LOUDER [Chapter 1]

louder-morschek961

 

KEIKO SINE presents Louder

(Another Story of Shame [Ficlet Series])

[Shame][Ain’t That Bad][Rumor][Night Changed]

[Unbelievable][Retaliation]

School life, Sad-Romance, Bully || PG-17!

Starring:

Kim Jong In (EXO)

Ahn Jisoo (OC), Kim Myungsoo (Infinite)

Others.

Cr. Poster by @LUXIE

COPYING AND PLAGIARIZING THIS STORY ARE FORBIDDEN!

PREVIOUS: [Prolog]

“Sometimes, I just want to be— me. “

 

[Chapter 1]

Langit di luar semakin redup. Disela dingin yang semakin menyelimuti, gadis itu melihat keluar jendela kelas, “Badai abad ini.” Bisiknya lirih.

Kemudian ia melihat kearah bawah jendela, dari ketinggian 12 meter di lantai tiga ini apa yang bisa ia lakukan? Membayangkan bagaimana jika ia terjatuh. Apakah mati lebih baik dari semua kecacatan dunia ini? Ia hanya tersenyum samar.

 

Kemudian dia tenggelam pada pemikirannya sendiri, tentang hidupnya yang mulai kacau, tentang semua yang ia alami di sekolah elite ini. Dan ketika hujan mulai turun secara perlahan, membasahi pekarangan sekolah Sekang, gadis itu mendesah berat.

 

“Ahn Jisoo,” suara baritone seorang lelaki menggema di penjuru kelas. Sontak gadis itu mengarahkan pandangannya ke depan.

 

“N-ne sanjang-nim?”

 

“Bapak menyuruh kalian untuk mengerjakan tugas ini secara kelompok, kenapa kamu hanya mencantumkan namamu saja di kertas essaynya?”

 

Pandangan anak-anak itu, takkan pernah bisa ia lupakan. Bagaimana mereka memandang sinis dan rendah ke arahnya, seolah begitu menyenangkan, “Sa-saya tidak punya partner, saem.”

 

Guru itu mendesah pelan dari tempat duduknya, membenarkan kaca mata bulat sambil menggeleng pelan, “Lain kali jika ini memang tugas kelompok, lakukan dengan anak lain.”

 

Jisoo mengangguk dari tempat duduknya yang berada di paling pojok belakang ruangan.

 

“Baiklah, kita akhiri kelas kita hari ini.” Setelah Yang Yuseok sanjangnim meninggalkan kelas, tatapan-tatapan itu kembali terarah padanya. Gadis yang memilin diri menjadi benih alat bully-an anak-anak lain.

 

“Dia memang tidak punya teman, kan?”

 

“Jangan pedulikan gadis itu, atau kau juga akan menjadi ‘buangan’ sepertinya.”

 

Dan seperti biasanya, tanpa sepatah katapun Jisoo menelan mentah-mentah semua cacian yang ditujukan padanya. Ia dengan cepat memasukkan seluruh peralatannya ke dalam kelas dan melesat secepat mungkin ke luar kelas.

 

Namun bukan berarti di luar kelas akan menjadi lebih baik, karena ada seseorang yang lain, yang takkan membiarkan hidupnya tenang barang sedikitpun.

 

Tak ada alasan yang tepat mengapa semua orang memperlakukan dirinya seperti ini. Lelaki itu adalah si Casanova sekolah, sontak semua orang juga memperlakukannya layaknya lelaki itu memperlakukan dirinya.

 

#pukk!

 

Sebulah bola kertas mengenai punggung Jisoo, sontak ia membeku di tempat. Tak ingin setidaknya menoleh untuk mengetahui siapa pelakunya. Bernapaspun ia sulit.

 

Tak lama kemudian suara tawa menggelegar di seluruh penjuru koridor. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

“Chagiyaa… Kenapa kau tidak menemuiku di kantin, eoh? Aku kan sudah memberitahumu kemarin.” Ucap si pelaku, lelaki tinggi bermata panda itu dengan manja.

 

“Bukankah kau lupa jika gadis ini bodoh? Dia tidak akan mengerti apa yang kau katakan.” Kini si lelaki albino itu yang berbicara, wajah datarnya tak menggambarkan sedikitpun ketertarikan.

 

“Oh kau benar, aku pasti lupa. Ekhhm.. eekhmm.” Tao, lelaki itu berdehem pelan, “Apakah aku harus berteriak kencang agar kau mengerti nona Ahn?”

 

Jisoo semakin menciut di tempat ia berdiri.

 

“TEMUI AKU DI KANTIN BESOK SIANG! OKE! KAU MENGETI??!!!” Teriak Tao dengan kencang, sedangkan Jisoo hanya menutup matanya dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan suara isakan dibibirnya agar tidak jelas terdengar.

 

Puluhan pasang mata yang berada disana mulai terdengar bisik-bisik tak jelas, sedangkan sebagian dari mereka tertawa sinis kepaada Jisoo, seolah gadis itu memang pantas mendapatkannya.

 

“Tao-ya…” sebuah suara berat lain ikut andil dalam keadaan tak berarti ini. Dengan blazer yang tak dikancingkan, ia berdiri tepat di sebelah orang yang ia panggil barusan. “Jangan ganggu mainanku, oke?”

 

“Aku tidak mengganggunya, aku malah ingin mengundangnya makan siang bersamaku. Iya ‘kan chagii…” ujarnya sambil mengerling genit kepada Jisoo.

 

Kedua temannya yakni Kai dan Sehun hanya menatap datar pada kawannya yang berasal dari China ini. “Yak, nona Ahn. Aku sedang tak bersemangat untuk mengganggumu hari ini. Jadi anggap saja hari ini adalah hari keberuntunganmu.” Kai membuka kaleng Cola yang berada ditangannya, “Jadi, mumpung aku sedang berbaik hati padamu, aku akan membiarkanmu pergi kali ini.”

 

Jisoo membalikkan badan tanpa sepatah katapun. Menuruti kalimat lelaki itu untuk segera pergi dari tempat ini sebelum mereka berubah pikiran.

 

.

.

_oOo_

 

Jisoo merebahkan dirinya diatas kasur kamar apartmentnya. Lalu menatap layar ponselnya nanar. Melihat ke daftar kontak teleponnya sekali lagi, dan untuk sekali lagi pula, ia harus menelan kenyataan pahit bahwa tak ada nomor ponsel yang berada disana kecuali kedua orang tuanya.

 

Bukankah sendiri itu mengerikan, eh?

 

Saat Jisoo lebih memikirkan pertanyaannya lebih jauh, air mata itu merembes dari sudut matanya. Mengalir membasahi pipi. Jika kekuasaan memberikan segalanya, ia hanya memiliki satu permintaan. Yakni terlahir kembali untuk menjadi seorang Kim Kai. Seandainya.

 

Lelaki yang memiliki segalanya. Uang, kekuasaan, teman-teman, dan memprovokasi mereka, mengendalikan segalanya. Dan itu semua hanya bulshit.

 

Dan entah mengapa, Ahn Jisoo mulai membenci kata ‘seandainya’.

 

*ddrrttt

 

1 Pesan Masuk

 

Dengan cepat Jisoo segera membuka pesan tersebut.

 

From : Uri-Appa

“Jisoo-ya, besok appa akan menghadiri presentasi di perusahaan JJ Corp. Dan jika berhasil maka mereka akan menaruh investasi di perusahaan appa, hingga appa dan eomma bisa pulang ke Seoul pada hari Chusseok.

Akan appa kabari lagi, nak.“

 

Jisoo tersenyum samar, tak lama ia membalas pesan tersebut.

 

From : Jisoo-Ahn

“Ne appa, eomma. Aku merindukan kalian.“

 

Jisoo menghembuskan napas kasar. Hidup seorang diri di kota sebesar Seoul, sedangkan kedua orang tuanya mengolah Resort mereka di pulau Jejju.

 

Hanya berpura-pura menjadi gadis tanpa masalah yang baik-baik saja.

 

.

.

_oOo_

 

Awan mendung dan petir di sepanjang minggu ini. Hujan seolah terjadi dalam prosentasi delapan puluh persen dalam sehari. Dan yang Jisoo dengar adalah gerutuan dari anak-anak kelasnya karena tak bisa pergi kemana-mana di hari senin ini.

 

Begitu juga di hari selasa, berharap bahwa cuaca ini akan segera membaik. Namun tidak untuk Jisoo, ia malah merasa tenang dan sedikit bahagia melihat gumpalan hitam diatas cakrawala, setidaknya hal itu sedikit mirip dengan keadaannya saat ini.

 

#Tap… Tap… Tap…

 

Suara langkah seseorang mendekat kearah tempat duduk Jisoo diujung ruangan. Seorang lelaki berkacamata dengan name tag Kang Ha Neul berdiri tepat dihadapan Jisoo.

 

Jisoo menatapnya heran seolah berkata ‘ada apa?’. Dan seolah mengerti, lelaki itu membuka mulutnya untuk berkata sesuatu, “Kai dan kawan-kawannya menunggumu di kantin. Jika kau ingin ini berakhir cepat, lebih baik kau kesana sekarang.” Ucap lelaki itu pelan, niatnya untuk mengancam seketika luntur saat menatap wajah polos Jisoo.

 

Dengan ragu Jisoo berdiri, berniat untuk segera menghampiri berandalan-berandalan itu dan bertanya apa mau mereka kali ini.

 

Jisoo menggengam bagian samping roknya sendiri hingga terlihat kusut, menyusuri koridor sekolah untuk bertemu si Casanova tempat ini. Jisoo mengutuk matanya sendiri ketika bisa dengan cepat menemukan dimana tempat duduk Kai dan kedua temannya.

 

“Woaahh… nona Ahn, annyeong..” sapa Tao dengan mulutnya yang penuh dengan roti, sedangkan Sehun terlihat tak tertarik seperti biasanya.

 

“Jisoo-ya… duduklah.” Ujar Kai dingin.

 

Dan tak ingin semua ini berakhir tak mengenakkan, Jisoo tanpa berkata lebih lanjut langsung mengambil tempat duduk yang tersisa, yakni di sebelah Tao, berhadapan langsung dengan Kai.

 

“Kau sudah makan, huh? Ini ambillah roti isi.” Tao menyodorkan sepiring oval besar yang penuh dengan roti itu padanya. Sontak Jisoo menatap penuh selidik kearah mereka bertiga.

 

Suasana kantin yang semula ramai, kini sepi seperti makam Apegujoung di malam hari. Mereka menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya sebelum teriakan Kai membubarkan mereka semua.

 

“Yaakk! Apa yang kalian lihat, hah?!! Kalian tidak pernah melihat orang makan sebelumnya?” Sontak semua anak duduk di kursi mereka masing-masing dan mulai tidak mempedulikan sekitar.

 

Sedangkan Jisoo tetap diam dalam duduknya, bagaimana ia bisa menjamin bahwa mereka tidak memasukkan apa-apa dalam makanannya… seperti racun? Obat mual atau semacamnya.

 

“Kau tidak mau? Yasudah buatku saja.” Ucap Tao yang langsung melahap roti isi ke empatnya siang ini.

 

Jisoo hendak saja menjengit, ternyata tidak ada apa-apa.

 

Tak sadar bahwa sedari tadi Kai memperhatikan gerak-geriknya, “Apa yang kau pikirkan, huh? Aku akan menaruh racun dalam makanan ini? Hahah..” Kai terbahak, tatapannya tertuju pada Jisoo dengan sinis. “Itulah kesalahanmu. Selalu menganggapku bersalah—

 

“Kau memang bersalah.” Sela Jisoo cepat.

 

“Dan inilah kesalahanmu yang lain. Bersikap seolah kau kuat, ketika pada faktanya kau tidak. Dan ini juga yang terus menyebabkanku akan terus mengganggumu.”

 

Tak tahan. Ini adalah percakapan terpanjangnya dengan seorang Kim Kai. Jisoo segera berdiri dari duduknya dan berjalan kembali ke kelas.

 

..

..

..

 

Jam pulang sekolah. Tiba di lorong locker siswa, dan entah mengapa Jisoo selalu merasa tidak nyaman ketika melewati bagian lorong ini. Dalam dadanya selalu berkata untuk segera menjauh dari tempat ini.

 

Jisoo membuka lockernya setelah memasukkan kata sandi. Meletakkan kamus Longman super tebal itu ke dalam.

 

#Tap… Tap… Tap…

 

Sepertinya suara dua— tidak, sepertinya tiga orang sedang berjalan kearahnya.

 

Jisoo dengan cepat menutup pintu lockernya. Namun tak sempat membalikkan badan, sebuah cairan hitam terasa mengguyur puncak kepalanya.

 

‘Ini Cola.’ Ucapnya dalam hati.

 

Jisoo menunduk dengan memperhatikan seragamnya yang basah. Ini semua keterlaluan. Dapat ia dengar suara tenor gadis-gadis yang telah menyiramnya itu, tertawa senang.

 

#puk

 

Tiba-tiba sebuah handuk jatuh tepat di ujung kakinya, dengan penasaran Jisoo berbalik untuk menemukan orang yang memberikannya handuk ini sebelum orang itu berbelok, menghilang dibalik koridor.

 

“Siapa?” ucapnya pelan. Dan di detik selanjutnya Jisoo mengambil handuk tersebut untuk setidaknya membersihkan tubuhnya.

 

.

.

_oOo_

 

Malam gemerlap di kota Seoul. Jisoo mengencangkan jacketnya saat angin dingin berhembus mengenai tubuh ringkihnya. Berjalan di trotoar sambil membawa sebungkus tteokboki. Ia berbalik saat suara sirine ambulance terdengar nyaring di ujung jalan.

 

‘Apakah ada kecelakaan?’

 

Jisoo berjalan mendekat ketika semua orang melakukan hal yang sama. Disana, seorang anak ditemukan berbaring dengan kepala yang terus mengeluarkan darah, dan sebaliknya, lelaki berbadan besar yang mengemudikan truk berisi galon-galon kosong itu terus mengoceh tak jelas.

 

“Ini bukan salahku?! Anak itu yang berjalan menerobos lampu merah.” Ujarnya marah pada aparat kepolisian yang hendak memeriksanya.

 

‘Ini bagaikan drama.’ Ucap Jisoo dalam hati.

 

Hidupnya yang sudah kacau seperti ini takkan mau ambil pusing dengan kejadian semacam ini. Jisoo keluar dari kerumunan, sebaiknya ia segera kembali ke apartment sebelum tteokbokinya menjadi dingin dan tak enak lagi untuk dimakan.

 

Tiba di sebuah taman yang sepi, Jisoo selalu merinding ketika melewati taman ini di malam hari. Jisoo mempercepat langkahnya, namun berhenti mendadak sebelum melihat mobil Jazz merah yang sangat ia kenal terparkir dengan asal disana.

 

‘Kim Kai?’

 

Jisoo melihat kesegala arah untuk mencari keberadaan orang yang selalu mengganggunya itu. Memikirkan semua kemungkinan terburuk jika bertemu dengan lelaki itu sekarang di tempat ini. Hingga Jisoo merasa melihat seseorang, yang memakai seragam sekolah yang sama dengannya. Kai, sedang berdiri dibalik tiang basket, mencumbu— Lee Yoonbi.

 

Oke itu kekasihnya.

 

Tapi, apa yang mereka lakukan malam-malam seperti ini? Dengan masih memakai seragam sekolah, melakukan adegan— eww.

 

Jisoo tak mau melanjutkannya.

 

Setelah berkedip dua kali, Jisoo tersenyum miring. Terlihat mengerikan memang, karena wajah lelah penuh beban itu harus dipaksakan untuk tersenyum.

 

Jisoo mengeluarkan smartphonenya, dan—

 

#cekrek!

 

Satu foto tersimpan.

 

Wajah mereka terlihat sangat jelas di foto itu, dengan bibir saling memangut.

 

.

.

-TBC-

 

Author Note:

 

Haloooo…chapter 1 is up!

Karena dulu banyak readers yg protes karena gk suka sama ending cerita Shame Ficlet dll itu, akhirnya aku bikin lagi versi multichapternya heheh..

Disini juga aku bikinnya lebih realistis yah.. tapi kalau ada yg masih terkesan klise ya maapkan. *sungkem.

Si OC aku ganti jadi Jisoo, karena aku juga mau bikin yg gak persis banget sama yg dulu. Tapi inti ceritanya sama kok, yaitu tentang pembullyan. Dan karakter si OC yang aku bikin MANUSIAWI banget. Alias dia juga punya ego, punya nafsu, yang gak melulu jadi baik dan disiksa. Karena pada dasarnya karakter manusia kan dinamis, alias naik turun.

 

Hope you like it guys! Leave your comment jusseyo~.. NO SIDERS PLEASE!

 

Regard.

Keiko Sine

https://thekeikosine.wordpress.com

Iklan

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s