(Chapter 10) G.R.8.U

gr8u-chunniest-copy

gr8u-chunniest-copy

Poster by PutrisafirA255@Indo Fanfictions Arts

Chunniest Present

^

G.R. 8. U

(Chapter 10)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice) – Park Chanyeol (EXO) –

Ok Taecyeon (2PM)

^

Previous :

PrologChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5 – Chapter 6

Chapter 7 – Chapter 8 – Chapter 9

^

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Kepala Jiyeon menggeleng dengan keras membiarkan rambutnya yang sebahu bergerak mengikuti gerakan kepalanya. “Bukankah sudah kukatakan aku tidak mau melayani namja tua bangka itu.”

PLAKKK…..

Sebuah tamparan keras mampu membuat tubuh Jiyeon mundur beberapa langkah. Panasnya tamparan itu masih terasa di pipi Jiyeon hingga meninggalkan bekas merah.

“Selama ini aku membiarkanmu hidup agar kau bisa berguna untukku tapi ternyata perkiraanku salah. Seharusnya aku meninggalkanmu mati tertembak agar appamu bisa merasakan sakit hati kehilangan orang yang dicintainya.” Ucap wanita yang sering dipanggil Madam Kim itu.

Appaku? Jadi kau tahu mengenai appaku? Tapi mengapa kau berbohong padaku? Kau bilang kau memungutku di jalanan?”

Madam Kim menghampiri Jiyeon dengan salah satu sudut bibirnya terangkat. Wanita itu berjalan mengelilingi Jiyeon seraya memainkan rambut pendek Jiyeon.

Mianhae Jihyun-ah selama aku berbohong padamu.” Madam Kim berbisik di telinga Jiyeon. Nada suara wanita itu terdengar sedang bermain-main tidak ada penyesalan sedikitpun.

“Aku memang sengaja mengambilmu dari rumah sakit tepat setelah eommamu melahirkanmu. Aku bermaksud menggunakan dirimu untuk membuat appamu bisa kembali padaku. Namun sayang namja yang membantuku justru mengacaukannya jadi aku membawamu pergi.”

Jiyeon berbalik dan menatap Madam Kim dengan tatapan penuh kebencian. Pasalnya selama ini perlakuan wanita itu padanya bisa dikatakan jauh dari kata baik. Dan sekarang wanita itu sudah berbohong tentang masalah yang penting baginya.

“Aku tidak mengenal siapa appaku dan bagaimana wajahnya. Tapi aku yakin dia tidak akan kembali pada yeoja jahat dan kejam sepertimu. Bahkan aku yakin dia tidak pernah memiliki perasaan apapun terhadapmu.”

Tawa Madam Kim yang dibuat-buat menunjukkan jika wanita itu tengah marah pada ucapan Jiyeon. “Namun sayang sekali ucapanmu itu salah besar. Appamu sangat mencintaiku bahkan dia hampir meninggalkan eommamu untukku jika saja yeoja sialan itu tidak mengandungmu.”

Seketika Jiyeon terdiam. Dia sama sekali tidak tahu siapa ayahnya tapi dia tidak ingin percaya ayahnya memiliki hubungan special pada wanita di hadapannya. Dia bingung apakah ucapan Madam Kim benar atau wanita itu hanya mengarangnya.

“Aku akan membuat penawaran untukmu. Kau kembali ke kamar itu dan aku akan memberitahumu siapa appamu.” Tawar Madam Kim.

Jiyeon menatap wanita yang selalu mengurungnya di dalam bar itu. Sekalipun gadis itu tidak pernah keluar dari tempat terkutuk itu. Meskipun sudah berusaha namun Madam Kim selalu berhasil menggagalkannya. Setelah sekian lama tinggal dengan wanita itu Jiyeon sangat mengenal bagaimana watak Madam Kim.

“Bohong. Aku tahu kau bohong. Kau tidak mungkin membiarkanku pergi, karena itu aku sudah muak denganmu.” Jiyeon mendorong wanita itu hingga terjatuh sebelum berlari ke arah pintu.

DORRR……

Sebuah tembakan menggema di dalam ruangan itu. Di luar dengan musik yang sengaja diputar kencang untuk menghibur pengunjung membuat suara tembakan itu tertelan.

Jiyeon jatuh tersungkur di lantai. Dirasakannya sakit di paha kirinya dan darah segar keluar dari kulit Jiyeon yang seputih susu. Madam Kim mendekat dengan pistol di tangannya.

“Kau pikir dengan mendorongku semudah itu kau bisa keluar? Kau harus menggunakan akalmu untuk berhadapan denganku Jihyun-ah.” Madam Kim menindih tubuh Jiyeon memerangkap gadis malang itu.

“Silahkan bunuh saja aku biar kau puas.” Teriak Jiyeon.

“Sayang sekali membunuhmu langsung tidak memberi kesenangan untukku. Bukankah jika aku membunuhmu kau bisa bebas dariku. Jadi kurasa itu tidak menyenangkan.”

Jiyeon melirik tangan Madam Kim yang memegang pistol tepat di depannya. “Lalu apa yang akan kaulakukan padaku?”

“Ini penawaran terakhir. Aku akan baik hati mengobati lukamu dan kau bisa kembali ke kamar itu. Atau aku akan menyiksamu dengan pistol ataupun belati. Menggores kulitmu yang lembut itu bukankah mainan yang menyenangkan.”

Jiyeon terdiam sesaat menatap wanita di hadapannya. Melihat senyuman Madam Kim layaknya seorang psikopat. Jiyeon memutar otaknya mencari cara agar bisa lepas dari cengkraman psikopat itu.

“Baiklah aku akan melakukan apa yang kau inginkan.” Pasrah Jiyeon.

Madam Kim tersenyum lalu menyentuh pipi Jiyeon dengan tangannya yang lain. “Itu baru yeojaku.”

Sebelum wanita itu berdiri Jiyeon meraih tangan Madam Kim yang memegang pistol. Jari telunjuknya menekan jari Madam Kim yang berada di bagian pelatuk. Suara tembakan kembali terdengar dan kali ini mengenai bahu wanita itu karena Jiyeon sudah memutar tangan Madam Kim. Jiyeon menggunakan kesempatan ini untuk berlari keluar.

Saat sudah berhasil keluar Jiyeon mendengar Madam Kim memanggil Jim, sang kaki tangannya. Gadis itu tahu akan sangat sulit jika Jim harus terlibat. Jiyeon menahan rasa sakit di kakinya dan berusaha berlari kencang. Jiyeon bisa tersenyum sedikit saat melihat dua pintu besi yang merupakan jalan keluar dari tempat itu. Samar-samar Jiyeon mendengar Jim memanggil namanya.  Gadis itu berusaha mempercepat larinya lalu mendorong pintu besi itu kuat-kuat.

Angin malam yang dingin langsung menerpa tubuh Jiyeon. Untuk pertama kalinya gadis itu bisa merasakan angin dan pemandangan langit malam. Tiba-tiba sebuah tangan menarik Jiyeon dalam kegelapan dan membekap mulutnya. Jiyeon meronta-ronta berusaha melepaskan tangan itu.

“Tenanglah ini aku Taecyeon.” Mendengar suara seseorang yang dikenalnya membuat Jiyeon bisa bernafas lega.

Namun kelegaan itu tak bertahan lama saat tatapan gadis itu tertuju pada Jim yang baru saja keluar dari dalam Bar. Bahkan tanpa sadar Jiyeon menahan nafasnya agar Jim tak mengetahui keberadaannya. Taecyeon yang melihatnya langsung mendekap Jiyeon lebih erat untuk menyamarkan detak jantung Jiyeon yang berdetak cepat.

Setelah melihat Jim pergi Jiyeon dan Taecyeon bisa bernafas lega. Taecyeon adalah seorang pelayan di bar tempat Jiyeon tinggal. Hubungan mereka sangat dekat layaknya sepasang kekasih namun mereka menyembunyikan hubungan mereka sehingga tidak ada seorangpun di bar yang tahu termasuk wanita pemilik Bar, Madam Kim. Maka tidak heran Taecyeon akan selalu menolong Jiyeon jika dalam kesusahan.

Taecyeon melepaskan tangannya lalu membalikkan tubuh Jiyeon dan menghapus air mata gadis itu. “Aku tidak sengaja menguping pembicaraanmu dengan Madam Kim. Aku tahu kau sangat sedih Jihyun-ah tapi ini bukan saatnya kau bergumul dalam kesedihanmu. Aku akan membantumu keluar dari sini.”

Gomawo Oppa.” Jiyeon langsung memeluk lelaki yang penting baginya itu.

Taecyeon menarik tangan kekasihnya itu untuk berlari melewati belakang Bar. Mereka sedikit lega karena tidak ada penjaga di bagian belakang. Sepertinya Madam Kim sudah memanggil semua penjaga untuk mencari Jiyeon. Mereka harus bergerak cepat sebelum tertangkap oleh madam Kim. Namun karena kaki kiri Jiyeon tertembak membuat gadis itu tidak bisa berlari dengan cepat.

Taecyeon melihat wajah Jiyeon yang sedang menahan sakit di kakinya. Tidak tega, akhirnya Taecyeon menggendong Jiyeon lalu kembali berlari. Meskipun kecepatannya lebih lambat namun paling tidak dia tidak membuat Jiyeon menderita dengan menahan sakit di kakinya.

DOORRR…..

Suara tembakan yang keras diiringi tubuh Taecyeon yang terjatuh membuat tubuh Jiyeon ikut terjatuh. Jiyeon meringis merasa sakit di kaki dan pantatnya. Dia menoleh dan melihat Taecyeon berusaha duduk dan gadis itu bisa melihat darah mentes dari kaki Taecyeon.

“Tak akan kubiarkan kau lolos dariku.” Suara yang selalu memenuhi telinga Jiyeon kembali  terdengar.

Dia mendongak dan melihat Madam Kim sudah berjalan mendekatinya. Wanita itu mengarahkan pistol itu ke tubuh Jiyeon.

DOOORRR…..

Lagi-lagi suara peluru yang keluar dari pistol Madam Kim terdengar memekakan telinga. Namun Jiyeon tidak merasakan sakit sedikitpun. Wajahnya menunjukkan keterkejutan melihat wajah kekasihnya tersenyum lemah di hadapannya.

O-Oppa…” Panggil Jiyeon diiringi air mata yang keluar dari mata gadis itu.

Tubuh Taecyeon langsung jatuh ke atas pangkuan Jiyeon. Gadis itu melihat darah keluar dari bahu Taecyeon. Dia menyentuh darah itu dan melihatnya tak percaya.

Suara tepukan tangan mengalihkan perhatian Jiyeon. Madam Kim tersenyum senang seakan penderitaan yang Jiyeon alami merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.

“Sudah kuduga kau dan Taecyeon memiliki hubungan yang khusus.” Madam Kim menjambak rambut Taecyeon. “Berani sekali kau menyukainya Taecyeon-ah. Apa kau tahu akibatnya menyukai gadis sialan ini?”

“Ja-jangan sakiti dia Madam. Ini… Ini kesalahanku. Aku yang menggodanya, jadi lepaskan dia.” Mohon Jiyeon.

Madam Kim menatap Jiyeon dengan penuh amarah. “Apa kau sudah tidur dengannya? Karena itu kau tidak mau melayani tuan Shin? Kau takut jika aku mengetahuinya.”

Jiyeon langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Ani. Aniyo. Aku tidak pernah tidur dengan Taecyeon Oppa.”

Tatapan madam Kim beralih pada Taecyeon yang lemah lalu kembali menatap Jiyeon. Senyuman sinisnya membuat bulu kuduk Jiyeon berdiri. “Pembohong.”

Madam Kim melepaskan jambakannya dan mengisyaratkan agar Jim mendekat. “Siksa namja itu.”

Andwae.” Jiyeon memeluk Taecyeon erat tak akan membiarkan Jim mengamboilnya.

Dengan satu gerakan Jim bisa menjauhkan Taecyeon dari Jiyeon. Melihat kekasihnya di bawa pergi Jiyeon berusaha berdiri untuk menyusulnya. Namun tangan madam Kim menahannya. “Sebaiknya kau lihat bagaimana hebatnya Jim dalam menyiksa orang.

“AAAAKKKHHH………” Taeriak Taecyeon saat Jim menekan bahunya yang tertembak.

Oppa…. Madam aku mohon lepaskan dia. Aku mohon jangan sakiti dia.” Jiyeon memeluk kaki madam Kim untuk meminta belas kasihan wanita itu.

“Tidak akan. Bukankah lebih asyik melihatnya di siksa daripada kau?”

“AAAKKKHHH……” Teriakan Taecyeon kembali terdengar saat Jim meremukkan tangan Taecyeon dengan kepalan tangannya yang sekeras batu.

Air mata kembali mengalir di pipi Jiyeon melihat kekasihnya di siksa seperti itu. “Aku… Aku akan melayani tuan Shin tapi lepaskan Taecyeon Oppa.”

Madam Kim memberi isyarat agar Jim menghentikan penyiksaannya. Wanita itu menunduk melihat Jiyeon yang serius memohon. Senyuman sinis kembali terlihat di wajah wanita itu membuat Jiyeon merasakan perasaan yang tidak enak.

“Sayang sekali sudah terlambat. Bunuh dia Jim.” Madam Kim memberikan Jim pistolnya.

Andwae… Kau tidak boleh melakukannya.” Jiyeon langsung berlari mengejar Jim dan menahan lelaki tanpa memperdulikan rasa sakit di kakinya.

DOOORR……

Tubuh Jiyeon langsung membeku mendengar suara tembakan itu. Bahkan gadis itu diam saja saat Jim menepis tangannya. Tatapannya tertuju pada tubuh Taecyeon yang tergeletak kaku dengan bekas luka tembak tepat di dahinya. Untuk pertama kalinya Jiyeon merasakan sakit yang teramat sangat di hatrinya saat kehilangan orang terpenting dalam hidupnya. Meskipun selama ini Madam Kim selalu menghina dan menyiksanya namun sakit itu tak sebanding dengan sakitnya melihat sang kekasih sudah tak bernyawa di hadapannya.

“Bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kau sukai?” Jiyeon tak memperdulikan ucapan Madam Kim. “Inilah yang kurasakan saat harus kehilangan appamu. Dan sekarang akan kubuat appamu merasakan apa yang kurasakan. Habisi anak itu buat wajahnya sedikit babak belur sehingga appanya tahu anaknya disiksa karena dirinya.” Perintah madam Kim pada Jim.

Lelaki bertubuh kekar itu langsung menarik Jiyeon tanpa paksaan sedikitpun. Jiyeon justru berharap segera mati menyusul kekasihnya. Sudah cukup dirinya menderita akibat Madam Kim jadi dia ingin bahagia dia alam lain.

Pukulan demi pukulan di wajah Jiyeon tak membuat gadis itu melawan. Jiyeon hanya diam dan menatap jasad kekasihnya yang tak jauh darinya.

Aku akan segera menyusulmu Oppa, tunggu aku. Ucap Jiyeon dalam hati.

Sampai kesadaran Jiyeon menipis dia mendengar Madam Kim untuk menghentikan Jim. Tak berselang lama samar-samar Jiyeon mendengar langkah kaki menjauh. Itulah suara terakhir yang didengar Jiyeon sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

G.R.8.U

Hakyeon menyangga kepalanya di kedua tangan. Dia menatap Taekwoon yang tengah melamun.

tumblr_nn5hd4zqmu1rxvwdzo1_500

Bahkan saat melamun Taekwoon terlihat tampan membuat Hakyeon iri. Lelaki bermarga Cha itu melambaikan tangannya di hadapan Taekwoon namun lelaki itu tak kunjung sadar dari lamunannya. Tepukan tangan Hakyeon tepat di depan wajah bosnya akhirnya menyadarkan Taekwoon.

“YA!!! Tumben sekali di jam kerja seperti ini kau melamun. Apakah ada masalah yang mengganggu kerja otakmu.”

Taekwoon terdiam dan melanjutkan kembali pekerjaannya tak memperdulikan sekertarisnya yang begitu cerewet.

“Apakah ini soal Taehyung? Atau abeojimu.” Taekwoon membubuhkan tanda tangannya di salah satu dokumen. “Apa karena Jikyung.”

Tanda tangan Taekwoon yang belum selesai langsung terhenti mendengar nama tunangannya.

“Jadi benar ini mengenai Jikyung? Ada apa Taekwoon-ah? Bukankah kau seharusnya senang kekasihmu sudah kembali?” Tanya Hakyeon yang tidak akan berhenti sebelum mengetahui jawabannya.

“Entahlah. Aku merasa tidak terlalu senang dengan kepulangan Jikyung. Apa kau tahu apa yang terjadi denganku?”

Hakyeon menarik kursi di hadapan Taekwoon lalu mengambil kertas kosong dan bersiap layaknya seorang dokter yang mendengarkan pasiennya.

“Apa yang kau rasakan saat melihat Jikyung yang sekarang? Jika kau tidak terlalu senang dengan kepulangan Jikyung lalu apa yang kau pikirkan sekarang?” Tanya Hakyeon.

“Aku hanya merasa lega di kembali dengan selamat. Tidak ada perasaan sangat bahagia. Sedangkan yang kupikirkan sejak Jikyung kembali hanyalah Jiyeon. Aku merasa bersalah sehingga yeoja itu selalu saja hadir dalam pikiranku. Dan aku tidak rela saat melihat Jiyeon bersama namja lain bahkan bersama Taehyung.”

“Taehyung? Bagaimana bisa Jiyeon bersama Taehyung?” Heran Hakyeon.

“Saat ulang tahun Taehyung, dia mengajak Jiyeon ke rumah. Awalnya aku sangat marah melihat Jiyeon bersama Taehyung. Tapi saat Taehyung mengatakan mereka bukanlah pasangan yang sebenarnya, aku merasa lega.”

Hakyeon menatap bosnya dengan senyuman penuh arti. “Sudah kuduga akan jadi seperti ini.”

“Apa maksudmu?” Bingung Taekwoon.

“Sejak dulu aku tahu kau tidak mencintai Jikyung. Menurut analisaku perasaanmu pada Jikyung hanyalah perasaan seorang Oppa pada dongsaengnya. Kau tidak bisa menyalurkan perasaan seorang Oppa pada Taehyung lalu hadirlah Jikyung dengan sifatnya yang sangat manja sehingga perasaan Oppa mu itu muncul. Sedangkan dengan Jiyeon, bukanlah perasaan bersalah yang selalu mengganggu pikiranmu melainkan yeoja itu sendiri. Kau belum pernah merasakan perasaan tidak rela saat kau melihat Jikyung bersama namja lain namun lain halnya dengan Jiyeon.”

Hakyeon mencondongkan tubuhnya menatap bosnya itu. “Maka dapat disimpulkan kau mencintai Jiyeon. Itulah analisa dokter cinta Cha Hakyeon.”

“Aku mencintai Jiyeon?” Tanya Taekwoon tak percaya.

“Tepat sekali. Itulah penjelasan atas perasaanmu.”

Tiba-tiba telpon di atas meja Taekwoon bordering. Hakyeon menghentikan bosnya yang hendak mengangkat telpon itu.

“Sebaiknya kau pikirkan apa yang kukatakan dan aku yang akan menjawab telpon ini. OK!.” Hakyeon mengangkat gagang telpon itu dan membiarkan Taekwoon tenggelam dalam pikirannya.

Penjelasan sekertarisnya itu memang masuk akal. Namun untuk perasaannya pada Jiyeon, Taekwoon belum yakin jika perasaan itu adalah cinta. Tapi jika memang itu benar-benar cinta apa yang harus dilakukan Taekwoon pada Jikyung? Lelaki itu yakin tidak mudah memutuskan hubungannya dengan Jikyung, mengingat bagaimana sifat tunangannya itu.

“Taekwoon-ah.” Suara Hakyeon tidak lagi bercanda seperti tadi.

Taekwoon mendongak dan melihat wajah serius sekertarisnya itu, bahkan terlalu serius membuat Taekwoon merasakan perasaan yang tidak enak.

“Taehyung… dongsaengmu tertembak. Dan sekarang dia ada di rumah sakit Yangji.”

Taekwoon segera bangkit lalu berlari keluar tanpa berkata apapun. Hakyeon hanya menghela nafas karena tahu tugasnya akan menumpuk karena Taekwoon tidak ada di kantornya.

G.R.8.U

Terdengar pintu diketuk lalu Jin berjalan memasuki ruangan Ravi. Ravi yang sedang menelpon rekan bisnisnya langsung mengakhiri pembicaraannya di telpon. Melihat wajah Jin yang lebih serius membuat Ravi yakin ada berita penting yang di bawa sekertarisnya itu.

“Aku baru saja mendapatkan informasi dari salah satu informer kita. Taehyung, adik Jung Taekwoon tertembak dan saat ini sedang berada di rumah sakit Yangji.”

“Berita menyenangkan yang kudengar di siang hari. Apakah orang yang menembaknya adalah salah satu musuh Taekwoon?”

“Aku rasa tidak. Karena daripada menembak sang dongsaeng mereka akan lebih memilih menembak sang hyungnya langsung. Aku rasa sang penembak adalah musuh Taehyung.”

“Tidak masalah siapa yang menembaknya bukankah dengan begini  Taekwoon tengah kalut. Aku akan memikirkan rencana yang bagus di kesempatan ini.”

Took…Tookk…

Kedua lelaki itu menoleh saat mendengar pintu di ketuk. Pintu terbuka sedikit dan tampak kepala Dahyun mengintip dari balik pintu.

“Apa aku mengganggu?” Tanya Dahyun ragu-ragu.

Aniyo. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu kembali Jin-ah.”

Jin membungkuk sekilas sebelum akhirnya keluar lalu mempersilahkan Dahyun masuk. Dengan senyuman lebar dan kotak bekal di tangannya, Dahyun mendekati lelaki yang sudah resmi menjadi kekasihnya. Ravi membalas senyuman Dahyun dengan sama senangnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Ravi melihat Dahyun duduk di hadapannya.

Dahyun mengangkat bekal di tangannya. “Oppa lupa membawa bekal ini. Padahal tadi aku sudah meletakkannya di ruang kerja Oppa.”

Mianhae. Tadi aku terburu-buru jadi aku tidak masuk ke ruang kerjaku. Kau datang tepat waktu, perutku sudah sangat lapar. Tapi aku tidak ingin kita makan di sini.”

Waeyo? Bukankah aku sudah jauh-jauh dating kemari tapi Oppa tidak mau makan?”

“Bukan itu maksudku. Aku rasa sangat tidak nyaman makan di sini. Ayo.” Ravi menarik kekasihnya itu keluar dari kantornya.

G.R.8.U

Jiyeon duduk terpaku di ruang tunggu. Ingatan masa lalunya yang kelam terkuak kembali dalam pikirannya. Masa lalunya yang penuh penderitaan membuat Jiyeon merinding mengingat siksaan demi siksaan yang dilakukan oleh Madam Kim terutama saat wanita kejam itu melenyapkan kekasihnya.

Kedua tangan Jiyeon memeluk tubuhnya sendiri berusaha mengusir ingatan kelam itu. Mata gadis itu tertuju pada ruang operasi di hadapannya. Saat ini Taehyung tengah menjalani operasi untuk mengambil peluru di kepalanya.

Tadi saat dalam perjalan menuju rumah sakit Jiyeon tak henti-hentinya memanggil nama Taehyung. Berharap lelaki itu bangun dan menunjukkan senyuman bodohnya namun lelaki itu tak bereaksi sedikitpun membuat Jiyeon semakin menangis.

Terdengar suara orang berlari di lorong rumah sakit. Jiyeon menoleh dan mendapati Taekwoon berlari ke arahnya. Seketika gadis itu berdiri menunggu lelaki itu menghampirinya. Entah mengapa melihat Taekwoon, rasa takut Jiyeon sedikit berkurang.

“Apa kau baik-baik saja?” Cemas Taekwoon melihat darah mengotori seragam Jiyeon.

“Aku… Aku tidak apa-apa. Ini bukan darahku tapi darah Taehyung.” Suara Jiyeon terdengar bergetar.

Taekwoon juga melihat tubuh Jiyeon bergetar. Lelaki itu langsung tahu Jiyeon ketakutan meskipun gadis itu tak mengatakan apapun. Taekwoon langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya lalu mengelus punggung Jiyeon untuk menenangkannya.

“Tidak apa-apa Jiyeon-ah. Mianhae kau harus melihat kejadian yang mengerikan.”

“Aku… Aku sangat takut Taekwoon-ah. Di perjalanan tadi Taehyung tidak mendengarku memanggilnya. Bagaimana… Bagaimana jika dia tidak bisa lagi…”

“Sssttsss…. Jangan berkata seperti itu. Taehyung adalah namja keras kepala yang pernah kukenal jadi aku yakin dia tidak akan semudah itu menyerah.”

“Kau benar. Kuharap dia segera sadar.” Jiyeon membalas pelukan Taekwoon erat.

Pelukan Taekwoon yang erat menyurutkan kecemasan dan ketakutan Jiyeon. Gadis itu merasa sangat nyaman dan dia tak ingin melepaskannya meskipun dia tahu hal ini salah.

“Taekwoon-ah.”

Suara seorang wanita membuat Taekwoon segera melepaskan pelukannya. Mereka melihat Yoona berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah yang pucat. Wanita itu segera menghampiri Taekwoon tanpa memperhatikan Jiyeon.

“Apa yang terjadi dengan Taehyung? Bagaimana bisa dia tertembak?” Panik Yoona.

“Aku juga tidak tahu eomma. Tapi aku sudah menyuruh Hakyeon menyelidiknya.”

“Lalu bagaimana kondisinya sekarang?”

“Dokter sedang berjuang menyelamatkan Taehyung di dalam ahjuma.” Ucapan Jiyeon menyadarkan Yoona jika gadis itu sedari tadi berdiri di dekatnya.

Wanita itu terkejut saat melihat seragam Jiyeon bagian depan penuh dengan noda darah. Dia langsung menyentuh pipi Jiyeon yang pucat. “Kau tidak apa-apa sayang? Apa kau terluka?”

Gadis itu menunduk melihat seragamnya yang putih berubah warna menjadi merah. “Aku tidak apa-apa ahjuma. Ini darah Taehyung.”

“Syukurlah kau tidak apa-apa. Taekwoon-ah, bawa Jiyeon untuk mengganti pakaiannya. Eomma rasa dia butuh menenangkan diri setelah kejadian mengerikan tadi.”

“Tidak ahjuma, nanti bagaimana jika Taehyung…..” Tolak Jiyeon.

“Tidak apa-apa Jiyeon-ah. Aku akan ada di sini dan sebentar lagi suamiku akan datang. Meskipun dia keras pada Taehyung tapi dia tetaplah putranya. Aku akan menghubungi Taekwoon mengenai keadaan Taehyung jika itu bisa membuatmu lebih tenang.” Bujuk Yoona dengan lembut.

Akhirnya Jiyeon menurut saat Taekwoon membawanya pergi. Yoona menatap kepergian putranya bersama Jiyeon. Wanita itu sempat mendengarkan pembicaraan mereka. Mungkin jika orang lain yang melihat berpikir Taekwoon hanya menenangkan kekasih adiknya, tapi dari kacamata Yoona pelukan mereka berbeda dari pikiran orang lain.

Yoona menggelengkan kepalanya menyingkirkan firasat aneh ini. Yang harus dipikirkannya saat ini adalah putra bungsunya yang saat ini tengah memperjuangkan hidupnya.

G.R.8.U

Ponsel Irene di atas meja bergetar. Gadis yang sedang mengelap tubuh Suho langsung berhenti. Dia meletakkan washlap di ember kecil lalu mengambil ponsel dengan nama Sehun muncul di layar ponselnya.

“Aku sudah melepaskan peluruku untuk namja sialan itu. Dan saat ini dia sedang berada di rumah sakit yang sama dengan Suho hyung di rawat. Kau bisa melihatnya bahkan membunuhnya jika perlu.” Jelas Sehun.

“Untuk saat ini aku ingin namja itu menderita dengan pelurumu. Aku akan menjenguknya dengan membawa hadiah special untuknya.” Irene tersenyum senang seraya menatap Suho yang terbaring di atas tempat tidur.

“Sementara ini aku tidak bisa ke rumah sakit menjenguk Suho hyung. Aku yakin saat ini keluarga Jung tengah mengejarku jadi aku akan menghilang dulu.”

Gomawo Sehun-ah.” Irene meletakkan ponselnya di atas meja lalu menunduk memandang wajah namja yang sangat disayanginya itu. “V sudah kuberi pelajaran Oppa. Pengkhianat seperti dia tidak akan kubiarkan hidup dengan tenang sementara Oppa harus berbaring di sini. Tak lama lagi aku akan menghabisinya.”

Salah satu sudut bibir Irene terangkat seraya menata rencana apa yang akan di lakukannya pada Taehyung. Tanpa gadis itu sadari jemari Suho bergerak. Sepertinya nama V mempengaruhi lelaki yang sudah lama berbaring di sana.

G.R.8.U

Dahyun tersenyum senang saat memasuki sebuah apartement milik Ravi. Gadis itu baru tahu jika kekasihnya itu memiliki tempat tinggal selain kediaman Kim. Setelah mengelilingi apartement itu Dahyun berpikir tidak ada yang istimewa karena tidak ada satupun foto yang terpajang di dinding.

Gadis itu berlari menghampiri Ravi yang tengah melepaskan jasnya dan menyampirkan di sandaran kursi. Dia mengamit lengan kekasihnya dengan manja. “Oppa apa kau tidak merasa ada yang kurang dengan apartement ini?”

Ravi menatap apartement yang jarang sekali di tempatinya. Bagi lelaki itu tidak ada yang kurang dengan tempat itu. Dapur ada lengkap dengan makanan dan peralatan lainnya, ruang tamu ada, kamar bahkan ada 3 kamar yang bisa digunakan. Memang apalagi yang dibutuhkan lelaki itu.

“Tidak ada. Aku rasa tempat ini sudah lengkap layaknya sebuah ruamah.”

“Aishh… Oppa, apa kau tidak lihat dinding yang kesepian itu? Bukankah butuh foto-foto yang harus di pajang di sana?” Dahyun menunjuk dinding dengan cat berwarna putih itu.

“Tapi aku tidak memiliki foto untuk di pajang.”

“Kalau begitu kita akan membuat sedikit demi sedikit.”

Dahyun mengeluarkan kamera polaroid mengangkat kamera seraya memeluk Ravi lebih erat lagi. Senyuman kedua sejoli itu menghiasi foto yang mereka ambil. Setelah hasilnya keluar Dahyun mengibaskannya dan tersenyum melihat foto yang mereka ambil sangat bagus.

“Bukankah kita sangat serasi?” Senang Dahyun langsung mengambil salah satu pigura kosong di atas meja dan memasang foto itu di dalamnya.

Dahyun tersenyum puas saat melihat foto itu menghiasi ruang tamu. “Dengan begini Oppa bisa melihatku setiap saat.”

“Aku rasa cukup untuk sesi fotonya, bagaimana kalau kita makan sekarang? Perutku sangat lapar.” Usul Ravi.

“Baiklah aku akan menyiapkannya.” Dahyun langsung meluncur ke dapur untuk menyiapkan makan siang yang di buatnya.

Ponsel Ravi bordering dan lelaki itu segera mengangkatnya. Terdengar suara Jin menyapanya dengan bahasa formal.

“Berita mengenai putra bungsu keluarga Jung sudah tersebar ke media. Sajangnim bisa melihatnya di televisi.” Setelah mengatakan itu Jin langsung menutup telponnya.

Ravi meraih remote lalu menyalakan televisi di hadapannya. Benar saja ucapan Jin karena saat ini acara televisi tengah menayangkan pemberitaan tentang Jung Taehyung. Tampak Jung Yunho dengan wajah sedihnya berbicara dengan pers.

“Seseorang tengah menembak putraku saat berada di sekolah. Saat ini kami dan kepolisian tengah menyelidiki siapa pelakunya. Untuk kondisi Taehyung saat ini belum sadarkan diri setelah Operasi.” Jelas Yunho pada wartawan.

Lalu layar televisi berubah menampilkan foto Taehyung atau yang biasa di kenal V dan juga video saat namja itu dibawa ke dalam rumah sakit Yangji.

PYYARRR…..

Suara mangkuk yang pecah mengalihkan perhatian Ravi. Dia melihat Taehyung terkejut saat melihat berita di televisi.

“Aku harus ke sana.” Ucap Dahyun mengambil tasnya.

Saat gadis itu melewati Ravi langkahnya terhenti karena kekasihnya itu menahan tangannya.

“Kau mau ke mana?” Tanya Ravi dengan nada dingin.

“Aku harus menjenguk V.”

“Tidak boleh. Tidak akan kuijinkan kau menemui namja itu.”

“Tapi mengapa? V adalah temanku. Mengapa aku tidak boleh menemuinya?”

“Karena namja yang ingin kau temui itu adalah putra bungsu keluarga Jung yang sudah membunuh abeoji.” Ucap Ravi dengan nada marah.

Ani. Abeoji meninggal karena penyakit jantung bukan karena keluarga Jung.”

Ravi tersenyum sinis mendengar ucapan Daehyun. “Bukan hanya penyakit jantung. Aku yakin keluarga Jung sudah meracuni abeoji sehingga mereka dengan mudah bisa berkuasa setelah abeoji tidak ada.”

“Apa Oppa memiliki bukti jika keluarga Jung meracuni abeoji?”

“Tidak. Tapi aku sedang berusaha mencarinya.”

“Jika tidak ada bukti seharusnya Oppa tidak menuduh keluarga Jung seperti itu. Dendam tidak akan akan menentramkan hati Oppa, itu hanya akan merugikan Oppa sendiri.” Dahyun melepaskan tangan Ravi lalu kembali berjalan kea rah pintu.

“Berhenti.” Langkah Dahyun berhenti mendengar perintah Ravi. “Jika kau keluar dari pintu itu aku tidak akan mau menemuimu lagi.”

“V adalah temanku Oppa. Sebagai seorang teman, aku harus menjenguknya. Mianhae jika keputusanku ini membuat Oppa marah. Tapi aku tidak menyesal mengambil keputusan ini.” Dahyun membuka pintu lalu pergi meninggalkan apartement itu.

Suara pintu tertutup menyadarkan Ravi jika kekasihnya meninggalkannya untuk menjenguk musuhnya. Hal itu semakin membuat lelaki itu marah dia berteriak seraya menyingkirkan makanan yang ada di meja.

“Baiklah jika itu keputusanmu, aku tidak akan menemuimu lagi.” Kesal Ravi.

G.R.8.U

Taekwoon menatap telpon di tangannya. Baru saja ibunya menelpon dan memberitahu mengenai konsisi Taehyung. Tadi pagi dia mendengar suara adiknya itu tapi sekarang Taehyung sudah terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan koma. Hal ini membuat Taekwoon bertekad mencari orang yang sudah membuat adiknya seperti itu.

“Apa telpon itu dari ahjuma?” Suara Jiyeon menyadarkan Taekwoon dari lamunannya.

Lelaki itu berbalik dan melihat Jiyeon dalam balutan kemeja biru mudanya yang kebesaran. Karena seragam yang dibelinya belum kunjung diantar akhirnya Taekwoon memberikan baju itu. Jiyeon berusaha menurun-nurunkan ujung bajunya untuk menutupi pahanya yang terekspose.

Aniyo. Hanya dari rekan bisnis. Apa kau tidak nyaman dengan baju itu?” Bohong Taekwoon tak ingin Jiyeon mendengar kondisi Taehyung yang tidak baik. Lelaki itu ingin Jiyeon menenangkan dirinya dulu setelah apa yang menimpa gadis itu.

Jiyeon mengangguk menjawab pertanyaan Taekwoon. Lelaki itu menarik tangan Jiyeon lalu mendudukannya di atas kursi. Dia mengambil sebuah selimut dan meletakkan di atas pangkuan gadis itu.

“Bagaimana dengan begini?”

“Sangat nyaman. Gomawo Taekwoon-ah.”

“Aku akan mengambilkan minuman untukmu.” Baru saja lelaki itu berdiri, Jiyeon sudah menariknya untuk duduk kembali.

“Bisakah kau di sini saja?”

Ketakutan terlihat di mata Jiyeon. Padahal sejak tadi Taekwoon melihat ketakutan itu lalu dia berpikir jika Jiyeon takut dengan kejadian penembakan adiknya. Wajar saja gadis itu takut karena dia berada saat Taehyung tergeletak tak berdaya dengan darah mengalir hingga membasahi seragamnya.

“Baiklah aku akan di sini.”

Tangan Jiyeon terulur meraih tangan Taekwoon dan menggenggamnya erat. “Tadi aku sedang bercanda dengan Taehyung sebelum penembakan itu terjadi. Taehyung belum menyelesaikan ucapannya sebelum suara tembakan itu terdengar keras. Aku… Aku melihatnya tergeletak di atas tanah dengan darah semakin berkembang di atas tanah. Saat itu aku benar-benar takut tapi…”

Jiyeon menatap Taekwoon yang menunggu ucapan selanjutnya. “Tiba-tiba  saja ingatan masa laluku muncul. Dan itu semakin membuatku takut.”

“Apa yang membuatmu takut?”

“Masa laluku sangatlah kelam Taekwoon-ah. Bahkan aku merinding ketakutan jika harus mengingatnya.” Jiyeon menunduk mengingat masa lalunya itu.

Jari telunjuk Taekwoon terulur menarik dagu Jiyeon agar gadis itu bisa menatap wajahnya.

“Bisakah kau menceritakannya padaku?” Mohon Taekwoon.

Jiyeon menatap mata Taekwoon yang tengah meyakinkannya. Akhirnya Jiyeon mulai menceritakan masa lalunya yang terbilang sangat kelam karena ulah seorang wanita yang terlalu mencintai ayahnya. Di besarkan di sebuah club malam yang tidak diperuntukkan untuk anak kecil, bukanlah kehidupan yang menyenangkan bagi masa kecil Jiyeon.

“Kau tidak berusaha melarikan diri dari temoat menyeramkan itu?” Tanya Taekwoon yang merasa sedih mendengar cerita gadis itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Jiyeon kecil bisa bertahan di tempat seperti itu.

“Aku sudah melakukan ribuan rencana pelarian diri namun apa yang mampu dilakukan anak kecil untuk menghadapi orang-orang dewasa. Madam Kim selalu berhasil menggagalkan rencanaku.”

Lalu cerita Jiyeon berlanjut pada malam terakhir dia di sana. Dia juga bercerita jika madam Kim mau menjual dirinya pada orang lain hingga penyiksaan-penyiksaan yang madam Kim lakukan pada Jiyeon termasuk tentang Taecyeon membuat Taekwoon merinding mendengarnya.

“Taecyeon?” Taekwoon menatap Jiyeon penuh tanya.

“Taecyeon adalah namja yang selalu menolongku setelah Madam Kim menyiksaku. Dia adalah kekasihku. Namun Madam Kim menyuruh Jim menembaknya mati. Dia tergeletak tak jauh dariku. Aku sangat beruntung keluarga Park membawaku dan merawatku. Bahkan setelah mengingatnya aku tidak ingin lagi kembali ke sana.”

“Jika dia tergeletak tak jauh darimu, mengapa Park ahjushi hanya menemukanmu?”

Jiyeon terdiam menatap lelaki di sampingnya. Ucapan Taekwoon benar dan Jiyeon baru menyadarinya. Seharusnya Daeyeon juga menemukan Taecyeon karena tubuh Taecyeon tergeletak tak jauh darinya.

“Aku akan menemui Park abeoji.”

Kali ini giliran Taekwoon yang menarik Jiyeon duduk kembali. “Ini bukanlah saat yang tepat menemui Park ahjushi. Setelah kejadian yang kau alami hari ini apa kau tidak lelah?”

Taekwoon memang benar setelah melihat langsung penembakan yang terjadi pada Taehyung lalu ingatan masa lalunya muncul tidak hanya tubuhnya saja yang lelah tapi pikirannya juga.

Taekwoon meraih kepala Jiyeon dan menyandarkan di bahunya. “Tutuplah matamu sejenak. Jangan pikirkan apapun. Aku akan ada di sini menjagamu.” Taekwoon mengelus-elus rambut Jiyeon.

Jiyeon tersenyum senang tanpa Taekwoon ketahui. Gadis itu menuruti ucapan Taekwoon untuk menutup matanya sejenak. Lelaki itu benar Jiyeon membutuhkan tidur sejenak untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Suasana di apartement itu menjadi hening. Dia merasakan nafas Jiyeon yang teratur seakan melodi yang membuat Taekwoon nyaman. Setelah mendengar masa lalu Jiyeon Taekwoon ikut sedih karena gadis itu harus menanggung penderitaan sebesar itu di masa kecilnya sedangkan Jikyung kecil bahagia bisa bermain dengan mainan-mainan mahal. Lelaki itu yakin ayah Jiyeon, Lee Donghae pasti akan menyesal jika mendengar penderitaan putrinya akibat dirinya.

Taekwoon menghembuskan nafas berat merapu rambut Jiyeon membuat gadis itu menggeliat dalam tidurnya. Lelaki itu tersenyum melihat Jiyeon dengan pulasnya tidur seraya memeluk dirinya. Sebuah kecupan hinggap di dahi Jiyeon membuat Taekwoon sadar dengan perasaannya.

“Aku tidak akan lagi melepaskanmu Jiyeon-ah. Hakyeon benar aku memang menyukaimu.” Taekwoon mengeratkan pelukannya.

G.R.8.U

Langkah kaki santai terdengar menyusuri lorong. Irene sang pemilik kaki itu berjalan seraya mencari kamar pasien dengan nama ‘Jung Taehyung’. Di tangan gadis itu ada sebuket bunga Aconite berwarna ungu gelap.

tumblr_m4ea46caqf1rw11c6o1_1280

Senyuman senang terukir di wajah gadis itu karena merasakan kamar Taehyung tak jauh darinya. Benar saja, baru 5 langkah dia sudah melihat nama Taehyung di salah satu pintu. Irene mendekati pintu itu. Dari balik kaca pintu itu, gadis itu melihat Yoona tengah merapikan selimut Taehyung. Niat Irene untuk masuk gagal sudah. Jika saja Taehyung sendirian, Irene ingin sekali berbicara pada lelaki yang telah koma itu. Namun sayang dia mengurungkan niatnya.

Tapi bisa melihat kondisi Taehyung seperti Suho membuat Irene tersenyum senang. Inilah yang diinginkan gadis itu sejak lama.

“Apa kau melihatnya Oppa? Saat ini sang pengkhianat itu sama menderitanya sepertimu.” Irene berbicara seakan Suho akan mendengarnya.

“Irene-ah…”

Irene menoleh saat mendengar namanya di panggil. Dilihatnya Daehyun menghampirinya.

“Daehyun-ah. Apa yang kau lakukan di sini?” Irene melihat buket mawar kuning di tangan Daehyun.

“Aku ingin menjenguk V. Kau sendiri?”

“Aku… Aku juga ingin menjenguknya. Tapi…”

Dahyun memandang Irene bingung. “Tapi kenapa?”

“Aku tidak bisa. Bisakah aku titip bunga ini untuknya?”

“Tapi…” Belum juga Dahyun melayangkan protes, Irene sudah meletakkan bunga di tangan Dahyun lalu berlari pergi.

“Aneh. Sebenarnya ada apa dengan dia?” Heran Dahyun.

Pintu kamar rawat Taehyung terbuka dan Dahyun menoleh melihat Yoona manatapnya bingung. Gadis itu langsung membungkuk menyapa Yoona.

“Selamat sore ahjuma. Aku Kim Dahyun teman V, ah ani Taehyung.”

“Ohhh… Masuklah Dahyun-ah.” Yoona mempersiulahkan Dahyun untuk masuk.

Dahyun menoleh ke belakang dan tidak lagi melihat Irene. Akhirnya gadis itu menghela nafas dan masuk ke dalam ruangan itu.

G.R.8.U

Jikyung melihat gedung rumah sakit Yangji yang besar dan tinggi. Tatapannya beralih ke kertas yang digenggamnya. Itu adalah nomor kamar di mana Taehyung di rawat. Setelah merengek pada sekertaris yang dianggapnya menyebalkan itu akhirnya Jikyung bisa mendapatkannya.

Wajah gadis itu telihat amat sangat kesal. Sejak tadi siang dia berusaha menghubungi tunangannya namun tak satupun yang di angkat. Bahkan pesan yang mungkin ribuan kali Jikyung kirim dalam setiap detik tak juga di balas oleh Taekwoon.

Mungkin Jikyung tidak akan terlalu marah mengingat adik Taekwoon yang tertembak. Dia yakin Taekwoon saat ini sedang mengurus adiknya dan mencari siapa pelakunya karena itu dia tidak mengangkatnya.

Jikyung berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit itu. Dia langsung masuk ke dalam lift tanpa mengkonfirmasi nomor kamar Taehyung. Setelah naik ke lantai 5, Jikyung keluar dan berjalan melewati pintu-pintu kamar rumah sakit. Langkahnya semakin lambat saat melihat Yoona tengah mengantar seorang gadis yang tak dikenalnya keluar dari kamar Taehyung.

Jikyung kembali berjalan dan melewati gadis dengan rambut coklat kemerahan itu. Dia masih melihat kepergian gadis itu seraya menghampiri Yoona.

“Ah… Jikyung-ah, kau datang?” Sapa Yoona.

Jikyung membungkuk sekilas memberi salam. “Ne eommonim. Siapa yeoja tadi ahjuma?”

Yeoja tadi adalah Kim Dahyun, teman Taehyung.”

“Ohhh… Bagaimana keadaan Taehyung eommonim?

“Sangat tidak baik Jikyung-ah. Meskipun masa kritisnya sudah lewat tapi dia tetap koma.” Sedih Yoona.

“Aku turut bersedih eommonim. Apakah Taekwoon Oppa ada di dalam? Sejak tadi aku menghubunginya tidak bisa.”

“Taekwoon mengantar Jiyeon mengganti seragam.”

“Ji-Jiyeon?” Kaget Jikyung.

Ne. Saat Taehyung tertembak Jiyeon juga berada di sana. Dialah yang membawa Taehyung ke rumah sakit. Karena seragamnya terkena noda darah aku menyuruh Taekwoon mengantarnya ganti pakaian.”

Jikyung tampak tidak senang mendengar kekasihnya bersama gadis lain bahkan jika gadis itu adalah saudara kembarnya sendiri. Ada perasaan curiga di hati Jikyung mengenai hubungan Taekwoon dan Jiyeon karena itu gadis itu tidak ingin tunangannya itu semakin dekat dengan saudara kembarnya itu.

“Ahh… itu mereka.” Ucap Yoona melihat Taekwoon dan Jiyeon tengah berjalan.

Jikyung menoleh dan melihat langkah kedua orang itu berhenti. Amarah semakin terlihat di mata Jikyung saat melihat Jiyeon menggandeng tangan tunangannya.

~~~TBC~~~

Hallo readers yang masih setia menanti ff ini. Maaf jika lama. Sebenarnya kemarin tu sudah hampir jadi tapi tiba-tiba filenya hilang. Jadi mau tak mau harus bikin lagi deh. Maaf juga untuk readers yang suka V-yeon di part ini mereka harus terpisah. Berdoa ya untuk Taehyung hee….hee…..

Di bagian awal Author sempilin tuh cast baru tapi cuma cameo ja. Aku baru saja selesai liat drama Let’s Fight Ghost jadi suka ma Taecyeon. Terus membayangkan Hakyeon jadi dokter cinta malah dapet gif ini

tumblr_nu2gfvhcho1u7n2afo2_500

Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya? Apa readers mau menebaknya?

Mohon bersabar menunggu ya……

4 thoughts on “(Chapter 10) G.R.8.U

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s