EXISTENCE; Jiyeon Ver. [Chapter6/END]

existence-jiyeon-ver

Existence by. Keiko Sine

{Jiyeon Ver.}

Sad-Romance || Angst || – Teen

Chaptered

Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Kim Jongin

Others.

Credit > Sfxo @IFA

I OWN THE STORY AND PLOT. DON’T COPY OR PLAGIARIZE!

PRE: [Chp1][Chp2][Chp3] [Chp4][Chp5] – [Chp6/opened]

Ada sebuah legenda bahwa ketika kau membuat seribu origami burung bangau (crane) maka keinginanmu akan dikabulkan oleh burung-burung tersebut.”

***

Anak-anak tahu. Mereka tahu kapan orang dewasa berbohong kepada mereka. Mereka lebih pintar dari yang orang lain pikir. Yang termuda mendekat pada Jiyeon, air mata membasahi bajunya saat ia menangis. Jiyeon pun pula tak kuasa menahan tangisannya.

Jiyeon merenggangkan tangannya, memberi isyarat bagi semua anak untuk mendekat. Dia mencoba untuk memeluk mereka semua, berbisik lembut.

“Sleepy Ajhussi meninggal dengan senyum.”

ampaknya menjadi satu-satunya hal yang dia bisa ia katakan. Bahwa kebenaran yang sederhana setidaknya sedikit menghibur mereka. Myungsoo telah meninggal ketika dia sudah siap. Tapi dia meninggal ketika Jiyeon tidak siap.

..


..

 

..

Jiyeon menatap cahaya dari komputer dengan pandangan kosong. Angka-angka dan data hanya ia biarkan menganggur saat seseorang berjalan mendekatinya.
Secangkir styrofoam muncul di hadapan matanya. Jiyeon mendongak, mata mengikuti sebuah lengan panjang mengarah ke pemiliknya.”Kai.”

“Apakah kau baik-baik saja?”

Frustrasi di dadanya semakin menaik. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dia tidak apa-apa. Tangannya meninju Kai pelan tapi layaknya mati rasa karena marah.

Tidak ada alasan bagi Jiyeon untuk marah saat Kai mengajukan pertanyaan. Jiyeon telah meminta dia untuk melakukannya ketika tiba saatnya.

Membiarkan dirinya sendiri mendesah dalam-dalam, Jiyeon mengambil cangkir di meja.

“Tidak, Kai. Aku tidak apa-apa. ”

Kai mengusap pundak Jiyeon pelan. “Luangkan waktu untuk beristirahat.” Ucap Kai. Dia tidak bisa memberikan saran yang lebih baik.

.

.

***

Keheningan di sebuah apartemen kosong menyapa Jiyeon saat ia meletakkan sepatu, menutup pintu di belakangnya. Jiyeon memiringkan kepalanya ke samping, tangan memijat lehernya saat melempar tasnya ke meja dapur. Ia berjalan ke kulkas yang hampir kosong, hanya ada sisa-sisa makanan dari kotak dibawah.

Dia berdiri di depan microwave, mata memperhatikan nomor merah yang dicentang. Makan malam untuknya sendiri, lagi.

.

.

***

Itu tidak adil. Itu terlalu kejam untuk Tuhan atau nasib (atau apa pun di luar sana) untuk menempatkan Myungsoo di dalam kehidupan Jiyeon dan kemudian mengambilnya dengan kejam sebelum kesehatannya belum bisa benar-benar dikembangkan.

Ada terlalu banyak hal tak terucapkan. Kata-kata seperti ‘Aku mencintaimu’ atau ‘Aku senang bertemu denganmu.’ Ada terlalu banyak hal yang belum terjawab. Dia bahkan tidak tahu tentang keluarga atau teman-teman Myungsoo atau seperti apa leleki itu hidup sebelum sakit.

 

Pada titik ini sekarang, Jiyeon merasa seperti dia tidak tahu apapun tentang Myungsoo karena Myungsoo sendiri yang memilih untuk tidak mengungkapkan detail-detail tentang kehidupnya.

Entah Myungsoo yang berusaha melindungi Jiyeon dari dirinya. Emtah Myungsoo yang ingin Jiyeon disisinya, tapi tidak ingin terlalu terjerat karena dia tahu tidak lama lagi dia akan pergi untuk selamanya. Atau Myungsoo yang telah egois kepada Jiyeon.

Sekarang Jiyeon yang jatuh untuk lelaki tersebut. Jiyeon masih memilih untuk tinggal di sisinya, mencoba menggali lubang yang lebih dalam bersama-sama.

Baca lebih lanjut→

Iklan

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s