[EPILOG] The Promise

Aku membuka pintu rumah, dan segera menyalakan lampunya. Aku lelah menangis sepanjang perjalanan tadi, dan aku rasakan tubuhku serasa melayang dan sangat ingin segera merebahkan tubuhku di kasur.
Aku melihat kalau Ryeowook memang belum pulang. Baguslah, karena jika ia ada pun, ia akan bertanya macam-macam kepadaku. Sedangkan keadaanku tidak memungkinkan untuk meladeninya.
Belum sempat aku masuk kamar, bunyi bel berbunyi. Awalnya aku kira Ryeowook, tapi itu tidak mungkin karena ia pulang malam, dan ini masih jam 6 sore.

Baca lebih lanjut

[EPILOG] Juliette

“Oppa sudah bangun?” tanyaku ketika melihat kakakku yang dengan lemasnya mencoba berdiri dan beranjak dari tempat tidur.
“Aku mau menemui Hyunnie–” ucapnya tak memperdulikan pertanyaanku.
“Seo Joo Hyun?” tanyaku lagi meyakinkan, “Kau mendengarnya ketika kemarin, ya?” ia malah balik bertanya dan menghampiriku.
“Dimana pacarmu itu?!” tiba-tiba ia bertanya dengan emosi, “S..siapa?” aku ragu-ragu untuk menjawab. Aku bingung, yang ia maksud itu, Karam -mantan pacarku- atau Minho -pacar sejak semalam- ?
“Karam!” jawab kakakku dengan sama sekali tidak ada santai-santainya, “Aku tidak tahu..” tak berani menatap matanya, aku menunduk sampai rambut panjang hitamku tergerai menutupi wajah.
“Aku tahu dimana makam Seohyun..” tiba-tiba Minho membuka pintu ruangan. Kakakku menghampirinya dengan wajah yang bisa dibilang tidak ramah. “Makam? Benarkah kalau ia tidak ada di dunia ini lagi?!” kakakku menarik kerah baju Minho dan berteriak bertanya di hadapan Minho. Dengan ringan, Minho mengangguk pasti.
Kakakku terduduk lemas, seperti tak percaya dengan kenyataan yang amat menyadarkan, ia meminta, “Antarkan aku ke tempat peristirahatan Hyunnie-ah..” dengan terbata-bata dan mata yang memerah, ia memandang Minho sendu.

Baca lebih lanjut