(Chapter 8)

img1471064197493

Chunniest Present

^

G.R. 8. U

(Chapter 8)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice)

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Previous :

PrologChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5 – Chapter 6

Chapter 7

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

“Kemarilah, duduklah di sini.”

Taekwoon menurut dan langsung duduk di hadapan ayahnya.

“Aku sudah membaca berita mengenai kau dan putri keluarga Lee yang menghilang.”

Taekwoon mempersiapkan hatinya untuk mendengar penolakan ayahnya. Dia bahkan tanpa sadar meremas tangannya sendiri. Yunho menutup bukunya dan meletakkan di meja. Suaranya yang keras membuat lelaki itu semakin gugup.

“Seminggu yang lalu Abeoji mengatakan padamu jika Abeoji ingin menjodohkanmu dan selama seminggu ini Abeoji sudah mencarikan yeoja yang tepat untukmu. Dan akhirnya Abeoji sudah menemukannya.”

Yunho berdiri dan menghampiri meja besar yang berada ditengah ruangan. Dia membuka laci dan mengambil selembar foto. Lelaki itu kembali duduk dihadapan Taekwoon.

“Aku sudah menghubungi keluarganya dan mereka setuju. Ini adalah foto yeoja itu.” Yunho meletakkan foto di atas meja.

Taekwoon meraih foto itu dan seketika wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut. Dia kembali menatap ayahnya tak percaya.

“Dia….” Ucap Taekwoon menggantung.

“Benar, Abeoji sudah berbicara dengan Lee Donghae. Dan kami setuju untuk menikahkan kau dan putrinya yang hilang itu. Bukankah ini berita yang bagus?”

“Jadi Abeoji tidak marah dengan hubunganku dengan Jikyung?”

“Awalnya abeoji marah membaca berita itu. Tapi Abeoji berpikir, keluarga Lee juga memiliki perusahaan yang bisa menguntungkan perusahaan kita jadi Abeoji setuju dengan hubungan kalian. Besok Donghae mengundang keluarga kita untuk makan malam sekaligus membahas pertunangan kalian. Jadi luangkan waktumu untuk acara besok.”

Ne Abeoji.”

Taekwoon berjalan keluar setelah sang ayah selesai berbicara dengannya. Lelaki itu melihat sang ibu tengah menunggu diluar ruang baca. Wajahnya tampak was-was karena memikirkan putranya. Yoona menghampiri putra sulungnya itu.

“Bagaimana? Apakah abeoji-mu marah? Apakah dia meminta kau berpisah dengan yeoja yang kau sukai?”

Taekwoon menggelenggkan kepala. “Eomma tenang saja, Abeoji tidak marah. Justru Abeoji akan menjodohkanku dengan yeoja yang aku sukai.”

Seketika ekspresi kecewa diwajah cantik Yoona berubah menjadi senyuman. Namun senyuman itu hilang mengingat sifat suaminya. “Benarkah. Apa kau yakin? Sepertinya itu bukan sifat abeoji-mu.”

Selembar foto yang diberikan Yunho dikeluarkan dari saku Taekwoon. Dia menyerahkan foto itu pada ibunya.

Abeoji yang memberikan foto ini padaku. Abeoji juga berkata besok kita akan makan malam di kediaman keluarga Lee untuk membicarakan pernikahan.”

Yoona mengamati foto gadis yang ada di foto itu. Wanita itu semakin yakin gadis yang ada di foto itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang disukai Taehyung.

Yeoja ini….” Gumam Yoona.

“Apa Eomma mengenalnya?”

Aniyo.” Yoona menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu aku pergi dulu Eomma.” Taekwoon memeluk dan mencium pipi ibunya sebelum pergi.

Ne hati-hati.”

Pikiran Yoona saat ini hanya tertuju pada putra bungsunya. Bagaimana jika Taehyung tahu kalau gadis yang disukainya juga disukai kakaknya. Akankah dia semakin membenci kakaknya?

G.R.8.U

Jiyeon menatap rumah yang megah layaknya istana seperti yang dilihatnya di televisi. Tak hanya bangunan rumahnya yang indah saja melainkan taman hijaunya pun juga indah karena dihiasi bunga beraneka warna dan jenisnya. Jelas sekali keluarga Lee memiliki pegawai sendiri untuk merawat taman itu.

“Ayo kita masuk. Eomma pasti sudah menunggumu.” Ucapan Donghae menyadarkan Jiyeon dari kekagumannya terhadap rumah itu.

Jiyeon mengangguk lalu mengikuti Donghae masuk ke dalam rumah itu. Tak hanya bangunan luar yang mengagumkan, namun bagian dalamnya pun jauh lebih mewah. Tatapan Jiyeon tertumbuk pada seorang wanita yang berdiri dari duduknya. Wanita itu menutupi mulutnya yang terbuka dengan tangannya. Air mata jatuh mengalir di pipinya.

“Dia adalah eommamu.” Ucap Donghae.

Jiyeon tampak bingung harus bersikap seperti apa saat menghadapi ibu yang baru pertama kali dilihatnya.

Annyeong hasseyo.” Jiyeon membungkuk memberi hormat pada ibu kandungnya.

Suara hak sepatu Seohyun terdengar ketika mendekati putrinya yang telah lama hilang. Dia berhenti tepat di depan Jiyeon yang tersenyum. Seketika Seohyun menarik Jiyeon ke dalam pelukannya dengan penuh kasih sayang. Wanita itu juga mengelus rambut Jiyeon tanpa melepaskan pelukkannya.

“Akhirnya kau bisa kembali berkumpul di rumah ini.” Seohyun mengelus rambut Jiyeon.

Jiyeon tampak kikuk menghadapi ibunya. Meskipun Seohyun adalah ibunya namun tetap saja ini bagi Jiyeon dia adalah wanita yang baru saja ditemuinya. Tatapan Jiyeon menangkap sang ayah yang mengangguk padanya. Akhirnya dengan perlahan gadis itu membalas pelukan wanita itu.,

Ne nyonya Lee.”

Seohyun melepaskan pelukannya dan terlihat tidak senang dengan panggilan yang dilontarkan Jiyeon.

“Aku adalah eommamu jadi panggil aku eomma.”

Ne eo-eomma.”

Seohyun tersenyum dan menangkup kedua pipi Jiyeon. “Kau mirip sekali dengan eonnie-mu, Jihyun-ah.”

“Jihyun?” Bingung Jiyeon.

“Sebelum hilang dulu namamu adalah Jihyun, Lee Jihyun.” Sahut Donghae.

Jiyeon menatap kedua orangtuanya yang tengah tersenyum bahagia. “Bolehkah aku tetap menggunakan nama Jiyeon saja? Aku sudah terbiasa dengan nama itu.”

Donghae dan Seohyun saling berpandangan sebelum akhirnya mengangguk. “Tentu saja. Apapun yang membuatmu nyaman.”

Gamsahamnida.” Jiyeon ikut tersenyum senang.

“Aku pulang.” Suara yang ceria nan manja terdengar dari arah pintu.

Ketiga orang itu langsung menoleh. Jiyeon dan Jikyung sama-sama terkejut melihat satu sama lainnya. Jiyeon memang sudah mengetahui tentang kembalinya Jikyung tapi tetap saja gadis itu terkejut saat melihat betapa miripnya wajah mereka.

Appa, eomma siapa yeoja ini? Mengapa wajah kami mirip sekali?” Jikyung memandang ayah ibunya penuh tanya.

Seohyun mendekati Jikyung dan merangkul bahu putrinya itu. “Dia adalah adik kembarmu yang hilang.”

“Ja-jadi aku dan dia saudara kembar?” Kaget Jikyung.

“Benar sayang. Dia adalah saudara kembarmu yang hilang di hari kalian lahir.” Timpal  Donghae.

“Mengapa appa dan eomma tidak pernah menceritakan hal ini padaku?”

Mianhae Jikyung-ah, appa dan eomma tidak ingin kau juga menanggung kesedihan yang kami alami.” Seohyun menepuk pelan bahu putrinya.

Jikyung mendekati Jiyeon yang memiliki tinggi yang sama dengannya. Jiyeon yang sedari tadi diam mulai menyunggingkan senyum pada kakaknya. Wajah Jikyung yang tanpa ekspresi membuat ayah dan ibunya khawatir akankah Jikyung senang dengan berita mengejutkan ini. Namun sepasang suami istri Lee itu bisa bernafas lega melihat Jikyung memeluk adik kembarnya.

“Selamat datang kembali dongsaengku.” Senang Jikyung.

Jiyeon membalas pelukan kakaknya dengan bahagia. Tidak hanya sepasang saudara kembar itu saja yang bahagia, kedua orangtua mereka juga ikut bahagia.

“Kabar bahagianya tidak hanya ini saja. Ada satu berita bahagia lagi.” Ucap Donghae.

Ketiga wanita keluarga Lee langsung menatap sang kepala keluarga.

“Apa itu appa?” Penasaran Jikyung.

“Nanti malam akan ada makan malam bersama keluarga Jung untuk membahas pertunangan Jikyung dan Taekwoon.”

Jikyung menjerit bahagia dan sang ibu juga ikut senang. Namun tidak untuk Jiyeon. Bagaimana bisa dirinya bahagia jika lelaki yang mengisi hatinya akan menikah dengan kakaknya sendiri.

G.R.8.U

Langkah santai Dahyun menggiring gadis itu memasuki sebuah toko. Banyak sekali CD film maupun musik yang tertata rapi di rak-rak. Gadis itu menghampiri rak yang berisi musik-musik. Dia mencari lagu dari band kesukaannya yaitu Coldplay. Namun ditengah pencariannya mata Dahyun menangkap seseorang yang dikenalnya.

“V?” Gumam Dahyun melihat Taehyung tengah mendengarkan musik menggunakan headpdhone.

Senyum Dahyun mengembang lalu gadis itu menghampiri lelaki itu. Dari kejauhan Dahyun melihat ekspresi marah di wajah lelaki itu bahkan kedua tangan Taehyung terkepal meskipun tengah mendengar alunan musik. Karena suara musik yang keras membuat Taehyung  tidak menyadari kehadiran Dahyun. Tepukan di bahu membuat lelaki terkejut dan menoleh. Melihat Dahyun tersenyum padanya, Taehyung melepaskan headphonenya.

“Kau Dahyun bukan?” Ragu Taehyung.

Ne. Kau sedang mendengar lagu apa?”

“Lagu My Chemical Romance. Lalu apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Taehyung balik.

“Aku mencari lagu coldplay. Kulihat kau sedang tidak mood, apakah terjadi hal yang buruk?”

Seakan diingatkan wajah Taehyung mengeras menahan emosinya. Hal itu dapat dilihat Dahyun dengan jelas.

“Sepertinya memang benar dan kau tidak ingin mengatakannya padaku. Tidak masalah. Bagaimana jika kau ikut aku? Akan kuberitahu bagaimana caranya membuat suasana hatimu lebih baik.”

Taehyung tampak berpikir seraya menatap gadis berstatus temannya itu. Dahyun mengambil headphone ditangan Taehyung dan meletakkan kembali di tempatnya lalu menarik lelaki itu pergi.

“Ya!! Aku belum mengatakan setuju untuk ikut denganmu.” Protes Taehyung.

“Tak perlu persetujuanmu karena hatimu sedang membutuhkannya.”

Taehyung tak protes lagi dan akhirnya menurut saja kemana Dahyun membawanya. Dari kejauhan tanpa sengaja Ravi melihat mereka. Bukan maksud lelaki itu untuk membuntuti Dahyun. Saat sedang dalam perjalanan lelaki itu tidak sengaja melihat Dahyun memasuki salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Seoul jadi dia mengikutinya. Tapi dia tidak menduga Dahyun akan bertemu dengan seorang lelaki yang seumuran dengan gadis itu.

“Jadi perasaan yeoja itu sudah berubah?” Ravi mendengus kesal sebelum akhirnya berlalu pergi.

G.R.8.U

Jimin menatap tempat kosong yang biasanya dipakai oleh kakaknya, Jiyeon. Biasanya dia dan Jiyeon akan selalu bertengkar dan hal itulah yang paling lelaki itu rindukan. Tanpa semangat Jimin menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Bahkan mengunyah pun lelaki itu tak memiliki tenaga.

“Apakah masakan abeoji tidak enak?”

Jimin melihat ayahnya lalu menggelengkan kepalanya. Meskipun masakan ayahnya tidak seenak masakan Jiyeon tapi masih tetap bisa dimakan.

“Lalu mengapa kau makan seperti siput seperti itu?” Tanya Daeyeon kembali.

“Aku merindukan Jiyeon noona. Bahkan baru saja dia pergi tapi aku sudah merindukannya abeoji.”

Daeyeon menghela nafas mengerti apa yang dirasakan putranya. Sama halnya dengan Jimin, lelaki paruh baya itu pun juga merindukan Jiyeon.

“Sudahlah berhentilah bersikap seperti anak yang kehilangan induknya. Kau tenang saja, bukankah Jiyeon sudah berjanji akan menjenguk kita? Cepat makanlah sebelum makanannya dingin.

“Ne abeoji.” Jimin menurut dan mulai makan meskipun masih tidak bersemangat.

Semoga kau bahagia bersama keluargamu yang sebenarnya Jiyeon-ah. Doa Daeyeon.

G.R.8.U

“Jadi hari ini dia tidak masuk?” Gumam Jiyeon dengan ponsel tertempel di telinganya.

Setelah reuni keluarga selesai Jiyeon memilih berada di kamarnya yang sebesar rumahnya sembari mengetahui keadaan Taehyung. Karena hari ini dia tidak masuk sekolah otomatis gadis itu tidak bisa bertemu dengan lelaki itu.

Ne. Setelah membuat keributan kemarin dia tidak muncul di sekolah.” Jelas Sooyoung.

“Aisshh… Sebenarnya kemana dia pergi? Dia tak membalas pesanku dan juga tidak mengangkat telponku.” Tanpa sadar Jiyeon bergumam dan tidak ingat jika Sooyoung masih berada diujung telpon.

“Ehem…. Jadi ada tanda-tanda cinta ya?” Seketika Jiyeon salah tingkah mendengar ucapan Sooyoung.

“Tidak Sooyoung-ah, bukan seperti itu. Aku hanya khawatir terjadi apa-apa padanya. Terlebih setelah pemberitaan mengenai eonnie-ku bersama namja. Aku yakin dia mengira eonnie adalah aku.” Jiyeon duduk di tepi ranjangnya yang empuk.

MWO?  Tunggu dulu. Eonnie? Sejak kapan kau memiliki eonnie? Bukankah kau hanya memiliki dongsaeng Jimin seorang?”

“Sejak hari ini. Dan aku juga baru mengetahui jika aku memiliki saudara kembar.” Jelas Jiyeon.

“Saudara kembar? Jadi kau adalah putri keluarga Lee? Dan Lee Jikyung adalah saudara kembarmu? Oh My Good. Kau bagaikan cinderella Jiyeon-ah. Dari kalangan rendah kau naik ke kalangan atas.”

“Cinderella? Sayang sekali pangeran itu bukan untukku.” Gumam Jiyeon mengingat Taekwoon.

Nde? Kau mengatakan sesuatu Jiyeon-ah?”

Lagi-lagi Jiyeon  tersadar jika masih ada Sooyoung yang mendengarkannya.

“Tidak. Bukan apa-apa.” Jiyeon menggelengkan kepalanya.

“Oh ya apa kau tahu namja yang bersama saudara kembarmu saat konferensi pers?”

Ne. Namanya Taekwoon bukan?”

“Lebih lengkapnya Jung Taekwoon dia adalah hyungnya Taehyung. Kudengar dia sama kejamnya seperti ayahnya.”

Seketika Jiyeon berdiri mendengar informasi yang sangat mengejutkannya. Dia pun teringat saat Taekwoon menceritakan tentang adiknya.

Adikku justru membenciku. Hal itu dikarenakan abeojiku yang selalu membandingkan dirinya denganku. Karena itulah dia membenciku.

Gadis itu juga teringat penjelasan Taehyung saat dia bertanya mengapa dia membenci kakaknya.

Hyung adalah namja paling sempurna yang pernah ada. Tampan, pintar, jenius dan juga penurut. Semua orang pasti menyukainya. Berbeda denganku, tidak ada yang menyukaiku.

Mengapa saat Taehyung mengatakan jika hyungnya tampan, pintar, jenius aku tidak berpikir jika itu adalah Taekwoon? Terlebih lagi mata mereka begitu mirip. Jadi Taehyung marah bukan karena mengira aku yang ada di konferensi pers melainkan karena hyungnya. Dia pasti semakin membenci Taekwoon karena mengira hyungnya telah merebutku darinya, pikir Jiyeon.

“Jiyeon-ah kau tidak apa-apa? Apa kau masih mendengarku?”

“Ah.. ne Sooyoung-ah. Aku harus menutup telponmu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Nanti aku akan menghubungimu lagi.”

Jiyeon menutup telpon itu lalu menghempaskan tubuhnya keatas ranjang dengan pasrah. Gadis itu masih belum percaya dengan fakta jika Taekwoon adalah kakak Taehyung. Pikiran Jiyeon semakin berkecamuk memikirkan keberadaan Taehyung. Dia khawatir terjadi hal yang buruk pada lelaki itu.

Suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Jiyeon mengenai Taehyung. Tampak Jikyung memasuki kamar Jiyeon lalu duduk di samping adik kembarnya itu. Jikyung menatap  wajah Jiyeon dan masih belum mempercayai wajah mereka begitu sama.

Appa dan eomma sudah menceritakan tentangmu yang telah diculik di hari kita dilahirkan. Apa kau tidak apa-apa saat itu?” Tanya Jikyung.

“Aku tidak ingat apapun eonnie. Park abeoji yang selama ini merawatku mengatakan aku mengalami kecelakaan parah 5 tahun yang lalu. Sejak itu aku tidak ingat apapun.”

“5 tahun yang lalu?” Kaget Jikyung.

Ne. Tahun yang sama dimana eonnie diculik dan menghilang.”

Jikyung terdiam mengingat-ingat sesuatu. Ada sesuatu yang penting saat 5 tahun yang lalu.

“Apakah ada bekas lebam di wajahmu saat itu?” Tanya Jikyung.

Ne, bagaimana eonnie bisa tahu?”

“Saat aku tercebur di sungai ada kejadian terlintas di pikiranku aku melihat seorang namja memukulimu dan tak jauh dari sana ada seorang yeoja seakan memerintahkan namja itu untuk melukaimu.”

Yeoja?”

“Aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Yang aku lihat dia mengenakan gaun pendek merah tanpa lengan.”

Kau tidak akan bisa lepas dariku. Tiba-tiba Jiyeon mengingat kembali suara seorang wanita, sama seperti saat dia melihat seorang wanita beberapa minggu yang lalu.

“Jiyeon-ah kau tidak apa-apa?” Jiyung mengguncang pelan bahu Jiyeon dan menyadarkan gadis itu.

“Aku tidak apa-apa eonnie.”

“Sudahlah jangan memikirkan masa lalu yang penting sekarang kau sudah kembali ke keluarga ini. Ini sudah sore aku harus bersiap-siap untuk acara nanti malam. Kau juga harus bersiap-siap, eonnie akan mengenalkanmu pada namja yang sangat eonnie cintai. Tapi kau harus berhati-hati, kau pasti akan menyukainya saat melihatnya karena dia sangat tampan.” Jikyung berkata seraya berjalan keluar.

“Aku sudah terlanjur menyukainya eonnie.” Sedih Jiyeon.

G.R.8.U

“Karaoke?” Heran Taehyung yang saat berada di ruangan kecil dengan layar TV besar di dinding.

“Kau pasti akan merasa lebih baik setelah keluar dari sini. Percayalah padaku.” Semangat Dahyun.

“Ini konyol. Aku tidak mau melakukannya.”

Dahyun menahan lengan Taehyung yang hendak pergi. “Apa kau takut nilaiku lebih tinggi darimu V-ssi” Dahyun menatap jahil lelaki itu.

“Tentu saja tidak. Tapi aku tidak ingin membuang waktuku untuk hal yang konyol seperti ini.”

“Jika tidak bagaimana jika kita adu 1 kali saja. Jika kau menang kau bisa pergi tapi jika kau kalah kau harus menemaniku sampai waktunya habis. Bagaimana?” Kedua alis Dahyun terangkat menantang lelaki itu.

Bagi Taehyung ini memang konyol tapi bukan sifatnya jika menolak tantangan orang lain. Akhirnya lelaki itu menganggukan kepalanya membuat Dahyun tersenyum puas. Taehyung meraih remote dan hendak memilih lagu namun Dahyun menghentikannya.

“Tidak adil jika lagunya dipilih. Bagimana jika kau mengetik nomor secara acak dan lagu yang muncul harus kau nyanyikan?” Tanya Dahyun.

“Baiklah.” Taehyung melihat remote itu lalu menekan angka 237. Tak lama judul lagu tertera di layar TV dan seketika Dahyun tertawa lepas. Lagu girlband TWICE dengan judul ‘Cheer Up’ menjadi penyebab gadis itu tertawa.

“Aku tidak bisa menyanyikannya.” Kesal Taehyung.

“Itu berarti kau kalah.”

Taehyung mendengus kesal tidak menyukai kata kalah akan disandangnya. “Aku tidak akan kalah.”

“Kalau begitu buktikan.” Dahyun menahan tawanya.

Taehyung meraih mic dan mulai menyanyikan lagu itu. Dahyun tak bisa berhenti tertawa melihat lagu itu dinyanyikan dengan sikap tubuh yang kaku. Gadis itu berharap Taehyung akan mengikuti tarian yang ditampilkan oleh 9 member TWICE dengan penuh semangat namun jauh berbeda dengan orang yang menyanyikannya.

Dahyun duduk menunggu gilirannya seraya mengamati penampilan Taehyung. Karena tidak terlalu mengerti lagu itu membuat Taehyung tidak hafal lirik lagu itu. Akhirnya setelah 3 menit 25 detik berlalu, lagu itu berakhir. Keduanya menatap ke layar besar itu untuk menanti nilainya.

“70? Ya!!! Mesin ini pasti rusak. Bagaimana bisa nilaiku 70?” Taehyung tidak terima melihat nilai yang muncul di layar.

Dahyun berdiri lalu merebut mic dari Taehyung. “Mesin ini tidak mungkin rusak V-ssi. Ini salahmu yang tidak hafal lagunya.”

“Aishh… baiklah sekarang giliranmu. Kita lihat saja apa kau bisa mengalahkanku.” Taehyung meraih remote dan memberikannya pada Dahyun.

Dahyun berpikir sejenak angka berapa yang akan dipilihnya. Akhirnya gadis itu memilih angka 100. Gadis itu tersenyum senang saat melihat judul lagu ‘FLY’ yang dinyanyikan oleh GOT7.

“Aku pasti akan mengalahkanmu V-ssi.” Yakin Dahyun karena hafal dengan lagu itu.

“Coba saja Dahyun-ssi.” V duduk menunggu hasil yang akan dinyanyikan Dahyun.

G.R.8.U

Acara makan malam antara keluarga Lee dan keluarga Jung dilingkupi dengan kebahagiaan kecuali Jiyeon yang selalu memberikan senyuman palsunya. Gadis itu melihat Taekwoon yang duduk di samping Jikyung. Taekwoon dan Jikyung terlihat seperti pasangan yang serasi membuat hati Jiyeon tidak menyukai pemandangan itu.

“Aku tidak tahu kau memiliki putri kembar Donghae-ssi.” Ucap Yunho.

“Itu karena kami kehilangan Jiyeon saat baru dilahirkan. Tidak banyak orang yang tahu mengenai dia. Kami bisa bertemu kembali juga berkat Taekwoon.”

Yunho menatap putranya yang sedang diperbincangkan. “Benarkah itu Taekwoon-ah?”

Ne abeoji.” Taekwoon menatap Jiyeon yang duduk di hadapannya.

Tatapan kesedihan terlihat jelas di mata Jiyeon membuat Taekwoon semakin merasa bersalah. Ingin sekali lelaki itu menemui Jiyeon paling tidak dia ingin meminta maaf pada gadis itu. Namun sayang dia selalu disibukkan dengan Jikyung membuatnya tak ada waktu untuk menemui saudara kembar Jikyung itu.

“Jadi Taekwoon Oppa dan Jiyeon sudah saling kenal? Mengapa kalian tidak menceritakannya padaku? Atau jangan-jangan Oppa menyukai Jiyeon?” Jikyung memasang wajah kesalnya.

“A-aku… aku..” Taekwoon bingung harus menjelaskan apa pada kekasihnya karena dia tidak ingin semakin menyakiti Jiyeon.

“Karena kami pikir hal itu tidak penting eonnie. Aku bertemu dengan Taekwoon-ssi karena dia bersikeras jika aku adalah eonnie. Jadi eonnie tak perlu marah.” Penjelasan Jiyeon berhasil menenangkan Jikyung sehingga acara makan malam pun kembali dilanjutkan.

Hanya Jiyeon saja yang tidak menikmati acara makan malam. Terlihat jelas dari tak bersemangatnya dia ketika menyantap makanan yang dihidangkan. Bahkan hingga makan malam selesai, Jiyeon lebih memilih menyendiri di taman belakang daripada harus berkumpul di ruang tamu untuk menikmati acara minum teh.

Pertunangan Jikyung dan Taekwoon sudah ditentukan dan akan diadakan 3 minggu lagi. Tak ada lagi harapan bagi Jiyeon untuk memiliki Taekwoon. Sebentar lagi lelaki itu akan menjadi milik orang lain yaitu kakaknya.

Jiyeon duduk di ayunan lalu menatap langit malam. Sayang sekali tak ada bintang yang menghiasi langit itu hanya awan gelap yang menyelimuti langit itu. Sama halnya dengan langit yang mendung itu juga menggambarkan suasana hati gadis itu. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Jiyeon menoleh dan mendapati Taekwoon yang berjalan ke arahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Eonnie pasti akan mencarimu?” Ucap Jiyeon terdengar dingin.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Jiyeon berdiri dan menatap malas lelaki di hadapannya. “Aku rasa pembicaraan ini tidak diperlukan. Sudah jelas sekali kau sudah menemukan kekasihmu yang sebenarnya jadi kau meninggalkan yeoja yang selama ini kau anggap kekasihmu.”

“Jiyeon-ah aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja…”

“Bukankah sudah kukatakan tidak ada yang perlu dijelaskan Taekwoon-ssi. Aku mengucapkan selamat kau sudah menemukan kekasihmu yang sebenarnya dan akan bertunangan dengannya.”Jiyeon mengulurkan tangannya meskipun ada amarah di matanya.

“Kau bisa meluapkan emosimu padaku. Aku pantas mendapatkannya. Aku akan semakin merasa bersalah jika kau tidak marah atau meluapkan emosimu padaku Jiyeon-ah.”

Jiyeon melangkah memperkecil jarak diantara dia dan Taekwoon. Tatapan keduanya bertemu. Meskipun mata Jiyeon diliputi rasa marah namun Taekwoon masih bisa melihat kesedihan dibalik amarah itu.

“Jika saja eonnie kembali lebih cepat. Jika saja aku tidak mengijinkanmu memasuki hidupku. Jika saja kau tidak datang ke caffe. Jika saja kita tidak pernah bertemu, maka hati ini tidak akan merasa sakit. Namun sayang sekali namamu terlanjur mengisi hatiku Taekwoon-ssi.” Mata Jiyeon terlihat berair.

“Jiyeon-ah, aku….” Jiyeon mengangkat tangannya memberi isyarat pada lelaki itu untuk diam.

“Aku tahu kau tidak bisa membalas perasaan ini. Karena itu aku bertekad akan menghapus namamu dari hati ini. Kau tenanglah aku tidak akan merusak hubunganmu dengan eonnie.”

Oppa. Aku mencarimu ke mana-mana.” Terdengar Jikyung menghampiri mereka.

Jiyeon segera menghapus air matanya tak ingin kakaknya melihatnya. Jikyung langsung memeluk lengan Taekwoon dan melihat Jiyeon dengan bingung.

“Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya sangat serius.” Tanya Jikyung menatap Taekwoon dan Jiyeon bergantian.

“Taekwoon-ssi hanya meminta maaf karena telah salah mengira aku adalah eonnie.”

Jikyung menoleh ke arah kekasihnya dan Taekwoon mengangguk membenarkan ucapan Jiyeon.

“Aku akan ke kamarku. Selamat malam.” Jiyeon berjalan pergi meninggalkan sepasang kekasih itu.

Jikyung masih melihat Jiyeon yang berjalan menjauh. Ada kecurigaan di mata gadis itu.

“Ayo kita masuk Jikyung-ah.” Taekwoon menarik kekasihnya yang masih disibukkan dengan kecurigaan pada saudara kembarnya.

G.R.8.U

Dahyun membuka pintu rumah dan masuk dengan senyum terpajang di wajahnya. Bermain dengan Taehyung membuat gadis itu senang. Karena dia mendapat nilai yang tinggi sehingga Dahyun yang memenangkan taruhan. Alhasil dengan terpaksa Taehyung menemani gadis itu berkaraoke selama 1 jam.

Namun sesekali Dahyun harus memuji suara Taehyung saat menyanyikan lagu yang dipilihnya. Terutama saat Taehyung menyanyikan lagu Kim Junsu  ‘Though I Already Know’ lelaki itu tampak mempesona. Tapi di saat menyanyikan lagu itu Dahyun bisa merasakan kesedihan di mata lelaki itu. Apakah dia sedang mengalami masalah? Tanya Dahyun dalam hati.

“Kau tampak senang sekali.” Dahyun melihat Ravi berdiri tak jauh darinya seraya melipat kedua tangan di depan dadanya.

Oppa, kau sudah pulang?” Tanya Dahyun semakin senang melihat lelaki itu.

Ravi melepaskan tangannya lalu berjalan mendekati Dahyun. Senyum Dahyun samar-samar menghilang melihat kemarahan di wajah Ravi. Ravi meraih tangan Dahyun dan menariknya menuju ruang baca. Dahyun meringis saat merasakan genggaman tangan Ravi terlalu erat. Sampai di dalam ruang baca, Ravi menghempaskan tangan Dahyun kasar.

“Tak kusangka kau mudah sekali melupakan perasaanmu padaku dan langsung menyukai namja lain.” Marah Ravi.

“Perasaanku tidak berubah. Lagipula apa maksudmu Oppa dengan namja… Ahhh… jadi Oppa melihatku pergi dengan V?”

“V?”

“V adalah temanku. Mengapa Oppa marah? Biasanya Oppa tidak peduli denganku.” Dahyun tersenyum penuh arti.

“A-aku… aku memang tidak peduli padamu. Hanya saja…” Ravi tampak salah tingkah membuat Dahyun mengulum senyumnya.

“Hanya saja…” Dahyun mengulangi ucapan Ravi.

“Hanya saja…. Hanya saja kau kan seorang yeoja, bukankah sangat berbahaya berada di tempat karaoke dengan seorang Namja? Tidakkah kau berpikir jika  Namja itu bisa melakukan hal yang buruk padamu huh? Aishh… dasar kau ini yeoja tapi tak memiliki perlindungan sama sekali. Lain kali… Lain kali jangan melakukan itu kau mengerti?” Ravi berusaha menyembunyikan perasaannya dengan memarahi Dahyun.

Senyum Dahyun semakin lebar melihat Ravi salah tingkah. Hatinya seakan ada kembang api yang meledak mendapati lelaki yang selama ini disukainya mulai memiliki perasaan yang sama dengannya meski dia tidak mau mengakuinya.

“Ya!!! Kau mendengarku tidak? Berhentilah tersenyum seperti itu.”

Ne Oppa. Aku mendengarmu.”

“Jika aku melihatmu lagi dengan Namja lain maka aku….”

Alis Dahyun terangkat menanti kelanjutan kalimat Ravi. “Maka apa yang akan Oppa lakukan?”

“Aku… Aku tidak akan berbicara lagi denganmu. Kau ingat itu.” Ravi segera keluar tak ingin semakin terlihat bodoh di depan adiknya.

Dahyun menangkup kedua pipinya yang memerah saking bahagianya. Bahkan senyuman tak hilang-hilang dari wajahnya. Segera dia meraih ponselnya dan menghubungi Irene. Tak lama terdengar suara Irene menyapanya.

“Irene-ah…..” Seru Dahyun bahagia.

“Ya!! Dahyun-ah kau membuat telingaku sakit dengan suaramu itu. Ada apa kau terdengar sangat bahagia?”

“Rencanamu berhasil. Sekarang Ravi Oppa mulai memperhatikanku. Bahkan dia cemburu saat melihat aku bersama dengan Namja lain.”

Namja lain? Apa kau memiliki kekasih lain?” Curiga Irene.

“Aishh… kau ini sama saja dengan Ravi Oppa. Namja itu bukan kekasihku. Kau ingat aku pernah cerita aku ingin berterimakasih pada seseorang karena membuatku tak menyerah?”

Ne, kau mengatakan itu saat di pesta ulang tahunku.”

“Dan aku sudah menemukannya. Dia bernama V. Dan sekarang aku berteman dengannya.”

“V? Kau yakin itu namanya?” Ada nada aneh di suara Irene.

Ne. Kau mengenalnya Irene-ah?”

“Dia pernah satu sekolah denganku.”Jelas Dahyun.

“Benarkah? Tapi dia bilang saat ini dia sedang sekolah di SMA Hanlim.”

“Dia dikeluarkan karena berkelahi hingga membuat beberapa orang masuk rumah sakit. Jadi sekarang dia berada di SMA Hanlim.” Jelas Irene membuat Dahyun terkejut.

“Aku rasa kau salah orang Irene-ah. V tidak seperti itu.”

“Entahlah mungkin namanya sama aku tidak tahu. Aku harus pergi Dahyun-ah. Nanti aku akan menelponmu lagi.”

Dahyun menatap ponselnya bingung. Gadis itu merasa ada yang aneh dengan sahabatnya. Di tempat lain lebih tepatnya di kamar besar, terlihat Irene duduk di tepi ranjang dengan tangan yang mengepal menunjukkan amarahnya. Hal  berikutnya yang dilakukan Irene adalah menelpon seseorang.

“Aku sudah menemukannya. Dia ada di SMA Hanlim. Aku akan menunggu kabar darimu.”  Irene menutup telpon itu dengan kasar.

“Aku akan membalasmu V.” Irene tersenyum sinis.

G.R.8.U

Jiyeon sudah mengenakan seragam sekolahnya. Dan sekarang gadis itu tengah menyisir rambutnya lalu mengenakan sebuah bando di atas kepalanya. Ketukan pintu mengalihkan perhatian gadis itu. Terlihat kedua orangtuanya melayangkan senyuman padanya lalu menghampirinya.

“Jiyeon-ah apa kau yakin mau melanjutkan sekolahmu di SMA Hanlim? Seharusnya kau berumur 22 tahun dan selesai kuliah. Kau bisa bekerja di perusahaan appa.” Tawar Donghae.

“Aku tetap ingin melanjutkan sekolahku appa. Sebelum bersama keluarga Park aku tidak ingat apakah aku bersekolah atau tidak. Karena itu aku ingin berusaha lulus dari sekolah itu lalu melanjutkan  ke universitas setelah itu baru aku akan bekerja di perusahaan appa.

Seohyun tersenyum dan membelai pipi putrinya. “Apapun keputusanmu kami akan selalu mendukungmu Jiyeon-ah.”

Jiyeon tersenyum lalu memeluk kedua orangtuanya. Gadis itu mengira ayahnya akan tetap memaksanya untuk tidak melanjutkan sekolah tapi ternyata perkiraannya salah.

APPA….” Panggilan keras nan manja itu membuat pelukan mereka terlepas.

Semua pandangan tertuju pada Jikyung yang masuk ke kamar Jiyeon.

“Ada apa Jikyung-ah? Mengapa kau berteriak seperti itu?” Tanya sang ibu.

“Taekwoon Oppa melarangku untuk menemuinya di kantor. Katanya dia sedang sibuk bekerja. Appa bantulah aku agar aku bisa bertemu dengannya Appa.” Rengek Jikyung.

Donghae menghembuskan nafas mendengar rengekan putrinya yang manja. “Kalau begitu kau bekerja saja di kantor Appa. Perusahaan kita dan perusahaan Taekwoon akan bekerjasama jadi aku akan menugaskanmu ke sana untuk membahas kerjasama itu. Bagaimana?”

Segera wajah Jikyung langsung berseri senang. “Baiklah aku akan bersiap-siap. Tunggu aku ya Appa.” Jikyung langsung berlari keluar.

Jiyeon terlihat semakin sedih menyadari betapa kakaknya sangat mencintai Taekwoon. Mungkin keputusannya untuk melenyapkan nama Taekwoon adalah keputusan yang benar.

“Apa kau mau Appa mengantarmu Jiyeon-ah? Kita bisa berangkat bersama-sama.” Tawar sang ayah.

“Tidak Appa. Aku akan naik bus saja. Aku berangkat dulu.” Jiyeon mengambil tas lalu berjalan keluar.

“Meskipun wajah mereka sama tapi sifat mereka berbeda.” Ucap Seohyun menghampiri jendela untuk melihat Jiyeon keluar dari rumah.

“Kau benar Jiyeon lebih dewasa dari pada kakaknya.” Donghae berdiri di samping istrinya melihat Jiyeon berlari melewati gerbang rumah.

G.R.8.U

Yoona tersenyum senang melihat kue ulang tahun yang dibuatnya sendiri. Kue tart coklat dengan hioasan bunga berwarna orange dan kuning di atasnya terlihat begitu cantik. Tulisan ‘Selamat ulang tahun Jung Taehyung’ tertulis di atas kue dengan menggunakan cream berwarna putih. Satu lilin tertancap tepat di tengah kue tersebut.

beautiful-happy-birthday-cake-photos8

Ahjuma di mana korek apinya?” Tanya Yoona mencari pelayan di dapurnya.

Seorang wanita bertubuh gempal berlari menghampiri Yoona dan menyerahkan korek api pada Yoona.

“Wah… tuan muda Taehyung pasti menyukai kue ini. Dia pasti senang karena setiap tahun anda selalu membuat sendiri kue ulang tahun untuknya nyonya.” Puji pelayan itu.

“Setidaknya ini bisa sedikit menghiburnya.”

Setelah pemberitaan mengenai Taekwoon dan Jikyung, Yoona melihat anak bungsunya itu menjadi tak bersemangat. Hal itu membuatnya semakin khawatir. Ingin sekali sang ibu itu berbicara pada putranya itu, sayangnya Taehyung selalu mengunci diri di kamar dan tak ingin berbicara pada siapapun.

“Aku akan memberinya kejutan di pagi hari.” Yoona menyalakan lilinnya lalu mengambil kue itu.

“Semoga berjalan lancar nyonya.” Semangat pelayan itu.

Yoona menaiki tangga menuju kamar Taehyung yang berada di lantai 2. Perlahan wanita itu memutar kenop pintu dan membukanya.

Saengil chuka….” Lagu ulang tahun itu terhenti saat Yoona mendapati kamar itu kosong.

Yoona memandang jam di dinding kamar Taehyung menunjukkan jam 6 pagi. “Tidak biasanya dia berangkat pagi-pagi sekali.” Heran Yoona.

Akhirnya Yoona meniup lilin itu sendiri karena kejutan untuk putranya gagal. Wanita itu keluar dan turun kembali. Tepat saat sampai di bawah pelayan bertubuh gempal tadi sudah berdiri di sisi tangga.

“Bagaimana nyonya? Apakah kejutannya berhasil?” Tanya pelayan itu antusias.

“Gagal. Taehyung tidak ada. Apa kau melihatnya pergi?”

“Tidak nyonya. Saya tidak melihatnya.”

“Tumben sekali dia berangkat pagi-pagi sekali. Aku jadi cemas.” Gumam Yoona.

“Apa yang eomma cemaskan?”

Yoona berbalik dan melihat Taekwoon menuruni tangga dengan mengenakan setelan kantornya.

“Taehyung. Dia sudah pergi lebih awal dari biasanya.”

Taekwoon melihat kue ulang tahun di tangan ibunya dan teringat jika hari ini adalah hari ulang tahun adiknya.

“Oh ya hari ini ulang tahun Taehyung.”

“Karena itu eomma ingin memberikannya kejutan tapi dia tidak ada.” Kecewa Yoona.

“Usianya sudah bertambah jadi dia sudah besar. Kau tak perlu mencemaskannya. Ayo kita sarapan.” Ucap Yunho berjalan menuju ruang makan.

Yoona menyerahkan kue ulang tahun Taehyung pada pelayan dan menyuruhnya untuk menyimpan kue itu. Yoona dan Taekwoon akhirnya mengikuti Yunho untuk menikmati sarapan pagi.

G.R.8.U

Langkah lunglai membawa Jiyeon memasuki gerbang sekolah. Semalam dia tak bisa tidur sama sekali karena terlalu memikirkan Taekwoon. Gadis itu menghela nafas dan mempersiapkan diri menghadapi hari ini. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap bayangan seseorang.

“Taehyung-ah.” Panggil Jiyeon berlari menghampiri Taehyung.

Melihat Jiyeon mendekatinya membuat Taehyung marah karena teringat berita kemarin lusa. Lelaki itu berbalik tak menghiraukan Jiyeon yang terus memanggilnya. Kepala dan hati Taehyung terasa panas saat mengingat video kekasihnya bersama kakaknya. Jiyeon berhasil meraih tangan Taehyung dan menghentikan langkah lelaki itu.

“Taehyung-ah kau sudah salah paham.”

“Minggir.” Suara Taehyung begitu dingin berbeda dari biasanya.

“Kau harus mendengarkan penjelasanku Taehyung-ah.”

“Aku bilang minggir.” Suara Taehyung semakin tinggi lebih tepatnya membentak Jiyeon.

Tanpa takut Jiyeon memukul dahi lelaki itu dengan keras. “Jangan membentakku dan dengarkan penjelasanku bodoh. Yeoja itu bernama Lee Jikyung itu bukan aku. Dia adalah eonnieku.”

Taehyung merutuk merasakan sakit di dahinya. Namun lelaki itu seketika terdiam mendengar ucapan Jiyeon.

Eonniemu? Aku tidak tahu kau memiliki eonnie.”

“Itu karena aku baru mengetahuinya kemarin lusa.”

“Apakah itu benar?”

Jiyeon mendengus kesal. “Jika kau tidak percaya padaku tidak masalah. Aku tidak perlu capek-capek menjelaskan lebih detailnya padamu.”

Jiyeon berbalik namun Taehyung segera menahannya. “Tidak. Aku percaya padamu chagi.” Ucap Taehyung tersenyum lebar.

Melihat senyuman bodoh menghiasi wajah Taehyung serta panggilan ‘chagi‘ yang keluar dari mulut lelaki itu meyakinkan Jiyeon jika lelaki di hadapannya sudah kembali seperti semula.

“Kalau begitu kau harus menjelaskan lebih detail lagi padaku. Ayo.” Taehyung menarik Jiyeon keluar dari area sekolah.

“Ya!! Kau mau mengajakku bolos lagi? Aishh… Mengapa kau menjadi dampak yang buruk bagi kehidupanku?” Protes Jiyeon.

“Hari ini aku tidak mood sekolah. Lagipula aku ingin merayakan hari ulang tahunku denganmu.”

Jiyeon menghentikan langkah mereka dan menatap lelaki itu kaget. “Hari ini adalah ulang tahunmu?”

Ne. Dan aku ingin merayakannya dengan kekasihku.”

“Aishhh… Mengapa kau tak mengatakannya kemarin-kemarin? Jadinya aku tak punya hadiah apapun untukmu.” Jiyeon memasang wajah cemberutnya.

“Aku tak perlu hadiah. Cukup kau saja hadiahnya. Ayo.” Kali ini Jiyeon tidak protes saat Taehyung menariknya menjauh dari sekolah. Gadis itu justru senang, setidaknya dia bisa menyenangkan Taehyung di hari terpentingnya.

Dari kejauhan seorang lelaki tengah mengawasi Taehyung yang menarik pergi Jiyeon. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Kau benar. Aku melihatnya. Kita akan merencanakan sesuatu untuknya.” Tatapan lelaki itu semakin tajam melihat kepergian Taehyung.

G.R.8.U

Ravi masuk ke ruang baca untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal di meja. Meskipun sudah menemukan kunci mobilnya namun lelaki itu tak kunjung beranjak dari tempatnya. Sebuah kotak bekal tergeletak di atas meja dan di atasnya ada secarik kertas. Ravi mengambil kertas itu dan membacanya.

 

Jangan marah lagi Oppa karena wajahmu jadi jelek seperti bekal ini.

Dahyun

Ravi meraih bekal itu dan membukanya. Terlihat bekal yang dibentuk wajah orang marah dari berbagai sayuran.

“Cihh.. Wajahku tidak sejelek ini.” Meskipun menggerutu namun Ravi tersenyum senang.

Lelaki itu keluar dengan bekal di tangannya dan juga senyuman yang jarang diperlihatkannya.

“Apakah kau tidak ingin sarapan dulu Ravi-ah?” Suara Yuri menghentikan langkah Ravi.

Lelaki itu melihat ibu tirinya tengah menata meja makan. Kata-kata dalam surat yang ditulis ayah Dahyun terngiang di kepala Ravi. Dulu dia akan memandang Yuri sebagai wanita yang ingin menguasai seluruh harta ayahnya. Namun setelah membaca surat itu Ravi memandang ibu tirinya dari sisi yang berbeda. Wanita di hadapannya adalah wanita yang dicintai ayahnya, wanita yang memberi kehidupan bagi ayahnya.

“Ravi-ah mengapa kau diam saja di sana? Jika kau mau kita bisa sarapan bersama. Dahyun dan Mingyu sudah pergi.” Yuri selalu bersikap baik meskipun Ravi menolak dengan kasar setiap tawaran ibu tirinya itu.

Ravi berjalan menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursi. Yuri tampak terkejut namun dia segera mengambilkan makanan untuk Ravi.

“Dahyun dia….” Ucapan Ravi terhenti.

“Dahyun bilang dia harus menemui seseorang karena itu dia berangkat lebih awal.”

“Seseorang?” Jangan-jangan dia menemui namja itu lagi? Aishh… sudah kubilang untuk tidak menemuinya lagi. Kesal Ravi.

Yuri sudah duduk di hadapan Ravi dan melihat lelaki yang sudah dianggapnya anak itu hanya diam tidak menyentuh makanan yang sudah disiapkannya.

“Apa kau tidak suka dengan makanannya?” Pertanyaan Yuri menyadarkan Ravi. “Aku tak pernah makan bersama denganmu dan kau juga tak pernah mengatakan makanan apa yang kau sukai jadi maafkan aku jika kau tidak menyukainya.”

“Aku tak pernah pilih-pilih makanan.” Ravi meraih sumpit dan mulai makan. Untuk pertama kalinya lelaki itu makan masakan Yuri. Saat menyantapnya mengingatkan Ravi dengan masakan rumahan yang selalu dibuat ibunya.

Kepala Ravi terangkat melihat ibu tirinya yang tersenyum lembut lalu mulai makan bagiannya.

“Kemarin aku menyuruh seseorang untuk membersihkan barang-barang abeoji di apartement daerah Gangnam. Di sana aku menemukan secarik surat dari Kwon Jiyoung.”

Mendengar nama suami pertamanya menghentikan Yuri makan. Wanita itu melihat Ravi dengan ekspresi terkejut.

“Kwon Jiyoung adalah…”

“Suami pertamamu. Ya aku tahu siapa dia. Dalam surat itu dia meminta maaf pada abeoji karena sudah merebutmu dari abeoji. Jadi sebelum menikah kau sudah berhubungan dengan abeoji?”

“Sebenarnya Jaejoong ingin menjelaskannya padamu sejak dulu tapi kau tidak mau tahu apapun yang berkaitan denganku dan kedua anakku. Jadi inilah saatnya kau mengetahuinya. Aku dan Jaejoong Oppa memiliki hubungan yang istimewa sejak kami SMA. 8 tahun kami jalani bersama dan memutuskan untuk ingin menikah.”

“Jika begitu mengapa sejak awal kau tidak menikah dengan abeoji?”

“Karena abeojiku tidak mengijinkannya. Saat aku memberitahu abeoji tentang rencana pernikahan kami, abeoji marah besar hingga membuat penyakit jantungnya kambuh. Menikah dengan Jiyoung Oppa adalah permintaan terakhir abeoji, karena itu aku memutuskan untuk meninggalkan Jaejoong Oppa dan menikah dengan Jiyoung Oppa.”

8 tahun memiliki hubungan yang istimewa membuat Ravi yakin ayahnya sangat mencintai ibu tirinya itu. Sekarang Ravi bisa memahami mengapa ayahnya tidak terlalu peduli pada ibunya serta perlakuan ayahnya yang berbeda pada Yuri. Ayahnya lebih sering tersenyum semenjak menikah dengan wanita yang dicintainya itu.

“Aku akan berangkat sekarang. Terima kasih untuk sarapannya.” Ravi berdiri dan pergi dengan bekal buatan Dahyun.

G.R.8.U

Seperti hari kerja biasanya, Taekwoon benar-benar fokus pada pekerjaannya itu. Bahkan saat ini dia tengah sibuk berbicara dengan seseorang di telpon untuk membahas kerjasama perusahaan. Setelah mendapat kesepakatan Taekwoon pun mengakhiri pembicaraan tersebut.

Baru saja dia meletakkan ponsel lalu terdengar suara ketukan pintu. Taekwoon mendongak ketika pintu dibuka. Jikyung berjalan masuk dengan senyuman manisnya. Dia menghampiri meja kekasihnya yang tampak terkejut.

“Bukankah sudah kukatakan nanti malam aku akan datang ke rumahmu, Jikyung-ah? Saat ini sedang sibuk bekerja.”

“Sayang sekali aku juga sedang bekerja Oppa.” Wajah Taekwoon menunjukkan ekspresi bingung membuat Jikyung ingin tersenyum geli. “Appa mengijinkanku bekerja di perusahaan hari ini. Karena mulai sekarang perusahaan kita sudah bekerjasama jadi Oppa akan sering bertemu denganku.”

Taekwoon menghela nafas mengetahui rencana kekasihnya. Karena dia sudah mengenal Jikyung lama sehingga lelaki itu mengenal betul sifat Jikyung.

“Kau memaksa appamu lagi agar bisa selalu dekat denganku bukan?”

Aniyo. Mengapa Oppa menuduhku seperti itu?” Kesal Jikyung karena perkiraannya salah. Dia pikir Taekwoon akan senang jika mendengar ucapannya namun ternyata tidak.

Taekwoon berdiri dan mendekati kekasihnya yang memasang wajah cemberut. Dia tersenyum lalu mencubit kedua pipi Jikyung gemas.

“Karena begitulah sifatmu Jikyung-ah. Jika kau sudah menginginkan sesuatu kau pasti akan merengek ke appamu lebih tepatnya memaksa appamu sampai kau mendapatkan keinginanmu itu.” Taekwoon sedikit membungkuk untuk menyejajarkan wajah mereka. “Aku sudah mengenalmu sangat lama jadi aku tahu betul bagaimana sifatmu itu.”

“Jadi Oppa tidak suka jika kita akan bekerja bersama?”

“Tentu saja aku suka hanya saja aku tidak bisa fokus pada pekerjaan jika kau ada di dekatku.”

Jikyung menghela nafasnya berat. “Lalu apa yang harus kulakukan Oppa? Aku bosan di rumah sendirian. Appa dan eomma bekerja lalu Jiyeon sedang pergi sekolah dan Oppa juga bekerja. Aku kesepian Oppa.” Keluh Jikyung.

Taekwoon terdiam mendengar Jikyung menyebut nama Jiyeon. Dia jadi teringat ucapan Jiyeon semalam.

Jika saja eonnie kembali lebih cepat. Jika saja aku tidak mengijinkanmu memasuki hidupku. Jika saja kau tidak datang di caffe. Jika saja kita tidak pernah bertemu, maka hati ini tidak akan merasa sakit. Namun sayang sekali namamu terlanjur mengisi hatiku.

Ini salahnya sudah membuat hati Jiyeon terluka. Dia berniat membuat Jiyeon jatuh cinta padanya dengan maksud agar gadis itu ingat padanya. Namun setelah hal itu berhasil dia justru meninggalkan gadis itu untuk kembali pada kekasihnya yang sebenarnya. Jika dipikirkan Taekwoon memang sudah bersikap kejam pada Jiyeon.

Oppa kau mendengarku tidak?” Jikyung mengguncangkan badan kekasihnya untuk menyadarkannya.

Mianhae kau berkata apa Jikyung-ah?”

“Aku kesepian Oppa. Lalu apa yang harus aku lakukan?”

Taekwoon membalikkan tubuh Jikyung dan memeluk gadis itu dari belakang. “Mengapa kau tidak bekerja saja di perusahaan appa, lalu setelah jam kerja selesai aku akan menjemputmu dan kita akan pergi kerumahku untuk merayakan ulang tahun dongsaengku.”

Bibir Jikyung yang cemberut berubah menjadi senyuman. Untuk pertama kalinya kekasihnya itu akan membawa dirinya ke rumah keluarga Jung dan bertemu dengan adik yang selama ini hanya didengar dari cerita Taekwoon.

Jikyung berbalik lalu merangkul leher lelaki itu. “Baiklah aku akan mengikuti perkataanmu. Tapi Oppa janji akan menjemputku ok?”

“Tentu saja.”

Jikyung mencium bibir Taekwoon sekilas lalu berbalik pergi. Taekwoon tersenyum melihat kepergian kekasihnya. Namun setelah Jikyung menghilang dari balik pintu senyuman itu lenyap. Dia kembali ke kursinya lalu menjatuhkan tubuhnya lemas. Senyuman Jiyeon tiba-tiba merasuki pikiran Taekwoon. Meskipun Jikyung dan Jiyeon memiliki wajah sama namun senyuman mereka berbeda. Senyuman Jikyung terlihat ceria dan kekanak-kanakan sedangkan Jiyeon terlihat lembut membuat orang yang melihatnya akan merasa hangat.

“Apa yang harus kulakukan untuk mengembalikan senyuman itu?” Bahu Taekwoon terkulai lemas.

G.R.8.U

Taehyung tengah sibuk melihat-lihat pakaian wanita di salah satu butik. Tak arang lelaki itu mengambilnya lalu dengan ekspresi yang berbeda-beda lelaki itu menilai apakah pakaian itu bagus tidak. Jika bagus dia akan membawanya tapi jika tidak dia akan mengembalikannya.

“Taehyung-ah.” Panggilan dari Jiyeon mengalihkan perhatian lelaki itu.

Jiyeon berdiri dan menunjukkan pakaian yang sedang dicobanya. Kaos putih tanpa lengan dipadukan dengan rok mini hitam membuat kaki Jiyeon hamper terekspose seluruhnya. Meskipun Jiyeon terlihat cantik namun Taehyung tak menyukainya.

“Cobalah ini.” Taehyung menyerahkan pakaian yang sudah dipilihnya tadi.

Wajah Jiyeon tampak kesal karena harus mencoba pakaian lain lagi. Namun gadis itu tetap berjalan ke bilik tempat mencoba baju. Sementara Taehyung kembali mencari pakaian kembali. Tak lama Jiyeon keluar dengan mengenakan dress panjang berwarna merah dengan manik-manik yang berkilauan.

Taehyung memegang dagunya menimang-nimang apakah pakaian itu cocok dengan gadis itu. Lagi-lagi Taehyung menggeleng lalu menyerahkan pakaian lain.

“Terlalu mencolok. Pakai ini. Aku yakin ini cocok untukmu.” Taehyung kembali menyerahkan pakaian yang berbeda.

“Ya!! Sampai kapan aku harus mencobanya terus?” Kesal Jiyeon.

“Ini yang terakhir.”

Jiyeon menjulurkan lidahnya saat Taehyung berbalik pergi.

“Aku akan menciummu jika kau melakukannya lagi.”

Jiyeon segera memasukkan lidahnya kembali mendengar ancaman Taehyung. Dengan kesal gadis itu kembali masuk ke bilik membuat Taehyung tersenyum senang. Sembari menunggu Jiyeon selesai mengenakan pakaian yang dipilihnya, lelaki itu berjalan menuju rak-rak yang penuh dengan sepatu wanita. Sepasang sepatu langsung menarik perhatian Taehyung. Dia mengambil sepatu wedges berwarna coklat muda dengan corak bunga diatasnya. Lelaki itu tersenyum karena sepatu itu akan cocok dikenakan Jikyung.

Lagi-lagi terdengar suara Jiyeon memanggil Taehyung. Kedua sudut bibir Taehyung terangkat melihat penampilan Jiyeon yang terlihat cantik dengan mini dress berwarna pink cerah.

“Aku suka baju ini. Kau terlihat sangat cantik. Pakailah ini.” Taehyung menyerahkan wedges yang dipilihnya.

Jiyeon diam terpaku mendengar pujian Taehyung mengingatkannya pada Taekwoon. Dia pernah melakukan hal seperti ini bersama Taekwoon. Ingatan itu membuat hati Jiyeon semakin sedih.

“Ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” Bingung Taehyung melihat Jiyeon hanya melamun saja.

Jiyeon menggeleng. “Aniyo. Aku akan mengenakannya.” Jiyeon mengambil sepatu itu dan mengenakannya.

Setelah sepasang sepatu itu berpindah di kaki Jiyeon yang ramping lalu berdiri.

“Bagaimana? Apakah terlihat bagus?” Tanya Jiyeon.

png_jiyeon_by_heoconkutecu-d6ovqq0

Taehyung mengangguk seraya mengacungkan kedua jempolnya. “Sangat cocok dengan dress yang kau kenakan. Aku akan mengambil dress dan sepatu yang dikenakan yeoja ini.”

Jiyeon memegang tangan Taehyung. “Apa kau gila? Ini sangat mahal dan aku tak mampu membayarnya.”

“Apa kau tidak dengar? Aku yang akan membayarnya.”

“Hari ini ulang tahunmu tapi kau malah membelikan hadiah untukku. Aku bahkan belum memberimu hadiah.”

“Aku tak menginginkan hadiah apapun darimu karena kau sudah menjadi hadiahku.”

Hati Jiyeon merasa hangat mendengar ucapan Taehyung. Hal itu membuat Jiyeon tak tahan untuk tersenyum senang. Taehyung melepaskan tangan Jiyeon dan membayar apa yang dikenakan Jiyeon. Sedangkan gadis itu menghampiri cermin untuk melihat bayangan dirinya. Benar ucapan Taehyung, dia terlihat cantik dengan dress dan wedges itu.

Detik berikutnya Jiyeon dan Taehyung sudah keluar dari butik itu. Taehyung tak berhenti melihat ke arah kekasih paksaannya.

“Berhentilah menatapku seperti itu.” Jiyeon merasa tidak nyaman dengan tatapan Taehyung.

“Aku tidak bisa berhenti dan tak mau berhenti.”

Jiyeon menghela nafas tak ingin berdebat dengan lelaki itu karena hari ini adalah hari yang istimewa bagi Taehyung. Mengingat hari istimewa, gadis itu ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk lelaki itu.

“Aku ingin memberimu sesuatu. Ayo ikut aku.” Jiyeon menarik Taehyung pergi.

“Kita mau ke mana?”

“Nanti kau juga akan tahu.”

Jiyeon membawa Taehyung ke taman bermain anak-anak. Taehyung bingung melihat anak-anak yang tengah asyik bermain.

“Mengapa kita kemari?”Tanya Taehyung.

Jiyeon mendudukan Taehyung di salah satu ayunan. “Tunggu di sini dan jangan menoleh. Aku akan memukulmu jika kau menoleh.” Ancam Jiyeon.

Gadis itu segera berlari ke belakang Taehyung. Dia memanggil anak-anak yang bermain di sana.

“Adik-adik apa kalian mau membantuku?” Tanya Jiyeon pada anak-anak itu.

Anak-anak itu langsung mengangguk. Jiyeon memberikan ranting-ranting yang berjatuhan pada masing-masing anak lalu dia membagi tugas pada mereka. Jiyeon bersama anak-anak itu terlihat asyik menggoreskan sesuatu di atas tanah. Sering sekali terdengar suara tawa dari Jiyeon atau anak-anak itu membuat Taehyung penasaran.

“Ya! Jangan mengintip, bukankah sudah kukatakan jangan menoleh.” Jiyeon memberikan pukulan ranting di atas kepala lelaki itu.

“Aku hanya penasaran. Bolehkah aku mengintip sebentar saja?”

“Tidak boleh. Belum selesai. Tunggulah sebentar lagi.”

Taehyung hanya bisa bersabar menunggu. 5 menit berlalu dan akhirnya Jiyeon menghampiri Taehyung yang sudah bosan menunggu.

“Tutup matamu. Dan jangan coba-coba mengintip.”

Taehyung menuruti ucapan Jiyeon dengan menutup matanya lalu gadis itu menuntunnya berjalan beberapa langkah.

“Apa aku sudah boleh membuka mataku?” Tanya Taehyung tak sabar.

“Belum. Sebentar lagi.”

Setelah berjalan lima langkah lagi Jiyeon menghentikan lelaki itu. “Kau boleh membuka matamu.”

Dengan senang hati lelaki itu membuka matanya. Taehyung terkejut melihat gambar kue tart raksasa lengkap denga lilin di atas tanah. Lagu ulang tahun dinyanyikan Jiyeon beserta anak-anak. Biasanya hanya ibunya yang akan menyanyikan lagu itu untuknya, tapi sekarang seorang gadis yang istimewa untuk nya lah yang menyanyikan lagu itu.

Mianhae hanya ini yang bisa kuberikan untukmu. Lain kali aku pasti akan membuatkan yang asli untukmu.” Ucap Jiyeon.

“Tahun depan.”

Nde?” Bingung Jiyeon.

“Tahun depan kau harus berjanji untuk membuatkan kue yang asli untukku.”

Jiyeon mengangguk. “Ne aku janji. Sekarang tiup lilinnya.”

“YA! Kau bercanda kan? Bagaimana bisa aku meniup lilin 2 dimensi?”

“Dasar bodoh. Kau bisa saja menghapus nyala lilin itu.”

Taehyung menampakan senyum bodohnya lalu mengikuti ucapan kekasih paksaannya itu. Ulang tahun hari ini begitu berkesan bagi lelaki itu dan dia tidak akan melupakannya.

G.R.8.U

Mobil Taekwoon berhenti di depan gedung perusahaan Lee. Segera Jikyung memasuki mobil itu dengan senyuman manjanya. Setelah kekasihnya itu mengenakan sabuk pengamannya Taekwoon melajukan mobilnya.

“Bagaimana dengan pekerjaan barumu di kantor?” Taekwoon membuka pembicaraan.

“Membosankan. Oppa bahkan tidak membalas pesanku dan tidak mengangkat telponku. Aku jadi tidak bersemangat bekerja.”

“Aku sedang sibuk Jikyung-ah. Beberapa hari yang lalu aku tidak bekerja karena menemanimu karena itu pekerjaan ku jadi menumpuk. Mianhae.”

Jikyung memegang dagunya berpikir. “Baiklah karena alasannya karena aku, jadi aku akan memaafkan Oppa. Oh ya aku sudah membeli kado untuk adikmu Oppa. Tara…”

Jikyung menunjukkan kado yang ada di pangkuannya. “Aku tidak tahu apakah adikmu menyukai skateboard. Tapi sekertarisku bilang kado yang cocok untuk namja yang masih sekolah adalah ini. Apakah dia akan menyukainya Oppa?”

“Entahlah aku tak pernah melihat dia menggunakan skateboard tapi mungkin dia akan menyukainya.”

Jikyung tersenyum senang mendengar jawaban kekasihnya. Lima belas menit kemudian mobil Taekwoon berhenti di depan kediaman keluarga Jung.  Sepasang kekasih itu turun dan hendak berjalan masuk ke dalam rumah. Namun mereka terdiam saat mendengar langkah di belakang mereka. Ekspresi wajah terkejut langsung terlukis di wajah Taekwoon dan Jikyung saat melihat seorang lelaki dan seorang gadis berdiri bergandengan tangan. Secara reflek Jiyeon langsung melepaskan genggaman tangan Taehyung saat melihat Taekwoon.

~~~TBC~~~

Annyeong semuanya……. Author balik lagi nih….. Gomawo sudah ngikutin ff ini jangan lupa untuk komentar ya…. Komentar yang kalian berikan adalah semangat untuk author membuat lanjutan FF ini…

tumblr_mqlw0thsJM1re454io1_250

Iklan

8 thoughts on “(Chapter 8)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s