(Chapter 9) G.R.8.U

img1473831208562

img1473830617063

Chunniest Present

^

G.R. 8. U

(Chapter 9)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice) – Park Chanyeol (EXO) –

Kim Hyorin (SISTAR)

^

Previous :

PrologChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5 – Chapter 6

Chapter 7 – Chapter 8

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Demi merayakan ulangtahun Taehyung,  Yoona sengaja memasak banyak masakan kesukaan putranya itu. Meskipun suasana makan terlihat menyenangkan namun tak ada yang menyadari atmosfer aneh diantara Jiyeon dan Taekwoon. Lelaki itu sangat terkejut saat mengetahui adiknya membawa Jiyeon kemari dan mengatakan jika dia adalah kekasihnya.

Lain halnya dengan Yunho yang tampak tidak tertarik jika Taehyung memiliki kekasih. Sedangkan Yoona, sang ibu terlihat lega karena ternyata gadis yang disukai Taehyung bukankah tunangan kakaknya melainkan saudara kembarnya.

“Jadi kau satu sekolah dengan Taehyung, Jiyeon-ah?” Tanya Yoona membuka pembicaraan.

Ne ahjuma. Taehyung adalah adik kelasku.” Jawab Jiyeon.

Yoona melihat Jikyung yang begitu mirip dengan Jiyeon. Keluarga Lee memang sudah menjelaskan jika Jiyeon adalah saudara kembar yang hilang tapi yang tidak wanita itu mengerti mengapa Jiyeon masih sekolah sedangkan Jikyung bekerja di perusahaan ayahnya.

“Jiyeon-ah, bukankah kau dan Jiyung saudara kembar? Tapi mengapa kau tidak bekerja bersama eonnie-mu di perusahaan Lee?” Penasaran Yoona.

“Jiyeon tidak mau eommonim. Dia lebih memilih melanjutkan sekolahnya.” Jawab Jikyung.

“Kau memiliki semangat belajar yang tinggi Jiyeon-ah. Jika saja Taehyung memiliki semangat belajar sepertimu Jiyeon.” Yoona mengatakannya dengan nada bercanda membuat Jiyeon tersenyum geli melihat Taehyung cemberut.

“Taehyung tak mungkin memilikinya. Karena itu dia tidak bisa seperti Taekwoon.” Seketika suasana menjadi tegang mendengar ucapan Yunho.

Untuk pertama kalinya Jiyeon bisa melihat langsung penyebab kebencian Taehyung pada Taekwoon. Tampak rahang Taehyung mengeras menahan amarahnya. Jiyeon mengulurkan tangannya menggenggam tangan Taehyung yang berada diatas pangkuannya. Sentuhan Jiyeon seakan menjadi obat penenang bagi lelaki itu.

Tanpa keduanya sadari Taekwoon terus saja memperhatikan Jiyeon. Bahkan momen pegangan tangan itu pun tak lepas dari tatapan Taekwoon.

“Ayo kita kembali makan. Ini untuk merayakan ulangtahun Taehyung.” Ucap Yoona mencairkan ketegangan diantara mereka.

Untung saja semua orang mengikuti ucapan nyonya rumah dan acara makan malam pun dilanjutkan.

Oppa bisakah kau mengambilkan soup itu?” Pinta Jikyung pada kekasihnya.

Taekwoon pun mengambilkan makanan yang letaknya tak mampu dijangkau oleh Jikyung. Namun tanpa sengaja Jiyeon juga mengambil mangkuk berisi soup itu membuat tatapan keduanya bertaut. Mereka sama-sama tak menyangka kontak seperti ini harus terjadi di hadapan orang -orang. Bagaikan listrik menyambar tangan mereka langsung terlepas sehingga mangkuk itu jatuh mulus ke meja dan kuahnya mengenai dress yang Jiyeon kenakan dan juga kemeja biru Taekwoon. Sontak keduanya langsung berdiri dan menjadi pusat perhatian.

Mi-mianhae. Aku benar-benar ceroboh.” Jiyeon membungkuk meminta maaf.

“Tidak apa-apa Jiyeon-ah. Kecelakaan seperti itu sering kali terjadi. Taekwoon-ah tunjukkan pada Jiyeon dimana letak toiletnya. Biar dia membersihkan diri. Aku akan meminta pelayan untuk membawakan baju ganti.” Perintah Yoona.

Ne eomma.” Jawab Taekwoon berdiri.

Jiyeon membungkuk sekilas sebelum akhirnya mengikuti Taekwoon. Jikyung melihat kepergian mereka dengan perasaan aneh. Entah mengapa gadis itu merasa ada sesuatu diantara Taekwoon dan Jiyeon. Tapi dia langsung membuang perasaan itu dan mulai mengobrol dengan pasangan suami istri Jung.

“Apakah hatimu semudah itu berubah?” Pertanyaan Taekwoon menghentikan langkah Jiyeon.

Taekwoon berbalik dan melihat Jiyeon menatapnya penuh tanya.

“Awalnya aku merasa bersalah padamu saat kau mengatakan jika namaku sudah terlanjur mengisi hatimu. Tapi melihat kau bersama Taehyung tadi, rasa bersalah itu seketika menghilang menyadari jika ucapanmu hanyalah kebohongan untuk melampiaskan amarahmu padaku. Aku…”

PLAKKK….

Sebuah tamparan keras mengenai pipi Taekwoon. Bekas kemerahan tampak jelas di pipi lelaki itu bahkan panasnya tamparan itu tak kunjung hilang.

“Seorang temanku mengatakan jika kau adalah orang yang kejam dan aku setuju dengannya. Kau adalah orang yang tidak memiliki perasaan. Jika kau belum tahu kebenarannya sebaiknya tidak asal menuduhku seperti itu Taekwoon-ssi.” Ucap Jiyeon langsung pergi meninggalkan lelaki itu.

G.R.8.U

“Jadi Chanyeol adalah orang yang menyelamatkan kekasih Taekwoon? Kebetulan yang menguntungkan. Aku akan memikirkan rencana dengan memanfaatkan kebetulan ini. Kerja bagus Jin. Sampai jumpa besok.” Ravi memasukan ponselnya ke dalam saku celana setelah pembicaraannya dengan sekertarisnya berakhir.

Lelaki itu memasuki rumahnya dan melihat Dahyun tengah tertidur di sofa beralas bantal yang menyangga kepalanya. Ravi menatap sekeliling rumah yang tampak sepi. Ini baru jam 9 tapi rumahnya sunyi tak terdengar aktivitas apapun di rumah itu. Biasanya ibu tirinya sedang mencuci piring, Dahyun menonton TV bersama kakaknya, Mingyu. Tapi kali ini hanya terlihat Dahyun saja.

Ravi melangkahkan kakinya lalu meletakkan tasnya di kursi sebelum akhirnya menghampiri Dahyun. Di kedua telinga gadis itu terpasang headphone yang tersambung pada mp3 gadis itu. Ravi mengambil headphone itu dan mematikan lagu yang sedang terputar. Tak ada reaksi apapun dari Dahyun membuat Ravi berpikir gadis itu sudah tertidur pulas.

Tidak tega membangunkan gadis itu, Ravi memutuskan untuk menggendongnya. Postur tubuh Dahyun yang mungil membuat Ravi dengan mudahnya menggendong gadis itu. Lelaki itu berjalan menuju kamar Dahyun yang tak jauh dari ruang tamu.

Dengan kakinya lelaki itu membuka pintu kamar Dahyun. Sesaat Ravi berhenti di tempatnya. Untuk pertama kalinya dia memasuki kamar Dahyun. Kamar yang berukuran sedang itu tampak begitu lembut dengan cat berwarna cream. Seperti halnya kamarnya, kamar itu juga dilengkapi dengan fasilitas TV, DVD player dan lainnya. Kaki Ravi melangkah masuk seraya melihat benda-benda milik Dahyun. Perlahan Ravi menaruh tubuh Dahyun di ranjang.

“Apa aku tidak berat Oppa?”

Ravi terperanjat mendengar suara Dahyun. Dia melihat gadis itu sudah terbangun  dan sekarang dia tersenyum padanya.

“Kau tidak tidur? Jadi kau berpura-pura saja eoh?”

Aniyo. Aku memang tidur hanya saja saat Oppa menggendongku aku jadi terbangun.”  Jelas Dahyun lengkap dengan cengirannya.

“Dan kau hanya diam saja saat terbangun?”

“Aku tidak akan merusak moment langka itu.” Senang Dahyun. “Apa Oppa sudah memakan bekal yang kuberikan?”

Ravi mengangguk kecil membuat bibir Dahyun melengkung. “Bagaimana rasanya? Enak tidak?”

“Lumayan.” Bohong Ravi. Sebenarnya bekal yang dibuat Dahyun sangat enak. Tapi mengutarakan hal yang memalukan seperti itu bukanlah sifat Ravi.

“Hanya lumayan? Padahal aku sudah susah payah membelinya.”

MWO? Jadi kau membelinya? Kau tidak membuatnya sendiri?”

Hanya cengiran yang menjadi jawaban Dahyun. “Kemarin aku terlambat bangun jadi tidak sempat membuatnya sendiri. Tapi aku janji besok aku yang memasak.”

“Tidak perlu aku bisa makan diluar.” Tolak Ravi.

“Aku mohon Oppa, aku benar-benar ingin memasakan sesuatu untukmu.” Mohon Dahyun.

“Baiklah. Tapi aku tidak terima jika kau membelinya.”

Dahyun mengerlingkan satu matanya. “Ok. Oppa tenang saja masakanku tidak kalah dengan masakan restoran.”

“Baiklah sebaiknya aku keluar sebelum eommamu tahu aku disini.” Ravi berbalik.

Eomma tidak ada. Dia pergi menjenguk halmeoni bersama Minggyu Oppa. Jadi kita bisa disini lebih lama.”

Ravi menggelengkan kepalanya mengetahui apa maksud Dahyun. “Jangan bermimpi anak kecil. Aku akan mengunci pintu kamarku rapat-rapat jadi sebaiknya kau melakukan hal yang sama.”

Dahyun cemberut melihat Ravi menghilang dari balik pintu. Namun wajah yang cemberut itu berubah menjadi senyuman tatkala gadis itu mengingat momen saat Ravi menggendongnya. Meskipun kakak tirinya itu selalu bersikap menjauh tapi Dahyun merasa ada perbedaan antara Ravi yang dulu dengan yang sekarang. Dan bagi gadis itu perubahan itu sangat baik untuknya.

G.R.8.U

Taekwoon menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Jikyung. Jiyeon dan Taehyung yang duduk dibagian belakang segera keluar. Dari sudut matanya Taekwoon melihat pergerakan adik kembar Jikyung itu.

Oppa tidak mengantarku ke dalam?” Pertanyaan jikyung menyadarkan Taekwoon akan posisinya sebagai calon tunangan Jikyung.

“Tentu saja.” Taekwoon keluar dari mobil dan segera menghampiri pintu mobil di sisi lain lalu membukakannya.

Jikyung tersenyum lalu keluar seraya memeluk lengan kekasihnya. Ada yang menarik perhatian lelaki itu yaitu pemandangan Jiyeon dan Taehyung. Karena dressnya kotor akhirnya Jiyeon mengenakan hanbok yang diberikan pelayannya tadi. Kulit Jiyeon yang putih terlihat bersinar dari balik hanbok berwarna pink dan putih itu.

60351_432750605641_349088065641_5143104_6938948_n

Tampak Jiyeon tersenyum mendengar ucapan Taehyung. Entah mengapa ada perasaan tidak rela muncul di hati Taekwoon jika melihat senyuman Jiyeon untuk lelaki lain. Hingga Jiyeon melambaikan tangan pada Taehyung dan berjalan masuk pun tatapan Taekwoon tetap melekat pada gadis itu.

“Aku masuk dulu Oppa, sampai jumpa besok.” Jikyung menarik bahu Taekwoon dan mencium lelaki yang lebih tinggi darinya itu.

Setelah Jikyung menghilang di balik pintu Taekwoon masuk ke dalam mobil diikuti Taehyung yang duduk samping kakaknya. Tak berselang lama roda mobil porsche Taekwoon sudah menggelinding di jalan Raya.

“Aku terkejut kau membawa seorang gadis di hari ulang tahunmu. Biasanya kita hanya merayakannya dengan abeoji dan eomma.” Taekwoon membuka percakapan.

“Awalnya aku tidak berencana mengajaknya, karena aku pikir dia akan menolakku.”

“Bagaimana bisa seorang yeoja menolak merayakan ulang tahun kekasihnya?”

Taehyung menatap jalanan seraya menghembuskan nafas berat. “Sebenarnya kami bukan kekasih lebih tepatnya kekasih paksaan. Hanya aku yang menganggap hubungan kami sebagai hubungan kekasih.”

Taekwoon segera meminggirkan mobilnya mendengar penjelasan adiknya. Dia mematikan mesin mobil dan menatap adiknya yang memasang ekspresi bingung.

“Ja-jadi kalian bukan pasangan kekasih yang sebenarnya?” Tanya Taekwoon.

“Bukan hyung. Aku ingin hubungan itu menjadi nyata namun sepertinya Jiyeon menyukai orang lain.”

Taekwoon terdiam membatu mendengar ucapan adiknya. Dia sadar ucapan Jiyeon mengenai perasaannya pada lelaki itu memang benar. Dan sekarang dia juga menyadari sudah menyakiti gadis itu dengan ucapannya tadi. Taekwoon merutuki dirinya sendiri karena sudah berpikir yang jelek mengenai Jiyeon.

Hyung kau tidak apa-apa?” Tanya Taehyung menyadarkan kakaknya.

“Aku tidak apa-apa.” Taekwoon kembali melajukan mobilnya menuju rumah.

G.R.8.U

“Ayolah eonnie… Kami ingin bertemu dengan pangeran eonnie.” Rengek Hyunji menarik-narik tangan Jiyeon.

Meskipun Jiyeon sudah berubah menjadi Putri dari kalangan atas namun gadis itu tidak meninggalkan kebiasaan menjenguk anak-anak di panti asuhan.

“Dia bukan pangeranku Hyunji-ah.”

“Telponlah dia eonnie. Dia pasti akan datang jika eonnie yang meminta.” Timpal Jieun.

“Aku tidak yakin dengan itu Jieun-ah.”

“Cobalah noona.” Kali ini giliran Mansae yang juga mengeroyok Jiyeon.

Jiyeon melihat tatapan penuh harap dari anak-anak yang disayanginya itu. Hembusan nafas berat keluar dari mulut Jiyeon. Akhirnya dia mengeluarkan ponsel membuat anak-anak bersorak gembira.

“Jangan senang dulu. Mungkin saja dia menolak karena sibuk.” Jiyeon mengingatkan.

Jiyeon mencari nama Taekwoon di kontak lalu menghubunginya. Hanya terdengar nada tunggu sebentar sebelum akhirnya terdengar suara Taekwoon yang lembut ditelinga gadis itu.

“Jiyeon-ah baru saja aku ingin menelponmu.” Sapa Taekwoon.

“Apa yang membuatmu ingin menelponku? Bukankah tidak lagi yang perlu dibicarakan?”

Eonnie…” Rengek Hyunji mendengar nada suara Jiyeon yang dingin.

“Aisshhh… ne.. ne… Taekwoon-ssi saat ini aku ada di panti asuhan dan anak-anak bertanya bisakah kau datang kemari? Tapi jika kau tidak punya waktu…”

“Aku akan datang.”

Harapan Jiyeon agar lelaki itu tidak bisa datang sirna sudah. “Kau tidak perlu memaksakan diri.”

“Dengan senang hati aku akan datang. Dalam waktu 15 menit aku akan sampai di sana.”

Jiyeon menurunkan tangannya dengan lemah. Berbeda sekali dengan reaksi anak-anak yang bersorak gembira mendengar Taekwoon akan datang. Di tempat lain Taekwoon mengambil kunci mobil dan berlari keluar. Baru menuruni setengah tangga ponsel lelaki itu kembali berdering. Wajah Taekwoon tampak ragu mengangkat telpon dari calon tunangannya itu.

Oppa, aku sudah siap. Ayo kita pergi ke danau.” Ajak Jikyung dengan nada manja.

Mianhae Jikyung-ah aku tidak bisa pergi denganmu sekarang. Aku harus pergi. Nanti malam aku akan ke sana.”

“Tapi Oppa.” Sebelum Taekwoon mendengar protes calon tunangannya, lelaki itu sudah menutupnya. Lelaki itu segera berlari tidak sabar ingin pergi ke panti asuhan.

G.R.8.U

tumblr_nwfsidajej1rxvwdzo1_540

Ravi menuruni tangga dengan penampilan yang sudah rapi. Meskipun hanya mengenakan sweater hitam dengan celana yang senada namun lelaki itu masih terlihat menarik. Langkahnya terhenti saat mencium bau harum makanan. Tatapannya langsung tertuju ke arah dapur. Dia bisa melihat Dahyun memunggunginya dengan mengenakan celemek  hello kitty.

Ravi menuruni tangga tanpa membuat suara. Dia menghampiri dapur tanpa mengalihkan tatapannya pada Dahyun yang sibuk di depan kompor. Gadis itu menepati janjinya untuk memasak sendiri.

“Berapa lama lagi matangnya?”

Dahyun terlonjak kaget mendengar suara Ravi yang tiba-tiba. Gadis itu tersenyum melihat pujaan hatinya sudah terlihat tampan di pagi hari. Dahyun jadi merasa mereka seperti pasangan suami istri. Dia sebagai sang istri memasak untuk sang suami sedangkan Ravi bersiap-siap pergi ke kantor. Tanpa sadar Dahyun senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu.

Ravi mendekati gadis itu lalu mengetok dahinya. “Kau sedang membayangkan hal-hal yang aneh bukan?”

Aniyo.” Dahyun menggelengkan kepalanya.

“Bohong. Wajahmu saja sudah cukup menunjukkannya. Cepat selesaikan masakanmu itu. Aku lapar.”

Dahyun mengangguk penuh semangat sebelum akhirnya menyelesaikan masakannya. 15 menit kemudian keduanya sudah mulai menikmati makanan itu. Ravi berusaha menjaga ekspresinya saat makan masakan Dahyun. Gadis itu mewarisi bakat memasak dari ibunya pantas saja masakannya sama enaknya dengan masakan Yuri.

Oppa mau pergi kemana? Bukankah ini hari minggu?” Tanya Dahyun melihat penampilan Ravi yang sudah rapi.

“Aku akan pergi ke suatu tempat.”

“Dengan siapa?”

Ravi melihat ekspresi penasaran di wajah adik tirinya. “Dengan seseorang.”

“Apakah orang itu adalah yeoja?” Tanya Dahyun kembali.

“Bagaimana jika ya?”

Ekspresi wajah Dahyun berubah sedih dan seketika selera makannya menghilang. Ravi tersenyum menjahili adiknya itu. “Tapi jika yeoja di hadapanku bersedia ikut.”

Dahyun langsung mendongak dan tersenyum senang. “Maksud Oppa aku?”

“Tentu saja. Siapa lagi yeoja yang ada di hadapanku?”

“Aku mau ikut Oppa.” Ucap Dahyun penuh semangat.

G.R.8.U

“HHHHAAAHH……” Suara teriakan itu menggema di setiap sudut rumah keluarga Lee.

Para pelayan takut mengetahui Jikyung tengah mengamuk di kamarnya. Dari pintu belakang rumah Seohyun masuk setelah menikmati acara minum tehnya. Sayang sekali acara minum teh yang tenang harus terganggu dengan teriakan Jikyung.

“Apa yang terjadi? Mengapa Jikyung mengamuk?” Tanya Seohyun pada semua pelayannya.

“Maafkan kami nyonya. Kami tidak tahu.”

“Ini pasti karena Taekwoon.” Gumam Seohyun mendekati kamar Jikyung.

Suara benda-benda dibanting terdengar jelas saat mendekati pintu itu. Seohyun mengetuk pintu itu seraya memanggil nama putrinya itu. Namun bukan suara pintu terbuka yang didengar Seohyun melainkan suara gelas pecah.

“Ambilkan aku kunci cadangan kamar ini.” Perintah Seohyun yang langsung dilaksanakan salah satu pelayan itu.

“Jikyung-ah, buka pintunya sayang.” Seohyun kembali mengetuk pintu itu namun tak ada respon sedikitpun. “Jikyung-ah kau bisa mengatakan keinginanmu pada eomma. Appa dan eomma akan membuat keinginanmu terpenuhi sayang. Tapi bisakah kau membuka pintunya dulu?”

Seohyun menempelkan telinga di pintu dan lagi-lagi terdengar suara-suara benda dilempar. Seohyun berusaha kembali membujuk putrinya untuk membuka pintu namun Jikyung sama sekali tidak mendengar.

“Nyonya ada seseorang ingin bertemu dengan nona Jikyung.” Ucap salah satu pelayan.

Seohyun menoleh dan langsung tersenyum ramah pada Chanyeol, dewa penyelamat Jikyung.

“Apa yang terjadi? Di mana Jikyung?” Bingung Chanyeol melihat semua orang berkumpul di depan pintu kamar Jikyung.

“Jikyung berada di dalam kamar sedang mengamuk. Aku sudah berusaha membujuknya untuk membuka pintu namun dia tidak mau mendengarnya.” Jelas Seohyun.

“Bolehkah aku mencobanya ahjuma?” Tawar Chanyeol.

Seohyun menatap lelaki bertubuh jangkung itu ragu-ragu karena dia berpikir yang bisa menenangkan Jikyung hanyalah Taekwoon. Terdengar kembali suara benda pecah membentur pintu. Seohyun akhirnya menerima tawaran Chanyeol.

Chanyeol mendekati pintu dan mengetuknya. “Jikyung-ah. Ini aku Chanyeol.” Panggil Chanyeol namun hanya kesunyian yang terdengar dari dalam kamar.

“Aku datang membawa tteokbokkie buatan eomma, apa kau mau mencicipinya?” Chanyeol menajamkan mencoba mendengar reaksi Jikyung.

Terdengan suara kunci diputar lalu pintu itu terbuka. Seohyun tampak terkejut melihat Chanyeol dengan mudahnya membujuk Jiyeon. Tampak Jikyung dengan penampilan yang berantakan mengintip dari balik pintu seakan memeriksa apakah lelaki yang memanggilnya tadi amemang Chanyeol.

Chanyeol tersenyum pada Jikyung seraya menunjuk sekotak tteokbokkie  di tangannya. “Apa kau mau ini?”

Jikyung mengangguk kecil lalu Chanyeol sedikit menunduk untuk memeriksa wajah Jikyung. “Aku rasa tteokbokkie ini untukku saja. Kasihan tteokbokkie ini harus dimakan gadis jelek seperti ini.” Chanyeol mencubit hidung Jikyung pelan.

Andwae Oppa. Tteokbokkie i itu harus untukku.” Cemberut Jikyung.

“Kalau begitu rapikan dulu penampilanmu. Aku akan menunggumu di belakang.”

Jikyung mengangguk dan segera masuk ke dalam kamarnya kembali. Seohyun terpana melihat kejadian itu. Tidak biasanya Jikyung menurut dengan orang lain selain Taekwoon. Apa karena Chanyeol adalah dewa penyelamat Jikyung? Pikir Seohyun.

G.R.8.U

Tatapan Jiyeon tak lepas dari Taekwoon yang sedang ikut menggambar bersama anak-anak. Dia tersenyum saat melihat Taekwoon bercanda dengan anak-anak. Namun saat Taekwoon menoleh Jiyeon langsung mengalihkan tatapannya.

Meskipun saat bersama Jiyeon dan Taekwoon terlihat wajar-wajar saja namun kepala panti asuhan bisa melihat ketegangan di antara mereka. Wanita bernama lengkap Kim Haewon mendekati Jiyeon yang sedang mempersiapkan  ayam goreng yang dibelikan Seohyun, ibu Jiyeon.

“Apa kau bertengkar dengan kekasihmu?” Tanya Haewon.

Jiyeon melihat Haewon tengah mengamati Taekwoon. “Dia bukan kekasihku ahjuma.”

“Tapi kulihat kalian saling menyukai.”

“Tidak mungkin. Taekwoon adalah calon tunangan Jikyung eonnie.”

Haewon menggenggam tangan Jiyeon membuat gadis itu menatap wanita paruh baya itu. “Aku tahu kau menyukainya. Dan Taekwoon sadar atau tidak dia tidak berhenti melihatmu. Aku yakin dia memiliki perasaan yang sama denganmu hanya saja dia belum menyadarinya.”

Jiyeon hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Haewon ingin sekali Jiyeon mempercayai ucapan kepala panti asuhan itu namun melihat kenyataan Taekwoon tidaklah seperti itu.

Acara makan sudah di mulai dan semua anak tampak menyukai makanan yang Jiyeon siapkan. Tidak seperti dulu, kali ini Taekwoon dan Jiyeon sama-sama membisu meskipun mata mereka terkadang saling menatap. Tak ada yang istimewa dari acara makan itu selain anak-anak yang mengeluhkan perut mereka yang kenyang.

Haewon membawa anak-anak untuk tidur siang sedangkan Jiyeon dan Taekwoon membersihkan meja makan.

“Kuharap kau tidak salah paham. Bukan keinginanku untuk memanggilmu kemari. Itu karena anak-anak memaksaku untuk menelponmu.” Ucap Jiyeon sambil memasukkan kotoran ke dalam kantong plastik.

“Apa kau sama sekali tidak ingin bertemu denganku? Padahal aku sangat ingin bertemu denganmu.”

“Tidak. Aku sama sekali tidak ingin bertemu denganmu. Aku melakukannya demi anak-anak.”

“Namun sayang sekali urusan kita belum selesai.”

Kegiatan bersih-bersih Jiyeon terhenti lalu menoleh kearah seseorang yang baru saja berbicara.

“Kau sudah menyita waktuku yang sangat berharga jadi kau harus membayarnya.”

“Aku memang sudah menjadi Putri keluarga Lee tapi aku tidak memiliki uang yang banyak untuk membayarmu.” Dingin Jiyeon.

“Bukan dengan uang tapi dengan makanan.”

“Makanan?” Bingung Jiyeon.

“Nanti kau juga akan tahu.” Taekwoon tersenyum puas.

G.R.8.U

Dahyun memajukan bibirnya kesal melihat pemandangan yang dibencinya. Bagaimana dia tidak kesal awalnya dia mengira akan sangat menyenangkan kencan dengan Ravi namun sayang kesenangan itu dirusak oleh seorang wanita yang mengenakan terusan mini berwarna putih abu-abu. Terusan dengan potongan sampai setengah pahanya membuat gadis itu terlihat seksi.

Dan yang membuat Dahyun semakin kesal adalah Ravi yang diam saja saat wanita itu menariknya kemanapun wanita bernama Hyorin itu inginkan. Hyorin bergelayut manja dilengan Ravi membuat Dahyun menahan amarahnya.

“Ravi-ah apakah yeoja itu akan selalu mengikuti kita? Kenapa kau tidak menyuruhnya pergi saja. Dia mengganggu kencan kita.” Tanya Hyorin menunjuk Dahyun.

“YA!!! Apa aku tidak salah dengar? Yang mengganggu itu adalah kau.” Marah Dahyun.

Hyorin mendengus tak percaya. “Aku yang mengganggu? YA!!! Apa kau tidak tahu aku adalah kekasih Ravi?”

“Ciihh… mana mungkin Ravi Oppa memiiki kekasih yeoja yang mengumbar murah tubuhnya.”

“Apa kau bilang?” Hyorin hendak menampar Dahyun namun Ravi segera menahannya.

“Cukup Hyorin. Pergilah nanti aku akan menelponmu.”

Hyorin hendak protes karena Ravi justru mengusirnya bukan Dahyun. Namun gadis itu mengurungkan niatnya untuk protes saat melihat tatapan tajam Ravi. Akhirnya Hyorin pergi membuat Dahyun tersenyum senang.

“Apa kau ingin mempermalukan aku karena bertengkar dengan Hyorin?”

Dahyun menatap kakak tirinya tak percaya. “Jadi Oppa menyalahkanku atas pertengkaran tadi? Apa Oppa tidak lihat siapa yang memulai pertengkaran tadi? Sejak tadi aku berusaha diam namun kekasihmu itu yang mulai. Aku mengharapkan bisa menikmati kencan pertama kita dengan bahagia tapi ternyata aku salah.”

Dahyun berlari meninggalkan Ravi dengan mata yang terus mengeluarkan air mata. Gadis itu semakin kesal karena Ravi justru menyalahkannya. Padahal sejak tadi dia sudah berusaha menjadi anak yang baik namun gadis menyebalkan tadi yang memulainya. Tapi Ravi justru menyalahkannya.

Dahyun duduk di salah satu bangku lalu mengelap air mata yang membasahi pipinya. Ini lebih menyakitkan dibandingkan Ravi bersikap dingin padanya.

“Jelas-jelas yeoja itu yang mulai duluan tapi dia malah menyalahkanku. Menyebalkan.” Dahyun mendengus kesal.

“Masih marah?”

Dahyun mendongak dan melihat sosok Ravi sudah berdiri dihadapannya. Gadis itu langsung membuang muka karena masih marah pada lelaki. Ravi tersenyum lalu duduk di samping Dahyun. Karena masih kesal Dahyun berusaha memperluas jarak duduk mereka.

Mianhae.” Dahyun tetap diam mendengar permintaan maaf Ravi. “Hyorin bukanlah kekasihku.” Lanjut Ravi.

“Pembohong. Jika bukan kekasihmu mengapa Oppa tidak mengusirnya sejak tadi.” Dahyun menanggapinya dingin.

“Karena aku terlalu lelah mengusirnya. Bahkan aku sudah seratus kali mengusirnya tapi dia selalu kembali. Aku pikir kau tidak akan meladeni ucapannya.”

“Apa Oppa pikir aku tidak kesal? Sejak tadi dia selalu menarik Oppa menjauh dariku lalu saat itu mengatakan aku adalah pengganggu bagaimana bisa aku tidak marah?” Dahyun yeoja menatap kakaknya kesal.

Ravi memperkecil jarak diantara mereka membuat wajah mereka saling berhadapan. “Justru itu yang kunantikan. Melihatmu cemburu membuatku merasa senang.” Tangan Ravi terulur menyentuh pipi Dahyun yang sedikit basah karena air mata tadi. “Itu karena aku memiliki perasaan yang sama denganmu.”

“Ja-jadi Oppa juga menyukaiku?” Ravi mengangguk menjawab pertanyaan Dahyun.

“Benarkah?”

“Baiklah jika tidak mempercayaiku.” Ravi berdiri dan berjalan menjauhi Dahyun.

Segera gadis itu berlari menyusul Ravi dan memeluknya dari belakang. Gadis itu tersenyum bahagia. “Aku percaya Oppa. Aku sangat percaya.”

Ravi melepaskan tangan Dahyun dan berbalik memeluk gadis yang disukainya. Keduanya tersenyum senang menikmati momen bahagia ini.

G.R.8.U

Taekwoon melihat Jiyeon hanya menatap makanan di hadapannya saja tanpa menyentuhnya. Lelaki itu yakin Jiyeon melakukannya karena dia masih marah padanya. Jika tidak gadis itu pasti akan langsung memahapnya karena saat di panti asuhan tadi Jiyeon sama sekali tidak makan.

“Apa kau tidak suka dengan makanannya?” Tanya Taekwoon namun hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban Jiyeon.

“Jika kau tidak suka aku akan membuangnya.”

Taekwoon meraih mangkok nasi Jiyeon namun gadis itu menahan tangan lelaki itu. “Jangan aku akan memakannya.”

Taekwoon tersenyum melihat Jiyeon mulai melahap makanannya. Namun senyuman itu seketika menghilang saat menyadari apa yang membuat Jiyeon marah. Dia meraih gelas dan menuangkan soju ke dalamnya.

“Kuharap kau tidak membuatku kerepotan karena mabuk Taekwoon-ssi.”

“Itu tidak akan terjadi.” Yakin Taekwoon dengan senyuman lebarnya.

Namun ucapan Taekwoon itu tidak seperti kenyataan setelah 30 menit kemudian. Kedua pipi Taekwoon sudah memerah dan mulutnya tak henti-hentinya melantunkan lagu. Jiyeon yang sudah menghabiskan makanannya hanya bisa menghela nafas.

“Kau benar-benar merepotkanku.” Gumam Jiyeon.

Jiyeon terpaksa menarik paksa Taekwoon yang tak ingin berhenti minum. Langkahnya sempoyongan dan terkadang menabrak bangku di pinggir jalan. Jiyeon mengikuti lelaki itu untuk menjaganya melakukan hal yang ekstrem seperti memanjat gedung tanpa pengamanan atau bisa saja lelaki itu menyebrang tanpa melihat melihat keadaan sekitar.

“Taekwoon-ah tunggu aku.” Seru Jiyeon menyusul Taekwoon berlari.

Taekwoon yang mendengar suara Jiyeon langsung berbalik. Bibirnya melengkung membentuk senyuman. Taekwoon menangkup kedua pipi Jiyeon memperangkap gadis itu.

“Ahh… rupanya kau Jiyeon-ah. Hari ini aku belum mengatakan kau terlihat cantik hari ini.” Lantur Taekwoon.

Jiyeon hanya menghela nafas karena dia berpikir Taekwoon mengatakannya cantik karena wajahnya sama dengan kakaknya. Ditambah keadaan lelaki itu sedang mabuk.

“Hentikan ocehanmu Taekwoon-ssi. Sebaiknya kita segera pulang karena hari semakin larut.” Jiyeon menarik Taekwoon pergi namun sayang orang yang ditariknya tak mau bergerak. “YA!! Ayo kita pulang.” Seru Jiyeon.

Taekwoon menggelengkan kepalanya. “Jika aku pulang kau pasti akan pergi. Dan aku tidak mau itu terjadi.”

“Kau bisa menghubungi Jikyung eonnie.”

“Tapi aku hanya menginginkan kau bukan Jikyung. Aku tahu kau sedang marah padaku. Aku benar-benar bodoh sudah menuduhmu memanfaatkan Taehyung. Mianhae.”

Jiyeon terdiam melihat Taekwoon dengan ekspresi wajah menyesal. Melihat Jiyeon diam saja, Taekwoon menangkup pipi gadis itu. “Mengapa kau diam saja Jiyeon-ah? Apa kau tidak mau memaafkanku? Bagaimana caranya agar kau bisa memaafkan aku? Katakanlah padaku.” Tatapan mata Taekwoon layaknya seekor anjing yang sedang memohon padanya.

“Jika aku memaafkanmu pun kau tidak akan mengingatnya Taekwoon-ssi. Karena saat ini kau sedang mabuk.”

“Aku pasti akan mengingatnya. Aku bahkan ingat saat aku menciummu.”

Seketika kedua pipi Jiyeon memerah mengingat Taekwoon menciumnya dulu dalam keadaan mabuk. Taekwoon terus menatap Jiyeon yang tak kunjung menjawab. Dia lalu melepaskan pipi Jiyeon dan mulai berjongkok.

“Apa yang kau lakukan Taekwoon-ssi?” Tanya Jiyeon melihat Taekwoon melompat-lompat dengan memegang kedua telinganya.

“Menghukum diriku sendiri.”

Jiyeon tersenyum melihat Taekwoon berkelakuan seperti anak kecil. Gadis itu yakin jika lelaki itu sadar pasti dia akan malu melihat kelakuannya sendiri. Jiyeon lalu menghampiri Taekwoon yang sudah mulai menjauh. Gadis itu berhenti tepat di depan Taekwoon.

“Sudah hentikan. Berdirilah. Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Jiyeon.

Taekwoon menggelengkan kepalanya. “Tidak sebelum kau memaafkanku.”

large

Jiyeon menghela nafas saat melihat wajah imut Taekwoon yang sedang berpangku tangan. Bibirnya yang dibuat sedikit maju membuat wajah lelaki itu sangat menggemaskan.

Bagaimana bisa aku menolak permintaan maaf namja itu dengan wajah seimut itu? Pikir Jiyeon.

“Baiklah aku akan memaafkanmu.”

Taekwoon langsung berdiri dengan wajah yang berbinar-binar. “Benarkah?” Jiyeon mengangguk. Dengan gerakan cepat Taekwoon langsung menarik Jiyeon ke dalam pelukannya seraya mengucapkan terimakasih. Tak lama lelaki itu melepaskan pelukannya dan berlari pelan seraya menyanyi mengingatkan Jiyeon jika lelaki itu sedang mabuk.

G.R.8.U

Di pagi yang cerah terlihat tiga anggota keluarga Lee tengah menikmati sarapan. Hanya Jikyung saja yang tak terlihat batang hidungnya.

“Bagaimana kegiatan sosialmu di panti asuhan kemarin Jiyeon-ah?” Tanya Donghae.

“Berjalan dengan lancar appa. Anak-anak dan juga kepala panti asuhan mengucapkan terimakasih pada appa dan eomma atas makanannya.”

“Kau memang anak yang baik Jiyeon-ah jarang sekali anak seumuranmu menghabiskan waktu bersama anak-anak yatim piatu.” Puji Seohyun.

“Aku senang menghabiskan waktu luang bersama mereka eomma. Mereka membuatku merasa memiliki banyak teman.”

“Oh ya kulihat para pelayan sedang membersihkan kamar Jikyung. Memang apa yang terjadi?” Penasaran Donghae.

“Kemarin Jikyung mengamuk karena Taekwoon tidak mau menemaninya.” Jelas Seohyun.

Jiyeon yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya langsung terhenti mendengar ucapan ibunya.

Jadi Taekwoon menolak ajakan Jikyung untuk menemui dirinya? Tanya Jiyeon dalam hati. Lalu Jiyeon teringat ucapan Taekwoon semalam.

Tapi aku hanya menginginkan kau bukan Jikyung.

Mengapa Taekwoon menolak ajakan Jikyung yang notabene adalah tunangannya hanya untuk menghabiskan waktu denganku. Jiyeon teringat ucapan kepala panti asuhan.

Taekwoon sadar atau tidak dia tidak berhenti melihatmu. Aku yakin dia memiliki perasaan yang sama denganmu hanya saja dia belum menyadarinya.

Bolehkah aku merasa bahagia jika Taekwoon lebih memilih bersamaku daripada Jikyung eonnie? Pikir Jiyeon.

“Jiyeon-ah kau tidak apa-apa?” Tanya Donghae cemas.

“Tidak. Aku tidak apa-apa Appa. Appa eomma hari ini bolehkah aku mengunjungi Park abeoji? Aku sangat merindukannya.” Ijin Jiyeon.

Seohyun tersenyum dan menyentuh pipi Jiyeon. “Meskipun kau sudah kembali kemari tapi tuan Park tetaplah orang penting yang sudah membesarkanmu. Jadi kau boleh mengunjunginya kapanpun kau mau.”

Gomawo eomma.” Jiyeon tersenyum pada ayah dan ibunya.

G.R.8.U

Sinar matahari menyelinap di kamar Taekwoon hingga mengenai wajah tampannya. Hangatnya sinar matahari mengusik tidur lelaki itu. Matanya bergerak hingga menyipit saat melihat sinar yang menyilaukan itu.

Akhirnya lelaki itu duduk dan melihat dirinya sudah ada di kamarnya. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi setelah makan dengan Jiyeon semalam.

“Sudah hentikan. Berdirilah. Aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Jiyeon.

Taekwoon menggelengkan kepalanya. “Tidak sebelum kau memaafkanku.”

“Baiklah aku akan memaafkanmu.”

Taekwoon tersenyum mengingat Jiyeon mau memaafkannya meskipun dia harus menanggung malu dengan tingkah kekanak-kanakannya kemarin. Entah mengapa mendengar Jiyeon memaafkannya membuat dirinya bersemangat.

Lelaki itu berdiri lalu berjalan keluar dari kamarnya. Dia menuju dapur untuk mengambil air putih. Baru saja memasuki area dapur langkah Taekwoon terhenti saat melihat masakan di atas meja makan. Dia meraih memo yang ada di samping mangkuk-mangkuk itu.

aku sudah membuatkanmu soup tauge jadi panaskan dulu. Kau akan merasa lebih baik setelah memakannya.

Jiyeon

Taekwoon tersenyum membaca memo dari Jiyeon. Lelaki itu memasukkan memo itu di saku celananya. Dia membuka mangkuknya dan tampak soup tauge yang mengundang selera makan. Taekwoon segera memanasinya sejenak hingga uap panas terlihat keluar darisoup itu. Lelaki itu meletakkan soup yang sudah panas diatas meja. Baru saja menaruh pantatnya di kursi, terdengar suara bel pintu.

Lelaki itu berdiri dan berjalan menuju pintu. Saat membuka pintu lelaki itu melihat Jikyung tersenyum padanya.

“Pagi Oppa. Aku membawakan roti untuk sarapan kita.” Jikyung menunjuk kantong plastik di tangannya.

Sebelum Taekwoon mempersilahkan masuk, Jikyung sudah menerobos masuk. Dia langsung menuju dapur dan terkejut melihat masakan di atas meja makan.

Oppa sudah memasak?” Kecewa Jikyung.

N-ne. Aku tidak tahu kau akan datang.” Bohong Taekwoon. “Tapi kita bisa memakan semuanya. Ayo.”

Jikyung kembali tersenyum mendengar ucapan kekasihnya itu. Akhirnya Taekwoon menghabiskan waktu sarapan paginya dengan calon tunangannya.

G.R.8.U

“Apa kau ingin aku menghabisinya sekarang?” Tanya seorang lelaki mengenakan jaket kulit coklat yang berdiri di hadapan Irene.

“Tidak. Aku ingin membuat namja itu menderita seperti yang dialami Suho Oppa.” Irene menggenggam tangan seorang lelaki yang saat ini terbaring di atas tempat tidur dengan selang-selang menancap di tubuhnya.

“Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya antara hidup dan mati.”

“Baiklah aku akan melakukannya.” Sehun pergi dari ruangan itu meninggalkan Irene dan juga Suho yang belum kunjung bangun.

Irene melihat lelaki yang sangat penting baginya itu. “Aku pasti akan membalas apa yang sudah dia perbuat padamu Oppa.” Ucap Irene tersenyum sinis.

G.R.8.U

Taehyung menghampiri Jiyeon yang saat ini duduk di bangku halaman sekolah sendirian. Lelaki itu berniat mengagetkan Jiyeon namun niatannya itu batal saat melihat wajah Jiyeon tersenyum senang. Melihat senyuman Jiyeon hingga kedua pipi gadis itu memerah mengingatkan Taehyung jika Jiyeon tak pernah tersenyum seperti itu padanya.

“Kau pasti sedang memilkirkanku.” Ucap Taehyung duduk di sampingnya. “Memang sulit melupakanku bukan?”

“Ciihh… apa kau belum bangun dari mimpimu Taehyung-ah? Untuk apa aku memikirkanmu.”

“Lalu apa yang kau lakukan di sini? Semua orang sudah pulang hanya tinggal kau dan aku di sini.” Taehyung tersenyum penuh arti.

Sentilan di dahi Taehyung membuat lelaki itu meringis kesakitan. “Jangan berpikir aneh-aneh dasar namja mesum.” Jiyeon berdiri dan berjalan meninggalkan Taehyung.

“YA!! Aku tidak mesum hanya saja….”

DOORR…..

Suara tembakan yang tiba-tiba menggema di seluruh sekolah. Langkah Jiyeon terhenti saat mendengar suara mengerikan itu. Perlahan gadis itu berbalik dan melihat tubuh Taehyung yang ambruk ke tanah. Darah langsung keluar dari sisi kepala Taehyung.

“Tae-Taehyung-ah.” Panggil Jiyeon berlari menghampiri Taehyung.

Gadis itu tampak takut melihat Taehyung tidak merespon panggilannya. Darah menyebar di atas tanah. Jiyeon tak henti-hentinya memanggil nama Taehyung yang sudah tak sadarkan diri.

Jiyeon membalikkan tubuh Taehyung dan memangku kepalanya. Merasakan tangannya basah Jiyeon menarik tangannya dari bawah kepala Taehyung. Darah merah membasahi tangan gadis itu.

“Da-darah”

Seketika Jiyeon terdiam saat ingatan masa lalu melintas di kepalanya. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing. Darah itu membuatnya teringat masa lalunya yang sangat kelam.

~~~TBC~~~

Mianhae jika author updatenya lama soalnya author sibuk bgt ma real life dan juga tidak ada ilham yang menghampiriku. Mianhae…….

god-of-study-6

2 thoughts on “(Chapter 9) G.R.8.U

    • Bilangin tuh ilhamnya jangan pergi-pergi dariku hee…hee…. ini dah dapet setengah kok chingu. kemarin sebenarnya hampir selesai tapi hilang hicks….hicks jadinya aku harus bikin ulang

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s