[FICLET] Ex-Childhood Friend

Ex-Childhood Friend

a ficlet by reenepott

Choi Minho – ParkMinri (charismagirl) | Romance, Fluff

PG WARNING ALERT! Explicit words, kissing scene.

__

“Bukannya kalian dekat sekali waktu kecil? Aku ingat Minri sama sekali tidak mau lepas dari Minho,”

“Kami hanya menyampaikan harapan kami. Mengingat dulu kalian begitu dekat, apa salah kalau kami berharap suatu saat nanti kalian akan menikah?”

Flashback

Stop there, little girl. Minri-ya, kau harus mandi dikamar mandimu sendiri, sayang,” bujuk seorang ibu berusia tiga puluhan, pada anaknya yang merengek tidak ingin mandi.

“Whyyy?” Bocah itu masih merengek. “Dulu aku selalu mandi bersama Minho, kenapa sekarang tidak boleh?” Jung Minri, bocah yang menginjak usia 5 tahun itu makin merengut. Dia sangat suka sekali dengan tetangganya, Choi Minho yang beberapa tahun lebih tua darinya. Dulu, waktu mereka masih sangat kecil, mereka suka mandi bersama dan menurut Minri itulah saat dimana mereka bisa benar-benar bermain. Minri sangat suka main air.

Stop it, Minri. Dan panggil Minho ‘oppa‘. Kalian sudah cukup besar dan kau harus sadar kalau perempuan tidak boleh mandi bersama dengan laki-laki, sayang!” Sang ibu berusaha mengajak putrinya untuk mandi sendiri, meninggalkan bocah laki-laki yang sedang tersenyum memegang bolanya. “Minho-ya, kau juga harus pulang ke rumah,”

Ne, eomoni. Kau mandi dulu, Minri, setelah itu kita main lagi!”

Mendengarnya, Minri merengut. Ia akhirnya menuruti ibunya, pulang ke rumah dan mandi, tapi ia tidak tahan kalau tidak mengoceh.

“Kapan aku boleh mandi bersama lagi? Nanti setelah besar? Atau kapan?”

Sang ibu, hanya bisa menghembuskan napas lelah. “Tidak akan lagi, sayang. Kalau sudah besar, mandi bersama itu hanya bisa dilakukan oleh mommy dan daddy,”

Minri kecil berpikir keras, “Maksud mommy menikah? Baiklah! Aku akan menikah dengan Minho agar bisa mandi bersama lagi!” Pekiknya riang dan seketika menghadap ke belakang. “Minhoo! Kalau sudah besar ayo menikah supaya bisa mandi bersama lagi!!”

Flashback end

Minri mengingat kejadian itu. Astaga. Betapa naif dan polosnya dia waktu itu. Kenapa dia melakukan hal memalukan seperti itu sih? Rasanya dia ingin menenggelamkan diri ke gilingan semen jika ibunya membahas keinginan masa kecil yang aduhai memalukannya.

Semoga ibunya tidak ingat lamaran bodoh yang dilontarkan bocah tak tahu apa-apa dan tak tahu malu itu. Semoga Minho juga lupa… Ah dia pasti sudah lupa. Sudahlah Minri, kau jangan terlalu khawatir soal itu. Sudah belasan tahun berlalu dan semuanya akan terlupakan meskipun mereka sekarang mengadakan reuni makan malam bersama di kediaman Minri.

“Tenang saja, kami tidak akan memaksa kalian. Kalian bisa berteman, tapi kalau lebih dari itu kami akan sangat senang,” suara Mr. Choi mengalihkan pikiran Minri yang masih blank. Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan masih mendapati wajah yang sama di meja makan itu selama dua jam terakhir. Ibunya, ayahnya, beserta Minho dan kedua orang tuanya.

“Kalian kan sudah lama tidak bertemu. Mulailah dari berteman,” Minri mendongak ketika mendengar ibunya berbicara, tapi berusaha diam ketika ibunya gantian menatapnya penuh arti.

Iya. Jadi Park Minri kembali bertemu dengan Choi Minho setelah tujuh belas tahun tidak bertemu! Bayangkan, sekarang Minri sudah kuliah semester enam dan entah Choi Minho ini bagaimana kabarnya! Tujuh belas tahun lalu, si Choi sialan Minho itu pindah entah kemana, dan sekarang Minri tidak terlalu peduli.

Dan acara makan malam keluarga ini benar-benar seperti reuni. Minri mulai pusing mendengar pembicaraan orangtuanya tentang saham, dan Minho yang nampaknya cakap dalam hal itu. Minri juga mulai pusing ketika dikenalkan lagi pada Minho.

“Baiklah, kurasa kami harus membicarakan sesuatu di ruang kerja ayahmu, Minri. Kalian bisa mengobrol dan mengingat masa lalu,” ujar Mr. Choi lagi, Minri tidak terlalu memerhatikan pembicaraan sebelumnya. “Minho, jaga Minri ya,”

Minri menghembuskan napas berat. Sedari tadi mulai pertemuan, Minri tidak pernah berusaha menatap Minho. Kenapa? Hell. Itu bukan Choi Minho teman masa kecilnya. Yang berada di dekatnya sekarang bukan bocah penyayang yang asik banget diajak main tembak-tembakan, tapi sudah menjadi seorang pria dewasa yang sangat—apa ya? Minho seperti seorang yang siap dengan segala hal, atau, seperti those-egoistic-arrogant-young-billionare-but-freaking-hot-and-sexy-as-hell yang biasanya Minri baca di situs Wattpad. Dan itu benar-benar menjengkelkan.

Tadinya Minri pikir Minho akan menjadi seorang pria humble yang menyenangkan dan penyayang. Tapi sekarang lihatlah disini. Seorang pria dengan tuksedo hitam yang bertubuh tegap dan ramping. Wajah dan kontur rahangnya keras—sangat maskulin, mengingatkan Minri pada model-model Calvin Klein, hanya saja ia membayangkan modelnya orang Asia. Dan Minri yakin, dibalik tuksedonya yang gagah itu ada lengan dengan bisep dan trisep yang kencang, dan ditambah dengan tatapan legam yang tajam itu, Minri benar-benar dibuat blank karenanya.

Astaga. Teman masa kecilnya yang dulu mengajaknya menangkap kodok, berburu kumbang, menyeburkan bebek ke kali, ngejer-ngejer ayam, atau mainan busa sabun cuci piring, menjelma jadi cowok tampan nan seksi begini?! Pikiran Minri mulai melantur kemana-mana ketika orang tua mereka bersiap pergi dengan diam, memberikan waktu sebentar padanya untuk mencerna apa yang terjadi.

Keheningan yang canggung semakin pekat tercium terlebih setelah mereka benar-benar hanya berdua di meja makan itu.

“Hei, apa kau mau berbincang di teras? Sepertinya langit cerah malam ini,”

Minri pasti ngakak hebat jika ia selalu dekat dengan pria ini dan mendengarnya berkata seperti itu untuk memulai percakapan. Tapi karena ini pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah berbelas tahun, mendengar suara berat baritonnya entah kenapa membuat perut Minri tergelitik yang membuatnya lemas seketika. Ia tak bisa melakukan hal lain selain mengangguk dan memaksakan dirinya untuk cepat sadar akan sekelilingnya dan mengikuti pria itu ke teras depan rumah.

“Kau sudah punya pacar atau belum?” Belum saja Minri benar-benar sampai di teras, Minho yang sudah berdiri-ala-bos-eksekutifnya langsung melayangkan pertanyaan lain yang membuat matanya melotot. Apa-apaan itu?!

“Untuk apa tanya-tanya?” Balas Minri sedikit kasar, membuatnya kaget sendiri karena mengeluarkan nada seperti itu. Tapi bukannya tersinggung, Minho malah tersenyum miring yang nampak lebih seperti smirk setan.

“Memangnya kau yakin kedua orang tua kita benar-benar akan membiarkan kita ‘untuk berteman saja’?” Balasnya balik dan Minri tidak mengatakan apa-apa. “Kau sudah punya pacar atau belum?”

“Sudah,” jawabnya spontan, tapi itu bohong total. Tidak bohong sih, maksud Minri pacarnya itu poster Adam Lavinge besar-besar yang menghias dinding kamarnya.

“Oh ya?” Tanya Minho pura-pura terkejut. Minri merengut.

“Ya,” tegasnya makin yakin. “Kau sendiri? Kau juga pasti sudah punya pacar,”

Nampaknya pertanyaan Minri memang ditunggu-tunggu Minho, dilihat dari senyum arogannya yang mengembang. “Oh, percayalah, aku hanya setia pada seorang wanita,”

Ujung bibir Minri berkedut. Baguslah. Tapi entah kenapa pemikiran kalau Minho punya pacar membuatnya sedikit risi. Well, semoga saja karena faktor Minri jomblo. “Kau seharusnya begitu,” jawab Minri, suaranya terdengar jauh. “Jadi setidaknya kita punya alasan untuk menolak apabila kedua orangtua kita mencoba mendekatkan kita,”

Minri berjengit ketika Minho melangkah mendekat padanya, jarak mereka sekarang hanya setengah telapak kaki. Wajah pria itu menunduk menatapnya, lalu mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka sejajar. “Kau yakin?”

Minri cemberut. Apa-apaan sih? Ia langsung mengambil langkah mundur. “Apa maksudmu? Jelas kan, aku dan kau sama-sama punya pacar masing-masing. Pertemuan ini tak ada gunanya,”

“Oh, kau tidak mau tahu siapa pacarku?” Minri melengos mendengar pertanyaan yang terdengar dibodoh-bodohkan itu.

“Menurutmu?” Jawab Minri jengah. Astaga, apa dia harus menanyakan itu? Berbincang disini nampaknya benar-benar tak berguna, Minri memutuskan untuk pergi. Tapi begitu ia membalikkan tubuh, tangan Minho menyambar sikunya dan menariknya mendekat.

“Aku pikir kau mau tahu?”

Oh, tanpa diberitahu sepertinya Minri sudah tahu. Tipe-tipe seperti Minho, yah, model cantik yang seksi dan glamor, Godess to the ass. Tidak jauh-jauh dari situ. Tadinya Minri sudah menyiapkan kata-kata pedas yang bisa dilontarkannya untuk membungkam mulut Minho, tapi nampaknya tak ada satupun yang bisa keluar.

“Tidak, terimakasih. Kau juga tidak—mph!” Minri berusaha untuk tetap tenang ketika wajah Minho makin mendekat dan BAM!

Dafuq. She lost her first kiss to a stranger!!!

Minho menciumnya. Minho menciumnya!!! Selama dua puluh dua tahun hidup Minri habiskan untuk menjaga bibirnya—bahkan pacar pertamanya saja tak ia berikan bibirnya—mahkluk ini dengan gampangnya merebut golden ticket-nya… Dan oh my GOD!

Minri tidak pernah ciuman jadi ia tak tahu perbandingannya. Yang jelas rasanya berbeda dari guling yang biasanya dia ciumi setiap malam. Bibir itu rasanya hangat, dan lembut, pikiran Minri berputar-putar ketika entah kenapa bibir lawannya bergerak… Dan Minri terpaksa mengimbanginya untuk mendapatkan dominasi. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan jadi ia mengikuti instingnya dengan menutup matanya. Ia merasakan kupu-kupu bertebangan dalam perutnya dan seperti ada aliran listrik yang menyetrum tubuhnya.

Ketika ia mulai merasakan napasnya menipis, tautan mereka akhirnya terlepas. Minri bingung kenapa tiba-tiba ia sudah berada dalam dekapan kokoh pria itu—kedua lengannya menglingkari pinggangnya dan dadanya menempel erat dengan dada Minho—astaga. Dan wajah mereka sangat dekat—Minri kaku mendapati wajah Minho yang masih saja berjarak dekat sekali dengannya, kali ini ia sambil tersenyum miring.

“Kau tahu apa yang lucu? Aku baru mencium pacarku sekarang setelah belasan tahun pacaran. Aneh bukan?”

Minri melotot. Apa-apaan?! Siapa yang bilang mereka pacaran?! Panik, Minri langsung mendorong tubuh Minho dan melepaskan diri dari dekapan posesif pria itu. “Just go to hell!” Semprotnya dan langsung membalikkan tubuh dan pergi.

Tapi Minri kembali merasakan sesuatu menggelitik perutnya, dan wajahnya memanas ketika suara bariton itu ikutan menjawab, “Oh baby, kau masih hutang mandi bersama denganku. Atau, kau marah karena aku baru menciummu sekarang?”

Minri memelankan langkahnya, tapi dia tidak mau berbalik, karena yakin wajahnya pasti semerah kepiting rebus sekarang. Sialan!!! Kenapa dia ingat?!?!?!?! Itu kejadian sudah bulukan didasar memori otak, mana mungkin dia ingat?! Siapa yang mengingatkannya?! Tubuh Minri seketika menjaid kaku ketika sepasang lengan kembali memeluknya dari belakang.

“Heran kenapa aku masih ingat? Oh, aku tak pernah melupakan lamaran yang bersemangat seperti itu. Kupikir, setelah kita dewasa kita pasti sudah tahu aturan mainnya. Kapan kau mau mulai mandi bersama? Mengingat kau ingin sekali mandi bersamaku,” seluruh tubuh Minri bergetar ketika mendengar bisikan dengan suara rendah itu tepat di telinganya.

Inhale, exhale.

Minri menyentakkan tangan Minho menjauh dan berbalik membentak. “Pervert!! Ke laut saja sana!!”

Tapi bukan ini reaksi yang dia inginkan. Bukan Minho yang menatapnya dengan smirk seperti itu yang dia inginkan. Sialaaaan!

“Minri-baby, kau tidak tahu betapa seksinya dirimu saat marah? Masa aku harus menunggu sampai aku menyelipkan cincin di jarimu di depan altar?”

GO TO HELL!!!

END

5 thoughts on “[FICLET] Ex-Childhood Friend

  1. hi thereee!!!

    duh Minho tengil jadi Minho macem badboy player gitu ya wkwkwk. Tapi ngegoda goda Minri ini lucuk sekali. hahahha. ya kalau jadi Minri pasti ngedengernya nyebelin banget. tapi lucu juga digoda goda hahhaa xD

    anyway, ada kata yang mengganjal. Kata “ngejer-ngejer” ayam. entah memang sengaja dibikin begini atau gimana. tapi mungkin lebih enak pakai kata “mengejar-ngejar” kali ya. Mengingat yang di kalimat itu frasa lainnya pakai bahasa baku juga. kalau ngejer itu lebih semacam slang/bahasa daerah gitu, ‘kan? hehhe.

    see ya~

    • Nyehehehe :3 isn’t he adorable? Inginku memasukkan choi minho ke kantong deh wakakakak
      Well… itu disengaja :/ aku memang sedang banyak bereksperimen mencampur slang words di paragraf2 baku supaya kelihatan agak santai. But yeaaaahhhh yang lain emang pake bahasa baku yah, jadi slangnya cuma bener-bener satu dan jadinya aneh. Hehe makasih yaaaaah kritiknyaaa ^0^

      • iya, ditaruh saku biar bisa terus bareng ke mana-mana ya? hahhaha xD
        souka…. pantesan, tapi ya itu karena dia seorang diri ngga ada temennya mungkin jadinya keliatan mengganjal kali, ya? hehhehe

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s