik-baik saja?  Cemas Jiyeon.

“Dimana dia sekarang?”

“Dia langsung pergi setelah membuat kekacauan ini.”

Jiyeon pergi setelah mendapat informasi dari Sanghyuk. Saat berjalan menuju gerbang sekolah ponsel Jiyeon berdering dan gadis itu langsung mengangkat telepon dari ayahnya.

“Jiyeon-ah, hari ini kau tak perlu bekerja di tempat ahjushimu. Ada yang ingin Abeoji bicarakan denganmu, jadi pulanglah sekarang.” Pinta Daeyeon.

“Ada apa Abeoji? Suara Abeoji terdengar berat, apakah ada masalah?”

“Nanti Abeoji akan menjelaskannya jadi pulanglah.”

Ne Abeoji.”

Jiyeon memasukkan ponselnya kembali ke saku lalu segera pulang. Gadis itu penasaran apa yang ingin ayahnya bicarakan.

 

G.R.8.U

 

Jin menyerahkan sebuah amplop coklat pada Ravi. Lelaki yang mengenakan kemeja putih itu membuka amplop itu.

“Aku sudah menyelidiki sesuai yang anda perintahkan.” Ucap Jin dengan wajah seriusnya.

“Baguslah. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi.”

Jin membungkuk sebelum akhirnya berlalu pergi. Ravi mengeluarkan beberapa lembar kertas yang ada di dalam amplop. Kertas-kertas itu berisi artikel yang membahas kecelakaan beruntun yang terjadi 8  tahun yang lalu. Dalam kecelakaan yang diakibatkan kelalaian pengemudi truk itu menewaskan 10 orang termasuk ayah Dahyun. Dahyun yang saat itu berumur 9 tahun adalah satu-satunya korban selamat.

“Jadi hal inilah yang membuat yeoja itu trauma? Pantas saja dia begitu ketakutan saat mendengar suara sirine ambulans. Aku yakin saat itu pasti banyak sekali ambulans. Karena jika dia mendengar sirine ambulans mengingatkan yeoja pada kecelakaan yang menewaskan abeojinya.”

Ravi mengambil lembar paling atas dan menaruhnya di bagian belakang. Kertas kedua menampilkan foto Dahyun kecil bersama ayahnya. Wajah Dahyun mirip sekali dengan ayahnya. Ravi membuka lagi kertas ketiga. Kertas ketiga bukan sebuah artikel melainkan selembar surat. Surat itu ditulis oleh ayah Dahyun, Kwon Jiyoung . Ravi menegakkan tubuhnya dan membaca surat itu dengan seksama.

Butuh waktu 10 menit bagi Ravi untuk mencerna surat itu. Ternyata ayahnya Dahyun menuliskan surat itu untuk ayahnya 1 minggu sebelum kecelakaan itu terjadi. Dalam surat itu ayah Dahyun meminta maaf pada ayahnya karena sudah merebut kekasihnya, Yuri. Untuk menebus kesalahannya ayah Dahyun ingin ayahnya bersatu kembali dengan Yuri. Ayah Dahyun sepertinya memiliki firasat jika akan dipanggil oleh Tuhan sehingga dia menulis surat itu untuk ayahnya.

“Jadi yeoja itu memang benar-benar mencintai Abeoji? Dia tidak bermaksud merebut perusahaan ini.” Gumam Ravi.

Lelaki itu meraih gagang telpon dan menyuruh Jin untuk masuk ke ruangannya. Tak lama kemudian Jin kembali masuk menghadap Ravi.

“Darimana kau dapat surat ini?” Ravi menunjuk surat di tangannya.

“Saya menemukannya saat membersihkan apartement tuan besar Kim yang berada di kawasan Gangnam beberapa hari yang lalu. Karena sajangnim menyuruh saya mencari tahu mengenai kecelakaan yang menimpa nona Dahyun jadi saya pikir anda perlu tahu hal ini.”

“Apakah ada surat atau benda lain yang ada di apartemen itu?”

“Tidak ada lagi sajangnim sisanya hanyalah perabotan biasa.”

Ravi mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Jin.

“Apakah ada yang lain sajangnim? Jika tidak ada, kebetulan seseorang yang anda rekrut datang. Apakah sajangnim ingin menemuinya?”

“Tentu saja aku ingin menemuinya. Aku sudah menunggunya.”

Jin membungkuk sekilas sebelum akhirnya keluar. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka dan Chanyeol terlihat berdiri mengenakan setelan hitam biasa.

“Masuklah Chanyeol-ssi.” Ravi berdiri menyambut Chanyeol.

Chanyeol masuk lalu duduk di hadapan Ravi setelah Direktur itu menyuruhnya.

“Senang melihat kedatangan anda. Woohyun mengatakan kau sangat jenius dalam berbisnis. Karena itu dia merekomendasikan kau padaku.”  Puji Ravi.

“Saya rasa Woohyun terlalu berlebihan. Masih banyak mahasiswa lain yang jenius.”

“Kau terlalu merendah. Aku sudah melihat nilaimu yang hampir sempurna. Jadi kedatanganmu membawa berita baik atau buruk?”

“Aku rasa kedatanganku kemari membawa berita baik bagi anda sajangnim.”

Ravi tersenyum senang. “Jadi maksudmu kau akan bekerja disini?”

Ne. Sebuah kehormatan bisa bekerja di perusahaan anda Kim Sajangnim.”

Ravi berdiri dan mengulurkan tangannya. “Selamat bergabung di perusahaan ini.”

Chanyeol berdiri dan menyambut uluran tangan Ravi.

 

G.R.8.U

 

Jikyung mengambil udang goreng lalu memberikannya pada Taekwoon. Mulut lelaki itu bergerak mengunyah udang itu. Jikyung menatap kekasihnya menunggu reaksi lelaki itu. Wajah Taekwoon berkerut membuat Jikyung cemas.

“Apa tidak enak Oppa?” Tanya Jikyung.

Taekwoon menelannya lalu menatap kekasihnya. “Sangat enak. Aku tidak yakin kau memasaknya sendiri.”

Jikyung memukul lengan Taekwoon dan memasang wajah cemberut. “Oppa jahat sekali tidak percaya padaku.”

Taekwoon tertawa melihat kekasihnya kesal. Dia mencubit pipi Jikyung gemas. “Mianhae Oppa hanya bercanda. Darimana kau belajar memasak ini? Apakah Shim ahjushi yang mengajarinya?” Dulu Jikyung selalu meminta koki di rumahnya untuk mengajari memasak.

Aniyo. Saat aku menghilang, keluarga Park berbaik hati menampungku dan merawatku. Park ahjuma sangat jago memasak. Dialah yang mengajariku memasak.”

Tangan Taekwoon terulur mengelus rambut kekasihnya. “Kau semakin pandai memasak. Aku yakin sebentar lagi aku akan gemuk karena makan terus.”

Jikyung tertawa membayangkan kekasihnya menjadi gemuk. “Siap-siap saja diet jika Oppa menjadi gemuk.”

Deringan telpon menghentikan candaan sepasang kekasih itu. Taekwoon mengambil ponselnya di meja dan mengangkat panggilan dari ibunya.

“Taekwoon-ah apa kau sedang sibuk?”

“Tidak eomma, ada apa?”

Abeoji ingin bicara denganmu. Ini mengenai kekasihmu.”

Wajah Taekwoon berubah serius mendengar ayahnya ingin bicara mengenai Jikyung. Ada firasat buruk menghampiri pikiran Taekwoon.

“Sebentar lagi aku akan pulang eomma.”

“Mengapa kau tidak cerita pada eomma jika kau memiliki kekasih?” Tanya Yoona.

Mianhae eomma. Nanti aku pasti akan cerita pada eomma.”

“Ada apa?” Tanya Jikyung setelah Taekwoon menyelesaikan telponnya.

Abeoji ingin berbicara denganku.” Jiyeon mengambil jasnya lalu mengenakannya.

Jikyung memajukan bibirnya kesal. “Baru 10 menit aku di sini dan Oppa sudah mau pergi.”

Mianhae aku tidak bisa menolak permintaan Abeoji. Aku janji nanti malam aku akan datang menemuimu.”

Oppa janji?”

Taekwoon tersenyum dan kembali mengelus rambut Jikyung. “Ne. Aku janji.”

“Baiklah kalau begitu. Aku akan pulang dulu.”

“Aku akan meminta Hakyeon mengantarmu.” Jikyung mengangguk setuju dengan ucapan Taekwoon.

 

G.R.8.U

 

Tangan Jiyeon membuka kenop pintu lalu berjalan masuk. Seruan ‘aku pulang’ diucapkannya sembari melepaskan sepatunya. Dengan rapi gadis itu menata sepatu di tempat nya. Dahi gadis itu berkerut tatkala melihat sepatu hitam bagus tertata rapi di samping sepatunya.

“Apakah ada tamu?” Gumam Jiyeon.

Gadis itu lalu berjalan masuk namun baru beberapa langkah kakinya berhenti saat melihat seorang lelaki berjalan berlawanan arah. Jiyeon mengamati lelaki itu dengan seksama. Wajah lelaki itu tidak asing baginya.

“Kau baru pulang Jiyeon-ah?” Tanya lelaki itu.

Ne. Anda siapa?”

“Kau tidak ingat padaku? Kita pernah bertemu di pesta ulangtahun Bae Irene.”

Jiyeon langsung teringat sepasang suami istri yang mengira dia adalah Jikyung.

“Saya baru ingat. Maafkan saya tuan Lee.”

“Tidak masalah. Aku harus pergi, sampai bertemu lagi.”

Donghae menepuk pelan puncak kepala Jiyeon. Setelah kepergian Donghae, Daeyeon pun keluar dark kamar dengan wajah Yang terlihat sedih.

Abeoji apa yang dilakukan tuan Lee di sini?” Jiyeon menatap ayahnya penasaran.

“Hal itu juga yang ingin Abeoji bicarakan padamu. Kemarilah.”

Jiyeon mengikuti ayahnya masuk ke dalam kamar. Daeyeon menyuruh Jiyeon duduk diatas ranjang. Mata gadis itu mengikuti sang ayah yang mengambil sesuatu dari dalam lemari. Daeyeon kembali menghampiri putrinya dengan membawa amplop berwarna coklat dan kantong plastik.

“Ini saatnya Abeoji harus mengatakan yang sebenarnya. Maafkan Abeoji selama ini berbohong padamu. Apa kau ingat Abeoji pernah berkata kau mengalami kecelakaan yang parah 5 tahun lalu?” Jiyeon mengangguk. “Sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar.”

“Apa maksud Abeoji?”

“5 tahun yang lalu saat pulang bekerja, aku berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Saat melewati gang sempit langkahku terhenti karena melihat seseorang tergeletak tak sadarkan diri.”

“Apakah orang yang dimaksud Abeoji itu adalah aku?”

Daeyeon menganggukan kepalanya. “Saat itu kau dalam kondisi yang mengenaskan. Wajahmu babak belur dan dari puncak kepalamu mengeluarkan darah. Saat itu aku panik dan tak ingin menyerahkanmu pada polisi karena Abeoji takut polisi menuduhku yang menganiayamu. Sebab itu aku membawamu pulang. Ini adalah pakaian yang saat itu kau kenakan.”

Daeyeon mengeluarkan kaos pink yang berlumuran dara bercampur lumpur serta celana jeans dalam kondisi yang sama. Tiba-tiba ingatan seseorang memukul dengan keras di tubuhnya muncul di pikiran Jiyeon. Seketika ketakutan merasukinya.

Eomma yang merawatmu hingga kau sadarkan diri. Namun saat aku bertanya apa yang terjadi padamu, kau tidak ingat apapun. Sehingga aku membuat akta kelahiran palsu agar kau bisa bersekolah.”

“Jadi benar akta kelahiran itu palsu? Dan juga aku bukan putri Abeoji?”

“Apa kau sudah mengetahuinya?”

Jiyeon menganggukkan kepala. “Ne. Seorang namja yang mengatakannya padaku. Lalu apa hubungan hal ini dengan tuan Lee?”

“Tadi tuan Lee datang dan mengatakan jika sebenarnya dia memiliki anak kembar. Namun sayang satu hari setelah lahir salah satu bayi itu di culik. Tuan Lee berusaha mencarinya tapi tidak berhasil menemukannya.”

“Jadi aku adalah putri tuan Lee yang hilang?”

Daeyeon mengangguk dengan perasaan berat. “Karena itu dia ingin meminta kau kembali pada keluarga Lee.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

Daeyeon memegang tangan putrinya dan menatapnya. “Jiyeon-ah, setelah mendengar hal ini apa kau tidak ingin kembali pada keluargamu yang asli? Bertemu dengan Abeoji dan eommamu yang sebenarnya, lalu bertemu dengan kakak kembarmu. Apakah sedikitpun kau tidak ingin bersama mereka?”

Ingin, itulah yang dikatakan hati Jiyeon. Tentu saja gadis itu ingin berkumpul dengan keluarga yang sebenarnya. Tapi terasa berat jika harus meninggalkan keluarga yang selama ini bersamanya.

“Kau tidak perlu mencemaskan abeoji dan juga Jimin. Kau bisa menjenguk kami sesukamu. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu.”

Jiyeon menatap ayahnya sedih dan langsung memeluk lelaki yang sudah merawatnya selama ini. Tatapan Jiyeon tertuju pada pakaian yang dulu dikenakannya. Apa yang terjadi dengan dirinya di masa lalu mengusik pikiran Jiyeon. Mengapa di seluruh tubuhnya ditemukan bekas penganiayaan? Tanya Jiyeon dalam hati.

 

G.R.8.U

 

Ketika memasuki rumah, Taekwoon disambut senyuman oleh ibunya. Meskipun Yoona tersenyum namun lelaki itu masih bisa melihat kekhawatiran di wajah sang ibu.

Abeoji menunggumu di ruang baca.”

Taekwoon mengangguk lalu meninggalkan Yoona. Langkah Taekwoon terhenti mendengar panggilan sang ibu. Yoona menghampiri putra sulungnya. Yoona menangkup kedua pipi Taekwoon dan menatapnya penuh sayang.

“Taekwoon-ah kau tak perlu menuruti keinginan Abeoji. Kau berhak bersanding dengan yeoja yang kau sukai.”

Taekwoon memegang tangan ibunya dan menikmati sent tuhan penuh kasih itu. “Eomma tenang saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

Yoona mengangguk lalu membiarkan putranya itu pergi menemui ayahnya. Ruang baca terletak di lorong paling ujung. Pemikiran ayahnya akan menyuruhnya meninggalkan Jikyung dan menikah dengan gadis pilihan ayahnya membuat Taekwoon cemas. Dia tidak bisa meninggalkan gadis yang disukainya itu. Taekwoon membuka pintu dan bisa melihat ayahnya duduk membaca buku. Mendengar kedatangan putranya, Yunho langsung menoleh.

“Kemarilah, duduklah di sini.”

Taekwoon menurut dan langsung duduk di hadapan ayahnya.

“Aku sudah membaca berita mengenai kau dan putri keluarga Lee yang menghilang.”

Taekwoon mempersiapkan hatinya untuk mendengar penolakan ayahnya. Dia bahkan tanpa sadar meremas tangannya sendiri. Yunho menutup bukunya dan meletakkan di meja.

“Seminggu yang lalu Abeoji mengatakan padamu jika Abeoji ingin menjodohkanmu dan selama seminggu ini Abeoji sudah mencarikan yeoja yang tepat untukmu. Dan akhirnya Abeoji sudah menemukannya.”

Yunho berdiri dan menghampiri meja besar yang berada ditengah ruangan. Dia membuka laci dan mengambil selembar foto. Lelaki itu kembali duduk dihadapan Taekwoon.

“Aku sudah menghubungi keluarganya dan mereka setuju. Ini adalah foto yeoja itu.” Yunho meletakkan foto di atas meja.

 

~~~TBC~~~

Hallo readersdeul yang kurindukan. Akhirnya author kembali. Maafkan author sudah meninggalkan cerita ini terlalu lama. Tapi tenang author sudah aktif kembali kok jadi tak perlu cemas karena penasaran -_^

tumblr_inline_nnz5nqWRsa1t7ms4u_500

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s