[TWOSHOTS] Idiot [1.2]

Idiot

A twoshots by reenepott

Kim Myungsoo, Lee Sonhee(OC) | Romance | Parental Guidance

A/N : Tadinya ini mau jadi fanfic Myungsoo pas dia ultah dan cuma ficlet. Tapi kebablasan jadinya :/

Credit poster by dyzhetta @ Art Fantasy

(thank you for this simple yet gorgeous poster ^^)

Di-post juga di blog pribadiku : ReeneReenePott

__

CHAPTER 1/2

“Jangan buat aku marah, Kim Myungsoo. Ini sudah hadiah ke sepuluh yang berusaha kau tolak. Tidak ada alasan lagi, kau harus menerimanya. Bisakah kau menerima kebaikan orang lain dengan sopan? Dia tidak memberi hadiah ini supaya kau kencan dengannya kok. Sudahlah, terima saja! Jangan banyak tingkah.”

Myungsoo, pria dengan perawakan tegap berambut hitam cepak itu berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah datar. Ia menekan password-nya, lalu terdengar bunyi bel lirih sebelum membuka pintu dan masuk. Dia pasti akan ke sini kalau sedang stres berat.

Kim Myungsoo, atau yang lebih terkenal dengan sebutan L. Visual dari boygroup Infinite, yang baru saja menyelesaikan syuting drama terbarunya, My Lovable Girl. Tidak ada member yang tahu kalau dia membeli sebuah apartemen biasa di daerah Sangam-dong, padahal arahnya serarah dengan dorm Infinite yang berada di daerah Mapo-gu. Satu-satunya orang yang tahu kalau dia punya apartemen sendiri adalah Lee Sonhee, teman dekatnya yang non-artis dan salah seorang pekerja di stasiun TV SBS. Dan ibunya, ibunya tahu dan sering menginap di sini jika berkunjung ke Seoul.

Myungsoo melepas sepatunya dan berganti dengan sandal rumah, menyeret kakinya menuju ke sofa tengah dan seketika menjatuhkan diri di sana. Kata-kata Sonhee sebelum ia pulang terus terngiang-ngiang, membuatnya sakit kepala. Gadis berisik itu tahu bagaimana membuatnya berpikir tentang satu masalah terus-menerus.

Tadi, lawan mainnya di drama itu, Krystal F(x) memberinya hadiah perpisahan dan tanda terimakasih. Dia tahu Krystal sedang berusaha, beberapa kali mencoba mendekati dirinya, mengirim pesan-pesan singkat, dan mencoba mentraktir kopi. Dia bukannya jual mahal, tapi saat ini dia sedang dalam kondisi yang sensitif jika berhubungan dengan seorang wanita. Kata-kata Sonhee hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Dia mengerti, gadis itu tidak suka melihatnya dalam kondisi patah hati seperti ini, tapi dia masih butuh waktu menikmati rasanya dikhianati.

“Lupakan dia, bisakah kau? Bukan hanya dia yang memiliki paras sempurna. Menurutku Krystal-ssi memiliki kepribadian yang jauh lebih baik daripada Naeun-ssi. Cobalah untuk mengenalnya.”

Myungsoo mencoba untuk menghilangkan pikiran dalam otaknya dan tidur.

__

“Kau pacar Myungsoo oppa, ya?”

NEH?!” mata Sonhee membelalak ketika seorang Krystal Jung bertanya tanpa basa-basi padanya. “Tidak mungkin. Itu tak akan terjadi.”

“Kenapa kalian dekat sekali? Sampai kupikir… hanya kau teman wanita yang dekat dengannya,” Krystal berujar dengan suara rendah, menyeruput blended coffee-nya tanpa menatap Sonhee yang melotot.

“Hh, kami dekat karena tak akan terjadi hubungan seperti itu. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Mana mau aku pacaran dengan lelaki seperti dia,” cerocos Sonhee lalu menghentikan kata-katanya. “Eh, maksudku, yang jelas aku bukan pacarnya. Aku sudah punya tunangan,” ujarnya kemudian lalu menunjukkan jarinya yang dilingkari cincin.

“Oh, begitu.”

“Apa Krystal-ssi tertarik padanya?” tanya Sonhee terus terang, mungkin saja dia bisa menjadi mak comblang yang baik?

Krystal menunduk, memerhatikan ujung sepatunya. “Aku ingin berteman baik dengannya, tapi sepertinya dia sangat sulit dijangkau.”

“Yah, mau bagaimana lagi,” desah Sonhee sambil menggigit bibir. “Myungsoo sedang trauma dengan hubungan dekat dengan perempuan, jadi dia sedang menjaga jarak dengan… hampir semua perempuan?” ujarnya sambil bertanya-tanya dalam hati. “Dia lelaki yang keras kepala. Aku sudah bilang berkali-kali, lupakan cewek itu, tapi mungkin hanya terdengar seperti angin lalu.”

Krystal menatap Sonhee terkejut, namun penasaran dengan ceritanya. “Myungsoo oppa punya pacar?”

Sonhee mengedip-ngedipkan matanya sejenak, bingung ingin memilih kalimat yang bagaimana. “Kau… tahu yang masalah hubungannya dengan Kim Doyeon kan?” tanya Sonhee pelan dan Krystal mengangguk. “Setelah mereka putus dengan baik-baik, memang sih, Myungsoo sedikit patah hati. Setelah itu dia dekat dengan Naeun. Lagi. Entah bagaimana ceritanya, mereka mulai sering keluar bareng. Ternyata, Myungsoo suka pada Naeun.”

“Lalu? Kenapa lagi?” tanya Krystal masih penasaran.

“Tahukan, Naeun ikut WGM dengan Taemin. Mulai saat itu dia sering cemburu nggak jelas. Padahal, dia belum pacaran dengan Naeun. Eh, tapi ujungnya Taemin beneran jadian dengan Naeun, kan. Nah, itu dia,” Sonhee menutup ceritanya dengan senyum datar, lalu menggeleng-gelengkan kepala mengingat reaksi perdana Myungsoo saat tahu berita itu.

“Oh.”

“Dan bodohnya seorang Kim Myungsoo, mereka masih saling mengirim pesan singkat. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya,” lanjut Sonhee mulai keki dengan ceritanya sendiri. Krystal menatap Sonhee dengan pandangan aneh, lalu tersenyum manis.

“Hm, terimakasih ceritanya. Ternyata dia benar-benar tulus jika menyayangi seseorang,” simpul Krystal sambil menyedot kopinya lagi. Sonhee hanya menanggapinya dengan senyum datar.

“Tapi ketulusan seperti itu berbeda tipis dengan idiot,” gumam Sonhee.

__

From : Naeun

Kau jjang sekali oppa! Dramanya benar-benar keren!

Kapan kau menraktirku? Hehe ^^

Myungsoo menghembuskan napas keras sambil membaca ulang pesan singkat yang dikirim Naeun beberapa jam yang lalu. Son Naeun. Gadis itu benar-benar membuatnya gila. Tidakkah dia tahu kalau Myungsoo sudah menyukainya sejak Birth of a Family? Dan sekarang Naeun jadian dengan lelaki yang baru saja bertemu dengannya. Si Lee Taemin itu, lelaki yang lebih cantik dari perempuan selain Jaejoong JYJ.

Ting Tong!

Sialan. Itu Sonhee. Siapa lagi yang tahu tempat ini selain Sonhee dan ibunya? Myungsoo memasang tampang galak sebelum berjalan membuka pintu apartemennya.

“Yah, Kim Myungsoo, kapan kau kembali ke dorm? Sunggyu-goon terus-terusan menanyaiku dimana kau sekarang. Tadinya aku ingin memberinya alamat ini, tapi kau pasti ngamuk. Sekarang ikut aku, kau harus pulang!”

Lihat, betapa sopannya perempuan ini.

“Bisa tidak kau masakkan sesuatu untukku dulu?” tanya Myungsoo datar, yang dibalas dengan tatapan tak kalah datar dari Sonhee. “Aku ingin curhat dulu.”

“Baiklah,” Sonhee mengalah dan mendorong tubuh Myungsoo masuk ke dalam. “Kau ini, aish. Benar-benar payah. Kau bisa curhat dengan Sungyeol, atau Sunggyu. Atau Sungjong. Kenapa harus aku yang mengurusimu seperti ini?” dumel Sonhee sembari mulai beraksi di dapur.

“Entahlah. Mungkin kau satu-satunya perempuan yang bisa menandingiku? Kau tidak berteriak saat melihatku, kau juga sama-sama dinginnya seperti aku,” balas Myungsoo cuek, membuka bungkusan keripik kentang yang entah bagaimana tiba-tiba ada di atas meja makan. Mungkin Sonhee membawanya beberapa waktu lalu. “Lagipula aku percaya padamu, mulutmu benar-benar terkunci.”

Sonhee memutar-mutar bola matanya hingga hampir juling mendengar pernyataan Myungsoo yang aneh dan mengada-ada itu. Dingin? Dia bukan es batu tolong! “Yah, tapi aku tidak bisa mengurusimu selamanya, kan. Aku punya kehidupan sendiri. Makanya sudah kubilang, berusahalah lebih keras. Bagaimana kau mau menemukan pengurusmu kalau kau masih sibuk dengan perempuan yang jelas-jelas sudah punya pacar?”

“Ck, harusnya aku mengencanimu dulu. Kau benar-benar ahli mengurusku,” ceplos Myungsoo seenak jidat, membuat Sonhee mencibir jelek.

“Meskipun kau mengencaniku, aku sudah memiliki pria yang aku cintai setengah mati,” Sonhee mengangkat kedua bahunya. Dia berbalik lalu membawa semangkuk dubu kimchi jigae ke atas meja, bersama dengan semangkuk nasi dan seporsi tumis ayam. “Cha, moggo. Habis ini kita ke dorm. Aku harus mengantarmu, itu janjiku pada Woohyun-goon.”

“Wah, kau benar-benar sudah siap jadi istri. Siapa namanya? Aidan? Adrien? Ardian?” tanya Myungsoo sambil mulai melahap makanannya.

“Albert.” Sahut Sonhee pendek, dia selalu kesal jika Myungsoo mulai menyinggung-nyinggung soal tunangannya yang setengah Inggris itu. “Daripada membicarakan pacarku yang jelas-jelas damai aman tentram, lebih baik kau menerima ini. Apa sih kurangnya Jung Krystal itu?” sembur Sonhee sambil meletakkan sebuah paper bag yang ia bawa ke atas meja makan. Ekspresi Myungsoo langsung berubah ketika kembali melihat hadiah dari Krystal yang tadinya ia tolak itu. “Apa kau masih berhubungan dengan Naeun?”

“Tentu saja,” sahut Myungsoo cuek dan terkesan menantang.

Sonhee tersenyum datar lalu bangkit mengambil air minum. “Bagus sekali. Terserah kau, kalau begitu. Aku tidak lagi ikut campur. Mau kau terus-terusan dengan Naeun, mau kau akhirnya memilih Krystal, atau akhirnya kau menjauhi dua-duanya, terserah. Kalau sudah beres sekarang kita ke dorm.”

__

Myungsoo tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini dia jadi gampang marah. Dan dia semakin yakin kalau dia sekarang mulai jadi paranoid gara-gara Sunggyu yang berceletuk tadi. Sungyeol dan Woohyun juga mulai menanyakan apa yang terjadi dengannya. Padahal, belakangan ini intensitas berkirim pesannya dengan Naeun semakin meningkat, dan nampaknya Naeun juga makin jarang jalan bareng Taemin. Harusnya, Myungsoo makin senang. Tapi, dia baru menemukan alasannya tadi sore saat mengecek ponselnya dan menatap tanggal di chat terakhir Sonhee.

Pokoknya, dia jadi gampang marah setelah beberapa hari ini Sonhee tidak menghubunginya sama sekali. Kemana gadis itu?!

Oke, oke. Dia tahu Sonhee punya kehidupan sendiri dan gadis itu berhak memprioritaskan hal lain di atas dirinya, dia juga tahu kalau Sonhee tidak akan sedia waktu 24 jam setiap harinya untuk selalu membalas pesannya.

Tapi, apa Sonhee tidak rindu padanya? Ini sudah seminggu lebih ia tak mendapat kabar dari Sonhee, atau pesan ajakan minumnya. Myungsoo juga tak mengerti kenapa dia bisa sekesal ini menyangkut masalah Sonhee. Mungkin juga karena faktor ia tak bisa bercerita pada siapapun, termasuk pada membernya.

Jadi sekarang Myungsoo hanya bisa berjalan-jalan sendirian di depan kompleks apertemennya, keluar masuk departement store tanpa membeli apa-apa, dan memutuskan duduk di halte tanpa tujuan menunggu bus. Di saat ia sedang asyik memerhatikan orang yang berlalu-lalang, dering lemah ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk.

From : Sonhee

Myungsoo, coba tebak? Albert mulai merencanakan persiapan pernikahan kami! Kau dan Infinite jadi datang ke resepsiku, ya? Awas kalau tidak!! ^^

Degh!

Mata Myungsoo melebar membaca pesan itu. Jantungnya berdegup, matanya masih tidak bisa melepas untaian huruf yang tertera di layar ponselnya. Sesaat kemudian yang ia tahu, rasa sesak menyergap rongga dadanya. Oh dear. Apakah ia jatuh cinta pada Sonhee? Itu tidak mungkin. Sonhee hanya sebatas teman dekatnya saja, ditambah sebentar lagi wanita itu akan menikah. Dia tidak mungkin menyimpan perasaan padanya? Akhirnya, daripada membiarkan perasaan sesaknya itu Myungsoo memutuskan untuk menelpon Sonhee.

Yoboseyo?” jawab suara dari seberang. Ini dia. Ini dia, Myungsoo semakin yakin dan jelas dengan apa yang dirasakannya sekarang. Dia yakin sekali jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya hanya ketika ia mendengar suara Sonhee.

“Yah, kau kemana saja?”

“Ah, aku pulang ke Mokpo, Myung-ah. Kenapa? Kau memerlukanku?” tanya Sonhee polos, namun Myungsoo tidak bisa menjawabnya. Tenggorokannya terlalu kering untuk berceloteh pada Sonhee sekarang.

“Sekarang kau dimana?”

“Aku baru turun dari bus, sekarang sedang berjalan ke flatku. Kenapa?” jawab Sonhee masih dengan nada yang sama, namun Myungsoo mendongakkan kepalanya dan langsung terpaku menatap sosok yang memang berada jauh di seberang jalan, sama seperti dengannya sedang menggenggam telepon.

“Berhenti di tempatmu berdiri. Aku akan ke sana,” ujar Myungsoo cepat sebelum memutuskan telepon secara sepihak. Di seberang, ia bisa melihat Sonhee menghentikan langkahnya sambil menatap ponselnya bingung, lalu memandang ke sekeliling. Saat itulah digunakan Myungsoo untuk buru-buru menyebrang ketika lampu pejalan kaki berwarna hijau.

Tapi Sonhee menuruti kata-kata Myungsoo. Ayolah, pria itu, meskipun dia seorang idol—bahkan sudah menjadi seorang Hallyu star—masih bisa keluyuran keman-mana dan dia bisa berada dimana saja. Mungkin pria itu memang sedang berada di sekitarnya dan tak ada salahnya jika bertemu sebentar.

“Yah, Lee Sonhee!” Sonhee memutar kepalanya ketika mendengar namanya dipanggil dari belakang punggungnya. Saat itulah ia melihat Myungsoo, seperti biasa. Sepatu hitam, celana hitam, dan hoodie hitam. Ditambah masker hitam, maka dia akan menjadi Kesatria Baja Hitam(loh). Yang terakhir diabaikan saja ya. “Kenapa kau tidak menghubungiku selama seminggu?”

Sonhee terdiam, ia hanya menatap Myungsoo. “Memangnya ada apa, Myung?” tanyanya bingung. Tidak biasanya Myungsoo marah-marah seperti ini padanya. Oke, Myungsoo memang suka emosian, namun tidak pernah menyangkut ‘pesan yang tidak dibalas’ atau ‘tidak pernah menghubungi’ seperti ini.

Myungsoo menarik napas ketika ia menyadari waja Sonhee yang kebingungan. Baiklah, dia akan menyerah. “Karena kau sudah kembali, aku ingin mentraktirmu makan,” putus Myungsoo akhirnya, berusaha mengunci mulutnya untuk tidak bertanya apa saja yang dilakukan Sonhee sampai tidak bisa menghubunginya barang sekali. “Kau tidak ada acara, kan?”

O-oh! Senyum Sonhee mengembang, dan Myungsoo kembali menyadari betapa ia menyukai senyum itu. “Aku free! Wah, kau teman yang baik, Myung!”

__

Myung.

Myung-myung.

Myungiee~

Soo-Myung.

Soo-Soo.

Kim Soo.

Myung-el.

Itu semua (beserta beberapa lainnya) adalah panggilan aneh Sonhee pada Myungsoo, yang Myungsoo baru sadari, betapapun banyaknya, ia tak pernah protes. Ia selalu menyukai panggilan-panggilan itu. Meskipun dengan kasus Myung-Myung atau Myungie sudah banyak dipakai oleh fans-fansnya, tapi ia selalu merasa senang mendengar pelafalan Sonhee menyebut panggilannya.

Dan astaga tolong ingatkan dia lagi, dia baru menyadarinya setelah dua puluh menit yang lalu Sonhee memberitahunya kalau dia akan menikah!

Dia tidak bisa melakukan apapun selain mendukung Sonhee seratus persen. Sekarang ia hanya bisa menjadi seorang yang selalu tersenyum dan memberikan bahunya jika Sonhee membutuhkan. Itulah dimana ungkapan ‘penyesalan selalu datang terlambat’ merupakan suatu fakta.

“Soo, kau mau pesan apa?” suara Sonhee disertai dengan guncangan di bahunya membuat Myungsoo tersadar dari lamunannya dan memfokuskan diri pada Sonhee yang sedang membolak-balik menu. “Biasanya kau suka jigae? Atau kau mau samgyeopsal? Yaah~!”

“Kan kau yang sedang ditraktir, terserah kaulah mau makan apa,” ujar Myungsoo sambil bertopang dagu dan menatap Sonhee seksama.

“Jadi kau tidak makan? Sedang dalam program diet? Yah, lemak di pipimu tidak bisa ditransfer ke badanmu tahu,” gumam Sonhee terus membolak-balik menu. “Ah, kau makan ini saja,” putus Sonhee dengan nada final sambil menunjuk gambar seporsi besar seollongtang(ox bone soup) dan tambahan kimchi. “Itu bagus untukmu, sebentar lagi mau comeback, kan? Kau butuh asupan nutrisi super,” Myungsoo mengangkat alisnya tinggi lalu mencubit pipi Sonhee tiba-tiba. “Aduh! Kim L! Pipiku tidak seperti punyamu, tahu!”

“Kan mumpung kau belum menikah, Hee-ya. Kalau kau sudah menikah nanti mana boleh aku mencubit pipimu seperti ini?” sekarang gantian hidung Sonhee yang jadi sasaran jemari Myungsoo. Gadis itu tidak tahu, kalau Myungsoo berusaha menahan keinginannya untuk memeluk dan menciumi seluruh wajah Sonhee. Tak bisa ia pungkiri, ia merasa tersanjung saat Sonhee memilihkan makanan untuknya.

“Ya! Ya! Ya! Stop Kim Soo! Kalau kita ribut terus seperti ini apa gunanya kau memakai masker begitu?” Sonhee berusaha menggapai tangan Myungsoo yang entah kenapa lebih cepat darinya, semakin cemberut mendengar tawa Myungsoo yang terdengar mengejek.

Pada akhirnya Myungsoo melepas tangannya, masih sambil tertawa menatap wajah cemberut Sonhee. “Jadi, kau mau bercerita?”

“Bercerita apa?” tanya Sonhee cepat, sedikit bingung kenapa Myungsoo tiba-tiba berkata dengan nada serius seperti itu.

“Kau ke Mokpo.”

“Ooh,” Sonhee sedikit mendongak lalu tersenyum terimakasih ketika minuman datang. “Jadi, tiba-tiba Albert bilang ingin bertemu lagi dengan keluargaku,” cerita Sonhee singkat, tanpa ekspresi sama sekali. “Ya sudah, aku ke Mokpo bersamanya.”

Salah topik. Myungsoo menyesalinya segera setelah mendengar nama Albert keluar dari mulut Sonhee. Jantungnya berdentum-dentum dengan perasaan tak enak, namun apa daya sudah terlanjur. “Seminggu penuh? Apa yang kau lakukan dengannya?” Myungsoo menjaga supaya suaranya tetap tenang. Meskipun sebenarnya tidak.

Sonhee tidak mengerti, tapi apa hanya perasaannya saja, Myungsoo terdengar seperti sedang menginterogasi? “Aku dapat cuti, tapi Albert hanya di sana tiga hari. Dia kembali ke Seoul karena masih ada pekerjaan,”

“Dalam tiga hari itu dia melamarmu?” tanya Myungsoo lagi. Sonhee mengerutkan keningnya, merasa sedikit aneh. Ada apa dengan Myungsoo hari ini? Tidak seperti biasanya dia nampak kesal atau hampir marah seperti ini. Tapi dengan segera Sonhee menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan perasaan aneh itu. Tidak mungkin. Bisa jadi Myungsoo sedang mengalami hari yang berat.

“Dia melamarku sudah… setahun yang lalu. Kemarin dia datang ke Mokpo dalam rangka mulai mempersiapkan pernikahan,” jawab Sonhee luwes, lalu mendongak ketika pesanan mereka sudah datang. “Nah, Kim Myungsoo, sekarang kau makan.”

Ahjumma, pesan satu lagi untuk gadis ini,” teriak Myungsoo, membuat Sonhee membulatkan matanya kaget.

__

“Sonhee, katakan sejujurnya. Kau serius dengan Albert?”

Kening Sonhee seketika berkerut. “Maksud umma apa?” tanyanya kaget, segera menyingkirkan kertas naskah di atas mejanya lalu menjatuhkan diri ke atas kasur dengan ponsel menempel di telinga kirinya.

“Sonhee sayang, dia memang belum menjelaskan pernikahan kalian. Tapi apa kau benar-benar ingin menikah dengannya?”

“Ya,” jawab Sonhee otomatis. “Memangnya kenapa?”

Sonhee mulai cemas mendengar hembusan napas ibunya di seberang. “Kau yakin benar-benar mencintainya? Kau yakin akan bahagia bersamanya?”

Umma, dia pacarku selama lima tahun, umma dan appa menyetujui pertunanganku dengannya setahun lalu. Artinya dia melamarku tahun lalu. Bagaimana mungkin aku tidak mencintainya?” desah Sonhee setengah kesal. “Apa umma khawatir ia baru akan menyiapkan pernikahan kami?”

“Bukan begitu, sayang,” ibunya di seberang berkata semakin lirih. “Kau sadar, akhir-akhir ini kau sering bertemu dengan siapa?”

Sonhee tercenung. Ia tak bisa menjawab pertanyaan ibunya. Ia tahu sesuatu memang salah. Ia tidak tahu kenapa tapi memang, akhir-akhir ini Myungsoo selalu mengajaknya keluar hampir setiap hari. Bahkan lebih sering menghubunginya daripada Albert. Selama hampir sebulan ini, Albert baru mengajaknya jalan tiga kali. Myungsoo? Hampir setiap hari. Sonhee sampai bingung bagaimana lelaki itu bisa menemukan waktu keluar ditengah persiapan konsernya itu.

“Dan, umma tidak melihat rasa senangmu seperti setahun lalu saat Albert datang ke Mokpo kemarin,” lanjut ibunya tenang dan pelan. “Apa sesuatu terjadi?”

Sonhee tidak bisa berkata-kata. Ia cengkeraman di ponselnya mengendur, ia menggigit bibir lalu melihat ke langit-langit kamarnya. “Aku tidak tahu, umma.”

“Kalau sesuatu memang terjadi, umma tidak menyalahkanmu, sayang,” balas ibunya tenang. “Perasaan bisa berubah. Setahun bukan waktu yang singkat untuk pertunangan kalian. Umma ingin kau tidak menyesal, sebelum semuanya terlambat.”

Umma,” lirih Sonhee. “Apa yang harus kulakukan?”

“Ambil waktumu, sayang. Pikirkanlah lagi. Jika kau ingin memperbaiki hubunganmu, perbaikilah. Jika kau ingin membiarkannya dulu, biarkanlah. Jika kau mantap mengakhirinya, akhiri saja.”

Umma, apa aku memang seperti itu?”

“Seperti apa?”

“Tidak bahagia dengan Albert?”

Ibunya menghembuskan napas berat dari seberang. “Sebagai ibu, umma bisa mengamatimu, nak. Kau tidak terlalu peduli dengan apa yang dia lakukan. Kau bahkan tidak gugup saat mendengarkan Albert menjelaskan pada appa kalau ia mulai menyusun rencana untuk persiapan pernikahan kalian. Kau tidak berseri-seri untuk pernikahanmu.”

“A-Albert memang sedang berusaha memenuhi kebutuhan finansial pernikahan ini setahun lalu,” Sonhee menggumamkan pernyataan untuk dirinya sendiri, seakan ingin mendapat kepastian dari dirinya sendiri. Tapi kenapa ia merasa semakin ragu dengan apa yang diucapkannya? “Aku harus bagaimana?”

“Jangan terlalu terburu-buru. Yakinkan lagi dengan perasaan kalian. Jika memang ia untukmu, kalian akan berakhir bahagia,” Sonhee bisa merasakan senyuman tenang ibunya di seberang, lalu menarik napas lagi.

“Bagaimana dengan appa?”

“Ayahmu… dia terima-terima saja dengan pilihanmu. Jika itu pilihanmu dan kau bahagia, dia hanya bisa menerimanya dan memberi restu. Dia hanya sedikit terkejut dengan sikap percaya diri Albert.”

Sonhee tersenyum tipis dengan kalimat ibunya. “Aku ngantuk, umma. Boleh aku tidur?”

Ibunya tertawa kecil diseberang. “Tidurlah, umma juga sedang berangkat tidur. Jaljayo uri dal~

Jaljayo umma~” Sonhee menghembuskan napas sejenak setelah menutup teleponnya. Ia memandang ke jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Entah kenapa ia punya perasaan ingin pergi ke apartemen Albert. Well, dia tunangannya. Tidak ada salahnya kan jika dia ingin bertemu dengan tunangannya sendiri meskipun sudah malam begini?

Lagipula, aku harus meyakinkan diri sendiri.

Sonhee memasukkan ponsel ke saku celananya, lalu menyambar dompet dan jaketnya. Ia pergi ke apartemen Albert dengan taksi, dan tak sampai lima belas menit kemudian ia sudah berdiri di depan pintu apartemen tunangannya. Albert pernah memberitahu password apartmennya dan Sonhee memberanikan diri untuk menekannya, meskipun ia tidak tahu apakah password itu sudah diganti.

Klik.

Sonhee tersenyum kecil karena password itu ternyata masih sama. Ketika ia masuk ke dalam, lampu menyala namun nampak tidak ada siapa-siapa. Ia melepas sepatunya, namun tercenung sesaat ketika melihat ada sepatu wanita disitu. Mungkinkah ibunya datang? Sonhee memiringkan kepalanya, namun tak mau ambil pusing. Setahunya, perempuan yang biasa datang ke apartemen Albert hanya dia, ibunya, atau bibinya. Sonhee menggigit bibir sejenak, khawatir jika nanti ibu Albert akan mengomentarinya soal ‘perempuan yang datang ke tempat lelaki larut malam begini’.

Apakah ia ada di kamarnya?

Sonhee memberanikan masuk ke ruang tengah, lalu mengarah ke kamar Albert. Mata Sonhee menyipit ketika ia merasa mendengar suara-suara.

Right there! There! Ohh yes~ baby~”

“Argh! Fuck baby, you’re so sexy...”

Moreee~!”

WHAT?!

Sonhee mempercepat langkahnya dan langsung membuka pintu kamar Albert. Matanya membuka melihat apa yang terjadi di atas ranjang lelaki itu. Dua orang yang sedang ada di atas ranjang itu juga terkejut melihat kedatangan Sonhee yang tiba-tiba, terutama Albert sendiri. Mulut Sonhee masih membuka, tidak percaya melihat apa yang hendak terjadi disana. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Albert dan wanita yang ditindihnya di atas ranjang dengan pandangan jijik. Sonhee tahu siapa wanita itu. Sekretaris Albert sendiri. Membayangkan mereka melakukan itu semua, yang pertama dirasakan Sonhee tentu saja marah. Namun ia langsung jijik dengan keduanya.

Lelaki itu cepat-cepat turun dari ranjangnya sambil membenahi pakaiannya, buru-buru mendekati Sonhee yang melangkah mundur. “Sonhee-ya, ini semua—”

“Salah paham? Oho, kurasa tidak. Kau nampak bersenang-senang sebelum aku datang. Aku pasti mengganggumu, ya?” potong Sonhee dengan suara dingin.

“Dengar dulu, aku punya alasan—”

“Karena aku tidak pernah mau melakukannya denganmu, eh? Jadi kau jajan diluar—oh, bukan diluar, kau mencari saja wanita yang mau melayanimu, begitu?” potongnya lagi, dan Sonhee harus berusaha menekan nada bicaranya yang semakin meninggi. “Aku pikir kau benar-benar sibuk jadi kau jarang mengabariku. Ternyata,” Sonhee berdecih sinis menatap pria yang nampaknya sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

“Ini semua tidak akan terjadi kalau kau mengerti kebutuhanku!” seru Albert lantang, namun hanya membuat Sonhee menatapnya makin tak percaya. Ia terdiam sejenak memandangi lelaki yang ‘dia pikir’ dicintainya.

“Jadi kau bilang kita saling tidak mengerti, eh? Jadi kurasa kita tidak perlu menikah kan?” ujar Sonhee dengan suara dingin dan sinis, menekankan kalimatnya menjadi sebuat penryataan. Dengan mata masih memandang Albert ia melepas cincin pertunangan yang melingkar di jari manis tangan kirinya, dan membuangnya ke lantai. “Kalau kau ingin menikah kau harus beli lagi untuk wanita lain.”

Dan dengan kalimat itu, Sonhee memutar tumitnya dan melesat keluar apartemen lelaki bangsat itu.

__

Myungsoo mengerutkan keningnya seraya mempercepat langkahnya keluar ruang latihan. Sedari tadi ia berusaha menghubungi Sonhee, namun nihil. Ini baru jam sebelas, suatu keajaiban sebenarnya jika Sonhee berangkat tidur jam sepuluhan sehingga jam segini wanita itu tidak mengangkat panggilan.

“Yah, L! Kau mau kemana?!” tiba-tiba Sunggyu, si leader Infinite berteriak dan membuat Myungsoo membalikkan punggungnya.

“Mau beli cemilan ke minimarket sebelah, hyung. Mau titip sesuatu?” jawab Myungsoo sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tapi Sunggyu hanya mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

“Aku tidak percaya kau beli cemilan padahal latihan sudah selesai seperti ini.”

Mendengarnya, Myungsoo hanya bisa menelan ludah. Sunggyu dan Woohyun mengenal Sonhee dan tahu kalau Myungsoo selalu bersamanya jika lelaki itu jalan keluar. Tapi kedua member itu juga mulai mencurigai jika mereka berdua jadian, dan makin tidak percaya jika Myungsoo hanya menganggap wanita itu sebagai teman saat Myungsoo menjelaskan kalau Sonhee akan segera menikah. “Aku—”

“Ya sudah, sana pergi. Tapi jangan sampai manager tahu, ya. Nanti Sonhee-mu harus diwawancarai jika mengenalmu secara pribadi,” potong Sunggyu lalu mengibaskan tangannya, tidak ingin membuat Myungsoo gugup apalagi jika harus menyidangnya tentang hubungannya dengan Sonhee. Dia sudah lelah dengan latihan non-stop hari ini dan satu hal yang ada di pikirannya adalah pulang dan tidur. Dia bingung kenapa Myungsoo masih punya tenaga untuk pergi keluar.

Sementara itu Myungsoo mulai kelimpungan karena Sonhee tak kunjung menjawab panggilannya. Ia mulai berpikir kalau gadis ini belum pulang. Setahunya, wanita itu akan memasang ponselnya dengan mode silent jika sedang stres, lalu menghabiskan waktunya di bar dengan segelas alkohol yang tidak akan habis karena hanya diseruput sedikit lalu dipandangi sampai berjam-jam. Ia menghembuskan napas sambil memandang ke luar jendela bus. Keuntungan keluyuran menjelang tengah malam begini, tidak banyak orang yang akan menyadarinya. Jaket ber-hoodie dan topi sudah cukup menyamarkannya.

Astaga, dimana sih dia.

Myungsoo langsung turun di pemberhentian pertama begitu menyadari bar yang sering dikunjungi Sonhee lebih dekat dari lokasinya dibanding apartemen gadis itu. Yah, tidak ada salahnya mengecek tempat itu dahulu, toh dia juga membawa ID-nya. Setelah beberapa menit berjalan ia menemukan bar tersebut dan langsung masuk. Sedikit aneh karena isinya tidak begitu penuh, dan musiknya juga tidak menggila seperti biasanya. Matanya mengedar sebentar sebelum terpaku pada salah satu sudut meja bar, menemukan apa yang dicarinya.

Sonhee memang duduk di salah satu kursi tinggi itu, hanya mengenakan pakaian rumah dengan jaket, bertopang dagu dengan pandangan kosong yang terarah ke segelas dirty martini di hadapannya. Persis seperti dugaan Myungsoo.

Ia mendesah, lalu bergerak mendekati wanita itu dan mengambil tempat duduk di sebelahnya. Namun sepertinya Sonhee sudah terlalu larut dalam lamunannya hingga tak menyadari keberadaan orang asing yang berada di dekatnya. “Yah,” panggil Myungsoo. Tapi Sonhee tetap bergeming.

“Lee Sonhee,”

Baru kali ini maata Sonhee berkedip lalu menolehkan kepalanya. Matanya membulat lalu berkedip berkali-kali ketika menyadari siapa yang memanggilnya. “O-oh?”

Wae? Kau kenapa ada di sini?”

“K-kau—” Sonhee mulai celingak-celinguk ke sekelilingnya, “—kau kenapa bisa ada di sini?”

“Teleponku tidak aku angkat,” gumam Myungsoo sambil tetap memandang Sonhee dengan tatapan serius. “Ada masalah apa?”

Sonhee mengedipkan matanya lalu membuang muka, kembali menatap gelasnya. “A-aku belum ingin membahasnya,” ia hanya bisa menggigit bibir ketika mendengar desahan keras Myungsoo.

“Kalau begitu, ku antar kau pulang ya?”

Sonhee hanya bisa mengangguk. “Tapi, kau mau bantu habiskan ini? Sayang sudah dibeli,” ujarnya polos sambil menunjuk gelas dirty martini-nya yang masih sisa tiga perempat. “Eh, kau boleh minum alkohol, kan?”

“Yah, aku lebih sering minum dibanding kau, tahu.” Cetusnya dan langsung menyambar gelas Sonhee, meminum isinya hingga hampir setengahnya. Sonhee hanya menyeringai tanpa dosa lalu mengambil gelas di tangan Myungsoo, dan ikut menghabiskan sisanya.

Mereka berdua akhirnya keluar dari bar, dan langsung masuk ke dalam bus menuju apartemen Sonhee. Mereka duduk bersebelahan, dan astaga hanya Tuhan yang tahu betapa Myungsoo berusaha keras untuk tidak melingkarkan tangannya ke bahu Sonhee dan memeluk gadis itu erat-erat. Sonhee nampak lelah dan rapuh, meskipun ia tidak menangis. Tapi tatapan redup Sonhee dan senyum terpaksanya yang entah kenapa membuatnya nampak sepeti cangkang kaca yang tidak ada isinya, dan akan langsung pecah jika terbentur sedikit saja.

“Bagaimana kau tahu aku ada disana?” suara Sonhee tiba-tiba memecah keheningan. Ia tidak menatap Myungsoo, takut jika melihat pria itu ia bisa jatuh kepelukannya dan menangis di sana.

“Aku tahu kau, Sonhee,” jawab Myungsoo dengan suara rendah.

__

Sonhee menggeliat, lalu mendesah nyaman sambil tersenyum. Ia merasa sangat nyaman sepanjang tidurnya hingga tak ingin terbangun. Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya dan bergelung semakin rapat ke selimut hangat yang membungkus tubuhnya. Kembali ia tersenyum lagi, merasa nyaman dengan tidurnya ditambah wangi familier ruangan itu yang membuatnya tenang.

Tunggu sebentar. Sesaat Sonhee mngerutkan keningnya, karena seingatnya wangi kamarnya tidak seperti ini.

Ia membuka matanya tiba-tiba, lalu langsung mengangkat tubuhnya sampai terduduk. Matanya membelalak mengetahui pemilik kamar itu.

KENAPA AKU ADA DI SINI?!

Sonhee buru-buru turun dari kasur, dan bergegas keluar kamar. Tidak ada siapa-siapa. Ia kembali menghembuskan napas, lalu melangkah ke dapur. Seperti yang bisa diduga, tidak ada makanan. Kim Myungsoo jarang menyiapkan makanan karena apartemen miliknya ini juga jarang ditempati. Tapi ada secarik post-it yang ditempel di kulkas menarik perhatian Sonhee seraya ia mengambil air minum.

Jangan marah kau kubawa kesini, aku tidak tahu kau menaruh kuncimu dimana. Aku sempat telepon pegawaimu dan bilang kalau kau sakit. Jadi jangan kemana-mana, oke?! Ada roti di meja tamu, kalau kau mau makan. Nanti aku pulang selesai latihan.

-L-

Kepala Sonhee berputar selesai membaca tulisan itu, dan melongok keluar dapur. Memang ada sebuah kantong kertas dan segelas—entah teh, atau kopi di atas meja tamu. Menurut dengan catatan Myungsoo, Sonhee mendudukkan dirinya di sofa dan mulai membuka kantong itu. Ia mencomot sebuah muffin dan menggigitnya. Sambil mengunyah, ia teringat lagi dengan kejadian semalam.

Sialan. Dia jadi tidak nafsu makan lagi.

__

To : Sonhee

Kau tidak usah pulang. Apartemenmu jauh dari tempatku. Pakai saja bajuku kalau kau mau mandi.

From : Sonhee

Oke.

To: Sonhee

Kalau kau kelaparan kau boleh belanja. Tapi jangan jauh-jauh, habis itu langsung kembali!

From : Sonhee

Akan kulakukan. Tenang saja.

To: Sonhee

Jangan lakukan hal-hal aneh.

From : Sonhee

Tidak akan.

“L, sudahlah, dia sudah dewasa. Dia akan baik-baik saja,” Sunggyu meremas bahu Myungsoo, berusaha mengalihkan tatapan cemas Myungsoo dari ponselnya. “Makan makananmu, kita masih ada latihan sampai sore. Nanti kan kau bisa pulang lebih awal karena Dongwoo cuti tiga hari.”

Hyung…”

“Yah, Kim Myungsoo, berhentilah berekspresi seperti suami yang cemas istrinya akan dibawa orang,” celetuk Woohyun yang baru masuk dengan tiga botol air mineral. “Dimana Sungjong? Dia masih di studio rekaman?”

Sunggyu hanya mengangguk dan melirik Myungsoo lagi. “Katamu Sonhee akan segera menikah? Tapi kenapa malah kau yang mengurusnya saat dia sakit?”

Belum Myungsoo menjawab pertanyaan Sunggyu, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari Sonhee. Tanpa berpikir panjang, Myungsoo langsung bangkit dan berjalan keluar ruang latihan sambil menjawab panggilan itu. “Sonhee?”

Sementara Woohyun dan Sunggyu yang ditinggal hanya bisa saling berpandangan heran. “Hyung, kau yakin mereka hanya berteman?”

“Sonhee akan menikah, kau tahu. Dan bukan dengan Myungsoo,” balas Sunggyu sambil meneguk airnya.

“Kau yakin? Kenapa nampaknya dua orang itu yang sepertinya akan menikah?” Woohyun mendengus tak mengerti. “Aku tahu mereka berdua bakal cocok saat pertama kali aku melihat Sonhee. Tapi aku tak tahu kalau Myungsoo sampai tergila-gila seperti ini.”

Sunggyu hanya mengendikkan bahunya. Dia tahu, Myungsoo sudah pada umur yang cukup untuk memulai sebuah hubungan yang serius. Hampir setengah member Infinite pun sudah mulai menginginkan hubungan yang serius ke depan, termasuk dirinya. Tapi kasus Myungsoo… Sunggyu tak tahu apakah ia harus memberi Myungsoo nasihat secepatnya. Karena dalam situasi seperti Myungsoo, hampir mustahil jika ingin bersama dengan seseorang yang cepat atau lambat akan segera menjadi milik orang lain.

__

Ting!

Kepala Sonhee mendongak ketika mendengar pintu apartemen terbuka. Ia melirik jam dinding, ternyata jam lima sore. Tumben sekali?

Ia bangkit dari sofa dan melangkah mendekati meja makan, lalu berdiam ketika Myungsoo hanya menatapnya lurus dan meletakkan kantung plastik hitam di atas meja makan. “Kau pulang cepat?”

“Hng, aku bisa pulang duluan karena Dongwoo juga sedang pulang ke rumahnya,” jawab Myungsoo lalu melangkah mendekati Sonhee. “Bagaimana keadaanmu?”

“Hm, aku baik-baik saja,” jawab Sonhee pelan, belum menatap mata Myungsoo. “Kau bawa apa?”

Sundae-kook. Kau suka kan?”

Sonhee mengangguk lalu meraih kantung plastik itu. “Kau mau langsung makan atau nanti saja?”

“Nanti saja.”

“Oke,” sahut Sonhee, lalu berbalik dan meletakkan kantung plastik itu di dalam kulkas. Dan keduanya terdiam. Sonhee memindahkan tangannya dan mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air. Pikirannya penuh sekarang. Albert tak berhenti menelponnya dan mengiriminya pesan. Dan ia yakin ponselnya yang masih berada di kamar Myungsoo terus bergetar.

“Apa yang terjadi semalam?” tanya Myungsoo tiba-tiba, nadanya sulit ditebak. Sonhee hanya bisa menelan ludah, lalu berbalik menghadap Myungsoo yang berdiri di ambang ruang dapur.

“Aku—“ Sonhee menghentikan kalimatnya sejenak, mengumpulkan keberaniannya untuk melanjutkan. “—memutuskan pertunanganku dengan Albert.”

Kedua mata Myungsoo melebar, ia memandangi Sonhee yang menunduk sambil menggenggam segelas air. Matanya turun ke kedua tangan Sonhee. Sudah tidak ada cincin di sana. “… bagaimana bisa?” tanyanya ragu, masih belum bisa mencerna apa yang tengah terjadi.

“Dia…” suara Sonhee bergetar dan terdengar akan tumbang, sehingga Myungsoo melangkah mendekatinya dan menggenggam kedua tangannya. Gelas yang tadinya dipegang Sonhee sudah ia letakkan di konter dapur, lalu ditariknya Sonhee mendekat.

“Dia kenapa?”

“Dia bersama wanita lain,” dan dengan kalimat itu, tangis Sonhee pecah seketika. Myungsoo langsung menariknya ke pelukannya, dan merengkuhnya ketika mendengar tangis Sonhee semakin keras.

Sonhee hanya membiarkan dirinya menangis sepuasnya dipelukan Myungsoo. Ia tidak bisa menangis semalam, karena seakan tak ada hal yang perlu ditangisi. Sekarang sebenarnya ia juga bingung kenapa ia menangis, karena anehnya, ia menangis bukan karena Albert. Sejak semalam, ia tidak sakit hati dengan apa yang telah dilakukan Albert. Ia tidak tahu kenapa ia bisa menangis sekeras ini.

Sementara Myungsoo, yang hanya bisa merengkuhnya sambil mengelus rambutnya, hanya bisa terdiam seribu bahasa. Di satu sisi, ia hancur ketika melihat Sonhee yang juga hancur seperti ini. Tapi di sisi lain, ia merasa bersyukur karena Sonhee bukan lagi milik Albert.

Tuhan, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia berbahagia disaat wanita yang dicintainya berduka?

To be continued…

One thought on “[TWOSHOTS] Idiot [1.2]

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s