[FICLET] Worried

worriedWorried

a ficlet by reenepott

Kim Myungsoo, You as Kwon Jaeun (OC) | Romance, Fluff

__

Jaeun menghembuskan napas berat. Keningnya berkerut lalu menyandarkan punggungnya ke sofa, otaknya berpikir keras sementara rasa gelisah semakin menyelimuti benaknya. Dia memang sendirian di flat-nya sekarang, dan mumpung tugas akhir kuliahnya sudah mencapai tahap akhir jadi dia bisa meng-update kondisi pacarnya yang ada di seberang sana. Di Jepang, maksudnya.

Jaeun tidak pernah bisa mempercayai dirinya sendiri kalau dia memiliki pacar yang eksklusif. Seorang visual boyband yang tengah comeback menjelang musim gugur ini, tepat setelah selesai summer concert belum lagi persiapan beberapa drama dan interview. Kim Myungsoo, L Infinite. Dia baru saja membaca berita kalau lutut pacarnya itu terluka dan begitu dia melihat fancam random di salah satu situs tadi, kegelisahannya semakin meningkat kala menangkap ekspresi kesakitan pacarnya itu saat menari di atas panggung.

The hell, Kim Myungsoo. Apa yang kukatakan kepadamu soal menjaga tubuhmu sendiri?

Lelah. Jaeun lelah selalu ketar-ketir setiap ada berita tentang pacarnya itu. Mereka sudah hampir tiga bulan saling tidak bertemu, dan mata Jaeun hampir membulat melihat betapa kurusnya Myungsoo dari salah satu foto fantaken yang sekelibat lewat di timeline twitter-nya.

Jaeun yakin mereka makan. Tapi apakah mereka makan dengan sehat?

Mereka tidak makan ramyun setiap hari, kan?

Apakah mereka memforsir diri? Mereka tidur jam berapa?

Atau, apakah mereka sempat tidur? Mereka tidak cidera apa-apa, kan?

Jaeun hampir ingin mencekik Myungsoo begitu lelaki itu pulang karena sudah membuatnya kehilangan akal sehat memikirkan apakah mereka sehat atau tidak. Dan lelaki itu benar-benar minta dicekik saat Jaeun menghitung berapa drama yang akan dibintanginya.

Ia meraih mug kosongnya yang tadinya berisi cokelat panas. Kalau sampai lelaki itu tiba-tiba pulang tanpa memberitahunya, sampaikan salam perpisahan dengan makan malamnya.

__

Myungsoo menyampirkan ranselnya dan menarik kopernya tepat sebelum pintu lift tertutup. Hembusan napas kerasnya tak bisa ditahan lagi, bersamaan dengan bunyi benturan lemah antara punggungnya dengan dinding lift. Sungguh, setelah bulan-bulan yang penuh jadwal dan sangat hectic, ia akhirnya bisa pulang ke rumah. Ya, rumahnya.

Bukan tempat tinggal yang ia maksud, tapi seseorang yang selalu menunggu dan terus mendukungnya dari belakang.

Seseorang yang terus mengisi mimpinya berbulan-bulan ini sejak ia harus pergi dan kembali ke dorm untuk mempersiapkan comeback, tur konser bahkan drama-nya. Seseorang yang akan ia peluk dengan erat petama kali ia melihatnya nanti. Seseorang yang ia rindukan setiap ciuman dan belaiannya.

Myungsoo mungkin memang seorang idol bahkan seorang visual sebuah grup boyband, tapi ia butuh seseorang yang bisa membuatnya menjadi dirinya sendiri. Seseorang yang selalu menatapnya dengan tatapan penuh perhatian dan kasih sayang yang tulus. Dan beruntungnya, ia menemukan gadis yang memang diciptakan untuknya.

Kwon Jaeun, seorang mahasiswi yang mengambil sekolah keperawatan. Pertemuan pertama mereka sangat lucu. Saat itu Infinite menyelenggarakan pembukaan The Summer Concert 2 di Seoul dan Jaeun yang mencoba magang masuk ke tim medis yang akan menjaga kelangsungan acara. Myungsoo menemukan Jaeun sedang menatap kosong pada poster yang terpajang di pintu masuk dan dengan polosnya bertanya pada teman di sebelahnya, konser siapa dan apa tujuan dari konser itu.

Sekarang Myungsoo sudah berdiri di depan flat-nya, yang juga menjadi flat gadisnya atas paksaannya. Jaeeun bersikeras kalau orangtuanya tidak akan membolehkan ia tinggal bersama dengan seorang lelaki namun semua berubah saat Myungsoo ngotot untuk mengunjungi orangtua Jaeun.

Ting!

Jaeun menoleh terkejut ketika pintu depan flatnya tiba-tiba terbuka. Napasnya tertahan dan kedua matanya membulat melihat siapa yang akhirnya menampakkan batang hidungnya selama tiga bulan ini. Seluruh tubuhnya membeku ketika Myungsoo menyunggingkan senyum polosnya yang selalu meluluhkan Jaeun.

Oh, persetan, Kim Myungsoo!

“Jae, tidak ada kata sambutan untukku?”

Bibir Jaeun membuka dan menutup tanpa suara. Perlahan ia berdiri, tanpa bisa ditahan kedua kakinya sudah berjalan mendekati Myungsoo dan melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan pria itu. Kedua tangan Myungsoo otomatis melingkari tubuh gadisnya, sebuah senyum puas tersungging di bibirnya sementara hidungnya menghirup aroma sampo Jaeun dalam-dalam.

Jaeun membenamkan kepala ke dada Myungsoo, namun sesaat kemudian keningnya berkerut ketika kedua lengannya merasakan tubuh Myungsoo. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Myungsoo kesal.

“Kamu selama ini makan tidak sih?”

__

Myungsoo menganggap Jaeun imut sekali. Setelah mengoceh panjang lebar tentang bagaimana kurusnya ia sambil menyiapkan berbagai macam makanan kesukaannya, ia berganti menyuarakan betapa sayangnya ia pada Myungsoo dengan memerhatikan lututnya. Oke, soal itu sih hanya di mata Myungsoo saja. Jaeun lanjut nyerocos tentang betapa cerobohnya ia sampai lututnya terluka, mengomentari kenapa ia masih memaksakan diri meskipun sakit begitu, dan terus mondar-mandir menyiapkan kompres untuk lutut Myungsoo.

“Kim Myungsoo, kau mendengarkan tidak sih?” ketusnya setelah mendapatkan air panas dengan suhu yang cukup untuk mengompres lutut Myungsoo.

“Iya, aku mendengarkan kok dari tadi.”

“Kalau kau mendengarkan, berhenti memberikan tatapan seperti itu!” sembur Jaeun lagi. Ia tak habis pikir, sepanjang ocehannya yang ditujukan untuk satu manusia paling bebal yang pernah ditemuinya, Myungsoo sama sekali memandangnya dengan tatapan itu. Maksudnya, dengan tatapan yang seperti itu loh. Seakan-akan Jaeun adalah mahkluk paling menggemaskan sedunia, ditambah senyumnya yang seperti itu!

Astaga, bisakah pria ini sedikiiit saja mengeti kalau ia khawatir setengah mati sampai insomnia tiap malam?

“Tatapan seperti apa?” Jaeun mengerang mendengar jawaban sok polos Myungsoo.
Jaeun melengos dan melangkah mendekati Myungsoo yang sedang duduk di sofa ketika kompresnya sudah siap. Begitu ia hendak berlutut untuk memasang kompresnya, tiba-tiba tangan Myungsoo menarik tangannya, yang dalam sekejap membuatnya memekik tertahan dan duduk di atas pangkuan pria itu.

Kedua matanya membulat sementara tangan Myungsoo sudah melingkari pinggangnya, membuat seluruh tubuh Jaeun bersandar dengan erat di tubuh Myungsoo. Pria itu melayangkan kitty smile-nya yang membuat Jaeun menggeram rendah.

“Kau sangat imut ketika mengoceh seperti itu,” gumam Myungsoo yang langsung membuat semburat merah muncul di kedua pipi Jaeun. “Dan aku sangat berterimakasih kau begitu mengkhawatirkanku. Aku minta maaf kalau membuatmu sangat cemas.”

Jaeun hanya bisa bergumam ketika Myungsoo mulai menciumi pelipisnya. “Itu karena aku begitu menyayangimu, pabo.”

Myungsoo tertawa rendah mendengar jawaban Jaeun, “Aku juga sangat mencintaimu, Jae.”
Jaeun tak dapat menahan senyumnya bahkan ketika Myungsoo mulai meraih dan mencium bibirnya. Pagutannya pelan, penuh kerinduan, seolah keduanya menumpahkan segala isi hati mereka selama berbulan-bulan ini tidak bertemu. Mereka tenggelam dalam dekapan satu sama lain hingga Jaeun baru menyadari kalai ia masih menggenggam kompres.

“Myung, aku harus mengompres kakimu.”

“Jae sayang, aku mendapat libur seminggu di sini. Kau bisa mengompresku besok jadi biarkan aku memelukmu seperti ini sekarang. Oh God, I miss you like crazy.

Jaeun menunduk dan mencium Myungsoo lagi. “I love you so much.

Love you too. So fucking much.”

“Myungsoo, language please.

But you love me, gorgeous.

To the moon and back, yeah.

Kkeut~!

Iklan

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s