[TWOSHOTS] Idiot [2.2]

Idiot

A twoshots by reenepott

Kim Myungsoo, Lee Sonhee(OC) | Romance | Parental Guidance

A/N : Tadinya ini mau jadi fanfic Myungsoo pas dia ultah dan cuma ficlet. Tapi kebablasan jadinya :/

Credit poster by dyzhetta @ Art Fantasy

(thank you for this simple yet gorgeous poster ^^)

__

CHAPTER 2/2

Sonhee mengedip sejenak lalu jemarinya berhenti menari di atas keyboard laptop-nya. Sudah hampir seminggu semenjak pertunangannya kandas dengan Albert. Dan pria itu masih menghubunginya setiap hari. Terkadang malah datang dan menunggunya di depan pintu apartemen. Dan sampai sekarang Sonhee terus menghindarinya. Apakah ia harus menemuinya sekali dan membereskan semua secara baik-baik? Tapi baginya semua sudah berakhir sejak kejadian itu.

“Ms. Lee? Kau sedang mengedit naskah dari penulis Jung, kan? Dia menanyakan kapan selesainya,” kepala Sonhee tersentak ketika salah seorang rekan kerjanya, Im Shiwan, menegurnya tiba-tiba.

“Eoh? Oh, ini tinggal tiga episode terakhir. Kalau tidak besok, mungkin lusa? Apa tidak apa-apa?” jawab Sonhee buru-buru sambil menyimpan hasil kerjanya yang ada di laptop.

“Ooh, gwaenchanna. Lusa tidak apa-apa. Kita masih punya banyak waktu, seperti biasa kau gesit kerjanya,” rekan kerjanya tersenyum memuji, “Aku balik ya,”

“Oke.”

Bip!

From: Myungie

Hari ini mau menginap? Aku bisa pulang nih. Mau makan apa?

Seulas senyum langsung tersungging di bibir Sonhee. Entah kenapa, ia selalu semangat ketika Myungsoo mengajaknya bertemu. Apalagi akhir-akhir ini, karena hubungannya dengan Albert yang kandas, ia berkali-kali menghindari Albert dengan menginap di apartemen Myungsoo. Sampai hari ini, Sonhee sudah menumpuk beberapa baju ganti di apartemen lelaki itu karena begitu seringnya ia kesana. Namun masih ada satu masalah yang belum selesai.

Ia belum bilang pada ibu dan ayahnya. Sonhee pikir, sebaiknya ia pulang dan memberitahu orangtuanya kalau pertunangan ini sudah berakhir. Tidak mungkin ia bisa menjelaskan semuanya lewat telepon. Namun sampai sekarang juga, ia belum menemukan waktu untuk bisa pulang berhubung cutinya sudah diambil terdahulu.

To: Myungie

Ya! Aku butuh cerita denganmu. Apapun deh, tapi yang banyak ya.

Setelah membalas pesan Myungsoo, Sonhee bersiap untuk beranjak dan mengambil kopi.

“Lee Sonhee! Ada yang ingin bertemu denganmu, dia ada di lobi!” kepala Sonhee menoleh ketika teriakan rekan kerjanya, Choi Sulli, menggema tiba-tiba.

“Ada apa? Ini kan masih jam kerja, kita tidak boleh keluar dulu, kan?”

“Aku tidak tahu, pria itu ngotot dan akhirnya diperbolehkan resepsionis. Jadinya kau dipanggil deh,” sahut Sulli sambil mengendikkan bahunya. “Cepat, sebelum manajer tahu. Dan jangan lama-lama, nanti kau kena damprat!”

“Oke, makasih Sul,” Sonhee tersenyum singkat dan langsung melesat ke lobi, masih dengan secangkir kopi di tangannya.

Sonhee melangkah keluar lift dengan cepat, berbelok ke luar dan membalas senyum seorang resepsionis yang melayang padanya. Mata resepsionis itu mengarah ke sofa tunggu, mengisyaratkan kalau ada yang menunggunya di sana. Sekali lagi, Sonhee mengulum senyum terimakasih sebelum bergegas ke arah yang ditunjukkan padanya.

Dan langkahnya memelan secara berkala. Jantungnya serasa copot ke bawah, ia tak menyangka kalau Albert akan menemuinya di saat jam kerja seperti ini.

Seketika setelah mata Albert bertemu pandang dengannya, lelaki itu langsung bangkit dan bergegas menghampirinya.

“Ada apa lagi?”

“Sonhee, aku minta maaf,” Albert berusaha meraih tangan Sonhee, yang ditepisnya pelan. “Aku mohon, kita sudah sejauh ini. Haruskah kita berakhir seperti ini?”

“Kau yang memutuskan akhir dari hubungan kita, Albert,” balas Sonhee dengan suara yang tersendat. “Kau sebaiknya pergi, aku tidak ingin melihatmu,”

“Lee Sonhee, bagaimana dengan semua yang telah kita persiapkan?”

“Kau sudah membatalkan semuanya, Albert! Kau sudah menghancurkan semuanya saat kau menyentuh wanita itu! Tak bisakah kau bersabar sedikit? Kalau kau benar menyayangiku, kau akan bersabar menungguku!”

Sonhee menahan napasnya ketika tiba-tiba Albert jatuh berlutut di hadapannya. Beberapa orang yang lalu lalang mulai memerhatikan mereka, dan Sonhee menutup matanya ketika ia mulai menyadari kalau mereka menjadi bahan tontonan.

“Berdiri, ini tempat umum,” geram Sonhee dengan suara rendah.

“Aku sungguh menyayangimu, Sonhee-ya. Tolong, berilah aku kesempatan satu kali saja. Aku tak akan menyakitimu lagi.”

“Albert, berdiri!”

“Aku tahu aku salah. Tapi aku ingin memperbaikinya. Lee Sonhee, aku tak bisa hidup tanpamu.”

Tangan Sonhee meraih bahu Albert dan menariknya berdiri. “Albert, kita butuh bicara. Kau dengarkan aku.”

Sonhee menyeret Albert ke sofa yang didudukinya tadi, lalu ikut duduk di seberangnya. “Aku tahu aku salah, tapi bisakah kita kembali seperti dulu? Aku sungguh tak menaruh perasaan apapun padanya.”

Namun Sonhee hanya menatap Albert dalam diam, menunggu pria itu memerhatikannya sebelum ia angkat bicara.

“Albert, kejadian itu, entah kenapa sudah tak membuatku marah,” aku Sonhee dengan suara pelan. “Aku tak tahu kenapa. Tapi setelah aku pikir lagi, kita yang seperti ini tidak bisa dilanjut terus. Kau sadar, waktu itu kita hanya bertemu sebulan sekali tanpa ada seorangpun diantara kita yang protes. Aku rasa… aku pikir kita memang sudah tidak bisa dilanjut lagi.”

“Tapi…”

“Tolong, biarkan aku selesai bicara, bisa?” potong Sonhee tajam. Albert memandang Sonhee sejenak lalu terdiam dan mengangguk. “Kalau kau mau aku jujur, sebenarnya malam itu aku sedang meragukan perasaanku padamu. Makanya aku datang. Tapi ternyata yang kulihat… yah, itu mungkin memberiku sedikit terang. Kau sudah tak mencintaiku, begitu juga aku. Dari tingkah lakumu, kurasa aku benar soal itu. Katakan, apa kau masih merasakan sesuatu untukku?”

Dan Albert hanya bisa memandangi Sonhee dalam diam. Wanita itu menghembuskan napasnya.

“Sungguh, aku tidak marah. Karena inilah jalan kita. Kalau kita memang tidak bisa bersama, tidak mungkin dipaksa, kan? Kau akan berakhir tidak bahagia, begitu juga aku.”

Keduanya saling tatap tanpa bersuara.

“Jadi kita berakhir?” tanya Albert setelah lebih banyak diam. “Seperti ini?”

“Bersyukurlah kita mengetahui ini sebelum pernikahan. Kita bisa menghentikannya sebelum semua terlambat.”

“Jujur padaku, Sonhee-ya. Apa kau jatuh cinta pada pria lain?” tanya Albert datar namun langsung menusuk tepat ke hati Sonhee. Untuk sesaat ia tak bisa menjawabnya.

“A-aku tidak tahu,” jawab Sonhee sambil membuang muka. “Tapi kalau aku dekat dengan seorang pria selama kau tak ada di sampingku, itu benar. Tapi aku tidak bisa mendefinisikan perasaanku dengannya.”

Albert kembali memandangi wajah Sonhee lamat-lamat. Keningnya berkerut ketika menangkap semburat merah di pipi Sonhee, namun ia segera menarik napas.

Well, aku tidak bisa membantah kata-katamu tadi,” putus Albert akhirnya, mengalihkan pandangannya dari wajah Sonhee. “Apa kau sudah memberitahu kedua orangtuamu?”

Sonhee menatap ke dalam mata kelabu Albert sejenak lalu menggeleng. “Aku belum sempat. Tidak enak membicarakan hal ini lewat telepon. Kalau terpaksa secepatnya aku akan menghubungi mereka, atau kalau bisa pulang aku akan mengatakannya secara langsung,”

“Aku juga belum. Kupikir, kita bisa memperbaiki ini. Tapi sepertinya sudah tak mungkin,” Albert menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya berdiri. “Kurasa kita bisa bicara lain kali. Aku pasti menganggu jam kerjamu. Aku juga harus segera kembali ke kantor,” lanjutnya dengan suara lemah.

Sonhee hanya bisa menatapnya yang bersiap untuk pergi. “Albert, aku minta maaf kalau seminggu ini aku menghindarimu mati-matian,”

Tak disangka, Albert mengembangkan senyum tipis yang sedih. “Aku mengerti perasanmu, Sonhee-ya. Kalau aku jadi kau aku juga akan melakukannya.”

“Kuharap kau berbahagia,” ujar Sonhee sambil menatap Albert dengan perasaan bersalah. “Kau pria yang baik,”

“Kau juga wanita terbaik yang pernah aku temui, Lee Sonhee. Kuharap kau juga berbahagia.”

__

Ting!

Sonhee membuka pintu apartemen Myungsoo dan segera masuk.

“Ah, kau datang tepat waktu,” Sonhee mendongak dan langsung tersenyum mendengar suara Myungsoo yang menyambutnya.

Ia bergegas ke ruang tengah dan letakkan tasnya di sofa, lalu mengikuti sosok Myungsoo yang tengah berkutat di dapur. “Kau beli sesuatu?”

“Aku hampir membeli semuanya. Ada japchae, kimchi jigae, samgyetangcha, kau mau makan yang mana?”

Mulut Sonhee menganga melihat makanan yang baru dipanaskan Myungsoo. “Wah, kau benar-benar mau berpesta?”

Ani, aku hanya ingin saja. Aku sengaja membeli samgyetang untukmu. Lihat lingkaran hitam di bawah matamu, aigoo..”

“Kau juga, kan? Kau juga latihan dari pagi sampai malam begini. Kau katanya juga ada jadwal untuk film dokumenter dan comeback Jepang, kan?” sergah Sonhee sambil ikutan menyiapkan nasi. “Kali ini kau akan kemana saja?”

Myungsoo mengangkat kepalanya sejenak sambil berpikir. “Selama dua hari ke depan, kami masih seperti ini. Setelahnya kami harus ke Jepang untuk syuting dan promosi, dan kembali lagi untuk menyiapkan film dokumenter itu.”

Sonhee membuang tatapannya ke semangkuk nasi ketika mendengar kalau lelaki itu harus pergi. Ia menggigit mulut bagian dalamnya, merasa bingung dengan perasaan tidak rela yang perlahan menyelimuti hatinya. “Berapa lama di Jepang?”

“Hng? Mungkin… sebulan? Bisa lebih juga. Karena persiapan film Grow sudah hampir sembilan puluh persen, jadi tidak akan memakan waktu banyak.”

“Oh,” hanya itu tanggapan Sonhee. Kenapa dia jadi aneh begini?

“Kau mau oleh-oleh apa?” tanya Myungsoo tiba-tiba yang membuat Sonhee mengangkat wajahnya. Pria itu menggerakkan kepalanya, mengisyaratkan Sonhee untuk segera duduk dan makan.

“Apa saja,” jawabnya dengan suara rendah. Mereka mulai makan dalam diam, entah karena Sonhee yang nampak enggan membuka percakapan atau Myungsoo yang merasa ragu untuk angkat bicara mendengar nada suara Sonhee tadi.

“Tadi aku bertemu Albert.”

Dan Myungsoo langsung mengangkat wajahnya. “Nde?!

“Dia yang datang ke kantor. Dan kami bicara baik-baik. Dia sudah tenang,” sambung Sonhee buru-buru. “Aku sedikit bingung, dia nampak cepat mengerti dengan apa yang kukatakan. Aku bilang kami sudah tidak saling mencintai, dan dia langsung menyetujuinya. Mungkin? Dia nampak bersikap seperti itu.”

“Berarti dia sudah berhenti mengganggumu, kan?”

“Sepertinya begitu.”

“Harusnya memang begitu. Sudah memberitahu orang tuamu?”

Pertanyaan Myungsoo membuat Sonhee meletakkan sumpitnya. “Justru itu. Menurutku masalah ini tidak bisa dibicarakan lewat telepon, jadi aku belum meneleponnya. Tapi aku juga belum bisa pulang.”

“Setidaknya, beritahu dulu. Untuk penjelasannya, kau bisa bilang akan mengatakannya saat kau pulang nanti, kan?” sahut Myungsoo spontan. Sonhee hanya tercenung lalu menghembuskan napas.

“Ya, kau benar. Mungkin aku bisa bilang dulu.”

Kedua mata Myungsoo mengawasi wanita yang sedang menyeruput kuah samgyetang dengan seribu perasaan. Ia hampir tak bisa menahannya lagi. Jujur, dia senang karena dengan berakhirnya pertunangan Sonhee dengan laki-laki itu membuat peluangnya untuk bersama dengan Sonhee makin besar. Tapi bagaimana dengan parasaan wanita itu? Ia semakin takut jika Sonhee hanya memandangnya sebagai teman dekat. Dia takut perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.

Bisakah ia membuat Sonhee menjadi miliknya? Kedua tangannya sudah tak tahan untuk memeluk wanita itu dan menjaganya dalam dekapannya. Kedua matanya sudah lelah untuk tidak menatapnya dengan sorot mendamba. Bibirnya sudah terlalu sering menahan hasrat untuk memagut dua belah bibir yang bersemu merah muda itu.

Oh astaga. Makin lama Myungsoo merasa dirinya makin gila.

Dan Sonhee yang sering menginap di tempatnya juga tak kunjung membuat perasaannya tenang. Sonhee yang tidur di samping kamar tidurnya benar-benar membuatnya terjaga sepanjang malam. Ia terus berdebat dengan pikirannya sendiri, memilih antara masuk ke kamar Sonhee dan memandanginya semalaman atau menggendongnya ke kamarnya dan tidur sambil memeluknya. Meskipun ia tak pernah melakukan kedua hal tersebut, tapi pikirannya terus kacau.

Oh, jangan bilang Myungsoo merasa keberatan dengan keberadaan Sonhee di apartemennya. Ia rela melakukan apa saja supaya Sonhee justru pindah kesana. Tapi Sonhee hanya menginap kalau ia sedang ketakutan dengan teror Albert seperti hari-hari kemarin, atau kalau Myungsoo sendiri yang menawarkannya.

Lee Sonhee, kau benar-benar. Bagaimana caranya seorang visual seperti L tergila-gila padamu seperti ini, eoh?

__

Jika ada satu hal yang dibenci Sonhee, adalah hujan badai dengan gemuruh yang hebat seperti ini.

Bukan karena dia takut, tapi karena dia tidak akan bisa tidur dengan suara berisik itu. Karenanya, sampai jam dua pagi ini dia masih berada di ruang tamu, duduk di sofa sambil memeluk lututnya, dengan mata menancap pada layar televisi dengan volume ekstra kecil.

Ia mendesah lelah. Kepalanya sakit karena masih bangun, tapi matanya tak kunjung terkatup. Ia sama sekali tidak mengantuk. Sepanjang hidupnya ia tidak pernah tidur disaat badai seperti ini. Waktu ia masih sekolah, ia pasti membolos karena pagi harinya ia tidur karena lelah. Kalau sekarang dimana ia sudah bekerja, ia pasti ijin sakit. Tapi ia tak bisa sering-sering ijin sakit, jadi terkadang ia memaksakan diri tetap ke kantor meskipun ia berkali-kali jatuh tertidur saat bekerja. Kopi sama sekali tidak membantu, ia tetap akan tidur meskipun sudah minum segelas americano ataupun satu sloki espresso.

Matanya bergerak ketika ia mandengar suara pintu terbuka.

“Belum tidur?”

Sonhee hanya bisa nyengir lelah melihat Myungsoo yang nampaknya ngantuk berat—dia mungkin mau ambil minum atau terlalu berisik dengan suara televisi. “Aku membangunkanmu ya?”

Myungsoo menjawab dengan gelengan. “Aku haus.”

Sonhee kembali memfokuskan matanya dengan acara televisi di hadapannya dan membiarkan Myungsoo kembali ke kamarnya.

“Kenapa tidak tidur?”

“Terlalu berisik, aku tidak bisa tidur,” jawab Sonhee sambil menggembungkan pipinya, melirik jendela yang berkilat-kilat karena petir.

“Besok ada kerja kan? Kau harus tidur,” Sonhee merasa bersalah mendengar suara Myungsoo yang benar-benar terdengar mengantuk.

“Aku tidak apa-apa, Myung. Kau tidur lah, suaramu sudah seperti zombie.”

“Mau tidur denganku?” Sonhee tertegun dengan pintaan Myungsoo itu. Apakah lelaki ini bicara ngawur karena mengantuk? “Mungkin kalau kau ditemani seseorang kau bisa tidur?”

Mulut Sonhee tergagap, ia belum bisa bicara. Apa? Tidur dengan lelaki?! Ibunya pasti akan mencekiknya jika tahu.

“Oh, ayolah, kau ada kerja besok dan tidak bisa tidur. Hanya tidur, kita tidak melakukan apa-apa,” ujar Myungsoo lagi. Sonhee menelan ludahnya. Ia yakin Myungsoo tidak akan berbuat apa-apa padanya, tapi tetap saja. Dia kan laki-laki! Bukan, dia pria dewasa! Oh my, dia pria dewasa dan artis tampan—visual Infinite!

“Ng…”

“Aku juga ingin tidur. Kalau kau tidak segera tidur, entah seperti apa matamu besok,” lanjutnya, semakin meyakinkan Sonhee. “Aku tahu batasan kok.”

“Uh-oh. Oke.”

Dan dengan itu Sonhee mengikuti Myungsoo masuk ke kamar pria itu. Ia mengedip, ragu karena ia tak pernah masuk ke kamar pria sebelumnya. Oh, dia pernah, pada malam ia mengetahui perbuatan Albert waktu itu. Dia tidur di sini. Myungsoo langsung ambruk di kasurnya, mengambil tempat di sebelah kanan dan kembali bergelung dalam selimut. Dengan lutut bergetar Sonhee mengambil tempat di sebelah kiri, dan merebahkan tubuhnya di sana.

Begitu kepalanya menyentuh bantal, wangi familier seperti waktu itu kembali memenuhi penciumannya. Entah kenapa, wangi itu juga perlahan mengundang matanya semakin berat hingga ia jatuh tertidur, sambil menghirup napas nyaman dan bergelung dalam kehangatan.

Suara alarm yang pertama kali mengusik tidurnya, hingga Sonhee mengerutkan keningnya dan matanya menerjap membuka. Ia mendesah nyaman dalam kehangatan yang menyelimutinya, berpikir sejenak kenapa alarmnya tak kunjung berhenti dan… itu bukan alarmnya!

Sonhee mengedip-ngedipkan matanya, lalu menyadari posisi tidurnya. Tubuhnya menempel erat dengan kaki yang saling pertautan, dan sepasang lengan yang melingkari pinggangnya erat. Sonhee menarik napas cepat—hanya untuk membuatnya sadar dengan aroma tubuh pria yang tengah mendekapnya. Tak heran—ia merasa hangat dan nyaman. Ia tak pernah tahu bahwa dekapan Myungsoo senyaman dan setenang ini.

Kedua matanya tak lepas menatap wajah pria yang tengah tertidur pulas ini. Kenapa baru sekarang ia menyadari kalau Myungsoo itu sangat sangat SANGAT tampan?

Astaga Sonhee, kau pasti sudah gila. Pertama, kau mau saja menerima ajakan tidur seorang pria, dan sekarang kau tidak protes ketika pria ini menjadikanmu gulingnya.

Oh, tentu saja Sonhee tidak akan protes. Ia suka berada di dalam dekapan ini.

Tanpa bisa ditahannya, Sonhee mengulurkan tangan dan mengelus wajah polos Myungsoo yang tengah tertidur, yang malam membuatnya kaget sendiri. Entah seperti tiba-tiba tersadar, Sonhee menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya tiba-tiba tak keruan menyadari sentuhan kulit bertemu kulitnya dengan Myungsoo. Dan pria itu nampaknya juga merasakan nyaman, ia malah menarik Sonhee lebih dalam ke pelukannya, sebelah tangannya terangkat mengelus rambut Sonhee dan membawanya ke bawah dagunya.

Sonhee melotot, ia merasakan wajahnya memanas dan jantungnya yang sudah tak keruan makin seperti genderang perang. Ia sampai yakin bisa membangunkan Myungsoo dengan suara detak jantungnya itu.

Ia tak pernah seperti ini. Tuhan, dia baru saja putus dari tunangannya!

Dan aroma maskulin yang menguar dari tubuh lelaki itu juga sama sekali tidak membantu, malah membuat Sonhee semakin terhanyut dalam dekapan itu tanpa bisa berbuat apa-apa.

Sonhee menjatuhkan tatapannya ke wajah Myungsoo yang masih terlelap. Ia ingin sekali menyentuh bibir itu… menelusuri rahang pria itu dengan jarinya…

Ctak!

Sonhee tersentak dari pikirannya sendiri dan menarik tubuhnya menjauh. Ia bangkit dari posisinya lalu kembali menatap Myungsoo yang masih terlelap di sampingnya.

Tidak, Sonhee. Tidak. Jangan.

Sonhee menghembuskan napas keras dan turun dari tempat tidur.

__

“Bukan karena Myungsoo, umma. Ini… aku menemukannya juga tidak ada kaitannya dengan Myungsoo. Ini karena kami sendiri.”

“Jadi kau bisa menceritakannya, kan?”

“Tidak, umma. Belum. Aku belum sanggup menceritakannya apalagi lewat sambungan telepon seperti ini. Aku rasa ini harus kuceritakan langsung juga pada appa, kumohon, tunggulah sebentar lagi.” Sonhee menahan napasnya sendiri lalu menjatuhkan pandangannya ke sepiring waffle dan omelet yang barusan ia buat.

“Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada orangtua anak itu.”

“Kami akan mengurusnya. Jika waktunya tepat, kami akan memutuskannya di depan kalian semua. Ini… aku…”

“Baiklah, nak. Umma mengerti. Apa sekarang kau bersama Myungsoo?”

Entah kenapa pipi Sonhee bersemu mendengar pertanyaan ibunya. “Ya. Aku kesini untuk membuatkannya sarapan.”

“Kau hati-hati ya. Jangan sampai kau melukai dirimu sendiri. Kudengar Myungsoo punya banyak fans yang sedikit… galak?”

“Yah, idol sepertinya tak bisa menghindari itu. Tapi aku akan menjaga diriku baik-baik, tenang saja, umma. Aku akan ke sana secepatnya.”

“Ya. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa, umma.”

“Wah, jadi kau sudah memberitahu ibumu?” Sonhee berjengit ketika mendengar suara Myungsoo tiba-tiba dari balik punggungnya.

“Oh? Kau mau sarapan?” hanya itu yang bisa diucapkannya. Matanya menghindari mata Myungsoo jadi ia menjatuhkannya pada jam dinding. “Jadwalmu jam berapa?”

Myungsoo hanya berjalan melewatinya dan mengambil segelas air. “Aku tidak ada jadwal sampai jam sepuluh. Kata Hyoan hyung kami boleh istirahat. Dua hari ini bakal seperti itu sebelum kami berangkat ke Jepang.”

Sonhee hanya mengangguk mengerti. Ia lalu berbalik dan mengangkat sepiring waffle ke arah Myungsoo. “Waffle? Aku buat saus apel dan kau akan menyesal jika tidak mencicipinya. Kita bisa sarapan bersama mumpung aku bisa masuk kerja sedikit siang.”

__

Dan selama dua hari itu Sonhee tidur di apartemen Myungsoo. Ia pulang sekali untuk mengambil barang-barangnya namun ia selalu menghabiskan harinya di apartemen pria itu. Dan sialnya, Myungsoo selalu pulang dan mereka selalu tidur di satu ranjang.

Entah kenapa, Sonhee merasa kalau tubuhnya sudah merasa nyaman dengan kehadiran Myungsoo yang memeluknya saat tidur.

Astaga, kenapa mereka terdengar seperti sedang pacaran sih?

“Sonhee-ya, aku lebih suka kalau kau tinggal saja di apartemenku.”

Kedua mata Sonhee melotot mendengar kata-kata Myungsoo di dalam van saat mengantarkan pria itu ke bandara. Tadinya dia mau tertawa saja menanggapinya, tapi nada Myungsoo terdengar serius. “Kau gila? Lalu apartemenku bagaimana? Ibu-ayahku bakal bilang apa? Kau kan pria demi Tuhan!”

Myungsoo hanya mengangkat kedua bahunya lalu menoleh keluar jendela. “Aku ingin saat pulang nanti kau ada menyambutku.”

Insting Sonhee mengatakan ia tahu kemana arah pembicaraan ini, tapi ia masih belum ingin membahasnya. “Aku akan merindukanmu, tentu saja. Kau bekerjalah yang benar di Jepang.”

“Sonhee, aku ingin mengakhirinya,” ucapan Myungsoo seperti membanting kata-kata ringan Sonhee, membuat wanita itu membungkam mulutnya dan hanya menatap Myungsoo diam. “Aku ingin mengakhiri kita yang seperti ini.”

“Myung—”

“Kau pikir kenapa aku selalu mengajakmu pergi kamana-mana padahal aku tahu kau sudah bertunangan dan akan menikah? Kenapa aku selalu ada buatmu disaat kau terpuruk? Kenapa aku selalu bermanja padamu, minta ini-itu padamu, bahkan memintamu untuk tidur seranjang denganku? Kau tidak tahu betapa campur aduk perasaanku saat kau memutuskan pertunanganmu itu.”

Mulut Sonhee hanya membuka dan menutup tanpa mengeluarkan suara, tidak menyangka kalau Myungsoo tiba-tiba menumpahkan seluruh isi hatinya. Kedua matanya mulai tidak fokus menatap mata Myungsoo yang juga dengan lurus-lurus menatapnya.

“Dan jangan bilang kau tidak menyukainya saat aku memelukmu setiap kau tidur,” tambahnya lagi yang membuat Sonhee makin tak keruan. “Jangan bilang kau terpaksa setiap bersamaku, Sonhee. Jangan bilang setiap detik kau bersamaku kau menganggapku sebagai temanmu. Kau tahu kau menganggapku lebih dari itu.”

Napas Sonhee tercekat dan pandangan mereka saling terputus saat merasakan van terhenti. Sonhee menyadari kalau mereka sudah sampai bandara, namun Sonhee tidak bisa turun karena paparazzi yang akan membuntuti Myungsoo sampai ke boarding room-nya. Ia masih terdiam ketika Myungsoo kembali menatapnya.

“Aku tidak bisa mendengar jawabanmu sekarang. Tapi saat aku pulang nanti, kuharap aku bisa mendengarnya,” tangan Myungsoo terhenti sebelum membuka pintu mobil, dan dalam sedetik tangannya berpindah meraih wajah Sonhee dan menyapukan bibirnya ke bibir wanita itu.

Kedua mata Sonhee reflek terpejam sementara ia membiarkan Myungsoo mengambil alih bibirnya. Ini bukan ciuman pertama Sonhee, tapi ia tak bisa memungkiri kalau bibir Myungsoo seakan memberikan sengatan padanya, yang membuat kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.

Dan ketika Sonhee bisa menarik napas untuk sebuah pagutan dalam terakhir, ia membuka mata dan merasakan Myungsoo sudah hilang dari hadapannya. Yang ia dengar hanyalah pintu van yang tertutup, dan punggung Myungsoo yang mulai menjauh nampak dari jendela.

“Ekhm, nona, kata L aku harus mengantarmu pulang. Sudah siap?”

Sonhee langsung terhentak lalu memandang ke kursi driver. Untung yang menyetir bukan salah satu manager Infinite, tapi salah satu staff intern di Woollim. “Oh ya.”

“Dan tenang saja, aku tidak akan memberitahu Hyoan-ssi atau Jungryul-ssi. Kalian belum jadian kan.”

Kedua pipi Sonhee langsung memerah lalu membuang pandangannya keluar jendela.

__

Tiga bulan kemudian…

Sonhee menggembungkan pipinya sebelum menghembuskan napas panjang. Sebulan terakhir ini pekerjaannya makin gila-gilaan. Dia memang seorang script-writer dan co-author beberapa penulis drama terkenal, namun dia tidak mengira kalau dia juga ikutan terjun ke lapangan seerti ini. Drama terbaru SBS sedang syuting dan dia sedari pagi kesana-kemari mengikuti penulis naskah dan sutradara yang sering beradu mulut. Para aktor dan aktris yang membintangi drama itu hanya bisa saling tatap disaat terjadi persilatan lidah tersebut, jadi mau-tak mau Sonhee-lah yang menyingkirkan mereka ke ruang ganti sambil menawarkan kopi.

Setengah tahun yang lalu, dia hanya seorang staff dibagian naskah sebelum manager menemukan kemampuannya menulis naskah. Jadinya ia diberi posisi sebagai pengedit naskah dan co-author para penulis jika mereka dalam keadaan writer’s block. Rekan kerjanya cukup menyenanginya dengan sifatnya yang to the point dan kerjanya yang gesit.

Posisinya di kantor naik, gajinya juga naik tiga kali lipat. Sonhee bersyukur sepenuh hati dengan itu.

Masalah pertunangannya yang rusak itu juga sudah selesai. Dua bulan yang lalu ia mendapat cuti lima hari yang langsung ia gunakan untuk pulang ke Mokpo dan langsung menyelesaikan penjelasannya pada orang tuanya, beserta pertemuan dengan kedua orang tua Albert. Kedua orang tuanya tidak begitu mempermasalahkannya, mereka menerimanya dengan cukup baik dan bijak. Tapi Sonhee mengalami sedikit kendala dengan orang tua Albert.

Well, mereka menyayangkan hubungan bertahun mereka yang sekarang gagal. Mereka sempat membujuk Sonhee untuk rujuk kembali, namun untungnya Sonhee bisa mengatasinya. Pertunangan itu resmi batal meski dengan ibu Albert yang sempat meneriakinya. Setidaknya, masalah tentang ini beres dan Sonhee bisa menghembuskan napas lega. Ia tak pernah menyesal pernah bertunangan dengan Albert. Ia bersyukur pernah mengenal pria yang baik seperti Albert, hanya saja menyayangkan ketidakcocokan mereka yang terlambat terkuak.

Meskipun begitu, akhir-akhir ini pikirannya terus melayang kepada seorang yang sekarang sedang bekerja di Jepang.

Seorang yang memberinya ciuman dipertemuan terakhir mereka di Gimpo Airport tiga bulan lalu.

Seorang idol visual boygroup Infinite yang bernama Kim Myungsoo.

Sonhee tidak berani menceritakan ini pada teman terdekatnya di kantor, Sulli, karena hanya akan membawa gosip. Untungnya memang tidak ada yang tahu kalau dia ber-sahabat dengan Myungsoo. Memang banyak orang kantor yang tahu kalau dia berteman baik dengan L, tapi mereka tidak tahu se-baik apa.

Like, sahabat macam apa yang memberikan ciuman di bibir?!

Dan selama tiga bulan ini, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari Myungsoo. Yang bisa ia tahu adalah jadwal kegiatan Infinite yang terpampang di majalah atau situs berita di internet.

Sonhee menyandarkan punggungnya di kursi lalu memejamkan mata. Tiga bulan dan ia merindukan Myungsoo sampai ia sendiri merasa akan menjadi gila.

Sebenarnya mudah, jika ia merindukan Myungsoo ia hanya perlu mengangkat ponselnya, menekan kontak Myungsoo, dan meneleponnya. Tapi bagaimana jika ia malah mengganggu jadwal pria itu? Bagaimana jika panggilannya hanya masuk mail box tanpa dijawab?

Bagaimana jika pria itu menyadari kalau Sonhee di sini sangat merindukannya hingga ia hampir memutuskan untuk tinggal di apartemen pria itu?

Sonhee mendesah lagi. Mungkin… di saat seperti ini ia baru menyadari betapa pentingnya sosok Myungsoo dalam kehidupannya.

__

“L-ah, kalau kau merindukannya telepon saja. Jangan berlagak seperti orang autis yang menatap ponsel dengan pandangan menyedihkan seperti itu,” celetuk Sungkyu ketika hanya ada mereka berdua di dalam studio rekaman. Member yang lain sedang turun ke kantin untuk membeli minum dan beberapa camilan, sementara Myungsoo dan Sungkyu hanya minta dititipkan. “Tapi… kuharap kau memikirkannya lagi, Myungsoo-ya. Dia sebentar lagi akan menikah, kan?”

“Dia memutuskan pertunangannya dengan Albert,” sahut Myungsoo tanpa intonasi. Sungkyu menatapnya terkejut. “Sudah lumayan lama sih.”

Omo! Kalau dia sudah putus berarti… kalian…”

Myungsoo menggeleng seakan menjawab pertanyaan Sungkyu. “Belum, hyung. Aku ingin memberinya waktu untuk memikirkan apakah dia benar-benar butuh aku.”

Keduanya terdiam sejenak, lalu pandangan Sungkyu perlahan melunak. Ia memandang Myungsoo dengan sorot pengertian sambil tersenyum kecil. “Kau benar-benar mencintainya, eh?”

“Sampai aku tidak bisa bernafas, hyung.”

“Kau mau tahu? Menurutku dia sekarang juga merindukanmu,” ujar Sungkyu sambil menepuk punggung Myungsoo. “Bertahanlah sebentar lagi. Dua minggu lagi dan kau bisa bertemu dengan gadismu.”

Dan Myungsoo hanya bisa tersenyum lemah. Ia kembali menatap layar ponselnya. Baik screen lock maupun wallpaper-nya menunjukkan gambar yang sama—wajah Sonhee yang tertidur pulas di ranjangnya.

__

Sonhee memandang ke sekelilingnya dengan perasaan campur aduk. Dia pasti sudah gila karena melakukan ini. Tapi mumpung ia sudah terlanjur melakukannya, maka ia akan menyelesaikan niatnya sampai tuntas. Ya, ia sekarang sedang berdiri di ruang tengah apartemen Myungsoo, dan ia kesini langsung setelah jam kerjanya berakhir.

Apartemen itu terasa sunyi, ia bisa merasakan lantainya yang licin karena debu. Begitu pula meja-meja dan konter dapur. Sekali lagi, Sonhee meyakinkan dirinya sendiri sebelum memutar tumit untuk mengambil penyedot debu.

Tak terasa sudah hampir sejam Sonhee membersihkan dan merapikan kamar tamu, ruang tengah, sampai ruang dapur apartemen Myungsoo. Ia tidak mungkin mengepel malam-malam begini, main air di malam hari terasa dingin sekali. Setelah menghirup napas sejenak, pandangannya teralih ke kamar Myungsoo.

Ada perasaan ingin masuk, namun di sisi lain ada yang memerintahkannya untuk tidak melakukannya. Bilang saja, Sonhee takut jika ia masuk ke kamar Myungsoo, dan menghirup aroma pria itu, ia malah akan menjadi semakin rindu.

Tapi apa daya, Sonhee akhirnya membuka pintu itu juga. Ia melangkah masuk, kedua matanya langsung berkaca-kaca ketika indera penciumannya mengingat wangi feromon Myungsoo. Ia memandang ke sekelilingnya selama beberapa menit, sebelum jatuh pada tempat tidur yang ada di depannya saat ini.

Sonhee bisa membayangkan hari-harinya ketika tiap malam ia tidur di ranjang itu. Setiap bangun selalu melihat wajah Myungsoo, berada dalam pelukannya, mendengar suara beratnya sehabis bangun tidur.

Sekarang? Sonhee ingin tertawa sendiri. Ia tidak tahu apakah kata-kata Myungsoo waktu itu benar atau tidak. Mungkin, sekarang pria itu sudah melupakannya. Mungkin dia sudah mulai melihat-lihat gadis lain. Mungkin—

“Sonhee?”

Sebuah suara membuyarkan pikiran Sonhee sekaligus membuat sebutir air mata jatuh dari pelupuknya ketika ia berkedip. Sejenak ia menahan napasnya, menyadari kalau suara tadi yang memanggilnya adalah suara yang ingin sekali ia dengar. Namun mengingat orang yang bersangkutan sedang ada di Jepang sekarang, Sonhee menepis habis pikiran itu. Sonhee ingin tertawa sendiri ketika menyadari bahwa ia berhalusinasi mendengar suara Myungsoo. Tidak mungkin pria itu ada di sini. Jika Myungsoo tahu kalau ia pernah ke sini diam-diam—

“Sonhee?” namun yang dipanggil masih bergeming di tempatnya, malah memeluk dirinya sendiri dengan kedua lengannya. “Yah, Lee Sonhee, aku sudah memanggilmu dua kali.”

Seketika Sonhee membeku di tempatnya. Perlahan ia berbalik, kedua matanya melebar menyadari siapa yang tengah berdiri menghadapnya dengan koper besar di sampingnya.

Sonhee mengedipkan matanya berkali-kali. Benarkah…?

“Ini aku.”

“M-Myungsoo? K-kenapa kau ada di sini— ” Sonhee memaksakan suaranya keluar meskipun ia masih belum yakin jika pria yang tengah berdiri dan menatapnya ini benar-benar nyata.

“Kenapa aku ada di sini? Ini kan apartemenku.”

“Ah,” Sonhee tersentak. “Ah-ya, ya. Maaf. Aku—aku harus pulang. Dah,” Sonhee bergerak kaku dan berusaha keluar dari kamar itu—kalau bisa keluar dari apartemen itu sekarang juga. Namun tangan Myungsoo tiba-tiba menahannya.

“Apa yang kau lakukan di sini, hm?”

Mau-tak mau tubuh Sonhee kembali berbalik menghadap Myungsoo, meski tangannya meronta ingin di lepaskan.

Oh. Ini bukan mimpi atau khayalan. Ini nyata. Karena cengekeraman Myungsoo kuat sekali. Oh dear.

“A-aku…”

“Kau bahkan membersihkan apartemenku. Aku tidak tahu harus berterima kasih dengan apa.”

Kedua mata mereka saling menatap selama beberapa saat, sebelum Sonhee memutuskan tatapan itu karena ia merasa ia akan menangis. “A-aku mau pergi.”

Sonhee menarik dirinya menjauh namun cengkeraman Myungsoo terlalu keras. Pria itu malah menarik Sonhee mendekat dan memerangkap tubuhnya hingga punggungnya terbentur salah satu pintu lemari. Sonhee hampir tidak bisa bernapas ketika sambil seluruh tubuh Myungsoo menempel padanya, dan wajah Myungsoo yang begitu dekat dengannya. Sonhee berusaha keras untuk tidak melakukan apapun ketika ia mencium kembali aroma khas Myungsoo, mencegah dirinya sendiri untuk melemparkan diri ke dada bidang pria itu. Ia seperti tidak bisa berpikir lagi.

“Jadi, kenapa kau ke sini?”

Pertanyaan itu berputar-putar di telinga Sonhee. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi ia tak berdaya dengan segala perlakuan Myungsoo atasnya. Ia memutuskan untuk menyerah.

“Karena aku merindukanmu. Aku hampir gila,” akunya dengan suara tercekik. Sonhee tidak berani menatap langsung ke mata Myungsoo, jadi ia menunduk.

Tapi jemari Myungsoo meraih dagunya, dan mengangkat wajahnya hingga pandangan mereka bertemu. “Tatap mataku, dan katakan itu.”

“Aku merindukanmu sampai hampir gila karena menyadari kalau aku membutuhkanmu.”

Kedua mata Myungsoo masih mencari-cari di dalam mata Sonhee, membuat wanita itu semakin lemas dan pasrah menyadari kedekatan mereka. Air mata kembali meleleh ke kedua pipi Sonhee, membuat Myungsoo mengangkat kedua tangannya dan menangkup wajah Sonhee dengan penuh kelembutan.

Uljima.

Namun Sonhee malah semakin terisak. “M-maaf, aku tidak tahu. A-aku tidak tahu k-kenapa aku s-seperti ini, aku sangat m-merindukanmu—”

Oh baby, kau tidak tahu betapa aku juga merasakan itu,” dan seketika kemudian Myungsoo langsung menyatukan kedua bibir mereka. Sebelah tangannya turun menarik Sonhee semakin erat ke pelukannya, sebelahnya menarik tengkuk Sonhee dan mengelusnya lembut di sana. Kedua mata Sonhee terpejam dan dalam beberapa saat ia ikut membalas ciuman pelan Myungsoo, menarik tubuhnya mendekat dengan mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.

Pagutan bibir mereka semakin dalam, seakan ingin membayar semua kerinduan selama berbulan itu. Sonhee membiarkan Myungsoo memimpin dan mengikuti irama pria itu, membiarkannya menjelajah bibirnya dan merengguk setiap erangan kenikmatan yang entah bagaimana caranya bisa lolos dari bibirnya. Seluruh tubuhnya bergetar, jadi ia tetap berpegangan erat pada Myungsoo. Ia kembali menghirup habis-habisan aroma tubuh pria itu yang dirindukannya selama berbulan-bulan, masing-masing saling mendekatkan diri hinga keduanya merasakan napasnya menipis. Pagutan terakhir mereka belum terlepas, seakan ingin terus merasakan satu sama lain.

God, Sonhee. Say you love me.

Air mata kembali meleleh dari kedua mata Sonhee. “Yes, Myungsoo. I love you. I need you.

Oh baby I love you too. So damn much,” jawab Myungsoo dengan geraman rendah sebelum mengangkat tubuh Sonhee dengan kedua tangannya dan membawanya ke tempat tidur. “Sleep with me baby. Gosh I miss you so much.

__

“Jadi, sekarang kita official?”

Sonhee mengangkat kepalanya hanya untuk bertemu pandang dengan tatapan dalam Myungsoo. Ia menggeliat sebentar sebelum membenamkan kepalanya lebih dalam ke dada bidang Myungsoo. “Tapi aku tidak mau kau menduakan eLements-mu. Aku bisa dihajar Jungyeop-sajangnim jika dia tahu.”

Seketika kedua tangan Myungsoo meraih kedua bahu Sonhee dan menariknya agar ia bisa menatap ke kedua matanya. “Lee Sonhee. Ini antara Kim Myungsoo dengan mu, bukan L dan eLements. Dan jika Kim Myungsoo ingin memiliki sesuatu, ia tidak ingin setengah-setengah.”

Sonhee terdiam mendengarnya. Ia mendudukkan diri, lalu diikuti Myungsoo yang masih menatapnya dalam. Perlahan Sonhee mengambil posisi duduk di pangkuan Myungsoo, kedua tangannya perlahan menangkup wajah pria itu. “Kim Myungsoo, I’m all already yours.”

Senyum puas Myungsoo mengembang. Kedua tangannya terangkat melingkari pinggang Sonhee dan menariknya mendekat. “I like that sound. All mine,” dan dengan kalimat itu, Myungsoo kembali mencium bibir Sonhee. Ia mendesah puas, tersenyum lebar setelah memagut bibir Sonhee. “Finally, Sonhee. Finally.”

Kedua pipi Sonhee bersemu. Ia merasa malu dengan posisinya jadi ia hanya memeluk Myungsoo dan menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. “Terimakasih sudah menungguku,” bisiknya sambil menyembunyikan senyum.

Myungsoo mengelus rambut Sonhee sayang, sebelum menarik wajahnya dan kembali mencium bibir wanita yang dicintainya. Memagut bibir itu dengan senyum bahagia.

Fin

A/N: Well. Ini adalah perjuangan yang panjang hingga fanfic ini beres. REALLY. Ehe. Hope you enjoy! Komennya ditunggu! XD

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s