Behind The Perfection (Chapter 3)

btpikon

Author : Yhupuulievya
Cast : Yoon Nara (OC), Kim Jongin, Oh Sehun, Min Yuri, and many more
Genre : Drama-Romance
Rate : PG-15
Length : Chaptered

Warning for both harsh and swearing words!
~o~

“For her, perfection is imperfection itself—burden that slowly brings her down”

~o~

Chapter 1 | Chapter 2

~o~

 

Kim Jongin berjalan keluar dari sebuh gedung mewah dengan santai, sebuah senyum miring terlukis jelas di bibirnya. Ia berhenti tepat didepan pintu exit lalu bersandar pada dingding bercat hitam mewah. Dikeluarkannya sebatang rokok dari saku jasnya dan tanpa pikir panjang, ia menyalakan rokonya dan menghisapnya dalam-dalam, kepulan asap putih keluar dari mulutnya beberapa detik kemudian.

Kim Jongin terkekeh pelan, merasa sedikit puas karena ia bisa mengacaukan sebuah acara yang sangat penting dalam hitungan detik saja. Bravo man! Padahal yang ia lakukan hanyalah bermain peran. Mengakui seorang gadis—yang bahkan baru ia temui dua kali—sebagai kekasihnya lalu menciumnya didepan semua tamu undangan, hanya dengan itu keluarga Min membatalkan pertunangan mereka. Oh tentu saja, diikuti dengan sebuah tamparan keras dipipi kanannya. Well let it ruined, ia adalah ahlinya dalam mengacaukan sesuatu.

Kim Jongin hendak menghisap kembali nikotinnya saat sebuah tangan mengambil barang itu dan melemparkannya dengan sekejap kedalam tong sampah yang tak jauh dari sana. Kai hendak mengeluarkan kata-kata serapahnya, namun menariknya kembali saap menyadari siapa yang  kini berdiri didepannya, Yoon Nara.

“Oh.. kau?”

“Hanya itu yang ingin kau katakan?” Gadis didepannya kini menatapnya lekat, raut wajahnya terlihat datar namun tatapan matanya menandakan bahwa gadis itu tengah marah saat ini. Well, jika tatapan bisa membunuh, mungkin kini Kai sudah terbaring tanpa nyawa”

“Ayolahh, Thats fun! Don’t you…..

~PLAK

Sebuah tamparan mendarat dipipi kirinya

“Wow.. tamparan kedua yang kudapatkan hari ini” Kai mengangkat sebelas alisnya tanpa menatap gadis didepannya sama sekali, lalu mengusap pelan pipinya yang kini memerah

“Jika kau ingin main-main seperti itu, lakukan sesukamu.. tapi jangan pernah menyeretku kedalamnya” Nada suara Nara memang terdengar sangat tenang, namun tersimpan sebuah ketegasan disetiap kata yang terucap dari bibirnya.

“Bahkan aku tidak mengenalmu sama sekali” Imbuhnya.

Sedari dulu, Nara bukanlah tipe orang yang meledak-ledak, namun sebaliknya ia adalah orang yang bisa mengontrol emosinya dengan sangat baik.

“Sekarang kembalikan ponselku” ucapnya lagi masih dengan raut wajah yang sama

“Ayolah… kau tidak bahagia mempunyai kekasih yang tampan sepertiku?” Kai mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jasnya, namun saat Nara hendak mengambilnya Kai malah menjauhkan benda itu dari jangkauannya

“Mungkin kita bisa melakukan beberapa perjanjian?” tawarnya

“Aku tidak ingin terlibat lebih jauh dalam permainanmu, jadi kembalikan ponselku sekarang juga!” Nara tak memerlukan waktu untuk menolak ajakan pria itu, ia sadar betul tipe orang seperti apa lelaki bernama Kim Jongin ini Dia berbahaya dan Nara tak mau terlibat lebih jauh dalam dunianya.

“Baiklah” Kai memberikan ponsel dalam genggamannya pada pemiliknya

“Tapi ayahku tidak akan melepaskanmu begitu saja, mungkin kau harus melewati beberapa introgasi sebelum benar-benar pergi” Kai memamerkan senyumnya yang menyebalkan, membuat Nara menahan diri agar tak melayangkan tinjunya tepat di wajah lelaki itu.

“Itu bukan urusanku. Go fix the problems by yourself!!” Nara hendak pergi saat sebuah figur kini muncul dihadapnnya, memblok jalannya.

So Miss Nara? Saya harap anda bisa meluangkan waktumu sejenak”

Nara hanya menatap wajah pria didepannya sekilas, lalu berbalik untuk menatap Kai kembali, lelaki itu kini tersenyum nakal padanya, raut wajahnya seolah mengatakan ‘aku bilang juga apa’ Nara memutar bola matanya, kesal.

“Baiklah tuan Kim”

Nara mengikuti pria itu dan kembali memasuki gedung mewah tadi. Dibelakangnya Kim Jongin mengikuti dengan langkah yang ringan, kedua tangannya ia masukan kedalam saku jasnya, raut wajahnya terlihat santai, seolah tak terjadi apa-apa.

Yoon Nara langsung duduk didepan Tuan Kim saat pria itu mempersilahkannya duduk, tak lama setelah itu Kim Jongin duduk tepat disebelahnya. Nara hendak menatap Kai saat Tuan Kim kembali berbicara.

“Baiklah nona, saya tidak mempunyai banyak waktu untuk berbasa-basi, jadi mari kita langsung membicarakan topik inti” Nara menyimak setiap kata dengan seksama, kini bahkan tatapan Tuan Kim berubah mengintimidasi, tak ada keramahan sedikitpun di wajahnya.

“Sejak kapan anda mengenal Kim Jongin?”

“Ah itu…” Nara berubah gelagapan, tak biasanya ia bersikap seperti ini, karena serumit apapun situasinya, ia bisa mengatasi itu dengan baik.

“Kau tau, calon tunangan Kai adalah seseorang dari perusahaan ternama di Paris dan hanya karena kehadiranmu malam ini, mereka membatalkan perjanjian, maksud saya, pertunangan ini. Bisa kau jelaskan maksud dari semua ini? Apa kau sengaja datang tepat saat itu, agar semuanya berakhir dan aku bisa merestui hubunganmu dengan putraku?”

“A… apa?” Nara hampir tak percaya dengan apa yang dikatakan Tuan Kim, ia mengalihkan tatapannya pada Kai, meminta agar pria itu menolongnya karena semua kekacauan ini jelas-jelas berasal darinya. Tapi nihil, pria itu malah sibuk menatap layar ponselnya seolah tak peduli dengan situasi saat ini. Nara mengepalkan tangannya dalam diam, seharusnya ia memang melayangkan tinju tepat di wajah namja itu tadi.

“Maaf tuan.. aku…”

“Kau membuat pacarku ketakutan ayah. Ayolah… kami saling mencintai satu sama lain, dan kau tidak bisa memisahkan kami begitu saja. Aku tidak ingin, kisah ini berakhir tragis seperti Romeo and Juliet” Kini Nara dan Tuan Kim sama-sama melayangkan tatapan tajamnya pada Kai, bagaimana mungkin namja itu masih bisa bercanda dalam keadaan seperti ini?

“Kau diam saja Kai! Tidak ada yang menyuruhmu berbicara saat ini” Tuan Kim menanggapinya dengan serius, Nara memperhatikan raut wajah pria itu, ia yakin kini Tuan Kim tengah menahan emosinya agar tak menghajar putranya detik itu juga.

“Baiklah nona, saya akan mengatakan hal yang sebenarnya kali ini” Tuan Kim kini kembali menatap Nara.

“Hal seperti ini sudah sering terjadi dan wanita sepertimu sudah banyak saya temui untuk mencoba memperbaiki status sosialnya. Tapi hidup ini tidak semudah itu nona, kau tau bahwa saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi begitu saja, kan? Tak ada yang namanya cinta dalam dunia bisnis,  yah.. itu jika kau memang benar-benar mencintai putraku. Tapi aku harap ini bisa sedikit membantumu. Mari kita akhiri permainan kecil kalian saat ini juga” Tuan Kim menyodorkan sebuah amplop setelah mengakhiri kata-katanya. Nara tak perlu bertanya lebih lanjut tentang isi amplop itu. Ia mengetahuinya dengan jelas. Tuan Kim mengira bahwa ia adalah gadis dari kalangan bawah yang sengaja memacari putranya untuk sekedar mendapatkan status sosial. Lucu!

Situasi seperti ini sudah begitu familiar untuknya. Pria itu—Tuan Kim, seperti sebuah refleksi yang jelas dari Ibunya. Sesosok yang mengintimidasi dan mengerikan, dan Nara membenci orang seperti itu. Ia menegakan posisi duduknya, lalu berusaha berbicara dengan tegas. Mengubah nada bicaranya menjadi formal.

“Maaf Tuan Kim, anda tidak perlu memberikan hadiah kecil seperti ini. Saya tidak bisa menerimanya. Saya… Yoon Nara, tidak memerlukan hal kecil seperti ini untuk meraih status sosial. Saya sudah mendapatkannya dan saya yakin anda pernah mendengar mengenai CBU Company” Nara tersenyum tenang, namun didalamnya ia berusaha keras agar tak mengambil amplop itu lalu mengeluarkan uang didalamnya dan melemparkan lembaran-lembaran kertas itu tepat pada wajah Tuan Kim. Seumur hidup, tidak ada yang pernah meremehkannya seperti ini.

Tuan Kim tampak kaget, wajahnya tampak gusar dalam beberapa detik lalu kembali tenang. Pria itu kini tertawa hambar berusaha untuk menetralkan ekpresinya.

“Ah tentu saja saya pernah mendengarnya. CBU Company adalah perusahaan yang terkenal di Korea. Anda adalah orang yang hebat, saya mengerti mengapa putra saya menyukai anda”

Kai terbahak keras setelah itu, seolah ia baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat lucu. Tuan Kim menatap putranya dengan tajam, sebelum kembali berbalik menatap Nara, kini pria itu bahkan tersenyum ramah kepadannya, membuat Nara tersenyum simetris melihatnya.

“Jadi, kapan saya bisa bertemu dengan..”

“Ibuku?” Nara melanjutkan kalimat dari Tuan Kim

“Besok malam, di tempat yang sama. Saya yakin ibu saya akan senang bertemu dengan anda. Faktanya, kalian adalah orang yang memiliki karakter yang sama”

“Dan maaf atas kelancangan saya, tapi mungkin pertemuan untuk hari ini bisa berakhir sampai disini? Saya masih mempunyai banyak hal yang harus dikerjakan” Nara beranjak dari tempat duduknya, berusaha secepat mungkin agar ia bisa keluar dari tempat yang menyebalkan ini. Tentu saja, pria itu akan mengambil kesempatan ini, memperluas jaringan kerjasama bahkan dengan sebuah perusahaan di belahan negara lain adalah sebuah kesempatan emas.

Dengan gontai, Nara melangkahkan kakinya melalui pintu exit. Ia mengeluarkan ponselnya untuk mengetikan beberapa pesan singkat pada ibunya.

To: Mom

Kau tidak perlu khawatir. Aku ada di Paris dan aku tidak akan meminta Oh Sehun untuk kembali padaku. MGC Company, Paris. Kau menyukainya? Meetingnya akan dilaksanakan besok jam 10

Tak memerulukan waktu lama untuk mendapati ponselnya bergetar lagi, Nara tau ibunya akan mersepon secepat kilat saat mendapatkan berita seperti ini.

From : Mom

    Oh sayang… kau berkencan dengan putra dari pemilik perusahaan itu? Aku tau kau bisa mengatasi masalah kita dengan baik. Mungkin kau dan Sehun memang lebih baik untuk berteman saja. Aku senang kau mendapatkan sebuah koneksi baru diParis. Aku akan sampai di sana besok malam. Take Care dear!

Nara memutar bola matanya, ia sudah muak dengan segala hal didunia ini termasuk orang-orang didalamnya. Ibunya, Tuan Kim, Oh Sehun, sahabatnya, semua hal didunia ini penuh kepalsuan. Kadang ia berpikir untuk hidup sendiri dan tak mempercayai siapapun.

Nara hendak bergegas pulang saat sebuah bunyi klakson yang nyaring membuatnya sedikit terkejut. Ia mengalihkan tatapannya pada sebuah mobil silver, yang kini melaju sangat pelan disampingnya.

Yoo baby… masuklah! aku akan mengantarmu pulang” Pemilik mobil itu kini menurukan kaca mobilnya dan saat Nara melihat siapa yang ada didalamnya, ia langsung membuang muka, oh Kim Jongin lagi.

“Tidak perlu. Hanya karena aku memutuskan untuk mengikuti permainanmu bukan berarti aku menyukaimu”

“Ayolah sayang, mungkin kita bisa membicarakan beberapa perjanjian selanjutnya didalam mobil atau…. melakukan beberapa hal lain yang lebih menyenangkan”

Nara kini menghadap kearah Kai dengan wajah yang kesal.

“Pertama, namaku adalah Yoon Nara dan jangan pernah memanggilku dengan panggilan menjijikan seperti itu. Kedua, jangan pernah berbicara kotor seperti itu padaku atau aku akan menendangmu saat ini juga, dan terakhir, aku mengikuti permainanmu karena aku mempunyai alasanku tersendiri, bukan karena aku tertarik padamu. So stop it!” Nara tak bisa lagi menyembunyikan rasa kesalnya, ia datang ke Paris untuk menenangkan perasaan dan pikirannya. Namun, yang ia dapatkan malah masalah rumit lainnya. God….

Okay okay.. whatever. Sekarang masuklah, Aku yakin kau tidak ingin berjalan kaki untuk pulang, kan? Dan kita masih harus membicarakan banyak hal”

Nara kembali menatap Kai

“Aku tidak akan melakukan hal yang buruk. Janji!” Kai meyakinkan Nara namun gadis itu masih enggan untuk masuk kesana.

“Pergilah Kai, aku tidak memerlukan tumpanganmu” Nara masih tetap pada pendiriannya sambil terus berjalan.

“Masuklah! sebelum aku melakukan hal lain untuk membuatmu menurutiku”

“Oh ya? Kau bukanlah ayahku dan aku tidak harus menuruti semua kata-katamu” Nara memutar bola matanya sebelum kembali berjalan, Tuhan… mengapa ada orang semenyebalkan ini?

Gadis itu terus berjalan dan bahkan mempercepat langkahnya, berharap agar Kai mau menyerah sekarang juga. Saat ia merasa bahwa lelaki itu tak mengikutinya lagi, Nara sedikit bernafas lega, ia hendak mengucap syukurnya saat sepasang lengan kekar menyentuh pinggangya lalu dalam beberapa detik ia seolah terbang. Damn it! Kim Jongin menggendongnya di bahu dan membawanya kembali kearah mobil lelaki itu yang di tinggal tak jauh dibelakang sana.

“Turunkan aku!”

“KIM JONGIN!” Nara berteriak spontan, tidak biasanya ia meluapkan emosinya apalagi dengan nada tinggi seperti itu, namun apa yang kini tengah dilakukan Kai benar-benar membuatnya kesal, semakin kesal saat ia menyadari bahwa orang-orang kini tengah menatapnya.

“KAI!!!!” Nara kembali memberontak, namun lelaki itu tak mau mendengar dan malah tertawa kecil.

Well Yoon Nara, catatan lainnya untukkmu malam ini.

‘Do not Challenge Kim Jongin ever again, or else you will get in trouble.’

~O~

Sinar matahari menyeruak menyusup sela-sela jendela, menyinari sepasang mata yang masih tertutup dan kini terbaring nyaman ditempat tidur berukuran jumbo. Alih-alih bangun karena merasa terganggu dengan silaunya, lelaki itu malah semakin membenamkan kepalanya pada bantal putih lalu memeluk erat guling yang sudah berada dalam dekapannya.

“Kau harus membangunkannya sekarang” terdengar sebuah suara di pojok ruangan, memecah keheningan yang sedari tadi mendominasi

Dua orang ajhumma dengan pakaian maid yang lengkap kini saling menatap, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan kegaduhan yang berarti. Kini wajah mereka terlihat bingung.

“Kau tau bahwa Tuan muda Kim tidak suka jika seseorang menganggu tidurnya”

“Tapi kau bilang Tuan menyuruhmu membangunkannya jam 9 dan Sun-ah, sekarang sudah pukul 10”

“Itu dia! Aku harus membangunkannya sekarang, tapi kau tau bagaimana murkanya Tuan Kim minggu lalu saat Heebum membangunkannya, padahal Tuan sendiri yang memintanya” Sanggah wanita tengah baya yang dipanggil Sun itu.

“Kau benar.. dan semua itu berakhir dengan pemecatan”

Kini keduannya semakin menunduk, belum menemukan solusi yang tepat, atau mungkin memang tidak ada solusi sama sekali.

“Oh.. mungkin opsi manapun yang aku pilih, hari ini sepertinya akan menjadi hari terakhirku bekerja” Sun kembali berbicara.

“Sun-ah… jangan sepert…”

Belum selesai wanita disampingnya berbicara, sebuah nada dering yang nyaring membuyarkan obrolan mereka, keduannya sedikit terlonjak merasa kaget. Dalam persekian detik wajah mereka berubah tegang, namun tak ada yang bisa mereka lakukan memang, selain berdiri mematung disamping tempat tidur dan menunggu detik-detik menyeramkan yang mereka yakini akan terjadi tak lama kemudian.

Lelaki yang masih terbaring nyaman ditempat tidurnya kini melenguh, sedikit terganggu dengan bunyi nyaring yang berasal dari ponselnya. Ia membalik badanya, semakin membenamkan kepalanya pada bantal putih miliknya, lalu menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya beberapa detik kemudian.

“Shit!” Lelaki itu mengeluarkan kata-kata kutukannya saat dering ponselnya tak mau berhenti     .

Ia menendang selimutnya dengan paksa lalu menyambar ponselnya secepat kilat.

“Damn it! Can’t you…”

“Kim Jongin, jika kau tidak ada disini dalam waktu satu jam. Aku akan membatalkan semuanya”

Tuttuttutttt

Shot! Seolah tertembak reality, Kai membuka matanya dalam sekejap, lalu menantap ponselnya dengan ekspresi yang kosong, berusaha mencerna segala hal yang baru saja terjadi.

Oh man… siapa lagi gadis yang nada suaranya terdengar dingin seperti butiran salju dibulan Desember? Tentu saja! Itu Yoon Nara dan gadis itu menghubunginya karena ia sudah terlambat satu jam untuk menghadiri pertemuan mereka. Kai menyadarinya begitu ia mengecek jam yang tertera di layar ponselnya.

Kai menghela nafas berat lalu mengetik beberapa pesan singkat sebelum menaruh ponselnya kembali.

Will be there in 30 minutes, wait for me baby

Ekspresinya yang tadi kosong kini berubah cerah, ia terkekeh pelan, meyakini bahwa gadis itu akan mengomelinya nanti, bukan karena keterlambatannya, tapi karena ia baru saja memanggilnya ‘baby’ Haha… biarkan saja! Toh ia senang bermain-main dengan Yoon Nara.

Kai hendak turun dari kasurnya saat ia melihat dua maid di Mansionnya kini tengah berdiri disana, menundukan kepala.

“Tuan… ma..”

“Apa yang kalian lakukan disini?” Kai memotong kata-kata bibi Sun

“Kerjakanlah hal yang lain, ah tidak! kau tidak perlu menyiapakan sarapan pagi hari ini, aku akan pergi sebentar lagi, kau boleh menikmati udara pagi atau berjalan-jalan sebentar. Bukankah ini hari yang cerah?” Kai mengedipkan matanya sebelum menuruni Kasurnya, lalu menepuk bahu bibi Sun dengan pelan sebelum berjalan menuju Kamar mandi, meninggalkan mereka berdua, yang kini saling menatap dengan kerutan halus di dahi mereka, tentu saja… merasa kebingungan.

~O~

Seoul, 09 PM

“Yo man!” Sebuah tepukan ringan mendarat dibahu Oh Sehun, lelaki itu lalu memutar bola matanya malas saat menyadari siapa yang baru saja mengejutkannya.

“Kau baru saja menganggu makan malamku yang tenang!”

Lelaki tinggi yang baru saja datang itu kini reflek terbahak

“Makan malam yang tenang? Kau pasti bercanda! Kau lebih terlihat seperti orang kesepian yang duduk dipojok ruangan sambil merenungi nasibnya. Kau tampak menyedihkan, Sehun-ah!”

Sehun semakin menatap hyungnya sebal, kalimat barusan yang terlontar sama sekali tak membuat moodnya membaik, menambah runyam malah.

Wow thanks! Kau membuatku tersanjung dengan kata-kata jujurmu!”

“Ayolah… aku datang kemari untuk menemanimu”

“Dimana antek-antekmu? Kau biasanya pergi kemanapun dengan mereka”

“Oh.. Suho dan Baekhyun, mereka sedang bermain bowling seperti biasa. Aku seharusnya berada disana sekarang, tapi aku lebih memilih untuk menemanimu. See? Aku adalah hyung terbaikmu”

Thank you Chanyeol

“Hyung… kau harus menambahkan hyung dibelakangnya, dasar tidak sopan!” Lelaki yang dipanggil Chanyeol itu kini memukul kepala Sehun dengan sumpit.

“Aww!!.. oke oke! Thanks hyung!

“Jadi…” Chanyeol ragu-ragu untuk meneruskan kalimatnya, namun ia tak bisa berhenti disana, kini Sehun melihat kearahnya, mengantisipasi kalimat selanjutnya.

“Jadi… kau benar-benar putus dengan Nara?”

Chanyeol tidak yakin dengan pertanyaannya tapi ia tahu, lelaki itu memerlukan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.

“Begitulah…”

“Dan kau menyesalinya”

“Aku tidak tahu, aku..”

“Itu bukan pertanyaan Sehun, itu adalah sebuah pernyataan dan ya! Kau terlihat sangat menyesal”

Chanyeol memandang dongsaengnya lekat dan saat tak ada satpun kata yang keluar dari Sehun, ia kembali melanjutkan kata-katanya, sambil menyeruput ekspresso yang jelas-jelas bukan miliknya.

“Kau tau? Kadang lebih mudah untuk membaca perasaan orang lain dibanding perasaan kita sendiri dan aku bisa membaca dengan jelas segala penyesalan dan kekecewaan dimatamu, kau tidak perlu menyangkalnya. Ayolah.. apakah kau benar-benar merasa malu untuk berterus terang padaku?”

“Bukan begitu hyung… aku, aku masih merasa bingung dengan segala hal yang baru saja terjadi. Nara memutuskan hubungan kami dan rasanya tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Aku pikir aku akan baik-baik saja, bahkan saat aku masih bersama Haerin, aku bersikeras untuk memutuskan hubungan ini dan saat semua ini benar-benar terjadi.. rasanya..”

“Kau masih berhubungan dengan Haerin?” Chanyeol membelalakan mata

“Tidak! Tentu saja tidak! Gadis itu ingin aku kembali pada Nara, kami mengakhiri semuanya dihari ulang tahunku, aku berencana untuk berterus terang pada Nara dan meminta maaf. Aku ingin memperbaiki segalanya tapi… terlambat”

Chanyeol menggelangkan kepalanya tak percaya.

“Kau buta atau bagaimana? Semua lelaki disekolah mau melakukan apapun hanya untuk menjadikan Nara sebagai kekasihnya dan disinalah Oh Sehun, menyianyiakan si gadis impian semua lelaki.. Aku tidak tahu kalau kau bisa menjadi sebodoh itu Sehun-ah”

Sehun hendak menyanggah namun lelaki tinggi itu kembali berucap

“Apakah aku boleh mengejarnya saat Nara kembali nanti?”

“Kau gila?” Sehun melotot kearah hyungnya dan melemparkan tisu yang sedari tadi berada disamping mangkuk ramyunnya.

“Kau cemburu”

“Aku…”

“Kau cemburu Sehun-ah, aku tidak tau apa yang merasuki otakmu tapi apa yang sudah kau lakukan benar-benar keterlaluan, aku tidak akan membelamu meski kau dongsaeng kesayangannku. Tunggu… biarkan aku bertanya sekali lagi”

Sehun merespon pertanyaan Chanyeol dengan sebuah anggukan ragu

“Apa yang kau rasakan saat Nara meninggalkanmu?”

“Aku… aku tidak tahu hyung! Semua perasaanku bercampur aduk, aku terus memikirkannya sepanjang malam, aku menghubunginya dari waktu ke waktu, aku merasa bersalah dan… kosong. Saat pagi datang, aku mengaharapkan kehadiranya dan menemaniku sarapan pagi seperti biasa, aku merindukan momen dimana aku akan menghubunginya setiap malam sebelum tidur dan dia seharusnya ada disini malam ini, kami selalu menghabiskan sabtu malam bersama. Aku tidak terbiasa tanpa kehadirannya dan aku… aku merindukannya”

Chanyeol tersenyum puas mendengar jawaban Sehun

“Baiklah, sepertinya kau tidak terlalu brengsek. Dan beritahu aku, bagaimana perasaanmu saat mendengar Haerin pindah sekolah?”

Sehun tertegun dan saat itulah kenyataan menghantamnya. Ia tak terlalu memikirkan hal itu karena pikirannya hanya terpusat pada Nara. Bagaimana bisa? Bukankah ia selalu berpikir bahwa Haerin adalah gadis yang ia cintai? Lalu mengapa kepindahannya beberapa hari yang lalu sama sekali tak menimbulkan kesedihan yang berarti? Oh God…. apakah itu berarti

“Kau tak bisa menjawab” suara Chanyeol membuyarkan lamunanya

“Tapi aku bisa membaca semuanya melalui sorot matamu” Chanyeol tersenyum lembut

“Dengar Sehun, aku seharusnya tak mengatakan ini mengingat Nara akan marah jika aku memberitahu orang lain, tapi melihat bagaimana menyedihkannya kau sekarang, aku rasa aku tak bisa merahasiakannya lagi darimu. Nara akan pulang kemari dua hari lagi, minta maaflah padanya dan perbaiki semuanya. Jika kau menjelaskannya dengan baik-baik, aku yakin dia bisa mengerti. Ini akan sulit memang, aku tidak mengatakan dia akan memaafkanmu semudah itu, tapi mengingat kalian sudah saling mengenal dari sejak kecil aku yakin setidaknya dia tidak akan benar-benar mengeluarkanmu dalam kehidupannya. Ah! Dan jangan lupa, jemput dia dibandara dan bawakan hadiah untuknya. Bunga akan sangat pas. Para gadis suka itu!”

Chanyeol beranjak dari duduknya lalu menepuk pundak Sehun pelan

“Good luck man!”

~O~

Paris 10.40 AM

Disebuah kafe yang sangat ramai, Yoon Nara menyeruput secangkir kopi yang beberapa waktu lalu dipesannya. Ia melirik jam tangannya dan mendesis lagi, gadis itu mempunyai perjanjian dengan Kai jam setengah sepuluh dan sekarang jam yang melingkar ditangannya hampir menunjuk angka 11. Nara menghela nafas, seharusnya ia tahu bahwa orang seperti Kai pastilah akan terlambat, ia harusnya lebih santai dan tak terburu-buru tadi pagi.

“Benar-benar…” Nara memandang kesekitar, kafe ini semakin ramai dari waktu ke waktu mengingat ini adalah weekend dan orang-orang datang untuk melepas penat atau sekedar menikmati kopi sepertinya, menenangkan diri.

Nara menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia tak suka menunggu dan tempat ini terlalu ramai untuk seleranya, membuatnya tak nyaman sama sekali. Baiklah.. jika lelaki itu tak hadir dalam kurun waktu setengah sejam kedepan, ia akan pulang saja—putusnya dalam hati.

Ia hendak menyeruput lagi kopinya saat sebuah suara menginterupsinya

“Aku kira kau tak minum kopi”

Nara memutar bola matanya, ia tak perlu melirik untuk memastikan siapa pemilik suara itu, ia tahu persis meski suara itu baru di kenalnya beberapa hari yang lalu.

“Aku masih ingat bagaimana kau mengatakan ‘I don’t drink coffee’ saat kita pertama kali bertemu” Kai duduk didepan Nara setelah ia menyelesaikan kalimatnya.

“Dan kau percaya?” Nara tersenyum sinis

“Itu hanya trik lama agar seorang perayu sepertimu menjauh dariku”

“Wow wow! Aku baru datang dan kau sudah menyambutku dengan… dengan manis?” Kai mengangkat sebelah alisnya.

“Yah… kau baru datang padahal perjanjian kita seharusnya berjalan sejam yang lalu”

Kai tersenyum setengah menggoda dan setengah malu

“Ayolah sayang, I’m not a morning person. Tidak bisakah kau mengerti itu?”

Nara menatap Kai tak percaya, “I’m not a morning person?” seriously? Tak bisakah lelaki itu mencari alasan lain yang lebih masuk akal dan setidaknya bisa diterima?

“Aku tidak tau apa yang ayahmu lihat darimu, Jelas-jelas perusahaannya akan bangkrut jika pewarisnya adalah orang sepertimu”

That’s the point! Aku akan senang jika perusahaanya bangkrut. Kau tau apa artinya itu? Itu artinya… aku bebas!” Kai tersenyum tanpa raut bersalah sama sekali membuat Nara menatapnya heran, ia tau lelaki itu adalah seorang player, seorang badboy, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa Kim Jongin juga adalah orang yang… sedikit ‘kacau’.

Nara menggelangkan kepalanya lalu menyodorkan selembar kertas pada Kai, tulisan yang diketik rapih tercetak disana dan Kai mengambilnya tanpa pikir panjang.

“Jadi ini surat perjanjianmu? Wow!” Kai mengangguk lalu membaca kata perkata yang tertera disana.

Kau harus menjaga perjanjian ini tetap rahasia, tidak boleh ada seorangpun yang mengetahuinya termasuk anggota keluargamu atau orang terdekatmu sekalipun.
Tidak boleh memanggilku dengan panggilan menjijikan seperti, Baby, sayang, darling, dear, honey, dan semacamnya.
Tidak boleh menyentuhku apapun alasannya.
Harus menjaga jarak denganku dan tidak…
Kai menggelangkan kepalanya lalu menyerahkan kembali kertas itu pada Nara.

“Aku tidak mau melakukannya”

“Kau gila?” Nara terlihat tak senang

“Segala hal yang kau tuliskan disana sama sekali tidak masuk akal” Kai mengerutkan dahinya

“Walau bagaimanapun aku harus tetap menjaga diriku dari orang sepertimu. Belum seminggu mengenalmu, hidupku sudah setengahnya kacau”

“Ayolah Nara… kita sedang berperan sebagai sepasang kekasih dan kau mau aku melakukan semua hal itu? Tidak akan ada orang yang percaya. Bahkan ayahku maupun keluarga Min Yuri akan meragukan hubungan pura-pura kita dan semuanya akan sia-sia. Aku hanya perlu kau berakting sebagai pacarku untuk tiga bulan agar aku bisa meyakinkan semua pihak. Setelah itu kau bebas”

Nara masih terdiam

“Aku tidak tahu mengapa akhirnya kau memutuskan untuk masuk kedalam permainanku, tapi aku yakin kau mempunyai tujuanmu sendiri, bukan begitu? Orang sepertimu tidak akan melakukan semua ini hanya untuk sekedar bermain-main atau semacamnya” Imbuh Kai dengan yakin

Nara mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Kai dan semua itu memanglah benar. Nara menerima tawaran lelaki itu karena ia mempunyai tujuannya tersendiri, ia membutuhkan peran Kai sama seperti Kai membutuhkan perannya. Nara tak bisa terus lari dari ibunya dan ia tak bisa kembali pada Oh Sehun, selain itu ia tak bisa kembali ke Seoul dan membiarkan orang-orang memberikan tatapan ‘menyedihkan’ padanya atas pengkhianatan yang Sehun lakukan. Tidak.. Nara tidak suka terlihat seperti itu dimata orang lain dan karena itulah ia membutuhkan Kai. Mereka saling membutuhkan, layaknya sebuah hubungan mutualisme yang sama-sama menguntungkan.

Nara kembali melirik Kai dan menghela nafas beratnya

“Baiklah… aku akan merubahnya”

That’s right baby! Kau harus merubahnya” Mata Kai kini berbinar

“Perjanjiannya tetap seperti itu Kai, hanya saja kini kau mendapat pengecualian saat kita sedang bersama orang lain”

Nara mendelik sebal dan Kai tersenyum semakin lebar

“Itu berarti aku boleh melakukannya kecuali saat kita sendirian?”

“Ya dan tidak ada siapapun yang kita kenal disini, jadi berhentilah memanggilku dengan panggilan menyebalkan itu”

“Oke Oke, deal!” Kai kembali menarik kertas perjanjian milik Nara dan segera menandatanganinya, meski sebenarnya ada beberapa poin yang belum ia baca.

“Berikan milikmu” Perintah Nara

“Hmmm?”

“Kertas perjanjianmu, berikan padaku agar aku bisa menyetujuinya sekarang dan segera pergi” Nara berujar ketus.

Well, aku tidak menyiapkan apapun” Kai berujar tanpa dosa

“Kau benar-benar…..”

“Unbelievable!” imbuh Nara frustasi

“Hey… itu bukanlah sesuatu yang rumit. Aku bisa menulisnya sekarang”

Kai membalik  kertas milik Nara dan menuliskan sesuatu disana. Hal itu membuat Nara kehilangan kata-katanya. God… tak ada seoarangpun dalam hidupnya yang menyerupai Kim Jongin.

“Ini…” Kai menyerahkan kertas itu pada Nara

Jangan pernah jatuh cinta padaku

Nara tertawa lucu membacanya, apa lelaki itu sedang bercanda? Tanpa dimintapun ia akan melakukannya dengan suka rela, lelaki seperti Kim Jongin adalah tipe yang paling ia hindari dari segala tipe pria yang ada di muka bumi ini dan untuk tak jatuh hati pada seorang Kim Jongin adalah hal yang paling mudah yang bisa ia lakukan.

“Kau tau Kai? Aku bisa melakukannya tanpa kau minta” Nara menggelangkan kepalanya lalu menandatanganinya tanpa pikir panjang

“Benarkah? Itu bagus!” Kai terlihat serius, tapi Nara bisa menangkap arti lain dari sorot matanya, meski ia tak yakin apa itu. Lagipula, sepertinya memang Kim Jongin adalah tipe orang yang komplex. Bagaimana tidak? Beberapa detik yang lalu ia adalah perayu yang handal dan detik kemudian ia berubah menjadi serius.

Nara mengerutkan dahi, meski sebenarnya ia sudah tahu bahwa tipe lelaki seperti itu memang biasanya memiliki banyak rahasia, tapi itu tetap membuatnya sedikit bngung, dan sikap yang Kai tunjukan padanya mungkin saja hanyalah sebuah topeng, ia merasa setengahnya hanyalah kepalsuan, who knows.

“Ayolah… jangan salah paham. Aku menyukaimu Nara dan jika aku harus jujur, kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. Tapi cinta adalah hal yang sia-sia dan..”

“Kau tidak perlu menjelaskan itu sama sekali Kai, lagipula aku tidak menyukaimu sedikitpun. Semua hal ini hanya didasarkan pada perjanjian. I’ll keep that in mind and I hope you will do the same.” Nara memotong kalimat Kai dan segera menarik tas selempang kecilnya dari meja, lalu beranjak dari duduknya untuk segera pergi.

“Take care honey!”

Nara hendak berjalan pergi namun kembali berbalik saat mendengar Kai kembali berbicara yang tidak-tidak, ia memberikan tatapan mematikannya pada lelaki itu.

“Just kidding” Kai terkekeh pelan

“Womanizer!” Nara bergumam pelan sebelum benar-benar berlalu meninggalkan Kai. Lelaki itu kini mengambil surat perjanjian mereka dan mengamatinya dengan sorot mata yang rumit.

Uh-oh! Ia baru saja menyuruh gadis itu untuk tak jatuh cinta padanya. Careful Kai… jika cinta adalah hal yang sia-sia untukmu, jangan salahkan karma jika suatu hari ia memutuskan untuk bermain-main denganmu.

~O~

Belum di edit dan sebenernya udah selesai dari jauh-jauh hari. Maaf baru punya waktu buat ngepost, and as always, comment is loved !

One thought on “Behind The Perfection (Chapter 3)

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s