[Two shot ] DIVORCE DAY (2nd/End)

Divorce Day

Judul ||  Divorce’s Day 2nd-end

Main Cast ||  Park Jiyeon feat Kim Heechul

Support Cast || Choi Siwon

Genre || Romance 

Length || Two Shot

Rated ||  M

 

Disclaimer ||  I own Nothing But the story

Thank you somuch for the beautiful  Poster by Risuki’sArt 

 

 

Jiyeon melihat Heechul yang menatapnya dingin. Dia masih berlindung di bawah selimutnya. 

 

“Putuskan dia sekarang juga, dan aku akan melamarmu lagi untuk menjadi istriku seperti dulu!”  ujarnya tegas. 

 

.

.

.

 

 

Jiyeon menemui Siwon di lobby apartementnya. Dia terlihat santai dengan kemeja biru dan celana jeansnya. Rambutnya tersisir rapi. Dia berdiri ketika melihat kehadiran Jiyeon .

 

“Apakah lama ?” tanya Jiyeon sambil berdiri di hadapan Siwon dengan baju untuk bekerja seperti biasanya. Celana pipa dengan kemeja abu-abu dengan pita di bagian kerahnya, juga pin perusahaan di dada kirinya.

 

“Kau selalu terlihat rapi .” ujar Siwon.  Lalu dia melihat sesuatu di belakang Jiyeon. Seseorang yang sangat dikenalnya melintas dan dia sedang memperhatikan Jiyeon.

 

“Apakah itu Heechul, atasan kita ?” tanya Siwon tiba-tiba, membuat Jiyeon menoleh dan ikut memperhatikan Heechul yang masih melihat ke arah mereka. 

 

“Ya. Dia Heechul. ” Jawab Jiyeon sedikit risih. 

 

Heechul datang menghampiri. Dia tersenyum ke arah Siwon.

 

“Hai, Siwon !” sapa Heechul ramah. Diapun menjabat tangan Siwon dengan erat. Jiyeon sudah ketakutan kalau-kalau Heechul akan mengatakan kalau dirinya adalah mantan suami Jiyeon. 

 

“Kalian rajin sekali. Pagi-pagi sudah siap berangkat bekerja. Aku tidak rugi mempunyai karyawan seperti kalian. ”  ujarnya memberi pujian.

 

“Apakah Anda tinggal di apartement ini ? ” Tanya Siwon.

 

“Bukan. Aku hanya mengunjungi sahabatku saja. ”  jawab Heechul.

 

“Oh..”  Siwon hanya menimpalinya pendek. Dia melihat Heechul selalu tersenyum ke arah Jiyeon yang terlihat canggung.

 

“Baiklah! aku akan segera meninggalkan kalian berdua. Semoga ada keputusan untuk masalah yang sedang terjadi.” Ujar Heechul sambil menepuk bahu Jiyeon. Lalu menoleh dan tersenyum ke arah Siwon.

 

Sepeninggal Heechul, Siwon seperti mengendus sesuatu. Tidak biasanya Heechul menyapa karyawannya. Terlebih di luar kantor. 

 

“Dia aneh sekali !” 

 

Jiyeon hanya tersenyum. Dia takut berkomentar. Kalaupun nanti dia menjawab, dia takut Siwon akan semakin banyak bertanya. Lebih baik mendiamkannya.

 

“Ayo kita sarapan !” ajak Jiyeon cepat.

 

 

Heechul memperhatikan Jiyeon di meja kerjanya dari jarak yang agak jauh. Dari ruangan yang kacanya tertutup rolerblind fiber berwarna abu-abu . Dia juga memperhatikan Siwon yang duduk tidak terlalu jauh dari mantan istrinya. Mereka sesekali saling manatap dan tersenyum. Ada tersembul kesan benci di dada Heechul melihat aktivitas itu. Cemburu.

 

“Jiyeon..!”  

 

“Apa ?”  jawab Jiyeon di ponselnya.

 

“Kau tadi sedikit terlambat. “

 

“Aku tadi harus mampir dulu ke tempat Siwon karena dia harus berganti celana, katanya.”

 

“Kau ke apartementnya ?”

 

“Ya, Heechul . Kenapa ? “

 

“Apa kalian…?”

 

“Heechul, hentikan ! Kau tidak usah menginterogasiku sesuatu yang tidak penting lagi untukmu.”

 

“Ini penting untukku.”

 

“Kau mulai lagi.”

 

“Nanti malam adalah malam kedua. Aku masih ingin bersamamu.” ungkap Heechul

 

“Aku dan Siwon ada acara.” 

 

Lalu terdengar dengusan kesal. Heechul berdiri dan mendekat ke arah jendela lebar di ruangannya.

 

“Jadi kau serius dengannya ?”

 

“Heechul,.. apakah kau menjanjikan sesuatu untuk masa depanku ? Apa kau pikir aku sedang main-main menjalani sisa umurku ? Kenapa kau tidak bersikap jantan padaku. Buktikan padaku jika kau masih perduli padaku. Jangan mau perlakukan aku seperti peliharaanmu. Aku masih mempunyai hati. Terlebih untukmu. Tapi seandainya mau tidak berubah, aku tidak segan-segan mencampakkanmu, Sayang !” 

 

Jiyeon menutup ponselnya dan mendongak dengan mata  membelalak ke arah sampingnya. Siwon sudah berdiri di sana dengan setumpuk box file.

 

“Aku hanya membawakan ini untukmu. Airin yang menyuruhku. ” ujarnya sambil meletakkan box file itu di atas meja Jiueon. Wanita itu masih tak bergeming . Dia mengira-ngira apakah Siwon mendengarkan perkataannya tadi. Jiyeon menunduk. Hh, pasti dia mendengarnya. Kemudian perlahan -lahan Jiyeon menghela nafasnya.

 

“Jam berapa nanti kita bertemu ?” Jiyeon menanyakan janji pertemua mereka nanti malam.

 

“Jam tujuh, Oke ?”  usul Siwon.

 

“Oke !”  Jiyeon tersenyum dengan raut wajah yang dibuat semanis mungkin.

 

Siwon berjalan menjauh. Dia tidak mengatakan apapun. Kenapa bisa begitu. Dia jelas-jelas mendengarnya, namun tidak ada sedikitpun pertanyaan dari mulutnya mengenai Heechul. Jiyeon melirik ke arah ruangan kerja mantan suaminya itu. Bayangan Heechul masih berada di balik jendela. Dia sedang memperhatikan Siwon. 

 

.

.

.

 

Jiyeon berdiri di depan gedug apartementnya. Sebentar lagi Siwon akan menjemputnya. Mereka berjanji untk nonton film. Hanya mengisi waktu luang sepulang bekerja. Namun sepertinya dia harusSiwon sedkit bersabar dengan kedatangannya. 

 

Dari kejauhan dia melihat kehadiran Heechul. Mau apa dia ke sini? apa dia ingin menyabotase pertemuannya dengan Siwon.

 

“Kau mau apa ?” tanya Jiyeon setelah laki-laki itu mendekat.

 

“Ada barangku yang tertinggal. Aku harus mengambilnya.” jawab Heechul sambil terus melangkah. Dia sedikit acuh pada Jiyeon. 

 

“Jangan terlalu lama di apartementku.” teriak Jiyeon. Dia meperhatikan punggung Heechul hingga menghilang di dalam lift. 

 

“Hei!”  suara itu benar-benar membuatnya tersentak. Jiyeon berbalik dan melihat Siwon dengan senyuman menawannya. 

 

“Ouh, Hei !”  jantung Jiyeon berdegub kencang.

 

“Kau memperhatikan apa ?” Siwon meneliti arah pandang Jiyeon.

 

“Bukan apa-apa.”

 

“Hm..? “

 

“Ayo kita berangkat !”  Jiyeon menarik tangan Siwon. 

 

Meskipun hatinya begitu was-was dengan keberadaan Heechul di apartementnya, Jiyeon tetap mempercayai laki-laki itu. 

 

“Sepertiya tadi aku melihat seseorang .”  Siwon membantu Jiyeon memasang sitbelt. 

 

“Siapa? Temanmu ?”  Jiyeon mulai was-was.

 

“Entahlah. Sepertinya aku mengenali potongan rambutnya dari arah belakang.” ujar Siwon sambil menyalakan mesin mobilnya. Sementara Jiyeon tetap bersikap senormal mungkin. Dia berusaha keras untuk melakukan hal itu.

 

.

.

.

 

 

Sekitar jam sebelas malam, Siwon mengantar Jiyeon hingga depan pintu apartementnya. Wajahnya terlihat berharap Jiyeon mengundangnya masuk. 

 

Mungkin Jiyeon tidak ingin mengambil resiko kalau-kalau Heechul masih berada di dalam. 

 

“Apa kau tidak mengundangku masuk?” 

 

“Siwon, … ehm!”

 

“Sebentar saja. Aku janji tidak akan nakal. ”  Jiyeon tersenyum. Dia mengerti ungkapan macam apa yang dipilih Siwon untuk mendeskripsikan kelakuan laki-laki dewasa yang mungkin bisa saja menjurus ke arah yang lebih dari sekedar romantis. Bed time story. Tapi ininterlalu dini. Jiyeon masih enggan untuk meningkatkan hubungan ke arah sana. 

 

Namja berpostur tinggi itu tersenyum dengan begitu meyakinkan. Jiyeon tidak tega. Dia ingin bersikap raha, mungkin sekedar minum atau mengobrol di teras. Namun tetap aja dia tidak berani.

 

“Bagaimana kalau besok. Aku sangat lelah malam ini.”  ujar Jiyeon dengan wajah memohon.

 

Siwon terlihat kecewa, tapi dia tidak memaksa.

 

“Hm..baiklah ! Besok. Janji ?”  

 

“Janji !”  jawab Jiyeon.

 

Jiyeon melambai kecil. Dia membuka pintu dan masuk, lalu melihat Siwon melangkah pergi. 

 

Segera dia menutup dan mengunci pintu apartementnya. Berjalan secepat mungkin mencari sosok Heechul di dalam kamarnya. Tidak ada. Sedikit kecewa. Entah kenapa dia justru menginginkan Heechul mungkin sedang terbaring di kasurnya, atau sedang membuat kacau dapurnya, atau… kenapa jadi seperti ini ?  

 

Jiyeon terduduk lemas di sofa sambil melepaskan kelelahannya. 

 

“Ting tong !”  

 

Bel pintu.

 

Suaranya membuyarkan ketenangan yang sedang meliputi suasana di  dalam ruangannya. Jiyeon berjalan dengan sedikit perasaan takut. Ini sudah terlalu larut untuk sebuah kunjungan. 

 

“Jiyeon, kau melupakan ponselmu.” 

 

“Ponsel ?” Jiyeon memperhatikan ponselnya yang tiba-tiba berada di tangan Siwon. Dia merasa tidak menggunakan ponsel itu selama bersama Siwon tadi. Tapi mungkin dia terjatuh di dalam mobil. Mungkin saja. Tapi tasnya selalu dalam keadaan tertutup. Jiyeon mengenyampingkan perasaan curiganya dan menerima ponselnya kembali.

 

“Siwon, thank you !”

 

“No problem. Apa kau baik-baik saja ?” tanyanya. Jiyeon memegangi pintunya kuat-kuat. Dia masih setengah hati menerima kedatangan Siwon.

 

“Maaf, aku hanya sekedar mengembalikan ponselmu.” Siwon terlihat canggung. 

 

Benar. Hubungan ini sepertinya terlihat terlalu dipaksakan. Jiyeon sama sekali tidak memliki perasaan apapun untuk Siwon. Dia hanya mencari sebuah pegangan, namun ternyata hatinya tidak sejalan dengan keinginannya. Sehingga suasana canggung terjadi dengan sendirinya. 

 

Siwon melambai di depan mata Jiyeon yang sedang terpekur.

 

“Sebaiknya kau segera beristirahat, kau kelihatan mengantuk sekali.”  Siwon tersenyum sambil mengusap wajah Jiyeon.

 

“Ya. Sepertinya begitu.”

 

Siwon kembali melangkah dan kali Jiyeon memastikan bahwa namja tampan itu benar-benar menghilang di balik pintu lift.

 

.

.

.

 

Sore ini Heechul bersikap normal. Dia kembali berpura-pura tidak mengenal Jiyeon. Hh..! Jiyeon merasa seperti sebuah barang sisa. Menyebalkan. Laki-laki itu melewati Jiyeon tanpa kenoleh. Dia terlihat buru-buru. Mungkin akan ke apartement pribadinya yang misterius itu.  Kenapa Jiyeon tidak berusaha mengunjungi apartement itu. Siapa tau dia bisa mengetahui langsung siapa yang berada di sana. 

 

Matanya melirik gerak Heechul yang setengah berlari. Dan Jiyeon segera melipat semua pekerjaannya. Menaruhnya di laci dan ikut bergegas meninggalkan ruangan bersama setumpuk rasa penasaran yang sekarang kambuh lagi di benaknya. Mungkin setelah perceraian itu Jiyeon benar-benar tidak perduli dengan kehidupan Heechul dan rahasia terpendamnya. Namun sekarang setelah Heechul memintanya untuk menikah lagi dengannya, rasa-rasanya perlu untuk Jiyeon menguak semua hal yang ditutup-tutupi Heechul darinya selama ini.

 

.

.

.

 

 

Pintu bernomor 83DE itu tertutup rapat. Serapat rahasia yang berada di dalamnya yang tidak pernah terendus Jiyeon. 

 

Tangan lembutnya menekan bel pintu. Kali ini dia benar-benar tidak takut pada Heechul. Jika memang laki-laki itu akan marah, maka hal itu akan dijadikan Jiyeon untuk menolak lamaran mantan suaminya itu lagi. 

 

Pintu terbuka dengan suara yang ringan. Seorang wanita paruh baya menyembul dari dalam. Dia terlihat bingung. Heran. Namun sebelum dia bertanya pada Jiyeon , tiba-tiba suara Heechul menyeruak dari dalam.

 

“Ahjuma ! Siapa ?”  tanyanya.

 

Namun ahjuma itu hanya menatap Jiyeon.

 

“Ahjuma, bolehkah saya masuk ?”

 

“Anda siapa ?”  wajahnya terlihat ketakutan. 

 

“Ahjuma !”  hardik Heechul kemudian. Dan laki-laki itupun terkejut dengan kehadiran Jiyeon. Dia langsung menarik tangan Jiyeon masuk ke dalam. Dan menutup pintunya dengan kasar.

 

“Kau ke sini ? ” serangnya dengan mata membulat. Apa dia masih marah dengan hal ini. Jiyeon tidak perduli. Dia duduk di sofa sambil memperhatikan ruangan yang cukup luas dengan dekorasi yang ceria. Kenapa bisa begini ? Seperti bedada di sekolah ta,an kanak-kanak. Pikir Jiyeon.

 

“Heechul, sudah waktunya aku tau. ” ujar Jiyeon

 

Heechul menghela nafasnya. Dia seperti sedang bimbang. Lalu dia menyuruh ahjuma untuk masuk ke dalam kamar.  Astaga, meski sudah berada di dalam apartementnya, tetap saja Jiyeon belum mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan Heechul.

 

 

“Aku takut kau akan menganggabku kejam.” ujar Heechul.

 

“Apa maksudmu ?”

 

“Aku yang menyuruhnya untuk melakukan hal ini dulu. Namun aku tidak menyadari kalau efeknya jadi seperti ini.”

 

“Heechul, aku tidak mengerti. Kau membicarakan siapa?  Dia itu siapa ? Apakah istrimu yang lain ?”

 

 

Heechul terdiam sejenak. Lalu dia melihat ke arah pintu kamar yang tertutup.

 

“Di dalam sana ada seorang bocah yang malang karena kesalahanku.” ujarnya, dan Jueon menoleh ke arah kamar yang ditunjuk Heechul.

 

Lalu dengan sigab Jiyeon berdiri. Anak ? Apa  Heechul akan mengatakan kalau dia punya anak.  Lalu kenapa dia mengurungnya seperti binatang. 

 

“Wait !” cegah Heechul. Jiyeon dihalangi untuk tidak membuka pintu itu.

 

“Heechul ?”

 

“Dia sedang belajar private. Ada seorang guru yang sedang mengajarnya.”

 

“Heechul, aku ingin melihatnya. Aku tidak tahu kalau kau mempunyai anak. Kenapa kau seperti ini? Kenapa tidak mengatakannya padaku. Kenapa hanya karena seorang anak kau harus bersikap misterius seperti ini ?”  Jiueon memaksa membuka pintu itu.

 

“Akan kujelaskan padamu.”

 

“Aku ingin melihatnya dulu.”  Dan Jiyeon berhasil membuka pintu itu. 

 

Sosok bocah lai-laki dengan wajah yang unik menoleh ke arah Jiyeon . Dan Jiyeon terdiam sebentar. Umur bocah itu mungkin sudah lima tahun. Dia …

 

“Ayolah, ikut denganku. Akan kujelaskan.”  Heechul menarik tangan Jiyeon.

 

“Heechul, sebentar !” Namun Heechul tidak mendengarkan Jiyeon yang masih ingin mengamati bocah itu.

 

Pintu kamar itu ditutup lagi oleh Ahjuma.

 

 

.

.

.

 

 

Namja tampan itu membawa Jiyeon ke sebuah restorant. Meskipun Jiueon merasa kesal dengan perlakuan mantan suaminya yang bersikap memaksa itu, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.’Setelah memesan makan malam, barulah Heechul mulai berkata-kata. Dia mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar photo. 

 

“Dia Kim Jae Hyuk. Anakku.”  Bibirnya bergerak sedikit terbata. Sedangkan matanya menyimpan keraguan kalau-kalau Jiueon akan menghujaninya dengan gerutu atau kekesalan yang selama ini dia pendam.

 

“Ya, sepertinya aku bisa memahami hal itu. Kalau hanya sekedar hal itu kenapa kau harus melakukan ini ?”  

 

Heechul terkesima dengan jawaban itu. Dia menyeringai lembut. Alisnya terangkat sementara dia menghembuskan kelegaannya, 

 

“Dia Aib untuk keluarga Kim dan Song.”

 

“Aib ?Yang benar saja !”  Jiyeon mendengus. Dia tidak setuju kalau seorang anak adalah Aib.

 

“Kami dulu berpacaran. Aku dan Song Min Ra . Namun keluargaku dan Minra Sudah saling membenci. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu. “

 

“Lalu..”  Jiyeon merasa sedikit sesak mendengar hal itu. Mereka berpacaran namun akhirnya mempunyai anak. Jiyeon terlihat sedikit kecewa dengan perkataan Heechul. Tapi kejadian itu sebelum pernikahan dengan Jiyeon, jadi sepertinya tidak penting lagi untuk di bahas.

 

“Keluarga Song mengetahui kalau Minra hamil dariku. Mereka berusaha menggugurkan bayi dalam kandungan Min Ra. ”  jelas Heechul kemudian.

 

“O My God !”  Jiyeon menutup mulutnya.

 

“Mereka menemui dokter manapun namun tidak ada yang mau membantu mereka. Lalu Mereka memutuskan untuk menggunakan cara traditional.” 

 

Heechul berhenti. Dia meneguk air sebentar.

 

“Lalu kenapa kau tidak membawa Min Ra lari ?”

 

“Kedua orang tuaku menyekapku dalam kamarku.”

 

“Lalu kenapa bayi itu sekarang bisa sebesar itu ?”

 

“Proses aborsi mengalami ke gagalan, dan obatan-obatan pengguguran kandungan yang sudah terlanjur diminum Min Ra mengakibatkan bayi itu cacat. Apa kau tidak melihat kondisi tubuhnya, juga wajahnya. Dia mengalami down sindrom. ” Heechul menunduk Terlihat begitu berat. Dan Jiyeon menatap tak percaya. 

 

“Oh Heechul, seharusnya kau mengatakan ini padaku sebelumnya.”

 

“Kau dulu asing bagiku. Meskipun kedua orang tuaku menikahkanmu denganku. Namun aku masih memikirkan Minra dan bayiku yang terlahir cacat.”

 

“Lalu kenapa kau bisa diam-diam megunjunginya?”

 

“Kedua orang tua Minra mengasingkan anakku. Dia dipisahkan dari ibunya. Dan Minra tidak mengetahui kalau bayinya terlahir hidup. Kedua orang tuanya mengatakan padanya kalau bayinya meninggal. “

 

“What ? O Tuhan, aku semakin tidak bisa berbikir mengenai hal itu. Kalian sungguh aneh!”

 

“Aku menemukan anakku dan aku mengunjunginya diam-diam. Ahjuma pengasuh putraku , dia yang menjaga rahasia ini. Oleh sebab itu aku sangat marah ketika tahu kau datang. Aku takut keluarga Song akan memindahkan Jae Hyuk ke gempat lain.”

 

“Maafkan aku !”  ujar Jiyeon

 

“Aku yang seharusnya minta maaf. Karena diriku,  aku jadi pembunuh anakku sendiri yang ada dalam rahimmu…wak…tu…itu. Kau…”  Heechul tidak melanjutkan perkataannya. Dan Jiyeon menarik nafasnya dalam-dalam.

 

“Lalu setelah ini apa yang akan kau lakukan ?”

 

“Aku tidak tahu. “

 

Menu pesanan akhirnya dihidangkan. Jiyeon tersenyum .

 

“Makan dulu !” 

 

“Jiyeon !” panggil Heechul

 

“Apa kau sudah mempertimbangkan tentang perkataanku ?” 

 

“Yang mana ?”

 

“Lamaranku ?”

 

“Belum.”

 

Heechul menghentikan aktivitas makannya. Lalu menatap Jiyeon.

 

“Kenapa ?” 

 

“Heechul, aku butuh waktu. Kau tidak bisa seenaknya mengatakan hal itu padaku !”

 

“Aku mencintaimu !”  

 

Tring..!

 

Jiyeon menjatuhkan sendoknya di atas piring. Dia fokus menatap Heechul yang menatapnya serius. Tanpa senyum dan jelas sekali dia berekspresi begitu karena berharap banyak dengan permohonannya. Jiyeon menunduk. Gugup. Diambilnya lagi sendok yang tadi terjatuh. Lalu mengacungkannya ke arah Heechul.

 

“Aku tidak akan termakan gombalmu. Sebaiknya selesaikan makanmu dan…..”

 

 

“Jiyeon !” panggil sebuah suara dari sosok yang tiba-tiba berdiri di sisi Jiueon. Baik Heechul dan Jiyeon menoleh serempak. 

 

Siwon .

 

 

Wajah Jiyeon menjadi pias. Apa yang di lakukan Siwon di tempat ini ? 

 

Jiyeon berdiri dan menatap laki.laki yang sedang mengatubkan rahangnya itu dengan gugub. Sesaat lalu dia gugub karena ungkapan cinta dari Heechul yang selama ini dia harapkan. Dan sekarang dia gugub karena kemunculan Siwon yang begitu ajaib di sisinya. Atau sebuah PETAKA .’

 

“Siwon !”  sapa Heechul.

 

“Apa yang kau lakukan bersamanya ?” tanya Siwon pada Jiueon tanpa mengindahkan pertanyaan Heechul.

 

“Siwon..a..a…” Jiyeon mendadak gagab.

 

“Kami makan malam.” jawab Heechul tenang.

 

“Aku tidak bertanya padamu Heechul ssi !” ujar Siwon dingin.

 

“Aku hanya ingin menjawab saja. ” balas Heechul. Dia bersiap.siap di sisi Jiyeon. Dia tidak ingin laki-laki itu menyakiti mantan istri yang masih dicintainya itu.

 

“Aku makan malam bersamanya, Siwon.” jawab Jiyeon dengan tatapan sedih. Dia membuat Siwon memergoki hal ini, dan mungkin hatinya hancur. Laki-laki itu sama sekali tidak bersalah, hanya saja dia berada di tempat yang salah. 

 

“Kau berjanji untuk makan malam bersamaku.” ujar Siwon sambil melirik tajam pada Heechul.

 

“Maaf, aku lupa.” jawab Jiyeon lirih dengan perasaan berdosa.

 

“Kenapa kau bisa bersamanya ?” tanya Siwon.

 

“Ka..ka…re…na…!” sekali lagi Jiyeon tidak sanggub menjawab, dia melemparkan pandangan ke arah Heechul.

 

“Sudahlah, aku sudah tau, kalau dia adalah ‘Heechul Terkasih’mu . Begitu kan yang tertera di dalam ponselmu !”  

 

“Aa. aaa…” Jiyeon melirik Heechul yang tersenyum. 

 

“Kau mencatatnya begitu dalam cantact personmu ?” timpal Heechul senang. Dia merasa bahagia mendengar hal itu.

 

“Siwon, sebenarnya…”  Jiueon curiga dengan tindakan Siwon yang mungkin saja mengambil ponselnya dari dalam tas dengan sengaja, yaitu untuk mencari tahu lebih banyak tentang Jiyeon.  Licik . 

 

“Siwon, dia adalah istriku !” ujar Heechul.

 

“Mantan.” tegas Jiyeon.

 

Lalu mata Siwon membelalak. Dia menarik tangan Jiyeon dari sisi Heechul.

 

“Benarkah ?”  Laki-laki bermata bulat itu mendelik hebat. 

 

Jiyeon tidak menjawab selain mengutuki Heechul dengan tatapan tajamnya.

 

“Itu benar, Siwon. Dan aku berniat untuk kembali lagi padanya. Katakan saja aku sedang merayunya untuk mau aku nikahi lagi. Aku tidak bisa melupakan masa-masa indah dimana kami pernah menjadi suami istri. Aku masih mencintainya, dan aku berharap dia mau mengulang kembali kisah itu. Bersamaku.”  ujar Heechul menjelaskan.

 

“Heechul, kau berlebihan !” gertak Jiyeon.

 

“Aku mengatakan hal yang sebenarnya.”

 

“Aku butuh penjelasan Jiyeon.”

 

Siwon membawa Jiyeon berlalu dari hadapan Heechul. Dia merasa bahwa di dalam restorant semua mata sudah menonton drama menegangkan yang sedang mereka lakonkan. 

 

Heechul mengikuti dengan hati was-was.Laki-laki itu, Siwon. Sepertinya sedang tidak stabil. Tatapan matanya terlihat menakutkan. Heechul benar-benar khawatir dengan keadaan Jiyeon.

 

Langkah Siwon semakin cepat membawa Jiyeon pergi.

 

“Jiyeon !”  panggil Heechul. Namun Siwon sudah berlalu dengan mobilnya.

 

 

Kemana laki-laki itu akan membawa Jiyeon. Heechul mengambil mobilnya yang terparkir agak jauh. Sial’! kenapa dia tadi tidak menarik tangan Jiyeon dan meninju wajah si brengsek itu!  

 

Mobilnya melaju cepat di jalan raya. Dia mencari mobil Siwon diantara mobil-mobil yang berkejaran di jalanan padat malam hari. Lampu-lampu jalan membuatnya silau. Semua terlihat tidak jelas. 

 

“Airin !”  Heechul menghubunghi Airin.

 

“……”

 

“Apa kau tau di mana alamat Siwon ?” Heechul melihat ke kanan dan ke kiri.

 

“…..”

 

“Oke ! Trima kasih !”

 

Wajaoh paniknya berkeringat di tengah udara malam yang penat. Angin-angin yang berhembus sedikit menghadirkan kesegaran. Namun dia tidak bisa berhenti mengutuki mahluk bertubuh gempal itu yang telah membawa Jiyeonnya pergi.

 

~Heechul Terkasih~

 

Heechul menyunggingkan senyumnya. Dia merasa bahwa Jiyeon memang mencintainya. Dia pasti tidak pernah melupakan dirinya. 

 

.

.

.

 

 

Langkahnya begitu lebar menapaki halaman parkir apartement di mana Siwon tinggal. Dia berlari secepat angin menuju bangunan berlantai lima belas itu. Lampu-lampunya masih aktif menyala. Penghuninya masih terjaga. Mudah-mudahan Siwon tidak berbuat sesuatu pada Jiyeon.

 

Brakh-brakh

 

Bukan lagi sebuah ketukan. Namun sebuah tendangan yang dihantarkan Heechul menyapa pintu tertutup di hadapannya. Semua penghuni kiri kananya menyeruak keluar.

 

“Sepertinya kosong. Orangnya belum pulang Ajussi !” ujar bocah abg berpakaian oblong pada Heechul.

 

“Apa kau yakin ?”

 

Heechul mengambil lonselnya dan menelepon Jiyeon. Suaranya tersambung, namun tidak diangkat. Bukan dari dalam. Dia tidak merasakan Jiueon berada di dalam. 

 

Heechul meninggalkan apartement Siwon dan beralih tujuan menuju apartement Jiyeon. Pasti. Batinnya begitu yakin. 

 

 

Lalu beberap saat kemudian, dia sudah berada di depan pintu apartement mantan istrinya. Dibukanya dengan harapan dia bisa melihat sosok Jiyeon di dalam sana, namun….NIHIL. Sepi. Kosong.

 

Laki-laki dengan baju yang sudah sesemrawut wajahnya itu terpekur di pinggirjendela, menatap pada hiruk pikuk wajah kota di waktu malam. nanar. Ketakutan. Di mana Jiyeon ? Kemana manusia brengsek itu membawa Jiyeon.  

 

Terduduk di kantai bermotiv kayu, lalu melepaskan semua kancing baju yang  seakan-akan mencengkram tubuhnya, Heechul mulai mengucapkan banyak permohonan. Dia masih mempercayai bahwa dia dan Jiyeon masih memounyai kesempatan. Ada banyak waktu yang akan dia jelang. 

 

 

CKELK …

 

Heechul menoleh. Dia melihat Jiyeon membuka pintu. 

 

“Jiyeon !”  Heechul sehpgera menghambur memeluk tubuh mantan istrinya. 

 

“Heechul ?”   

 

“Apa kau baik-baik saja ? Apa dia menyakitimu ? Kau tadi di bawa ke mana ? aku mencarimu….  aku mencarimu… !”  Heechul merangkum wajah Jieon dengan medua telapak tangannya.  Dia masih bisa melihat wajah terkasihnya. Ini sungguh melegakan.

 

“Aku tidak apa-apa. Kau terlalu berlebihan.”

 

“Aku tidak main-main sewaktu aku mengatakan dia psikopat, Jiyeon.”

 

“Dia hanya cemburu. Laki-laki melihat kekasihnya berduaan dengan laki-laki lain pasti akan merasakan lerasaan semacam itu. Kau sendiri pasti juga begitu.”

 

“Tidak!  Dia pasti merencanakan sesuatu. Aku sangat yakin dengan hal itu.”

 

“Heechul , tadi kami hanya bicara. “

 

“Bicara apa ?”  kejar Heechul.

 

JIyeon mendengus. Dia berjalan menuju kamarnya dan mulai melepaskan pakaiannya. Dia merasa penat dengan aktifitas hari ini.

 

“Aku mau mandi dulu.”  Ujar Jiyeon kemudian.  Dan Heechul terdiam. Mereka saling menatap dalam keremangan. 

 

Perlahan Heechul mendekati Jiyeon yang terlihat sendu. Sebuah pelukan diberikan Heechul dengan penuh ketenangan. Tangan kanannya mengusap wajah dan bibir Jiyeon, lalu memberikan kecupan lembut. Hati Jiyeon berdesir. Dia menyadari betul jika berdekataan dengan mantan suaminya ini, jiwanya pasti akan langsung tersedot ke dalam dimensi kehidupan laki-laki yang ternyata di cintainya sepenuh hati.

 

Jiyeon menyambut ciuman itu. Dan memasuki gairah yang semakin dalam. Kedua tangannya menyingkap kemeja Heechul yang sudah tak terkancing lagi. Lalu dengan sapuan lembut, dia menelusuri dada bidang Heechul. Mempermainkan hasrat dan melambungkannya hingga Heechul mendesah.  

 

“Let’s take a bath together !” ajak Heechul sambil menggendong Jiyeon ke kamar mandi.

 

.

.

.

 

Detak waktu sudah berlalu menuju pada pagi hari. Heechul menyingkap selimutnya dan mengenakan pakaiannya. Dia memperhatikan Jiyon yang masih terlelap. Dikecupnya kening wanita yang dikasihinya itu.  

 

“Love You !” bisik Heechul di telinga Jiyeon. 

 

Kemudian dia bergegas untuk pergi. Dia harus berganti pakaian dan menghadiri meeting dengan dewan direksi hari ini. .

 

Jiyeon masih sempat melihat punggung Heechul ketika meninggalkan kamarnya. Dan sepertinya ada satu hal tertinggal yang belum sempat di ungkapkan Jiyeon untuk laki-laki terkasihnya. Bahwa tadi malam, Jiyeon sudah memutuskan hubungannya dengan Siwon.

 

Mungkin nanti saja. Pikir Jiyeon.

 

 

.

.

..

 

 

Jiyeon tidak melihat Siwon di mejanya pagi ini. Dan suasana kantor terlihat seperti biasanya. Apakah Heechul sudah tiba ? Mendadak Jiyeon ingin sekali masuk ke dalam ruangan yang sudah lama menjadi asing baginya. Ya, sudah terlalu lama. Namun seperti hal yang tak pernah berlalu dari pikirannya. Kenyataannya di dalam ruangan itu ada manusia yang masih dicintainya. Manusia laki-laki terkasihnya.

 

Kosong

 

Apakah dia tidak masuk hari ini ?

 

“Airin !”  panggil Jiyeon pada sosok tinggi semampai Airin yang terlihat menjulang di dalam bilik mini officenya. 

 

“What ?” jawabnya

 

“Penghuni sel ini belum datang ? ” tanya Jiyeon dengan candanya. Airin menggeleng

 

“Aku tidak tau Jiyeon. Sepertinya belum.”

 

Jiyeon terpekur bimbang. Bukannya dia ada meeting ? Apakah dia tidak sempat naik ? maksudnya, ruangan meeting memang berada di lantai tiga. Dan kantor ini berada di lantai enam.  Pasti Heechul langsung menghadiri meeting.

 

Lalu ke mana manusia yang satu lagi itu. Siwon ? 

 

derrt-dert—derrt–

 

 

Ponselnya bergetar di dalam saku blezernya. Jiyeon melihat nomor tak di kenal di sana. 

 

“Hallo !”  sapa Jiyeon. Dia melangkah meninggalkan Airin dan kembali ke bilik officenya. Duduk menghadapi komputernya sambil mendengarkan suara dari orang yang tak dikenalnya.

 

Lalu ponsel Jiyeon terjatuh dengan sendirinya. Tatapan Jiyeon kosong ke arah depan dengan wajah tegang.

 

” Jiyeon !” Airin menerjang tubuh sahabatnya yang mendadak mematung seperti tak bernyawa.

 

“Airin…! ” sebut Jiyeon lirih, bahkan hampir tak terdengar.

 

“Apa? Kau kenapa ?”

 

Lalu Jiyeon segera bergegas pergi meninggalkan Airin. 

 

 

Jiyeon menerima pemberitahuan dari tetangga Heechul di apartementnya yang secara tidak sengaja menemukan Heechul dalam kondisi terluka di bagian kepala dan tergeletak di lantai. 

 

Saat ini Heechul dalam perjalanan ke rumah sakit. Dia dalam kondisi kritis.

 

Siwon.

 

Jiyeon langsung teringat pada laki-laki yang dikatakan Heechul sebagai psikopat. Kemungkinan Siwonlah yang melakukannya. Dia punya alibi untuk menumpahkan rasa kesalnya karena Jiyeon mengakhiri hubungan secara sepihak. 

 

Tadi malam memang Siwon tidak terlihat baik-baik saja. Dia juga tidak banyak bicara. Namun sorot matanya sungguh mengerikan. Oleh sebab itu Jiyeon nekad minta diturunkan di tempat ramai. Mereka berbicara di depan sebuah supermarket, di tengah hiruk pikuk orang yang berlalu lalang. Mungkin karena hal itu Siwon kesal.

 

.

.

.

 

Heechul terbaring lemah di atas ranjangnya. Jiyeon menemaninya sepanjang waktu. Dia tidak ingin meninggalkan Heechul . Sedangkan di luar kamar , ada beberapa penjaga yang di sewa keluarga Kim untuk menjaga Heechul.

 

Siwon masih dalam pencarian. Dia menghilang setelah kejadian itu. Dan Jiyeon begitu takut. Heechul terluka parah dan dua hari ini dia masih belum sadar. Dia kehilangan banyak darah. Menurut tetangganya, Heechul sudah satu jam terbaring di lantai apartmentnya.

 

Jiyeon memejamkan matanya dan tertidur di sisi Heechul. Dia merasakan kehilangan yanga teramat sangat dengan melihat laki-laki itu terpejam. Dia seperti berada di lautan sepi. 

 

“Heechul..!”  panggil Jiyeon. Diusapnya wajah laki-laki itu dengan penuh kasih. Dia mengingat terakhir kalinya kemarin Jiyeon melihat punggung Heechul.

 

“Sayang, aku mau menjadi istrimu lagi. Bangunlah! Kita menikah. ”  bisik Jiyeon lembut di telinga Heechul.

 

.

.

.

# Jiyeon pov,

 

Aku ingin membuktikan bisikanku yang kusampaikan padamu bukanlah sekedar kata-kata pengisi kekosongan. Aku ingin sekali membuktikan bahwa semua kata-kataku mempunyai sebuah harapan. Dan aku menempatkan harapan itu padamu.

 

Kembali aku tersenyum pada wajah unik seorang bocah lima tahun yang berdiri di sisi Heechul. Dia dengan segala kekurangannya memberikan senyuman terbaiknya untuk Heechul yang terduduk di kursi roda dengan balutan perban dikepala. Laki-laki terkasihku itu tersenyum menyambut kehangatan tulus yang di salurkan dalam tatapan mata Jae Hyuk yang memberi banyak pengharapan. 

 

“Appa !” panggilnya. 

 

Heechul menatapku. Menggandeng tanganku dan tersenyum. Dia mengangkat Jae Hyuk dalam pangkuannya. Dan aku mendorongnya melintasi jalan setapak di halaman samping rumah sakit yang rindang.

 

“Siwon sudah ditemukan.” Ujarku sambil memperhatikan jalan di depanku.

 

“Hm…?” 

 

“Dia mungkin akan menjalani persidangan dalam waktu dekat. “

 

“Jiyeon !”  panggil Heechul. Aku berhenti dan duduk di bangku taman. 

 

“Aku sangat khawatir padamu waktu itu, sehingga di malam kau melihatku datang ke apartementmu, aku sengaja memasang kamera cctv di setiap sudut ruanganmu. Tapi aku sama sekali tidak mengira, bahwa akulah yang akan madi sasarannya. Apa yang terjadi ? Apa kau membuatnya kesal ?”  Heechul sambil memeluk Jae Hyuk yang terlihat mengantuk karena hembusan angin di antara rindang pepohonan.

 

“Aku memutuskan hubunganku dengannya. Malam itu juga.”    jawabku.

 

“Benarkah ?” 

 

Aku mengangguk pasti.  

 

“Aku lega.” ungkap Heechul.

 

“Heechul, ini kedengarannya memang tampak kekakanak-kanakan, tapi aku memang tidak bisa melupakanmu. Aku mencintamu !”  ujarku kemudian. 

 

Heechul menggenggam jemariku. Tidak ada yang dia katakan selain senyuman. Sepertinya memang tidak membutuhkan penjelasan lagi. Perasaan yang mendalam terkadang hadir dalam ketidak sengajaan. Dan cinta terkadang membuat orang menjadi kekanak-kanakan, dan melupakan banyak pengertian. Namun di sisi lain juga mengantarkan pengertian berbeda yang mendewasakan kehidupan. Mungkin memang harus dengan jalan seperti ini, aku menemukan jalan cinta dalam kehidupnku. 

 

Dan aku bersyukur, bahwa aku tidak dijauhkan dari orang-orang yang menyayangiku.  Cahaya lembut menyapa wajah damai kami. Ya, cerita memang belum berakhir. Karena kehidupan masih berjalan. Aku tersenyum memeluk Heechul dengan semua perasaan yang hampir tidak bisa aku bendung di dalam hatiku.

 

#Jiyeon pov end

 

 

# Heechul pov,

 

Pagi itu, di mana aku baru melangkahkan kakiku di dalam apartementku, aku mendengar suara pintu di buka dari dalam kamarku. Aku pikir pelayan yang selalu datang dua hari sekali dari rumah orang tuaku untuk membersihkan kediamanku. Jadi aku mendiamkannya. Dan aku memutuskan untuk ke dapur. Berniat membuat sarapan, karena perutku lapar. Namun sebelum melakukan semua itu, aku sengaja menyalakan teve untuk melihat berita pagi mengenai ekonomi dan bursa saham. Tapi ketika aku berpaling dan berniat melangkah ke dapur. Sebuah hantaman benda keras menerjang kepalaku. Aku terjatuh . Rasanya begitu pening dan sakit. Pandanganku berputar, aku sempat melihat kaki, dan sebuah tongkat besi pembatas tempat tidur. Lalu gelap.

 

 

Dan kemudian tersadar dengan perasaan bahagia karena mendapati Jiyeon tertidur dalam pelukanku. 

 

Aku seperti bangkitndari kematian, menemukan kembali hidupku, kehidupanku dan pengertian yang ada di dalamnya.  Ya, sebuah kesempatan untuk kehdupanku yang kedua. Dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya.  

 

 

 

 

Fin

 

 

a/n

 

End guys… mudah-mudahan puas dengan endingnya. Aku ga bahas banyak masalah Siwon.. hehehe.. 

12 thoughts on “[Two shot ] DIVORCE DAY (2nd/End)

  1. Aduhhhh Mau Coment Apa Ya..
    Serasa Real Bangettt…
    Selalu Keren Bebz…
    Memang Wajar Siwon Marah. Tpi Salah Sampe mencelakai begitu…

  2. kasihan anaknya heechul harus cacat karena nenek-kakeknya sendiri T.T oh, kejamnya, kejamnya, kejamnya~~ haa haaa haaaa
    berarti bener heechul awalnya hanya karena sangat merasa bersalah jiyeon keguguran karena dirinya. makanya sblm bercerai dia malah bersikap sangat manis. tp seiring berjalannya waktu dia jatuh cinta juga ama jiyeon. waktu memang bisa merubah segalanya kan!
    baiklah ini happy ending… di ff ini aku merasa kok heechul cool banget sih, jadi gak bisa bayangin sosok aslinya dia yg cantik. wakaka! *terus gua bayangin siapa pas baca ff ini?!* Lol

DON'T BE SILENT READER! Leave your comment :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s