(Vignette)Rhythm of the Rain

img1479541414663

img1479541414663

Chunniest Present

^

Rhythm of the Rain

^

Main Cast :

Jeon Jungkook (BTS) – Park Jiyeon (T-ARA) – Mun Eric as Park Eric

^

Genre: Sad, romance | Length: Vignette

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Aku akan selalu mencintaimu bahkan jika orang lain menganggapmu tidak pantas tapi bagiku kau pantas bersanding di sampingku

 

Hujan mengguyur daerah Seoul siang itu. Meskipun tidak terlalu deras namun mampu membuat orang basah kuyup. Bagi orang lain mereka akan memilih berteduh di dalam rumah dengan menyalakan penghangat ruangan seraya menikmati secangkir teh hangat. Namun tidak bagi lelaki yang mengenakan jas hujan biru dan asyik bermain dengan genangan-genangan air.

Wajah tampan lelaki itu tampak gembira melihat air yang diinjaknya menciprat ke segala air. Meskipun udara saat itu dingin namun lelaki bernama Jeon Jungkook itu tak memperdulikannya. Dari kejauhan tampak seorang gadis berjalan mengampiri Jungkook dengan payung yang melindunginya dari hujan.

“Jungkook-ah. Kau sudah lama mainan di bawah hujan. Ayo kita pulang!” Ajak gadis bernama Jiyeon dengan nada suara lembut.

Jungkook menoleh dan memberikan senyuman selebar mungkin. “Noona ayo ikutan main hujan-hujanan. Ini sangat menyenangkan.”

Mianhae Jungkook-ah. Tapi noona tidak memakai jas hujan nanti noona bisa sakit jika ikut main hujan-hujan dengan Jungkook.”

Jungkook tampak menunduk kecewa dengan penolakan Jiyeon. Kelemahan Jiyeon adalah tak ingin membuat lelaki dihadapannya kecewa.

“Baiklah noona akan ikut main tapi dengan syarat Jungkook harrus mau ikut noona pulang setelah bermain sebentar. Bagaimana?”

Jungkook mengangguk penuh semangat. Akhirnya Jiyeon menurunkan payungnya membiarkan rintikkan hujan menerpa tubuhnya. Awalnya Jiyeon sedikit terkejut dengan dinginnya air hujan namun semakin lama gadis itu mulai terbiasa. Jungkook tampak bahagia melihat gadis dihadapannya ikut bermain hujan dengannya.

 

*     *     *     *     *

 

Jiyeon mengelap rambut Jungkook setelah mandi. Lelaki yang menginjak usia 20 tahun beberapa hari yang lalu tengah asik memainkan mainan robotnya. Dengan mengeluarkan suara-suara mesin robot Jungkook mempertarungkan kedua robot di tangannya. Setelah mengeringkan rambut Jungkook dengan handuk, Jiyeon mulai menyisiri rambut pendek lelaki itu.

Noona liat Bubble bee berhasil mengalahkan Megatron. Bubble beeku hebat bukan?” Ucap Jungkook menunjukkan robot berwarna kuning.

“Benar Bubble bee Jungkook kan hebat. Ommo… Lihatlah di kaca. Jungkook ku terlihat sangat tampan.”

Jungkook menurut dan melihat ke cermin. Rambutnya sudah tersisir rapi membuat wajahnya semakin tampan.

“Ini berkat noona. Gomawo noona.” Jungkook memeluk perut Jiyeon dengan erat.

“Sama-sama Jungkook-ah.”

Tookk… Tookkk…

Jiyeon menoleh dan melihat ayahnya sudah berdiri di depan pintu. Wajah Jiyeon berubah kesal karena malas harus berbicara dengan sang ayah karena uhung-ujungnya mereka pasti bertengkar.

Jiyeon melepaskan pelukan Jungkook dan berlutut. “Jungkook-ah, noona akan bicara dulu dengan abeoji setelah itu noona akan menemanimu tidur.”

Jungkook menggeleng keras. “Andwae. Noona jangan berbicara dengan namja itu. Aku tidak ingin noona disakiti.”

Jiyeon tersenyum mendengar Jungkook mengkhawatirkannya. “Jungkook tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa pada noona. Maukah Jungkook berjanji akan disini sampai noona kembali?”

“Aku berjanji noona.”

Jiyeon menyentuh pipi Jungkook dan tersentum sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamar.

 

*     *     *     *     *

 

“Sampai kapan kau harus mengurusi suamimu yang gila itu?” Tanya Eric.

“Jungkook tidak gila abeoji. Dia hanya bertingkah seperti anak kecil.” Jiyeon berusaha tidak tersulut emosi.

“Seharusnya namja seusia dia bisa bekerja untuk menafkahimu. Bukan malah kau yang bekerja lalu kau juga harus mengurusi dia.”

“Tidak selamanya suami yang harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga abeoji. Ada kalanya sang istri yang melakukannya.”

“Tapi seharusnya itu tidak berlaku di dalam keluarga Park yang terhormat Jiyeon-ah. Seharusnya kau menikah dengan Mark dari kalangan yang sama dengan keluarga kita.”

Abeoji aku sudah mengatakan ratusan kali jika aku tidak menyukai Mark. Jika abeoji merasa malu dengan suami pilihanku, abeoji bisa mencoret namaku di dalam keluarga Park.” Suara Jiyeon semakin meninggi mendengar nama calon pilihan ayahnya.

Eric tampak menggeram mendengar ucapan Jiyeon. Dia sadar jika dia mencoret nama Jiyeon dalam daftar keluarga Park maka tidak akan ada orang lagi yang bisa meneruskan nama besar Park karena Jiyeon adalah putri satu-satunya.

“Sepenting itukah Jungkook untukmu? Apa kau pikir dengan dia kau bisa memiliki keturunan? Bagaimana jika anakmu kelak sama saja dengan abeojinya yang gila?”

“JUNGKOOK TIDAK GILA.” Habis sudah kesabaran Jiyeon. Gadis itu paling benci jika ayahnya mengatakan Jungkook gila. “Perkembangan Jungkook hanya terlambat. Dia tidak gila. Dia bisa menulis dan mengenali orang tidak seperti orang gila lainnya. Aku tahu betul apa yang diderita Jungkook karena aku dokternya.”

“Jika ada lagi pasien seperti Jungkook apa kau akan menikahinya juga? Kau hanya kasihan padanya Jiyeon-ah. Kau tidak pernah mencintainya.”

Jiyeon terdiam. Bukan karena ragu dengan ucapan sang ayah namun dia menajamkan telinganya dan mendengar suara langkah orang berlari.

“Jungkook.” Jiyeon hendak meninggalkan ayahnya namun Eric mencengkram lengan putrinya. “Biarkan dia pergi. Hilangkan rasa kasihanmu. Kau akan menemukan seorang normal yang mencintaimu.”

“Tidak. Aku mencintai Jungkook. Sangat mencintainya. Itu bukanlah rasa kasihan tapi itu adalah rasa cinta. Karena Jungkooklah yang bisa membuat hidupku berwarna-warni. Tidak akan ada lagi namja yang bisa membuat hidupku seperti itu selain Jungkook. Sampai kapanpun abeoji berusaha merubah pilihanku tidak akan terjadi apapun karena namja pilihanku hanyalah satu yaitu Jungkook.”

Jiyeon menepis tangan Eric lalu berlari keluar. Dia menuju kamar dan melihat pintu terbuka. Tak ada Jungkook di dalam dan Jiyeon yakin suara langkah orang berlari tadi adalah Jungkook. Dia berlari menuju pintu keluar. Dia melihat sepatu Jungkook yang basah masih berada di tempatnya berarti suaminya itu pergi tanpa mengenakan alas kaki. Jiyeon mengambil payung dan juga sandal untuk Jungkook.

Diluar hujan semakin deras dan itu membuat Jiyeon semakin khawatir. Dia melihat ke kanan dan ke kiri tak ada tanda-tanda dari Jungkook.

“Jungkook-ah.” Seru Jiyeon seraya berjalan mencari suaminya.

Tatapan Jiyeon berkeliling ke segala arah mencari keberadaan lelaki yang teramat penting baginya itu. Angin berhembus membuat hujan menmbasahi pakaian Jiyeon sebagaian. Dingin itulah yang dirasakan gadis itu membuatnya cemas dengan keadaan Jungkook.

Noona.”

Seketika Jiyeon menoleh dan melihat Jungkook basah kuyup tak jauh darinya. Jiyeon langsung melepaskan payungnya dan berlari memeluk suaminya itu.

“Jungkook-ah jangan dengarkan kata abeoji. Abeoji tidak tahu apa-apa tentang perasaan noona. Perasaan yang noona rasakan pada Jungkook bukanlah rasa kasihan tapi rasa cinta Jungkook-ah. Percayalah pada noona.”

“Jungkook percaya pada noona. Jungkook tidak pernah berpikir jika noona kasihan pada Jungkook.”

Jiyeon melepaskan pelukannya dan memperlihatkan wajahnya yang basah karena hujan. “Jika Jungkook percaya mengapa Jungkook pergi?”

“Jungkook membeli cincin ini untuk noona. Jungkook ingin membuktikan jika Jungkook mempunyai uang dan membeli cincin ini untuk noona.”

Jiyeon melihat kotak cincin yang berisi cincin polos di dalamnya. “Darimana Jungkook mendapatkan uang untuk membeli cincin ini?”

“Tabungan Jungkook. Mianhae, noona pernah bilang untuk tidak menggunakan uang tabungan tapi Jungkook ingin membuktikan jika Jungkook bisa menjadi suami yang baik untuk noona.”

Jiyeon terharu mendengar ucapan Jungkook. Bahkan air mata pun ikut keluar meskipun tersamarkan oleh tetesan air hujan. Gadis itu langsung memeluk Jungkook dengan erat.

Noona sangat mencintaimu.” Ucqp ajiyeon dengan hati yang tulus.

Jungkook membalas pelukan Jiyeon. “Jungkook juga mencintai noona.”

 

~~~END~~~

Maaf jika karakter Jungkook berbeda. Jika ada yang tidak menyukainya author mohon maaf. Tiba-tiba saja ide cerita ini muncul begitu saja di saat author sedang bingung dengan FFnya Leo.

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s